Showing posts with label Sejarah Islam. Show all posts
Showing posts with label Sejarah Islam. Show all posts

Monday, April 26, 2010

Fatimah adalah Fatimah

Setelah berpulangnya, dia memulai kehidupannya dalam sejarah. Fatimah menjadi sumber pencerahan di hadapan semua orang tertindas yang kemudian menjadi kekuatan Islam. Semua orang yang dijarah, dirampok, ditindas, dan menderita, semua orang yang haknya dirampas dan dihancurkan oleh pemaksaan dan dikelabui, memakai nama Fatimah sebagai slogan.

Ingatan terhadap Fatimah tumbuh dengan kecintaan, emosi dan indahnya keimanan dari semua laki-laki dan wanita, yang dalam perjalanan sejarah Islam, berjuang untuk kemerdekaan dan keadilan. Selama berabad-abad, mereka mendapatkan sumber kekuatan mental dibawah penguasa-penguasa tanpa ampun dan pecutan penuh darah mereka. Teriakan dan kemarahan mereka bertumbuh dan mengalir deras dari luka hati mereka.

Inilah kenapa dalam sejarah bangsa-bangsa umat Islam dan diantara masyarakat terzalimi dari komunitas Islam, Fatimah menjadi sumber inspirasi untuk kemerdekaan, keinginan yang fitrah, pencari keadilan, perlawanan terhadan penindasan, kekejaman, kejahatan dan diskriminasi.

Sangat sulit untuk membicarakan tentang kepribadian Fatimah. Fatimah adalah wanita yang ideal dalam Islam. Konsep tentang jati-diriya digambarkan oleh Rasulullah sendiri. Dia (Rasulullah) menggodoknya dan menjadikannya suci dalam kobaran api kesulitan, kemiskinan, perlawanan, pemahaman yang mendalam dan keajaiban kemanusiaan.

Dia adalah simbol kewanitaan yang multi dimensi.
Simbol seorang anak dalam menghadapi ayahnya.
Simbol seorang istri dalam menghadapi suaminya.
Simbol seorang ibu dalam menghadapi anak-anaknya.
Simbol seorang yang bertanggung-jawab, pejuang wanita dalam kehidupan masyarakatnya.

Dia sendiri adalah seorang Imam (pemimpin), pembimbing, teladan sempurna, tipe ideal dari seorang wanita dan seorang yang menjadi saksi kepada setiap wanita yang memilih untuk menjadi dirinya sendiri.

Dia memberi jawaban bagaimana menjadi wanita dengan masa kecil yang indah, perjuangan dan perlawanan konsisten di dua medan, luar dan dalam, di rumah ayahnya, di rumah suaminya, di kehidupan masyarakatnya, dalam pemikiran dan tindakannya dan dalam kehidupannya.

Saya tidak tahu harus bicara apa lagi. Saya telah menyebutkan banyak hal. Tapi masih banyak yang belum terucap.

Dalam menunjukkan aspek mengagumkan dari semangat agung Fatimah, yang membuat saya terpesona, adalah Fatimah merupakan teman perjalanan, melangkah dengan langkah yang sama, melesat bersama-sama dengan semangat agung Ali, melalui penaikkan nilai kemanusiaan menuju kesempurnaan dan tingatan-tingkatannya.

Dia tidak hanya sekedar seorang istri bagi Ali. Ali menghormatinya sebagai teman hidup, teman hidup yang merasakan penderitaan dan harapannya. Dia menjadi tempat berteduh dan mendengarkan segala rahasia-rahasianya. Dia menjadi satu-satunya sahabat dalam rasa kesepian. Inilah kenapa Ali selalu senang menatapnya dan anak-anaknya.

Setelah Fatimah, Ali punya istri lain dan punya anak dari mereka. Tapi dari saat awal, dia memisahkan anak-anak Fatimah dari anak-anaknya yang lain. Yang terakhir disebut Bani Ali (anak-anak Ali) dan yang satunya disebut Bani Fatimah (anak-anak Fatimah).

Bukankah ini aneh ! Ketika berhadapan dengan ayah mereka dan dia, Ali, anak-anak dihubungkan dengan Fatimah. Dan kita tahu bahwa Rasulullah juga melihatnya dengan pandangan lain. Dia (Rasulullah) mengandalkan Fatimah. Dari usia dini, Fatimah menerima undangan ini.

Saya tidak tahu apa yang harus saya ucapkan tentang dia. Bagaimana caranya ? Saya ingin meniru penulis Prancis yang berbicara di suatu konferensi tentang Perawan Maria. Dia bilang, "Selama 1700 tahun semua berbicara tentang Maria. Selama 1700 tahun, banyak filosof, pemikir dari seluruh bangsa dari Timur dan Barat berbicara tentang nilai dari Maria. Selama 1700 tahun banyak penyair telah mengekspresikan kreatifitas dan kemampuan mereka dalam menyanjung Maria. Selama 1700 tahun, banyak pelukis dan artis telah membuat karya gemilang dalam menampakkan Maria. Tapi keseluruhan upaya ini masih belum mampu menjelaskan keagungan Maria seperti dalam kata-kata ini, 'Maria adalah ibu dari Yesus Kristus'. "

Dan saya ingin meniru hal ini untuk Fatimah. Saya mentok (tidak bisa). Saya ingin bilang "Fatima adalah anak Khadijah yang Agung". Saya merasa ini bukan Fatimah. Saya ingin bilang "Fatimah adalah anak Muhammad". Saya merasa ini bukan Fatimah. Saya ingin bilang "Fatimah adalah istri Ali". Saya merasa ini bukan Fatima. Saya ingin bilang "Fatima adalah ibunya Hasan dan Husein". Saya merasa ini bukan Fatimah. Saya ingin bilang " Fatima adalah ibunya Zainab". Saya tetap merasa ini bukan Fatima.

Tidak, semua pernyataan itu benar tapi tidak satupun adalah Fatimah.

Fatimah adalah Fatimah.
(dikutip dari Fatima is Fatima, karya Dr Ali Syariati)

Saturday, January 2, 2010

Monster dan Anak Domba, Antara Naziisme dan Yazidisme

Reinhold Hench dan Paul Schaeffer adalah dua orang kolega Peter Drucker. Peter Drucker, seorang keturunan Yahudi yang oleh banyak kalangan digadang sebagai Bapak Penemu Manajemen Modern itu memutuskan untuk keluar dari Jerman karena prediksinya bahwa Nazi akan memenangkan Pemilu Jerman. Namun tidak dengan kedua koleganya tersebut.

Singkat cerita, malam ketika esok harinya Drucker akan berangkat, ada yang mengetuk pintu rumahnya. Jantungnya seakan berhenti berdetak, ketika melihat pasukan Nazi berdiri di depan pintu rumahnya. Ia sedikit lega ketika mengenali orang itu adalah Hensch, koleganya di surat kabar tempat dia bekerja. Hensch mendengar bahwa Drucker telah keluar dari surat kabar itu (dan juga sebagai dosen), dan mencoba berbicara dengan Drucker mengapa ia keluar dari surat kabar itu. Drucker pun menjelaskannya, karena tak punya alasan lain.

Ekspresi Hensch pun berubah dengan cepat dan meluapkan kata2 emosional. Ia mengatakan pada Drucker betapa ia sangat iri kepadanya bahwa ia tidak “sepandai” Drucker, dan berharap ia bisa keluar. Namun ia melanjutkan bahwa ia tak bisa keluar. Ia menginginkan uang, status, dan kekuasaan, serta berkata bahwa karena ia memiliki nomor keanggotaan kecil di Partai Nazi (yang artinya punya kuasa lebih), ia sekarang akan menjadi “seseorang”.
“Camkan kata2ku ini,” katanya pada Drucker, “kamu akan mendengar tentangku sekarang!!!”.

Setelah itu, Drucker tak pernah lagi mendengar berita tentang Hensch. Sampai dengan tahun 1945 ketika Nazi ditaklukkan, ada artikel pendek di The New York Times menarik perhatiannya:
“Reinhold Hensch, salah seorang penjahat perang Nazi yang paling dicari Amerika, bunuh diri ketika ditangkap pasukan Amerika di gudang bawah tanah di sebuah rumah yang tinggal puing di Frankfurt.... Hensch, dikenal sangat kejam, keji dan haus darah sehingga dijuluki ‘Monster’ (Das Ungebeuer) bahkan oleh anak buahnya sendiri.”

