Syahdan, di suatu pagi yang sejuk di Surga. Seorang
tokoh ormas besar sedang jalan-jalan menikmati pemandangan yang luar biasa
indahnya. Kenikmatan dan kedamaian yang benar-benar luar biasa. Terang saja,
ini kan di surga. Namun betapa terkejutnya ia, ketika sedang asyik menikmati
situasi itu, ternyata disana dia bertemu juga dengan orang-orang yang di dunia
dulu dikenal sebagai tokoh ormas-ormas keagamaan lain diluar ormas yang dia ikuti.
Dia juga terkejut bukan kepalang ketika melihat berbagai penganut mazhab lain
yang juga lolos masuk ke surga. Bagaimana bisa?!
Jangan kau palingkan wajahmu dari kami, Tengoklah kami Yaa Rasulullah....
Showing posts with label perspektif. Show all posts
Showing posts with label perspektif. Show all posts
Monday, June 3, 2013
Wednesday, January 2, 2013
Bid’ah dan Maulid Nabi SAW
Segala puji
syukur kita haturkan kepada Allah SWT yang telah mengutus Rasul-Nya yang
termulia (saw) yang membawa petunjuk yang dengannya dapat menyelamatkan dan
memenangkan kita di dunia maupun di Akherat. Tulisan sederhana ini dibuat sama
sekali bukan untuk menimbulkan polemik ataupun perdebatan yang kontraproduktif
terhadap persaudaraan sesama muslim. Tulisan ini justru dibuat agar terbangun
sikap saling menghargai perbedaan pendapat yang ada. Sikap menghargai yang
bukan sekedar “basa-basi”, namun terbangun di atas pengetahuan atas argumentasi
saudaranya yang berbeda pendapat. Tulisan ini adalah tentang merayakan
peringatan hari kelahiran (maulid) insan termulia, Rasulullah SAW.
Friday, November 2, 2012
WA’TASHIMU BI HABLIL-LAHI JAMI’AN ...
(dimuat di Republika edisi Jumat/2 November 2012)
Belakangan ini, mungkin karena terdorong oleh semangat
yang tinggi untuk mengamalkan Islam, dan menegakkan sunnah
Rasulullah, cukup banyak di kalangan umat Islam yang begitu
mudah memberikan stempel kafir, syirik, munafik, dan ahli bid'ah
kepada orang-orang Muslim lain yang dianggap tidak memiliki pemahaman
yang sama dengan mereka.
Thursday, March 1, 2012
Sengketa Atribut "Salaf"
oleh: Dr. Muhsin Labib.Ada apa dengan sebutan 'Salafi'? Sebesar apa pengaruh dan manfaatnya? Apakah ‘salaf’ tidak lebih dari sekedar alat justifikasi yang menjamin imunitas dari kritik dan tuduhan ‘sempalan’? Apakah ‘salaf’ itu seperti ‘merek dagang’ sehingga ia harus diperlakukan sebagai copyright lembaga atau kelompok tertentu? Ataukah ‘salaf’ dapat dianggap sebagai ‘nama barang’ sehingga setiap orang yang merasa melestarikan tradisi orang-orang terdahulu berhak untuk menyandangnya? Perlukah ada semacam lembaga ‘penertiban nama aliran’ di tengah umat Islam yang memiliki hak mutlak untuk memberikan dan mencabut atribut keagamaan agar tidak terjadi kesimpangsiuran, sengketa dan perang atribut yang sia-sia? Lebih jauh lagi, Apakah atribut ‘salaf’ dan semacamnya itu bermakna, tidak ambigu dan tidak berbau truth claim (hegemoni teologis)? Apa batasan ilmiah ‘salaf’ dan definisi logis ‘saleh’? Bukankah ruang untuk berbeda pendapat dan penafsiran untuk setiap atribut itu selalu terbuka?
Thursday, January 27, 2011
Antara SBY dan Arnold Schwarzenenger
Ribut-ribut soal Pak SBY yang curhat tentang gaji presiden yang tidak pernah naikmengingatkan saya pada sosok Arnold_Schwarzenegger, mantan gubernur California.
Arnold mulai menjabat sebagai gubernur pada bulan November 2003, terpilih kembali di tahun
2006 dan baru saja pensiun bulan Januari ini. Apa yang mengingatkan saya pada bintang film yang film-filmnya selalu laris manis di pasaran ini?
Sama dengan Pak SBY, soal gaji.
Bedanya, Arnold menolak digaji selama dia menjabat sebagai gubernur yang jumlahnya sebesar 175
ribu dollar per tahun.
Bukan hanya tidak digaji, dia juga harus merelakan kehilangan penghasilan dari
bermain film selama dia menjadi gubernur. Dalam wawancara dengan harian Krone
di Vienna, Austria, negara asal Terminator ini minggu lalu, Arnold menyebutkan
bahwa selama menjabat sebagai gubernur dia merugi secara finansial, minimal 200 juta dollar, baik dari gaji gubernur yang tidak pernah dia ambil apalagi dari bayaran bermain film
yang selama ini dia tidak bisa lakoni. Tetapi menurutnya, mengabdi sebagai
gubernur lebih berharga dari jumlah uang sebesar itu.
Mengapa Arnold mau tidak digaji? Mungkin karena dia sudah memiliki kekayaan yang
ditaksir sebesar 200 juta dollar ketika dia meninggalkan Hollywood
tujuh tahun lalu untuk menjadi gubernur negara bagian yang sudah bangkrut ini.
Dengan kekayaan sebesar itu, Arnold merasa yakin bisa hidup tanpa digaji dan menyerahkan gajinya kembali ke kas negara bagian untuk dipakai untuk kepentingan lain. Dia ingin benar-benar mengabdi kepada rumah barunya ini.
California mengalami krisis ekonomi di awal tahun 2000-an. Dimulai dengan jatuhnya harga saham perusahaan-perusahaan internet atau perusahaan dot.com. Setelah mengalami
kejayaan dari tahun 1995, gelembung saham pecah, California terkena imbas yang parah karena lembah silikon atau silicon valley, markas perusahaan-perusahaan ini terletak di California bagian utara. Banyak perusahaan yang bangkrut membuat banyak orang yang
menganggur, bisnis lokal mati dan pemerintah tidak mendapat pemasukan.
Krisis ini disusul dengan krisis listrik tahun 2001. Walaupun warga California harus membayar rekening listrik tiga kali lebih besar dari sebelumnya tetapi tidak ada jaminan pasokan listrik
akan stabil. Setiap hari terjadi pemadaman listrik. Gubernur Gray Davis dianggap lamban dalam menyelesaikan masalah ini. Setelah krisis listrik dapat diatasi, timbul lagi krisis baru, yaitu krisis moral di lingkungan kantor gubernur. Beberapa orang dekat gubernur terbukti menerima dana kampanye (Davis berencana maju lagi dalam pemilu 2002) dari perusahaan yang sebelumnya diberi kontrak dengan nilai yang sudah di-mark-up. Mereka dipecat, tetapi Gubernur Davis selamat, bahkan terpilih lagi menjadi gubernur.
Tetapi hal ini tidak berlangsung lama. Davis harus menghadapi defisit anggaran yang besarnya 38,2 milyar dollar, lebih besar dari gabungan jumlah defisit seluruh negara bagian lain.
Karena defisit, pajak dan tarif pelayanan umum dinaikkan berlipat-lipat membuat rakyat marah. Rakyat tidak mau lagi dipimpin oleh Davis, mereka meminta Davis dilengserkan melalui pemungutan suara yang dikenal dengan nama recall election.
Setelah melalui perjuangan yang panjang, California untuk pertama kalinya mengadakan recall election yang diadakan pada tanggal 7 Oktober 2003. Ada dua pertanyaan yang diajukan, pertama, setuju atau tidak setuju kalau Davis di-recall. Kalau setuju, masuk ke pertanyaan kedua, yaitu siapakah dari empat calon pengganti (salah satunya Arnold) yang dipilih untuk menggantikan Davis.
Hasil election, Davis di-recall oleh rakyat dan Arnold terpilih sebagai gubernur baru.
Beberapa saat setelah dilantik sebagai gubernur, 17 November 2003, Arnold
mengumumkan pembatalan beberapa kebijakan yang diambil oleh Davis yang dirasa memberatkan rakyat. Dia juga mengumumkan tekadnya untuk memotong pengeluaran negara bagian dimulai dari dirinya sendiri dengan cara tidak mau menerima gajinya sebagai gubernur. Janji yang dipegangnya teguh sampai dia pensiun bulan Januari ini.
Saat ini California dipimpin oleh gubernur baru (muka lama) yaitu Jerry Brown, yang pernah menjabat sebagai gubernur negara bagian yang sama dari tahun 1975-1983. Brown menghadapi
masalah yang sama, defisit anggaran, yang besarnya 25,4 milyar dollar.
Siapapun yang menjadi gubernur di Amerika saat ini memang harus menghadapi
masalah defisit anggaran.
Sikap Arnold yang menolak untuk menerima gaji sebagai gubernur menjadi inspirasi
gubernur atau calon gubernur lain. Meg_Whitman, lawan Brown di pemilihan lalu dalam kampanyenya menyatakan akan bekerja tanpa bayaran bila terpilih sebagai gubernur. Jon_Corzine, sewaktu menjadi gubernur New Jersey dari tahun 2006 – 2010 hanya mau digaji sebesar 1 dollar setahun. Phil_Bredesen, gubernur Tennesse periode 2003 – 2011, sama seperti Arnold, bekerja tanpa dibayar. Di tingkat walikota, Michael_Bloomberg di kota New York hanya mau digaji sebesar 1 dollar setahun.
Janet Napolitano (hlswatch.org)
Kalau kesemua nama di atas tidak mau menerima gaji karena mereka adalah
milyuner yang tidak butuh uang tambahan, ada yang menerima gaji
seperti biasa tetapi menolak kenaikan gaji. Janet_Napolitano
ketika menjadi gubernur Arizona dari tahun 2003 – 2008 menolak kenaikan gaji,
sampai sekarang gaji gubernur Arizona (yang dijabat oleh Jan Brewer) hanya
sebesar 95 ribu dollar per tahun, jauh di bawah rata-rata gaji
gubernur Amerika yang besarnya 130 ribu dollar per tahun. Sedangkan rekor gaji
gubernur terrendah dipegang oleh gubernur negara bagian Maine yang dijabat oleh Paul_LePage. Negara bagian ini terakhir menaikkan gaji gubernurnya pada tahun 1987, dari
35 ribu dollar menjadi 70 ribu dollar per tahun. Sampai sekarang, setelah 23
tahun, jumlah itu tidak bertambah.
Kembali ke soal curhat Pak SBY soal gaji yang tidak pernah naik. Tulisan ini tidak
untuk menganjurkan Pak SBY untuk tidak menerima gaji seperti yang pernah
dilakukan oleh Arnold Schwarzenneger. Juga tidak untuk meniru Michael Bloomberg
yang hanya mau digaji 1 dollar saja per tahun. Maksud dari tulisan ini adalah
memberikan gambaran kalau ada pejabat seperti gubernur Janet Napolitano yang
tidak pernah curhat soal gaji bahkan menolak ketika gajinya akan dinaikkan. Ada juga orang seperti LePage yang mau menjadi gubernur dengan gaji yang sangat kecil kalau
dibandingkan dengan gaji seluruh gubernur lain.
Napolitano pastilah sudah tahu jumlah gaji yang akan diterima sebelum dia maju dalam
pemilihan gubernur. Karena itu selama menjabat dia tidak pernah mengeluh,
bahkan membuktikan kalau dengan gaji sebesar itu dia bisa hidup nyaman jadi
tidak perlu mendapat tambahan gaji. Demikian juga LePage, pasti dia sudah tahu
berapa gaji seorang gubernur negara bagian Maine. Saya percaya LePage nantinya tidak
akan mengeluh soal gaji yang kecil itu karena kalau dia menganggap gaji
gubernur tidak akan cukup menghidupi keluarganya tentulah dia tidak akan maju
dalam pemilihan gubernur lalu.
Saya yakin Pak SBY dulu waktu maju dalam pemilu presiden sudah tahu berapa gaji dan
tunjangan seorang presiden RI. Kalau memang merasa gaji dan fasilitas yang
didapat dirasa tidak cukup sebaiknya tahun 2009 lalu tidak lagi mencalonkan
diri sebagai presiden. Tetapi tidak apalah, walaupun sudah terlanjur menjabat
di periode kedua ini, masih belum terlambat sebenarnya. Masih bisa mengundurkan
diri untuk mencari pekerjaan lain yang dapat memberikan penghasilan yang lebih
memuaskan. Sebenarnya merupakan suatu kehormatan bagi rakyat Indonesia
seandainya bisa memberikan yang terbaik bagi presiden mereka termasuk menaikkan
gaji dan tunjangan, tetapi sayang sampai saat ini rakyat masih belum mampu
melakukan itu.
Maafkan kami, Pak SBY, semoga lekas mendapat pekerjaan baru…[]
sumber: http://politik.kompasiana.com/2011/01/22/antara-sby-dan-arnold-schwarzenneger/
Friday, November 19, 2010
Fokus pada Kekuatan
Eksekutif yang efektif tidak pernah bertanya, “Apakah dia cocok dengan saya?”. Mereka tidak pula pernah bertanya, “Apa yang TIDAK dapat dilakukannya?”. Pertanyaan mereka selalu “Apa yang DAPAT dia lakukan dengan luar biasa baik?”. Demikian Peter Drucker mendefinisikan salah satu karakteristik eksekutif yang efektif. Fokus pada kekuatan, bukan pada kelemahannya, merupakan prinsip yang sangat logis karena kita tidak bisa berharap manusia bisa hebat dalam segala bidang. Tentunya dengan mengecualikan beberapa gelintir Superman. Realitas menunjukkan bahwa seseorang hanya dapat unggul pada bidang-bidang yang sangat sedikit saja. Walaupun tentunya kita mungkin sering berjumpa dengan orang-orang yang punya banyak minat. Einstein, Da Vinci, Goethe, Napoleon, dan banyak tokoh lain yang berhasil memajang namanya di berbagai Ensiklopedia orang hebat itu hanya gilang-gemilang di bidang-bidang tertentu saja yang mereka memiliki kekuatan disana. Walaupun kalau kita baca-baca, ternyata mereka juga punya berlimpah minat di bidang-bidang yang lain. So you better don’t cross your finger on it!
Tuntutan terhadap kinerja mestinya juga bersandar pada kekuatan. Karena jika tidak itu sama saja kita sejak awal telah memberi alasan bagi seseorang untuk tidak bekerja dengan baik. Sebelum memberikan tuntutan kinerja tertentu, semestinya seorang pimpinan sudah terlebih dahulu memastikan bahwa orang yang diberi tugas tersebut memang memiliki kekuatan yang mendukung untuk melakukannya.
