Showing posts with label doa. Show all posts
Showing posts with label doa. Show all posts

Thursday, September 17, 2009

Muwaddaa’Ya Syahru Ramadhan

… Ya Allah, Engkau jadikan bulan Ramadhan bulan yang istimewa, yang Engkau muliakan Dia dari semua bulan. Engkau pilih ia dari semua zaman dan masa. Engkau lebihkan ia dari semua waktu (lainnya) dalam setahun, dengan al-Qur’an dan cahaya yang Engkau turunkan di dalamnya, dengan keimanan yang Engkau tingkatkan di dalamnya, dengan puasa yang Engkau wajibkan di dalamnya. Dengan bangun malam yang engkau gemarkan di dalamnya,
dengan malam Qadar -- yang lebih dari seribu bulan -- yang Engkau agungkan di dalamnya. … Maka kami berpuasa atas perintah-Mu pada waktu siangnya, kami bangun dengan bantuan-Mu pada malam harinya, mempersembahkan diri kami dengan puasa dan shalat-malamnya ….

Melalui itu, kami memperoleh pahala-Mu. Kau kaya dengan apa pun yang diinginkan dari-Mu. Kau pemurah dengan apa yang diminta dari karunia-Mu. Kau dekat dengan orang yang berusaha mendekati-Mu.

Tiba-tiba bulan ini meninggalkan kami pada akhir waktunya, pada batas jangkanya, pada akhir lintasannya. Kami ingin mengucapkan selamat tinggal padanya. … (dia) yang menyedihkan kami perpisahan dengannya, merisaukan dan mendukakan kami kepergiaannya.

Kami sampaikan salam bagimu wahai bulan Allah yang agung, wahai hari raya para kekasih-Nya. Salam bagimu wahai waktu termulia yang menyertai kami. Wahai bulan terbaik di antara semua hari dan saat. Salam bagimu bulan yang di dalamnya harapan didekatkan, amal disebarkan. Salam bagimu sahabat yang paling bernilai ketika dijumpai, dan paling menyedihkan ketika ditinggalkan. Kawan yang ditunggu, yang menyedihkan perpisahan dengannya. … Salam bagimu wahai jiran, yang bersamanya hati melembut dan dosa berkurang. Salam bagimu penolong yang membantu kami menghadapi setan, dan memudahkan bagi kami jalan-jalan kebaikan.

Salam bagimu, betapa banyak orang yang terbebas (dari dosa-dosa) di dalammu. Betapa bahagianya orang yang menjaga kesucianmu … Salam bagimu, betapa banyak dosa yang kamu hapuskan. Betapa banyak aib yang kamu tutupi. Salam bagimu, betapa panjangnya hari-harimu bagi pendosa, betapa agungnya kamu bagi orang yang beriman. Salam bagimu bulan yang tak tertandingi oleh hari-hari mana pun. Salam bagimu bulan yang di dalamnya sejahtera segalanya. Salam bagimu duhai yang pershabatannya tidak dibenci. Duhai yang pergaulan dengannya tidak tercela. (Kami panjatkan) salam (kesjahteraan) bagimu sebagaimana kau datang kepada kami membawa berkah. Dan kau bersihkan kami dari noda-noda cela.

Salam bagimu wahai yang tidak ditinggalkan karena (kami) kesal (padamu), tidak pula puasamu ditinggalkan (karena kami bosan).

Salam bagimu duhai yang dicari sebelum waktunya, yang ditangisi sebelum kepergiannya. Salam bagimu, betapa banyak kejelekan yang dipalingkan karenamu. Betapa banyaknya kebaikan dilimpahkan kepada kami karenamu. Salam bagimu dan bagi malam Qadar yang lebih baik dari malam seribu bulan. Salam bagimu, betapa senangnya kami kepadamu kemarin, betapa rindunya kami kepadamu besok. Salam bagimu dan bagi keutamaannya yang sekarang ditepiskan dari kami, dan bagi keberkahan yang sekarang ditanggalkan dari kami. …

Ya Allah, bagimu segala pujian, di tengah pengakuan akan keburukan (kami). Dan kesadaran akan kelalaian (kami). Bagimu, dari lubuk hati kami yang paling dalam, dari lidah kami, permohonan maaf yang paling tulus. Berilah kami, dengan segala kekurangan yang menimpa kami di bulan ini, pahala yang menyampaikan kami kepada kemuliaan yang diharapkan, dan berbagai macam kebahagiaan yang dirindukan. Pastikan bagi kami ampunan-Mu, dalam kekurangan kami dalam memenuhi hak-Mu di bulan ini. Sampaikan dengan sisa umur kami, kepada bulan Ramadhan yang akan datang.

