Showing posts with label dunia islam. Show all posts
Showing posts with label dunia islam. Show all posts

Thursday, March 1, 2012

Israel Inside

Oleh: Dina Y. Sulaeman

Membaca analisis orang ‘luar’ terhadap Israel, mungkin sudah biasa. Mendengar Ahmadinejad berkali-kali menyatakan prediksinya bahwa Israel sebentar lagi akan tumbang, juga sudah biasa. Namun, cukup menarik bila kita membaca analisis orang Israel terhadap negaranya sendiri. Di dalam Israel, sesungguhnya ada juga segelintir orang yang ‘tercerahkan’ dan bisa menilai dengan jernih kebobrokan ‘negara’ dan pemerintahan Zionis. Mereka menulis, melakukan aksi-aksi perdamaian, dan berorasi di berbagai negeri untuk membangkitkan kesadaran sesama Yahudi dan umat manusia umumnya, supaya berhenti mendukung Zionisme. Kelompok “Women in Black” misalnya. Mereka secara rutin melakukan aksi berdiri dalam diam dengan mengenakan pakaian hitam-hitam, sambil membawa spanduk-spanduk anti penjajahan Palestina. Tak pelak, mereka dikata-katai ‘pelacur’ dan ‘pengkhianat’ oleh orang-orang Israel.

Monday, February 13, 2012

YAHUDI PEMBELA PALESTINA

oleh: Abdillah Toha
(Kata Pengantar buku "Gilad Atzmon", karya Buya Syafi'i Ma'arif)

Dalam suatu kolom di sebuah media online Israel, seorang penulis mengingatkan bahaya dari orang-orang keturunan Yahudi yang kritis terhadap Israel. Orang-orang itu digambarkan sebagai membahayakan hari depan dan eksistensi Israel. Beberapa nama keturunan Yahudi disebut dalam tulisan itu.

Thursday, January 27, 2011

Lima Rezim Arab Terancam Runtuh Menyusul Tunisia

Majalah Foreign Policy dalam laporannya (26/1) membahas kondisi lima negara Arab yang diperkirakan akan menghadapi gelombang protes massif pasca tumbangya rezim diktator Tunisia pimpinan Zine Al-Abidine Ben Ali.
Mesir, Aljazair, Libya, dan Jordania merupakan lima negara yang dinilai sangat rentan terhadap protes rakyatnya dan terancam runtuh.

Rezim Bouteflika, AlJazair

Menurut Foreign Policy, Abdul Aziz Bouteflika, telah menjabat sebagai Presiden Aljazair sejak tahun 1999 dan pada tahun 2009, ia mengubah konstitusi sehingga ia dapat mempertahankan jabatannya untuk periode ketiga. Partai-partai oposisi Aljazair memboikot pemilu tersebut.

Saat ini Bouteflika yang telah menginjak usia 73 tahun dikabarkan sudah sakit-sakitan dan saudaranya menyatakan siap untuk menggantikan posisinya.

Bouteflika mampu mengakhiri perang saudara di Aljazair yang berlangsung selama 10 tahun dan mampu meningkatkan hubungan negaranya dengan kekuatan di Afrika dan Eropa. Namun ia gagal dalam memberantas kelompok separatis yang berafiliasi dengan AlQaeda. Ia juga tidak berhasil mencegah pengeroposan lembaga-lembaga demokratis di negaranya.

Pada bulan Januari, Aljazair menyaksikan aksi demonstrasi luas sama dengan yang terjadi di Tunisia. Warga memprotes meningkatnya harga komoditi dan juga krisis pengangguran. Demo warga makin meningkat setelah pemerintah menetapkan kenaikan harga susu, gula, dan tepung. Selain itu, sudah lama rakyat Aljazair mengeluhkan ketidakadilan distribusi kekayaan negara.

Tak ayal ribuan pemuda Aljazair turun ke jalan-jalan dan bentrok dengan aparat polisi. Bahkan sebuah pos polisi dibakar massa.

Menurut Foreign Policy, meski rezim Bouteflika tidak demokratis, namun kondisinya tidak separah rezim Ben Ali di Tunisia. Oleh karena itu, kondisi saat ini masih sulit bagi kelompok oposisi untuk menggulingakan rezim berkuasa. Selain itu, serikat-serikat buruh dan kelompok-kelompok oposisi Aljazair tampak sungkan mendukung demonstrasi warga.

Rezim Mubarak, Mesir

Foreign Policy menganalisa kondisi saat ini akan menggiring Mesir menuju jurang sama yang dihadapi rezim Ben Ali di Tunisia. Sudah selama tiga dekade rezim Hosni Mubarak, berkuasa di Mesir. Karena seluruh undang-undang terkait kondisi darurat negara ini memberikan keleluasaan kepada Mubarak untuk mengotak-atik pelaksanaan pemilu secara arbitrer.

Namun saat ini, rezim Mubarak tengah tergelincir. Firaun berusia 82 tahun itu menghadapi berbagai masalah kesehatan. Di sisi lain, persaingan antara Gamal Mubarak, putra Presiden Mesir, dan Omar Sulaiman, Ketua Dinas Rahasia Mesir, juga semakin menguat.

Akan tetapi kondisi saat ini sangat tidak menguntungkan bagi rezim berkuasa. Masalah keadilan sosial, pengangguran, dan kenaikan harga komoditi, lagi-lagi menjadi pemicu gelombang unjuk rasa di Mesir. Terinspirasi dari aksi bunuh diri yang di Tunisia yang memantik revolusi, hingga kini tiga warga Mesir tewas dengan cara membakar diri.

Protes yang digelar secara nasional di Mesir yang dijuluki "Hari Kemarahan" itu telah menjadi momok bagi rezim Mubarak. Betapa tidak, meski telah dilarang dan diaman hukuman, masyarakat enggan menghentikan aksi protes dan menuntut lengsernya rezim ala-Firaun Mubarak.

Rezim Renta Ghadafi, Libya

Setelah membahas Aljazair dan Mesir, Foreign Policy menyinggung kondisi di Libya. Era pemerintahan Moammar Ghadafi dinilai telah melebihi usia kekuasaan seluruh pemerintahan di dunia saat ini. Ia berkuasa di Libya pada tahun 1969, melalui sebuah kudeta militer.

Di bawah kekuasaannya, Libya menjadi salah satu negara terbesar pelanggar hak asasi manusia dan negara paling tidak demokratis. Di negara ini tidak ada kebebasan media dan dari kelompok oposisi, yang tertinggal hanyalah nama dan kenangan belaka.

Lebih lanjut Foreign Policy menambahkan, meski untuk mendapatkan informasi detail tentang kondisi di Libya sangat sulit, namun sejumlah laporan dan rekaman video menunjukkan bahwa demonstrasi warga di ibukota cukup menjadi bukti tingginya tingkat ketidakpuasan rakyat Libya atas rezim berkuasa. Padahal sebelumnya, protes merupakan kata yang hampir tidak pernah didengar dari Libya.

Untuk mengantisipasi seperti apa yang terjadi di Tunisia, Mesir, dan Aljazair, pemerintah Libya langsung melakukan impor komoditi secara massif dan bahkan mencabut sejumlah batasan.

15 Januari lalu, Ghadafi dalam pidatonya mengecam revolusi di Tunisia. Dalam beberapa pidato, Ghadafi menyebut mantan diktator Tunisia, Zine Al Abidine Ben Ali sebagai saudara dekat.

Kemungkinan Revolusi Sudan

Sudan menjadi negara keempat yang dinilai Foreign Policy berpotensi menghadapi kebangkitan masyarakat. Presiden Sudan, Omar al-Bashir dalam dua dekade pemerintahannya, menjadi "guru besar dalam menebar perpecahan dan berkuasa". Dengan lihai al-Bashir mengadu kelompok-kelompok yang menentangnya dan dalam membasmi segala bentuk ancaman.

15 tahun pertama pemerintahan al Bashir, berlalu dengan perang saudara antara kawasan utara dan selatan negara ini. Memasuki milenium, muncul pemberontakan dari Darfur, dan al-Bashir mempersenjatai sebuah kelompok milisi untuk memerangi para separatisan Darfur.

Wilayah Sudan Selatan saat ini tengah menanti hasil referendum soal pemisahan kawasan itu dari Sudan Utara. Al-Bashir berjanji akan menerima hasi referendum.

Al-ashir yang mampu mengendalikan kondisi di wilayah selatan, tampaknya kini menghadapi kendala baru yaitu kehilangan pendukung secara bertahap. Hasan al-Turabi, ketua partai oposisi pada pidatonya dalam aksi unjuk rasa tanggal 17 Januari lalu menyampaikan pesan kepada al-Bashir dan mengatakan, "Apa yang yang terjadi di Tunisia adalah peringatan. Ini dapat terjadi di Sudan. Jika tidak, maka akan terjadi pertumpahan darah besar-besaran di Sudan."

Al-Bashir dihimpit dua krisis besar saat ini. Pertama jika Sudan Selatan memisahkan diri, maka kondisi negaranya akan semakin sulit mengingat sebagian besar sumber minyak terletak di wilayah selatan. Kedua, di wilayah selatan pun, al-Bashir mulai kehilangan pendukung. Upayanya untuk mengurangi defisit bujet negara dilaukan dengan memotong subsidi bahan bakar dan komoditi utama. Kenaikan harga tersebut yang akhirnya menyeret para mahasiswa berdemonstrasi.

Ratu Jordania Siap-Siap Mengungsi ke Jeddah

Negara kelima yang menurut Foreign Policy diperkirakan akan menghadapi gelombang protes hingga runtuhnya pemerintahan adalah Jordania. Raja Jordania, Abdullah II, merupakan salah satu sekutu utama Amerika Serikat di kawasan dan menjadi "makelar perdamaian" antara Otorita Ramallah di Palestina dan rezim Zionis Israel. Abdullah yang merupakan jebolan Amerika Serikat itu berkuasa di Jordania pasca Perang Dunia II.

Kondisi saat ini di Jordania hampir sama dengan yang dialami di Tunisia dan Mesir. Parlemen baru Jordania hingga kini masih menghadapi krisis pengangguran yang persentasenya mencapai angka dua digit. Selain itu banyak pengamat yang meragukan kelanggengan kekuasaan Abdullah II.

Pada tanggal 16 Januari lalu, sekitar 3.000 warga berdemonstrasi di depan gedung parlemen negara ini dalam rangka memprotes kebijakan ekonomi. Mereka meneriakkan slogan "Jordania bukan hanya untuk orang-orang kaya saja", "Roti adalah garis merah kami, kalian harus memperhatikan kemarahan dan kelaparan kami."

Ratu Jordania menyampaikan pesan melalui internet yang mengimbau warga untuk menjaga ketenangan. Sikap itu direaksi keras oleh warga Jordania, bahkan di antaranya mengimbau keluarga kerajaan untuk menyiapkan rumah di Jeddah, Arab Saudi. Jeddah, adalah kota tujuan mantan diktator Tunisia, Zine al Abidine Ben Ali, setelah tersungkur dari jabatannya. (IRIB/MZ/MF)

Keluarga Mubarak Lari ke Inggris

Menyusul aksi protes dan kegeraman masyarakat yang semakin meluas terhadap pemerintahan Presiden Mesir Hosni Mubarak, berbagai laporan menyebutkan bahwa para anggota keluarga Mubarak memutuskan untuk segera melarikan diri.
INN mengutip keterangan International Bussiness Times (26/1) melaporkan, sejumlah laporan menyebutkan bahwa Susan Mubarak, istri Presiden Mesir, telah meninggalkan negaranya menuju London.

Berdasarkan laporan tersebut, para pegawai bandara internasional Heathrow , London, asal Mesir, langsung mengenali istri Mubarak. Pada saat yang sama, koran Times terbitan New Delhi dalam edisi terbarunya (26/1), juga menurunkan laporan bahwa Gamal Mubarak, putra Presiden Mesir, yang menurut rencana akan menggantikan jabatan ayahnya itu, telah meninggalkan Kairo menuju London.

Dalam beberapa bulan terakhir, warga Mesir menggelar aksi protes terhadap rezim Mubarak.
Pekan lalu, seorang warga Mesir nekat membakar dirinya di depan gedung parlemen negara ini dalam rangka memprotes kondisi saat ini. Aksi bakar diri itu terinspirasi dari aksi serupa di Tunisia yang akhirnya mampu menyulut revolusi yang berhasil menumbangkan rezim berkuasa di negeri itu. (IRIB/MZ/SL)

Tuesday, February 3, 2009

Pengkhianatan Arab Saudi; Dari Pulau Tiran Hingga ke Perang Gaza

oleh: Saleh Lapadi

Uni Emirat Arab tanpa memiliki bukti kuat sampai saat ini masih mengklaim tiga pulau Abu Musa, Tunb Kecil dan Tunb Besar sebagai miliknya. Uni Emirat Arab memanfaatkan isu Arab dan propaganda internasional untuk tetap mengusik ketiga pulau ini. Namun ironisnya Arab Saudi tidak pernah mempermasalahkan dua pulaunya; Tiran dan Sanafir yang sampai saat ini diduduki oleh Rezim Zionis Israel. Apa rahasia dibalik bungkamnya Arab Saudi menyaksikan dua pulaunya diduduki Israel? Tulisan ini mencoba membongkar transaksi besar antara Arab Saudi dan Israel.


Urgensi Pulau Tiran dan Sanafir
Pelabuhan Elat yang terletak di Teluk Aqaba sangat strategis bagi Rezim Zionis Israel karena sebagian besar aktivitas ekspor dan impor rezim Zionis melalui pelabuhan ini. Pelabuhan Elat menjadi penghubung Israel dengan pesisir timur dan selatan Afrika dan negara-negara selatan dan barat daya Asia. Pelabuhan ini dihubungkan dengan pelabuhan Asqalan pesisir timur Laut Mediterania lewat jalur pipa minyak dan jalur darat. Dengan memiliki pelabuhan ini, Israel sudah tidak lagi membutuhkan Terusan Suez dan kenyataan ini menunjukkan strategisnya pelabuhan Elat bagi rezim ini.