Setiap orang memiliki kekuatan dan kelemahan. Kita tentu tidak dapat hanya mengambil kekuatan kaki seorang sprinter, ketajaman mata seorang sniper, atau kecerdikan strategi si grand master saja. Melainkan kita juga harus menerima keseluruhan anggota badan dari mereka secara lengkap. Lengkap dengan kekuatan dan kelemahannya. Adanya organisasi seharusnya ditujukan untuk meramu dan mengorkestrasikan kekuatan-kekuatan yang dimiliki oleh para personilnya, sembari berusaha menetralisir kelemahan-kelemahannya dan menjadikannya tidak berbahaya. Organisasi dan penempatan personil yang baik dirancang sedemikian sehingga hanya kekuatan-kekuatanlah yang relevan.
Seorang programmer kelas wahid –misalnya— yang banyak menghasilkan software-software hebat sendirian, mungkin akan sangat terhambat oleh ketidak-mampuannya untuk bekerja sama dengan orang lain. Tetapi dalam sebuah organisasi, orang seperti itu yang biasanya lebih langka dapat ditempatkan–misalnya— di sebuah pos sendiri yang terlindung dari “kontak langsung” dengan orang lain. Seorang pimpinan yang baik seharusnya mengerti betul bahwa tugasnya lah untuk membuat programmer hebat tadi dapat membuat software-software terbaik untuk organisasinya dan tidak berangan-angan tentang kemampuannya untuk bekerja-sama dengan orang-orang lain. Dia tidak akan menunjuk programmer tadi sebagai manajer. Karena disisi lainnya ada personil-personil yang memiiliki kekuatan dalam –misalnya—komunikasi dan leadership yang dibutuhkan oleh seorang manajer. Intinya, organisasi semestinya dapat membuat kekuatannya efektif dan kelemahannya menjadi tidak relevan.
Oleh karena itu apa yang bisa dilakukan oleh programmer tadi – dan “orang-orang kuat” lainya dalam organisasi— itulah yang penting bagi sebuah organisasi. Apa yang tidak dapat dia lakukan adalah sebuah keterbatasan dan tidak lebih dari itu. Bahkan umumnya jika kita mencari orang yang “paling sedikit kekurangannya”, maka biasanya yang kita akan dapatkan adalah orang yang biasa-biasa saja. Setuju? [undzurilaina/www.ivitc.com]
Wednesday, November 3, 2010
Demi Waktu
Demi Waktu; Sesungguhnya manusia benar-benar di dalam kerugian.Sebagian mufassir berpendapat bahwa jika sesuatu itu dijadikan sebagai obyek sumpah oleh Allah, maka pastilah sesuatu itu adalah sesuatu yang agung nan dahsyat nilainya. Dalam ayat yang dikutip di atas, Allah bersumpah dengan waktu. Sehingga dengan demikian berarti waktu adalah sesuatu yang besar nilainya dan perlu dengan sungguh-sungguh diperhatikan, kalau tidak maka pastilah manusia akan berada di dalam kerugian.
Batas pencapaian maksimal dari sebuah pekerjaan ditentukan oleh sumber daya (resources) yang paling terbatas. Untuk melakukan suatu pekerjaan kita bisa butuh orang yang mengerjakan, butuh biaya untuk mendanainya, mungkin juga butuh material2 tertentu, dan tentunya membutuhkan waktu untuk mengerjakannya. Diantara sumber daya tersebut, WAKTU adalah sumber daya yang paling terbatas.
Loh?! Memangnya mendapatkan orang itu mudah? Terus, uang? Kata orang tidak ada uang tidak ada bisnis. Malah ada pepatah barat yang menyejajarkan uang dengan waktu, time is money. Nah loh?!
Ya, memang tidak dapat dipungkiri faktor manusia adalah sumber daya penting yang seringkali langka dan susah dicari. Uang itu gizi, kurang uang maka hasilnya (kalau berhasil) juga jadi kurang gizi. Ya, memang semua sumber daya itu seringkali tidak mudah didapatkan. Tapi bukan berarti tidak dapat diusahakan. Orang bisa dicari dan uang masih bisa diusahakan. Tapi tidak dengan WAKTU.
WAKTU bersifat tetap, saklek, tidak elastis, tidak bisa ditambah atau dikurangi. Orang sibuk dan pengangguran sama2 punya modal waktu 24 jam sehari. Presiden Bank Dunia atau Donald Trumph –misalnya—tidak bisa memiliki privilege untuk membeli waktu tambahan. Pak Surip yang pekerjaannya ambil sampah hanya di pagi hari juga punya waktu 24 jam sehari, tidak ada discount. Tidak ada injury time. Pada waktu tidak berlaku hukum supply and demand. Waktu terus melaju, tidak bisa disimpan untuk digunakan lagi nanti. Waktu kemarin telah sirna untuk selamanya dan tak akan pernah kembali. Waktu itu ibarat pedang. Jika kita tidak memotongnya, maka dia yang akan memotongmu.
Segala sesuatu butuh waktu. Semua pekerjaan berlangsung di dalam waktu dan menyita waktu. Namun, kebanyakan orang (termasuk saya) seringkali tidak mempersoalkan sumber daya yang unik, tak tergantikan dan penting ini. Orang juga mudah kehilangan kepekaan terhadap waktu.
Ada sebuah eksperimen psikologi yang menarik. Bahwa orang yang tersekap dalam ruangan tanpa bisa melihat terang gelapnya hari di luar akan dengan segera kehilangan kepekaannya terhadap waktu. Dalam gelap gulita sekalipun, kebanyakan orang masih dapat mempertahankan kepekaan ruang. Namun sekalipun dengan lampu tetap benderang, beberapa jam di dalam ruangan tertutup membuat kebanyakan orang tak mampu memperkirakan berapa banyak waktu yang telah berlalu. Mereka hanya bisa merasakan bahwa waktu yang sudah dilewatkan dalam ruangan itu terlalu lama atau terlalu sebentar. Oleh karenanya, jika hanya bersandar pada ingatan, kita tidak tahu seberapa banyak waktu yang sudah dilalui.
Sewaktu menulis catatan ini, tiba-tiba meluncur pertanyaan di kepala saya, kemana perginya waktu-waktu saya? Kemana? Kemana? Fa aina tadzhabuun?
Duh..Benar, saya sudah lupa sebagian besar perginya waktu-waktu saya. Aktifitas-aktifitas yang saya ingat ternyata jika dihitung hanya menyedot sebagian kecil dari waktu-waktu saya. Sisanya tersebar menjadi fragmen-fragmen tak penting yang jika dikumpulkan saya yakin akan berada di peringkat teratas penyedot waktu-waktu saya.
Duh Gusti..aku bahkan tidak kenal waktuku sendiri.
Kalau aku tak ingat waktuku,
bagaimana mungkin aku ingat “Bala Syahidna” terhadap “alastu bi rabbikum”?
Kalau aku tak kenal waktuku,
bagaimana mungkin aku dapat mengenal diriku?
Kalau aku tak kenal diriku,
bagaimana mungkin aku mengenal Engkau?
Oh..Maha Benar Qaul-Mu, sungguh aku benar-benar dalam kerugian.
Oh..Pemeliharaku, bimbinglah aku dalam menjalani waktuku.
Oh..Sandaranku, jangan biarkan aku sendiri walau sesaatpun.
La ilaaha illa Anta, subhanaKa, inni kuntu mina adz-dzalimiin.
Monday, September 27, 2010
The Grand Design of Hawking
Why is there something rather than nothing?Why do we exist?
Why this particular set of laws and not some other?
Manusia adalah spesies yang selalu penasaran. Begitulah Hawking mengawali buku teranyarnya ini dengan mengajak pembacanya untuk berfikir mengenai misteri keberadaan kehidupan. Bahwa manusia perlu memahami alam semesta (universe) sampai tingkatan yang paling dalam. Bahwa kita perlu mengetahui tidak hanya BAGAIMANA perilaku alam semesta, tapi juga pertanyaan2 “MENGAPA”. Mengapa sesuatu itu ada. Mengapa kita ada. Mengapa yang berlaku adalah hukum-hukum tertentu bukan hukum lainnya. Pada bagian awal bukunya ini, Hawking menyampaikan hipotesisnya bahwa penciptaan alam semesta ini tidak membutuhkan intervensi dari sesuatu yang supernatural atau Tuhan. Namun, alam semesta ini tercipta secara natural melalui hukum fisika. Ini merupakan prediksi dari sains.
Lalu kalau memang benar Alam semesta ini tercipta, diatur dan dikelola oleh hukum-hukum, maka kemudian timbul pertanyaan:
1. Apakah asal mula dari hukum-hukum tersebut?
2. Apakah ada pengecualian-pengecualian dalam hukum tersebut (misal: keajaiban-keajaiban)?
3. Apakah hukum-hukum tersebut tunggal/unik atau bisa banyak?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut dijawab secara beragam oleh para ilmuwan, filosof, sampai dengan teolog. Jawaban yang umum diberikan untuk pertanyaan pertama (antara lain oleh Kepler, Galileo, Descartes, dan Newton) adalah bahwa hukum-hukum tersebut merupakan hasil karya Tuhan. Namun demikian, hal ini bisa diartikan bahwa Tuhan tak lain adalah perwujudan dari hukum-hukum alam. Menurut Hawking, jika kita melibatkan Tuhan sebagai jawaban pertanyaan pertama, maka akan muncul masalah pada pertanyaan kedua: Apakah ada keajaiban atau pengecualian-pengecualian terhadap hukum-hukum tsb?
Beragam pendapat pun bermunculan untuk menjawab pertanyaan kedua ini. Plato dan Aristoteles berpendapat bahwa tidak akan ada pengecualian pada hukum-hukum ini. Sedangkan jika kita menengok ke kitab suci, maka kita akan mengetahui bahwa Tuhan tidak hanya menciptakan hukum-hukum tapi juga dapat dirayu oleh para pendoa untuk membuat pengecualian-pengecualian. Hampir semua pemikir Kristen –lanjutnya—meyakini bahwa Tuhan pasti dapat menghentikan hukum-hukum tersebut untuk menciptakan keajaiban. Bahkan sekaliber Newton juga mempercayai adanya beberapa jenis keajaiban tertentu, seperti bahwa Tuhan harus mengintervensi dan melakukan reset terhadap orbit planet-planet, karena kalau tidak planet-planet akan jatuh ke matahari atau terlempar keluar dari tata surya. Pendapat Newton ini kemudian ditentang oleh Laplace bahwa sistem tata surya ini dapat melakukan reset sendiri, tanpa intervensi Tuhan sehingga bisa tetap ada hingga saat ini.
Laplace merupakan tokoh yang umum dikenal sebagai pengusung pertama postulat determinisme sains, bahwa jika diberikan kondisi alam semesta pada suatu waktu tertentu, maka sepaket lengkap hukum-hukum yang akan mengatur sepenuhnya masa lalu dan masa depannya. Hal ini menepis kemungkinan adanya keajaiban atau peran aktif dari Tuhan. Determinisme sains yang diformulasikan oleh Laplace inilah jawaban saintis modern terhadap pertanyaan kedua. Prinisip ini merupakan basis dari semua hukum sains modern, dan merupakan prinsip penting yang digunakan dalam buku Hawking ini. Bahwa hukum sains tidak lagi dapat disebut sebagai sebuah hukum sains jika hanya berlaku ketika suatu yang Supernatural memutuskan untuk tidak mengintervensi.
Kembali ke pertanyaan-pertanyaan “MENGAPA” yang ada di pembuka tulisan ini, sebagian orang akan mengklaim bahwa jawaban dari pertanyaan tersebut adalah karena adanya Tuhan yang memutuskan untuk menciptakan alam semesta seperti ini. Namun jika kita menjawab demikian, maka pertanyaan yang muncul berikutnya adalah “Siapa yang menciptakan Tuhan”. Jawaban yang dapat diterima umumnya adalah bahwa beberapa entitas ada tanpa membutuhkan pencipta, dan entitas itulah yang disebut Tuhan (first-cause argument). Kami mengklaim, lanjut Hawking, bahwa menurut kami adalah mungkin untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut murni di dalam lingkup sains, dan tanpa melibatkan sesuatu yang Supernatural atau Tuhan.
Alam semesta dan kehidupan ini bersifat deterministik, sekali Anda men-setup konfigurasi atau kondisi awal, maka selanjutnya hukum-hukumlah yang akan menentukan apa yang akan terjadi di masa depan. That’s all there is to it: Given any initial condition, these laws generate generation after generation.
Jika total energi alam semesta ini harus selalu NOL, sementara di sisi lain dibutuhkan energi pada setiap penciptaan sebuah obyek, maka bagaimana alam semesta secara keseluruhan dapat diciptakan dari ketiadaan? Itulah mengapa ada hukum seperti Gravitasi. Sebab gravitasi bersifat atraktif, dan energi gravitasi bernilai negatif. Energi negatif ini dapat menyeimbangkan energi positif yang dibutuhkan untuk menciptakan sesuatu. Walaupun sebenarnya tidak sesederhana ini.
Energi negatif gravitasi dari bumi, misalnya, bernilai kurang dari sepermilyar dari energi positif dari partikel materi penyusun bumi. Suatu obyek seperti sebuah bintang akan memiliki lebih banyak energi negatif grafitasi, dan semakin kecil ia (semakin dekat jarak antar unsur-unsurnya), semakin besar energi gravitasi negatifnya. Tapi sebelum ia menjadi lebih besar dari energi positifnya, bintang tersebut akan musnah ke dalam sebuah lubang hitam (black hole), dan lubang hitam tersebut memiliki energi positif. Inilah sebabnya mengapa ruang hampa itu stabil.
Beragam pendapat pun bermunculan untuk menjawab pertanyaan kedua ini. Plato dan Aristoteles berpendapat bahwa tidak akan ada pengecualian pada hukum-hukum ini. Sedangkan jika kita menengok ke kitab suci, maka kita akan mengetahui bahwa Tuhan tidak hanya menciptakan hukum-hukum tapi juga dapat dirayu oleh para pendoa untuk membuat pengecualian-pengecualian. Hampir semua pemikir Kristen –lanjutnya—meyakini bahwa Tuhan pasti dapat menghentikan hukum-hukum tersebut untuk menciptakan keajaiban. Bahkan sekaliber Newton juga mempercayai adanya beberapa jenis keajaiban tertentu, seperti bahwa Tuhan harus mengintervensi dan melakukan reset terhadap orbit planet-planet, karena kalau tidak planet-planet akan jatuh ke matahari atau terlempar keluar dari tata surya. Pendapat Newton ini kemudian ditentang oleh Laplace bahwa sistem tata surya ini dapat melakukan reset sendiri, tanpa intervensi Tuhan sehingga bisa tetap ada hingga saat ini.