Taqabbal, Yaa Kariim …

(Cuplikan Do’a Imam ‘Ali Zainal ‘Abidin)

Sunday, September 6, 2009

Doaku terjawab sudah..

Ketika kumohon kepada Allah kekuatan, Allah memberiku kesulitan agar aku menjadi kuat.

Ketika kumohon kepada Allah kebijaksanaan, Allah memberiku masalah agar dapat kupecahkan.

Ketika kumohon kepada Allah kesejahteraan, Allah memberiku akal untuk berfikir.

Ketika kumohon kepada Allah keberanian, Allah memberiku kondisi bahaya untuk dapat kuatasi.

Ketika kumohon kepada Allah cinta, Allah memberiku orang2 bermasalah untuk kutolong.

Ketika kumohon kepada Allah bantuan, Allah memberiku kesempatan.

Aku tak pernah menerima apa yang kuminta, melainkan aku menerima segala yang kubutuhkan.

Doaku terjawab sudah.
(Imam Ali bin Abi Thalib, salamullah alaihi)

Saturday, April 4, 2009

Duhai..Ibu dan Ayahku

Dalam karyanya “Risalatul Huquq“ (pandangan Islam tentang HAM), Imam Ali Zainal Abidin as-Sajjad ra menjelaskan hak-hak dari beragam pihak. Ketika sampai pada hak Ibu, beliau as mengatakan:
“Kemudian, hak ibumu adalah hendaknya engkau mengetahui bahwa dialah yang telah mengandungmu, sementara tidak seorang pun akan bersedia mengandung orang lain seperti itu.

Dia memberimu makan dari buah hatinya, sedang tidak seorang pun bersedia memberi makan orang lain seperti itu. Dia menjaga keselamatanmu dengan pendengarannya, penglihatannya, tangannya, kakinya, rambutnya, kulitnya, dan seluruh organ tubuh lainnya. Dia sangat berbahagia melakukannya. Dia senang dan riang, tabah menanggung segala beban yang mengganggunya; rasa sakit, dan kerisauannya hingga saat dia, oleh kekuasaan takdir, dibebaskan dari dirimu yang membebaninya lalu mengeluarkanmu ke alam dunia. Dia tetap rela menjadikanmu kenyang ketika dia sendiri lapar; memberimu pakaian ketika dia telanjang; memberimu minuman ketika dia haus; menaungimu dalam keteduhan ketika dia kepanasan; membahagiakanmu ketika dia menderita serta menidurkanmu ketika ia berjaga.
Perutnya menjadi wadah penyimpanan bagimu, pangkuannya tempat yang aman untuk merangkummu, susuannya disediakannya untuk minumanmu dan dirinya sendiri bagai perisa penjaga keselamatanmu. Dia menahan panas dan dinginnya dunia bagimu demi memeliharamu. Maka, patutlah engkau berterima kasih padanya untuk semua itu. Engkau tak akan mampu menunjukkan rasa terima kasihmu kepadanya, kecuali jika dengan pertolongan Allah dan taufik-Nya.”

Pikiranku jadi melayang ketika aku menyaksikan bagaimana ibuku mengandung adikku dulu. Dimana karenanya urat-urat di kakinya membengkak. Dimana karenanya ia harus merangkak untuk menuju ke kamar mandi. Dimana karenanya mual dan muntah adalah rutinitasnya sehari-hari. Dimana karenanya tidur nyenyak adalah sebuah kemewahan yang jarang ia dapatkan setiap malamnya. Dan banyak lagi kesusahan yang ia tanggung dengan sepenuh ridha selama lebih sembilan bulan untuk kemudian ia mempertaruhkan hidupnya untuk melahirkan buah hatinya ke dunia yang fana ini, untuk ia peluk dan sayangi sepanjang hidupnya. Aku membayangkan seperti itulah kiranya sewaktu ibuku mengandung aku dulu. Ya Allah, curahkanlah rahmat-Mu sebesar2nya untuknya. Karena bagaimana pun aku takkan mampu untuk berterima kasih kepadanya.

