Showing posts with label Cerita Pribadi. Show all posts
Showing posts with label Cerita Pribadi. Show all posts

Saturday, February 20, 2010

Yang diingat dan Akhir Catatan Perjalanan

Siapa yang Anda ingat dari teman sekolah Anda dulu?”, kata seseorang di radio yang saya tak ingat namanya tapi dari logat bicaranya sangat jelas bergenre java medokensis. Umumnya teman yang diingat itu katanya adalah teman yang paling pintar, yang paling bengal, yang paling cantik/ganteng, yang paling heboh, dan yang paling-paling lainnya. Memori manusia itu lebih mudah menangkap titik-titik ekstrim dari pengalaman yang dilaluinya. Kalau yang berada di area “sedang-sedang” saja, ya mesti berjuang sedikit lebih keras supaya masih bisa terpajang di memory temannya itu atau perlu ada pemicu tertentu untuk dapat mengingatnya.

Selain titik-titik ekstrim tersebut, manusia juga sangat susah melupakan titik akhir dari pengalamannya dengan seseorang. Dia cerita punya teman yang sudah bersahabat dengan seseorang selama lebih dari 20 tahun, tapi kemudian akhirnya bertengkar karena suatu hal selama 3 hari. Kemudian ketika ditanya apa yang paling diingat dari mantan sahabatnya itu, ia menjawab 3 hari pertengkaran itulah yang paling diingatnya. Masa 20 tahun bersahabat itu menjadi seolah hilang dari memori karena 3 hari di ujung akhir pengalamannya itu.

Saya kemudian berfikir bahwa sepertinya karakteristik ingatan manusia ini yang kemudian diterapkan orang dalam berbisnis. Bagaimana membuat produk/jasa yang dijualnya senantiasa berada dalam titik ekstrim ingatan manusia, menjadi “top of mind”. Program-program pemasaran produk yang baik selalu berusaha menjaga agar produknya selalu pada puncak ingatan para target pelanggannya. Gimana ketika orang sakit flu, selalu yang teringat pertama adalah panadol/decolgen. Ingat batuk, ingat konidin. Ingat sakit kepala, ingat bodrex. Kentucky, jagonya ayam. Dan seterusnya.

Begitu juga sering kita temui setiap kita akan meninggalkan sebuah tempat, apakah itu sebuah toko, rumah makan, kereta api, pesawat, ataupun tempat2 lainnya, mereka menerapkan prosedur standard yang tujuannya memberikan pengalaman terakhir yang menyenangkan sehingga bisa berharap nyantol di memori para pelanggannya. Dengan kata-kata yang renyah dan senyum yang manis atau setidaknya berusaha dimanis2kan. Terima kasih, kami tunggu kunjungan berikutnya. Terima kasih atas kepercayaannya menggunakan jasa kami. Terima kasih, menyenangkan dapat berbisnis dengan Anda. Atau sekedar ucapan terima kasih dengan senyuman. Atau pengalaman akhir lain yang didesain tanpa ucapan untuk membuat orang untuk “repeat order”.

Berkaitan dengan hal yang kedua ini, the end of experience, tiba2 saya jadi merinding. Tiba2 terbayang di benak saya bagaimana nanti akhir pengalaman hidup saya ini. Karena tentunya itu akan sangat menentukan nasib “bisnis” saya setelah hidup ini berakhir nanti.

Kata Dr Ali Syariati, ketika seseorang mencium bau maut, ruhnya menjadi murni, dan di saat seseorang terbujur mati, maka saat itulah dia menunjukkan dirinya yang sejati.

Dapat dipastikan, hanya orang2 yang tahu bagaimana mereka seharusnya mati sajalah yang tahu bagaimana mereka seharusnya hidup. Benar, bahwa hanya orang2 yang memandang hidup bukan sekadar adanya nafas yang naik-turun sajalah yang tidak memandang kematian sebagai sekedar tidak adanya nafas.

Kita bisa melihat bagaimana orang2 suci nan agung pada saat2 akhir menjelang akhir perjalanan hidupnya.

Sang Putra Ka’bah, Imam Ali bin Abi Thalib, secara spontan berteriak “Fuztu wa rabbi ka’bah” (demi tuhan ka’bah, sungguh aku beruntung) ketika pedang beracun Abdurrahman Ibn Muljam dipukulkan kepadanya selagi beliau sholat. Di saat2 akhir hayatnya dalam rasa sakitnya karena racun di pedang ibn Muljam itu, ia tak pernah mengeluh sedikitpun. Beliau mengumpulkan anggota keluarganya dan memberikan petuah2nya.

Dia yang berkata pada orang banyak, “Sampai kemarin saya adalah pemimpin Anda, hari ini saya menjadi sarana pelajaran bagi Anda, dan besok saya akan meninggalkan Anda. Semoga Allah mengampuni kita semua!”.

Imam meninggalkan musuh2nya hidup di dunia, namun kehidupan mereka sama dengan kehancurannya sendiri.

Kemudian bagaimana pula manusia teragung sepanjang zaman, Rasulullah SAW pada saat2 beliau menjelang akhir hayatnya. Beliau saw selalu ingat umatnya, “Ummatii...ummatiii”. Beliau saw juga terus berupaya memberikan nasehat-nasehatnya.

Diriwayatkan, pada suatu hari Ka’ab Akhbar bertanya kepada Khalifah Umar, “Apa yang dikatakan Nabi tepat menjelang wafatnya?” Khalifah Umar menunjuk kepada Ali, yang juga ada disana, seraya berkata, “Tanyakan kepadanya.”
Kemudian Ali berkata, “Sementara kepala Nabi tersandar ke bahu saya, beliau berkata, ‘Shalat, shalat!’”. Ka’ab Ahbar lalu berkata, “Ini pula cara nabi2 sebelumnya.” [Thabaqat Kubra, II, h.254, dikutip dari ar-Risalah, h.694]

Sejumlah ahli hadits mengutip kalimat terakhir yang diucapkan Nabi SAW sebelum menghembuskan nafas terakhirnya adalah, “Tidak! Dengan Sahabat Ilahi.”
Beliau saw lebih memilih menjalani kehidupan setelah dunia bersama orang2 yang disinggung dalam ayat:
Mereka itu akan bersama2 dengan orang2 yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi, para shiddiqiin, orang2 yang mati syahid, dan orang2 saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik2nya.”(QS: an-Nisa’:69).

Setelah mengucapkan kalimat tersebut, Nabi pun wafat. [A’lam al-Wara’, h.83, dikutip dari ar-Risalah, h.695].

Duhai, sungguh kesuksesan sejati jika bisa seperti beliau berdua dan orang2 yang besamanya.

Wa fuztum fauzan adziimaa..(Sungguh engkau telah menang dengan kemenangan yang besar)
Fa yaa Laitanii kuntu ma’akum, fa afuuza ma’akum fauzan adziimaa (Duhai, seandainya aku dapat bersamamu, agar aku dapat menang bersamamu dengan kemenangan yang besar)

Ya Rabb, bila hari2 kehidupan kami mulai lewat, bila batas umur kami sudah habis, dan kami sudah harus memenuhi undangan-Mu yang tak bisa ditunda2 lagi, maka isilah di akhir catatan amalan kami yang ditulis oleh malaikat pencatat dengan amalan taubat yang diterima, yang tidak lagi dipenuhi catatan dosa yang pernah kami lakukan.

Ya Allah, Janganlah Engkau membuka rahasia kami yang Engkau tutup rapat di hadapan para saksi, di suatu hari dimana seluruh catatan amal hamba-Mu sedang diperiksa.
Sesungguhnya Engkau Maha Penyayang atas mereka yang menyampaikan doa kepada-Mu. Maha Penerima jawaban atas mereka yang memanggil-Mu.

Ya Allah biha, Ya Allah biha, Ya Allah bi khusn al-Khaatimah.. [undzurilaina]


Monday, January 11, 2010

Remote Control

Mister Ayip (bukan nama sebenarnya), adalah salah seorang teman yang sempat serumah kontrakan dulu waktu masih kuliah di Bandung. Dia juga memiliki panggilan sayang yang mirip dengan nama organisasi negara2 Asia Pasific, APEX. Salah satu hal yang menjadi kegemarannya adalah memegang kendali remote hampir setiap nonton TV bareng2. Lebih lagi, ternyata hobinya itu tidak hanya dia salurkan sewaktu nonton TV di rumah saja.

Pernah suatu kali dia bersama teman saya yang lain (Mister K) sedang ngantri menunggu dilayani di sebuah apotek besar di Bandung. Di ruang tunggu Apotek itu tersedia TV yang disediakan khusus bagi para customer yang sedang antre. Melihat TV itu, dia seperti gelisah mencari sesuatu di sekeliling TV tsb. Sampai akhirnya, dia menemui pelayan Apotek dan bertanya:

“Mbak, bisa pinjam remote TV itu?”

Begitu dia mendapatkan alat kesayangannya itu, langsunglah dia beraksi berselancar diantara stasiun2 TV yang waktu itu sebenarnya tak seberapa banyak.

Melihat kelakuannya, Mister K yang dari tadi hanya mengamati itu berkomentar:
“Yip, nanti kalau ente ulang tahun, ane sumbang remote deh!”.
“Hahaha...”, keduanya pun tertawa.

“Kecintaan” para pengguna TV kepada remote ini ternyata merupakan fenomena yang umum terjadi di banyak tempat. Dan karena “kecintaan” itu juga yang menyebabkan benda kecil itu sering hilang, baik sebagian (masih menyisakan jejak2 beberapa komponennya) maupun seluruhnya. Hilang sementara ataupun selamanya. Saya sendiri sering kali kehilangan remote TV saya di rumah, seiring dengan membesarnya 2 jagoan saya.

Ada sebuah survey yang menarik berkaitan dengan kecintaan pada benda bernama Remote Control ini. Di Amerika pernah dilakukan survey yang menghasilkan antara lain:
- Lebih dari setengah (55%) dari responden mengatakan bahwa mereka kehilangan remote control mereka sampai lima kali seminggu

- Karena kehilangan remote control tersebut, 63% orang Amerika mengatakan bahwa mereka menghabiskan sampai lima menit per hari untuk mencarinya

- Tempat dimana orang Amerika paling sering menemukan kembali remote control mereka adalah di atas sofa atau di bawah mebel (38%), di dapur atau kamar mandi (20%), dan, YA, di dalam Lemari es (6%)

- Delapan belas persen kaum perempuan yang disurvey, bandingkan dengan hanya 9% kaum laki2, mengatakan bahwa jika mereka harus memilih, mereka akan memilih tidak melakukan hubungan seks daripada harus kehilangan remote control TV mereka selama satu minggu. (Komentar dari editor: GILA!).

Sampai2 berdasarkan survey tersebut, sebuah produsen TV kemudian membuat TV dengan fitur unggulan “Remote Locator”. Jika pengguna TV kehilangan remotenya, tersedia tombol di TV tsb untuk me-"missed-call" sang remote selama 30 detik.

Demikian, ternyata teman saya mister Ayip itu punya banyak teman di Amerika sana. Tapi saya nggak tahu, apakah dia juga pernah menemukan remote nya di Lemari Es, atau mungkin lebih memilih nyuekin istrinya ketimbang kehilangan remote. Heheh...[undzurilaina]

Saturday, December 19, 2009

Tak ada tukang taman, tak ada taman..

Alkisah, seorang pengusaha sukses, sebut saja Fred namanya, baru pindah ke rumah barunya. Dia punya impian untuk memiliki sebuah taman indah di rumah barunya. Oleh karena itu dia memutuskan untuk menggunakan jasa konsultan pertamanan yang juga temannya untuk merancang taman di rumah barunya itu. Temannya ini cukup terkenal sebagai konsultan pertamanan yang handal.

Sebagai pengusaha yang cukup sukses, Fred terhitung sangat sibuk sehingga praktis tidak punya waktu yang cukup untuk merawat pekarangannya. Oleh karena itu dia minta ke temannya yang konsultan pertamanan itu agar menciptakan taman yang sedemikian rupa shg hanya butuh sesedikit mungkin perawatan. Antara lain dia minta ada alat penyiram otomatis dan peralatan otomtatis lain yang memungkinkan semuanya jalan sendiri tanpa perawatan. Pendek kata, yang dia fikirkan adalah bagaimana caranya punya taman yang indah tanpa perawatan.