Laplace merupakan tokoh yang umum dikenal sebagai pengusung pertama postulat determinisme sains, bahwa jika diberikan kondisi alam semesta pada suatu waktu tertentu, maka sepaket lengkap hukum-hukum yang akan mengatur sepenuhnya masa lalu dan masa depannya. Hal ini menepis kemungkinan adanya keajaiban atau peran aktif dari Tuhan. Determinisme sains yang diformulasikan oleh Laplace inilah jawaban saintis modern terhadap pertanyaan kedua. Prinisip ini merupakan basis dari semua hukum sains modern, dan merupakan prinsip penting yang digunakan dalam buku Hawking ini. Bahwa hukum sains tidak lagi dapat disebut sebagai sebuah hukum sains jika hanya berlaku ketika suatu yang Supernatural memutuskan untuk tidak mengintervensi.
Kembali ke pertanyaan-pertanyaan “MENGAPA” yang ada di pembuka tulisan ini, sebagian orang akan mengklaim bahwa jawaban dari pertanyaan tersebut adalah karena adanya Tuhan yang memutuskan untuk menciptakan alam semesta seperti ini. Namun jika kita menjawab demikian, maka pertanyaan yang muncul berikutnya adalah “Siapa yang menciptakan Tuhan”. Jawaban yang dapat diterima umumnya adalah bahwa beberapa entitas ada tanpa membutuhkan pencipta, dan entitas itulah yang disebut Tuhan (first-cause argument). Kami mengklaim, lanjut Hawking, bahwa menurut kami adalah mungkin untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut murni di dalam lingkup sains, dan tanpa melibatkan sesuatu yang Supernatural atau Tuhan.
Alam semesta dan kehidupan ini bersifat deterministik, sekali Anda men-setup konfigurasi atau kondisi awal, maka selanjutnya hukum-hukumlah yang akan menentukan apa yang akan terjadi di masa depan. That’s all there is to it: Given any initial condition, these laws generate generation after generation.
Jika total energi alam semesta ini harus selalu NOL, sementara di sisi lain dibutuhkan energi pada setiap penciptaan sebuah obyek, maka bagaimana alam semesta secara keseluruhan dapat diciptakan dari ketiadaan? Itulah mengapa ada hukum seperti Gravitasi. Sebab gravitasi bersifat atraktif, dan energi gravitasi bernilai negatif. Energi negatif ini dapat menyeimbangkan energi positif yang dibutuhkan untuk menciptakan sesuatu. Walaupun sebenarnya tidak sesederhana ini.
Energi negatif gravitasi dari bumi, misalnya, bernilai kurang dari sepermilyar dari energi positif dari partikel materi penyusun bumi. Suatu obyek seperti sebuah bintang akan memiliki lebih banyak energi negatif grafitasi, dan semakin kecil ia (semakin dekat jarak antar unsur-unsurnya), semakin besar energi gravitasi negatifnya. Tapi sebelum ia menjadi lebih besar dari energi positifnya, bintang tersebut akan musnah ke dalam sebuah lubang hitam (black hole), dan lubang hitam tersebut memiliki energi positif. Inilah sebabnya mengapa ruang hampa itu stabil.
Obyek-obyek seperti bintang-bintang ataupun lubang hitam tidak dapat tiba-tiba muncul dari ketiadaan. Tapi tidak demikian halnya dengan alam semesta secara keseluruhan. Alam semesta secara keseluruhan dapat muncul tiba-tiba dari ketiadaan. Karena Gravitasi membentuk ruang dan waktu, dan ia memungkinkan ruang-waktu menjadi stabil secara lokal namun tidak stabil secara global. Pada skala alam semesta secara keseluruhan, energi positif dari materi dapat diseimbangkan dengan energi negatif gravitasinya, dan dengan demikian tidak ada penghalang bagi terciptanya keseluruhan alam semesta.
Oleh karena adanya hukum seperti gravitasi inilah, menurut Hawking alam semesta dapat menciptakan dirinya sendiri dari ketiadaan. Penciptaan yang spontan ini adalah alasan adanya sesuatu dibanding ketiadaan, mengapa alam semesta ada, mengapa kita ada. Tidak perlu untuk melibatkan Tuhan untuk menciptakan dan mengatur alam semesta ini.
Dalam buku ini, Hawking juga menjelaskan bahwa hukum ini harus memiliki apa yang disebut dengan supersimetri antar kekuatan-kekuatan alam dan sesuatu dimana mereka beraksi. Dan Hawking mengklaim teori yang yang dirumuskannya ini (M-Theory) adalah teori gravitasi yang paling supersimetri. Dan oleh karenanya, M-Theory ini merupakan satu-satunya kandidat dari sebuah paket lengkap teori dari alam semesta ini. Jika teori ini finite –dan ini masih harus dibuktikan—maka ia akan menjadi model dari sebuah alam semesta yang menciptakan dirinya sendiri. Dan kita –kata Hawking—harus menjadi bagian dari alam semesta ini, karena tidak ada model yang konsisten selainnya.
Oleh karena adanya hukum seperti gravitasi inilah, menurut Hawking alam semesta dapat menciptakan dirinya sendiri dari ketiadaan. Penciptaan yang spontan ini adalah alasan adanya sesuatu dibanding ketiadaan, mengapa alam semesta ada, mengapa kita ada. Tidak perlu untuk melibatkan Tuhan untuk menciptakan dan mengatur alam semesta ini.
Dalam buku ini, Hawking juga menjelaskan bahwa hukum ini harus memiliki apa yang disebut dengan supersimetri antar kekuatan-kekuatan alam dan sesuatu dimana mereka beraksi. Dan Hawking mengklaim teori yang yang dirumuskannya ini (M-Theory) adalah teori gravitasi yang paling supersimetri. Dan oleh karenanya, M-Theory ini merupakan satu-satunya kandidat dari sebuah paket lengkap teori dari alam semesta ini. Jika teori ini finite –dan ini masih harus dibuktikan—maka ia akan menjadi model dari sebuah alam semesta yang menciptakan dirinya sendiri. Dan kita –kata Hawking—harus menjadi bagian dari alam semesta ini, karena tidak ada model yang konsisten selainnya.
Itu menurut Hawking. Bagaimana menurut Anda? [undzurilaina]
Saturday, August 21, 2010
Performance vs Position
A Priest dies and is awaiting his turn in line at the Heaven's Gates.Ahead of him is a guy, fashionably dressed, in dark sun glasses, a loud shirt, leather jacket and jeans..
God asks him: Please tell me who are you, so that I may know whether to admit you into the kingdom of Heaven or not?
The guy replies: I am Pandi, Auto driver from Chennai!
God consults his ledger, smiles and says to Pandi: Please take this silken robe and gold scarf and enter the Kingdom of Heaven.
Now it is the priest's turn.
He stands erect and speaks out in a booming voice: I am Pope's Assistant so so, Head Priest of the so so Church for the last 40 years.
God consults his ledger and says to the Priest: Please take this cotton robe and enter the Kingdom of Heaven.
“Just a minute,” says the agonized Priest. “How is it that a foul mouthed, rush driving Auto Driver is given a Silken robe and a Golden scarf; and me, a Priest, who's spent his whole life preaching your Name and goodness has to make do with a Cotton robe?!”
“Results my friend, results,” shrugs God..
“While you preached, people SLEPT; but when he drove his Auto, people really PRAYED”
It's PERFORMANCE and not POSITION that ultimately counts.
Saturday, August 7, 2010
Lautan Framework Sistem Manajemen Kinerja
Dogbert: “You’ve got to implement a six sigma program or else you’re doomed”Dilbert’s boss: “Aren’t you the same consultant who sold us the worthless TQM program a few years ago?”
Dogbert: “I assure you that this program has a totally, totally different name”
Dilbert’s boss: “When can we start?”
Percakapan Dogbert dan boss nya Dilbert di atas mungkin mewakili kebingungan banyak kalangan dari mulai pemilik bisnis, manajemen, sampai dengan staf. Mereka tahu bahwa Sistem Manajemen Kinerja itu penting dan diperlukan buat organisasinya. Tapi mereka bingung begitu banyak framework yang ditawarkan, begitu banyak yang populer dengan masing-masing menonjolkan kekuatan dan kisah suksesnya. Konsultan ataupun marketing yang sama dapat menawarkan framework yang berbeda-beda kepada klien yang sama. Pertanyaan mana yang lebih baik, mana yang lebih cocok, apa bedanya yang satu dengan yang lainnya, seringkali tidak mendapatkan jawaban yang memadai apalagi memuaskan.
Sebenarnya bagaimana sih?
Kesuksesan sebuah organisasi dalam mencapai visi yang dicita-citakan sangat dipengaruhi oleh strategi bisnis yang ditetapkan. Penetapan visi dan strategi organisai yang tepat dan jelas tak dapat dipungkiri merupakan sebuah kunci sukses sebuah organisasi. Namun demikian memiliki strategi yang tepat dan jelas saja tidaklah cukup. Kemampuan organisasi untuk mengeksekusi strategi tersebut adalah hal yang justru lebih penting dibanding strategi itu sendiri. Sistem yang didesain untuk mengelola eksekusi strategi organisasi, yang mengelola transformasi dari rencana menjadi hasil, disebut juga Sistem Manajemen Kinerja. Mengenai pengertian kinerja bisa dirujuk ke tulisan saya sebelumnya di sini.
Mengingat pentingnya Sistem Manajemen Kinerja ini, maka banyak kerangka kerja (framework) dengan berbagai pendekatan coba didesain untuk membantu organisasi dalam mengelola pengeksekusian strateginya secara optimal. Beragam pendekatan digunakan untuk mendesain kerangka kerja tersebut, yang kurang lebih dapat dikelompokkan ke dalam kategori sebagai berikut:
1. Pendekatan yang dominan berorientasi finansial
2. Pendekatan yang dominan berorientasi proses
3. Pendekatan yang multi-perspektif dengan fokus utama pada keselarasan strategis
Pendekatan yang pertama merupakan pendekatan klasik yang banyak digunakan oleh organisasi dulu, yang intinya bahwa baik/buruknya kinerja sebuah organisasi itu ukurannya adalah kinerja finansialnya. Jika sebuah perusahaan untung besar, maka perusahaan tersebut disebut perusahaan berkinerja bagus. Walaupun mungkin saja pada tahun berikutnya, perusahaan tersebut ambruk.
Oleh karena pendekatan pertama tersebut –walaupun penting—tapi sering miss-leading, antara lain karena kurangnya perhatian pendekatan tersebut terhadap proses yang terjadi dalam pengelolaan organisasi, maka kemudian muncullah framework2 baru yang berorientasi kepada kesempurnaan proses, sebutlah misalnya framework Total Quality Management (TQM) atau Six-Sigma. Para pengusung framework dengan pendekatan ini memiliki premis bahwa jika proses yang berlaku dalam pengelolaan organisasi itu dapat dijaga kualitas dan kinerjanya, maka pada gilirannya kinerja seluruh organisasi akan dapat pula menjadi baik. Walaupun mungkin dalam perjalanannya menuju penyempurnaan proses tersebut, dari perspektif finansial organisasi tersebut tidak bagus.
Dalam perjalanannya pendekatan yang berorientasi pada proses ini juga menuai kritik. Hal ini karena fakta yang didapat bahwa keitka sebuah organisasi terlalu perhatian pada hal detail (proses), seringkali akan kehilangan konteksnya dalam organisasi. Kemudian muncullah framework-framework dengan pendekatan yang ketiga yaitu selain yang berfokus kepada keselarasan strategis organisasi, framework ini juga melengkapi perspektifnya menjadi lebih komprehensif, tidak hanya melihat dari perspektif finansial atau proses saja. Sebutlah framework-framework dalam kelompok ini seperti Balanced Scorecard, Performance Prism, dan sebagainya.
Jadi kalau dilihat dari sejarah perkembangannya, sepertinya framework demi framework tercipta untuk menyempurnakan pendekatan yang digunakan framework-framework sebelumnya. Tapi apakah itu berarti, framework yang datang kemudian itu pasti lebih baik dibandingkan framework yang mendahuluinya?
Menurut saya, Tidak. Menurut saya, masing-masing framework tersebut memiliki kekuatan dan kelemahannya masing-masing. Menurut saya kata kuncinya adalah harmonisasi.
Saya selalu tertarik dengan ide-ide harmonisasi. Sehingga saya mencoba melakukan analisis framework-framework yang ada tersebut untuk coba diharmonisasikan menjadi sebuah framework baru yang komplementer, yang saling melengkapi. Cara ini menurut saya juga dapat menjawab kebingungan sementara kalangan mengenai lautan framework Sistem Manajemen Kinerja yang tersedia di pasaran.
Namun, bagaimana caranya dan bagaimana pula hasilnya? Insya Allah saya akan lanjutkan dalam tulisan-tulisan berikutnya. Semoga bermanfaat.[Umar A/www.ivitc.com]
Tuesday, August 3, 2010
Iklan Menyeramkan
Nafsu makan saya dan istri mendadak hilang ketika melihat sebuah iklan di TV kemarin. Iklan yang –kalau tidak salah—dipersembahkan oleh PMI (karena ada pak JK, ketuanya, muncul disana), IDI (ada ketuanya pula muncul disitu), dan sebuah produk obat anti masuk angin untuk orang “pintar”.Tentu bukan karena melihat orang2 itu kami kehilangan nafsu makan. Tapi karena melihat beberapa scene “menyeramkan” yang ditampilkan disana. Seperti scene yang menampilkan orang yang terkena kanker mata, muntah darahnya pengidap TBC, bayi hydrocephalus, dsb. Semula saya nggak tahu, sebenarnya ini iklan apa sih. Sampai akhirnya iklan itu ditutup oleh Lula Kamal yang menyampaikan anjuran untuk berobat ke dokter bila sakit. Ohh..?!
Saya lalu bertanya, apa iklan seperti ini efektif dalam menyampaikan pesan kepada para pemirsanya? Apakah iklan seperti ini juga cukup efektif untuk mempengaruhi para penontonnya untuk melakukan tindakan berobat ke dokter.
Malcolm Galdwell dalam bukunya mengungkapkan adanya sebuah penelitian tentang pengaruh “menakut-nakuti” yang dilakukan dilakukan terhadap para mahasiswa senior dari Yale University. Kepada para mahasiswa tersebut dibagikan brosur yang berisi anjuran untuk melakukan vaksinasi anti-tetanus. Hanya saja mereka dibagi dalam beberapa kelompok yang masing-masingnya akan menerima paket brosur yang berbeda dengan kelompok lainnya. Sebagian mahasiswa diberi paket brosur yang “sangat menyeramkan” yang memuat istilah dan gambar-gambar yang dramatis, lengkap dengan foto2 berwarna anak yang kejang tetanus, korban tetanus yang terpaksa pakai kateter untuk buang air kecil, yang dilubangi tenggorokannya, yang dipasang selang di hidungnya, dsb. Sementara kelompok mahasiswa yang lain menerima brosur versi “soft” dimana ia menerangkan risiko2 tetanus secara lebih tersamar dan bahkan tanpa gambar2.