Aku ingat betapa aku tidak henti2nya membuatnya berkorban demi kesenanganku. Aku ingat waktu aku baru masuk SMP dulu. Ketika aku pulang sekolah, ibuku bertanya: “Kenapa, Mar? Kok keliatannya sumpek gitu? Gimana tadi di sekolahan?”. Aku cerita bahwa tadi ada pelajaran mengetik, tapi karena aku sama sekali belum pernah megang mesin tik, maka jadinya aku termasuk yang ketinggalan di kelas. Setelah cerita itu, tanpa merasa apapun, kemudian aku beraktifitas yang lain karena memang bagiku tidak terlalu penting. Tapi rupanya tidak demikian halnya dengan ibuku, setelah mendengar ceritaku tadi. Tanpa sepengetahuanku, rupanya ia mencari tahu dimana ia bisa beli mesin ketik dan berapa harganya. Dua hari setelah itu, aku dikejutkan ketika ibuku datang dan turun dari becak yang ditumpanginya dengan membawa sebuah mesin tik baru merk “brother”. Kontan saja aku sangat gembira dengannya. Tapi aku kemudian berfikir ini pasti mahal harganya. Aku pun tanya kepadanya, “Makasih ya, Mah. Ini pasti mahal ya, Mah? Berapa harganya, Mah?..”. Ia pun tidak menjawab pertanyaanku, ia hanya berkata semoga aku senang dan tidak ketinggalan pelajaran ngetik di sekolah. Belakangan aku baru tahu bahwa harga mesin tik itu dulu (sekitar tahun ’87-an) adalah 75 ribu, dan ibuku dapat membelinya setelah menjual sebuah gelang emas miliknya. Ya Allah, Rahmatilah Ibuku dengan seluas-luas rahmat-Mu, ya Rabb. Sangat berat baginya melihat sekecil apapun keresahanku. Mampukah aku merasakan hal yang sama terhadapnya?

Kemudian ingatanku melayang lagi ketika aku akan kuliah di Bandung dulu. Aku ingat betul kondisi ekonomi keluarga waktu itu yang amat berat untuk menanggung biaya2 yang aku perlukan. Aku bersyukur ada beberapa orang dari saudaraku yang bersedia mendukungku dalam sebagian pembiayaan yang kuperlukan. Ibuku bukanlah orang yang mudah untuk meminta bantuan kepada orang lain, walaupun kepada saudara sendiri. Belakangan aku baru tahu kalau ibuku dulu pernah tak mampu mengeluarkan sepatah katapun kepada saudaranya lewat telepon. Hanya isak tangis yang dapat didengar oleh saudaranya dari ujung telpon sebelah sana. Pekerjaan yang sangat berat itu, ia mau lakukan demi aku, anaknya yang tak tahu diri ini.

Aku juga ingat bagaimana jerih payah ayahku dalam mencari nafkah dan memberi pendidikan terbaik buat semua anak2nya. Ia yang sering tak dapat menahan rasa kantuknya untuk tetap menjaga toko kelontong yang menjadi tumpuan penghasilan keluarga semenjak kebangkrutan pabriknya dulu. Ia yang mau beranjak dari kantuknya untuk melayani pembeli permen senilai 100 perak 3 buah. Kemuliaan anak2nya adalah beban yang dengan sepenuh ridha ia tanggung. Kebanggaannya adalah ketika melihat anaknya bangga. Kebahagiaannya adalah ketika melihat anaknya bahagia. Kesedihannya adalah ketika melihat anaknya sedih atau salah jalan.

Duh..sungguh tak kuasa aku melanjutkan tulisanku ini. Tak mampu aku mengingat dan menuliskan semua jasa dan pengorbanan kedua orang tuaku dari aku di kandungannya sampai kini dan nanti.
Karena itu, Ya Ilaahi, Ya Maulaya, Ya Rabbii…
Aku bermohon kepada-Mu, dengan rahmat-Mu yang meliputi segala sesuatu
Ya Allah, demi kemuliaan Nabi-Mu dan keluarganya, muliakan pula kedua orang tua ku, Ya Rabb.
Ya Allah, demi keistimewaan Nabi-Mu dan keluarganya, istimewakan pula kedua orang tuaku, Ya Sayyidi.
Ya Allah, berilah aku petunjuk untuk mengetahui apa yang mesti aku lakukan kepada kedua orang tuaku,
Berilah aku kemampuan untuk mengetahui semua kewajiban itu secara sempurna, Ya Maulaya.
Ya Allah, buatlah aku berbakti kepada keduanya sebagaimana kebajikan seorang ibu yang pengasih,
Jadikan ketaatanku dan kebaktianku kepada kedua orang tuaku sebagai rasa kasih yang lebih menyenangkan hati daripada tidurnya orang2 yang mengantuk;
dan lebih terasa segar di dada daripada segarnya minuman orang2 yang haus;
sehingga aku bisa mendahulukan keinginan mereka daripada keinginanku sendiri,
dan mengutamakan keridhaannya daripada keridhaanku sendiri.