Setelah mendengarkan dengan seksama ocehan Fred tentang spesifikasi kebutuhan tamannya itu, Akhirnya sang konsultan itu kemudian berkomentar, “Fred, saya dapat memahami apa yang kau katakan. Tetapi ada satu hal yang perlu kau pahami sebelum kita melangkah lebih jauh: Bila tak ada tukang taman, tak ada taman!

Mungkin banyak diantara kita yang bermimpi untuk mengandalkan taman (baca: bisnis, organisasi, keluarga, hidup...) pada sesuatu yang bersifat otomatis dan instan. Kemudian berharap munculnya hasil akhir yang dahsyat.

Tetapi kehidupan tidaklah berjalan seperti itu. Kita tidak dapat begitu saja menyebar sedikit benih, lalu pergi, dan melakukan apa pun yg kita mau, kemudian berharap bahwa di kemudian hari ketika kembali, kita menemukan kebun yang indah dan tumbuh subur, siap untuk menghasilkan panen buah dan sayur2an untuk memenuhi keranjang kita. Kenyataannya tidak demikian. Kita harus menyiram, memelihara, dan menyiangi secara berkala, kalau kita berharap dapat menikmati hasil panennya.

Bagaimanapun setiap usaha akan memberi hasil. Segala sesuatu akan tumbuh. Tetapi tanah itu akan menjadi kebun yang indah atau semak belukar perbedaannya ditentukan oleh keterlibatan dan kelalaian kita sebagai tukang kebun atau tukang taman.

Catatan sederhana ini saya tulis diilhami oleh sebuah pembicaraan dengan seorang teman beberapa hari lalu, yang mengklaim bahwa buah jagung yang didapat saat ini adalah dari benih padi yang dia dulu pernah tinggalkan dengan keterlibatan seadanya dalam memeliharanya. Oleh karena itu buah jagung itu adalah miliknya, katanya.

Saya tidak mau membiasakan diri untuk bermain klaim. Saya hanya berusaha melakukan apa yang dimintakan oleh si pemilik lahan saja. Saya bukan mbok Minah yang mengambil 3 kakao untuk bibit dari lahan orang. Saya juga tidak berniat melupakan ada kontribusi teman. Menurut saya, apa yang dituai mesti sesuai dengan kontribusinya.

Tapi ala kulli hal, saya juga tidak mau ngotot untuk berebut buah itu dengan mengorbankan kotornya hati ini. Jika Anda berniat untuk bekerja sama, mari kita kerja sama dan menuai hasilnya bersama sesuai dengan kontribusi kita masing-masing. Jika anda menuntut yang lebih dari kontribusi Anda, silahkan Anda kerjakan sendiri. Jika anda memilih untuk keras, mari kita tanyakan kepada pemilik lahan.

Kalau boleh memilih dan kalau ini merupakan tindakan yang bertanggung-jawab, sebenarnya saya mungkin akan lebih memilih untuk mencari lahan lain untuk saya tanam, pelihara dan tuai hasilnya nanti. Bukankah Allah mengatakan bahwa bumi-Nya ini sangat luas, Kawan?

Haihat..Haihata min ad-dzillah! Pantang Hina!


Saturday, October 31, 2009

The Delay Country

Siang itu, saya menunggu di ruang tunggu airport balikpapan ketika mendengar pengumuman bahwa pesawat yang saya akan saya tumpangi mengalami keterlambatan (DELAY) cukup signifikan (sekitar 2 jam, seingat saya). Para calon penumpang pun jelas kecewa mendengar informasi tersebut. Maskapai plat merah yang punya cita-cita menjadi maskapai kelas dunia dengan keramahan khas Indonesia ini kemudian berusaha menghibur calon penumpangnya dengan memberi sekotak snack. Alasan keterlambatan katanya karena masalah teknis. Hmmmm....keramahan khas Indonesia?

Kemarin kebetulan saya menggunakan maskapai yang sama untuk tujuan yang lain. Kali ini saya diburu waktu untuk mengejar penguburan jenazah nenek yang meninggal di Solo. Saya ketiban sial lagi mendengar pengumuman DELAY pesawat, tapi kali ini tidak ada sekotak snack yang datang sebagai “penghibur” yang tidak berarti. Alasan keterlambatannya katanya karena pesawat yang terlambat datang dari Palembang. Hmmm...khas Indonesia?

Di perjalanan saya baca koran yang disediakan. Lembar demi lembar berita yang ada dalam koran itu sepertinya kok hampir tidak ada berita yang positif. Headline koran tentunya masih seputar berita penahanan pimpinan KPK non-aktif yang kontroversial itu. Sementara, entah kenapa, penahanan sang koruptor sendiri malah di-DELAY.
Saya teringat juga bahwa pada hampir setiap ada bencana, bantuan terhadap korban selalu ter-DELAY dengan alasan yang begitu beragam.

Saya juga teringat banyaknya program pemerintah yang DELAY karena alasan-alasan yang luar biasa kreatifnya. Hebatnya lagi, bukannya minta maaf dan mengakui kesalahan atau setidaknya memberikan “snack penghibur”, mereka seperti tidak merasa melakukan kesalahan apapun dan melontarkan sejuta pernyataan2 apologis, bahkan tak jarang memutar-balikkan esensinya.

Wah, sepertinya saya saat ini sedang berada di negeri yang penuh dengan DELAY. Oh ya, waktu saya berjalan untuk masuk ke pesawat yang DELAY tadi, saya melihat di badan pesawatnya tertulis “Visit Indonesia Year 2009”. Celetukan spontan saya waktu itu adalah “mudah2an program itu juga nggak ikut ter-DELAY”. Belakangan saya baru tahu bahwa ternyata program ini awalnya adalah program tahun 2008 (lihat gambar). Hmmm...Yes, I am in the DELAY Country.

Saturday, April 4, 2009

Duhai..Ibu dan Ayahku

Dalam karyanya “Risalatul Huquq“ (pandangan Islam tentang HAM), Imam Ali Zainal Abidin as-Sajjad ra menjelaskan hak-hak dari beragam pihak. Ketika sampai pada hak Ibu, beliau as mengatakan:
“Kemudian, hak ibumu adalah hendaknya engkau mengetahui bahwa dialah yang telah mengandungmu, sementara tidak seorang pun akan bersedia mengandung orang lain seperti itu.

Dia memberimu makan dari buah hatinya, sedang tidak seorang pun bersedia memberi makan orang lain seperti itu. Dia menjaga keselamatanmu dengan pendengarannya, penglihatannya, tangannya, kakinya, rambutnya, kulitnya, dan seluruh organ tubuh lainnya. Dia sangat berbahagia melakukannya. Dia senang dan riang, tabah menanggung segala beban yang mengganggunya; rasa sakit, dan kerisauannya hingga saat dia, oleh kekuasaan takdir, dibebaskan dari dirimu yang membebaninya lalu mengeluarkanmu ke alam dunia. Dia tetap rela menjadikanmu kenyang ketika dia sendiri lapar; memberimu pakaian ketika dia telanjang; memberimu minuman ketika dia haus; menaungimu dalam keteduhan ketika dia kepanasan; membahagiakanmu ketika dia menderita serta menidurkanmu ketika ia berjaga.
Perutnya menjadi wadah penyimpanan bagimu, pangkuannya tempat yang aman untuk merangkummu, susuannya disediakannya untuk minumanmu dan dirinya sendiri bagai perisa penjaga keselamatanmu. Dia menahan panas dan dinginnya dunia bagimu demi memeliharamu. Maka, patutlah engkau berterima kasih padanya untuk semua itu. Engkau tak akan mampu menunjukkan rasa terima kasihmu kepadanya, kecuali jika dengan pertolongan Allah dan taufik-Nya.”

Pikiranku jadi melayang ketika aku menyaksikan bagaimana ibuku mengandung adikku dulu. Dimana karenanya urat-urat di kakinya membengkak. Dimana karenanya ia harus merangkak untuk menuju ke kamar mandi. Dimana karenanya mual dan muntah adalah rutinitasnya sehari-hari. Dimana karenanya tidur nyenyak adalah sebuah kemewahan yang jarang ia dapatkan setiap malamnya. Dan banyak lagi kesusahan yang ia tanggung dengan sepenuh ridha selama lebih sembilan bulan untuk kemudian ia mempertaruhkan hidupnya untuk melahirkan buah hatinya ke dunia yang fana ini, untuk ia peluk dan sayangi sepanjang hidupnya. Aku membayangkan seperti itulah kiranya sewaktu ibuku mengandung aku dulu. Ya Allah, curahkanlah rahmat-Mu sebesar2nya untuknya. Karena bagaimana pun aku takkan mampu untuk berterima kasih kepadanya.

Aku ingat betapa aku tidak henti2nya membuatnya berkorban demi kesenanganku. Aku ingat waktu aku baru masuk SMP dulu. Ketika aku pulang sekolah, ibuku bertanya: “Kenapa, Mar? Kok keliatannya sumpek gitu? Gimana tadi di sekolahan?”. Aku cerita bahwa tadi ada pelajaran mengetik, tapi karena aku sama sekali belum pernah megang mesin tik, maka jadinya aku termasuk yang ketinggalan di kelas. Setelah cerita itu, tanpa merasa apapun, kemudian aku beraktifitas yang lain karena memang bagiku tidak terlalu penting. Tapi rupanya tidak demikian halnya dengan ibuku, setelah mendengar ceritaku tadi. Tanpa sepengetahuanku, rupanya ia mencari tahu dimana ia bisa beli mesin ketik dan berapa harganya. Dua hari setelah itu, aku dikejutkan ketika ibuku datang dan turun dari becak yang ditumpanginya dengan membawa sebuah mesin tik baru merk “brother”. Kontan saja aku sangat gembira dengannya. Tapi aku kemudian berfikir ini pasti mahal harganya. Aku pun tanya kepadanya, “Makasih ya, Mah. Ini pasti mahal ya, Mah? Berapa harganya, Mah?..”. Ia pun tidak menjawab pertanyaanku, ia hanya berkata semoga aku senang dan tidak ketinggalan pelajaran ngetik di sekolah. Belakangan aku baru tahu bahwa harga mesin tik itu dulu (sekitar tahun ’87-an) adalah 75 ribu, dan ibuku dapat membelinya setelah menjual sebuah gelang emas miliknya. Ya Allah, Rahmatilah Ibuku dengan seluas-luas rahmat-Mu, ya Rabb. Sangat berat baginya melihat sekecil apapun keresahanku. Mampukah aku merasakan hal yang sama terhadapnya?

Kemudian ingatanku melayang lagi ketika aku akan kuliah di Bandung dulu. Aku ingat betul kondisi ekonomi keluarga waktu itu yang amat berat untuk menanggung biaya2 yang aku perlukan. Aku bersyukur ada beberapa orang dari saudaraku yang bersedia mendukungku dalam sebagian pembiayaan yang kuperlukan. Ibuku bukanlah orang yang mudah untuk meminta bantuan kepada orang lain, walaupun kepada saudara sendiri. Belakangan aku baru tahu kalau ibuku dulu pernah tak mampu mengeluarkan sepatah katapun kepada saudaranya lewat telepon. Hanya isak tangis yang dapat didengar oleh saudaranya dari ujung telpon sebelah sana. Pekerjaan yang sangat berat itu, ia mau lakukan demi aku, anaknya yang tak tahu diri ini.

Aku juga ingat bagaimana jerih payah ayahku dalam mencari nafkah dan memberi pendidikan terbaik buat semua anak2nya. Ia yang sering tak dapat menahan rasa kantuknya untuk tetap menjaga toko kelontong yang menjadi tumpuan penghasilan keluarga semenjak kebangkrutan pabriknya dulu. Ia yang mau beranjak dari kantuknya untuk melayani pembeli permen senilai 100 perak 3 buah. Kemuliaan anak2nya adalah beban yang dengan sepenuh ridha ia tanggung. Kebanggaannya adalah ketika melihat anaknya bangga. Kebahagiaannya adalah ketika melihat anaknya bahagia. Kesedihannya adalah ketika melihat anaknya sedih atau salah jalan.