Howard Levanthal, sang pakar psikologi yang melakukan penelitian ini, ingin mengetahui seberapa jauh sebenarnya dampak dari brosur2 tersebut terhadap perilaku mahasiswa tersebut terhadap tetanus, dan –yang lebih penting—terhadap kesediaan mereka untuk divaksinasi.
Seperti diduga, memang benar bahwa kelompok mahasiswa yang mendapatkan brosur “menyeramkan” lebih memilki pemahaman dan kesadaran tentang bahayanya tetanus dibandingkan dengan kelompok mahasiswa lainnya. Namun fakta itu menjadi tidak bermakna ketika ia tidak memiliki relevansi dengan kesadaran dari kelompok tersebut untuk pergi melakukan vaksinasi.
Ternyata penelitian tersebut menunjukkan bahwa proporsi jumlah mahasiswa yang melakukan vaksinasi dari kelompok brosur “menyeramkan” dan brosur “soft” sama saja. Artinya tanpa ditakut2i dengan gambar2 yang dramatis itu sebenarnya para mahasiswa sudah tahu dan sadar mengenai bahaya tetanus, dan apa yang harus mereka perbuat. Jadi dampak dari cara komunikasi menakut2i tersebut hanya berbeda sampai dengan tingkatan pemahaman (atau ngeh kata orang jawa). Tapi pada tingkatan amal real nya ia tidak memiliki relevansi alias sama saja dengan yang diberitahu dengan cara “soft”.
Itu salah satu kesimpulan Levanthal dalam penelitiannya kali ini.
Saya kemudian ingat, waktu kecil dulu saya sering membaca buku2 cerita yang menceritakan neraka dengan berbagai kisah menyeramkannya. Ada orang yang diseterika punggungnya, ada yang dipotong lidahnya, ada yang disuruh memakan –maaf— darah/nanah, ada yang ditusuk duburnya, dan hal-hal mengerikan lainnya lengkap dengan gambar visualisasi dan efek2 menyeramkan lainnya. Begitu juga guru2 di TK dan SD saya dulu juga menegaskan informasi yang sama secara verbal.
Tapi saya tidak melihat cara yang sama pada metode pendidikan yang diterapkan pada sekolah anak2 saya, setidaknya hingga saat ini. Setahu saya, metode pendidikan sekarang berusaha sebisa mungkin menghindari cara menakut-nakuti anak didik dalam menjelaskan sesuatu atau memberikan persuasi anak untuk melakukan sesuatu.
Dorothy Law, seorang ahli psikologi komunikasi, mengatakan bahwa anak belajar dari kehidupan di lingkungannya. Katanya ketika anak dibesarkan dengan cemoohan, ia akan belajar rendah diri. Ketika anak dibesarkan dengan pujian, dia akan belajar menghargai. Jika anak dibesarkan dengan celaan, dia akan belajar memaki. Jika anak dibesarkan dengan ancaman, maka dia akan belajar mengancam. Jika anak dibesarkan dengan cinta dan kasih sayang, maka ia akan belajar untuk menemukan dan mencintai.
Mungkin ini yang dijadikan dasar oleh pendidikan modern untuk lebih banyak menggunakan pendekatan Cinta-Nya ketimbang menakut2i dengan Murka dan Ancaman Siksa-Nya? Bahwa Allah SWT itu memiliki kasih sayang yang meliputi segala sesuatu. Bahwa dari Allah hanyalah kebaikan dan karunia. Bahwa –seperti yang dilantunkan oleh Imam Ali bin Abi Thalib (salam atasnya) dalam salah satu doanya—kalau bukan karena keputusan dan sumpah-Nya untuk menyiksa orang yang ingkar, tentu Dia akan menjadikan api seluruhnya sejuk dan damai, dan tidak akan ada lagi disitu tempat tinggal dan menetap bagi siapapun.
Tapi memang menerapkan metode seperti ini tidaklah mudah. Terutama bagi orang tua (termasuk saya tentunya) dan guru2 masa kini (gurunya manusia menurut istilah Pak Munif Chatib) yang merupakan produk lama pendidikan yang banyak berjejal konten2 menyeramkan.
Jadi kepada PMI, IDI dan obat untuk orang “pintar”, ternyata --menurut penelitian-- cara yang Anda gunakan untuk iklan berobat ke dokter dengan cara menakut2i itu tidak efektif jika ditujukan untuk mempengaruhi orang (apalagi orang “pintar”) untuk berobat ke dokter bila sakit. Kecuali kalau memang iklan itu ditujukan untuk mengurangi nafsu makan pemirsanya. Hmm..
Tuesday, July 27, 2010
Seputar Gelengan dan Anggukan

Anggukan dan gelengan merupakan sebuah gerakan kepala ke atas-bawah dan ke kanan-kiri. Pada umumnya gerakan tersebut merupakan ekspresi persetujuan dan penolakan terhadap sesuatu. Jika kita ditanya, kapan Anda akan menganggukkan kepala? Maka jawabannya adalah ketika kita setuju terhadap sesuatu yang disampaikan oleh lawan bicara kita. Dan akan menjawab ketika kita menolak terhadap sesuatu yang disampaikan oleh lawan bicara kita, jika kita ditanya kapan Anda akan menggelengkan kepala?
Setuju? (please dua pertanyaan diatas jangan dijawab dengan ketika kita senam pagi..hehe)
Tapi tahukah kita bahwa gerakan kita (anggukan/gelengan, senyuman manis/kecut, dll) itu dapat berpengaruh kepada pendapat kita mengenai apa yang kita dengarkan atau kita lihat dari sumber/penyampai informasi?
Ada sebuah penelitian menarik mengenai hal ini pernah dilakukan oleh sebuah perusahaan pembuat headphone berteknologi canggih. Penelitian dengan tajuk studi riset pasar ini dilakukan terhadap segmen mahasiswa yang diberi pengarahan bahwa tujuan riset ini adalah untuk menguji kinerja headphone ini ketika pemakai sedang bergerak seperti menari atau sekedar menggoyang-goyangkan kepalanya.
Semua mahasiswa tadi kemudian mendengarkan lagu-lagu dari Linda Rondstant dan The Eagles, namun setelah itu lagu-lagu tersebut digantikan oleh sebuah ulasan mengenai kenaikan biaya SPP kuliah mereka. Sepertiga diantara mereka diminta mengangguk-anggukan kepalanya ketika mendengarkan ulasan tersebut. Sepertiga lagi diminta menggeleng-gelengkan kepalanya, dan sepertiga sisanya diminta tidak menggerakkan kepalanya.
Setelah selesai, para mahasiswa tadi disodori semacam kuesioner pendek yang menanyakan tentang mutu lagu dan pengaruh gelengan/anggukan kepala terhadapnya. Dan yang paling menarik adalah pertanyaan terakhir dari kuesioner tersebut, yaitu: “Menurut Anda berapakah biaya SPP yang paling tepat untuk mahasiswa S1?”.
Kelompok mahasiswa yang tidak menggerakkan kepalanya, tidak begitu peduli dengan ulasan berita soal SPP. Menurut mereka, seharusnya SPP itu yaa kurang lebih seperti SPP yang sekarang ini.
Sementara kelompok mahasiswa yang diminta menggelengkan kepalanya selama mendengarkan ulasan, mereka menolak keras rencana kenaikan SPP yang disampaikan tersebut. Bahkan mereka minta penurunan biaya SPP tersebut, padahal sebenarnya mereka hanya diminta untuk menguji kualitas headset saja.
Sementara itu kelompok mahasiswa yang diminta mengangguk-anggukan kepalanya, berpendapat bahwa ulasan tersebut sangat persuasif dan logis. Mereka setuju dengan rencana kenaikan SPP walaupun tidak setinggi rencana yang disampaikan pada ulasan tersebut. Artinya mereka setuju terhadap kebijakan yang akan membuat kantong mereka (atau orang tua mereka) dikuras.
Penelitian diatas merupakan salah satu dari sekian penelitian yang menyimpulkan bahwa gerak tubuh dan ekspresi seseorang akan berpengaruh terhadap pendapat lawan bicara/lihatnya. Dalam kasus ini anggukan dan gelengan berpengaruh terhadap persetujuan/penolakan seseorang.
Saya ingat adanya penelitian diatas karena dalam beberapa waktu terakhir ini kebetulan beberapa teman saya sedang sering berurusan dengan beberapa konsultan expatriate asal India. Dimana di India berlaku konvensi yang berkebalikan soal anggukan dan gelengan kepala ini. Menggelengkan kepala di India itu justru merupakan isyarat persetujuan. Dan itu ternyata cukup membuat “benturan peradaban” yang cukup menghambat komunikasi dari beberapa personil lokal yang belum memahaminya di awal.
Salah seorang klien yang punya karakter lugas dan bergenre “suroboyoan” sempat emosi dibuatnya. Dia kesal karena apa yang dia sampaikan selalu ditanggapi dengan gelengan kepala, maka kemudian habislah stok kesabarannya.
Dengan suroboyan english nya dia bilang: “What do you mean with geleng-geleng (sambil memeragakan)?! Sampeyan tuh must understand!!!"
See?! Betapa dahsyatnya pengaruh hanya sekedar anggukan/gelengan kepala.[undzurilaina]
Kinerja dan Persepsi

You can not manage what you can not measure, kata yang dipopulerkan oleh Pak Norton dan Kaplan sang pencetus Balanced Scorecard (BSC). Kerangka kerja yang dirumuskannya itu kemudian begitu populer sehingga banyak pihak mengakui BSC sebagai standard de-facto framework untuk Sistem Manajemen Kinerja (SMK). Dalam tulisan ini, saya tidak akan membahas mengenai BSC sebagai sebuah kerangka kerja. Kali ini saya –mungkin karena kejadian yang baru saja saya temukan—akan menyorot pada definisi kinerja dan kemudian menghubungkannya dengan persepsi.
Terminologi ”kinerja” sebenarnya merupakan terminologi yang umum digunakan pada berbagai bidang. Pada dasarnya kinerja adalah kesesuaian realisasi sesuatu dibandingkan dengan ukuran dan target yang disepakati dan ditetapkan sebelumnya. Dengan demikian tinggi rendahnya kinerja bergantung kepada ukuran dan target yang telah ditetapkan dan disepakati sebelumnya. Ukuran dan target ditentukan berdasarkan obyektif yang ingin dicapai oleh suatu atau sekelompok inisiatif. Oleh karena itu kinerja seorang pelajar akan berbeda dengan kinerja seorang pegawai, kinerja seorang ilmuwan berbeda dengan kinerja seorang politisi, dan seterusnya. Dalam konteks sebuah organisasi atau perusahaan, maka kinerja organisasi/perusahaan merupakan tingkat keberhasilan dari organisasi/perusahaan tersebut dalam mencapai obyektif yang dicita-citakannya.
Salah satu poin penting dari definisi kinerja tersebut yang ingin saya angkat disini adalah tentang penentuan ukuran dan target yang disepakati sebelumnya.
Lantas, apa hubungannya dengan “Persepsi”?
Secara sederhana para ahli mendefinisikan persepsi sebagai sebuah proses internal yang kita lakukan untuk memilih, mengevaluasi dan mengorganisasikan rangsangan dari lingkungan eksternal.
Jadi dengan demikian persepsi konsumen terhadap sebuah produk merupakan hasil dari proses interpretasi internalnya terhadap produk tersebut berdasarkan masukan-masukan yang dia terima dari pengalamannya, kenalan-kenalannya, iklan, berita, Internet, dsb. Sehingga persepsi seorang konsumen bisa saja berbeda-beda terhadap sebuah produk yang sama diakibatkan karena masukan yang diterimanya yang juga berbeda-beda, dan proses pemilihan, evaluasi serta pengorganisasiannya pun berbeda-beda.
Persepsi seseorang manajer terhadap para stafnya juga berarti hasil interpretasi sang manajer terhadap stimulan masukan-masukan yang dia terima. Hasil interpretasi ini seringkali tidak adil karena sering tercampur dengan masukan-masukan dan parameter yang sebenarnya tidak ada hubungannya dengan tugas dan hubungan manajer-staf yang semestinya. Karena sang manajer baru dimarahi oleh atasannya maka kemudian dia mem-forward kemarahan berikut persepsi atasannya tersebut ke staf dibawahnya.
Itulah bedanya antara persepsi dengan kinerja. Kinerja seorang karyawan berhubungan dengan sejauhmana karyawan itu melakukan tugas-tugasnya dalam mencapai suatu obyektif tertentu. Kinerja mesti punya ukuran yang jelas. Sedangkan persepsi adalah “hak prerogatif” sang perseptor.
Sebuah organisasi modern dijalankan berdasarkan pengukuran kinerja. Sehingga Sistem Manajemen Kinerja didefinisikan sebagai sebuah sistem yang mengelola eksekusi strategi menjadi aksi-aksi yang dibutuhkan untuk mencapainya. Roda aktifitas perusahaan digerakkan oleh sistem yang mengelola kinerja dari setiap komponen perusahaan.
Sementara organisasi jenis lawannya (organisasi tradisional feodalistik, menggunakan istilah Dahlan Iskan) dijalankan berdasarkan persepsi atasan terhadap bawahannya. Apapun persepsi atasan terhadap bawahan maka itulah realitas kebenaran.
Kasus yang sama dapat juga terjadi pada konteks hubungan antara klien dengan vendor. Hubungan yang terjadi seringkali adalah hubungan persepsional, hubungan tuan dan hamba. Bukanlah hubungan kemitraan modern yang berbasis kinerja, duduk sama rendah berdiri sama tinggi.
Alhasil hubungan yang berbasis persepsi ini berisiko tinggi menyebabkan “kekacauan”, ketidak-harmonisan, dan menurunnya produktifitas hubungan secara keseluruhan. Walaupun tentunya mungkin saja hubungan semacam ini berhasil mencapai tujuannya, tapi kemungkinan keberhasilannya jelas jauh lebih kecil dibandingkan hubungan yang berbasis pada ukuran kinerja yang baik dan jelas.
Lantas mungkin kita akan bertanya, apa iya semua itu bisa diukur? Kalau itu sih kembali ke quote pembuka tulisan ini, you can not manage what you can not measure. Jadi, fokus saja kepada apa yang dapat diukur. Tapi bagaimana menentukan ukuran yang tepat dari sekian banyak yang dapat diukur? Kita akan bahas pada tulisan yang lain, Insya Allah. Tapi yang jelas bukan berdasarkan persepsi, apalagi sepihak. Hmmm…[dikutip dari www.ivitc.com]
Tuesday, March 16, 2010
Mengapa Manusia Patuh?