Paul Schaeffer adalah seorang wartawan senior terkenal yang telah melanglang buana lebih dari 50 tahun di media terkemuka dunia seperti New York Times, Times, dll. Namun dia memutuskan untuk menerima tawaran dari koran terpandang Jerman (Berliner Tageblatt). Namun Schaeffer tidak bodoh. Ia tahu lebih baik dari orang-orang lain tentang apa yang dikejar Nazi selama ini, tapi ia pikir ia bisa membuat perbedaan: “Justru karena kekejian yang terjadi inilah saya harus menerima pekerjaan itu,” ia menjelaskan.
Dia tidak menggubris peringatan orang2 disekelilingya yang khawatir bahwa ia akan dimanfaatkan oleh Nazi untuk memberikan tedeng kehormatan dan menipu dunia luar.
Dan akhirnya Nazi memanfaatkan Schaeffer persis seperti yang dikhawatirkan teman2nya. Jabatan, uang dan kehormatan pun dicurahkan kepadanya. Setiap ada berita tentang kekejian Nazi yang bocor, Schaeffer dikirim ke kedubes-kedubes dan koresponden-koresponden asing untuk meyakinkan mereka bahwa semua itu tidak benar.

Dalam “memoar”-nya (Adventures of a Bystander), Drucker mengatakan bahwa kejahatan itu sesuatu yang hebat sehingga manusia sering diperalat olehnya. Karenanya manusia tidak boleh mempertahankan ataupun menggunakan kejahatan dengan cara apapun, karena cara itu pastilah jalan kejahatan bukan jalan manusia.
Manusia akan menjadi instrumen kejahatan ketika, seperti Hensch, ia berfikir bisa mengendalikan kejahatan untuk memenuhi ambisinya.
Dan manusia juga akan menjadi instrumen kejahatan ketika, seperti Schaeffer, ia bergabung dengan kejahatan untuk mencegah terjadinya hal yang lebih buruk.

Drucker mengakhiri bagian itu dengan bertanya:
“Siapa yang lebih kejam, monster atau anak domba? Mana yang lebih buruk, dosa Hensch karena nafsunya untuk berkuasa atau kesombongan Schaeffer dan dosanya karena pongah? Mungkin dosa terbesar bukanlah kedua dosa kuno itu, dosa terbesar adalah dosa abad ke-21, yaitu dosa karena bersikap masa bodoh, dosa seorang ahli biokimia terkenal yang tak membunuh dan tak berbohong, tapi menolak memberi kesaksian ketika, mengutip kata2 di Injil, ‘Mereka Menyalibkan Tuhanku!’.”

Kisah Drucker tentang dua koleganya diatas mengingatkan saya kepada kisah seputar tragedi yang terjadi pada cucu kesayangan Nabi, al-Husayn, penghulu pemuda ahli surga. Tentu saja saya sadar bahwa saya sedang membandingkan dua hal yang berbeda dari banyak segi, seperti skala, intensitas, maupun dampak dari kekejian yang dilakukan. Tapi betapapun saya melihat ada beberapa kemiripan. Saya coba mengambil contoh beberapa stakeholder sentral yang terlibat dalam tragedi paling mengerikan sepanjang sejarah tersebut. Tapi rasanya saya tidak perlu menjelaskan mengenai sang producer dan director kekejian, Yazid bin Muawiyyah.

Ubaidullah bin Ziyad bin Abihi, the man behind the gun, gubernur Bashrah yang menjadi project manager dalam penyerangan al-Husayn. Dia adalah anak dari Ziyad bin abihi, anak ayahnya. Disebut demikian karena ayahnya yang tidak jelas. Sebagian riwayat mengatakan bahwa Ziyad adalah anak Abu Sufyan dari Sumayyah (sebagian riwayat mengatakan Marjanah) yang dikenal sebagai wanita penghibur. Ubaidullah lahir di Bashrah. Ketika sang ayah meninggal, ia berada di Irak. Kemudian ia pergi ke Syam. Mu'awiyah mengangkatnya sebagai gubernur wilayah Khurasan pada tahun 53 H dan tinggal di sana selama dua tahun. Pada tahun 55 H, Mu'awiyah memindahkannya ke Bashrah. Yazid menetapkannya di sana pada tahun 60H. Tragedi Karbala terjadi di masa kekuasaannya dan atas perintahnya. Setelah kematian Yazid, penduduk Bashrah berbaiat kepadanya. Namun tak lama berselang , mereka melawannya. Diapun lari mencari perlindungan ke Syam, lalu kembali lagi ke Irak. Di tengah jalan, Ibrahim Asytar menghadangnya. Peperangan antara tentara keduanya pun tak dapat dielakkan lagi. Pasukan Ubaidillah kocar-kacir. Ibrahim memburunya dan membunuhnya di Khazir, satu daerah di Maushil. Setelah berhasil dibunuh, kepala ibnu Ziyad dibawa ke hadapan Mukhtar.

Umar bin Sa'ad bin Abi Waqqash Al-Zuhri Al-Madani. Dialah yang dikirim oleh Ubaidillah bin Ziyad dengan empat ribu orang tentara untuk menyerbu Dailam, dengan menjanjikannya kekuasaan atas wilayah Rey. Tapi sewaktu berita keberangkatan Al-Husain dari Mekah menuju Kufah sampai ke telinga Ibnu Ziyad, ia segera mengirimkan sepucuk surat padanya dan memerintahkannya untuk segera kembali bersama pasukannya. Umar pun kembali. Ibnu Ziyad lalu memerintahkannya untuk membantai Al-Husain. Umar menolak. Ibnu Ziyad mengancam dan mengingatkannya akan kota Rey. Akhirnya ia bersedia menerima tugas tersebut.
Di belakang hari, ketika Mukhtar bangkit melakukan pemberontakan, beliau mengutus orang untuk memburu dan membunuh Umar bin Sa'ad dan tamatlah riwayatnya.

Kedua person diatas mencoba menggunakan kejahatan untuk mencapai keinginan dan ambisinya. Seperti kata Drucker, mereka menjadi instrumen kejahatan ketika ia berfikir dapat menggunakan kejahatan untuk memenuhi ambisinya. Dan juga sejarah membuktikan, seperti juga yang terjadi pada Hensch, kehinaan lah yang akan didapatnya, alih-alih kejayaan dan kesuksesan.

Lain halnya dengan peran orang-orang diatas, yang oleh Drucker diistilahkan sebagai monster, ada juga peran lain yang sama-sama destruktifnya dengan monster, yaitu orang2 seperti Schaeffer yang –walaupun mungkin punya sedikit maksud baik di awalnya—berperan menjadi pembela-pembela kejahatan itu. Ada sebagian penulis, yang karena alasan-alasan tertentu, melakukan pengaburan terhadap sejarah ini. Dari yang bersikap tidak menyalahkan Yazid atas tragedi Karbala tersebut, sampai dengan yang sampai menulis buku khusus tentang keutamaan Yazid beserta ayahnya, Muawiyyah. Ada sebagian juga yang berusaha menutup sejarah itu dengan menonjolkan beberapa peristiwa lain (yang kurang jelas dan kuat dasarnya) yang menganjurkan bahwa hari Asyura adalah waktu yang tepat untuk bergembira, berbagi kebahagiaan.

Person-person seperti diatas ini, oleh Drucker diistilahkan dengan “anak domba”. Keyakinan para penulis itu –seperti Schaeffer—bahwa dia bisa mencegah hal yang lebih buruk (misalnya mungkin untuk menutup sejarah kelam) justru membawa hasil yang lebih mengerikan. Meskipun ada niat baik, mereka dengan segera menjadi kaki tangan kejahatan dengan kebohongan2nya. Mereka memberi kejahatan legitimasi untuk melanjutkan kekuasaan, kejahatan demi kejahatan, dan pembantaian demi pembantaian. Dengan menutup2i apa yang sebenarnya terjadi, mereka telah berperan dalam membuat dunia setidaknya bersikap netral terhadap kejahatan2 tersebut.

Wallahu a’lam, yang jelas saya setuju dengan Drucker yang menganggap bahwa anak domba sama destruktifnya dengan monster.
Mempelajari apa yang terjadi pada sejarah manusia dan menjadikannya hidup serta berinteraksi dengan kehidupan kita sekarang, menurut saya penting untuk dilakukan sehingga kita dapat mengambil hikmah-hikmah yang berharga untuk saat ini dan esok.

"Dan apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di muka bumi dan memperhatikan bagaimana akibat (yang diderita) oleh orang-orang yang sebelum mereka? .." (QS. ar-Rum: 9)

Jadi tergantung kita, apakah kita mau berperan menjadi “monster” atau “anak domba”? Atau akan menjadi orang2 acuh, yang menganggap kemarin adalah kemarin, tidak ada hubungannya dengan hari ini atau besok. Atau akan menjadi yang akan mengambil hikmah dan pelajaran dari setiap peristiwa, dan “menghidupkannya” untuk hari ini dan besok. Semuanya adalah pilihan peran yang terpampang di depan kita semua.
Nanti...“sejarah” hidup kita akan mencatat peran-peran kita tersebut untuk tentu saja dipertanggung-jawabkan. Bagaimana? [undzurilaina]

Wednesday, October 10, 2007

Mengenang Sanggahan Hamka

(Sumber Tempo Edisi. 34/XXXVI/15 - 21 Oktober 2007 Rubrik Iqra)

Mengenang Sanggahan Hamka

Hamka pernah menjadi sahabat Parlindungan. Namun,
suatu ketika, mereka berselisih tentang Tuanku Rao.
Hamka menuliskan pendapatnya dalam Antara Fakta dan
Khayal Tuanku Rao.