Duh..sungguh tak kuasa aku melanjutkan tulisanku ini. Tak mampu aku mengingat dan menuliskan semua jasa dan pengorbanan kedua orang tuaku dari aku di kandungannya sampai kini dan nanti.
Karena itu, Ya Ilaahi, Ya Maulaya, Ya Rabbii…
Aku bermohon kepada-Mu, dengan rahmat-Mu yang meliputi segala sesuatu
Ya Allah, demi kemuliaan Nabi-Mu dan keluarganya, muliakan pula kedua orang tua ku, Ya Rabb.
Ya Allah, demi keistimewaan Nabi-Mu dan keluarganya, istimewakan pula kedua orang tuaku, Ya Sayyidi.
Ya Allah, berilah aku petunjuk untuk mengetahui apa yang mesti aku lakukan kepada kedua orang tuaku,
Berilah aku kemampuan untuk mengetahui semua kewajiban itu secara sempurna, Ya Maulaya.
Ya Allah, buatlah aku berbakti kepada keduanya sebagaimana kebajikan seorang ibu yang pengasih,
Jadikan ketaatanku dan kebaktianku kepada kedua orang tuaku sebagai rasa kasih yang lebih menyenangkan hati daripada tidurnya orang2 yang mengantuk;
dan lebih terasa segar di dada daripada segarnya minuman orang2 yang haus;
sehingga aku bisa mendahulukan keinginan mereka daripada keinginanku sendiri,
dan mengutamakan keridhaannya daripada keridhaanku sendiri.

Ya Allah, rendahkanlah suaraku di hadapan mereka,
Hiasilah ucapanku dengan kata manis kepadanya,
Lembutkanlah setiap tingkah dan kelakuanku kepadanya,
Isilah hatiku dengan rasa kasih kepadanya,
Biarlah aku tetap menyertainya dan tetap merindukannya.

Ya Allah, balaslah kebaikan mereka atas pendidikan yang diberikan padaku,
Dan berilah ganjaran penghargaan kepada mereka karena telah memuliakanku,
Serta peliharalah mereka sebagaimana mereka dulu memeliharaku di waktu kecil.

Ya Allah, apa pun yang menimpa mereka, apakah itu berupa kesalahan yang aku perbuat, tingkah laku yang tidak menyenangkan mereka atau kelalaian yang aku perbuat,
Jadikanlah itu semua sebagai penebus dosa2 mereka, pengangkat derajat mereka, penambah kebaikan mereka, Wahai yang Maha Kuasa merubah segala kesalahan menjadi kebaikan yang berlipat ganda.

Ya Allah, apapun kesalahan yang mereka perbuat, aku mengharap Engkau mengampuni kesalahan mereka.
Bagaimana tidak, ya Ilahi. Panjangnya masa mereka mengurusku?
Bagaimana pula beratnya kelelahan mereka dulu dalam menjaga dan memeliharaku?
Bagaimana pula pengorbanan mereka dulu dalam melapangkan hidupku?
Sungguh besar jasa mereka dalam mengurus kepentinganku, aku tak mampu membalas kebaikan mereka hanya dengan melaksanakan semua kewajibanku kepada mereka, dan aku tidak mampu memenuhi semua kewajiban berbakti kepada mereka.

Jadikanlah aku menjadi penutup lubang keperihan yang keduanya rasakan saat ini,
Jadikanlah orang yang saat ini terus melubangi perasaan, pandangan dan pendengarannya untuk segera bersadar, Ya Rabbi, Ya Raja’I wa ya Mu’tamadii.
Untuk segera menyadari apa akibat yang telah ia lakukan bagi kedua orang tuanya.
Dan untuk itu, Ya Rabbi. Tunjukkanlah kepadaku, apa yang dapat aku lakukan untuk membantunya. Agar mereka dapat senantiasa tentram dalam masa tuanya.
Ya Allah, janganlah Engkau membuatku lupa mengingat kedua orang tuaku,
di setiap akhir shalatku,
di setiap saat di malam hariku,
di setiap waktu di siang hariku.

Dan terakhir, Ya Rabb.
Bila ampunan-Mu Engkau dahulukan kepada mereka, maka berikanlah mereka kesempatan memberi syafaat kepadaku,
Dan jika ampunan-Mu Engkau dahulukan kepadaku, maka berilah aku kesempatan untuk memberi syafaat kepada mereka,
Sehingga kami bisa berkumpul dengan kasih sayang-Mu,
di negeri kemuliaan-Mu,
dan di tempat Maghfirah-Mu.

Limpahkanlah sebaik sholawat dan salam kepada junjunganku dan Rasul-Mu beserta keluarganya,
Sesungguhnya Engkau Pemilik karunia yang Agung dan Pemilik keberkahan yang tak pernah henti, Engkaulah Maha Pengasih dari semua yang mengasihi.[undzurilaina]

Sunday, March 22, 2009

Taqdir Menurut Fauzan dan Saya

Fauzan adalah anak sulung saya yang bulan lalu genap berusia 6 tahun. Kemarin sore setelah “perang bantal guling” dengan saya, saya cukup dikejutkan dengan pertanyaannya yang menurut saya cukup berat untuk ukuran anak seusianya.

Dia bertanya: “Bi, kenapa sih kita mesti menyembah Allah?”


Saya menjawab: “Hmm..karena Allah yang menciptakan kita semua. Allah yang kasih kita semua, kita bisa sehat, bisa sekolah, bisa ngomong, bisa makan, bisa minum, bisa nafas, bisa jalan, dan semuanya itu anugerah dan izin Allah. Jadi memang pantas kalau Allah itu kita sembah.”

Fauzan tampak berfikir mendengarkan jawaban saya, tapi dengan segera dia melontarkan pertanyaan susulan yang menurut saya tidak kalah beratnya:

“Berarti kita itu mainannya Allah dong, Bi?”

“Lho, kok?”, tanya saya singkat.

“Ya kan Allah yang bikin fauzan makan, bikin fauzan ngomong sama bikin yang lain2. Terus fauzan kalau ngomong nggak sopan sama Abi, terus nakal berarti juga Allah yang bikin kan? Berarti semua itu mainannya Allah..”, jawab fauzan dengan sangat yakin akan logikanya sendiri.

Saya jawab, “Bukan gitu, sayang…Allah itu Maha Adil..”.

Belum sempat bicara lebih lanjut, fauzan memotong penjelasan saya dengan mencoba meyakinkan saya bahwa logikanya itu yang benar dan lalu mengajak meneruskan perang bantal guling yang sempat tertunda karena 2 pertanyaan berbobot tadi.

Saya pun mengiyakan ajakannya. Saya juga tidak ingin menghentikan proses berfikir fauzan terlalu cepat untuk sampai pada jawaban bagaimana konsep taqdir dan keadilan Ilahi. Untuk sementara biarkan pertanyaan-demi-pertanyaan muncul di benaknya, agar jawaban merupakan hasil dari prosesnya berfikir, bukan sekedar doktrinal.

Setelah itu saya berfikir sepertinya pemahaman seperti fauzan yang 6 tahun itu juga banyak dipegang oleh cukup banyak muslimin dunia sejak zaman dulu sampai sekarang. Pemahaman tersebut juga bahkan punya dasar dalam al-Quran Mulia. Dalam Al-Quran terdapat ayat2 yang mengatakan bahwa segala hal sudah ditentukan oleh Allah SWT, manusia –mau tidak mau—harus menjalani setiap peran dan nasib yang telah ditentukan tersebut. Karena pemahaman keterpaksaan itu maka pahaman ini dikenal dengan paham Jabariyah (berasal dari kata jabr yang berarti terpaksa).

Lawan dari pahaman Jabariyah ini yaitu pahaman yang menyatakan bahwa manusia sepenuhnya bebas untuk memilih, tidak mempercayai adanya taqdir yang membatasi setiap usaha manusia. Pahaman ini juga memiliki dasar dalam al-Quran Suci. Pahaman ini sering dikenal dengan paham Qadariyah.
Kedua pemahaman tersebut kemudian melebur ke dua firqah besar dunia. Jabariyah diadopsi oleh firqah Asy’ariyah, sementara pemahaman ala Qadariyah dianut oleh kelompok Mu’tazilah.

Saya, tidak sepenuhnya sepakat dengan kedua aliran tersebut di atas. Saya sepakat dengan pemahaman ketiga yang dianut oleh beberapa madzhab pemikiran yang tersebar. Pemahaman tersebut menyatakan bahwa manusia memang memiliki kebebasan berkehendak, apa yang terjadi adalah akibat dari serangkaian sebab yang dipilih oleh manusia secara langsung ataupun tidak langsung. Tapi semua itu ada dalam lingkaran batas-batas yang ditentukan-Nya. Manusia itu bukanlah seperti batu yang kalau digelindingkan dari atas bukit pasti akan menggelinding ke bawah karena adanya gravitasi. Manusia bukanlah seperti bulan dan matahari yang telah ditaqdirkan untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang dilakukannya (wa al-qomaru qoddarnaahu manazila hatta urjuuni al-qadim). Manusia itu diberikan hidayah dan kemampuan untuk berkehendak dan memilih jalannya masing2. Semua manusia memilikinya (wa al-ladzi qaddara fa HADAA). Allah memberi aturan2, apabila kamu begini maka akan begitu. Kalau mau selamat, ikuti jalan ini, apabila tidak kamu akan celaka. Jadi kesempurnaan sebab2 dan lantaran2 itu sebenarnya merupakan realisasi dari Taqdir Ilahi.

Usaha/ikhtiyar yang dilakukan oleh manusia tidak perlu dipertentangkan dengan kekuasaan dan kehendak Sang Khaliq, karena tidak ada usaha/ikhtiyar yang dilakukan tanpa persetujuan (izin) Allah. Toh ketika kita berikhtiyar, pada hakekatnya kita hanya berpindah dari taqdir yang satu ke taqdir yang lainnya (yang kesemuanya tidak bertentangan dengan Ilmu-Nya). Ketika misalnya kita berdiri di rel KA dan ada kereta yang mendekat kencang, disana kita punya pilihan. Kalau kita tidak menghindar, maka GUBRAKK!! Taqdirnya meninggal. Tapi kalau kita memilih menghindar, maka taqdirnya hidup. Hal ini tidak terus diartikan ketidak berdayaan ALLAH SWT, karena semuanya itu bersumber dari Iradat, ketentuan dan taqdir Ilahi juga. Sebebas-bebasnya, semua masih dalam kerangka Ilmu dan kehendal-Nya. Kita tidak tahu batasnya, batasnya adalah kemauan dan kemampuan kita dalam berusaha.


Diriwayatkan dulu Imam Ali as pernah bangun dan pindah dari bawah sebuah dinding yang mulai miring. Seseorang yang melihatnya kemudian bertanya kepada beliau: “Wahai Amirul Mukminin, apakah anda lari dari qadha Allah?”
Beliau ra menjawab: “Aku lari dari qadha Allah ke qadha-Nya SWT”. Jadi, ia lari dari sebuah ketentuan ke ketentuan-Nya yang lainnya. Jatuhnya dinding yang telah miring merupakan ketentuan Ilahi, sehingga sewajarnya tembok itu akan menjatuhi kepala seorang manusia pada saat terpenuhinya segala persyaratannya. Akan tetapi apabila manusia itu menghindar darinya, maka ia pun akan selamat dari bencana, dan ini pun merupakan ketentuan Ilahi juga.

Disebutkan juga bahwa suatu hari pernah Khalifah Umar bin Khattab (ra) dalam perjalanannya menuju Syam, sebelum memasuki daerah itu mendengar berita adanya wabah sampar. Ketika bermusyawarah dengan orang2 yang bersamanya, mereka semuanya mencegahnya untuk meneruskan perjalanan, kecuali Abu Ubaidah bin Jarrah yang waktu itu menjabat palima pasukan muslim di Syam. Ia berkata kepada Umar: “Wahai Amirul Mukminin, adakah Anda melarikan diri dari taqdir Allah?” Umar pun menjawab: “Ya, aku lari dari takdir Allah dengan taqdir-Nya dan kepada taqdir-Nya.”


Riwayat2 tersebut jelas menerangkan bagaimana makna taqdir Ilahi itu. Ada taqdir2 yang bersifat definitif (tetap) dan ada yang masih menggantung (tidak definitif). Al-Quran berbicara tentang sistem2 yang tetap ini dan menamakannya dengan Sunnatullah:
“Kamu sekali-kali tiada akan mendapati perubahan pada sunnah Allah.” (QS 33: 62).