Allamah Iqbal, seorang cendikiawan besar asal Pakistan, pernah mengatakan bahwa manusia bisa menjadi budak manusia lain karena kebodohannya. Dia memiliki dalam dirinya “ego” untuk menyanjung dirinya sendiri. Namun anehnya, mutiara sangat berharga itu malah dilemparkannya ke bahwa kaki orang2 zalim (beliau mencontohkan seperti Qubad dan Jamsyid). Setelah memiliki mentalitas budak, dia lalu menjadi sosok binatang yang lebih buruk dari seekor anjing. Sungguh, saya tak pernah melihat anjing manapun yang bersujud di hadapan anjing lainnya!
Manusia terkadang mematuhi sesuatu karena kebodohannya. Islam jelas melarang pola kepengikutan secara membabi buta seperti ini. Dulu waktu Muhammad Rasulullah SAW mendakwahkan Islam kepada para kafir Quraisy, mereka menolaknya dengan alasan bahwa nenek moyang mereka telah berbuat yang sama dengan mereka. Satu2nya alasan mereka adalah bahwa para pendahulu mereka telah berbuat yg sama dengan mereka. Maka Al-Quran pun mengecamnya:
“Dan apabila mereka melakukan perbuatan keji, mereka berkata: Kami mendapati nenek moyang kami mengerjakan yang demikian itu, dan Allah menyuruh kami mengerjakannya. Katakanlah, sesungguhnya Allah tidak menyuruh (mengerjakan) perbuatan yang keji. Mengapa kamu mengada2kan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui?” (QS: al-A’raf:28)
Itulah alasan pertama kenapa seseorang itu patuh, yaitu ikut2an tanpa alasan yang jelas (kebodohan). Dan ikut2an tanpa dasar pengetahuan seperti ini terlarang dalam Islam.
Seseorang bisa juga patuh disebabkan karena kecemasan dan ketakutan. Orang2 zalim biasa memaksa manusia untuk patuh terhadap segenap titah mereka melalui intimidasi dan ancaman.
“Firaun berkata, Sungguh jika kamu menyembah Tuhan selain aku, benar2 aku akan menjadikan kamu salah seorang yang dipenjarakan” (QS. Al-Syuara: 29)
Atau bisa juga manusia terpaksa patuh karena adanya janji2 atau imbalan tertentu yang menggiurkan. Seperti dilakukan Firaun kepada para ahli sihir kerajaannya yang akan memberikan imbalan yang menarik dengan syarat mereka mampu mempermalukan Musa as.
Cara ini (ancaman dan bujuk rayu) seringkali ampunh untuk membuat manusia mematuhi hukum. Namun cara2 seperti ini akan membuat sikap kritis dan kemandirian orang yang terkait menjadi lemah.
Memang, Islam juga menegaskan tentang siksa neraka dan pahala surga. Namun semua itu bukan dimaksudkan terjadi di dunia ini, melainkan nanti di masa depan. Ya, setelah mati. Karena itu, mereka akan memilih jalan hidup mereka dan mematuhi segenap hukum dengan penuh kerelaan. Ketakutan terhadap hukuman atau harapan terhadap ganjaran nikmat pada hari pembalasan tidak memaksa manusia utk melaksanakan perintah2 tertentu. Terbukti kita setiap saat mendengar, melihat, dan bahkan sering kali juga melakukan pelanggaran dan pengabaian terhadapnya.
Hal lain yang terkadang juga membuat seseorang patuh terhadap sesuatu adalah karena adanya tuntutan kebutuhan dan persaingan dengan manusia lain sehingga kemudian menghalalkan segala cara dan patuh kepada hawa nafsunya tersebut.
Kemudian sebab yang keempat seorang untuk patuh adalah Akal pikiran dan pengetahuan. Seorang pengguna jalan akan dengan senang hati mematuhi aturan penutupan suatu jalur tertentu jika ia mengetahu alasannya kenapa polisi menutup jalur tersebut. Tapi jika mereka tidak diberi tahu, maka dia akan dapat menyangka polisi memberlakukan aturan secara sewenang2 dan kemudian menolak untuk mengikutinya.
Islam juga menggunakan alasan yang masuk akal untuk membuat manusia mau mematuhi hukum2nya. Inilah yang seringkali dikatakan pada setiap yang diperintahkan atau dilarang oleh Islam. Puasa agar kita bertaqwa, Sholat untuk mencegah fakhsya dan munkar, Qishas untuk kehidupan, infak diumpamakan seperti menanam kebun yang buahnya berlipat, dst. Dan berbagai ayat dan riwayat lain yang menyatakan pentingnya alasan dan argumen yang masuk akal dalam mengikuti perintah2 Islam.
Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata, dan telah Kami turunkan bersama mereka Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat menegakkan keadilan. (QS. al-Hadîd: 25)
Kemudian alasan kelima yang menjadikan seseorang patuh terhadap hukum atau perintah adalah karena Cinta.
Dan di antara manusia ada orang2 yang menyembah tandingan2 selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapaun orang2 yang beriman sangat mencintai Allah. (al-Baqarah:165)
Seseorang yang cinta kepada sesuatu, dia menjadi patuh terhadapnya. Ayat diatas mengatakan bahwa orang2 beriman itu sangat mencintai Allah, yang karenanya kemudian mereka menjadi sangat patuh kepada aturan2-Nya. Kata ahli psikologi, seseorang yang cinta kepada seseorang, maka dia berusaha sekuat tenaganya untuk menjadi seperti yang dicintainya.
Katakanlah: "Jika kamu (benar2) mencintai Allah, ikutilah aku (Muhammad), niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." (QS. 3:31).
Yang menarik juga adalah ayat-Nya dalam surat as-Syuara: 23 berikut ini:
“Katakanlah (Wahai Muhammad), aku tidak minta balasan apapun atas risalah yang aku sampaikan pada kalian kecuali kecintaan kalian terhadap keluargaku”
-----
Ya, terdapat beragam cara yang dapat mendorong manusia untuk patuh terhadap suatu aturan. Dalam hal ini, dengan penuh yakin, kita dapat langsung menyatakan bahwa cara terbaik dan paling masuk akal untuk itu adalah cara keempat dan kelima, yaitu cara yang dilandasi pengetahuan, kearifan, cinta dan kasih sayang.
Jadi, kita tidak dapat meng-gebyah uyah (baca: generalisir) bahwa semua orang yang patuh kepada sesuatu atau seseorang adalah manusia bodoh seperti kawanan kambing yang manut kemana dibawa oleh penggembalanya.
Dunia ini penuh dengan ragam topik permasalahan. Untuk setiap topik permasalahan itu perlu sebagian orang untuk menekuninya sehingga dapat menjadi “panutan” solusi bagi manusia selainnya. Karena tak mungkin seseorang memiliki resource yang memadai untuk menjadi ahli dalam semua topik.
“Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mukmin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.” (QS. 9:122)
Menghargai dan meninggikan derajat orang yang lebih ahli ilmu adalah hal yang sangat logis, alih2 kultus. Bahkan Allah SWT sendiri yang meninggikan derajatnya.
“...niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat” (QS. 58:11).
Namun, betapapun, tentu saja tingkatan kepatuhan kita pada ahli berbeda-beda. Hal ini –menurut saya—tergantung seberapa tinggi tingkat jaminan kebenaran dari apa yang disampaikan oleh Ahli tsb. Jaminan ini bisa bersumber vertikal (Ilahiyyah) maupun horizontal (tingkat kepakaran, integritas, akhlak, dsb). Apa yang disampaikan oleh Rasulullah SAW –misalnya—tentu pasti benar karena ada jaminan dari Sang Pencipta Segala bahwa apa yang darinya tidak lain kecuali wahyu. Jaminan keterjagaan mutlak seperti ini yang tidak dimiliki oleh semua manusia ahli. Oleh karenanya yang diperlukan adalah menjaga sikap kritis terhadap pendapat ahli. Bukan dengan sekedar PeDe tanpa cukup modal dengan kemampuan sendiri terhadap segala hal dan kemudian mengabaikan “sistem ahli”. Ini justru tidak masuk akal, menurut saya.
Semua orang bisa jadi ahli pada bidangnya masing2. Dan dengan keahliannya masing2 itu, maka setiap orang dapat menjalankan perannya masing2 untuk menjalankan roda-roda kehidupan ini. Seseorang bisa berperan sebagai pengikut pada satu bidang, dan menjadi yang diikuti pada bidang yang lain.
So, Selamat berperan. Selamat menjadi Ahli!
Manusia terkadang mematuhi sesuatu karena kebodohannya. Islam jelas melarang pola kepengikutan secara membabi buta seperti ini. Dulu waktu Muhammad Rasulullah SAW mendakwahkan Islam kepada para kafir Quraisy, mereka menolaknya dengan alasan bahwa nenek moyang mereka telah berbuat yang sama dengan mereka. Satu2nya alasan mereka adalah bahwa para pendahulu mereka telah berbuat yg sama dengan mereka. Maka Al-Quran pun mengecamnya:
“Dan apabila mereka melakukan perbuatan keji, mereka berkata: Kami mendapati nenek moyang kami mengerjakan yang demikian itu, dan Allah menyuruh kami mengerjakannya. Katakanlah, sesungguhnya Allah tidak menyuruh (mengerjakan) perbuatan yang keji. Mengapa kamu mengada2kan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui?” (QS: al-A’raf:28)
Itulah alasan pertama kenapa seseorang itu patuh, yaitu ikut2an tanpa alasan yang jelas (kebodohan). Dan ikut2an tanpa dasar pengetahuan seperti ini terlarang dalam Islam.
Seseorang bisa juga patuh disebabkan karena kecemasan dan ketakutan. Orang2 zalim biasa memaksa manusia untuk patuh terhadap segenap titah mereka melalui intimidasi dan ancaman.
“Firaun berkata, Sungguh jika kamu menyembah Tuhan selain aku, benar2 aku akan menjadikan kamu salah seorang yang dipenjarakan” (QS. Al-Syuara: 29)
Atau bisa juga manusia terpaksa patuh karena adanya janji2 atau imbalan tertentu yang menggiurkan. Seperti dilakukan Firaun kepada para ahli sihir kerajaannya yang akan memberikan imbalan yang menarik dengan syarat mereka mampu mempermalukan Musa as.
Cara ini (ancaman dan bujuk rayu) seringkali ampunh untuk membuat manusia mematuhi hukum. Namun cara2 seperti ini akan membuat sikap kritis dan kemandirian orang yang terkait menjadi lemah.
Memang, Islam juga menegaskan tentang siksa neraka dan pahala surga. Namun semua itu bukan dimaksudkan terjadi di dunia ini, melainkan nanti di masa depan. Ya, setelah mati. Karena itu, mereka akan memilih jalan hidup mereka dan mematuhi segenap hukum dengan penuh kerelaan. Ketakutan terhadap hukuman atau harapan terhadap ganjaran nikmat pada hari pembalasan tidak memaksa manusia utk melaksanakan perintah2 tertentu. Terbukti kita setiap saat mendengar, melihat, dan bahkan sering kali juga melakukan pelanggaran dan pengabaian terhadapnya.
Hal lain yang terkadang juga membuat seseorang patuh terhadap sesuatu adalah karena adanya tuntutan kebutuhan dan persaingan dengan manusia lain sehingga kemudian menghalalkan segala cara dan patuh kepada hawa nafsunya tersebut.
Kemudian sebab yang keempat seorang untuk patuh adalah Akal pikiran dan pengetahuan. Seorang pengguna jalan akan dengan senang hati mematuhi aturan penutupan suatu jalur tertentu jika ia mengetahu alasannya kenapa polisi menutup jalur tersebut. Tapi jika mereka tidak diberi tahu, maka dia akan dapat menyangka polisi memberlakukan aturan secara sewenang2 dan kemudian menolak untuk mengikutinya.
Islam juga menggunakan alasan yang masuk akal untuk membuat manusia mau mematuhi hukum2nya. Inilah yang seringkali dikatakan pada setiap yang diperintahkan atau dilarang oleh Islam. Puasa agar kita bertaqwa, Sholat untuk mencegah fakhsya dan munkar, Qishas untuk kehidupan, infak diumpamakan seperti menanam kebun yang buahnya berlipat, dst. Dan berbagai ayat dan riwayat lain yang menyatakan pentingnya alasan dan argumen yang masuk akal dalam mengikuti perintah2 Islam.
Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata, dan telah Kami turunkan bersama mereka Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat menegakkan keadilan. (QS. al-Hadîd: 25)
Kemudian alasan kelima yang menjadikan seseorang patuh terhadap hukum atau perintah adalah karena Cinta.
Dan di antara manusia ada orang2 yang menyembah tandingan2 selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapaun orang2 yang beriman sangat mencintai Allah. (al-Baqarah:165)
Seseorang yang cinta kepada sesuatu, dia menjadi patuh terhadapnya. Ayat diatas mengatakan bahwa orang2 beriman itu sangat mencintai Allah, yang karenanya kemudian mereka menjadi sangat patuh kepada aturan2-Nya. Kata ahli psikologi, seseorang yang cinta kepada seseorang, maka dia berusaha sekuat tenaganya untuk menjadi seperti yang dicintainya.
Katakanlah: "Jika kamu (benar2) mencintai Allah, ikutilah aku (Muhammad), niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." (QS. 3:31).
Yang menarik juga adalah ayat-Nya dalam surat as-Syuara: 23 berikut ini:
“Katakanlah (Wahai Muhammad), aku tidak minta balasan apapun atas risalah yang aku sampaikan pada kalian kecuali kecintaan kalian terhadap keluargaku”
-----
Ya, terdapat beragam cara yang dapat mendorong manusia untuk patuh terhadap suatu aturan. Dalam hal ini, dengan penuh yakin, kita dapat langsung menyatakan bahwa cara terbaik dan paling masuk akal untuk itu adalah cara keempat dan kelima, yaitu cara yang dilandasi pengetahuan, kearifan, cinta dan kasih sayang.
Jadi, kita tidak dapat meng-gebyah uyah (baca: generalisir) bahwa semua orang yang patuh kepada sesuatu atau seseorang adalah manusia bodoh seperti kawanan kambing yang manut kemana dibawa oleh penggembalanya.
Dunia ini penuh dengan ragam topik permasalahan. Untuk setiap topik permasalahan itu perlu sebagian orang untuk menekuninya sehingga dapat menjadi “panutan” solusi bagi manusia selainnya. Karena tak mungkin seseorang memiliki resource yang memadai untuk menjadi ahli dalam semua topik.
“Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mukmin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.” (QS. 9:122)
Menghargai dan meninggikan derajat orang yang lebih ahli ilmu adalah hal yang sangat logis, alih2 kultus. Bahkan Allah SWT sendiri yang meninggikan derajatnya.
“...niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat” (QS. 58:11).