Ya Allah, rendahkanlah suaraku di hadapan mereka,
Hiasilah ucapanku dengan kata manis kepadanya,
Lembutkanlah setiap tingkah dan kelakuanku kepadanya,
Isilah hatiku dengan rasa kasih kepadanya,
Biarlah aku tetap menyertainya dan tetap merindukannya.

Ya Allah, balaslah kebaikan mereka atas pendidikan yang diberikan padaku,
Dan berilah ganjaran penghargaan kepada mereka karena telah memuliakanku,
Serta peliharalah mereka sebagaimana mereka dulu memeliharaku di waktu kecil.

Ya Allah, apa pun yang menimpa mereka, apakah itu berupa kesalahan yang aku perbuat, tingkah laku yang tidak menyenangkan mereka atau kelalaian yang aku perbuat,
Jadikanlah itu semua sebagai penebus dosa2 mereka, pengangkat derajat mereka, penambah kebaikan mereka, Wahai yang Maha Kuasa merubah segala kesalahan menjadi kebaikan yang berlipat ganda.

Ya Allah, apapun kesalahan yang mereka perbuat, aku mengharap Engkau mengampuni kesalahan mereka.
Bagaimana tidak, ya Ilahi. Panjangnya masa mereka mengurusku?
Bagaimana pula beratnya kelelahan mereka dulu dalam menjaga dan memeliharaku?
Bagaimana pula pengorbanan mereka dulu dalam melapangkan hidupku?
Sungguh besar jasa mereka dalam mengurus kepentinganku, aku tak mampu membalas kebaikan mereka hanya dengan melaksanakan semua kewajibanku kepada mereka, dan aku tidak mampu memenuhi semua kewajiban berbakti kepada mereka.

Jadikanlah aku menjadi penutup lubang keperihan yang keduanya rasakan saat ini,
Jadikanlah orang yang saat ini terus melubangi perasaan, pandangan dan pendengarannya untuk segera bersadar, Ya Rabbi, Ya Raja’I wa ya Mu’tamadii.
Untuk segera menyadari apa akibat yang telah ia lakukan bagi kedua orang tuanya.
Dan untuk itu, Ya Rabbi. Tunjukkanlah kepadaku, apa yang dapat aku lakukan untuk membantunya. Agar mereka dapat senantiasa tentram dalam masa tuanya.
Ya Allah, janganlah Engkau membuatku lupa mengingat kedua orang tuaku,
di setiap akhir shalatku,
di setiap saat di malam hariku,
di setiap waktu di siang hariku.

Dan terakhir, Ya Rabb.
Bila ampunan-Mu Engkau dahulukan kepada mereka, maka berikanlah mereka kesempatan memberi syafaat kepadaku,
Dan jika ampunan-Mu Engkau dahulukan kepadaku, maka berilah aku kesempatan untuk memberi syafaat kepada mereka,
Sehingga kami bisa berkumpul dengan kasih sayang-Mu,
di negeri kemuliaan-Mu,
dan di tempat Maghfirah-Mu.

Limpahkanlah sebaik sholawat dan salam kepada junjunganku dan Rasul-Mu beserta keluarganya,
Sesungguhnya Engkau Pemilik karunia yang Agung dan Pemilik keberkahan yang tak pernah henti, Engkaulah Maha Pengasih dari semua yang mengasihi.[undzurilaina]

Thursday, November 15, 2007

Doa tidak dikabulkan?

Pernah suatu hari, Imam Ali bin Abi Thalib berkhotbah Jumat, dan setelah usai ada seseorang yang berdiri dan bertanya: "Wahai Amirul Mukminin, mengapa doa-doa dan permintaan kita yang senantiasa kita panjatkan ke hadirat Allah SWT tidak dikabulkan oleh Allah SWT, bukankah Dia telah berfirman dalam Alquran:

"Mintalah (berdoalah) kalian pada-Ku pasti akan Kukabulkan doa kalian."( Q.S. al Mu`min [40]: 60.)