Diantara sunnatullah yang definitif itu adalah hanya berubahnya kondisi manusia setelah manusia itu sendiri mengubahnya (lihat QS 13:11).

Contoh sunnatullah yang lain misalnya bahwa orang2 zalim yang akan memilih teman yang zalim juga.
“Dan demikianlah Kami jadikan sebagian orang-orang yang zalim itu menjadi teman bagi sebagian yang lain.” (QS 6:129).

Dan banyak lagi contoh sunnatullah yang dijelaskan oleh Allah SWT dalam al-Quran.

Kesimpulannya suatu realitas itu nasibnya mengikuti penyebabnya.
“Sesungguhnya manusia itu bergantung pada usaha dan kerjanya.” (QS. An-Najm:39).

Sehingga disebabkan karena sesuatu itu berhubungan dengan banyak sebab, maka ia pun memiliki nasib yang berbeda2 pula. Perlu diingat juga bahwa disamping faktor2 yang bersifat materiil seperti “minggir dari rel KA” pada contoh di atas, ada juga faktor penyebab lain yang non-materi seperti doa, sedekah, serta perbuatan baik yang juga akan ikut mempengaruhi nasib seseorang.

Fauzan sayang, sekarang abi lanjutkan perkataan yang kau potong kemarin ya, walaupun mungkin engkau membacanya nanti setelah engkau beranjak matang…

Jadi bukan gitu sayang, Allah itu Maha Adil. Nggak mungkin Dia membuat kita seperti mainan yang dikendalikan-Nya tapi setelah itu kita diadili-Nya karena apa yang kita lakukan. Allah itu sudah kasih tahu mana jalan mana yang baik dan mana yang sesat. Dia SWT juga telah membekali kita dengan petunjuk dan potensi untuk kebaikan dan keburukan. Tinggal kembali ke kita apakah yang kita pupuk potensi baik kita atau potensi buruknya yang kita pelihara. Kata Allah, Sungguh akan sukses orang yang memupuk potensi baiknya, dan akan merugi orang yang mengotorinya (qad aflaha man zakkaaha, wa qad khooba man dassaaha).

Mudah-mudahan kita sukses ya, Zan. Kalau belum sukses, pikirkan mungkin bukan disitu bakatmu, mungkin kurang keras usahamu, mungkin kurang konsistensimu, mugkin kurang doamu, mungkin kurang sedekahmu, dan mungkin2 yang lain, yang pasti bukan salah-Nya. Tugas kita adalah untuk menemukan dan memperbaikinya. Itulah HIDUP, Anakku sayang.[undzurilaina]


Thursday, March 19, 2009

Orang Penting

Teman itu ada DUA, kata motivator yang sedang naik daun dengan “the Golden Ways” nya. Jenis teman yang pertama adalah teman yang memperlakukan dirinya di hadapan temannya sebagai orang penting sehingga mendapatkan pengakuan dari temannya itu bahwa dia itu orang penting. Sedangkan jenis teman yang kedua adalah seseorang yang selalu memperlakukan temannya itu sebagai orang penting.

Teman jenis pertama akan bilang ke para temannya bahwa dia adalah orang penting, sembari secara tersirat/tersurat mengatakan bahwa ia lebih penting dibanding temannya itu. Dia adalah orang yang berpengalaman di sebuah bidang sambil secara tersirat/tersurat mengatakan bahwa temannya itu masih “ingusan” dibanding dia. Dan seterusnya ia menganggap dia lebih penting dari temannya dan berusaha menganggap temannya itu mengakui ke-“penting”-annya.
Sedangkan teman jenis kedua justru sebaliknya, dia berusaha memperlakukan temannya lebih penting dari dirinya. Meletakkan kepentingan temannya di atas kepentingan dirinya. Sehingga seluruh teman-temannya menganggap dia adalah orang penting setelah menemuinya.

Masih di dalam rangka bulan kelahiran Rasulullah SAW, mari kita lihat bagaimana beliau SAW memperlakukan teman-temannya. Rasulullah SAW selalu lebih dahulu mengucapkan salam ketika bertemu dengan sahabat-sahabatnya. The Greatest man ever lived itu SAW selalu memperlakukan secara personal setiap sahabat yang bertemu dengannya, menanyakan bagaimana keadaannya, bagaimana keluarganya, atau hal-hal lain yang berkaitan dengan sahabatnya tersebut sehingga sahabatnya selalu merasa sebagai orang penting. Penghulu para nabi dan rasul SAW itu tak lupa menanyakan sahabatnya ketika pada beberapa saat tidak berjumpa. Beliau SAW yang meminta cincin besi yang sudah pudar milik sahabatnya yang kurang terkenal untuk dikenakannya hingga akhir hayatnya. Dan masih banyak lagi akhlak agung junjungan alam SAW tersebut kepada para sahabat-sahabatnya (bahkan juga terhadap yang memusuhinya).

Mufassir kondang kebanggaan Indonesia, ustadz Quraish Syihab (UQS) memberikan ulasan menarik terhadap ayat: “La qad ja’akum rasuulun min anfusikum….”, yang artinya “telah datang kepadamu seorang rasul dari golonganmu/sejiwa denganmu…”. UQS mengatakan bahwa dalam ayat tersebut dikatakan bahwa Rasulullah yang datang kepada kita, bukan kita yang datang kepada beliau SAW. Itu menyiratkan bagaimana Rasulullah menganggap kita umatnya sebagai orang yang penting sehingga beliau SAW yang menghampiri bukan kita yang menghampiri beliau SAW. Kalau insan seagung Rasulullah SAW saja tidak segan menghampiri kita yang penuh dosa ini, lantas kenapa kita masih segan untuk mendahului menghampiri orang lain. Walaupun orang itu mungkin lebih muda atau lebih rendah jabatannya atau lebih2 lainnya yang membuat kita MERASA lebih dari dia. Demikian kurang lebih UQS mengulas potongan ayat “telah datang kepadamu..” di atas.
Kalau itu dikembalikan ke masing2 kita, teman yang seperti apakah kita ini? Teman yang lebih menginginkan orang lain menganggap kita penting sehingga teman kita merasa kurang penting dibanding kita? Atau sebagai teman yang menginginkan teman kita menjadi merasa penting.

Beberapa hari yang lalu waktu perjalanan ke Jakarta, saya melihat antrian panjang di pintu tol. Antrian itu disebabkan jalan tol yang ditutup sementara karena ada ORANG PENTING yang mau lewat. Benar saja selang beberapa menit, beberapa sedan mewah melintas dikawal polisi dan militer menggunakan mobil dan sepeda motor. Rupanya pak SBY mau lewat, jadi jalanan perlu dikosongkan. Sewaktu perjalanan pulang, sialnya saya bernasib serupa. Pintu masuk tol kota ditutup dengan penjagaan polisi, lalu lintas di arahkan ke jalan lain. selang beberapa menit ada deretan ORANG PENTING yang lewat. Kali ini mungkin sekelas menteri, anggota DPR atau pejabat sekelas lainnya karena saya lihat nomor platnya yang berangka cukup besar.

Mungkin pejabat atau orang yang ada disekelilingnya melakukan itu agar semua orang menghargai dia sebagai ORANG PENTING. Tapi justru buat saya, mereka itu bukan orang penting. Orang penting buat saya adalah orang yang menganggap urusan orang lain itu penting. Bukan orang yang mementingkan kepentingan dia di atas yang lain, apalagi dengan mengorbankan kepentingan orang banyak. Duh..Nggak penting banget! Sungguh KASIHAN!! [undzurilaina]

Saturday, February 7, 2009

Te’no… We’ono

Karena sesuatu hal saya jadi teringat sebuah prinsip atau motto dari seorang pengusaha sukses di kota kelahiran saya. Ingatan saya melayang jauh ke sekitar 10 tahun yang lalu, ketika saya sempat ngobrol berdua dengan beliau di rumahnya. Seingat saya waktu itu saya baru lulus kuliah dan baru mulai bekerja. Setelah ngobrol santai kesana-kemari tentang beragam topik yang saya tidak ingat, beliau menjelaskan sebuah prinsip bisnis yang selama ini dipegangnya.
Prinsipnya sangat sederhana, “Te’no, We’ono” , sebuah ungkapan bahasa Jawa yang kurang lebih artinya “Aku habiskan, Berilah lagi”.

Apa maksudnya prinsip itu?
Dia kemudian mulai bercerita riwayat kerjanya. Beragam profesi pernah digelutinya, dari mulai pelayan di warung Bakso, jualan makanan, pegawai kasar di beberapa pabrik, sampai dengan akhirnya sukses seperti sekarang. Prinsip “Te’no, We’ono” itu yang selalu dia pegang, katanya. Setiap dia mendapatkan hasil dari pekerjaannya, pertama-tama dia menghadap ke ibunya untuk bertanya apa yang ibunya inginkan. Setelah itu hasil lainnya dia banyak sedekahkan ke orang yang membutuhkan (tentunya setelah memenuhi kebutuhan pribadinya). Dia punya keyakinan apa yang dia berikan atau sedekahkan ke orang yang membutuhkan itu tidak akan hilang, dan pasti Gusti Allah akan membalasnya berlipat ganda. Jadi demikianlah setiap dia mendapatkan rezeki, dia banyak sedekahkan. Dan dalam perjalanannya keyakinan akan prinsipnya itu semakin lama semakin kuat, karena selalu terbukti. Setiap dia mengeluarkan sedekah, kembalinya berlipat ganda. Dia keluarkan lagi sedekahnya berlipat. “Sedekah tidak membuat miskin, justru sebaliknya ini adalah rahasia kesuksesan saya, selain sabar dalam usaha. Karena jangan berharap kesuksesan itu sesuatu yang instant, dia harus diraih dengan kerja keras yang terus menerus”, lanjut beliau menjelaskan prinsipnya tersebut.

Al-Quran mulia berbicara: “Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertaqwa, dan membenarkan adanya kebaikan (pahala di akhirat), maka Kami akan lancarkan jalannya menuju kemudahan. Sedangkan yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan kebaikan, maka kamia akan menyiapkan baginya jalan yang sulit.” (QS. Al-Lail: 5-10).

Ayat al-Quran tersebut diatas setidaknya menyatakan bahwa memberi (sedekah) merupakan wujud dari ketaqwaan dan keimanan kepada ganjaran dan hukuman di akhirat. Sebaliknya, kekikiran merupakan indikasi kekafiran kepada Tuhan dan pendustaan serta ketidakpercayaan kepada kehidupan akhirat. Bahkan di tempat yang lain, al-Quran jelas menyandingkan orang yang tidak mau memberi sebagai para pendusta agama.

”Tahukah kamu orang-orang yang mendustakan Agama? Mereka adalah orang yang mengusir anak yatim, serta tidak berusaha keras untuk memberi makan orang miskin”. (Qs. Al-Ma’un: 1-3).

Kemudian hal kedua yang bisa diambil adalah bahwa memberikan sebagian dari yang kita miliki itu merupakan sarana dalam mengatasi kesulitan-kesulitan kita, bukan sebaliknya seperti yang dibayangkan kebanyakan orang. Justru sebaliknya kalau kita kikir akan menyebabkan kita terlempar menuju kepada kesulitan-kesulitan.

Ada sebuah kisah lagi yang ingin saya sampaikan disini untuk membuktikan bagaimana memberi (sedekah) itu dapat mengubah takdir seseorang menuju kebaikan.

Suatu kali, ketika Rasulullah SAW sedang bersama para sahabatnya, seorang laki-laki Yahudi lewat. Tiba-tiba Rasulullah berkata : “Orang ini akan mati tak lama lagi.” Namun, sore harinya, orang yang sama lewat lagi di hadapan mereka dalam keadaan segar-bugar, sambil memanggul seonggok kayu. Sahabat pun terheran-heran : “Bagaimana mungkin orang yang sudah diramalkan mati oleh Rasul-Nya, masih bertahan hidup?” Belum habis keheranan mereka, Rasul SAW pun memanggil laki-laki itu. Kemudian beliau meminta agar onggokan kayu yang di bawanya diturunkan dan dibongkar. Dalam keterkejutan semua orang, dari dalam onggokan kayu tersebut merayap keluar seekor ular beracun. Lalu Rasul pun menyatakan :”Seharusnya engkau telah mati dipatuk ular beracun ini? Perbuatan baik apa yang telah kamu lakukan?” Maka laki-laki Yahudi itupun bercerita bahwa di tengah perjalanan ia bertemu dengan seorang miskin dan memberikan sedekah kepadanya.