Namun, betapapun, tentu saja tingkatan kepatuhan kita pada ahli berbeda-beda. Hal ini –menurut saya—tergantung seberapa tinggi tingkat jaminan kebenaran dari apa yang disampaikan oleh Ahli tsb. Jaminan ini bisa bersumber vertikal (Ilahiyyah) maupun horizontal (tingkat kepakaran, integritas, akhlak, dsb). Apa yang disampaikan oleh Rasulullah SAW –misalnya—tentu pasti benar karena ada jaminan dari Sang Pencipta Segala bahwa apa yang darinya tidak lain kecuali wahyu. Jaminan keterjagaan mutlak seperti ini yang tidak dimiliki oleh semua manusia ahli. Oleh karenanya yang diperlukan adalah menjaga sikap kritis terhadap pendapat ahli. Bukan dengan sekedar PeDe tanpa cukup modal dengan kemampuan sendiri terhadap segala hal dan kemudian mengabaikan “sistem ahli”. Ini justru tidak masuk akal, menurut saya.
Semua orang bisa jadi ahli pada bidangnya masing2. Dan dengan keahliannya masing2 itu, maka setiap orang dapat menjalankan perannya masing2 untuk menjalankan roda-roda kehidupan ini. Seseorang bisa berperan sebagai pengikut pada satu bidang, dan menjadi yang diikuti pada bidang yang lain.
So, Selamat berperan. Selamat menjadi Ahli!
Saturday, February 20, 2010
Yang diingat dan Akhir Catatan Perjalanan
“Siapa yang Anda ingat dari teman sekolah Anda dulu?”, kata seseorang di radio yang saya tak ingat namanya tapi dari logat bicaranya sangat jelas bergenre java medokensis. Umumnya teman yang diingat itu katanya adalah teman yang paling pintar, yang paling bengal, yang paling cantik/ganteng, yang paling heboh, dan yang paling-paling lainnya. Memori manusia itu lebih mudah menangkap titik-titik ekstrim dari pengalaman yang dilaluinya. Kalau yang berada di area “sedang-sedang” saja, ya mesti berjuang sedikit lebih keras supaya masih bisa terpajang di memory temannya itu atau perlu ada pemicu tertentu untuk dapat mengingatnya. Selain titik-titik ekstrim tersebut, manusia juga sangat susah melupakan titik akhir dari pengalamannya dengan seseorang. Dia cerita punya teman yang sudah bersahabat dengan seseorang selama lebih dari 20 tahun, tapi kemudian akhirnya bertengkar karena suatu hal selama 3 hari. Kemudian ketika ditanya apa yang paling diingat dari mantan sahabatnya itu, ia menjawab 3 hari pertengkaran itulah yang paling diingatnya. Masa 20 tahun bersahabat itu menjadi seolah hilang dari memori karena 3 hari di ujung akhir pengalamannya itu.
Saya kemudian berfikir bahwa sepertinya karakteristik ingatan manusia ini yang kemudian diterapkan orang dalam berbisnis. Bagaimana membuat produk/jasa yang dijualnya senantiasa berada dalam titik ekstrim ingatan manusia, menjadi “top of mind”. Program-program pemasaran produk yang baik selalu berusaha menjaga agar produknya selalu pada puncak ingatan para target pelanggannya. Gimana ketika orang sakit flu, selalu yang teringat pertama adalah panadol/decolgen. Ingat batuk, ingat konidin. Ingat sakit kepala, ingat bodrex. Kentucky, jagonya ayam. Dan seterusnya.
Begitu juga sering kita temui setiap kita akan meninggalkan sebuah tempat, apakah itu sebuah toko, rumah makan, kereta api, pesawat, ataupun tempat2 lainnya, mereka menerapkan prosedur standard yang tujuannya memberikan pengalaman terakhir yang menyenangkan sehingga bisa berharap nyantol di memori para pelanggannya. Dengan kata-kata yang renyah dan senyum yang manis atau setidaknya berusaha dimanis2kan. Terima kasih, kami tunggu kunjungan berikutnya. Terima kasih atas kepercayaannya menggunakan jasa kami. Terima kasih, menyenangkan dapat berbisnis dengan Anda. Atau sekedar ucapan terima kasih dengan senyuman. Atau pengalaman akhir lain yang didesain tanpa ucapan untuk membuat orang untuk “repeat order”.
Berkaitan dengan hal yang kedua ini, the end of experience, tiba2 saya jadi merinding. Tiba2 terbayang di benak saya bagaimana nanti akhir pengalaman hidup saya ini. Karena tentunya itu akan sangat menentukan nasib “bisnis” saya setelah hidup ini berakhir nanti.
Kata Dr Ali Syariati, ketika seseorang mencium bau maut, ruhnya menjadi murni, dan di saat seseorang terbujur mati, maka saat itulah dia menunjukkan dirinya yang sejati.
Dapat dipastikan, hanya orang2 yang tahu bagaimana mereka seharusnya mati sajalah yang tahu bagaimana mereka seharusnya hidup. Benar, bahwa hanya orang2 yang memandang hidup bukan sekadar adanya nafas yang naik-turun sajalah yang tidak memandang kematian sebagai sekedar tidak adanya nafas.
Kita bisa melihat bagaimana orang2 suci nan agung pada saat2 akhir menjelang akhir perjalanan hidupnya.
Sang Putra Ka’bah, Imam Ali bin Abi Thalib, secara spontan berteriak “Fuztu wa rabbi ka’bah” (demi tuhan ka’bah, sungguh aku beruntung) ketika pedang beracun Abdurrahman Ibn Muljam dipukulkan kepadanya selagi beliau sholat. Di saat2 akhir hayatnya dalam rasa sakitnya karena racun di pedang ibn Muljam itu, ia tak pernah mengeluh sedikitpun. Beliau mengumpulkan anggota keluarganya dan memberikan petuah2nya.
Dia yang berkata pada orang banyak, “Sampai kemarin saya adalah pemimpin Anda, hari ini saya menjadi sarana pelajaran bagi Anda, dan besok saya akan meninggalkan Anda. Semoga Allah mengampuni kita semua!”.
Imam meninggalkan musuh2nya hidup di dunia, namun kehidupan mereka sama dengan kehancurannya sendiri.
Kemudian bagaimana pula manusia teragung sepanjang zaman, Rasulullah SAW pada saat2 beliau menjelang akhir hayatnya. Beliau saw selalu ingat umatnya, “Ummatii...ummatiii”. Beliau saw juga terus berupaya memberikan nasehat-nasehatnya.
Diriwayatkan, pada suatu hari Ka’ab Akhbar bertanya kepada Khalifah Umar, “Apa yang dikatakan Nabi tepat menjelang wafatnya?” Khalifah Umar menunjuk kepada Ali, yang juga ada disana, seraya berkata, “Tanyakan kepadanya.”
Kemudian Ali berkata, “Sementara kepala Nabi tersandar ke bahu saya, beliau berkata, ‘Shalat, shalat!’”. Ka’ab Ahbar lalu berkata, “Ini pula cara nabi2 sebelumnya.” [Thabaqat Kubra, II, h.254, dikutip dari ar-Risalah, h.694]
Sejumlah ahli hadits mengutip kalimat terakhir yang diucapkan Nabi SAW sebelum menghembuskan nafas terakhirnya adalah, “Tidak! Dengan Sahabat Ilahi.”
Beliau saw lebih memilih menjalani kehidupan setelah dunia bersama orang2 yang disinggung dalam ayat:
“Mereka itu akan bersama2 dengan orang2 yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi, para shiddiqiin, orang2 yang mati syahid, dan orang2 saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik2nya.”(QS: an-Nisa’:69).
Setelah mengucapkan kalimat tersebut, Nabi pun wafat. [A’lam al-Wara’, h.83, dikutip dari ar-Risalah, h.695].
Duhai, sungguh kesuksesan sejati jika bisa seperti beliau berdua dan orang2 yang besamanya.
Wa fuztum fauzan adziimaa..(Sungguh engkau telah menang dengan kemenangan yang besar)
Fa yaa Laitanii kuntu ma’akum, fa afuuza ma’akum fauzan adziimaa (Duhai, seandainya aku dapat bersamamu, agar aku dapat menang bersamamu dengan kemenangan yang besar)
Ya Rabb, bila hari2 kehidupan kami mulai lewat, bila batas umur kami sudah habis, dan kami sudah harus memenuhi undangan-Mu yang tak bisa ditunda2 lagi, maka isilah di akhir catatan amalan kami yang ditulis oleh malaikat pencatat dengan amalan taubat yang diterima, yang tidak lagi dipenuhi catatan dosa yang pernah kami lakukan.
Ya Allah, Janganlah Engkau membuka rahasia kami yang Engkau tutup rapat di hadapan para saksi, di suatu hari dimana seluruh catatan amal hamba-Mu sedang diperiksa.
Sesungguhnya Engkau Maha Penyayang atas mereka yang menyampaikan doa kepada-Mu. Maha Penerima jawaban atas mereka yang memanggil-Mu.
Ya Allah biha, Ya Allah biha, Ya Allah bi khusn al-Khaatimah.. [undzurilaina]
Saturday, January 2, 2010
Monster dan Anak Domba, Antara Naziisme dan Yazidisme
Reinhold Hench dan Paul Schaeffer adalah dua orang kolega Peter Drucker. Peter Drucker, seorang keturunan Yahudi yang oleh banyak kalangan digadang sebagai Bapak Penemu Manajemen Modern itu memutuskan untuk keluar dari Jerman karena prediksinya bahwa Nazi akan memenangkan Pemilu Jerman. Namun tidak dengan kedua koleganya tersebut.Singkat cerita, malam ketika esok harinya Drucker akan berangkat, ada yang mengetuk pintu rumahnya. Jantungnya seakan berhenti berdetak, ketika melihat pasukan Nazi berdiri di depan pintu rumahnya. Ia sedikit lega ketika mengenali orang itu adalah Hensch, koleganya di surat kabar tempat dia bekerja. Hensch mendengar bahwa Drucker telah keluar dari surat kabar itu (dan juga sebagai dosen), dan mencoba berbicara dengan Drucker mengapa ia keluar dari surat kabar itu. Drucker pun menjelaskannya, karena tak punya alasan lain.
Ekspresi Hensch pun berubah dengan cepat dan meluapkan kata2 emosional. Ia mengatakan pada Drucker betapa ia sangat iri kepadanya bahwa ia tidak “sepandai” Drucker, dan berharap ia bisa keluar. Namun ia melanjutkan bahwa ia tak bisa keluar. Ia menginginkan uang, status, dan kekuasaan, serta berkata bahwa karena ia memiliki nomor keanggotaan kecil di Partai Nazi (yang artinya punya kuasa lebih), ia sekarang akan menjadi “seseorang”.
“Camkan kata2ku ini,” katanya pada Drucker, “kamu akan mendengar tentangku sekarang!!!”.
Setelah itu, Drucker tak pernah lagi mendengar berita tentang Hensch. Sampai dengan tahun 1945 ketika Nazi ditaklukkan, ada artikel pendek di The New York Times menarik perhatiannya:
“Reinhold Hensch, salah seorang penjahat perang Nazi yang paling dicari Amerika, bunuh diri ketika ditangkap pasukan Amerika di gudang bawah tanah di sebuah rumah yang tinggal puing di Frankfurt.... Hensch, dikenal sangat kejam, keji dan haus darah sehingga dijuluki ‘Monster’ (Das Ungebeuer) bahkan oleh anak buahnya sendiri.”
Paul Schaeffer adalah seorang wartawan senior terkenal yang telah melanglang buana lebih dari 50 tahun di media terkemuka dunia seperti New York Times, Times, dll. Namun dia memutuskan untuk menerima tawaran dari koran terpandang Jerman (Berliner Tageblatt). Namun Schaeffer tidak bodoh. Ia tahu lebih baik dari orang-orang lain tentang apa yang dikejar Nazi selama ini, tapi ia pikir ia bisa membuat perbedaan: “Justru karena kekejian yang terjadi inilah saya harus menerima pekerjaan itu,” ia menjelaskan.
Dia tidak menggubris peringatan orang2 disekelilingya yang khawatir bahwa ia akan dimanfaatkan oleh Nazi untuk memberikan tedeng kehormatan dan menipu dunia luar.
Dan akhirnya Nazi memanfaatkan Schaeffer persis seperti yang dikhawatirkan teman2nya. Jabatan, uang dan kehormatan pun dicurahkan kepadanya. Setiap ada berita tentang kekejian Nazi yang bocor, Schaeffer dikirim ke kedubes-kedubes dan koresponden-koresponden asing untuk meyakinkan mereka bahwa semua itu tidak benar.
Dalam “memoar”-nya (Adventures of a Bystander), Drucker mengatakan bahwa kejahatan itu sesuatu yang hebat sehingga manusia sering diperalat olehnya. Karenanya manusia tidak boleh mempertahankan ataupun menggunakan kejahatan dengan cara apapun, karena cara itu pastilah jalan kejahatan bukan jalan manusia.
Manusia akan menjadi instrumen kejahatan ketika, seperti Hensch, ia berfikir bisa mengendalikan kejahatan untuk memenuhi ambisinya.
Dan manusia juga akan menjadi instrumen kejahatan ketika, seperti Schaeffer, ia bergabung dengan kejahatan untuk mencegah terjadinya hal yang lebih buruk.
Drucker mengakhiri bagian itu dengan bertanya:
“Siapa yang lebih kejam, monster atau anak domba? Mana yang lebih buruk, dosa Hensch karena nafsunya untuk berkuasa atau kesombongan Schaeffer dan dosanya karena pongah? Mungkin dosa terbesar bukanlah kedua dosa kuno itu, dosa terbesar adalah dosa abad ke-21, yaitu dosa karena bersikap masa bodoh, dosa seorang ahli biokimia terkenal yang tak membunuh dan tak berbohong, tapi menolak memberi kesaksian ketika, mengutip kata2 di Injil, ‘Mereka Menyalibkan Tuhanku!’.”
Kisah Drucker tentang dua koleganya diatas mengingatkan saya kepada kisah seputar tragedi yang terjadi pada cucu kesayangan Nabi, al-Husayn, penghulu pemuda ahli surga. Tentu saja saya sadar bahwa saya sedang membandingkan dua hal yang berbeda dari banyak segi, seperti skala, intensitas, maupun dampak dari kekejian yang dilakukan. Tapi betapapun saya melihat ada beberapa kemiripan. Saya coba mengambil contoh beberapa stakeholder sentral yang terlibat dalam tragedi paling mengerikan sepanjang sejarah tersebut. Tapi rasanya saya tidak perlu menjelaskan mengenai sang producer dan director kekejian, Yazid bin Muawiyyah.