Namun apakah satu-satunya jalur hubungan Israel dengan laut melalui Selat Tiran?

Selat Tiran adalah pulau yang menghubungkan Teluk Aqabah dengan Laut Merah. Mulut Selat Aqabah adalah pulau Tiran dan Sanafir. Mantan Duta Besar Rezim Zionis Israel di Amerika Ishaq Rabin mengatakan, “Kawasan ini, pulau Tiran dan Sanafir sangat strategis. Pertikaian tiga orang bersenjata saja mampu menutup selat ini.” Begitu strategisnya selat ini sehingga banyak pengamat menilai salah satu pemicu perang Arab-Israel tahun 1967 adalah sikap Mesir menutup selat ini bagi armada laut Israel.

Kronologi Sejarah Urgensi Pulau Tiran dan Sanafir
Mesir pada tahun 1949 menutup Terusan Suez untuk kapal-kapal Rezim Zionis Israel. Sikap Mesir ini secara otomatis mengangkat posisi Pelabuhan Elat menjadi sangat strategis bagi Israel. Karena dengan ditutupnya Terusan Suez tanpa memiliki pelabuhan ini bagi Israel berarti kapal-kapal dagang rezim ini setelah melakukan transaksi untuk kembali harus memutari Afrika Selatan terlebih dahulu.

Pada tanggal 13 September 1955, Mesir mengeluarkan peraturan bagi setiap kapal-kapal yang ingin melewati Teluk Aqabah harus mendapat izin negaranya. Sebaliknya, Israel melihat kendala dalam upayanya untuk mengakses laut bebas. Saat Gamal Abdel Nasser, Presiden Mesir menasionalisasikan Terusan Suez, negara-negara Perancis, Inggris dan Rezim Zionis Israel menyerang Mesir. Hasil dari perang ini adalah terealisasinya keinginan Rezim Zionis Israel dengan dibukanya kembali Selat Tiran dan ditempatkannya pasukan internasional di Teluk Aqabah dan Gurun Sina.

Pulau Sanafir untuk pertama kalinya diduduki Rezim Zionis Israel dalam perang tahun 1956 selama 10 bulan. Sebelum perang tahun 1967 Mesir menyewa pulau ini dari Arab Saudi dengan tujuan menutup Selat Tiran bagi armada kapal Israel. Namun setelah perang pulau ini menjadi jajahan Israel.

Sebelum terjadi perang, Mesir menuntut penarikan pasukan penjaga perdamaian PBB dari garis gencatan senjata dengan Israel. Pasukan perdamaian PBB pada tanggal 23 Mei 1967 menarik pasukannya dari sana. Mesir tetap menutup Selat Tiran bagi armada kapal Rezim Zionis Israel. Pendudukan ilegal Pelabuhan Elat di kawasan Umm Al-Rashrash oleh Rezim Zionis Israel setelah gencatan senjata tahun 1949, Luas Teluk Aqabah lebih banyak dimiliki oleh Mesir dan keyakinan negara ini bahwa Selat Tiran bukan kawasan bebas menjadi alasan Mesir untuk menutup selat ini.

Langkah yang dilakukan Mesir menunjukkan negara ini telah siap untuk melakukan perang paling menentukan dengan Rezim Zionis Israel. Namun Rezim Zionis Israel mendahului Mesir dengan lampu hijau yang diberikan Amerika, pagi hari tanggal 5 Juni 1967 membombardir 9 bandar udara Mesir selama 3 jam dan setiap kalinya selama 10 menit. Pasukan darat rezim ini siang hari itu juga menyerang perbatasan Mesir dan kemudian merangsek maju mendekati terusan Suez. Sore hari kedua perang (6 Juni), Panglima Tertinggi Militer Mesir Abdul Hakim Amir memerintahkan pasukannya segera mundur dari Gurun Sina. Menyusul perintah ini, Mesir pada tanggal 7 Juni menerima dihentikannya perang dan menginformasikannya kepada Sekjen PBB, sementara militer Israel pada tanggal 8 Juni tengah berusaha untuk menduduki Gurun Sina secara keseluruhan.

Ada sejumlah capaian penting bagi Rezim Zionis Israel setelah berkahirnya perang ke-3 tahun 1967 antara Arab dan Israel. Hasil-hasil itu sebagaimana berikut:

1. Rezim Zionis Israel tetap menguasai dan menduduki daerah-daerah seperti Tepi Barat Sungai Jordan, Jalur Gaza, Gurun Sina milik Mesir, Dataran Tinggi Golan milik Suriah dan pulau Tiran dan Sanafir milik Arab Saudi.
2. Sekitar 330 ribu warga Palestina menjadi pengungsi.
3. Rezim Zionis Israel menguasai sumber air Sungai Jordan dan Selat Tiran dan Teluk Aqabah terbuka bagi armada kapal rezim ini.
4. Rezim Zionis Israel berhasil menciptakan garis pertahanan baru yang strategis untuk menghadapi serangan asing.
5. Sejumlah daerah telah diduduki Rezim Zionis Israel. Setelah ini tujuan Arab hanya berusaha untuk mengembalikan tanah-tanah yang telah diduduki baik tahun 1948 atau 1967.
6. Kekuatan militer Mesir, Yordania dan Suriah telah hancur.
7. Ketidakmampuan para pemimpin Arab, ketidakkompakan dan ketidakseriusan mereka untuk membebaskan Palestina semakin tampak jelas.
8. Perlawanan Palestina muncul dan dari hari ke hari semakin menguat. Menyusul ketidakmampuan dunia Arab, bangsa Palestina menemukan jati dirinya dan berusaha dengan melakukan berbagai inovasi untuk membebaskan tanah airnya.

Perang tahun 1967 bukan akhir dari perseteruan Arab-Israel. Karena pada tahun 1973 perang kembali terjadi yang menjadi pendahuluan terjadinya Perjanjian memalukan Kamp David yang ditandatangani oleh Presiden Mesir Anwar Sadat dan Perdana Menteri Rezim Zionis Israel Menachem Begin pada tanggal 17 September 1978. Dalam perundingan itu tidak disebutkan mengenai pulau-pulau milik Arab Saudi dan kawasan Umm Ar-Rashrash milik Mesir sebelum perang 1967 yang diduduki Rezim Zionis Israel.

Pengkhiatan Arab Saudi atas Cita-Cita Palestina dan Umat Islam
Mencermati kronologi pendudukan pulau Tiran dan Sanafir milik Arab Saudi oleh Rezim Zionis Israel dan bungkam pemerintah Arab Saudi atas kenyataan ini menimbulkan berbagai pertanyaan. Apakah mungkin ada kesepakatan rahasia antara pemerintah Arab Saudi dan Rezim Zionis Israel?

Perlu diketahui bahwa satu tahun setengah sebelum terjadinya perang Gaza, Arab Saudi menyakan akan membangun jembatan yang menghubungkan kedua negara ini dari Ra’s Al-Sheikh Hamid, Arab Saudi hingga Sharm Al-Sheikh, Mesir. Pernyataan ini kontan direaksi keras oleh Rezim Zionis Israel. Kerasnya pernyataan Israel ini dapat ditelusuri dalam tulisan yang dimuat dalam Situs Debka bahwa pembangunan jembatan itu dapat memicu perang besar di Timur Tengah. Alasan perang tahun 1967 antara Arab dan Israel dibesar-besarkan agar para pejabat Arab Saudi segera menarik kembali keputusannya itu.

Jembatan dengan panjang 50 kilometer itu diperkirakan akan menghabiskan biaya sebesar 3 miliar dolar dan direncanakan akan selesai selama tiga tahun. Hampir dua tahun dari pengumuman rencana dan peletakan batu pertama dilakukan, namun sampai kini tidak ada informasi baru mengenai kemajuan proyek ini.

Agresi brutal militer Rezim Zionis Israel dan bungkamnya Arab Saudi menyaksikan kebiadaban rezim ini membuat opini umum dunia bertanya-tanya. Apakah bungkamnya para pejabat Arab Saudi di saat militer Israel melakukan kebiadabannya bagian dari kesepakatan rahasia Arab Saudi dan Israel dalam masalah proyek jembatan dari pulau Tiran? Terlebih lagi setelah sejumlah pakar menyebut-nyebut adanya sumber minyak di pulau Tiran dan Sanafir. Waktu jugalah yang akan menjawab apa sebenarnya di balik kemungkinan kesepakatan rahasia antara pengkhianat dan munafik umat Islam dengan Rezim Zionis Israel.

Namun jangan lupa akan pernyataan Rahbar atau Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran Ayatullah Al-Udzma Sayyid Ali Khamenei dalam suratnya kepada Perdana Menteri Palestina yang sah Ismail Haniyah. Beliau mengatakan, “Para pengkhianat Arab juga harus tahu bahwa nasib mereka tidak akan lebih baik dari orang-orang Yahudi dalam perang Ahzab”, sambil menyebut ayat ke-26 surat Al-Ahzab yang berbunyi, “Dan dia menurunkan orang-orang Ahli Kitab (Bani Quraizhah) yang membantu golongan-golongan yang bersekutu dari benteng-benteng mereka, dan dia memasukkan rasa takut ke dalam hati mereka. Sebagian mereka kamu bunuh dan sebahagian yang lain kamu tawan.”

Ahmadinejad: Boikot Produk Israel!

Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad menyerukan pemboikotan barang-barang Israel, memperingatkan tentang kemungkinan negara Yahudi itu akan melancarkan serangan baru terhadap rakyat Palestina, kata laman kepresidenan Iran, Senin.


“Peradilan para pemimpin rejim Zionis itu harus terus diupayakan dan barang-barang Zionis itu harus diboikot,” kata Ahmadinejad dalam satu pertemuan dengan ketua gerakan Hamas , Khaled Meshaal yang dikutip situs internet itu dan dilaporkan AFP.

Hamas dan Israel sama-sama mengumumkan gencatan 18 Januari, yang mengakhiri perang 22 hari di Gaza yang menewaskan lebih dari 1.330 warga Palestina dan 13 orang Israel.

“Zionis yang kalah tidak akan berhenti menyerang bahkan dalam situasi ini dan mereka kemungkinan akan menyerang kembali,” kata Ahmadinejad .

Israel memberlakukan satu blokade atas Gaza sejak Hamas menguasai Jalur Gaza pertengahan tahun 2007 dalam pertempuran di jalan-jalan dengan faksi Fatah, saingannya.

Meshaal bertemu dengan pemimpin tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, Minggu dalam kunjungan pertamanya ke Republik Islam itu sejak perang Gaza. Iran adalah pendukung kuat Hamas dan tidak mengakui Israel.(antara)

Saturday, January 31, 2009

Presiden Israel Diteriaki "Pembunuh" oleh PM Turki

DAVOS, JUMAT — Perdana Menteri Turki Tayyip Erdogan beranjak meninggalkan Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss, Kamis (29/1), setelah menyebut Presiden Israel Shimon Peres sebagai "pembunuh." Sebutan itu dikumandangkan oleh Tayyip Erdogan sebagai bentuk keprihatinan terhadap sikap Shimon Peres yang mendukung operasi militer Israel di Gaza.


Peserta debat yang bertopik Gaza, seperti penasihat Presiden Barack Obama, Valerie Jarret, tersontak
melihat Erdogan dan Shimon Peres terlibat debat sengit dengan nada tinggi dan penuh emosi. Dalam debat yang memanas itu, Peres tetap membela posisi Israel dalam serangan militer selama 23 hari terhadap militan Hamas.

Peres menerangkan, operasi militer Israel diberlakukan sebagai respons atas serangan roket Hamas selama 8 tahun yang diarahkan ke wilayah teritorial Israel. Saat menyampaikan pandangannya itu, Peres kerap kali melepas pandangannya ke Erdogan yang mengkritik pemblokadean Israel atas wilayah Gaza.

Erdogan menyebut pemblokadean itu sebagai penjara "terbuka" yang terisolasi dari belahan dunia lain. Erdogan menyampaikan keprihatinannya terhadap operasi militer Israel yang menewaskan sekitar 1.300 warga Palestina, lebih dari separuh di antaranya adalah warga sipil.

"Kenapa Hamas menembakkan roket? Tak ada pemblokadean terhadap Hamas sebelumnya," kata Peres dengan nada suara penuh emosional. "Kenapa mereka (Hamas) memerangi kami, apa yang mereka inginkan? Tak pernah ada kelaparan sebelumnya di Gaza."

Debat ini melibatkan Israel dan Turki sebagai pusat perhatian mengingat peran penting Turki sebagai moderator perdamaian Israel dengan Suriah. Erdogan menyampaikan kekecewaannya dengan mengenang upayanya mengadakan pendekatan perdamaian dengan Perdana Menteri Israel Ehud Olmert sebelum Israel melancarkan operasi militer di Gaza.

"Saya sedih mengetahui peserta forum bertepuk tangan terhadap ucapanmu (Peres)," kata Erdogan. "Kamu pembunuh. Dan saya berpendapat tindakan itu sangat keliru." Emosi Erdogan memuncak saat seorang moderator panel memotong pernyataannya untuk menanggapi pembelaan Peres terhadap operasi militer Israel melawan Hamas.

Luapan kemarahan ini berlangsung menyusul diadakan debat selama 1 jam di forum yang dihadiri oleh sejumlah pemimpin dunia di Davos. Erdogan berupaya memojokkan Peres lewat sanggahannya saat debat akan berakhir dengan meminta moderator yang adalah kolumnis Washington Post, David Ignatius, memperkenankan menambah waktu baginya untuk berbicara.

"Saya masih ingat dengan anak-anak yang tewas di pantai-pantai," tegas Erdogan. Saat Erdogan diperintahkan menghentikan komentarnya, Erdogan dengan sikap gusar meninggalkan forum yang dihadiri panelis Sekjen PBB Ban Ki-moon dan Sekretaris Liga Arab Amr Moussa.

"Anda mengetahui betul pembantaian terhadap warga Palestina," ujar Erdogan secara lantang kepada Peres. "Saya masih ingat 2 mantan perdana menteri di negaramu yang pernah mengaku senang saat tank-tank Israel berhasil menjejakkan kehadiran di tanah Palestina," tambahnya.