Riwayat tersebut diatas menunjukkan bahwa perbuatan baik (dalam hal ini sedekah) dapat mempengaruhi nasib seseorang, siapapun dia dan apapun agamanya.

Ternyata prinsip sukses sederhana “Te’no, We’ono” ternyata memiliki basis yang sangat kuat berdasarkan nash-nash di atas. Kembali ke cerita pengusaha di awal tadi, beliau cerita juga bahwa waktu dia pergi haji dulu, selain dzikir wajib dan sunnah, beliau seringkali ber-"dzikir" dengan prinsipnya itu. “Te’no, We’ono…Te’no, We’ono…Te’no, We’ono… Bimillahi Allahu Akbar… Te’no, We’ono…”. [undzurilaina]

Thursday, January 15, 2009

Jangan Asal Sibuk

Beberapa hari yg lalu dalam sebuah forum virtual, saya chating singkat dengan salah seorang teman kuliah dulu yang sudah lama sekali tak berjumpa. Ironisnya rumah saya dan dia sebenarnya tidak terlalu berjauhan di Bandung. Saya duluan menyapanya dengan: “hey. Apa kabar? Lama nggak ketemu padahal tangga dekat!.”
“Mantabs..namanya juga orang sibuk..sibuk cari kesibukan..”, jawab teman saya tadi singkat.


Saya mengerti bahwa teman tadi maksudnya bercanda. Tapi kata-kata teman tadi membuat saya merenung. Barangkali memang kita ini pada waktu-waktu tertentu sebenarnya tidak harus sibuk, tapi kita sendiri yang membuat-buat kesibukan tersebut. Karena kita mungkin akan bangga/puas disebut sebagai orang sibuk. “Mantabs!”, kata teman saya tadi. Karena mungkin kita akan mengira bahwa kalau kita sibuk dapat diartikan bahwa kita orang yang banyak dibutuhkan. Kalau kita sibuk berarti kita adalah orang yang menghargai waktu dengan selalu mengerjakan sesuatu. Sehingga orang sibuk sering dikorelasikan sebagai orang sukses. Hmm..benarkah?

Kita seringkali bersemangat melakukan segala sesuatu sampai2 kita tidak menyadari kenapa kita melakukannya. Kita sering tidak menyadari apakah yang kita lakukan ini memang sesuatu yang penting bagi kesuksesan kita. Ataukah kita hanya sekedar melakukan semua yang ada di hadapan kita tanpa memilah-milah mana yang penting dan lebih penting.

Kita mungkin bertanya apakah ada pengaruhnya kalau kita mendahulukan yang lebih penting di banding yang penting? Bukankah hasilnya akan sama saja karena toh pada akhirnya semua aktifitas itu tetap akan kita lakukan juga? Jadi mestinya hasil akhirnya akan sama saja, bagaimanapun urutan aktifitas yang kita lakukan.

Hmm..Mari kita bayangkan potensi kapasitas yang mungkin kita dapatkan dari hasil kegiatan-kegiatan yang kita lakukan sebagai isi dari sebuah bejana bermulut lebar. Di sekeliling bejana tersebut terdapat batu2 yang berukuran cukup besar. Kira2 berapa batu yang dapat dimuat oleh bejana tersebut? Ah..daripada mengira2, kita coba saja masukkan batu2 tersebut ke dalam bejana tersebut sambil menatanya sedemikian sehingga bejana tersebut dapat memuat sebanyak mungkin batu2 tersebut. Sampai akhirnya bejana tersebut penuh dengan batu2 tadi dan tidak dapat dimasuki lagi.

Sekarang apakah bejana tersebut berarti sudah penuh dan tidak dapat dimasuki lagi?

“Belum!”, jawabnya. Buktinya coba ambil kerikil-kerikil kecil. Apakah kerikil kecil tersebut dapat masuk ke dalam bejana tadi? Ya, kerikil tersebut dapat masuk ke dalam bejana tadi dengan cara mengisi ruang-ruang kosong dari batu yang lebih besar yang sudah dimasukkan sebelumnya. Terus masukkan kerikil tersebut
sambil sedikit menggoyang-goyangkan bejana tadi sampai ia tidak dapat lagi memuatnya.

Sekarang apakah bejana tersebut sudah penuh dan tidak dapat dimasuki lagi?

“Belum juga!”, jawabnya. Buktinya coba ambilah pasir dan masukkan ke dalam bejana tadi. Maka pasir tadi akan diterima dengan baik oleh bejana tadi dengan mengisi ruang-ruang kosong yang ditinggalkan oleh kerikil tersebut.

Setelah pasir tersebut tidak dapat dimuat lagi oleh bejana, apakah bejana tersebut sekarang sudah penuh?

“Lagi-lagi belum”, jawabnya. Coba kita masukkan air pelan-pelan ke dalam bejana yang sudah dipenuhi oleh batu, kerikil dan pasir tadi. Rupanya bejana tersebut masih dapat menampung air yang akan mengisi ruang-ruang yang ditinggalkan oleh pasir sebelumnya.

Dari ilustrasi bejana tersebut, pelajaran apa yang dapat kita peroleh?
Sekarang kita coba bayangkan apabila urutan memasukkan benda ke dalam bejananya kita ubah dari pasir atau air terlebih dahulu. Dapatkah kita kemudian memasukkan batu dan kerikil sebanyak yang kita dapat masukkan dengan urutan sebelumnya, yaitu dari yang paling besar sampai yang paling kecil?

Lihat, Betapa urutan memasukkan benda-benda mempengaruhi hasil yang akan kita dapatkan dari sebuah bejana tadi! Hasil yang akan jauh berbeda akan kita dapatkan dengan cara mendahulukan batu yang besar dibanding kerikil. Mendahulukan kerikil, dibanding pasir dan air, dan seterusnya.

Demikian juga hasil yang akan kita dapatkan dari kesibukan kita tentu akan berbeda jika kita sebelumnya telah memilah-milah dan mendefinisikan mana kegiatan yang lebih penting dan perlu didahulukan dibanding kegiatan lainnya. Prinsip ini tentu perlu diterapkan pada semua peran yang kita emban masing2, baik peran dalam pekerjaan, peran sebagai suami/istri, peran sebagai ayah/ibu/anak, peran sebagai anggota masyarakat, dsb.

Al-Quran mulia memerintahkan kita untuk selalu sibuk beraktifitas yang bermanfaat.
“Dan apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain” (QS. Al-Insyirah: 7).

Jadi kita memang harus “sibuk”. Tapi supaya hasilnya optimal, kesibukan kita perlu diatur agar mendahulukan aktifitas yang lebih penting dibanding yang penting (aktifitas yang tidak penting? Tinggalkan saja!). Kesibukan kita tersebut juga mesti kita susun agar seimbang untuk semua peran yang kita lakoni. Jadi, jangan asal SIBUK! [undzurilaina]

Tuesday, January 6, 2009

Topeng Monyet, Jilid 2

Semenjak saya menulis “Topeng Monyet”, entah kenapa saya jadi sering melihat bahwa atraksi monyet pintar ini di jalan2 yg saya lalui. Di perempatan jalan, di komplek2 perumahan, bahkan katanya sudah masuk ke mall2 pula.. Hmmm..


Beberapa waktu yang lalu saya dan keluarga berkunjung ke mertua sekaligus menghabiskan liburan akhir tahun di Lampung. Pada suatu siang, fauzan anak sulungku berteriak2 sambil ngejar tukang topeng monyet yang lewat depan rumah mertua. Mengetahui itu, aku minta tolong Husin –keponakan istriku—untuk memanggilkan saja tukang topeng monyet itu ke rumah.

Tak lama setelah itu Husin pun kembali bersama tukang topeng monyet tadi. Pertama melihat tukang topeng monyet itu, saya melihat ada hal baru. Baru kali ini saya melihat tukang topeng monyet itu naik motor untuk menjajakan kepintaran monyetnya beratraksi. Selama ini yang saya tahu, tukang topeng monyet selalu berjalan kaki dengan memanggul peralatan beserta monyetnya (kadang juga ular) dan memukul2 gendangnya.

Rupanya bisnis topeng monyet telah tersentuh dengan manajemen inovasi. Tanpa belajar konsepnya Kaplan dan Norton (Balanced Scorecard, red), tukang topeng monyet itu rupanya telah berfikir untuk melakukan inovasi supaya bisnisnya bisa tetap tumbuh dan bertahan serta memiliki kinerja keuangan yang baik melalui pelanggan yang lebih banyak. Walhasil, itu pelajaran pertama yang saya dapat begitu tukang topeng monyet itu muncul di hadapan saya.

Setelah siap2 sebentar, kemudian mulailah si tukang mengeluarkan monyetnya dari tempatnya. Tentu saja masih dalam keadaan lehernya dipasang rantai agar sang tukang bisa mudah mengendalikannya. Sejurus kemudian sang monyet pun mulai beratraksi dibawah iringan gendang ala kadarnya dari tuannya. Berjalan, membawa payung, keranjang belanja, dll sampai dengan jumpalitan sesuai dengan perintah tuannya. Sang tukang terkadang mengulur dan menarik rantai dari monyet itu sebagai tanda bagi si monyet apakah dia harus kembali atau berjalan terus ke suatu arah tertentu.

Atraksi itu membuat anak2 yang berkerumun melihatnya sangat senang. Mereka pun tak jarang menggoda monyet itu dengan mengelus kepalanya atau memegang buntutnya dari belakang. Monyet itu seperti tanpa ekspresi menanggapi godaan anak2 itu. Wah, luar biasa sekali monyet ini dalam menjalankan tugasnya, pikirku. Sopan-santun terhadap para “customer”-nya ketika menjalankan tugasnya. Dia sadar betul bahwa dia adalah unjung tombak penghasilan tuannya. Dia sadar betul bahwa itu adalah mata pencariannya yang menuntut dia harus berlaku begitu. Itu pelajaran kedua yang saya ambil dari monyet itu.

Setelah menyelesaikan semua atraksinya, maka si tukang topeng monyet itu menutup acara dengan salam perpisahan, terima kasih atas perhatian para penonton, dan tentu saja meminta upahnya yang 10 ribu perak. Si monyet itupun kemudian ditarik untuk masuk ke kandang yang terletak di belakang motornya. Walaupun acaranya cukup singkat, rupanya anak2 yang tadi menonton pertunjukan monyet tadi masih ingin bertegur sapa dengan sang monyet. Beberapa anak masih cekikikan melihat wajah monyet di kandangnya yang cukup terbuka itu. “Lain kali kesini lagi ya, nyet! Sering2 kesini ya!”, ucap anak2 itu berusaha ngobrol dengan si monyet yang santun tadi.

Kali saya lihat ekspresi monyet agak berbeda dari sebelumnya. Salah seorang anak yang ingin mengelus kepala monyet tadi (seperti yang dia lakukan sebelumnya), langsung dibalas dengan tangkisan tangan dan kuku monyet itu. Untung saja anak tsb tidak terluka karenanya. Si tukang topeng monyet itu pun menegur, “Kalau nggak lagi main, jangan coba2 menggoda monyet ini. Kalau dia lagi main, dia nggak akan marah..”.

Wah, ini pelajaran yang paling menarik buat saya. Rupanya monyet ini benar-benar profesional. Dia menyadari betul bahwa dia jumpalitan karena itulah profesinya. Dia bersedia menjatuhkan harkat “kemonyetan”-nya untuk digoda2 dan disentuh oleh anak kecil karena itulah profesi dia. Tapi diluar itu, jangan coba2 meminta saya melakukan hal yang serupa! Monyet tadi sudah memahami sepenuhnya perbedaan antara profesi dengan kehidupan sehari-hari.

Seorang guru TK dituntut harus sabar ketika menghadapi anak2 didiknya, walaupun diluar itu bisa jadi dia bukan seorang penyabar. Seorang konsultan dituntut untuk berusaha keras memikirkan solusi terbaik bagi para klien-nya, walaupun di luar itu sering kali dia mempunya banyak masalah yang juga membutuhkan solusi. Seorang dokter dituntut untuk memberikan advis medis terbaik buat para pasiennya, walaupun seringkali dia juga tidak melakukan hal serupa ketika masalah yang sama menghampirinya.