Ubaidullah bin Ziyad bin Abihi, the man behind the gun, gubernur Bashrah yang menjadi project manager dalam penyerangan al-Husayn. Dia adalah anak dari Ziyad bin abihi, anak ayahnya. Disebut demikian karena ayahnya yang tidak jelas. Sebagian riwayat mengatakan bahwa Ziyad adalah anak Abu Sufyan dari Sumayyah (sebagian riwayat mengatakan Marjanah) yang dikenal sebagai wanita penghibur. Ubaidullah lahir di Bashrah. Ketika sang ayah meninggal, ia berada di Irak. Kemudian ia pergi ke Syam. Mu'awiyah mengangkatnya sebagai gubernur wilayah Khurasan pada tahun 53 H dan tinggal di sana selama dua tahun. Pada tahun 55 H, Mu'awiyah memindahkannya ke Bashrah. Yazid menetapkannya di sana pada tahun 60H. Tragedi Karbala terjadi di masa kekuasaannya dan atas perintahnya. Setelah kematian Yazid, penduduk Bashrah berbaiat kepadanya. Namun tak lama berselang , mereka melawannya. Diapun lari mencari perlindungan ke Syam, lalu kembali lagi ke Irak. Di tengah jalan, Ibrahim Asytar menghadangnya. Peperangan antara tentara keduanya pun tak dapat dielakkan lagi. Pasukan Ubaidillah kocar-kacir. Ibrahim memburunya dan membunuhnya di Khazir, satu daerah di Maushil. Setelah berhasil dibunuh, kepala ibnu Ziyad dibawa ke hadapan Mukhtar.
Umar bin Sa'ad bin Abi Waqqash Al-Zuhri Al-Madani. Dialah yang dikirim oleh Ubaidillah bin Ziyad dengan empat ribu orang tentara untuk menyerbu Dailam, dengan menjanjikannya kekuasaan atas wilayah Rey. Tapi sewaktu berita keberangkatan Al-Husain dari Mekah menuju Kufah sampai ke telinga Ibnu Ziyad, ia segera mengirimkan sepucuk surat padanya dan memerintahkannya untuk segera kembali bersama pasukannya. Umar pun kembali. Ibnu Ziyad lalu memerintahkannya untuk membantai Al-Husain. Umar menolak. Ibnu Ziyad mengancam dan mengingatkannya akan kota Rey. Akhirnya ia bersedia menerima tugas tersebut.
Di belakang hari, ketika Mukhtar bangkit melakukan pemberontakan, beliau mengutus orang untuk memburu dan membunuh Umar bin Sa'ad dan tamatlah riwayatnya.
Kedua person diatas mencoba menggunakan kejahatan untuk mencapai keinginan dan ambisinya. Seperti kata Drucker, mereka menjadi instrumen kejahatan ketika ia berfikir dapat menggunakan kejahatan untuk memenuhi ambisinya. Dan juga sejarah membuktikan, seperti juga yang terjadi pada Hensch, kehinaan lah yang akan didapatnya, alih-alih kejayaan dan kesuksesan.
Lain halnya dengan peran orang-orang diatas, yang oleh Drucker diistilahkan sebagai monster, ada juga peran lain yang sama-sama destruktifnya dengan monster, yaitu orang2 seperti Schaeffer yang –walaupun mungkin punya sedikit maksud baik di awalnya—berperan menjadi pembela-pembela kejahatan itu. Ada sebagian penulis, yang karena alasan-alasan tertentu, melakukan pengaburan terhadap sejarah ini. Dari yang bersikap tidak menyalahkan Yazid atas tragedi Karbala tersebut, sampai dengan yang sampai menulis buku khusus tentang keutamaan Yazid beserta ayahnya, Muawiyyah. Ada sebagian juga yang berusaha menutup sejarah itu dengan menonjolkan beberapa peristiwa lain (yang kurang jelas dan kuat dasarnya) yang menganjurkan bahwa hari Asyura adalah waktu yang tepat untuk bergembira, berbagi kebahagiaan.
Person-person seperti diatas ini, oleh Drucker diistilahkan dengan “anak domba”. Keyakinan para penulis itu –seperti Schaeffer—bahwa dia bisa mencegah hal yang lebih buruk (misalnya mungkin untuk menutup sejarah kelam) justru membawa hasil yang lebih mengerikan. Meskipun ada niat baik, mereka dengan segera menjadi kaki tangan kejahatan dengan kebohongan2nya. Mereka memberi kejahatan legitimasi untuk melanjutkan kekuasaan, kejahatan demi kejahatan, dan pembantaian demi pembantaian. Dengan menutup2i apa yang sebenarnya terjadi, mereka telah berperan dalam membuat dunia setidaknya bersikap netral terhadap kejahatan2 tersebut.
Wallahu a’lam, yang jelas saya setuju dengan Drucker yang menganggap bahwa anak domba sama destruktifnya dengan monster.
Mempelajari apa yang terjadi pada sejarah manusia dan menjadikannya hidup serta berinteraksi dengan kehidupan kita sekarang, menurut saya penting untuk dilakukan sehingga kita dapat mengambil hikmah-hikmah yang berharga untuk saat ini dan esok.
"Dan apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di muka bumi dan memperhatikan bagaimana akibat (yang diderita) oleh orang-orang yang sebelum mereka? .." (QS. ar-Rum: 9)
Jadi tergantung kita, apakah kita mau berperan menjadi “monster” atau “anak domba”? Atau akan menjadi orang2 acuh, yang menganggap kemarin adalah kemarin, tidak ada hubungannya dengan hari ini atau besok. Atau akan menjadi yang akan mengambil hikmah dan pelajaran dari setiap peristiwa, dan “menghidupkannya” untuk hari ini dan besok. Semuanya adalah pilihan peran yang terpampang di depan kita semua.
Nanti...“sejarah” hidup kita akan mencatat peran-peran kita tersebut untuk tentu saja dipertanggung-jawabkan. Bagaimana? [undzurilaina]
Saturday, December 19, 2009
Tak ada tukang taman, tak ada taman..
Alkisah, seorang pengusaha sukses, sebut saja Fred namanya, baru pindah ke rumah barunya. Dia punya impian untuk memiliki sebuah taman indah di rumah barunya. Oleh karena itu dia memutuskan untuk menggunakan jasa konsultan pertamanan yang juga temannya untuk merancang taman di rumah barunya itu. Temannya ini cukup terkenal sebagai konsultan pertamanan yang handal.Sebagai pengusaha yang cukup sukses, Fred terhitung sangat sibuk sehingga praktis tidak punya waktu yang cukup untuk merawat pekarangannya. Oleh karena itu dia minta ke temannya yang konsultan pertamanan itu agar menciptakan taman yang sedemikian rupa shg hanya butuh sesedikit mungkin perawatan. Antara lain dia minta ada alat penyiram otomatis dan peralatan otomtatis lain yang memungkinkan semuanya jalan sendiri tanpa perawatan. Pendek kata, yang dia fikirkan adalah bagaimana caranya punya taman yang indah tanpa perawatan.
Setelah mendengarkan dengan seksama ocehan Fred tentang spesifikasi kebutuhan tamannya itu, Akhirnya sang konsultan itu kemudian berkomentar, “Fred, saya dapat memahami apa yang kau katakan. Tetapi ada satu hal yang perlu kau pahami sebelum kita melangkah lebih jauh: Bila tak ada tukang taman, tak ada taman!”
Mungkin banyak diantara kita yang bermimpi untuk mengandalkan taman (baca: bisnis, organisasi, keluarga, hidup...) pada sesuatu yang bersifat otomatis dan instan. Kemudian berharap munculnya hasil akhir yang dahsyat.
Tetapi kehidupan tidaklah berjalan seperti itu. Kita tidak dapat begitu saja menyebar sedikit benih, lalu pergi, dan melakukan apa pun yg kita mau, kemudian berharap bahwa di kemudian hari ketika kembali, kita menemukan kebun yang indah dan tumbuh subur, siap untuk menghasilkan panen buah dan sayur2an untuk memenuhi keranjang kita. Kenyataannya tidak demikian. Kita harus menyiram, memelihara, dan menyiangi secara berkala, kalau kita berharap dapat menikmati hasil panennya.
Bagaimanapun setiap usaha akan memberi hasil. Segala sesuatu akan tumbuh. Tetapi tanah itu akan menjadi kebun yang indah atau semak belukar perbedaannya ditentukan oleh keterlibatan dan kelalaian kita sebagai tukang kebun atau tukang taman.
Catatan sederhana ini saya tulis diilhami oleh sebuah pembicaraan dengan seorang teman beberapa hari lalu, yang mengklaim bahwa buah jagung yang didapat saat ini adalah dari benih padi yang dia dulu pernah tinggalkan dengan keterlibatan seadanya dalam memeliharanya. Oleh karena itu buah jagung itu adalah miliknya, katanya.
Saya tidak mau membiasakan diri untuk bermain klaim. Saya hanya berusaha melakukan apa yang dimintakan oleh si pemilik lahan saja. Saya bukan mbok Minah yang mengambil 3 kakao untuk bibit dari lahan orang. Saya juga tidak berniat melupakan ada kontribusi teman. Menurut saya, apa yang dituai mesti sesuai dengan kontribusinya.
Tapi ala kulli hal, saya juga tidak mau ngotot untuk berebut buah itu dengan mengorbankan kotornya hati ini. Jika Anda berniat untuk bekerja sama, mari kita kerja sama dan menuai hasilnya bersama sesuai dengan kontribusi kita masing-masing. Jika anda menuntut yang lebih dari kontribusi Anda, silahkan Anda kerjakan sendiri. Jika anda memilih untuk keras, mari kita tanyakan kepada pemilik lahan.
Kalau boleh memilih dan kalau ini merupakan tindakan yang bertanggung-jawab, sebenarnya saya mungkin akan lebih memilih untuk mencari lahan lain untuk saya tanam, pelihara dan tuai hasilnya nanti. Bukankah Allah mengatakan bahwa bumi-Nya ini sangat luas, Kawan?
Haihat..Haihata min ad-dzillah! Pantang Hina!
Wednesday, December 9, 2009
Talking About Bakat
“Apa bakat Bapak?”, tanya rekan saya yang konsultan SDM kepada salah seorang pegawai bank dalam acara penjelasan assessment SDM Teknologi Informasi. Tak ada jawaban yang muncul dari pegawai tersebut, selain senyum-senyum dan tengok kanan-kiri. Lalu pertanyaan yang sama ditanyakan kepada para peserta acara tersebut lainnya. Dan tak ada jawaban dari para peserta kecuali beberapa gelintir orang yang berkata secara sporadis sambil senyum2: “Menyanyi..Olah raga..!”.
“Ada yang bisa bantu saya lagi menjawab apa bakat bapak ibu sekalian?”, lanjut teman saya itu mencoba memancing para peserta untuk berfikir apa bakat yang dimilikinya. Dan tak ada lagi jawaban yang keluar dari mulut puluhan peserta acara tersebut kecuali gemuruh suara para peserta yang saling mentertawakan teman-temannya karena sama-sama tak bisa menjawab apa bakatnya sendiri.
Ketika ditanyakan apakah definisi bakat, beragam pula jawabannya. Dan memang bakat ini didefinisikan secara beragam oleh berbagai ahli. Tapi secara umum, bakat dapat didefinisikan sebagai kemampuan potensial yang ada dalam diri seseorang untuk melakukan suatu jenis aktifitas tertentu, baik ia sudah dikembangkan ataupun belum.
Dalam hal pengembangan bakat ini ada sebuah perdebatan klasik yang menarik antara “Nature” versus “Nurture”. Perdebatan ini berkaitan dengan mana yang lebih penting antara bakat (nature) dengan penempaan/pelatihan (nurture) dalam hal pengembangan seseorang. Tentu saja keduanya penting untuk menghasilkan kemampuan kinerja pada suatu bidang/jenis aktifitas tertentu. Yang menjadi permasalahan berikutnya adalah manakah yang perlu dijadikan fokus penempaan, bagian kekuatan bakat kita atau sisi kelemahannya.
Kebanyakan orang akan menjawab bahwa kelemahanlah yang perlu menjadi fokus penempaan sehingga ia tidak lagi menjadi kelemahan lagi. Tapi tepatkah jawaban tersebut?
Salah satu lembaga yang melakukan survey untuk menemukan jawaban ini antara lain adalah Gallup, sebuah lembaga survey terkemuka dunia. Gallup melakukan survey terhadap bakat “membaca cepat” (speed reading) pada populasi tertentu yang ditentukan. Hasil survey pertama mengatakan bahwa kecepatan paling rendah adalah sekitar 90 kata per menit, dan yang tercepat adalah 350 kata per menitnya. Apa langkah terbaik yang harus dilakukan untuk meningkatkan kemampuan membaca cepat dari para peserta itu? Sebagian besar dari orang yang ditanya akan menjawab bahwa melatih peserta dengan kecepatan baca 90 kata per menit akan lebih mungkin menghasilkan signifikansi peningkatan ketimbang yang 350 kata/menit. Karena dalam bayangan kita masih ada rentang improvement yang cukup besar dari 90 kata/menit, sementara yang 350 kata/menit sepertinya sudah mendekati mentok.
Setelah dilatih metode speed reading yang baik, peserta yang semula memiliki kecepatan 90 kata/menit dapat berhasil ditingkatkan menjadi 140 kata/menit. Wah, bagus dong?!
Iya, bagus. Tapi bagaimana kalau yang dilatih speed reading adalah peserta yang sudah 350 kata/menit? Ternyata hasilnya adalah 6.000 kata/menit!! Jauh lebih menakjubkan, bukan?
Kenyataan hasil survey-survey yang sejenis ini kemudian mengarahkan kepada pengembangan pendekatan pengembangan SDM baru yang berbasis kekuatan (strenght-based approach). Kekuatan ini diidentifikasi sebagai bakat alamiah. Pendekatan ini menggantikan pendekatan yang sejak lama banyak digunakan yaitu deficit-based approach.
Paradigma Nature (lawannya nurture) meyakini bahwa bakat terbentuk sejak 60 hari sebelum manusia dilahirkan sampai dengan 14-16 tahun, dan sulit untuk berubah setelahnya. Diketahui bahwa setiap manusia dipastikan memiliki bakat atau karakter yang berbeda-beda. Oleh karena itu, daripada membuang-buang waktu dengan memberikan pelatihan yang ditujukan untuk memperbaiki kelemahan, akan lebih baik bila kita berfokus pada pengembangan KEKUATAN untuk mendapatkan hasil terbaik dan mensiasati KELEMAHAN yang ada.
Sang Maha Pencipta tidaklah menciptakan semua manusia dalam keadaan yang sama, dan tidak membekali potensi yang sama bagi semua bidang kepada setiap manusia. Untuk memutar roda-roda kehidupan, Dia menciptakan beberapa individu dengan potensi talenta yang khusus, agar setiap individu meniti sebuah jalan yang sesuai dengan talentanya dan melakukan aktifitas-aktifitas yang terpancar dari kecenderungan batin dan kekuatan fitrinya.
Seperti kata sebuah pepatah bijak: setiap rahasia memuat keindahan, beruntunglah orang yang menemukan talentanya!