Di tahanan, Buya Hamka banyak membaca dan menulis.
Waktu itu, tahun 1964, Hamka berada di rumah tahanan
kepolisian Mega Mendung. Sebagai salah satu
fungsionaris Partai Masyumi, oleh rezim Soekarno ia
dianggap anti-Nasakom. Kemudian ia dipindahkan ke
Rumah Sakit Persahabatan, Rawamangun, Jakarta, karena
sakit—selama 17 bulan, sampai 1966, Hamka menghasilkan
karya monumentalnya, Tafsir Al-Azhar.

Salah seorang muridnya, Sofjan Tanjung, mengirimi
ulama itu buku tebal berjudul Tuanku Rao, dua
eksemplar—kiriman yang diiringi permintaan agar Hamka
memberikan komentar serta kritik atas buku tersebut.

Dan ketika Hamka keluar dari tahanan, ia berkenalan
dengan Parlindungan. Mereka bersahabat. Parlindungan
biasa menjemput Hamka ke rumahnya sebelum salat Jumat.
Parlindungan selalu mengenakan kopiah sampir buatan
Gorontalo, bersarung, dan bertongkat kecil.

Hamka mulanya mengagumi buku Tuanku Rao. Polemik
terjadi saat Hamka mulai meragukan isi Tuanku Rao.
Salah satu peristiwa penting dalam polemik mereka
terjadi dalam seminar di Padang pada Juli 1969. Baik
Hamka maupun Parlindungan hadir sebagai pembicara.
Pada acara tersebut, Hamka mempertanyakan informasi
Parlindungan mengenai Haji Piobang, pendiri Padri yang
disebut Parlindungan pernah menjadi salah satu kolonel
tentara Turki di bawah pimpinan Jenderal Muhammad Ali
Pasya. "Sampai seminar habis, Parlindungan tidak dapat
memberi jawaban tegas," tulis Hamka.

Hamka meluncurkan kritik-kritik cukup pedas menanggapi
Tuanku Rao. Kritik ini ia tulis dalam beberapa artikel
yang dimuat di harian Haluan, Padang, 1969-1970. Ia
menyebut Parlindungan bodoh. Parlindungan menganggap
Hamka childish dan kampungan.

Sebuah buku khusus pun diluncurkan oleh Hamka bertajuk
Antara Fakta dan Khayal Tuanku Rao. Dalam buku setebal
364 halaman yang diterbitkan oleh Penerbit Bulan
Bintang pada 1974 itu, Hamka menuding isi Tuanku Rao
80 persen bohong, sedangkan sisanya diragukan
kebenarannya. Pasalnya, setiap kali Hamka menanyakan
data dan fakta buku itu, Parlindungan selalu menjawab,
"Sudah dibakar."

Selain itu, Hamka mempertanyakan kebenaran berbagai
isu yang dilontarkan Parlindungan. Isu yang cukup
sensitif adalah pernyataan bahwa selama 300 tahun
daerah Minangkabau menganut mazhab Syiah Qaramithah.
Hal ini menurut Hamka dusta belaka.

Hamka juga menolak menanggapi isu tentang adanya
pemerkosaan massal dan orgy tawanan perempuan oleh
sebagian pasukan Padri. Cerita tentang bagaimana
anggota Padri melampiaskan nafsu syahwatnya secara
terbuka terhadap tawanan-tawanan cantik dituding Hamka
sebagai khayalan Parlindungan belaka. Hamka juga
menuduh cerita-cerita seks itu sengaja dipasang
Parlindungan untuk menarik hati para pemuda ketimbang
mencari data ilmiah.

Hamka membandingkan kisah Parlindungan—

tentang
pembunuhan keluarga Kerajaan Pagaruyung yang disertai
pemerkosaan para putri kerajaan dalam Tuanku
Rao—dengan data sumber Belanda. Versi Belanda, menurut
Hamka, menuliskan pembunuhan oleh Tuanku Lintau
terhadap keluarga kerajaan pada 1804. "Tapi tidak ada
disebut-sebut seorang Mandailing bernama Idris
Nasution dan pasukannya yang menawan puluhan gadis,
lalu memperkosa di hadapan umum, di udara terbuka,"
tulis Hamka.

"Cerita tentang Tuanku Lelo mengumbar nafsu syahwatnya
itu bumbu cerita porno yang dibuat Parlindungan yang
tidak kalah dengan cerita-cerita film cowboy tahun
1972," demikian Hamka mengejek Parlindungan. Di mata
Hamka, Tuanku Lelo yang menurut Parlindungan bernama
asli Idris Nasution itu tokoh karangan Parlindungan
belaka.

Toh, meski tak mengupas secara spesifik soal kekerasan
kaum Padri terhadap masyarakat Mandailing, khususnya
perempuan, Hamka mengutip keterangan Faqih Shagir dari
Hikayat Syaikh Jalaluddin, yang juga banyak berkisah
mengenai kaum Padri:

"…. Adapun yang jahat daripada Padri yaitu membunuh
segala ulama-ulama dan membunuh orang yang cerdik
cendekia, mengambil perempuan yang bersuami,
menikahkan perempuan yang tidak sekufu dengan tidak
ridhanya, bepergundik tawanan dan menghinakan orang
yang mulia-mulia dan mengatakan kafir orang yang
beriman…."

Sita Planasari Aquadini

Dari Catatan Harian Bonjol

(Sumber: Tempo Edisi. 34/XXXVI/15 - 21 Oktober 2007 Rubrik Iqra)
Dari Catatan Harian Bonjol

Imam Bonjol meninggalkan sejumlah catatan hidupnya
saat diasingkan. Ada catatan tentang jalannya
pertempuran dan negosiasi dengan Belanda. Tak ada
tentang kebrutalan.

"Ini ada surat kumpeni menyuruh saya datang kepada
kumpeni sekarang. Bagaimana kiranya segala datuk-datuk
atau baik saya pai (pergi—Red.) atau tidak?"

Imam Bonjol wafat di Manado. Selama di Manado, ia
ternyata menulis semacam otobiografi dalam huruf Arab
Melayu. Oleh anaknya, Naali Sutan Chaniago dan Haji
Muhammad Amin, yang ikut dibuang ke Manado, naskah itu
diselamatkan.

Dalam catatan itu, kita temukan kesaksian Imam Bonjol
menyerang daerah-daerah yang belum menjalankan
syariah, juga kisah bagaimana ia mengirim Tuanku
Tambusai ke Mekkah, yang kemudian membuat Tambusai
bergelar Haji Muhammad Saleh.

Atau bagaimana di sebuah salat Jumat, ia menyerukan
hukum adat basandi syarak. Ia melukiskan dengan agak
rinci betapa ganasnya perang mempertahankan benteng
Bonjol. Tapi bagian paling panjang adalah pengakuannya
bernegosiasi dengan Belanda.

Diceritakan, utusan Belanda, Kroner (Kolonel) Elout,
memintanya menyerah. Ia menolak, lalu terjadi
pertempuran sengit. Dikisahkannya ia memasang meriam
sendiri untuk menggempur Belanda. Tapi benteng Bonjol
jatuh, dan utusan datang lagi. Di Padang, ia bertemu
dengan Residen Francis.

Resident Francis: Dulu saya minta Tuanku, Tuanku tidak
mau datang bertemu kami….

Tuanku Imam Bonjol: Tempo tuan kirim surat yang dahulu
tuan minta saya. Saya kasih lihat surat itu kepada
raja-raja dan penghulu. Hampir saya dibunuh orang
tempo itu dan dicabik-cabiknyo dek surat itu. Surat
kemudian tidak kasih lihat pada penghulu. Maka itulah
sekarang mencari tuan….

Imam Bonjol akhirnya mau dibawa kapal ke Betawi,
Surabaya, Buton, Ambon, sampai Manado. Di sanalah, di
Lotak Pineleng, ia tinggal sampai wafatnya. Keberadaan
naskah Tuanku Imam Bonjol pertama kali dilaporkan oleh
Ph.S. van Ronkel dalam artikel Inlandsche
getuigenissen aangaande de Padri-oorlog (Kesaksian
Pribumi mengenai Perang Padri) dalam jurnal De
Indische Gids, 1915.

Ronkel menyebutkan bahwa dia telah menyalin satu
naskah berjudul Tambo Anak Tuanku Imam Bonjol setebal
318 halaman. Pada 2004, Sjafnir Aboe Nain dari Pusat
Pengkajian Islam dan Minangkabau, Padang, menerbitkan
transliterasi naskah Tuanku Imam Bonjol.