Hmm…sekali lagi.. kita dipaksa berfikir untuk menjawab pertanyaan: “Lantas..Apa bedanya kita dengan monyet ha??!”. [undzurilaina]

Monday, November 24, 2008

Topeng Monyet


Beberapa hari yang lalu saya terlibat percakapan menarik dengan teman saya sewaktu perjalanan Bandung-Jakarta untuk sebuah urusan pekerjaan. Saya tahu teman saya ini adalah seorang freelance consultant yang tidak terikat ke sebuah perusahaan manapun. Yang saya tahu dia dulu pernah kerja di sebuah bank di Jakarta terus mengundurkan diri dan balik ke Bandung sampai sekarang. Jadi setelah dia nanya-nanya ke saya tentang usaha yang saya lakukan, kemudian saya memulai “interogasi” saya tentang dia dengan bertanya: “Kalau bapak, merdeka ya pak?”.

Rupanya term “merdeka” yang saya gunakan itu sangat mengena sasaran.
Dia jawab: “Iya betul, Pak. Merdeka itu lah salah satu alasan utama saya keluar dari Bank dan menjadi seperti sekarang ini”. Dulu dia menjadi penumpang tetap KA Parahyangan setiap Senin dini hari dan Jumat malam, karena istri dan anak2nya masih tinggal di Bandung. Bunyi alarm waker yang diset setiap hari Senin jam 2 dini hari adalah bunyi yang paling dia benci. Karena saat itu dia harus bangun dari tidurnya, menyingkirkan kaki anaknya yang kadang bertengger di atas kakinya, membetulkan posisi tidur anaknya, dsb untuk kemudian mandi dan ngangkot menuju ke stasiun jam 3 dinihari. Sebuah rutinitas yang sering membuatnya lemah walaupun terkadang semangatnya menjadi bangkit ketika melihat mbok2 yang menggendong gunungan sayuran di pundaknya sepagi itu dengan berjalan kaki atau naik sepeda.

Sampai suatu hari “the moment of truth” terjadi, dia melihat sebuah pertunjukan topeng monyet di dekat rumahnya. Dia mengamati benar pertunjukan itu sambil pikirannya melayang kemana-mana. Setelah selesai pertunjukan, dia bertanya pada si tukang topeng monyet itu: “Bang, usaha gini sehari dapat berapa rata2?”. Tukang topeng monyet itupun menjawab: “Wah, nggak tentu pak. Kalau pas rame ya bisa 75 ribu sehari. Tapi kalau pas lagi sepi, paling sekitar 40 ribu seharinya.”. Teman saya itu kemudian bertanya lagi, “Kalau biaya untuk memelihara monyet itu berapa?”. “Ah, paling banyak juga 4 ribu sudah dapat makanan berlebih buat kebutuhan dia seharian, Pak”.

Percakapannya dengan tukang topeng monyet itu kemudian dia renungkan lagi. Alur berfikir dia ini yang menurut saya paling menarik dari cerita ini.
Teman tadi kemudian bertanya dalam hati: “Ah…apa bedanya saya dengan monyet itu??!”.
“Monyet itu dikasih makan,dikasih baju, dikasih rumah, dilatih, dsb untuk mendapatkan penghasilan si tukang monyet. Saya juga dikasih gaji dan ditraining oleh perusahaan untuk sebesar2nya keuntungan perusahaan. Monyet itu dikasih 4 ribu dari 75 ribu penghasilan tukang monyet. Saya dan karyawan2 lainnya juga dikasih oleh perusahan sebuah nominal yang pasti juga jauh dari penghasilan perusahaan.”

“Lantas apa bedanya saya dengan monyet itu??! Masak selama hidup saya mau jadi monyet terus2an??!”.

Pertanyaan demi pertanyaan terus dia lontarkan untuk dirinya sendiri. Sampai akhirnya karena sebuah pemicu sederhana, yaitu karena dia nggak dikasih izin waktu setengah hari setiap hari Jumat untuk mengambil S2 di MBA di ITB, maka dia kemudian mengajukan pengunduran diri dari perusahaan. Maka merdeka-lah dia.

Setelah keluar dari bank itu, dia kembali ke Bandung. Tabungannya dia gunakan untuk membuat sebuah mini market di dekat rumahnya. Karena dia merencanakan untuk menjadi konsultan freelance, maka dia tidak bisa menjaga mini marketnya itu sendiri. Sehingga dia mulai merekrut orang untuk menjaga dan mengelola mini marketnya.

Pada saat itu dia teringat pertanyaan2 seputar topeng monyet yang pernah berkecamuk di dipikirannya dulu. Dia berfikir kalau semua orang berfikiran sama seperti yang dia fikirkan, maka nggak akan ada orang yang mau kerja sama dengan dia. Dia kemudian mulai berfikir juga bahwa sebenarnya si tukang topeng monyet itu juga mulia karena membuka lapangan pekerjaan untuk makhluk lain (monyet, red).

Pemikirannya mulai bergeser lagi dari pemikiran sebelumnya seiring dengan pengalaman yang dia alami setelah keluar dari perusahaan. Kalau dia dulu dalam bekerja diatur oleh atasan, sekarang yang mengatur saya (sebagai pengusaha mini market dan konsultan) adalah customer/klien2 dia. Jadi sepertinya sama saja, kita hidup ini kan saling membutuhkan. Tidak ada orang yang dapat hidup sendiri. Setiap pilihan memiliki trade-off, ada kurang dan ada lebihnya.

Tapi kemudian dia menonjolkan aspek manfaatnya dari pilihan yang dia ambil saat itu. Sekarang saya jauh lebih dekat dengan anak2. “Saya jadi sadar bahwa sebenarnya anak2 saya itu membutuhkan dia dalam banyak momen yang tidak bisa diperankannya kalau saya tidak “merdeka””, lanjutnya mengakhiri ceritanya.

Obrolan ini sangat menarik dan inspiring buat saya. Mungkin karena kesibukan dan rutinitas, saya jadi kurang memikirkan sebenarnya apa sih obyektif utama saya. Apa sih dari fenomena2 yang sering saya lewati. Sering kali saya hanya menggunakan “arloji” untuk melakukan aktifitas sehari-hari supaya aktifitas yang saya lakukan ini bisa sukses secara cepat dan efisien. Tapi sering saya terlupa untuk menggunakan “kompas”, dalam artian sebenarnya kemana sih arah prioritas yang saya cita2kan dalam hidup ini. Karena untuk sukses kita tidak hanya butuh cepat dan efisien, tapi juga arah yang benar. Tentunya sebelum itu kita harus sudah menetapkan kemana arah yang ingin kita tuju tersebut. Mengutip kata Konfusius filosof Cina kuno: “if you don’t know what you are looking for, you will never know when you find it”.

Al-Quran berkali-kali mengingatkan kita untuk selalu memikirkan fenomena-fenomena yang ada di sekitar kita. Jangan hanya menjadi pengintip yang hanya bisa menonton fenomena tanpa bisa melakukan apapun. Jadi berfikir adalah sebuah kebutuhan dan kewajiban secara aqli maupun naqli, secara intelektual maupun spiritual. So, sudahkah kita berfikir? [undzurilaina]

Monday, October 1, 2007

Matuk Tulga


“Bi, Abi..mau matuk tulga nak?”, tanya Akmal anak bungsuku yg masih pelat itu ke saya tiba-tiba sore kemarin. Setelah melewati “akmal decoder” yang ada di otakku, hasilnya menjadi: “Bi, Abi mau masuk surga nggak?”.

Kemudian aku jawab: “ya mau dong, sayang”.

Akmal melanjutkan lagi: ”di Surga itu ada banyak mainan ya?”

Aku: ”Iya...”

Belum sempat aku menjawab lebih lanjut, dia sudah melanjutkan lagi apa yang ada di benaknya tentang surga...

Akmal: ”ada banyak permen juga ya? Terus eskrim juga ya? Ada kebun binatang juga......” dst aku biarkan dia menjelaskan apa yg ada di benaknya tentang surga.

Setelah akmal selesai menyampaikan semua yang ada benaknya, aku bilang: ”Iya, betul sayang. Semua yang akmal mau, semuanya ada di surga..”. Aku terus balik bertanya: ”Akmal pengen nggak masuk surga nggak?”.

Dengan cekatan dia menjawab: ”Mauuuu....dong”.

”Hmmm, kalau mau akmal mesti punya kuncinya dulu..”, kataku memancing dia sedikit berfikir.

Tapi di luar dugaanku, dia kemudian malah berlari sambil memanggil istriku: ”Mamah, tolong ambilin kunci surga dong...Akmal mau masuk...”

Aku dan istriku yg baru keluar dari kamar karena dipanggil oleh anakku itu, langsung tersenyum menahan tawa. Istriku kemudian melanjutkan jawaban yang sudah kumulai tadi: ”Akmal, kalau mau masuk surga, kuncinya kita mesti disayang sama Allah. Akmal mau disayang Allah nggak?”.

”Mau...”, jawab akmal.

”Kalau mau disayang Allah, akmal mesti jadi orang yang baik. Rajin sholat, terus nggak nakal, nurut sama abi mamah, sayang sama kak fauzan.....”, terang istriku mencoba memberi penjelasan..

Akmal ndengerin penjelasan istriku dengan seksama, sambil kadang-kadang mengernyitkan dahinya. Dan lagi-lagi, tanggapan akmal diluar dugaan:

”Mah, akmal mau di rumah aja lah...”, jawab dia dengan tenang sambil loncat-loncat dan main nemenin (atau lebih tepatnya nggangguin) kakaknya yang lagi asyik main puzzle.

Barangkali karena kelihatannya kok berat banget kunci disayang Allah itu. Mungkin lain kesempatan, kami mesti memberi penjelasan yang lebih baik lagi. Walaupun aku sendiri juga masih belajar gimana caranya agar disayang Allah. Bantu kami, Ya Allah.[undzurilaina]

Wednesday, August 22, 2007

Harga Diri

Dalam sebuah khutbah Jumat di masjid dekat kantorku (Bandung), ada kisah menarik yang khatib sampaikan. Cerita tersebut bermula ketika guru sang khatib yang tinggal di Jakarta mendapat undangan syukuran dari seseorang. Pengundang syukuran itu adalah seorang nenek tua yang sering ia jumpai lewat depan rumahnya membawa barang rongsokan untuk coba ia tukar dengan biaya hidupnya sehari-hari.

Sang guru pun penasaran bertanya kepada nenek tua tersebut: "Maaf, Nek. Kalau boleh tahu dalam rangka apa syukuran ini?". Nenek tua itu pun menjawab: "Pokoknya ditunggu sekali kedatangannya ya pak, saya nggak ngundang banyak orang". "Oh, Baik nek. Insya Allah saya akan hadir".


Nenek tua itu tinggal di sebuah gubug kecil yang sudah reyot dan menempel di tembok sebuah rumah mewah yang ada di sebelahnya.


Singkat cerita, ketika sudah waktunya tiba, beberapa tamu undangan pun mulai berdatangan. Memang tak banyak yang diundang, hanya 6 orang (termasuk dengan sang nenek dan pemilik rumah mewah di sebelah gubug nenek itu, sebut saja namanya Pak Amir). Semua tamu masih memendam rasa penasaran karena nggak tau dalam rangka syukuran ini diselenggarakan.


Tibalah saatnya, sang nenek bicara.....
"Bapak-bapak sekalian yang saya hormati, terima kasih sekali sudah memenuhi panggilan saya. Saya hanya mengundang sedikit orang, karena memang rumah yang saya tempati ini hanya cukup menampung segini. Mungkin bapak2 penasaran kenapa bapak saya undang ke sini."


"Iya, betul Nek. Kami belum tahu dalam rangka apa kami diundang ke sini", sahut salah seorang tamu yang hadir.

"Begini, Pak. Saya mengundang bapak2 ini dalam rangka syukuran. Saya bersyukur sekali karena mulai tahun ini saya dibolehkan mengkontrak rumah yang saya tempatin ini oleh
Pak Amir. Sebelum2nya Pak Amir selalu menolak ketika saya mau membayar ongkos sewa tinggal di gubug yang menempel di rumahnya Pak Amir ini. Saya benar2 berterima kasih kepada Pak Amir, dan bersyukur kepada Allah SWT karena saya diijinkan untuk tinggal di gubug ini dengan tidak cuma2".