Sungguh beruntunglah orang yang memupuk potensi-potensi baiknya, Qad aflaha man zakkaaha.
So, apa bakat kita? Apa bakat anak-anak kita? Oh God, guide me please.
“Ada yang bisa bantu saya lagi menjawab apa bakat bapak ibu sekalian?”, lanjut teman saya itu mencoba memancing para peserta untuk berfikir apa bakat yang dimilikinya. Dan tak ada lagi jawaban yang keluar dari mulut puluhan peserta acara tersebut kecuali gemuruh suara para peserta yang saling mentertawakan teman-temannya karena sama-sama tak bisa menjawab apa bakatnya sendiri.
Ketika ditanyakan apakah definisi bakat, beragam pula jawabannya. Dan memang bakat ini didefinisikan secara beragam oleh berbagai ahli. Tapi secara umum, bakat dapat didefinisikan sebagai kemampuan potensial yang ada dalam diri seseorang untuk melakukan suatu jenis aktifitas tertentu, baik ia sudah dikembangkan ataupun belum.
Dalam hal pengembangan bakat ini ada sebuah perdebatan klasik yang menarik antara “Nature” versus “Nurture”. Perdebatan ini berkaitan dengan mana yang lebih penting antara bakat (nature) dengan penempaan/pelatihan (nurture) dalam hal pengembangan seseorang. Tentu saja keduanya penting untuk menghasilkan kemampuan kinerja pada suatu bidang/jenis aktifitas tertentu. Yang menjadi permasalahan berikutnya adalah manakah yang perlu dijadikan fokus penempaan, bagian kekuatan bakat kita atau sisi kelemahannya.
Kebanyakan orang akan menjawab bahwa kelemahanlah yang perlu menjadi fokus penempaan sehingga ia tidak lagi menjadi kelemahan lagi. Tapi tepatkah jawaban tersebut?
Salah satu lembaga yang melakukan survey untuk menemukan jawaban ini antara lain adalah Gallup, sebuah lembaga survey terkemuka dunia. Gallup melakukan survey terhadap bakat “membaca cepat” (speed reading) pada populasi tertentu yang ditentukan. Hasil survey pertama mengatakan bahwa kecepatan paling rendah adalah sekitar 90 kata per menit, dan yang tercepat adalah 350 kata per menitnya. Apa langkah terbaik yang harus dilakukan untuk meningkatkan kemampuan membaca cepat dari para peserta itu? Sebagian besar dari orang yang ditanya akan menjawab bahwa melatih peserta dengan kecepatan baca 90 kata per menit akan lebih mungkin menghasilkan signifikansi peningkatan ketimbang yang 350 kata/menit. Karena dalam bayangan kita masih ada rentang improvement yang cukup besar dari 90 kata/menit, sementara yang 350 kata/menit sepertinya sudah mendekati mentok.
Setelah dilatih metode speed reading yang baik, peserta yang semula memiliki kecepatan 90 kata/menit dapat berhasil ditingkatkan menjadi 140 kata/menit. Wah, bagus dong?!
Iya, bagus. Tapi bagaimana kalau yang dilatih speed reading adalah peserta yang sudah 350 kata/menit? Ternyata hasilnya adalah 6.000 kata/menit!! Jauh lebih menakjubkan, bukan?
Kenyataan hasil survey-survey yang sejenis ini kemudian mengarahkan kepada pengembangan pendekatan pengembangan SDM baru yang berbasis kekuatan (strenght-based approach). Kekuatan ini diidentifikasi sebagai bakat alamiah. Pendekatan ini menggantikan pendekatan yang sejak lama banyak digunakan yaitu deficit-based approach.
Paradigma Nature (lawannya nurture) meyakini bahwa bakat terbentuk sejak 60 hari sebelum manusia dilahirkan sampai dengan 14-16 tahun, dan sulit untuk berubah setelahnya. Diketahui bahwa setiap manusia dipastikan memiliki bakat atau karakter yang berbeda-beda. Oleh karena itu, daripada membuang-buang waktu dengan memberikan pelatihan yang ditujukan untuk memperbaiki kelemahan, akan lebih baik bila kita berfokus pada pengembangan KEKUATAN untuk mendapatkan hasil terbaik dan mensiasati KELEMAHAN yang ada.
Sang Maha Pencipta tidaklah menciptakan semua manusia dalam keadaan yang sama, dan tidak membekali potensi yang sama bagi semua bidang kepada setiap manusia. Untuk memutar roda-roda kehidupan, Dia menciptakan beberapa individu dengan potensi talenta yang khusus, agar setiap individu meniti sebuah jalan yang sesuai dengan talentanya dan melakukan aktifitas-aktifitas yang terpancar dari kecenderungan batin dan kekuatan fitrinya.
Seperti kata sebuah pepatah bijak: setiap rahasia memuat keindahan, beruntunglah orang yang menemukan talentanya!
Sungguh beruntunglah orang yang memupuk potensi-potensi baiknya, Qad aflaha man zakkaaha.
So, apa bakat kita? Apa bakat anak-anak kita? Oh God, guide me please.
Friday, June 19, 2009
Bersama Kita Bisa?
Seorang Pria mengendarai mobilnya di sebuah jalan yang sepi ketika salah satu bannya meledak, hingga mobilnya menjadi tak terkendali sampai terperosok ke parit di tepi jalan. Dia berusaha keluar tapi urung setelah menyadari dirinya berada di suatu tempat yang amat sepi. Dan saat dia mulai panik, seorang petani melewati jalan itu dengan seekor keledai, Gus namanya.Petani itu mengikatkan satu ujung tali ke mobil dan satu ujung lagi ke leher Gus. Kemudian ia melecutkan cemetinya di udara dan berteriak:
“Yaaa, Sam! Tarik, Sam, tarik!”
Keledai itu tak bergerak. Sang petani melecutkan cemetinya lagi dan berteriak lebih keras:
“Yaaa, Jake. Tarik, Jake, tarik!”
Keledai itu masih tak bergerak. Sekali lagi, petani mengibaskan cemeti dan berteriak:
“Yaaa, Pete! Tarik, Pete, tarik!”
Gus masih belum bergerak. Dan kemudian petani itu melecutkan cemetinya dan berteriak lagi:
“Yaaa, Gus! Tarik, Gus, tarik!”
Sejenak kemudian, Gus menghentakkan salah satu kaki belakangnya, lalu bergerak ke depan dengan sekuat tenaga, menarik mobil itu keluar dari selokan. Hasilnya, beberapa saat kemudian, mobil itu sudah berada di jalan raya lagi. Pengendara mobil gembira, mengucap terima kasih, tapi tak habis pikir mengapa petani itu menyebut beberapa nama sebelum memerintahkan keledainya bergerak.
Ia bertanya, “Mengapa Anda memanggil semua nama tadi, wahai Petani?”
“Gus ini buta”, kata petani itu, “dan jika dia merasa harus sendirian menarik mobil Anda, dia tidak akan berusaha melakukannya. Tapi bila dia fikir ada yang membantunyya, dia lebih kuat daripada yang dia sadari.”
Sepertinya setiap orang punya naluri “keledai buta” dalam dirinya. Tinggal bagaimana seseorang bisa memanfaatkannya itu sehingga dapat digerakkan untuk mencapai tujuan.
Dalam “Imagine”, John Lenon mengatakan: “You may say that I’m a dreamer, But I’m not the only one”. Dia mengatakan itu ketika ingin meyakinkan setiap orang yang menginginkan kedamaian bahwa ia tidak sendirian.
Klub penggemar “The Reds” (Liverpool) punya slogan yang terkenal: “You’ll Never Walk Alone”. Bahkan slogan itu terpampang jelas di pintu gerbang markas Liverpool untuk menyemangati semua pemain dan official, dan tentunya semua fans, sekaligus juga sebagai strategi untuk menarik fans-fans baru.
Jadi, “bersama kita bisa” ini memang terbukti mujarab sebagai pendongkrak semangat, moral booster.
Tapi....kalau ditanya bisa apa? Jawabnya tergantung “si petani” nya. Mau dipakai untuk menolong mengeluarkan mobil yang terperosok, atau malah memerosokkan si Gus, keledai yang buta tadi. Tapi kita kan bukan keledai buta toh? Hehehe..
Sunday, June 14, 2009
Lanjutkan?!
Zona kenyamanan atau comfort zone adalah kondisi dimana seseorang merasa aman pada sebuah setting kondisi tertentu. Seseorang yang merasa berada dalam zona kenyamanan ini pada umumnya cenderung enggan untuk melakukan perubahan. Terdapat berbagai sebab dan alasan mengapa kelompok tersebut enggan melakukan perubahan, misalnya karena takut akan risiko kegagalan, takut posisinya akan terusik kalau terjadi perubahan, dan ketakutan-ketakutan lain yang menyebabkannya enggan untuk berubah.Tapi sebenarnya perlu nggak sih kita berubah?
Allah SWT telah mengatakan dalam al-Quran suci bahwa Dia tidak akan mengubah nasib suatu kaum hingga mereka sendiri berusaha untuk mengubahnya. Ada keterkaitan kuat antara usaha untuk berubah dengan hasil yang akan didapat. Berharap hasil yang lebih baik tanpa melakukan perubahan dalam cara kita untuk meraihnya adalah sebuah angan-angan kosong.
C.K. Prahalad, seorang konsultan manajemen kondang, mengatakan “if you don’t change, you die!”. Kaizen, sebuah filosofi terkenal asal Jepang yang juga menuntut untuk senantiasa melakukan perubahan ke arah yang lebih baik (continuous improvement). Rheinald Kasali, juga berteriak “Change! Tak peduli berapa jauh jalan salah yang Anda jalani, putarlah sekarang juga!”.
Tapi tentu saja tidak semua perubahan adalah positif. Perubahan yang positif adalah perubahan ke arah yang lebih baik. Sang junjungan alam, Rasulullah SAW, dalam kaitan ini pernah mengatakan bahwa “Barang siapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin, sesungguhnya dia telah beruntung. Barang siapa yang hari ini sama dengan hari kemarin, maka sesungguhnya ia telah merugi. Dan barang siapa yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin, maka sesungguhnya ia terlaknat/celaka”.
Jadi kesimpulannya, Perubahan itu perlu bahkan harus, tapi harus perubahan yang positif. Tapi di lain pihak, pada umumnya manusia cenderung resisten terhadap apapun yang baru. Oleh karena itu kemudian implementasi perubahan tersebut membutuhkan pengelolaan yang baik, atau yang sering dikenal dengan manajemen perubahan (change management).
Manajemen perubahan (Change Management) adalah sebuah istilah yang mungkin sering kita dengar, tapi sering kurang diperhatikan ketika akan mengimplementasikan suatu hal yang baru pada suatu masyarakat/komunitas/organisasi/dsb. Padahal kesuksesan penerapannya sangat bergantung kepada pemilihan strategi yang tepat dalam manajemen perubahan ini. Apa sih sebenarnya manajemen perubahan itu?
Manajemen perubahan secara definisi adalah sebuah pendekatan terstruktur untuk melakukan perubahan pada individu-individu, komunitas, organisasi ataupun masyarakat sehingga memungkinkan transisi dari kondisi sekarang menuju ke sebuah kondisi tertentu yang diinginkan. Implementasi sebuah konsep/sistem memerlukan strategi manajemen perubahan yang baik dan perencanaan yang baik pula menyangkut semua pihak yang terkait (stakeholders) sedemikian sehingga objektif dari perubahan tersebut dapat tercapai dengan sukses.
Salah satu tahapan penting dalam manajemen perubahan adalah menetapkan strategi dan langkah-langkah yang perlu dilakukan untuk menerapkan perubahan yang ditawarkan sehingga tujuan yang diinginkan dapat tercapai. Ada banyak strategi dalam manajemen perubahan, namun pada dasarnya merupakan kombinasi dari alternatif strategi berikut ini:
Pertama, pendekatan Empirical-Rational
Strategi ini akan tepat jika diasumsikan bahwa pihak-pihak yang terkait adalah orang-orang yang rasional dan akan mengikuti apa yang menurutnya paling baik.
Kedua, Normative-Reeducative
Strategi ini tepat jika diasumsikan bahwa pihak-pihak yang terkait adalah orang-orang yang sosial dan patuh terhadap norma-norma dan nilai-nilai kultural.
Ketiga, Power-Coercive
Strategi ini tepat jika diasumsikan bahwa pihak-pihak yang terkait termasuk orang-orang yang penurut dan secara umum mau melakukan apa yang diperintahkan atau dapat ”dipaksa” untuk melakukannya.
Keempat, Environmental-Adaptive
Strategi ini tepat jika diasumsikan bahwa pihak-pihak yang terkait telah merasakan kerugian dan keburukan konsep/sistem lama tapi lingkungan dimana mereka berada sudah susah diperbaiki. Mereka telah siap untuk beradaptasi dengan sistem yang baru.
Pertimbangan pemilihan strategi tersebut di atas bisa terdiri atas banyak hal, diantaranya besar kecilnya perubahan, tingkat resistensi, populasi, kerangka waktu, kualitas personal, dll. Tapi yang pasti, setiap strategi perubahan yang baik tidak pernah tunggal. Dia selalu merupakan kombinasi antara alternatif strategi-strategi yang ada.
Seorang manajer Teknologi Informasi di sebuah perusahaan besar di Indonesia pernah bercerita kepada saya, “Perusahaan ini aneh! Masak iya, ada seorang direktur merasa tersinggung karena saya mengirim laporannya via e-mail?!”. Ini adalah salah satu contoh riak kecil ketika perubahan sistem dan mekanisme tidak diikuti dengan manajemen perubahan yang baik. Lebih ironis lagi dalam kasus ini sang pemimpin sendiri yang tidak ingin berubah. Dia masih betah di comfort zone nya.
Adalah tugas seorang pemimpin untuk memimpin umat, masyarakat, atau komunitas yang dipimpinnya senantiasa untuk mau segera berubah ke arah yang lebih baik. Adalah tugasnya untuk senantiasa mendorong komunitas yang dipimpinnya untuk bersemangat melakukan perubahan ke arah yang lebih baik. Adalah tidak baik jika seorang pemimpin justru menakut-nakuti komunitas yang dipimpinnya terhadap perubahan hanya karena keinginannya untuk tetap lanjutkan posisinya sebagai pemimpin.
Perubahan ke arah yang memiliki potensi lebih baik, perlu didorong oleh semua pihak, terutama oleh para pemimpin. Bagi komunitas yang dipimpin hal ini juga dapat dijadikan kriteria untuk mengevaluasi pemimpinnya. Evaluasi terus bagaimana sikap pemimpin atau calon pemimpin terhadap perubahan ke arah yang lebih baik.
Jadi, selamat Lanjutkan (evaluasinya)!! Lebih cepat, lebih baik.
Subscribe to:
Posts (Atom)