Saat moderator berupaya memotong pernyataan Erdogan dengan menjelaskan waktunya telah memasuki jam makan malam, Erdogan menyelanya dengan mengatakan: "Jangan interupsi saya. Kamu tidak mengizinkan saya untuk berbicara. Saya tidak akan ke Davos lagi," tegasnya.

Erdogan menekankan alasannya meninggalkan forum di Davos bukan karena perselisihannya dengan Peres. Erdogan menjelaskan tidak diberikan cukup waktu untuk menanggapi pernyataan Shimon Peres. Erdogan mengeluh karena Peres diberikan waktu 25 menit untuk menyampaikan komentar, sementara dirinya hanya diberi waktu 12 menit.

Thursday, January 15, 2009

Surat Terbuka Ahmadinejad kepada Raja Saud

Bismillahirrahirrahmanirrahim

YM Raja Abdullah bin Abdul Aziz Al Saud, Raja Saudi Arabia

Assalamualaikum wr wb.

Sebagaimana Anda ketahui sudah 19 hari, baik siang maupun malam rakyat tak berdosa Gaza berada di bawah serangan dahsyat dan ganas zionisme Israel yang tak berbudaya baik dari darat, laut dan udara sementara mereka telah berada dalam blokade sempurna dari semua arah. Tentulah mereka menghadapi hari-hari yang paling sulit dan menyedihkan. Anak-anak kecil dan wanita serta orang-orang tua lanjut usia dihadapkan pada tindakan genosida di rumah dan tanah air mereka sendiri yang pasti setiap orang yang berhati bebas akan hancur dan berteriak-teriak menangis.


Kekuatan pembohong yang mengklaim demokrasi dan HAM telah mempersenjatai zionisme Israel hingga gigi-gigi mereka. Rezim yang dilahirkan secara illegal dan hanya untuk kejahatan, agresi serta penjajahan. Kali inipun mereka membantu, menyiapkan segala fasilitas dan waktu yang cukup untuk para pembunuh berhati gelap guna melampiaskan segala keinginannya.

Memang kita tidak berharap dari mereka. Namun yang menyedihkan adalah sebagian Negara Arab dan Islam di Kawasan dengan berbagai motivasi dan dalih mampu menahan diri, menampilkan wajah senyum dan restu atau diam seribu bahasa atas pembantaian satu generasi yang tak ada bandingannya ini. Bahkan lebih dari itu turut melindungi tindakan mereka dan berharap dari rakyat pejuang yang heroik dan tanpa pembela itu menerima kehinaan hidup di bawah penjajahan yang Tuhan pun tidak pernah merelai hal itu.

Dengan karunia Allah serta berkat keimanan rakyat Gaza yang kuat dan kokoh, maka tidak ada lain yang akan diperoleh oleh zionisme Israel selain kegagalan dan kekalahan dan pada akhirnya kepunahan mereka.

Semua mengerti, bahwa rezim ini tidak memiliki masa depan yang cerah. Apa yang mereka lakukan saat ini adalah tanda-tanda keputusasaan mereka untuk tetap eksis di Kawasan. Sementara semua bangsa dan para penyeru kebebasan dunia bangkit dan meneriakkan kutukan untuk rezim penjajah dan pelaku berbagai kejahatan dan kriminal di Gaza serta dukungan untuk rakyat tertindas Palestina semakin membumbung tinggi ke langit.

Yang diharapkan dari Anda YM sebagai Raja Saudi Arabia dan Pengemban dua tempat suci Mesjidil Haram, Kiblat kaum muslimin serta pusara suci Rasulullah saw, untuk memecah kebisuan dan secepatnya mengambil sikap yang tegas atas pembantaian anak-anak Anda dan tubuh kaum muslimin.

Kami berharap sikap tegas Anda YM adalah harapan yang dapat kita nanti-nantikan untuk menggagalkan upaya pemecah belahan kaum muslimin dan menjadikan mereka putusa asa.

Kami selalu berdoa untuk kemenangan pejuang dan pemberani Palestina serta kehancuran zionisme Israel. [sumber: www.islammuhammadi.com yang mengutip dari situs resmi Presiden Ahmadinejad http://www.president.ir/fa/?ArtID=14350]

WE WILL NOT GO DOWN (Song for Gaza)


Composed by Michael Heart
Copyright 2009


A blinding flash of white light
Lit up the sky over Gaza tonight
People running for cover
Not knowing whether they're dead or alive

They came with their tanks and their planes
With ravaging fiery flames
And nothing remains
Just a voice rising up in the smoky haze


We will not go down
In the night, without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die
We will not go down
In Gaza tonight

Women and children alike
Murdered and massacred night after night
While the so-called leaders of countries afar
Debated on who's wrong or right

But their powerless words were in vain
And the bombs fell down like acid rain
But through the tears and the blood and the pain
You can still hear that voice through the smoky haze

We will not go down
In the night, without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die
We will not go down
In Gaza tonight


Tuesday, January 13, 2009

Macan Kertas Itu Bernama Israel

oleh: Saleh Lapadi

"Israel lebih rapuh dari sarang laba-laba" (Sayyid Hasan Nasrullah)

Perang yang dimulai dengan serangan jet-jet tempur Rezim Zionis Israel pada tanggal 27 Desember 2008 terhitung perang ke-6 di Timur Tengah. Empat kali rezim ini berperang melawan negara-negara Arab dan berhasil mempecundangi mereka. Perang kelima ketika melawan Hizbullah Lebanon lebih dikenal dengan nama Perang 33 Hari. Untuk kali pertamanya militer Israel yang dikenal sebagai angkatan bersenjata terkuat di Timur Tengah harus rela dipermalukan oleh para pejuang Hizbullah. Sementara perang keenam disebut oleh Ismail Haniyah, Perdana Menteri sah dan pilihan rakyat Palestina sebagai Perang Furqan. Perang antara hak dan batil.


Perang ini telah memasuki pekan ketiga, tepatnya hari ke-17. Korban perlahan-lahan telah melewati angka 900 dan lebih dari 4.100 orang cedera. Masyarakat internasional tidak tahan menyaksikan pembantaian warga Gaza yang hampir dua tahun diblokade dan kini diserang secara membabi buta dari udara, laut dan darat. Untuk pertama kalinya masyarakat internasional setiap harinya menyaksikan demonstrasi besar-besaran di seluruh dunia. Ironisnya, sebagian besar negara-negara dunia masih tertutup mata dan hatinya menyaksikan lebih dari 300 anak-anak tak berdosa harus menjadi korban.

Saat Rezim Zionis Israel menyerang Lebanon Selatan sejumlah negara-negara Arab mendukung penuh serangan itu dan menyebut Hizbullah sebagai penyebab terjadinya perang. Namun untuk kali pertamanya dalam sejarah perang Zionis Israel, biaya perang kali ini di Gaza ditanggung oleh Arab Saudi. Tidak cukup itu, koran Israel Yedioth Ahronoth yang dikutip Kayhan Iran menulis, sejumlah negara-negara Arab kepada Israel mengatakan, jangan biarkan Ismail Haniyah menjadi Sayyid Hasan Nasrullah kedua!

Tidak ada orang yang ragu bahwa sikap diam dan persekongkolan tiga negara Arab penting Arab Saudi, Mesir dan Yordania dengan Rezim Zionis Israel bukanlah hal yang terjadi secara kebetulan. Terbentuknya poros ini telah diusahakan sejak Konferensi Annapolis di Amerika hingga pertemuan Sharm Al-Sheikh di Mesir. Menlu Amerika Condoleezza Rice dan timnya betul-betul berusaha keras demi memunculkan front anti Hamas dari negara-negara Arab. Washington secara kontinyu melanjutkan berbagai pertemuan dengan tiga negara Arab anti Hamas. Di tengah-tengah Perang Furqan, media-media Amerika melaporkan diadakannya sejumlah pertemuan rahasia antara para pejabat politik dan dinas intelijen Yordania dan Mesir dengan para pejabat Amerika di New York. Hasilnya adalah kesepakatan negara-negara Arab dengan Duta-Duta Besar Amerika dan Inggris di PBB dalam menyusun dan meratifikasi Resolusi 1860 Dewan Keamanan PBB.

Gaza Sumber Perimbangan Baru Dunia
Transformasi Gaza bakal mengubah struktur Sekularisme dan Anglo-Saxonisme dunia. Timur Tengah abad 20 dan setelah perang dunia terbentuk dengan sistem yang diinginkan Inggris dan bila Dinasti Ottoman tidak terbagi-bagi, tentu saja anak-anak haram seperti Yordania dan Arab Saudi yang punya hubungan kekeluargaan dengan Inggris dan Amerika tidak akan terwujud. Inggris juga tidak akan mampu menciptakan rezim Israel berdampingan dengan negara-negara Arab.

Terbentuknya Liga Arab oleh Inggris juga punya tujuan melindungi struktur dan perimbangan antara negara-negara Arab yang baru terbentuk, sehingga perselisihan antara negra-negara Arab dan Israel dikesankan sebagai masalah keluarga. Setelah Perang Dunia II, bila terjadi perselisihan, para pengelola struktur seperti Amerika akan tampil sebagai mediator. Namun semuanya berubah saat Perang 33 Hari dan Perang Furqan. Tidak ada lagi mediator dengan nama Amerika. Di sini sebenarnya struktur Anglo-Saxon Timur Tengah telah mengalami perubahan dan perimbangan baru muncul ke dunia.

Runtuhnya struktur Timur Tengah Amerika membuat pemerintah negara-negara Arab dan legalitasnya menuai pertanyaan. Dampaknya, negara-negara Arab kebingungan dan tidak mampu mengatur hubungan dalam negeri dan internasionalnya. Fenomena ini telah disemaikan sejak Perang 33 Hari dan semakin transparan saat menyaksikan bagaimana Liga Arab mereaksi serangan brutal Rezim Zionis Israel. Semakin lemahnya Amerika, sebesar itu pula negara-negara Arab menjadi lemah. Raja-raja di negara-negara Arab yang berperan sebagai polisi Amerika, bila mereka masih tetap berkuasa dalam aliran perubahan ini, bakal hancur oleh kesadaran masyarakat untuk menghancurkan struktur ini dan perlahan-lahan mengarah pada sikap perlawanan atas hegemoni.

Struktur keagamaan di Timur Tengah juga ikut mengalami perubahan sesuai dengan transformasi struktur Anglo-Saxon ini. Gambaran Yahudi abad 19 di Timur Tengah, Wahhabi di Ahli Sunnah dan Baha’i di Syiah yang dibentuk Inggris juga tengah memasuki kehancurannya.

Demonstrasi besaran-besaran di dunia mendukung Gaza dan semakin dekatnya Syiah dan Ahli Sunnah membuktikan betapa masyarakat internasional tengah menciptakan identitas baru. Hancurnya struktur lama Timur Tengah akan berujung pada munculnya struktur baru yang tidak dapat menerima kondisi tidak normal yang ada dan perlahan-lahan sistem satu kutub warisan Anglo-Saxon hanya menjadi sejarah.

Sistem satu kutub inilah yang membuat Dewan Keamanan PBB berubah menjadi pemerintah Amerika dan tidak akan ada lagi harapan untuk mencegah kejahatan Zionis Israel. Lembaga yang dibentuk setelah Perang Dunia II tidak lagi mampu menerapkan berbagai peraturan dan hukum yang dimilikinya. Oleh karenanya lembaga ini telah kehilangan legitimasinya. Pernyataan-pernyataan Ahmadinejad soal perlunya diubah struktur Dewan Keamanan PBB guna menyelamatkan lembaga ini. Dan itu hanya bisa dilakukan bila Gedung PBB berada di luar Amerika.

Kalah di Medan Perang Menang di atas Kertas
Apa yang terjadi pada hakikatnya dalam proses ratifikasi Resolusi 1860 oleh Dewan Keamanan PBB tidak seperti yang kita bayangkan selama ini. Suara abstein Amerika bukan karena tidak setuju dengan 9 poin Resolusi 1860, tapi satu bentuk sikap yang muncul akibat begitu gembiranya Amerika menyaksikan draft itu diterima dan diratifikasi sehingga menyatakan suara abstein. Sederhana, Amerika tidak menyangka resolusi itu sama persis dengan yang diinginkannya demi menjamin keinginan Rezim Zionis Israel sebagai pelaku serangan brutal ke Gaza dan yang memulai perang darat. Artinya, Resolusi 1860 tidak mungkin ditentang Amerika bahkan sebaliknya ideal dan dinginkan Amerika dan sekutunya. Dan suara abstein sejatinya untuk menutupi kegembiraan yang berlebihan mereka.

Demonstrasi luas di seluruh dunia yang menekan Rezim Zionis Israel agar menghentikan serangan brutalnya punya pengaruh keluarnya Resolusi 1860 DK PBB. Namun perlu dicamkan bahwa resolusi ini dikeluarkan setelah 14 hari perang terjadi. Selama ini pula Israel, Dewan Keamanan PBB, Amerika dan sekutunya tidak mempedulikan opini umum yang tengah berkembang di seluruh dunia. Resolusi DK PBB dikeluarkan setelah dimulainya perang darat oleh militer Israel dan kegagalan mereka menghadapi perlawanan para pejuang Palestina. Dari sini, Resolusi 1860 tidak ada bedanya dengan Resolusi 1701 DK PBB dalam Perang 33 Hari.

Kesembilan poin Resolusi 1860 DK PBB tidak menyebut sama sekali tentang Gerakan Perlawanan Islam Palestina (Hamas). Padahal tujuan serangan Zionis Israel ke Gaza jelas-jelas ingin menghancurkan Hamas. Yakni dua pihak yang berperang adalah Israel dan Hamas. Lalu mengapa Hamas tidak disebut sama sekali dalam 9 poin tersebut?

Condoleezza Rice kepada wartawan mengatakan, “Kami keberatan menyamakan Hamas dengan Israel. Di sini tidak seperti Resolusi 1701 di mana ada negara Lebanon dan Israel. Dalam Resolusi 1860 ada organisasi teroris dan pemerintah Israel yang tengah membela dirinya dari serangan roket Hamas.”