Para tamu yang hadir mendengarkan ucapan2 Nenek itu dengan seksama. Perasaan kagum, haru, bangga, sedih berbaur menjadi satu. Termasuk aku yang mendengarkan cerita itu dari sang khatib jumat waktu itu.

Betapa tidak, ketika kita melihat banyaknya para pengemis dan pengamen yang gagah2 di simpang2 jalan menengadahkan tangannya kepada orang2 yang lalu-lalang. Betapa tidak, ketika pemerintah kita sangat bangga berkata bahwa negara kita mendapat kepercayaan untuk mendapat tambahan hutang dari negara2 donatur.


Kita sering melihat pemandangan2 yang kontras di alam realita ini. Kita melihat di sejumlah persimpangan ramai di kota2 besar seperti Bandung atau Jakarta, para pengamen, pengemis, "pengelap" mobil, dll sangat antusias menyambut kendaraan2 yang berhenti di persimpangan tsb dengan tangan menengadah. Kita mungkin juga sering mendengar bahwa pendapatan mereka cukup besar dari situ. Ketika masa "reses" mengemis itu biasanya mereka pulang kampung dengan membawa "oleh2" perhiasan, pakaian dll yang sangat memadai. Sementara tidak jauh dari simpang situ, ada penjual roti bakar, gorengan, sapu lidi yang dengan susah payah mencucurkan keringatnya seharian menjual dagangannya. Mereka dengan bangga mengatakan walau hanya dapat 10 ribu sehari, saya sangat puas. Saya sangat puas bisa memberi makan anak istri saya dengan hasil kerja keras, bukan meminta-minta, walaupun hasilnya mungkin jauh lebih besar.

Harga diri rupanya sebuah barang langka di negeri kita tercinta ini, walau usianya telah mencapai 62 tahun. Senang aku bisa mendengar cerita tentang "barang langka" tersebut. Hmmm....[undzurilaina]

Tuesday, June 12, 2007

Manusia Seperti Apa?

Minggu lalu, waktu saya lagi nunggu mobil untuk pulang ke Bandung dari Airport Cengkareng, ada kejadian yang cukup mengganggu. Tepat di depan saya duduk itu ada sebuah mobil tentara (pickup tertutup atas). Nggak lama kemudian ada beberapa orang tentara datang (sebagian berpakaian preman, namun tampak jelas dari fisik dan potongannya bahwa ia juga adalah “anggota”). Rombongan tentara tadi ternyata menggandeng ”tawanan” sepasang lelaki-perempuan dengan tangan terikat. Kemudian pasangan tadi dimasukkan ke mobil yang sudah siap di depan saya tadi. Yang laki-laki, berperawakan tinggi besar dan rambut cepak. Tampak di dekat matanya ada luka yang cukup mencolok. Tidak tahu apa yang dikatakan oleh ”tawanan” perempuan itu sehingga penjaga yang mengapitnya kemudian memukul perempuan itu dengan sekuat tenaga beberapa kali. Entah apa yang dirasakan oleh perempuan itu dipukul oleh tentara yang punya tangan sebesar betis pemain sepak bola itu.

Orang yg duduk disebelahku bertanya-tanya dengan teman disebelahnya, kenapa mereka...kenapa mereka? Yang satu bilang, mungkin calo barangkali..Ah kayaknya nggak mungkin deh dia meralat. Soalnya kalau calo mestinya bukan tentara yang menangani, dan profil kedua orang itu jauh dari seorang calo. Atau kasus narkoba ya...? Terus karena penasaran kemudian mereka bertanya ke salah seorang anggota yang ikut mengawal: ”Pak...pak, ada apa sih pak? Kenapa mereka itu?”. Anggota itu kemudian menjawab: ”Ah..nggak ada apa-apa kok...”.

Akhirnya setelah beberapa lama, mobil itu pergi membawa kedua ”tawanan” tadi yang diapit oleh beberapa pengawal yang pasti bikin sesak tempat duduk di mobil itu. Ternyata ada satu orang yang tidak ikut mobil itu, dan itu tidak disia-siakan oleh 2 orang pemuda penasaran yang ada di sebelahku tadi untuk bertanya lagi:

Penanya: ”Pak...pak, tadi 2 orang laki perempuan tadi kenapa sih pak?”.

Anggota: ”Oh, 2 orang yang tadi? Itu saya yang nangkap itu..Yang laki itu anggota Kopasus lho..”.

Penanya: ”Loh! Terus kenapa dibegituin ?”

Anggota: ”Gini mas...di kami kan nggak boleh istri 2. Nah dia itu kawin lagi, itu tadi istri mudanya. Diperingatkan, eh malah lari. Akhirnya kami cari dan barusan saya yang nangkep di Pontianak. Ah nggak bener tu orang!”

Penanya: ”(Bengong aja...)”

Anggota: ”Ya udah mas, saya mau makan dulu..”

Penanya: ”oya pak, silahkan2”.

Si penanya, aku, dan orang-orang yang duduk di sekitar situ terdiam, nggak tau apa yang sedang di pikiran masing2. Kalau saya sih masih bingung apakah tindakan itu berlebihan nggak sih? Tindakan memukul2 si wanita tadi di depan umum, dll. Apakah itu tindakan yang beradab? Apakah itu memang hasil yang diinginkan dari pendidikan seorang KOPASUS.

Saya punya tetangga anggota TNI juga. Istrinya seorang berjilbab. Dia cerita kalau baru-baru ini saja dia boleh berjilbab. Sebelumnya mana boleh istri anggota TNI menggunakan jilbab. Lagi-lagi saya bertanya dalam hati, apa kira-kira maksud aturan tersebut. Apa sebenarnya yang diinginkan dari aturan-aturan seperti ini?

Dulu saya pernah bertemu dengan beberapa orang yang sedang mengikuti pendidikan calon bintara. Dia waktu itu cerita dengan sedih kalau dia sudah sekian bulan ini meninggalkan sholat. Lho, kenapa kataku. Wah, nggak mungkin bisa mas. Kita itu waktu latihan kan berkotor2 lumpur, dll. Waktu sholat cuma ada 5 menit, kalau telat hukumannya berat, dll sehingga tidak memungkinkan kita semua untuk melakukan sholat.

Lagi-lagi saya bertanya dalam hati, apa kira-kira maksud aturan tersebut. Apa sebenarnya yang diinginkan dari aturan-aturan seperti ini? Apakah yang sebenarnya ingin dicapai dengan pendidikan militer seperti itu?

Manusia seperti apa yang ingin dibentuk dengan pendidikan seperti itu?

Aku bingung, speechless! [undzurilaina]

Friday, May 4, 2007

Pak Amir dan Bule Prancis

Minggu yang lalu saya silaturahmi ke rumah salah seorang tetangga, sebut saja namanya pak Amir. Ada sebuah cerita menarik yang disampaikan oleh pak Amir tadi. Pak Amir ini cerita kalau dia pernah dapat tamu di kantornya sepasang suami istri, bule Prancis. Tidak seperti penampilan bule-bule yg biasanya, bule tersebut katanya berpakaian ala sebuah kelompok muslim yang pernah dilarang di Malaysia dan juga Indonesia. Tahu kan? Jadi mereka yang laki pakai jubah lengkap dengan sorban/penutup kepala yang khas Arab. Sementara yang perempuan pakai baju kurung, jilbab dan cadar penutup muka. Merasa penasaran, pak Amir ini terus nanya ke bule itu:

Pak Amir: “Mister, kenapa atau apa alasan Anda mengenakan pakaian seperti ini?”.

Bule: “Pak Amir, saya ini lahir dari keluarga Muslim. Ayah ibu saya itu seorang muslim di Prancis sana. Tapi kehidupan muslim di sana jauh dari ajaran-ajaran Islam itu sendiri.”

Pak Amir: “Maksud mister gimana?”

Bule: “Saya dan keluarga sudah sangat terbiasa untuk minum minuman keras walaupun itu dilarang oleh Islam. Sehingga adalah sesuatu yang sudah sangat biasa sekali kalau ada minuman keras di hidangan-hidangan di rumah saya. Bahkan sudah seperti refleks, kalau di jalan ketemu ada kedai minuman, saya langsung mampir dan minum-minum disitu..”


Pak Amir: “Oya, terus..? (sambil sedikit mengernyitkan dahi)”

Bule: “Pak Amir, jadi kalau saya berpakaian seperti yang Bapak pakai sekarang ini, alias pakain biasa, maka refleks saya akan langsung “aktif” begitu ketemu kedai minuman di jalan. Nah, dengan berpakaian seperti ini, saya dapat memproteksi diri saya, Pak. Malu dong, kalau saya yang berpakaian seperti ini kok bertindak yang nggak bener”

Pak Amir: “Hmmm…gitu ya, Mister (sambil mengangguk-angguk)? Saya hampir salah dalam menilai Anda.“


Well, terlepas dari benar salahnya, setuju atau tidaknya berpakaian begitu, pepatah “Don’t Judge the Book from its cover” tepat untuk diterapkan disini. Sering kali kita melakukan generalisasi demi generalisasi yang terburu-buru. Sehingga dengan bekal generalisasi tersebut kemudian kita gunakan untuk menyerang kelompok-kelompok yang berseberangan pendapat dengan kita. Kita sering susah sekali untuk menerima perbedaan. Padahal panutan kita semua, penghulu para rasul SAW, bilang kalau perbedaan di kalangan umatku itu adalah Rahmat. Berarti kita susah sekali untuk menerima Rahmat ya? Oh...Pantesaaaan...!!

Thursday, April 19, 2007

Kerinduan Pecinta dengan Sang Tercinta

Seperti biasanya, pada setiap lebaran saya, istri dan anak2 saya ajak untuk mudik ke kampung halaman. Karena kampung halaman saya berbeda dengan istri, maka "terpaksa" harus disepakati untuk menggilir tujuan mudik pada setiap tahunnya. Jadi kalau tahun kemarin saya dan keluarga berlebaran di Lampung (kampung istri saya), maka tahun ini giliran kami semua berlebaran di Solo (kampung halaman saya). Walaupun direncanakan seperti itu, tapi pada prakteknya sejauh ini setiap tahun kami selalu mengunjungi ke dua tempat tsb (Solo dan Lampung). Alhamdulillah kedua orang tua kami masih hidup, sehingga semangat untuk mudik pada setiap tahunnya selalu menggebu-gebu pada hati kami.



Tahun ini giliran kami berlebaran di Solo. Biasanya kami berada di sana sampai sekitar seminggu setelah hari lebaran, kadang kurang atau lebih bergantung hari libur kerja (cuti bersama) dan juga ketersediaan tiket untuk pulang. Tapi nggak seperti biasanya, tahun ini saya pulang lebih cepat karena ada acara yg diagendakan 2 hari setelah lebaran. Maka saya terpaksa balik duluan ke Bandung sendirian, karena kalau saya ajak anak & istri saya pasti akan banyak "protes". Lagian saya ingin lebih menyenangkan kedua orang tua saya dengan memberikan "hiburan" kehadiran cucu nya yang jarang ia temui (karena beda kota). Oya, sejauh ini diantara saudara kandung baru saya yg dikaruniai anak, sedangkan kakakku tercinta belum dikaruniai oleh Allah keturunan. Semoga Allah segera memberinya keturunan yang Sholih/Sholihah, segerakan ya Allah, Amien ya Allah ya Rab al-Alamin.



Kembali ke cerita awal, jadi saya balik ke bandung duluan. Sampai di Bandung, saya langsung kontak2 ke orang yang kasih info tentang rencana pertemuan hari itu. Ternyata alangkah keselnya saya ketika tahu bahwa pertemuan tsb batal tanpa alasan yg jelas. Karena sudah terlanjur sampai di bandung, dan karena alasan biaya dan susah untuk cari tiket baliknya lagi (krn masih musim mudik), maka akhirnya saya terpaksa memutuskan untuk menerima kondisi "home alone".



Saya menulis tulisan ini ketika saya dalam kondisi "home alone" tsb. Ini bukan kali pertama saya mengalami kondisi "home alone", tahun yg lalu saya juga mengalami hal yg serupa, malahan waktu itu dalam kondisi bulan puasa, dan beberapa kali sebelumnya. Bukan kali pertama ini saya menyadari betapa beratnya di rumah sendirian. Bukan kali pertama ini saya menyadari betapa beratnya mendapati di rumah tidak ada yang bisa diajak omong, atau hal2 lain yang biasa kami lakukan bersama istri ataupun anak2. Tapi pengalaman beberapa kali menghadapi situasi sendiri seperti itu membuktikan betapa lemahnya saya, betapa tak berdayanya saya, betapa bingungnya saya tanpa mereka, betapa sumpek nya saya sendirian. Kenapa bisa begitu ?