Imam Ali as. menjawab: "sesungguhnya hati-hati kalian telah berkhianat kepada Allah SWT dengan delapan sifat (yang menyebabkan doa-doa kalian tidak pernah dikabulkan oleh Allah SWT), yaitu:

1. Kalian mengetahui Allah SWT tetapi kalian tidak pernah memenuhi hak-hak-Nya yang telah diwajibkan kepada kalian, sehingga pengetahuan kalian terhadap Allah tidak akan bermanfaat sama sekali bagi diri kalian.

2. Kalian beriman kepada Rasulullah saw., lalu kalian menentangnya dan bahkan ikut andil dalam mematikan syariat-Nya. Lalu di mana buah iman kalian.

3. Kalian membaca kitab (Alquran) yang diturunkan untuk kalian tetapi kalian tidak mengamalkannya, kalian mengatakan kami mendengar dan kami patuh namun kalian menentangnya.

4. Kalian mengatakan takut dari api neraka, tetapi perbuatan dan kelakuan kalian setiap saat mendorong diri kalian ke sana dengan berbagai kemaksiatan yang kalian lakukan, lalu di mana rasa takut kalian?

5. Kalian mengatakan sangat mendambakan dan senang sekali bila masuk ke dalam surga, tetapi setiap saat kalian melakukan perbuatan yang menjauhkan diri kalian darinya, lalu di mana rasa cinta dan harapan kalian kepada surga itu?

6. Sesungguhnya kalian memakan berbagai nikmat yang dikaruniakan Allah kepada kalian, tetapi kalian tidak pernah mensyukurinya.

7. Sesungguhnya dalam firman-Nya, Allah SWT telah memerintahkan kalian agar menjadikan setan sebagai seteru dan musuh bebuyutan dalam kehidupan kalian "Sesungguhnya setan adalah musuh bagi kalian, maka tempatkanlah dia sebagai musuh,"(Q.S. al Fâthir [35]: 6) tetapi kalian menjadikan setan sebagai teman setia dan mengikuti jejaknya tanpa pernah membantah dan melawannya.

8. Kalian menempatkan aib manusia di pelupuk mata kalian, tetapi meletakkan aib kalian sendiri berada di punggung, kalian mencela orang padahal sesungguhnya kalian lebih patut dan layak mendapat celaan dari pada orang yang kalian cela.

Maka doa apa dan yang mana lagi harus mendapat ijabah Ilahi dari kalian, sedangkan kalian telah menutup rapat-rapat pintu ijabah dan menyumbat celah-celahnya, bertakwalah kalian kepada Allah SWT, perbaikilah amal perbuatan kalian, sucikanlah hati kalian, dan ajaklah orang-orang untuk melakukan kebajikan dan mencegah kemungkaran, niscaya doa-doa yang kalian panjatkan akan dikabulkan Allah SWT.[undzurilaina]

(Dikutip dari "Doa doa dalam Sujud" karya Alwi Husein Lc)

Tuesday, November 13, 2007

Ketika Sakit atau dalam Kesulitan


Bismillahirahmanirrahim,

Ya Allah, bagi MU segala pujian

karena tidak henti-henti nya aku bergerak

berkat kesehatan badanku,

bagi Mu segala pujian

karena penyakit

yang Engkau timpakan pada jasadku,

Aku tidak tahu

keadaan mana yang paling patut aku mensyukuri Mu

waktu yang mana yang paling pantas aku memuji Mu

Apakah waktu sehat?

ketika Engkau senangkan daku

dengan yang baik-baik dari rezki Mu,

Engkau bangkitkan semangatku

untuk mencari Ridho dan karunia Mu,

Engkau kuatkan aku untuk mentaati Mu

pada apa yang telah Kau berikan taufiqnya bagiku?