Kata pengantar yang ditulis Sjafnir menyebutkan bahwa
salinan Ronkel itu sesungguhnya gabungan antara
catatan Imam Bonjol yang berjumlah 191 halaman dan
catatan anaknya, Naali dan Amin. Naskah itu sendiri,
menurut dia, dikenal dengan nama Tambo Naali Sulthan
Chaniago.

Transliterasi dilakukan Sjafnir ke dalam bahasa
Minang-Melayu, membuat naskah ini agak sulit dipahami
dalam waktu singkat. "Saya butuh waktu lama untuk
memahami naskah ini," kata peneliti sejarah Tapanuli
Selatan, Basyral Hamidy Harahap.

Tak ada bagian dari naskah ini yang menampilkan sikap
Imam Bonjol akan kekerasan yang dilakukan Padri. "Tapi
saya yakin Imam Bonjol mengetahui kekejaman kaum
Padri, baik penculikan maupun pemerkosaan. Tapi ia
diam saja," kata Basyral.

Ia merujuk, ada halaman yang menampilkan masalah
penculikan dan jual-beli perempuan ternyata
dibicarakan secara terbuka dalam suatu pertemuan yang
dihadiri tokoh-tokoh umat, yakni Sultan Chaniago, Nan
Pahit, Datuk Kayo, Datuk Limo Koto, Rajo Minang,
Punjuak Batuah, dan Pado Alim.

"Pailah (pergilah—Red.

) ke rumah Malin Kecil, basua
(bertemu) perempuan. Ditanyalah dek (oleh) Datuk Limo
Koto perempuan itu. 'Siapo nan manangkap di lading
Batang Silasung?' kata Datuk Limo Koto. Alah
(kemudian) menjawab perempuan, 'Nan manangkap saya
dicari (si Cari) orang Durian Tinggi. Dijualnya dek si
Cari itu saya kepada Rajo Manang. Dek Rajo Manang
dijual pula ke Bamban.'"

Sejarawan dari Universitas Andalas, Padang, Dr Gusti
Asnan, melihat, untuk sebuah catatan harian, Tuanku
Imam Bonjol sangat tidak mungkin menuliskan
fakta-fakta kebrutalan Padri. "Bila dibandingkan
dengan sumber sejarah Belanda, Tuanku Imam Bonjol
tidak memasukkan peristiwa pembakaran, perampokan,
serta penculikan dan pemerkosaan perempuan. Tapi saya
pikir dia tahu mengenai kejadian itu," ungkap Gusti.

Baik Basyral maupun Gusti melihat proses negosiasi
Tuanku yang diwakili anaknya, Sutan Chaniago, dengan
pemimpin Belanda sama sekali tidak menunjukkan
ketegangan. Mengherankan, Imam Bonjol yang dikenal
sebagai sosok penentang Belanda yang gigih kemudian
seperti melemah. Bahkan Gusti melihat keakraban Tuanku
dengan Residen Elout dan Residen Francis aneh.

"Sekarang Tuanku pergi ke negri Menado, karena negri
Menado baik, tempat baik, makanan murah…."

"Sebagai seorang pahlawan nasional, apa iya Tuanku
tidak merasa curiga terhadap niat Belanda?" tanya
Gusti.

Sita Planasari Aquadini, Seno Joko Suyono

Tambusai dan Pasukan Putih-putih (lanjutan kontroversi Padri)

(Dari Tempo Edisi. 34/XXXVI/15 - 21 Oktober 2007 RubrikIqra)

Tambusai dan Pasukan Putih-putih


Seorang pustakawan mendapatkan data-data Belanda yang
melaporkan kekejaman Tuanku Tambusai di daerah Padang
Lawas.

Ro Bonjol… Ro Bonjol (Bonjol datang… Bonjol datang).

Basyral Hamidy Harahap, 67 tahun, peneliti sejarah
Mandailing, masih ingat cerita-cerita lisan
turun-temurun di kampungnya di Simanabun, Padang
Lawas. Kisah tentang bagaimana takutnya penduduk
ketika pasukan Padri pimpinan Tuanku Tambusai datang
menyerbu. Masyarakat Simanabun memukul kentungan
sembari berteriak, "Bonjol datang, Bonjol datang."
Lalu mereka naik perbukitan Dolok menyelamatkan diri.

Basyral Hamidy Harahap adalah turunan dari Raja Datu
Bange yang bermarga Babiat di Simanabun, Distrik
Dolok. Datu Bange adalah raja yang paling gigih
melawan Padri di kawasan Padang Lawas. Basyral
mewarisi banyak kisah lisan dari marga Babiat mengenai
perjuangan Datu Bange.

Pada 1836, kawasan Padang Lawas dianggap sebagai
daerah paling biddah oleh serdadu Padri. "Mereka
datang pakai kuda, mengenakan kostum dan serban
putih-putih,

" katanya. Dari data dokumen lokal, ia
mengetahui bagaimana Datu Bange habis-habisan
mempertahankan Padang Lawas.

Sewaktu pertama kali menyerang, Tambusai dapat dipukul
mundur. Raja Portibi, Kadhi Sulaiman, pengikut setia
Tuanku Tambusai, tewas dalam perang ini. Tambusai
balik ke Mandailing. Dan dalam perjalanannya,
pasukannya membabi-buta menangkapi anak gadis dan
perempuan dewasa di lembah timur Bukit Barisan. "Para
perempuan itu ditukar dengan mesiu," kata Basyral.

Untuk mengamankan diri, Datu Bange bersama keluarga
dan pasukan intinya mengungsi. Mereka memanjat tebing
menuju ke puncak perbukitan Dolok. Bukit itu sendiri
begitu licin, hampir tegak lurus, dan sesungguhnya
sukar didaki. Datu Bange mengetahui jalan aman untuk
ke puncak bukit. Selama setahun Datu Bange berada di
atas bukit.

Setahun kemudian, Tambusai menyerang Datu Bange lagi.
Datu Bange tetap bertahan di atas bukit. Celakanya,
adik kandung Datu Bange, Ja Sobob, berkhianat
menunjukkan jalan menuju ke puncak Dolok,
memberitahukan persembunyian abangnya. Segera Tuanku
Tambusai merangsek, menyerbu ke atas bukit. Datu Bange
lolos—ia terluka—dan bersama pasukannya lari melewati
pegunungan Bukit Barisan.

"Datu Bange meninggal dengan infeksi pada
luka-lukanya," kata Basyral. Sesungguhnya, menurut
Basyral, Datu Bange mau menyerah, tapi dengan syarat
Tuanku Tambusai membiarkan pengikut Datu Bange
selamat. Kenyataannya, pasukan Tambusai kemudian
memutilasi ratusan penduduk Padang Lawas.

Sebagai Ketua Jurusan Perpustakaan Universitas
Indonesia 1965-1967 dan pensiunan pustakawan
Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde
(KITLV), Basyral tidak menerima mentah-mentah cerita
khazanah lokal kampungnya itu. Ketika beberapa kali
mendapat kesempatan ke Belanda, ia mencari-cari
dokumen yang berkenaan dengan serbuan Padri ke Padang
Lawas. Dan ia menemukan data dari pihak Belanda yang
membenarkan semua kisah tentang pembantaian yang
dilakukan Tuanku Tambusai.

Data itu ia dapat dari catatan-catatan J.B. Neumann,
Jughuhn, Ypes, Schnitger, dan terutama T.J. Willer.
Willerlah yang banyak mencatat brutalisme gerakan
Padri di daerah Padang Lawas. Dua bukunya menjadi
referensi utama Basyral. Siapakah T.J. Willer? Dalam
Almanak van Nederlandsch Indie, Willer disebut
menjabat Ketua Komite untuk Wilayah Padang Lawas,
Tambusai, Pane, dan daerah Bila pada 1838-1843.
Jabatan berikutnya adalah Asisten Residen Mandailing
Angkola yang berkedudukan di Panyabungan pada 1843.

Laporan T.J. Willer, misalnya, sampai memetakan luas
wilayah yang menjadi kekuasaan Datu Bange. Seluruh
kawasan Simanabun dalam catatan Willer saat itu dihuni
606 rumah tangga. Dalam buku Willer itu juga
ditampilkan silsilah Marga Babiat—mulai leluhur sampai
Datu Bange—sampai generasi XII. Dari situlah Basyral
tahu bahwa dirinya termasuk generasi cicit Datu Bange.

Willer, sebagaimana dikutip Basyral, menuliskan
demikian: "…. Padri yang dipimpin oleh Tambusai
membakar kampung demi kampung…. Mereka memaksakan
ajaran Islam (Wahabi) di mana-mana. Jika penduduk
tidak serta-merta mau masuk Islam akan segera
dibunuh…."

Sebagaimana Tuanku Imam Bonjol, Tuanku Tambusai di
zaman Orde Baru diangkat sebagai pahlawan negara.
"Mengapa ia dianggap pahlawan?" tanya Basyral. Menurut
Basyral, dia sama sekali tidak punya dendam dengan
tragedi yang menimpa pendahulunya itu. Tapi sebuah
revisi sejarah harus digelar.