Pernyataan Rice cukup menggelikan. Karena dalam Perang 33 Hari, Israel berperang dengan Hizbullah yang menurut mereka adalah organisasi teroris. Dalam Resolusi 1701 nama Hizbullah disebutkan secara terpisah dengan pemerintah Lebanon. Rice tampaknya juga lupa bahwa Hamas adalah pemerintahan legal yang dipilih oleh rakyat Palestina yang dosanya hanya karena tidak mengakui Rezim Zionis Israel. Sejatinya Amerika dan Zionis Israel sengaja tidak memasukkan nama Hamas dalam Resolusi 1860 agar tidak mengulangi kesalahan mereka dalam Resolusi 1701. Amerika dan Zionis Israel dengan bantuan negara-negara Arab poros anti Hamas sengaja tidak memasukkan nama Hamas agar pemerintah legal Hamas juga dilupakan orang dan sekaligus melupakan bahwa tujuan menyerang Gaza untuk melenyapkan Hamas.

Sikap yang ditunjukkan ini tentu saja untuk menutup-nutupi kekalahan pasti Rezim Zionis Israel di medan perang, khususnya perang darat. Tampaknya para pejabat Zionis Israel yang tidak mampu memenangkan perang di medan pertempuran cukup puas menyaksikan kemenangan mereka di atas kertas bernama Resolusi 1860 Dewan Keamanan PBB. Namun yang paling penting dari dikeluarkannya resolusi ini untuk menyelamatkan rezim-rezim korup Arab, khususnya Arab Saudi dan Mesir dari pemberontakan rakyatnya. Arab Saudi melarang aksi unjuk rasa di negaranya dan akan menindak keras para pelaku unjuk rasa. Di Mesir lebih parah. Karena khawatir akan kudeta, pemerintah Mesir menangkap sejumlah jenderalnya dan menangkap puluhan anggota Ikhwanul Muslimin.

Militer Israel Terperangkap di Gaza
Berbeda dengan pernyataan Deputi Menteri Pertahanan Rezim Zionis Israel dan Perdana Menteri Ehud Olmert kemarin (Ahad, 11/01) bahwa militer Israel semakin dekat dengan target mereka, sesuai yang diberitakan koran Kayhan hari ini (Senin, 12/01), para perwira dan pejabat militer Israel menyatakan keputusasaannya atas kinerja pasukan Israel dan kegagalan sejumlah operasi militer Israel. Mereka mewanti-wanti bahwa pasukan Israel sewaktu-waktu dapat terjebak dalam perangkap para pejuang Palestina. Karena Hamas punya cukup waktu untuk menyerang pos-pos tentara Israel di mana saja. Para perwira militer Israel menyatakan tidak mampu memahami taktik perang para pejuang Palestina dalam kontak senjata. Apalagi para pejuang Palestina tetap bersabar dan tidak melakukan peperangan terbuka di tempat yang terbuka pula.

Seorang pejabat Israel malah mengakui bahwa Brigade Syahid Ezzeddin Qassam, sayap militer Hamas belum mengalami kerugian berarti. Pasukan Hamas sangat terlatih dan memiliki persenjataan dan roket modern. Gabi Ashkenazi, Ketua Staf Gabungan Militer Israel dan Menteri Peperangan Ehud Barak lebih memilih perang segera dihentikan dan milih berdamai. Belum lagi kerugian ekonomi Israel akibat serangan brutal militer Israel ke Gaza. Ketua Asosiasi Industri Israel mengatakan, 10 hari pertama perang para produsen di Israel telah mengalami kerugian lebih dari 172 juta dolar. Kenyataan ini membuat terjadi perselisihan antara mereka dengan Departemen Keuangan Israel.

Para analis politik Timur Tengah sepakat bahwa Rezim Zionis Israel tengah menemui jalan buntu dan kekalahan mereka menghadapi perjuangan para pejuang Palestina di bawah pimpinan Hamas adalah satu kepastian. Koran Israel Haaretz meminta militer Israel segera menarik mundur pasukannya dari Jalur Gaza. Karena berlanjutnya perang akan menghancurkan front dalam negeri. Haaretz menambahkan, dengan menekan Gaza Israel berharap dapat memaksa Mesir menyepakati penempatan pasukan asing di jalur-jalur penyeberangan Gaza.

Penutup
Amerika yang semakin lemah dan terperangkap dalam resesi ekonomi serta perang di Irak dan Afghanistan tidak akan mampu menolong sekutunya di Timur Tengah. Israel sebagai anak emas Amerika juga tidak akan mampu mengalahkan para pejuang Palestina. Karena yang dihadapinya bukan sebuah kelompok khusus, tapi seluruh masyarakat Palestina. Negara-negara Arab yang berkoalisi dalam front anti Hamas hendaknya segera mengaca sebelum kemarahan rakyatnya membuncah dan menelan mereka.

Arab Saudi seharusnya menyepakati usulan Iran untuk memakai minyak sebagai alat untuk menekan Rezim Zionis Israel. Mesir juga harus membuka jalur penyeberangan Rafah agar bantuan kemanusiaan dapat memasuki Gaza. Bila kekhawatiran Menlu Mesir akan masuknya senjata ke sana, mengapa ia juga tidak khawatir akan pengiriman 3.000 ton senjata oleh Amerika ke Israel? Mahmoud Abbas yang masa jabatannya sebagai Pemimpin Otorita Palestina juga telah kehilangan legitimasinya dari rakyat Palestina, karena telah menjual dan membantai rakyatnya sendiri.[undzurilaina]

Tuesday, January 6, 2009

Resolusi


Oleh: Arys Hilman (Republika, Minggu 4 Januari 2009)

Resolusi adalah kata paling konyol untuk menutup tahun. Di Jakarta, artis-artis melontarkan resolusi 2009, konon demi kehidupan lebih baik di masa depan, namun pada saat bersamaan mereka seolah berlomba melecehkan kehidupan pernikahan. Di Gaza, Palestina, pada akhir tahun 1429 hijri dan 2008 masehi, resolusi pun tetaplah omong kosong, kendati lahir dari lembaga dunia bernama PBB.

Resolusi selalu suka-suka pemiliknya. Pada 1975, Majelis Umum PBB mengeluarkan Resolusi 3379 yang menyatakan bahwa Zionisme adalah bentuk rasisme. Ada 72 negara yang mendukung resolusi ini, 35 menolak, dan 32 abstain. Tapi, pada 1991, Resolusi 4686 lahir di lembaga yang sama, yang berisi penarikan Resolusi 3379. Luar biasa, peta suara berubah begitu dahsyat; ada 111 suara yang mendukung penarikan Resolusi 3379, hanya 25 yang menolak. Lalu, Zionisme menjadi gerakan warga dunia yang sah.

Resolusi susah dipahami. Ada lima lusin resolusi PBB yang mengecam, mengutuk, atau menuntut Israel atas kejahatan yang dilakukan di wilayah Arab, terutama di Palestina, Lebanon, dan Suriah. Tak ada satu resolusi pun yang ditaati; dan tak ada satu negara pun mampu mendesakkan penaatannya.

Resolusi adalah barang mandul. Resolusi bahkan amat mudah gugur, hanya sempat menjadi janin dan dalam banyak peristiwa justru tak pernah lahir. Aborsi resolusi sah melalui lembaga bernama veto, hak yang hanya dimiliki lima negara. Rancangan resolusi atas kejahatan Israel adalah pemegang rekor aborsi, berkah dari hak veto Amerika Serikat (AS). Resolusi hanya kelihatan hebat kalau bernomor 1737, menyangkut program nuklir Iran.

Resolusi gampang dilupakan. Resolusi PBB Nomor 465 tahun 1980 jelas-jelas mengharuskan Israel keluar dari Jalur Gaza, Tepi Barat, Yerusalem Timur, dan Dataran Tinggi Golan. Resolusi tersebut menyatakan Irael tak punya hak atas wilayah yang dicaplok pada Perang 1967 itu namun pembangunan permukiman Yahudi tetap berlangsung di atas wilayah itu, sementara kaum Palestina harus hidup dalam sekat-sekat.

Resolusi tak punya kekuatan penggerak hati. Jadi, hanya sedikit orang yang tersentuh saat Rachel Corrie gugur justru ketika hendak melindungi Resolusi 465. Bulldozer Israel menggilas Corrie, ketika perempuan warga negara Amerika ini menghalanginya menghancurkan permukiman Palestina di Gaza pada 2003. Gaza bukanlah Tiananmen. Pemerintah Amerika tutup mata atas skandal pembunuhan ini. Rachel Corrie hanya menjadi kenangan di Lebanon dalam bentuk nama para bayi; di Beirut dalam bentuk beasiswa pendidikan tinggi; dan di Rafah dalam bentuk program kesehatan mental masyarakat.

Resolusi jelas kalah pamor dibandingkan pertandingan baseball di Amerika. Di negeri ini, terdapat 6 persen populasi makhluk Bumi, namun pendapat mereka tentang bagaimana seharusnya dunia justru mengangkangi pendapat 94 persen manusia lainnya. Seorang wartawan Amerika dengan frustrasi menulis bahwa orang-orang Amerika yang ia temui tak tahu bahwa pendudukan Israel di wilayah Arab adalah ilegal dan Israel telah mendapatkan kecaman dalam lusinan resolusi PBB.

Tapi, orang-orang itu selalu merasa memiliki dunia dan mendukung apapun tindakan Israel di Palestina. Seorang penulis Inggris, dengan kesal, mengibaratkan sikap orang-orang Amerika itu dengan baseball. Mereka menggelar pertandingan World Series, padahal pesertanya hanya orang-orang Amerika.

Resolusi adalah gagasan Indonesia untuk menyelesaikan kejahatan Israel dalam sepekan terakhir. Tapi, untuk apa? Intinya bukan pada resolusi, melainkan penghapusan ketimpangan kekuatan dalam lembaga PBB. Siapa yang akan mendukung dan menegakkan resolusi itu kelak? Bahkan orang-orang Arab pun tak bisa diharapkan. Dengar saja jeritan kaum ibu saat anak-anak mereka gugur kena bom di Gaza,''Biarkan pemerintah-pemerintah Arab bergembira.'' Resolusi, bagi mereka, hanyalah hipokrisi. Bahkan Mesir, negeri yang berbatasan langsung dengan Gaza, menutup pintu perbatasan dan menghalangi para dokter sukarelawan yang hendak menolong para korban di Gaza.

Hanya dalam sepekan terakhir, 428 orang wafat akibat serangan keji Israel. Dari jumlah itu, 68 adalah anak-anak, dan 33 orang adalah perempuan. Ada 2.200 orang lainnya yang cedera.
Hasbunallahu wani'mal wakil.

Thursday, March 13, 2008

For All US Citizens...

Why are Palestinians reacting against Israel













Israeli soldiers passing out candy to the kids.
Making sure they get to school.

Helping Ladies across the street..


Providing childcare.

Allowing them a place to rest (permanently)

Access to Healthcare.


Construction projects (demolition)

Respecting American and British pacifist resisters (such as American Rachel Corrie)


And others.

And if you are not satisfied, now, with the truth the following pictures are war crimes as defined by the UN, The Hague and the Geneva Convention.

Using images of your enemy dead or alive (violation)


Human shields (violation)
Live Burial Torture (violation)
And as a last resort, Execution (violation)

These IDF soldiers have faces... I can clearly see them...Can't you? Why are they not being prosecuted? Because it is systematic process that is driven by the government designed to force the people of Palestine into exile so Israel can claim all the land and resources.


This where my American tax dollars are going, do you know where your tax dollars are at? TAKE THE TIME TO FIND THE TRUTH. So many lives depend on it. I, like so many Americans, am Caucasian, non-Arab, and religious. I can no longer sit back with good conscience and do nothing while my government is supporting the types of terrorist actions that we have condemned Muslim Fundamentalist for. Call your Congressman and Senator, send an email to the White House and demand that our government negotiate FAIRLY with both sides and bring a fair and just solution to Palestine and Israel .


Thursday, December 6, 2007

Panggung Pertunjukan Annapolis


Oleh Abdillah Toha

Konferensi besar perdamaian Palestina dirancang dan diselenggarakan Amerika Serikat di Annapolis, AS, pada 27 November 2007. Hasilnya? Gagal total. Tidak lebih dari pertunjukan belaka.

Konferensi itu dihadiri hampir 52 negara dan organisasi internasional, termasuk Indonesia. Annapolis adalah sebuah kota kecil dengan penduduk kurang dari 500 ribu di Negara Bagian Maryland, dekat Washington DC.

Konferensi Annapolis tidak menghasilkan apa pun yang konkret untuk perdamaian di sana. Banyak pihak yang telah meramalkan hal itu. Sebelum berangkat, PM Israel Olmert menyatakan jangan berharap terlalu banyak dari Annapolis dan di sana nanti tidak akan ada keputusan yang bersifat spesifik. Bahkan, mungkin tidak akan ada pernyataan bersama Palestina-Israel.

Berbagai upaya melalui beberapa kali pertemuan Olmert-Abbas sebelum konferensi selalu gagal mewujudkan pernyataan bersama yang akan dijadikan referensi bagi pertemuan besar itu.

Pihak Israel menyatakan, perundingan Annapolis hanya akan "menghasilkan proses dalam rangka mewujudkan negara Palestina merdeka dengan lintas batas sementara". Entah kapan "proses perdamaian" itu akan berujung pada kesepakatan yang membawa perdamaian. Sebab, sejak era Kssinger sampai sekarang, ketika Amerika melibatkan diri dalam perundingan, selalu hanya menghasilkan "proses perdamaian", bukan perdamaian itu sendiri.

Itu semua sekarang terbukti. Annapolis hanya menghasilkan "janji" untuk melanjutkan dan menyelesaikan perundingan paling lambat sampai akhir tahun depan.