Ataukah waktu sakit?

ketika Engkau menguji aku

dan Engkau anugerahkan kenikmatan kepadaku,

dengan meringankan dosa-dosa

yang memberati punggungku,

mensucikan kesalahan-kesalahan

yang telah menenggelamkan diriku,

memberikan peringatan

untuk memperoleh pengampunan,

dan menyadarkan akan penghapusan dosa

dengan kenikmatan yang terdahulu

Dalam keadaan demikian,

apa yang dituliskan oleh dua malaikat bagiku

berupa amal yang bersih

yang tidak terpikirkan oleh hati

yang tidak terucapkan oleh lidah

yang tidak dilakukan oleh anggota badan

tetapi semuanya karunia dari Mu atasku

dan anugerah dari perlakuan Mu terhadapku

Ya Allah,

sampaikan salawat kepada Muhammad dan keluarga nya,

Cintakan aku kepada apa yang Kau ridhoi untuk ku,

Ringankan bagiku apa yang telah Engkau timpakan kepadaku,

Sucikan aku dari hal-hal kotor

yang dahulu aku lakukan,

Hapuskan dariku kejelekan

yang sebelumnya aku kerjakan,

Berikan kepadaku nikmatnya kesehatan,

Datangkan kepadaku sejuknya kesejahteraan,

Jadikanlah jalan keluarku dari sakitku

menuju ampunan Mu,

perpindahanku dari kemalanganku

menuju maaf Mu,

lepasnya aku dari deritaku

menuju ketentraman Mu,

keselamatanku dari kesusahan ini

menuju pertolongan Mu,

Sungguh, Engkaulah yang mencurahkan anugerah,

menaburkan karunia,

Maha Pemberi, Maha Pemurah,

Pemilik Keangungan dan Kebaikan.

(dikutip dari kumpulan munajat Imam Ali Zainal Abidin, As-Shahifah as-Sajjadiyyah)

Thursday, August 23, 2007

Doa Keselamatan


" Ya Allah! Anugerahkanlah kami taufik untuk berbuat ketaatan,

dan menjauhi kemaksiatan

serta niat yang baik,

dan pengetahuan tentang hal yang haram.

Muliakanlah kami dengan petunjuk dan istiqamah.

Serta bimbinglah lidah kami untuk berkata benar dan bijaksana.

Dan penuhilah hati kami dengan ilmu pengetahuan.

Serta sucikanlah perut kami dari yang haram dan syubhah.

Tahanlah tangan kami dari perbuatan zalim dan mencuri.

Serta pejamkanlah mata kami dari

perbuatan jahat dan khianat.

Dan selamatkanlah pendengaran kami dari

mendengarkan hal-hal yang jelek dan ghibah.

Dan berikanlah ulama' kami sikap zuhud dan keikhlasan.

Dan kepada golongan pelajar kami sikap kesungguhan,

Dan semangat dan kepada pendengar-pendengar

agar mengikuti dan mendapatkan peringatan,

serta berilah kesehatan dan kelapangan

kepada Musliminin yang sakit

dan kepada kaum Muslimin yang meninggal dunia dengan

kelemah-lembutan dan rahmat(Mu),

Dan kepada orang-orang tua kami ketenangan dan ketenteraman,

dan kepada para pemuda dengan sikap kesabaran dan taubat,

dan kepada wanita-wanita kami sikap malu dan harga diri,

dan kepada orang-orang kaya sikap rendah diri dan dermawan,

dan kepada para faqir dan miskin sikap kesabaran dan rasa cukup.

Limpahkanlah sholawat kepada junjungan kami Rasulullah SAW beserta keluarganya, salam terbaik kami buat mereka semua.

Segala puji hanya kepada Mu, Ya Allah, Tuhan Pemelihara Seluruh Sekalian Alam

Monday, May 21, 2007

Doa dan Sang Pendoa

Siapa yang semestinya berdoa? Doa adalah memohon apa yang telah ditindaklanjuti dengan kelayakan, pekerjaan dan pemikiran. Doa bukan cara ngotot untuk meminta “godot” (sesuatu yg mustahil). Ia adalah rentangan kehendak dan hasrat; pemantapan tiang-tiang agama; pelestarian kehendak dan akidah-akidah suci manusia. Jika tidak demikian, jiwa akan tetap tersimpuh dalam pasungan materi yang nista dan menjijikkan.

Doa ialah memohon keperluan hidup yang seharusnya ada pada kita (bukan keperluan yang mengada-ada atau diada-adakan). Ia bukanlah kesendirian. Isi doa adalah hasrat kepada apa yang tidak konkret.

Siapakah orang yang berdoa itu?