Berdasarkan catatan panitia yang mengusulkan gelar
pahlawan nasional untuk Tuanku Tambusai, Datu Bange
dianggap sebagai perampok yang sering membuat
kekacauan. Tuanku Tambusai ingin mengakhiri perlawanan
kelompok parbegu yang dipimpin Datu Bange, sehingga
serangan pun dilakukan sampai dua kali.

"Itu sama sekali tak benar. Datu Bange merupakan raja
paling karismatik di Padang Lawas. Sebelum kaum Padri
masuk pun, warganya telah memeluk Islam," ungkap
Basyral kesal. Masyarakat daerah Padang Lawas sebelum
kedatangan Tuanku Tambusai, menurut dia, sudah sekian
lama memeluk mazhab Syafii yang egaliter.

Di wilayah Padang Lawas memang banyak peninggalan
candi Hindu—Bhairawa. Sebagaimana halnya penganut
Islam di pedalaman, warga Simanabun masih
mempertahankan tradisi kultural. Tradisi ziarah kubur,
misalnya, waktu itu masih sehari-hari dilakoni
penduduk. Mereka memasang lampu, lalu membuat
cungkup-cungkup di kuburan. "Mereka masih berdoa
kepada Tuhan di kuburan."

Tapi gejala itu, menurut Basyral, ada di bagian mama
pun di Sumatera. Bahkan, dalam catatan Basyral, di
wilayah pesisir seperti pantai Natal, tradisi mistik
pun masih kuat. Dokumen perjanjian Bagindo Martia
Lelo, Raja Natal, dengan Moschel, penguasa VOC,
bertarikh 7 Maret 1760, misalnya, menyebutkan bahwa ia
bersumpah atas Al-Quran dan asap pedupaan.

Islam demikianlah, menurut gerakan Tuanku Tambusai,
yang menyeleweng dan perlu dimurnikan akidahnya.
"Upacara pemakaman yang menggunakan berbagai usungan
jenazah di Padang Lawas adalah salah satu hal yang
dibenci Tambusai," kata Basyral. Pasukan Putih-putih
Padri lalu melakukan pembersihan total.
"Cungkup-cungkup makam dipapras sedemikian. Juga
manusianya disembelih," kata Basyral—berdasarkan data
milik pemerintah Belanda yang dibacanya.

Seno Joko Suyono, Sita Planasari Aquadini

Kontroversi Kebrutalan Kaum Padri

(diambil dari Tempo Edisi. 34/XXXVI/15 - 21 Oktober 2007. Rubrik Iqra)

Kontroversi Kebrutalan Kaum Padri
Gerakan Padri selama ini diidentikkan dengan
kepahlawanan Imam Bonjol dan kelompoknya melawan
Belanda. Tapi belakangan sebuah buku lama yang
kontroversial dan me sisi gelap Padri,
Tuanku Rao, diterbitkan kembali. Lalu muncul buku baru
dengan judul Greget Tuanku Rao sebagai reaksi.

Kedua buku ini memperlihatkan bahwa gerakan Padri
sesungguhnya adalah gerakan Wahabi—gerakan pemurnian
Islam yang dilakukan secara keras terhadap Islam
kultural di Minang dan Batak. Dan itulah gerakan yang
membuat puluhan ribu nyawa jadi korban. Imam Bonjol
dianggap dengan sadar melakukan itu, sehingga ada usul
gelar pahlawan nasional dicabut darinya. Betulkah
demikian? Ikuti pembahasan Tempo.

… Petisi ini mendesak Pemerintah Indonesia untuk
membatalkan pengangkatan Tuanku Imam Bonjol sebagai
Pahlawan Perjuangan Kemerdekaan…. Imam Bonjol adalah
pimpinan Gerakan Wahabi Paderi…. Gerakan ini memiliki
aliran yang sama dengan Taliban dan Al Qaeda…. Invasi
Paderi ke Tanah Batak menewaskan jutaan orang….

Petisi online itu tersebar di banyak mailing list
seminggu lalu. Seorang anak muda, Mudy
Situmorang—lulusan Teknik Elektro Institut Teknologi
Sepuluh Nopember, kelahiran Simanindo, Pulau
Samosir—telah mengirimnya. Dalam petisi itu, ia
membeberkan dosa-dosa gerakan Padri, antara lain
pembantaian massal keluarga Kerajaan Minangkabau
Pagaruyung dan penyerbuan Padri ke Batak yang
menewaskan Sisingamangaraja X.

Ia mengatakan petisi itu atas nama pribadi, bukan
organisasi, dan semata-semata untuk pelurusan sejarah.
"Kita tunggu sampai 500 pendukung. Hasilnya dikirim ke
pemerintah," katanya saat dihubungi Tempo. Sampai
sekarang, petisi itu memang belum "berbunyi".

Namun petisi ini mengingatkan orang akan dua buah buku
bertema sama yang baru-baru ini terbit. Yang satu
adalah buku lama karya Mangaradja Onggang Parlindungan
berjudul Tuanku Rao. Buku itu pertama kali dicetak
penerbit Tanjung Pengharapan, 1964, dan diluncurkan
kembali oleh penerbit LKiS Yogya, Juni lalu, tanpa
suntingan apa pun, bahkan tetap dalam ejaan lama.

Itulah buku yang pada 1964 menghebohkan. Buku itu
tidak bercerita langsung tentang Imam Bonjol, tapi
berisi kronologi penyerangan komandan-komandan Padri.
Parlindungan sendiri menyusun buku itu berdasarkan
data sejarah Batak yang dimiliki ayahnya, Sutan Martua
Radja. Pada 1918, ayahnya adalah guru sejarah di
Normaalschool Pematangsiantar. Ayahnya memiliki
warisan dokumen sejarah Batak turun-temurun dari tiga
generasi sepanjang 1851-1955.

Di samping itu, Parlindungan memakai bahan-bahan milik
Residen Poortman. Posisi Poortman sama dengan Snouck
Hurgronje. Snouck adalah seorang ahli Aceh, yang
informasinya diminta oleh pemerintah Belanda.
Sedangkan Poortman adalah seorang ahli Batak. Poortman
pensiun pada 1930 dan kembali ke Belanda. Di Leiden,
Belanda, Poortman lalu menemukan laporan-laporan para
perwira Padri sepanjang 1816-1820 untuk Tuanku Imam
Bonjol. Parlindungan mengenal Poortman secara pribadi
dan pernah bertemu di Belanda. Poortman mengirimkan
bahan-bahan laporan itu saat Parlindungan menulis
bukunya.

Parlindungan bukan sejarawan profesional. Caranya
menulis pun serampangan. Data yang diramunya itu
sering ditampilkan cut and glue atau dinarasikan
kembali dengan bahasa campuran: bahasa Indonesia
lisan, kadang disisipi kalimat-kalimat Inggris yang
panjang. Di sana-sini, ia memberikan komentar yang
cara penulisannya seperti seorang ayah yang
menerangkan kisah kepada anaknya. Kata ganti yang
dipakai untuk dirinya adalah "Daddy". Sedangkan anak
laki-lakinya di situ disebut "Sonny Boy". Ketika
polemik menghangat, buku itu ditarik dari peredaran.
Buku itu pun jadi buku langka. Di sebuah pameran buku
di Jakarta, buku itu beberapa tahun lalu bahkan sempat
dihargai Rp 1,5 juta.

Buku kedua, Greget Tuanku Rao, ditulis Basyral Hamidy
Harahap, terbit September lalu. Basyral adalah Ketua
Jurusan Perpustakaan Universitas Indonesia 1965-1967
dan pensiunan pustakawan Koninklijk Instituut voor
Taal-, Land- en Volkenkunde (KITLV). Ia ingin
mengoreksi beberapa info tentang Tuanku Rao yang
dianggapnya kurang tepat. Tapi, pada garis besarnya,
ia sepakat dan bahkan menambahkan data kekerasan yang
dilakukan Padri. "Buku Parlindungan banyak salahnya,
tapi buku itu ada di jalan yang benar."

l l l

Siapakah Parlindungan? Tak banyak yang tahu sosok
pengarang ini. Basyral sendiri pada 1974 pernah
bertemu dengannya di dekat rumah Hamka di Jakarta. Ia
langsung menanyakan kabar polemik antara Parlindungan
dan Buya Hamka. Agaknya Parlindungan tak suka. "Saat
itu ia langsung mengarahkan tongkatnya yang berkepala
gading ke arah dahi saya. Saya kaget, mengelak,"
kenang Basyral.

Hal ini sedikit terkuak ketika anaknya, Dorpi
Parlindungan Siregar, kini 59 tahun, mau bercerita
kepada Tempo—dialah anak yang dipanggil Sonny Boy
dalam bukunya.