Bagaimana mungkin perundingan Annapolis mampu menghasilkan perdamaian bila tuntutan utama dan sah Palestina untuk merundingkan topik penting selalu ditolak Israel. Bahkan, sebelum pertemuan dimulai.

Israel selalu menolak berunding tentang Jerusalem Timur sebagai bagian Palestina, tidak mau merundingkan pengembalian jutaan pengungsi warga Palestina yang terusir ke luar negeri, menolak menghentikan pembangunan permukiman di daerah pendudukan. Mereka juga tidak bersedia membongkar dan menghentikan pembangunan tembok yang memisahkan warga Palestina dari keluarganya, tanah pertaniannya, dan tempat bekerjanya.

Warga Palestina saat ini seakan hidup di atas "pulau-pulau" di darat, kebebasan bergeraknya dibatasi dengan tembok pemisah, lahan yang diduduki Israel, serta pos-pos pemeriksaan yang tersebar di banyak tempat. Tanah yang awalnya milik Palestina kini diambil Israel. Pada awalnya 20 persen, kini Israel menguasai 88 persen dan sisanya, 12 persen, dibiarkan untuk warga Palestina dalam bentuk terpisah-pisah.

Panggung Politik Washington

Berbagai perundingan perdamaian sebelumnya gagal. Terakhir adalah kuartet Timur Tengah yang terdiri atas Amerika, Uni Eropa, Rusia, dan PBB. Kemungkinan tercapainya kesepakatan di Annapolis lebih diperparah oleh kenyataan bahwa kepemimpinan kedua pihak yang berunding, Olmert dan Abbas, sangat lemah. Olmert menjadi sangat lemah secara politis setelah kegagalannya mengalahkan Hizbullah dalam serangan ke Lebanon pada Juli tahun lalu.

Abbas menghadapi perpecahan, baik di tubuh faksi Fatah sendiri maupun perselisihan berdarah antara faksi Fatah dan faksi Hamas. Abbas dianggap tidak mampu mengendalikan pemerintahannya, terutama di Tepi Gaza yang saat ini sepenuhnya di bawah kendali Hamas, betapa pun Hamas terus-menerus ditekan dengan diisolisasikan dan sumber-sumber pendapatannya ditutup.

Kenyataan bahwa Hamas tidak diajak sebagai peserta konferensi itu telah menunjukkan betapa hasil konferensi, bila pun ada, akan sulit diimplementasikan.

Amerika, sebagai pemrakarsa dan penyelenggara, serta hampir seluruh peserta sadar akan semua kenyataan di atas.

Apa Motivasi AS?

Jadi, apa sebenarnya motivasi Amerika merancang pertemuan besar di Annapolis itu? Bagi Amerika dan Israel, kenyataan bahwa konferensi tersebut diselenggarakan sudah merupakan "sukses" tersendiri. Panggung politik Annapolis, sesuai perkiraan, paling banter menghasilkan "kesepakatan" bahwa Israel dan Palestina akan mengambil langkah-langkah lebih lanjut dalam perundingan mendatang. Itu ternyata benar terjadi dalam kesimpulan yang disampaikan dalam konferensi pers yang sangat buru-buru, bahkan tanpa teks yang diketik. Sementara itu, Israel akan terus menghukum dengan bom dan peluru kendali terhadap pejuang Palestina yang membangkang dan mengirim roket ke Israel.

Bush yang oleh banyak pihak, termasuk mantan Presiden Carter, dijuluki sebagai presiden terburuk dalam sejarah Amerika yang gagal total dalam politik luar negerinya sehingga sentimen anti-Amerika meluas di banyak negara, ingin menciptakan prestasi terakhir guna memperbaiki citranya sebelum akhir masa jabatannya yang tinggal setahun dengan mengumpulkan 50 negara dalam sebuah pertunjukan politik besar.

Kemungkinan lain adalah Amerika tadinya bermaksud menggunakan forum besar itu untuk mencari dukungan internasional bagi kebijakannya di Iraq yang di dalam negerinya sendiri mendapat kecaman keras dan rencananya dalam menghadapi "pembangkangan" Iran dalam soal nuklir. Agenda itu juga tidak dilanjutkan karena konferensi hanya dihadiri wakil-wakil negara pada tingkat menteri luar negeri, bukan kepala pemerintahan.


Abdillah Toha, anggota Komisi I DPR

Friday, November 16, 2007

Fenomena 'Sabtu Kawin Minggu Cerai' Pengungsi Irak

Sangat menyedihkan. Sementara para tetangga2 Arab-nya sibuk bergandengan tangan mesra dengan para musuh2nya. Dan saudara2 seagamanya di tempat lain masih sibuk utk membuat front masing2 utk "menyerang" saudaranya sendiri. Menari melenggak-lenggok mengikuti irama yang dimainkan musuh2nya. Maafkan kami saudaraku.
Ya Allah.....ampuni kami..

14/11/2007 07:35 WIB
Fenomena 'Sabtu Kawin Minggu Cerai' Pengungsi Irak
Arfi Bambani Amri - detikcom

Jenewa - Peperangan membuat seks dan perkawinan menjadi darurat di antara pengungsi Irak di Suriah. Pada kondisi ini, kaum perempuanlah yang terutama menjadi korban.

Perkawinan darurat ini dikenal sebagai 'perkawinan akhir minggu'. Kawin pada hari Sabtu, lalu hari Minggu bercerai.


"Jadi secara formal tidak disebut pelacuran namun pada dasarnya seks darurat," komentar Asisten Komisioner Tinggi UNCHR Erika Feller seperti dilansir AFP, Rabu (14/11/2007).

Kondisi ini muncul, karena perempuan seringkali tak punya pilihan lain untuk memberi makan anaknya. Sehingga, untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, terpaksalah dia melakukan pernikahan sehari itu.

Perkawinan digelar melalui 'upacara tradisional' di mana pihak laki-laki harus membayar, lalu hari Minggu kembali dilakukan upacara perceraian sesuai kebiasaan setempat.

Menurut Feller yang sudah berkunjung ke Suriah itu, terdapat 1,4 juta pengungsi Irak di negeri itu. Mereka bukan hanya kekurangan makanan dan bantuan lain, tapi juga menghadapi eksploitasi seksual, kekerasan dan penolakan.

Menurut UNHCR yang menangani isu pengungsi, lebih dari 4,2 juta warga Irak telah mengungsi sejak invasi AS Maret 2003 lalu. Selain ke Suriah, pengungsian juga mengalir ke Libanon, Mesir dan Iran .
(aba/nrl)

Monday, October 29, 2007

Mengunjungi Negeri Sengketa Israel-Palestina Jelang Konferensi Damai (2)

Diskriminasi Warga Arab hingga Denda Tilang


Oleh:
Tofan Mahdi
Dari Tel Aviv, Israel

Mengunjungi Negeri Sengketa Israel-Palestina Jelang Konferensi Damai (2)
Salah satu isu paling berat pada perundingan Israel-Palestina menyangkut status kota Jerusalem. Apa harapan warga Palestina tentang kota yang menjadi tempat suci agama Islam, Kristen, dan Yahudi itu?

TOFAN MAHDI, Tel Aviv

"Come to Israel before Israel come to You."
(Datanglah ke Israel sebelum Israel mendatangi Anda). Ini joke yang juga sangat populer tentang Negeri Yahudi itu.

Karena menduduki sebidang tanah yang dulu milik warga Arab-Palestina, Israel oleh negara-negara Arab tetangganya lebih dianggap sebagai penjajah. Sebab, di beberapa wilayah pendudukan seperti Jerusalem dan Tepi Barat, aparat keamanan Israel menerapkan sejumlah aturan ketat dan diskriminatif.

Status Kota Jerusalem dan kawasan Tepi Barat itulah yang akan dibahas secara detail dala m konferensi di Annapolis, Maryland, Amerika, bulan depan. Jika disepakati, perjanjian damai Israel-Palestina yang disponsori AS kembali diteken.

Secara geografis, Jerusalem dibagi dua wilayah: barat dan timur. Warga Yahudi tinggal di Jerusalem barat, sedangkan warga Arab-Palestina (Islam dan Kristen) di Jerusalem timur. Namun, setelah Perang Arab-Israel pada 1967, administrasi dan kontrol keamanan seluruh wilayah kota itu dikendalikan Israel. Jumlah permukiman dan warga Yahudi di Jerusalem timur pun terus bertambah.

"Meski tinggal dalam satu wilayah, warga Yahudi dan Arab-Palestina hidup saling curiga. Masing-masing hidup eksklusif, menjaga jarak, dan selalu khawatir penyerangan secara fisik," kata Hasan Nasralah, warga Arab-Palestina yang tinggal di Jerusalem timur.

Seperti halnya Tel Aviv, Haifa, dan kota-kota besar lain di Israel, pengamanan di Jerusalem sangat ketat. Aparat keamanan yang bersenjata bertugas di berbagai sudut kota. Mereka ada di hotel, supermarket, mal, dan tempat-tempat publik lain.

Setel ah maraknya aksi intifadah dan bom bunuh diri melawan pendudukan Israel, setiap mobil yang masuk halaman hotel harus melalui pemeriksaan ketat. Bahkan, ruang-ruang konferensi di hotel berbintang pun dibangun di lantai bawah tanah (underground level).

"Tidak seluruh hotel. Tetapi, banyak yang seperti itu. Alasan sesungguhnya menyangkut lahan yang terbatas. Tetapi, aspek keamanan juga menjadi pertimbangan," ujar Roley Horowitz, warga Yahudi yang bermigrasi dari India.

Meski sekarang Kota Jerusalem diklaim sebagai ibu kota negara Yahudi itu, warga Palestina terus berjuang agar kelak kota ini menjadi ibu kota negaranya. Di kota ini berdiri salah satu tempat suci umat Islam, yaitu Masjid Al Aqsa.
Di areal, Al Aqsa juga berdiri Qubah al Sahra (Dome of The Rock). Dari tempat ini, Nabi Muhammad mengawali perjalanan ke langit (dalam peristiwa Isra Mikraj) untuk menerima perintah salat lima waktu.

Dengan dalih keamanan pula, akses warga muslim untuk beribadah di Al Aqsa, Jerusalem, makin terbatas. Ada sejumlah check point (pos pemeriksaan) untuk masuk ke sana.

"Yang diberi akses masuk ke Al Aqsa, umumnya, warga Arab Palestina berusia di bawah 18 tahun dan di atas 45 tahun," kata Syekh Bukhari, salah seorang pemuka agama Islam di Jerusalem timur.

Saya beruntung bisa melaksanakan ibadah salat Jumat pada 18 Oktober pekan lalu. Saat itu, saya melihat tindakan tentara Israel yang memeriksa warga Arab-Palestina yang akan masuk ke masjid tersebut. Semua harus menunjukkan identitas. Mobil juga diperiksa. Lantas, tentara Israel itulah yang berhak menentukan siapa yang bisa masuk dan siapa yang tidak.

Warga Palestina yang tinggal di Tepi Barat (Hebron, Nablus, Ramallah, dan sejumlah kota lain) jelas dilarang masuk ke Al Aqsa. Tak ada toleransi sama sekali. Selain itu, sejak ada ratusan kilometer tembok pembatas yang dibangun Israel, akses warga Tepi Barat menuju ke Jerusalem menjadi sangat terbatas. Jadi, Al Aqsa h anya bisa diakses oleh muslim di Jerusalem setelah lolos pemeriksaan tentara Israel.

"Wisatawan asing seperti Anda lebih mudah (masuk ke Al Aqsa) daripada kami," kata Bukhari.

Hidup di Jerusalem bagi warga Arab-Palestina juga sarat dengan diskriminasi. Memang, mereka memiliki opsi jika mau menjadi warga negara Israel. Namun, sebagian besar warga Arab-Palestina menolak.

"Kami tetap warga Palestina. Namun, karena tinggal di Jerusalem yang dikuasai Israel, kami harus memegang kartu identitas penduduk Israel," kata Shuha, warga Jerusalem timur yang mengantarkan saya ke Ramallah.

Shuha menceritakan sejumlah perlakuan yang menyinggung perasaan warga Arab-Palestina. Suatu hari, pencuri masuk ke rumah Shuha. Dia lalu melaporkan kejadian tersebut kepada polisi Israel.

Tahu korbannya adalah warga Arab-Palestina, kata dia, tidak ada seorang polisi pun yang datang.

"Juga kalau ditilang akibat pelanggaran lalu-lintas. Denda untuk warga Arab-Palestina pasti lebih mahal daripada denda bagi orang Yahudi. Terus tera ng, kami sangat berat hidup seperti ini," kata wanita berwajah cantik itu.

Jika Israel tetap menguasai Jerusalem, Shuha yakin selamanya orang-orang Arab-Palestina menjadi warga negara kelas dua. Mereka tidak bisa bekerja di pemerintahan dan sektor-sektor strategis lain. "Sebagian besar kami di sini bekerja di sektor informal. Misalnya, menjadi pedagang dan sopir taksi," ujarnya.

Sejumlah upaya dilakukan kedua pihak (Arab-Yahudi) agar bisa berintegrasi. Salah caranya, mendirikan sekolah multicultural. Harapannya, sekolah itu dapat memberikan pemahaman lebih baik tentang tiga agama yang sama-sama menjadikan Jerusalem sebagai tempat suci mereka: Islam, Kristen, dan Yahudi.

"Namun, kami akui respons atas sekolah multikultural seperti ini sangat kecil. Bahkan, di sekolah kami yang sudah berdiri 10 tahun, hanya ada 40 siswa," kata Adena Levine, direktur Peace Preschool International YMC, satu-satunya sekolah antaragama di Jerusalem.

Meski banyak yang pesimistis, warga Arab Palestina berharap agar akan ada kesepakatan t entang pembagian wilayah Israel-Palestina, termasuk tentang status Kota Jerusalem, pada konferensi di Annapolis bulan depan. Kalaupun diberikan kepada Palestina, opsi lain yang diharapkan adalah yurisdiksi Jerusalem dikendalikan dunia internasional (PBB).
Tidak lagi di bawah kekuasaan negeri Zionis Israel. (bersambung)

Mengunjungi Negeri Sengketa Israel-Palestina Jelang Konferensi Damai (1)

"Interogasi" hingga Menit Terakhir sebelum Boarding

Israel didukung Amerika Serikat siap berdamai dan berbagi wilayah yang dicaploknya dengan Palestina. Namun, melihat kenyataan geografis dan sosiologis di Jerusalem maupun Tepi Barat, komitmen itu bisa jadi hanya angan-angan belaka.