Jawabannya menurut saya adalah disamping karena kebutuhan juga karena betapa CINTA-nya saya dengan istri dan anak2 saya sehingga menimbulkan kerinduan yang amat sangat ketika sekian waktu tidak berjumpa dengannya. Kerinduan seorang pecinta terhadap sang tercinta. Dalam kesendirian ini, saya coba membuat kesimpulan sementara bahwa kerinduan seorang pecinta terhadap sang tercinta karena terpisah dalam kurun waktu tertentu dapat menyebabkan setidaknya beberapa hal sbb :


  • Kelemahan : kesepian berpotensi besar menyebabkan kita menjadi lemah, mudah tergoda syaitan, mudah patah semangat, dll.

  • Kebingungan : kesendirian sering membuat kita bingung untuk bertindak. Mondar-mandir dalam rumah, masuk keluar kamar, baca buku cepat bosan, nonton tv malas, dan aktifitas-aktifitas lain menjadi tidak ada daya tarik yg cukup sehingga akhirnya kita jadi bingung apa yang mesti kita kerjakan.

  • Kegelisahan (hati sumpek) : kesendirian membuat hati gelisah/sumpek dan tidak tenang. Dengan kondisi seperti ini waktu jadi seperti berjalan sangat lambat, sungguh kondisi yg tidak mengenakkan sama sekali.


Setidaknya itu kesimpulan sementara saya waktu saya buat tulisan pendek ini.


Lalu saya berfikir apakah efek yg mirip seperti tersebut di atas juga terjadi ketika kita "berpisah" dengan Sang Pencipta Cinta itu sendiri, Sang Maha Cinta, Sebaik-baiknya Pecinta dan Yang Dicinta, Allah Rabb al-Alamiin ? Aha ! Ternyata jawabnya adalah IYA ! Ketika kita "berpisah" dengan Allah, dalam artian kita tidak mengingat Allah, jauh dari Allah (karena beberapa sebab, misal maksiat), maka kita juga akan merasakan setidaknya ketiga hal yg saya sebutkan di atas : kelemahan, kebingungan dan kegelisahan.


Setidaknya itu kesimpulan sementara saya waktu saya buat tulisan pendek ini.


Kesimpulan2 saya tersebut diatas membuat saya menyadari bahwa saya tidak boleh sering2 atau lama2 berpisah dengan yang kita cintai. Perpisahan itu dapat kita sambung lagi dengan beberapa cara diantaranya adalah dengan :


  • Menghadirkan sang tercinta ke hadapan kita : Apabila memungkinkan kita dapat menghadirkan sang tercinta ke hadapan kita, sehingga kita dapat bergaul dengannya untuk saling bertukar cinta dan kasih. Yang saya maksud dengan kata "apabila memungkinkan" disini adalah bahwa harus dilihat situasi dan kondisi dari pecinta dan tercinta juga untuk memutuskan menghadirkan ini. Misalnya ketika sang tercinta itu adalah istri/suami, maka sebisa mungkin untuk selalu kumpul. Tapi kalau sang tercinta itu adalah pihak lain seperti orang tua atau saudara kita tercinta, maka kehadiran menjadi tidak mutlak harus diwujudkan.

  • Menjalin komunikasi yang intensif dengan sang tercinta : Selain menghadirkan sang tercinta, komunikasi yang intensif dengan sang tercinta dapat juga mengobati kerinduan kita kepada sang tercinta dan juga menjaga kedekatan hati dengan sang tercinta. Solusi ini dapat diterapkan untuk pihak2 yang tidak memungkinkan untuk selalu dihadirkan bersama2 kita, misalnya orang tua/saudara tercinta ketika kita sudah berkeluarga. Begitu juga dengan sang Maha Pengasih dan Penyayang, kita sangat dianjurkan untuk menjalin komunikasi yang intensif (dengan sholat, doa, dzikir, dll) sehingga kita akan selalu merasa dekat dengan-Nya. Kita akan merasa tentram dengan selalu mengingat-Nya. Seperti yang disabdakan oleh sang kekasih Allah, sebaik-baik makhluq Allah, Rasulullah SAW bahwa dengan mengingat Allah maka hati akan tenang. Dan tak kalah pentingnya melakukan apa yang disukai-Nya dan menjauhi apa yang tidak disukai-Nya adalah hal yang mutlak harus dilakukan untuk dapat melakukan komunikasi yang baik dengan sang Maha Pengasih dan Penyayang.

Membiarkan kondisi kesendirian tanpa melakukan kedua hal tersebut di atas secara cukup, akan berbahaya sekali. Karena akan membuat hubungan cinta kasih tsb menjadi terganggu, menjauhkan yang sebelumnya dekat, dan bisa2 mengikis rasa cinta yang ada sebelumnya. Apakah itu tidak berbahaya untuk hubungan kita denga istri/suami, atau dengan orang tua atau saudara kita ? Terlebih lagi dalam kasus hubungan kita dengan sang Khaliq. Naudzubillah min dzalik.



Setidaknya itu kesimpulan sementara dari renungan saya waktu saya buat tulisan pendek ini.



Saya mencintai Mu wahai Sang Maha Pengasih dan Penyayang, Allah SWT.

Saya mencintai Mu wahai kekasih Allah, Rasulullah SAW.



Saya mencintaimu wahai istri dan anak-anak ku, karena itu Cintailah kami ya Allah, Cintai kami ya Rasulullah.

Saya mencintaimu wahai orang tuaku, karena itu Cintailah orang tua kami ya Allah, Cintai orang tua kami ya Rasulullah.


Cintailah kami semua, ya Allah wa ya Rasulullah.

Jagalah hati kami untuk selalu mencintai-Mu lebih dari cinta kepada selain-Mu

Sampaikan sholawat dan salam dari kami sekeluarga kepada Nabi dan Rasul-Mu Muhammad beserta keluarganya.

Assalamu alaika ayyuha Nabiyu wa aalihi wa rahmatullah wa barokatuh.






Bandung, 29 Oktober 2006, baina dzhuhur wa ashr.

PERBEDAAN ADALAH RAHMAT BUKAN BENCANA




Pada hari Jumat beberapa minggu yang lalu, saya berkesempatan sholat Jumat di masjid yang berlokasi dekat kantor saya di Jl.Tubagus Ismail Bandung. Sebagai gambaran, Masjid yang cukup megah tersebut terdiri atas 2 lantai, dimana lokasi Imam dan Khatib ada pada lantai atas. Sedangkan di lantai 1 disediakan sebuah TV Monitor yang menayangkan lokasi Imam dan Khatib di lantai 2 tersebut. Karena saya datang ke masjid agak terlambat (walaupun saat itu adzan belum dikumandangkan dan khutbah belum dimulai), maka saya kebagian duduk di shaf-shaf depan lantai satu.



Tak lama setelah saya duduk, adzan pun dikumandangkan, lalu seperti biasa khatib pun mulai naik mimbar. Setelah baca salam, khatib berkata : "sebelum saya memulai khutbah saya, saya ingin mengingatkan.......". Pesan-pesan tersebut (sebelum masuk khutbah jumat) intinya kira-kira adalah bahwa tidak sempurna bahkan mendekati tidak sah sholat seseorang yang dalam sholatnya tidak menggunakan peci/kopiah. Pesan seputar perintah tsb cukup panjang, dan diselingi juga dengan mengutip beberapa hadits Nabi SAW yang terus terang saya baru dengar pada saat itu. Mungkin dari panjangnya, sampai-sampai saya tidak sadar kapan sang khatib memulai khutbah jum'atnya (karena di awal tadi beliau bilang "sebelum memulai khutbah saya....").

Sampai akhirnya sang khatib mengakhiri khutbah pertama nya, duduk, lalu berdiri untuk melanjutkan khutbah keduanya secara singkat dan diakhir do'a.


Setelah khotib mengakhiri khutbahnya, sebelum memulai mengimami sholat, beliau memberi peringatan terhadap para makmum nya untuk memperlihatkan mata-kakinya ketika sholat karena menurutnya tidak sah sholat seseorang ketika mata kakinya tidak terlihat.

Setelah Imam mengatakan itu, dari shaf belakang ada seorang makmum yang berusaha meminta jalan untuk berbicara di depan. Sesampainya di depan, dia menghadap ke arah makmum dan berbica keras : "Bapak2 dan Saudara2 sekalian, khutbah yang dilakukan bapak tadi tidak sah karena tidak memenuhi rukun2 sholat Jumat, jadi saya mempersilahkan untuk sholatnya 4 rakaat (dzuhur) bukan 2 rakaat (jum'at)". Mendengar itu, kontan saja sang Imam merasa tersinggung, lalu berkata kepada orang tadi : "Anda ingin menjadi Imam ? Silahkan !". Orang tadi menjawab : "Tidak..". "Ayo, Silahkan !?"..Karena tetap menggeleng, Imam pun memulai mengimami sholat Jumat. Dari suaranya saya dapat mendengar emosi yang belum reda dari sang Imam akibat kejadian yang baru ia hadapi. Dan setelah Imam mengucap Salam, ada beberapa orang yang melanjutkan sholatnya menjadi 4 rakaat karena beranggapan sholat yang dia lakukan adalah sholat Dzuhur, bukan sholat Jumat yang 2 rakaat.



Sampai di kantor, ternyata temen2 masih menggunjingkan khatib barusan, yang ternyata khatib tsb selalu membawakan perintah "peci" pada khutbah2 sebelumnya. Materi khutbah tsb baik soal "peci" ataupun soal lainnya pun jadi bahan tertawaan temen2 di kantor. Bahkan ada salah satu temen yang bilang juga : "wah, khatib itu tadi pasti orang NU, seandainya tadi ada orang PERSIS bakal habislah si khatib dibantai olehnya..". Dan kemudian pembicaraan merembet untuk mengolok2 cara2 beberapa syariat madzhab muslim lain.



Saya terus terang sangat prihatin melihat kejadian tersebut. Keprihatinan saya utamanya adalah :

  • Bagaimana kita sesama muslim dapat berselisih dan mengolok-olok satu sama lain hanya karena masalah-masalah kecil atau dalam istilah fiqh disebut masalah furu'iyyah (cabang) ?
  • Bagaimana kita muslim begitu fanatik terhadap sebuah ormas (NU, Muhammadiyah, PERSIS, DDII, dll) seolah2 pendapat organisasi nya lah yg paling hebat.
  • Bagaimana bisa kita mengolok2 pandangan sebuah madzhab padahal dia tidak tahu benar (kalau tidak bisa dikatakan tidak tahu sama sekali) tentang madzhab tsb. Apa gunanya ?
Apa gunanya itu semua ? Saya punya keyakinan apabila "kebiasaan" tersebut di atas tidak segera disadari dan dihentikan maka setidaknya hal tsb akan membuat :
  • Perpecahan antara sesama muslim yang berujung kepada kemandegan atau bahkan kemunduran muslimin bahkan dalam waktu yg tidak terlalu lama
  • Menunjukkan kebodohan orang yang meributkannya, karena kefanatikan buta hanyalah milik kaum yang tidak mau belajar
Oleh karena itu marilah kita ubah cara pandang kita dalam melihat perbedaan pandangan dari saudara kita sesama muslim. Bukankan Nabi SAW yang kita cintai bersama mengatakan "Perbedaan pendapat di antara umat ku adalah Rahmat" ? Lalu mengapa kita yang mengaku ummat nya malah menjadikan perbedaan menjadi sumber bencana perpecahan, bukan Rahmat ? Sebagai penutup tulisan ini, saya coba mengutip perkataan indah dari Imam Ali b. Abi Thalib k.w bahwa "Tak seorang pun dapat mencari kebenaran sebelum ia sanggup berfikir bahwa jalan kebenaran itu sendiri mungkin salah". Mari kita terus belajar, belajar tanpa apriori, belajar tanpa merasa paling benar, semoga Allah SWT membantu kita mendapatkan ilmu-Nya. Wallahu a'lam.

Bandung, 1 Oktober 2006