"Ayah saya seorang perwira KNIL. Perjalanan karier
ayah saya dimulai ketika pada 1 Oktober 1945, Jenderal
Mayor Oerip Soemohardjo mendirikan Tentara Keamanan
Rakyat (TKR). Beliau mengumpulkan 17 anak muda di
Yogyakarta, di antaranya Soeharto, Ibnu Sutowo, dan
ayah saya."

Pada usia 27 tahun, menurut Dorpi, ayahnya memperoleh
pangkat letnan kolonel. Sebagai insinyur kimia lulusan
Jerman dan Belanda, ayahnya menjadi bawahan dr Willer
Hutagalung, dulu dokter pribadi Jenderal Soedirman.
Mereka kemudian mengambil bekas pabrik mesiu dan
peralatan senjata Belanda, yang lalu menjadi Pindad.

Pada 1960, ayahnya ditahan rezim Soekarno karena
dianggap pro-Masyumi. Tempat tahanan ayahnya
berpindah-pindah, dan akhirnya menjalani tahanan
rumah. Di sanalah, dengan data milik kakeknya dan
Residen Poortman, ayahnya menulis buku Tuanku Rao.

Dan yang mengejutkan, bagian terbesar halaman buku
ayahnya menceritakan kisah kejahatan algojo Padri
bernama Tuanku Lelo, sosok yang tak lain menurut
Parlindungan adalah kakek dari kakeknya sendiri. "Jadi
ia seperti menceritakan aib keluarga sendiri. Tak
banyak penulis yang berani seperti itu," kata Ahmad
Fikri dari LKiS. Buku itu awalnya, menurut Dorpi,
tidak diperuntukkan bagi umum, tapi bagi anak-anaknya
saja. "Sehabis membaca Al-Quran setiap hari, Ayah
membacakan cerita ini untuk saya dan adik," kenang
Dorpi akan ayahnya yang meninggal pada 1975 itu. Atas
desakan teman-temannya, buku itu akhirnya diterbitkan.

Buku itu intinya berisi informasi bagaimana gerakan
Wahabi masuk Minang. Waktu itu, tahun 1803, Haji
Piobang, Haji Sumanik, dan Haji Miskin kembali ke
Minang setelah bermukim di Mekkah lebih dari 12 tahun.
Mereka adalah bekas perwira tentara Turki. Mereka
mencoba menanamkan mazhab Hambali di Sumatera,
menekankan pemurnian Islam.

Gerakan pembersihan agama Islam ini menarik hati
seorang mubalig besar bernama Tuanku Nan Rentjeh, yang
tengah gundah lantaran di Minang berkembang Islam
Syiah. Mereka bersama-sama kemudian mencita-citakan
suatu Darul Islam. Piobang membentuk pasukan Padri
yang sangat profesional. Pakaian mereka serba putih.
Persenjataannya cukup kuat. Mereka, misalnya, menurut
Parlindungan, memiliki meriam 88 milimeter bekas milik
tentara Napoleon yang dibeli "second hand" di Penang.
Dua belas perwira Padri dikirim belajar di Turki.
Tuanku Rao, yang aslinya seorang Batak bernama
Pongkinangolngolan Sinambela, dikirim untuk belajar
taktik kavaleri; Tuanku Tambusai, aslinya bernama
Hamonangan Harahap, belajar soal perbentengan. Pasukan
Padri juga memiliki pendidikan kemiliteran di
Batusangkar.

Sasaran pertama "gerakan kaum putih" ini adalah Istana
Pagaruyung, karena istana itu dianggap sebagai boneka
Belanda yang merintangi Darul Islam. Pada 1804, ribuan
rumah dibakar dan keluarga Istana Pagaruyung dibantai.
Untuk cita-cita Darul Islam, pasukan Padri ingin
meluaskan agresinya ke luar alam Minangkabau—ke tanah
Batak.

Salah satu tamatan pendidikan militer Batusangkar,
bernama Peto Syarif Ibnu Pandito Bayanuddin, oleh
Tuanku Nan Rentjeh diperintah mencari lokasi yang
bakal digunakan sebagai benteng—basis tentara Padri
menyerang Tanah Batak. Peto menemukan bekas sarang
perampok di rute Minangkabau-Batak bernama Bonjol. Ia
mengislamkan kawasan Bonjol, membangun benteng di
sana, serta melatih kekuatan 10 ribu tentara. Sejak
itu, ia dijuluki Imam Bonjol.

Buku Tuanku Rao ini menjelaskan cukup detail bagaimana
persiapan dan kronologi invasi Padri ke Batak Selatan
(1816) dan Toba (1818- 1820). Dari etape-etape dan
serangan kilat (blitzkrieg), siasat-siasat, sampai
notula rapat-rapat para panglima dideskripsikan.
Pendiri Padri, Haji Piobang dan Tuanku Imam Bonjol,
mengkoordinasi penyebaran pasukan di bawah pimpinan
Tuanku Rao, Tuanku Tambusai, Tuanku Lelo, Tuanku
Asahan, Tuanku Maga, dan Tuanku Kotapinang.

Toba dikepung dari empat penjuru. Tuanku Asahan dengan
kavaleri berkekuatan 11 ribu tentara menyerang dari
samping kanan; Kolonel Djagorga Harahap dengan
kekuatan 4.000 anggota pasukan dari sayap kiri; Tuanku
Maga menusuk dari sisi tengah atas dengan 5.000
anggota pasukan; Tuanku Lelo bersama 9.000 tentaranya
merangsek dari sisi tengah bawah. Pada 1820,
Sisingamangaraja X, yang bertahan di Benteng Bakkara,
akhirnya tewas. Kepala Sisingamangaraja X ditusuk di
atas tombak, dipancang di tanah.

Penyerbuan yang paling bengis dilakukan oleh Tuanku
Lelo. Parlindungan sendiri menganggap "eyangnya" itu
"kriminal perang". Tuanku Lelo bernama asli Idris
Nasution. Sosoknya besar, berjanggut hitam, berambut
panjang, berombak-ombak. Ia mengenakan baju jubah dan
serban yang seluruhnya putih serta suka memakai
selempang dan ikat pinggang berwarna merah bertaburan
emas—yang dirampasnya di Pagaruyung. Ia dikenal
sebagai algojo pembantai, juga maniak seks.

Parlindungan bahkan sampai menyebut eyangnya itu
seorang big scoundrel yang memiliki kelakuan binatang.
Di tiap kawasan, sang eyang mengumpulkan ratusan
wanita, lalu memerkosanya. Di Toba, 14 malam
berturut-berturut pasukannya dibiarkan melakukan pesta
seks besar-besaran.

Ketika pasukan bergerak meninggalkan Toba, Tuanku Lelo
memerintahkan ribuan wanita dikumpulkan di Red Light
District di Sigumpar Toba. Dari Sigumpar, mereka
digiring berjalan kaki melalui Siborong-borong,
Pangaribuan, Silantom, Simangambat, Sipirok, menuju
Natal Mandailing. Sesampai di Mandailing, hanya 300
wanita selamat; 900 mati. Yang capek dipenggal.

Kemudian Belanda memutuskan menyerang Padri.
Pertempuran pada 1820, menurut Parlindungan, meletus
di Benteng Air Bengis. Imam Bonjol turun sendiri.
Tuanku Rao tewas di situ. Nah, di pertempuran Air
Bengis ini, secara licik Tuanku Lelo melakukan
desersi. Melihat Imam Bonjol terdesak, ia lalu
memimpin kavalerinya sendiri menuju Angkola dan
Sipirok. Ia melanjutkan petualangannya, menjarah,
membunuh, melampiaskan nafsu seksualnya. Ia lalu
menjadi warlord di Angkola dan Sipirok selama
1822-1833. Ia di sana mendirikan sebuah harem di
bentengnya di Padang Sidempuan.

Buku Tuanku Rao hanya sedikit menyinggung peran Tuanku
Tambusai. Namun, menurut Basyral, Tuanku Tambusai tak
kalah kejam dibanding Tuanku Lelo. "Kebrutalan Tuanku
Tambusai terjadi di daerah Padang Lawas, Dolok, dan
Barumun. Salah satu kawasan yang paling parah terkena
adalah daerah nenek moyang saya, Simanabun," tutur
Basyral (lihat "Tambusai dan Pasukan Putih-putih").

l l l

Para sejarawan berbeda pendapat soal kebrutalan ini.
"Sebetulnya masuknya Padri ke Batak bukan ekspansi.
Kelompok-kelompok musuh Padri saat itu dapat dipukul
mundur hingga ke Tapanuli Selatan. Karena itu, mereka
bertempur sampai ke daerah tersebut," tutur Dr Mestika
Zed, sejarawan dari Universitas Negeri Padang.