TOFAN MAHDI, Tel Aviv

"I’m a member of Israeli intelligence. I’m working for very secret thing, even I don’t know what I’m doing." (Saya anggota intelijen Israel. Saya bekerja untuk sesuatu yang sangat rahasia, sampai-sampai saya

sendiri tidak tahu apa yang saya kerjakan). Joke tersebut tertulis di sebuah t-shirt yang dijual di emperan toko di Old Jerusalem.

Jika kita pernah menonton film The Man Who Captured Eichmann atau Munich, kita bisa melihat betapa canggih dan mengerikan teknik operasi Mossad, badan intelijen Israel untuk urusan luar negeri.

Adolf Eichmann, mantan perwira menengah Nazi yang mengubah identitas dan melarikan diri ke Argentina, ditangkap lewat operasi intelijen yang rapi oleh Mossad. Eichmann yang didakwa bertanggung jawab atas tewasnya orang-orang Yahudi di kamp konsentrasi Auswich, Polandia, akhirnya diterbangkan, diadili, dan digantung di Israel.

Di film Munich, kita melihat kekejaman dan darah dingin Mossad membunuh tokoh-tokoh PLO (Front Pembebasan Palestina) yang dituduh menjadi otak pembunuhan atlet-atlet Israel dalam Olimpiade Munich, Jerman, pada 1972.

Mossad bukan satu-satunya badan intelijen Israel. Ada intelijen untuk urusan dalam negeri yang disebut Shin Bet, intelijen militer Irgun, hingga intel-intel "swasta" seperti Haganah, Lehi, Palmach, dan lain-lain. Sebagai negara Yahudi yang didirikan di tengah-tengah negara Arab, Israel merasa selalu terancam.
Dengan alasan itu, mereka membangun sebuah sistem dan organisasi militer serta intelijen yang sangat kuat.

Saya beruntung bisa berkunjung ke wilayah Israel. Mes ki berangkat atas undangan sebuah LSM Yahudi, yaitu Australia/Israel and Jewish Affairs Council (AIJAC), perjalanan ini sudah sepengetahuan Duta Besar Palestina di Jakarta Fariz N. Mahdawi. Dubes Palestina tidak keberatan, apalagi wilayah-wilayah Palestina juga dikunjungi.

Tidak ada penerbangan langsung dari Jakarta ke Tel Aviv, karena memang Indonesia tidak mengakui eksistensi negeri Zionis itu. Jika mau ke Jerusalem, bisa terbang ke Amman, ibu kota Jordania (negara Arab terdekat yang punya hubungan diplomatik dengan Israel), lalu dilanjutkan melalui jalur darat. Jalur ini banyak dilalui biro perjalanan wisata rohani di Indonesia.

Namun, untuk ke Tel Aviv, pilihannya tinggal lewat Singapura atau Bangkok. Jawa Pos sendiri terbang lewat Bangkok sekaligus untuk mengurus visa. Hanya ada satu maskapai yang melayani penerbangan Bangkok-Tel Aviv, yaitu maskapai penerbangan nasional Israel, El Al. Frekuensinya juga cukup tinggi: dua hari sekali.

El Al adalah maskapai dengan prosedur pengamanan paling ketat di dunia.
Proses chec k in hingga boarding memakan waktu tiga jam. Ada empat kali security check sebelum kita menginjakkan kaki ke kabin El Al. Penumpang dari negara-negara Arab atau muslim seperti Indonesia diperiksa lebih ketat. Bahkan, terkesan rasis, terlalu curiga, dan mengada-ada.

Teringat seorang teman (wartawan Jawa Pos Rukin) yang mau ke Sarajevo, Bosnia-Herzegovina, ditolak naik ke pesawat Austrian Airlines saat boarding di Bandara Shuvarnabumi, Bangkok, beberapa pekan lalu, saya sempat khawatir mengalami nasib yang sama.
Belum sempat melamun panjang, seorang wanita memanggil untuk giliran diperiksa. Setelah memeriksa paspor, visa, dan tiket, sebuah pertanyaan pertama yang sangat mengagetkan diajukan petugas tadi.

"Apakah Anda membawa bom di dalam tas?"
"Maaf, bom? Absolutely not," jawab saya campur kaget dan menahan tawa.

"Kalau begitu, jawab pertanyaan saya lainnya," katanya. "Bagasi Anda dikirim dari mana dan siapa yang mengepak?"

"Saya sendiri, karena kebetulan pas tidak ada orang di rumah," jawab saya dengan sedikit g urau. Namun, tak ada balasan senyum sedikit pun dari dia.

"Apakah ada orang yang menitipkan sesuatu seperti paket, surat, atau apa pun kepada Anda?" Saya jawab, "Tidak."

"Apakah tas yang Anda bawa ke kabin pesawat, selama seharian tadi atau sejak Anda terakhir memeriksa, tetap Anda bawa?" katanya. Kali ini saya langsung menjawab, "Ya."

"Oke, Anda tunggu dulu," kata petugas tersebut seraya menelepon seseorang yang ternyata atasannya.

Petugas yang tampak berpangkat lebih tinggi datang. Setelah membolak-balik paspor, visa, tiket, dan membaca surat rekomendasi dari Duta Besar Israel di Bangkok bahwa kami memang diundang khusus untuk ke Israel, baru petugas tadi mempersilakan untuk ke konter check in El Al.

Berbeda dengan konter check in maskapai lain, di konter El Al, petugas pemeriksa penumpang bukan staf lokal. Mereka adalah aparat keamanan Israel sendiri dan -ini yang juga berbeda- mereka bersenjata. Seorang teman, wartawan senior, yang juga berangkat ke Tel Aviv diperiksa lebih ketat. Ini karena di paspor tertempel visa negara-negara Arab seperti Turki, Mesir, dan Arab Saudi.

Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan pun lebih detail. Misalnya, adakah yang mengetahui rencana penerbangan ke Israel selain yang bersangkutan, mengapa berkunjung ke negara-negara Arab, dan siapa saja yang ditemui di negara-negara Arab.

Pemeriksaan tak hanya sebelum check in. Setelah menunggu di business lounge dan siap boarding, kami harus kembali antre untuk diperiksa. Bahkan, aktivitas lima menit (di business lounge) terakhir pun ditanyakan. Prosedur biasa: paspor, visa, dan tiket ditunjukkan. Tak ketinggalan, harus melalui detektor yang sangat sensitif.

Prosedur yang tidak biasa, ini hanya diberlakukan kepada penumpang warga non-Israel, sejumlah pertanyaan kembali diajukan petugas. "Apakah selama di business lounge tadi, Anda sempat meninggalkan tas yang akan Anda bawa ke kabin, untuk beberapa menit?". Juga pert anyaan-pertanyaan lain yang tak jauh berbeda seperti yang diajukan sa at akan check in.

Tak wajar memang. Namun, jika melihat catatan sejarah, El Al adalah maskapai yang paling aman di dunia, tapi juga sering menjadi sasaran teror, baik di darat maupun saat terbang. Misalnya, pada 4 Juli 2002, enam warga Israel ditembak mati saat akan check in di konter El Al di Los Angeles International Airport AS. Kemudian pada 23 Oktober 2003, penerbangan El Al dari Tel Aviv ke Los Angeles terpaksa dialihkan karena diancam akan diledakkan di udara.

Negara Israel yang diproklamasikan sejak 1948 memang berdiri karena tank, meriam, dan jutaan tentara. Semua warga Israel dikenai wajib militer (wamil) setelah lulus dari SMA. Untuk pria, wamil minimal tiga tahun. Wanita minimal dua tahun. Jika tidak meneruskan karir di militer, mereka tetap menjadi tentara cadangan. Semua pilot di Israel adalah anggota Angkatan Udara (IAF), apalagi pilot-pilot El Al. Dalam setiap penerbangan El Al, selalu ada tentara berpakaian preman yang duduk di antara para penum pang.

Setelah hampir 11 jam terbang dari Bangkok, pesawat Boeing 747-400 El Al yang membawa kami mendarat di Ben Gurion International Airport, Tel Aviv. Welcome to Israel. Inilah negeri Yahudi yang eksistensinya di Timur Tengah masih dipersoalkan oleh negara-negara Arab dan Islam.
(bersambung)

Thursday, September 27, 2007

Ahmadinejad: Columbia University Speech

AHMADINEJAD: In the name of God, the compassionate, the merciful...

AHMADINEJAD: Oh, God, hasten the arrival of Imam al-Mahdi and grant him good health and victory and make us his followers and those to attest to his rightfulness.

Distinguished Dean, dear professors and students, ladies and gentlemen, at the outset I would like to extend my greetings to all of you. I am grateful to the almighty God for providing me with the opportunity to be in an academic environment, those seeking truth and striving for the promotion of science and knowledge.

At the outset I want to complain a bit from the person who read this political statement against me. In Iran tradition requires that when we demand a person to invite to be a speaker we actually respect our students and the professors by allowing them to make their own judgment and we don't think it's necessary before this speech is even given to come in with a series of claims...

(APPLAUSE)

... and to attempt in a so-called manner to provide vaccination of some sort to our students and our faculty.

I think the text read by the dear gentleman here, more than addressing me, was an insult to information and the knowledge of the audience here, present here. In a university environment we must allow people to speak their mind, to allow everyone to talk so that the truth is eventually revealed by all.

Certainly he took more than all the time I was allocated to speak, and that's fine with me. We'll just leave that to add up with the claims of respect for freedom and the freedom of speech that's given to us in this country.

Many parts of his speech, there were many insults and claims that were incorrect, regretfully.

AHMADINEJAD: Of course, I think that he was affected by the press, the media, and the political, sort of, mainstream line that you read here that goes against the very grain of the need for peace and stability in the world around us.

Nonetheless, I should not begin by being affected by this unfriendly treatment. I will tell you what I have to say, and then the questions he can raise and I'll be happy to provide answers. But as for one of the issues that he did raise, I most certainly would need to elaborate further so that we, for ourselves, can see how things fundamentally work.

It was my decision in this valuable forum and meeting to speak with you about the importance of knowledge, of information, of education. Academics and religious scholars are shining torches who shed light in order to remove darkness. And the ambiguities around us in guiding humanity out of ignorance and perplexity.

The key to the understanding of the realities around us rests in the hands of the researchers, those who seek to discover areas that are hidden, the unknown sciences, the windows of realities that they can open is done only through efforts of the scholars and the learned people in this world.

AHMADINEJAD: With every effort there is a window that is opened, and one reality is discovered. Whenever the high stature of science and wisdom is preserved and the dignity of scholars and researchers are respected, humans have taken great strides toward their material and spiritual promotion.

In contrast, whenever learned people and knowledge have been neglected, humans have become stranded in the darkness of ignorance and negligence.

If it were not for human instinct, which tends toward continual discovery of truth, humans would have always remained stranded in ignorance and no way would not have discovered how to improve the life that we are given.

The nature of man is, in fact, a gift granted by the Almighty to all. The Almighty led mankind into this world and granted him wisdom and knowledge as his prime gift enabling him to know his God.

In the story of Adam, a conversation occurs between the Almighty and his angels. The angels call human beings an ambitious and merciless creature and protested against his creation.

But the Almighty responded, quote, "I have knowledge of what you are ignorant of," unquote. Then the Almighty told Adam the truth. And on the order of the Almighty, Adam revealed it to the angels.

The angels could not understand the truth as revealed by the human being.

AHMADINEJAD: The Almighty said to them, quote, "Did not I say that I am aware of what is hidden in heaven and in the universe?" unquote.

In this way the angels prostrated themselves before Adam.

In the mission of all divine prophets, the first sermons were of the words of God, and those words -- piety, faith and wisdom -- have been spread to all mankind.

Regarding the holy prophet Moses, may peace be upon him, God says, quote, "And he was taught wisdom, the divine book, the Old Testament and the New Testament. He is the prophet appointed for the sake of the children of Israel, and I rightfully brought a sign from the Almighty, holy Koran (SPEAKING IN PERSIAN)," unquote.

The first words, which were revealed to the holy prophet of Islam, call the prophet to read, quote, "Read, read in the name of your God, who supersedes everything," unquote, the Almighty, quote again, "who taught the human being with the pen," unquote. Quote, "The Almighty taught human beings what they were ignorant of," unquote.

You see, in the first verses revealed to the holy prophet of Islam, words of reading, teaching and the pen are mentioned. These verses in fact introduced the Almighty as the teacher of human beings, the teacher who taught humans what they were ignorant of.

In another part of the Koran, on the mission of the holy prophet of Islam, it is mentioned that the Almighty appointed someone from amongst the common people as their prophet in order to, quote, "read for them the divine verses," unquote, and quote again, "and purify them from ideological and ethical contamination" unquote, and quote again, "to teach them the divine book and wisdom," unquote.

AHMADINEJAD: My dear friends, all the words and messages of the divine prophets from Abraham and Isaac and Jacob, to David and Solomon and Moses, to Jesus and Mohammad delivered humans from ignorance, negligence, superstitions, unethical behavior, and corrupted ways of thinking, with respect to knowledge, on the path to knowledge, light and rightful ethics.

In our culture, the word science has been defined as illumination. In fact, the science means brightness and the real science is a science which rescues the human being from ignorance, to his own benefit. In one of the widely accepted definitions of science, it is stated that it is the light which sheds to the hearts of those who have been selected by the almighty.

Therefore, according to this definition, science is a divine gift and the heart is where it resides. If we accept that science means illumination, then its scope supersedes the experimental sciences and it includes every hidden and disclosed reality.

One of the main harms inflicted against science is to limit it to experimental and physical sciences. This harm occurs even though it extends far beyond this scope. Realities of the world are not limited to physical realities and the materials, just a shadow of supreme reality. And physical creation is just one of the stories of the creation of the world.