Ia adalah orang yang dengan segenap potensi, cinta, keguncangan dan kelembutan dirinya mengharapkan sesuatu. Dialah orang yang menyingkap betapa jauh jarak antara modus being dan becoming yang harus ditempuhnya.[1]

Dialah orang yang guncang dan bergetar karena selalu menginginkan sesuatu. Dia adalah orang yang selama-lamanya merindukan, membutuhkan, kehausan dan merintih. Adapun orang yang jarak antara being dan becoming-nya tidak jauh, maka dia hanya akan melakukan perjalanan yang pendek dan mudah. Orang jenis kedua ini, hanya akan berdoa agar yayasannya diperkaya, diutuhkan kesehatan tubuhnya, dan dihilangkan semua bentuk kemalsan dalam dirinya. Sedangkan doa sebuah jiwa yang kehausan dan kasmaran adalah mi’raj keabadian, pendakian ke puncak yang mutlak, dan perjalanan memanjat dinding keluar dari batas alam fisik (mundus sensibilis).
(dikutip dari "Makna Doa", oleh: Dr.Ali Syariati)



[1] Terminology being dan becoming adalah temuan Erich Fromm yang telah dijabarkannya dalam buku "The Art of Loving". Intinya, bahwa manusia di dunia ini selalu dilengkapi dua corak keberadaan atau dua modus ontologis (hakikat hidup) yaitu being dan becoming. Being merujuk pada keadaan yang telah dimiliki manusia baik secara spiritual, kognitif (berdasarkan pengetahuan faktual dan empiris), mental, psikologis, maupun material. Sedangkan modus becoming merujuk pada proses manusia meningkatkan dirinya kepada apa yang semestinya.

Tuesday, April 24, 2007

Doa yang dikabulkan

Dikisahkan tentang seorang peminum khamr berencana mengumpulkan teman-temannya yang biasa minum-minum bersamanya. Ia memberikan empat dirham kepada budaknya agar membeli buah-buahan sebagai pelengkap hidangan majlisnya malam itu. Dalam perjalanannya ke pasar, si budak lewat di depan majlis Manshur bin `Ammar, sedang memintakan sumbangan untuk seorang miskin. Katanya, “Siapa saja yang memberi orang miskin ini sebanyak empat dirham, aku akan mendoakan baginya empat jenis doa.” Mendengar itu, si budak menyerahkan keempat dirham milik majikannya kepada Manshur yang lalu bertanya kepadanya, “Doa apa yang kauingin aku doakan untukmu?” Jawab si budak, “Aku mempunyai seorang majikan yang aku ingin sekali terbebas darinya.”

Manshur segera berdoa, lalu bertanya lagi, “Apa lagi?” “Agar Allah menggantikan keempat dirham yang telah kuserahkan kepada Anda,” jawab budak itu. Lalu Manshur berdoa lagi, dan setelah itu berkata, “Apa lagi?” “Agar Allah mengabulkan taubat majikanku itu,” jawab si budak. Sekali lagi Manshur berdoa, lalu berkata, “Apa lagi?” “Agar Allah memberikan ampunan-Nya bagiku, bagi majikanku, bagi Anda dan bagi semua yang hadir.” Dan Manshur pun berdoa untuk keempat kalinya, lalu si budak pulang dan ditanya oleh majikannya,

“Mengapa lama sekali engkau pergi?” Budak itu menceritakan apa yang dialaminya bersama Mnshur bin `Ammar.

“Apa yang kauminta didoakan olehnya?” tanya sang majikan.

“Pertama,” jawab si budak, “Agar aku memperoleh kebebasan.”

“Baiklah, kini engkau telah kubebaskan, dan boleh pergi kemana saja engkau kehendaki. Apa permintaanmu yang kedua?”

“Agar Allah menggantikan keempat dirham yang kuberikan kepada orang miskin itu.”

“Baiklah, ini empat ribu dirham hadiah untukmu. Apa yang ketiga?”

“Agar Allah mengabulkan taubat Anda.”

“Baiklah. Sekarang juga aku bertaubat kepada Allah. Apa yang keempat?”

“Agar Allah memberi ampunan bagiku, bagi Anda, bagi semua yang hadir dan bagi orang itu yang mengingatkan aku.”

“Wah, kalau yang ini, bukan wewenangku!” kata si mantan majikan.

(Malam itu juga, ia melihat seolah-olah ada yang berseru kepadanya, “Engkau telah melakukan apa yang mampu kaulakukan. Apakah kaukira Aku tidak akan melakukan apa yang mampu Aku lakukan? Aku telah memberikan pengampunan bagimu, bagi mantan budakmu, bagi Manshur bin `Ammar dan bagi semua yang hadir!”).