"Sebagai sebuah buku sejarah, buku Parlindungan
sumbernya sangat lemah. Dokumen Poortman sendiri
diragukan. Banyak yang tidak faktual," kata Dr Asvi
Warman Adam dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia.
Hamka bahkan pernah menganggap Tuanku Lelo hanyalah
karangan Parlindungan belaka (lihat "Mengenang
Sanggahan Hamka"). Memang, sekarang mustahil untuk
mengecek semua sumber yang digunakan Parlindungan,
karena semua data itu dimusnahkan oleh Parlindungan
sendiri.

Dalam bukunya itu, Parlindungan menyebutkan data yang
diwariskan ayahnya kepadanya hanya meliputi 20 persen
dari yang dimiliki ayahnya. Ia menyaksikan sendiri,
pada 1941, ayahnya membakar sisanya sambil bercucuran
air mata di tepi Sungai Bah Bolon.

"Daddy tidak mau risiko," katanya kepada anaknya. "Our
family secrets yang ketahuan pada outsiders cukup yang
terbatas dalam buku ini. No more." "Saya menduga, itu
adalah alibi dia, yang sebenarnya tak cukup memiliki
data otentik, atau bisa juga ia tak mau sejarawan lain
menelitinya," kata J.J. Rizal dari Yayasan Bambu, yang
menerbitkan Greget Tuanku Rao.

Akan halnya Dr Gusti Asnan, pengajar Jurusan Sejarah
Fakultas Sastra Universitas Andalas, Padang,
menganggap tidak semua sumber Belanda yang digunakan
Parlindungan mengandung bias. Dari 100 laporan, ada
20-50 persen data yang benar. Menurut dia,
historiografi Perang Padri sendiri dimulai pada
1950-an. "Saat itu terjadi dekolonialisasi
historiografi Indonesia, termasuk Perang Padri. Demi
persatuan dan kesatuan, bagian-bagian miring dari data
yang ada, seperti kebrutalan Perang Padri, sengaja
tidak disiarkan."

Ia juga melihat gerakan pasukan Padri tak semata-mata
bermotif agama, tapi juga ekonomi. Sejak akhir abad
ke-18 hingga awal abad ke-19, perkembangan ekonomi di
Sumatera Barat memang luar biasa karena booming kopi.

Dr Gusti pernah membaca sebuah kisah tentang saudagar
bernama Peto Magik di Pasaman. Ia dikenal sebagai
saudagar Padri—bisa dianggap konglomerat. Seorang
Belanda bernama Bulhawer yang melakukan kerja sama
dengan Peto mengaku tidak melihat sedikit pun gambaran
islami padanya. "Kesan yang dilihat Bulhawer, Peto
Magik adalah seorang kapitalis. Dan gambaran ini saya
rasa juga menggambarkan sebagian besar kaum Padri,"
ujar Gusti.

Maka, menurut Gusti, ketika daerah kekuasaan di Tanah
Datar dan Agam mulai direbut Belanda, kaum Padri pun
meluaskan ekspansi ke utara: Bonjol, Pasaman, dan
Tapanuli Selatan. Mengapa ke utara? Karena daerah
utara memiliki basis kekayaan yang sangat tinggi.
Apalagi, dengan menguasai area tersebut, Padri masih
dapat melakukan hubungan dengan kaum lain, seperti
Aceh, melalui jalur sungai.

Sekalipun mengakui kekerasan yang dilakukan Padri,
sebagian orang memandang dari sudut berbeda. "Soalnya
saat itu kan tidak ada HAM," kata sejarawan Taufik
Abdullah.

Basyral sendiri melihat Imam Bonjol mengetahui segala
perampokan, pemerkosaan, dan mutilasi yang dilakukan
perwira-perwiranya. "Mustahil Imam Bonjol tak tahu. Ia
kan komandan," kata Basyral.

Tapi Taufik Abdullah tak sependapat. Menurut dia,
kekerasan di awal gerakan Padri bukan tanggung jawab
Tuanku Imam Bonjol. Saat gerakan Padri masih radikal
di awal, Tuanku Imam Bonjol masih muda dan baru
menjabat sebagai asisten Tuanku Bandaro, salah satu
pemimpin gerakan Padri saat itu.

"Buat saya, pencabutan gelar pahlawan itu nonsens.
Justru di bawah pimpinan Tuanku Imam Bonjol pasukan
Padri lebih menitikberatkan serangan pada pihak
Belanda," kata Taufik.

Menurut Taufik, keliru jika melihat sosok Imam Bonjol
dalam Padri disamakan dengan Diponegoro. "Diponegoro
merupakan pemimpin tunggal, sementara gerakan Padri
merupakan gerakan sosial kolektif, dengan banyak
pemimpin," katanya.

Taufik mengatakan, bahkan, Tuanku Imam Bonjol sempat
mengirim empat anak buahnya ke Mekkah untuk naik haji,
termasuk Tuanku Tambusai. Tujuannya untuk melihat
kondisi Islam di Mekkah. Ternyata Islam saat itu jauh
lebih moderat. Sehingga, ketika kembali ke Minang,
Tuanku Tambusai pun menjadi lebih moderat. Sekembali
dari Mekkah, seperti disebut dalam Tuanku Rao, ia pun
menyesal melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana
wanita-wanita ditawan oleh pasukan Tuanku Lelo.

Menurut Taufik, adat basandi syarak justru mengemuka
di bawah kepemimpinan Tuanku Imam Bonjol. Imam Bonjol
wafat pada usia 93 tahun di Manado, pada 1864. Tak
banyak orang yang tahu, ia meninggalkan sebuah
"catatan harian" (lihat "Dari Catatan Harian Bonjol", berikutnya di undzurilaina).

Seno Joko Suyono, Sita Planasari

Tuesday, September 25, 2007

Agungnya Akhlak Nabi

Diriwayatkan beberapa waktu setelah Nabi SAW wafat, datanglah seorang Badui ke Madinah untuk mengetahui bagaimana akhlak Nabi SAW. Beberapa sahabat menyarankannya untuk bertanya kepada Imam Ali bin Abi Thalib. Akhirnya badui tersebutpun menemui Imam Ali dan berkata: “Ceritakan kepadaku Akhlak Muhammad”.

Imam Ali dengan linangan air mata berkata, "Ceritakan padaku keindahan dunia ini!"

Badui ini menjawab, "Bagaimana mungkin aku dapat menceritakan segala keindahan dunia ini...??"

Imam Ali menjawab, "Engkau tak sanggup menceritakan keindahan dunia padahal Allah telah berfirman bahwa sungguh dunia ini kecil dan hanyalah senda gurau belaka. Lalu bagaimana aku dapat melukiskan akhlak Muhammad, sedangkan Allah telah berfirman bahwa sungguh Muhammad memiliki budi pekerti yang agung! (QS. Al-Qalam: 4)"[undzurilaina]

Monday, September 17, 2007

Tamu Orang Miskin

Hari itu hari Jumat, ketika Nabi SAW meninggalkan Quba menuju Yatsrib (Madinah). Beliau memasuki kota dengan mengendarai unta-nya. Sementara itu, orang2 Muhajirin, Anshar dan bahkan orang2 Yahudi, laki2 dan perempuan, besar dan kecil, mengikuti di belakang unta beliau. Sayup2 terdengar senandung2 menyambut kedatangan tamu agung yg mereka tunggu2 itu dari suara mereka yg merdu. Semua mata tertuju pada orang asing yang mengendarai unta, yang telah meninggalkan kaumnya menuju Madinah. Semua orang berpikir tentang berbagai hal. Dalam hati mereka berkecamuk berbagai perasaan.

Sang pendatang menuju ke keramaian kota. Tiba-tiba laki-laki itu melepaskan tali kekang untanya, dan membiarkannya berjalan ke mana ia suka. Sungguh suatu tindakan yang sangat besar artinya. Sebab, kini kendali unta itu berada di tangan Dzat Yang Gaib yang menjaganya menuju masa depannya.

Penunggang unta itu melewati beberapa kawasan orang2 kaya di Madinah. Setiap melewati kawasan-kawasan tersebut, beliau selalu disongsong oleh tokoh masyarakat tersebut sambil memegang kendali unta dan berkata: ”Ya Rasulullah, tinggallah bersama kami dengan sega hidangan dan kenikmatan yang kami sediakan”.

Sang penunggang unta menjawab, ”Biarkan saja unta ini berjalan semau dia, sebab ada yang menyuruhnya.”

Unta tersebut terus berjalan dan setiap melewati rumah orang kaya, pemilik rumah pun menyongsongnya seraya memegang kendali unta dan berkata: ”Ya Rasulullah, tinggallah bersama kami. Kami telah sediakan hidangan dan kenikmatan2 lainnya.”

Sang penunggang unta pun menjawab dengan jawaban yg sama seperti sebelumnya. Begitu seterusnya unta tersebut terus berjalan. Sampai ketika unta tersebut melewati rumah paman-paman Rasulullah dari garis ibu, seperti sebelumya mereka menahan kendali unta dan berkata: ”Ya Rasulullah, tinggallah bersama paman-paman Tuan di sini. Kami telah menyediakan hidangan untuk Tuan.”