Human being is just an example of the creation that is a combination of a material and the spirit. And another important point is the relationship of science and purity of spirit, life, behavior and ethics of the human being. In the teachings of the divine prophets, one reality shall always be attached to science; the reality of purity of spirit and good behavior. Knowledge and wisdom is pure and clear reality.

It is -- science is a light. It is a discovery of reality. And only a pure scholar and researcher, free from wrong ideologies, superstitions, selfishness and material trappings can discover -- discover the reality.

AHMADINEJAD: My dear friends and scholars, distinguished participants, science and wisdom can also be misused, a misuse caused by selfishness, corruption, material desires and material interests, as well as individual and group interests.

Material desires place humans against the realities of the world. Corrupted and dependent human beings resist acceptance of reality. And even if they do accept it, they do not obey it.

There are many scholars who are aware of the realities but do not accept them. Their selfishness does not allow them to accept those realities.

Do those who, in the course of human history, wage wars, not understand the reality that lives, properties, dignity, territories, and the rights of all human beings should be respected, or did they understand it but neither have faith in nor abide by it?

My dear friends, as long as the human heart is not free from hatred, envy, and selfishness, it does not abide by the truth, by the illumination of science and science itself.

Science is the light, and scientists must be pure and pious. If humanity achieves the highest level of physical and spiritual knowledge but its scholars and scientists are not pure, then this knowledge cannot serve the interests of humanity, and several events can ensue.

First, the wrongdoers reveal only a part of the reality, which is to their own benefit, and conceal the rest. As we have witnessed with respect to the scholars of the divine religions in the past, too, unfortunately, today, we see that certain researchers and scientists are still hiding the truth from the people.

Second, science, scientists, and scholars are misused for personal, group, or party interests. So, in today's world, bullying powers are misusing many scholars and scientists in different fields with the purpose of stripping nations of their wealth.

AHMADINEJAD: And they use all opportunities only for their own benefit.

For example, they deceive people by using scientific methods and tools. They, in fact, wish to justify their own wrongdoings, though. By creating nonexistent enemies, for example, and an insecure atmosphere, they try to control all in the name of combating insecurity and terrorism.

They even violate individual and social freedoms in their own nations under that pretext. They do not respect the privacy of their own people. They tap telephone calls and try to control their people. They create an insecure psychological atmosphere in order to justify their warmongering acts in different parts of the world.

As another example, by using precise scientific methods and planning, they begin their onslaught on the domestic cultures of nations, the cultures which are the result of thousands of years of interaction, creativity and artistic activities.

They try to eliminate these cultures in order to separate the people from their identity and cut their bonds with their own history and values. They prepare the ground for stripping people from their spiritual and material wealth by instilling in them feelings of intimidation, desire for imitation and (inaudible) submission to oppressive powers and disability.

Making nuclear, chemical and biological bombs and weapons of mass destruction is yet another result of the misuse of science and research by the big powers.

AHMADINEJAD: Without cooperation of certain scientists and scholars, we would not have witnessed production of different nuclear, chemical and biological weapons.

Are these weapons to protect global security?

What can a perpetual nuclear umbrella threat achieve for the sake of humanity?

If nuclear war wages between nuclear powers, what human catastrophe will take place?

Today we can see the nuclear effects in even new generations of Nagasaki and Hiroshima residents, which might be witnessed in even the next generations to come.

Presently, the effects of the depleted uranium used in weapons since the beginning of the war in Iraq can be examined and investigated accordingly.

These catastrophes take place only when scientists and scholars are misused by oppressors.

Another point of sorrow: Some big powers create a monopoly over science and prevent other nations in achieving scientific development as well.

This, too, is one of the surprises of our time. Some big powers do not want to see the progress of other societies and nations. They turn to thousands of reasons, make allegations, place economic sanctions to prevent other nations from developing and advancing, all resulting from their distance from human values and the teachings of the divine prophets.

Regretfully, they have not been trained to serve mankind.

AHMADINEJAD: Dear academics, dear faculty and scholars, students, I believe that the biggest God-given gift to man is science and knowledge. Man's search for knowledge and the truth through science is what it guarantees to do in getting close to God. But science has to combine with the purity of the spirit and of the purity of man's spirit so that scholars can unveil the truth and then use that truth for advancing humanity's cause.

These scholars would be not only people who would guide humanity, but also guide humanity towards a better future.

And it is necessary that big powers should not allow mankind to engage in monopolistic activities and to prevent other nations from achieving that science. Science is a divine gift by God to everyone, and therefore, it must remain pure.

God is aware of all reality. All researchers and scholars are loved by God. So I hope there will be a day where these scholars and scientists will rule the world and God himself will arrive with Moses and Christ and Mohammed to rule the world and to take us toward justice.

I'd like to thank you now but refer to two points made in the introduction given about me, and then I will be open for any questions.

Last year -- I would say two years ago -- I raised two questions. You know that my main job is a university instructor.

AHMADINEJAD: Right now, as president of Iran, I still continue teaching graduate and Ph.D.-level courses on a weekly basis. My students are working with me in scientific fields. I believe that I am an academic, myself. So I speak with you from an academic point of view, and I raised two questions.

But, instead of a response, I got a wave of insults and allegations against me. And regretfully, they came mostly from groups who claimed most to believe in the freedom of speech and the freedom of information. You know quite well that Palestine is an old wound, as old as 60 years. For 60 years, these people are displaced.

For 60 years, these people are being killed. For 60 years, on a daily basis, there's conflict and terror. For 60 years, innocent women and children are destroyed and killed by helicopters and airplanes that break the house over their heads. For 60 years, children and kindergartens, in schools, in high schools, are in prison being tortured. For 60 years, security in the Middle East has been endangered. For 60 years, the slogan of expansionism from the Nile to the Euphrates is being chanted by certain groups in that part of the world.

And as an academic, I asked two questions; the same two questions that I will ask here again. And you judge, for yourselves, whether the response to these questions should be the insults, the allegations, and all the words and the negative propaganda or should we really try and face these two questions and respond to them?

AHMADINEJAD: Like you, like any academic, I, too, will keep -- not yet become silent until I get the answer. So I'm awaiting logical answers instead of insults.

My first question was if -- given that the Holocaust is a present reality of our time, a history that occurred, why is there not sufficient research that can approach the topic from different perspectives?

Our friend referred to 1930 as the point of departure for this development. However, I believe the Holocaust from what we've read happened during World War II, after 1930, in the 1940s. So, you know, we have to really be able to trace the event.

My question was simple: There are researchers who want to approach the topic from a different perspective. Why are they put into prison? Right now, there are a number of European academics who have been sent to prison because they attempted to write about the Holocaust or research it from a different perspective, questioning certain aspects of it.

My question is: Why isn't it open to all forms of research?

I have been told that there's been enough research on the topic. And I ask, well, when it comes to topics such as freedom, topics such as democracy, concepts and norms such as God, religion, physics even, or chemistry, there's been a lot of research, but we still continue more research on those topics. We encourage it.

But, then, why don't we encourage more research on a historical event that has become the root, the cause of many heavy catastrophes in the region in this time and age?

AHMADINEJAD: Why shouldn't there be more research about the root causes? That was my first question.

And my second question, well, given this historical event, if it is a reality, we need to still question whether the Palestinian people should be paying for it or not. After all, it happened in Europe. The Palestinian people had no role to play in it. So why is it that the Palestinian people are paying the price of an event they had nothing to do with?

The Palestinian people didn't commit any crime. They had no role to play in World War II. They were living with the Jewish communities and the Christian communities in peace at the time. They didn't have any problems.

And today, too, Jews, Christians and Muslims live in brotherhood all over the world in many parts of the world. They don't have any serious problems.

But why is it that the Palestinians should pay a price, innocent Palestinians, for 5 million people to remain displaced or refugees abroad for 60 years. Is this not a crime? Is asking about these crimes a crime by itself?

Why should an academic myself face insults when asking questions like this? Is this what you call freedom and upholding the freedom of thought?

And as for the second topic, Iran's nuclear issue, I know there is time limits, but I need time. I mean, a lot of time was taken from me.

We are a country, we are a member of the International Atomic Energy Agency. For over 33 years we are a member state of the agency. The bylaw of the agency explicitly states that all member states have the right to the peaceful nuclear fuel technology. This is an explicit statement made in the bylaw, and the bylaw says that there is no pretext or excuse, even the inspections carried by the IAEA itself that can prevent member states' right to have that right.

Of course, the IAEA is responsible to carry out inspections. We are one of the countries that's carried out the most amount of level of cooperation with the IAEA. They have had hours and weeks and days of inspections in our country, and over and over again the agency's reports indicate that Iran's activities are peaceful, that they have not detected a deviation, and that Iran -- they have received positive cooperation from Iran.

But regretfully, two or three monopolistic powers, selfish powers want to force their word on the Iranian people and deny them their right.

AHMADINEJAD: They keep saying...

(CROSSTALK)

AHMADINEJAD: They tell us you don't let them -- they won't let them inspect. Why not? Of course we do. How come is it, anyway, that you have that right and we can't have it? We want to have the right to peaceful nuclear energy. They tell us, don't make it yourself, we'll give it to you.

Well, in the past, I tell you, we had contracts with the U.S. government, with the British government, the French government, the German government, and the Canadian government on nuclear development for peaceful purposes. But unilaterally, each and every one of them canceled their contracts with us, as a result of which the Iranian people had to pay a heavy cost in billions of dollars.

Why do we need the fuel from you? You've not even given us spare aircraft parts that we need for civilian aircraft for 28 years under the name of embargo and sanctions because we're against, for example, human rights or freedom? Under that pretext, you are deny us that technology? We want to have the right to self-determination toward our future. We want to be independent. Don't interfere in us.

If you don't give us spare parts for civilian aircraft, what is the expectation that you'd give us fuel for nuclear development for peaceful purposes?

For 30 years, we've faced these problems for over $5 billion to the Germans and then to the Russians, but we haven't gotten anything. And the words have not been completed.

It is our right. We want our right. And we don't want anything beyond the law, nothing less than international law.

We are a peaceful, loving nation. We love all nations.

(APPLAUSE)

MODERATOR: Mr. President, your statements here today and in the past have provoked many questions which I would like to pose to you on behalf of the students and faculty who have submitted them to me.

Let me begin with the question to which you just alluded...

AHMADINEJAD: Just one by one, one by one -- could you just...

MODERATOR: Yes.

(APPLAUSE)

MODERATOR: The first question is: Do you or your government seek the destruction of the state of Israel as a Jewish state?

AHMADINEJAD: We love all nations. We are friends with the Jewish people. There are many Jews in Iran, leaving peacefully, with security.

You must understand that in our constitution and our laws and in the parliamentary elections for every 150,000 people, we get one representative in the parliament. For the Jewish community, for one- fifth of this number, they still get one independent representative in the parliament.

So our proposal to the Palestinian plight is a humanitarian and democratic proposal. What we say is that to solve this 60-year problem, we must allow the Palestinian people to decide about its future for itself.

This is compatible with the spirit of the Charter of the United Nations and the fundamental principles enshrined in it. We must allow Jewish Palestinians, Muslim Palestinians and Christian Palestinians to determine their own fate themselves through a free referendum.

AHMADINEJAD: Whatever they choose as a nation, everybody should accept and respect. Nobody should interfere in the affairs of the Palestinian nation. Nobody should sow the seeds of discord. Nobody should spend tens of billions of dollars equipping and arming one group there.

We say allow the Palestinian nation to decide its own future, to have the right to self-determination for itself. This is what we are saying as the Iranian nation.

(APPLAUSE)

QUESTION: Mr. President, I think many members of our audience would like to hear a clearer answer to that question. That is...

(APPLAUSE)

The question is: Do you or your government seek the destruction of the state of Israel as a Jewish state? And I think you could answer that question with a single word, either yes or no.

(APPLAUSE)

AHMADINEJAD: You asked the question, and then you want the answer the way you want to hear it. Well, this isn't really a free flow of information.

(APPLAUSE)

I'm just telling you what my position is. I'm asking you: Is the Palestinian issue not an international issue of prominence or not? Please tell me, yes or no?

(APPLAUSE)

There's the plight of a people.

QUESTION: The answer to your question is yes.

AHMADINEJAD: Well, thank you for your cooperation. We recognize there's a problem there that's been going on for 60 years. Everybody provides a solution. And our solution is a free referendum.

Let this referendum happen, and then you'll see what the results are.

AHMADINEJAD: Let the people of Palestine freely choose what they want for their future. And then what you want in your mind to happen there will happen and will be realized.

QUESTION: (OFF-MIKE) second question, which was posed by President Bollinger earlier and comes from a number of other students: Why is your government providing aid to terrorists?

Will you stop doing so and permit international monitoring to certify that you have stopped?

AHMADINEJAD: Well, I want to pose a question here to you. If someone comes and explodes bombs around you, threatens your president, members of the administration, kills the members of the Senate or Congress, how would you treat them?

Would you reward them, or would you name them a terrorist group?

Well, it's clear. You would call them a terrorist.

My dear friends, the Iranian nation is a victim of terrorism. For --26 years ago, where I worked, close to where I worked, in a terrorist operation, the elected president of the Iranian nation and the elected prime minister of Iran lost their lives in a bomb explosion. They turned into ashes.

A month later, in another terrorist operation, 72 members of our parliament and highest-ranking officials, including four ministers and eight deputy ministers' bodies were shattered into pieces as a result of terrorist attacks.

AHMADINEJAD: Within six months, over 4,000 Iranians lost their lives, assassinated by terrorist groups. All this carried out by the hand of one single terrorist group. Regretfully, that same terrorist group now, today, in your country, is being -- operating under the support of the U.S. administration, working freely, distributing declarations freely, and their camps in Iraq are supported by the U.S. government.

They're secured by the U.S. government. Our nation has been harmed by terrorist activities. We were the first nation that objected to terrorism and the first to uphold the need to fight terrorism.

(APPLAUSE)

QUESTION: Mr. President, a number of questioners -- sorry -- a number of people have asked...

AHMADINEJAD: We need to address the root causes of terrorism and eradicate those root causes. We live in the Middle East. For us, it's quite clear which powers, sort of, incite terrorists, support them, fund them. We know that. Our nation, the Iranian nation, through history has always extended a hand of friendship to other nations. We're a cultured nation.

We don't need to resort to terrorism. We've been victims of terrorism, ourselves. And it's regrettable that people who argue they're fighting terrorism, instead of supporting the Iranian people and nation, instead of fighting the terrorists that are attacking them, they're supporting the terrorists and then turn the fingers to us.

AHMADINEJAD: This is most regrettable.

QUESTION: Mr. President, a further set of questions challenged your view of the Holocaust. Since the evidence that this occurred in Europe in the 1940s, as a result of the actions of the German Nazi government, since that -- those facts -- are well documented, why are you calling for additional research? There seems to be no purpose in doing so, other than to question whether the Holocaust actually occurred as a historical fact.

Can you explain why you believe more research is needed into the facts of what are -- what is -- what are incontrovertible?

AHMADINEJAD: Thank you very much for your question. I am an academic, and you are as well.

Can you argue that researching a phenomenon is finished, forever done? Can we close the books for good on a historical event?

There are different perspectives that come to light after every research is done. Why should we stop research at all? Why should we stop the progress of science and knowledge?

You shouldn't ask me why I'm asking questions. You should ask yourselves why you think that that's questionable? Why do you want to stop the progress of science and research?

Do you ever take what's known as absolute in physics? We had principles in mathematics that were granted to be absolute in mathematics for over 800 years. But new science has gotten rid of those absolutisms, come forward other different logics of looking at mathematics and sort of turned the way we look at it as a science altogether after 800 years.

So, we must allow researchers, scholars, they investigate into everything, every phenomenon -- God, universe, human beings, history and civilization. Why should we stop that?

I am not saying that it didn't happen at all. This is not that judgment that I am passing here.

I said, in my second question, granted this happened, what does it have to do with the Palestinian people?

AHMADINEJAD: This is a serious question. There are two dimensions. In the first question...

QUESTION: Let me just -- let me pursue this a bit further.

It is difficult to have a scientific discussion if there isn't at least some basis, some empirical basis, some agreement about what the facts are. So calling for research into the facts when the facts are so well established represents for many a challenging of the facts themselves and a denial that something terrible occurred in Europe in those years.

(APPLAUSE)

Let me move on to...

AHMADINEJAD: Allow me. After all, you are free to interpret what you want from what I say. But what I am saying I'm saying with full clarity.

In the first question I'm trying to actually uphold the rights of European scholars. In the field of science and research I'm asking, there is nothing known as absolute. There is nothing sufficiently done. Not in physics for certain. There has been more research on physics than it has on the Holocaust, but we still continue to do research on physics. There is nothing wrong with doing it.

This is what man wants. They want to approach a topic from different points of view. Scientists want to do that. Especially an issue that has become the foundation of so many other political developments that have unfolded in the Middle East in the past 60 years.

Why do we stop it altogether? You have to have a justified reason for it. The fact that it was researched sufficiently in the past is not a sufficient justification in my mind.

QUESTION: Mr. President, another student asks -- Iranian women are now denied basic human rights and your government has imposed draconian punishments, including execution on Iranian citizens who are homosexuals. Why are you doing those things?

AHMADINEJAD: Freedoms in Iran are genuine, true freedoms. Iranian people are free. Women in Iran enjoy the highest levels of freedom.

We have two deputy -- two vice presidents that are female, at the highest levels of specialty, specialized fields. In our parliament and our government and our universities, they're present. In our biotechnological fields, our technological fields, there are hundreds of women scientists that are active -- in the political realm as well.

It's not -- it's wrong for some governments, when they disagree with another government, to, sort of, try to spread lies that distort the full truth.

Our nation is free. It has the highest level of participation in elections, in Iran. Eighty percent, ninety percent of the people turn out for votes during the elections, half of which, over half of which are women. So how can we say that women are not free? Is that the entire truth?

But as for the executions, I'd like to raise two questions. If someone comes and establishes a network for illicit drug trafficking that affects the youth in Iran, Turkey, Europe, the United States, by introducing these illicit drugs and destroys them, would you ever reward them?

People who lead the lives -- cause the deterioration of the lives of hundreds of millions of youth around the world, including in Iran, can we have any sympathy to them? Don't you have capital punishment in the United States? You do, too.

(APPLAUSE)

AHMADINEJAD: In Iran, too, there's capital punishment for illicit drug traffickers, for people who violated the rights of people. If somebody takes up a gun, goes into a house, kills a group of people there, and then tries to take ransom, how would you confront them in Iran -- or in the United States? Would you reward them? Can a physician allow microbes symbolically speaking to spread across a nation?

We have laws. People who violate the public rights of the people by using guns, killing people, creating insecurity, sells drugs, distribute drugs at a high level are sentenced to execution in Iran.

And some of these punishments, very few, are carried in the public eye, before the public eye. It's a law, based on democratic principles. You use injections and microbes to kill these people, and they, they're executed or they're hung. But the end result is killing.

QUESTION: Mr. President, the question isn't about criminal and drug smugglers. The question was about sexual preference and women.

(APPLAUSE)

AHMADINEJAD: In Iran, we don't have homosexuals, like in your country.

(LAUGHTER)

We don't have that in our country.

(AUDIENCE BOOING)

AHMADINEJAD: In Iran, we do not have this phenomenon. I don't know who's told you that we have it.

(LAUGHTER)

But, as for women, maybe you think that being a woman is a crime. It's not a crime to be a woman.

AHMADINEJAD: Women are the best creatures created by God. They represent the kindness, the beauty that God instills in them. Women are respected in Iran. In Iran, every family who is given a girl -- is given -- in every Iranian family who has a girl, they are 10 times happier than having a son. Women are respected more than men are.

They are exempt from many responsibilities. Many of the legal responsibilities rest on the shoulders of men in our society because of the respect, culturally given, to women, to the future mothers. In Iranian culture, men and sons and girls constantly kiss the hands of their mothers as a sign of respect, respect for women. And we are proud of this culture.

QUESTION: Mr. President, I have two questions which I'll put together.

One is, what did you hope to accomplish by speaking at Columbia today? And the second is, what would you have said if you were permitted to visit the site of the September 11th tragedy?

AHMADINEJAD: Well, here, I'm your guest. I've been invited by Columbia, an official invitation given for me to come here. But I do want to say something here.

In Iran, when you invite a guest, you respect them. This is our tradition, required by our culture. And I know that American people have that culture, as well. Last year, I wanted to go to the site of the September 11th tragedy to show respect to the victims of the tragedy, to show my sympathy with their families.

But our plans got overextended. We were involved in negotiations and meetings until midnight. And they said it would be very difficult to go visit the site at that late hour of the night. So, I told my friends then that they need to plan this for the following year so that I can go and visit the site and to show my respects.

Regretfully, some groups had very strong reactions, very bad reactions. It's bad for someone to prevent someone to show sympathy to the families of the victims of the September 11 event -- tragic event. This is a respect from my side. Somebody told me this is an insult. I said, "What are you saying? This is my way of showing my respect. Why would you think that?"

Thinking like that, how do you expect to manage the world and world affairs?

AHMADINEJAD: Don't you think that a lot of problems in the world come from the way you look at issues because of this kind of way of thinking, because of this sort of pessimistic approach toward a lot of people, because of a certain level of selfishness, self-absorption that needs to be put aside so that we can show respect to everyone, to allow an environment for friendship to grow, to allow all nations to talk with one another and move toward peace?

What was the second question?

I wanted to speak with the press. The September 11th tragic event was a huge event. It led to a lot of many other events afterwards. After 9/11 Afghanistan was occupied, and then Iraq was occupied. And for six years in our region there is insecurity, terror and fear.

If the root causes of 9/11 are examined properly -- why it was happened, what caused it, what were the conditions that led to it, who truly was involved, who was really involved -- and put it all together to understand how to prevent the crisis in Iraq, fix the problem in Afghanistan and Iraq combined.

QUESTION: Mr. President, a number of questions have asked about your nuclear program. Why is your government seeking to acquire enriched uranium suitable for nuclear weapons? Will you stop doing so?

AHMADINEJAD: Our nuclear program, first and foremost, operates within the framework of law.

And, second, under the inspections of the IAEA.

And, thirdly, they are completely peaceful.

The technology we have is for enrichment below the level of 5 percent level.

AHMADINEJAD: And any level below 5 percent is solely for providing fuel to power plants. Repeated reports by the IAEA explicitly say that there is no indication that Iran has deviated from the peaceful path of its nuclear program.

We are all well aware that Iran's nuclear issue is a political issue. It's not a legal issue. The international atomic energy organization -- agency has verified that our activities are for peaceful purposes.

But there are two or three powers that think that they have the right to monopolize all science and knowledge. And they expect the Iranian people, the Iranian nation, to turn to others to get fuel, to get science, to get knowledge that's indigenous to itself, to humble itself. And then they would, of course, refrain from giving it to us, too.

So we're quite clear what we need.

If you have created the fifth generation of atomic bombs and are testing them already, what position are you in to question the peaceful purposes of other people who want nuclear power?

We do not believe in nuclear weapons, period. It goes against the whole grain of humanity.

(APPLAUSE)

So let me just joke -- try to tell a joke here. I think the politicians who are after atomic bombs or are testing them, making them, politically, they are backward, retarded.

(APPLAUSE)

QUESTION: Mr. President, a final question. I know your time is short and that you need to move on. Is Iran prepared to open broad discussions with the government of the United States?

What would Iran hope to achieve in such discussions?

How do you see, in the future, a resolution of the points of conflict between the government of the United States and the government of Iran?

AHMADINEJAD: From the start, we announced that we are ready to negotiate with all countries.

AHMADINEJAD: Since 28 years ago, when our revolution succeeded and we established, we took freedom and democracy that was held at bay by a pro-Western dictatorship. We announced our readiness that besides two countries, we are ready to have friendly relations and talks with all countries of the world.

One of those two was the apartheid regime of South Africa, which has been eliminated. And the second was the Zionist regime. For everybody else around the world, we announced that we want to have friendly, brotherly ties. The Iranian nation is a cultured nation. It is a civilized nation. It seeks -- it wants talks and negotiations. It's for it.

We believe that in negotiations and talks, everything can be resolved very easily. We don't need threats. We don't need to point bombs or guns. We don't need to get into conflicts if we talk. We have a clear logic about that.

We question the way the world is being run and managed today. We believe that it will not lead to viable peace and security for the world, the way it's run today. We have solutions based on humane values and for relations among states. With the U.S. government, too, we will negotiate -- we don't have any issues about that -- under fair, just circumstances with mutual respect on both sides.

You saw that in order to help the security of Iraq, we had three rounds of talks with the United States, and last year, before coming to New York, I announced that I am ready in the United Nations to engage in a debate with Mr. Bush, the president of the United States, about critical international issues.

AHMADINEJAD: So that shows that we want to talk. Having a debate before the all the audience, so the truth is revealed, so that misunderstandings and misperceptions are removed, so that we can find a clear path for brotherly and friendly relations.

I think that if the U.S. administration, if the U.S. government puts aside some of its old behaviors, it can actually be a good friend for the Iranian people, for the Iranian nation.

For 28 years, they've consistently threatened us, insulted us, prevented our scientific development, every day, under one pretext or another.

You all know Saddam, the dictator, was supported by the government of the United States and some European countries in attacking Iran. And he carried out an eight-year war, a criminal war. Over 200,000 Iranians lost their lives. Over 600,000 Iranians were hurt as a result of the war.

He used chemical weapons. Thousands of Iranians were victims of chemical weapons that he used against us.

Today, Mr. Noble Vinn (ph), who is a reporter, an official reporter, international reporter, who was covering U.N. reports in the U.N. for many years, he is one of the victims of the chemical weapons used by Iraq against us.

And since then, we've been under different propaganda, sort of embargoes, economic sanctions, political sanctions. Why? Because we got rid of a dictator? Because we wanted the freedom and democracy that we got for ourselves? That, we can't understand.

We think that if the U.S. government recognizes the rights of the Iranian people, respects all nations and extends a hand of friendship with all Iranians, they, too, will see that Iranians will be one of its best friends.

AHMADINEJAD: Would you allow me to thank the audience a moment?

Well, there are many things that I would have liked to cover, but I don't want to take your time any further. I was asked: Would I allow the faculty at Columbia and students here to come to Iran? From this platform, I invite Columbia faculty members and students to come and visit Iran, to speak with our university students. You're officially invited.

(APPLAUSE)

University faculty and students that the university decides, or the student associations choose and select are welcome to come. You're welcome to visit any university that you choose inside Iran. We'll provide you with the list of the universities. There are over 400 universities in our country. And you can choose whichever you want to go and visit. We'll give you the platform. We'll respect you 100 percent. We will have our students sit there and listen to you, speak with you, hear what you have to say.

Right now in our universities on a daily basis there are hundreds of meetings like this. They hear, they talk, they ask questions. They welcome it.

In the end I'd like to thank Columbia University. I had heard that many politicians in the United States are trained in Columbia University. And there are many people here who believe in the freedom of speech, in clear, frank conversations.

I do like to extend my gratitude to the managers here in the United States -- at Columbia University, I apologize -- the people who so well organized this meeting today.

AHMADINEJAD: I'd like to extend my deepest gratitude to the faculty members and the students here. I ask Almighty God to assist all of us to move hand in hand to establish peace and future filled with friendship and justice and brotherhood.

Best of luck to all of you.

(APPLAUSE)

MODERATOR: I'm sorry that President Ahmadinejad's schedule makes it necessary for him to leave before he's been able to answer many of the questions that we have, or even answer some of the ones that we posed to him.

(LAUGHTER)

(APPLAUSE)

But I think we can all be pleased that his appearance here demonstrates Columbia's deep commitment to free expression and debate. I want to thank you all for coming to participate.

(APPLAUSE)

Thank you.

END
Sumber: Washingtonpost.com