Dan untuk kesekian kalinya, sang penunggang unta menjawab: ”Biarkan saja dia berjalan mengikuti kehendaknya, karena ada yang menyuruhnya.”

Unta tersebut terus berjalan. Tak seorang pun mengetahui dengan pasti ke mana unta tersebut akan menghentikan langkahnya. Ajakan orang-orang kaya dengan hidangan lezat dan layanan kenikmatan lainnya tak menggiurkannya. Ia juga menolak ajakan dari kerabatnya. Ia tidak ingin mengikatkan dirinya pada suatu keluarga atau lapisan masyarakat tertentu.

Unta itu telah melewati rumah keluarga-keluarga kaya di Madinah, tanpa penunggangnya bersedia memenuhi undangan yg mereka ajukan dengan segala usaha itu. Dia bahkan menolaknya dengan tegas. Dengan demikian, jelas laki-laki ini adalah tamu orang-orang miskin.

Perasaan semua orang sudah demikian menggelora, tapi unta itu tetap melanjutkan langkahnya. Semakin jelas bahwa langkah-langkah unta itu mendekati kelompok rumah orang-orang miskin. Maka bersorak-sorailah orang-orang miskin itu, laki-laki dan perempuan, anak-anak dan orang-orang tua, dengan penuh kebanggaan, padahal sebelumnya mereka tidak punya harapan sedikitpun. Kerumunan orang yg berjejal-jejal di kiri-kanan, terus mengikuti unta dengan penunggangnya yang wajahnya memancarkan pemikiran yg mendalam dalam keteguhan. Kerumunan itu begitu menyemut, seakan-akan unta itu sebuah perahu yg dikelilingi oleh ombak yg naik-turun.

Kemudian anak-anak kecil, para pemuda dan kaum wanita yg jiwanya dibakar oleh keimanan dan semangat revolusioner itu, menyenandungkan lagu utk menyambut laki-laki yang tampak berwibawa di atas untanya itu, seakan-akan dia adalah pendatang dari dunia lain.

Thala’a al-badru ‘alaina (Bulan Purnama telah menyingsing di atas kita)

min tsaniyyati al-wada’i (Dari sela-sela Bukit Wada’)
Wajaba al-syukru ‘alaina (
Wajiblah kita bersyukur)

.....dst

Air mata mengalir di pipi semua orang sehingga mengaburkan penglihatan mereka. Bayang-bayang Sang Penunggang unta itu timbul tenggelam di depan mata mereka. Sesekali dia tampak jelas, dan tiba-tiba lenyap kembali. Begitulah seterusnya.

Tiba-tiba kerumunan orang-orang miskin yang semula berada di barisan paling belakang itu tersibak. Gelombang manusia berhenti mengalir, dan kaki-kaki mereka terasa gemetar. Semua orang bertanya-tanya, ”Apa yg sedang terjadi itu?” Ternyata unta itu telah berhenti berjalan. Tapi dimana ia sekarang? Itu dia. Ia berhenti di sebidang kebun yang ditumbuhi beberapa pohon kurma. Di situlah rupanya akhir perjalanan sang unta.

Abu Ayyub, laki-laki tua yang rumahnya bersebelahan dengan kebun itu, menghambur dari rumahnya menemui Nabi, dan mengambil bawaan beliau ke dalam rumahnya. Nabi bertanya kepadanya, ”Milik siapa kebun ini?”

”Milik Sahl dan Suhail, dua anak yatim Rafi’ bin Umar, yang kini saya asuh. Saya meminta kepada mereka berdua agar kebun ini mereka jual,” jawab Muadz bin Afra’.

Nabi pun kemudian memerintahkan membangun masjid di tempat itu. Beliau ikut pula mengerjakannya, bukan hanya sekedar memberi komando atau memilih pekerjaan yang ringan-ringan. Beliau menggali tanah, mengangkutnya ke tempat lain dan mengaduknya. Beliau ikut bekerja sebagaimana layaknya orang lain. Dan itulah kerja awal Nabi, menjadikan masjid sebagai batu sendi pembentukan sistem yang ingin beliau realisasikan. Disitu pula beliau akan tinggal.

Itu secuil teladan akhlak Rasulullah SAW. Sang ”Tamu” bagi orang-orang miskin. Sang pemimpin yang pekerja keras. Allahumma Sholli ’alaa Muhammad wa ’aalii Muhammad.[undzurilaina]

(sumber utama: ”Rasulullah SAW, Sejak Hijrah hingga Wafat.”, karya Dr. Ali Syariati)

Thursday, April 19, 2007

Sekilas Muhammad Rasulullah SAW (4)

Teratur dan Tertib
Semua tindakan Nabi saw teratur dan tertib. Nabi saw bekerja sesuai dengan jadwal. Nabi saw mengajak para sahabatnya untuk berbuat sama. Berkat pengaruh Nabi saw, para sahabat jadi penuh disiplin. Bahkan ketika Nabi saw memandang perlu merahasiakan keputusan tertentu agar musuh tidak menaruh syak wasangka terhadap kaum Muslim, para sahabat serta merta melaksanakan perintah Nabi saw. Misal, Nabi saw pernah memerintahkan agar para sahabat bergerak esok hari. Keesokan harinya semua sahabat yang diperintah itu bergerak bersama Nabi saw tanpa tahu maksud finalnya, dan para sahabat baru tahu maksudnya pada saat-saat terakhir. Terkadang Nabi saw memerintahkan beberapa orang untuk bergerak ke arah tertentu, memberikan surat untuk komandan mereka dan memerintahkan agar komandan tersebut membuka surat itu begitu sampai di tempat tertentu dan agar bertindak sesuai dengan perintah. Sebelum mencapai tempat tertentu, mereka tidak tahu maksud mereka dan untuk apa mereka ke sana. Dengan cara ini Nabi saw membuat musuh dan mata-mata tak tahu apa-apa, dan sering kali musuh serta mata-mata tak menduganya.

Mau Mendengarkan Kritik dan Tak Suka Pujian yang Bersifat Menjilat
Terkadang Nabi saw terpaksa menghadapi kritik para sahabat. Namun tanpa bersikap keras terhadap mereka, Nabi saw menjelas-kan keputusannya, dan para sahabat pun akhimya mau menerima. Nabi saw membenci sekali pujian yang bersifat menjilat. Nabi saw mengatakan: "Lemparkan debu ke wajah orang yang menjilat."

Nabi saw suka bekerja sempurna. Nabi saw biasa mengerjakan sesuatu dengan benar dan efisien. Ketika Sa'ad bin Mu'adz meninggal dan kemudian dibaringkan di makamnya, Nabi saw dengan kedua tangannya sendiri meletakkan batu dan bata di makam Sa'ad persis pada tempatnya dan dengan efisien. Nabi saw bersabda: "Aku mau segalanya dikerjakan dengan benar dan efisien."

Memerangi Kelemahan
Nabi saw tidak mengeksploitasi titik lemah dan kebodohan orang. Nabi saw justru berupaya memperbaiki kelemahan orang dan membuat orang mengetahui apa yang tidak mereka ketahui sebelumnya. Pada hari meninggalnya putra Nabi saw yang berusia tujuh belas bulan, kebetulan terjadi gerhana matahari. Orang pada mengatakan bahwa gerhana tersebut terjadi karena duka cita yang merundung Nabi saw. Nabi saw tidak tinggal diam menghadapi pikiran yang keliru ini. Nabi saw kemudian naik ke mimbar dan mengatakan: "Wahai manusia! Bulan dan matahari adalah dua tanda dari Allah. Terjadinya gerhana keduanya bukan karena kematian seseorang."

Memiliki Kualitas Sebagai Pemimpin
Nabi saw memiliki kualitas maksimum kepemimpinan seperti sifat mau tahu orang, teguh had, efisien, berani, tak takut meng­hadapi konsekuensi suatu tindakan, mampu melihat ke depan, mampu menghadapi kritik, mengakui kemampuan orang lain, mendelegasikan kekuasaan kepada orang lain yang mampu, luwes dalam masalah pribadinya, keras dalam masalah prinsip, memandang penting orang lain, memajukan bakat intelektual, emosional dan praktis mereka, menjauhkan diri dari praktik lalim, tidak meminta ketaatan buta, bersahaja dan rendah hati, bermartabat dan sangat memperhatikan pengelolaan sumber daya manusia. Nabi saw sering mengatakan: "Jika kamu bertiga mengadakan perjalanan bersama, maka pilih salah satu dari kalian sebagai pemimpin."

Di Madinah, Nabi saw mendirikan sebuah sekretariat khusus. Nabi saw menunjuk sekelompok orang untuk melaksanakan pekerjaan tertentu. Ada ahli tulis wahyu yang bertugas menulis Al-Qur'an. Beberapa orang diberi amanat membuat draft dan menulis surat khusus. Beberapa orang diberi tugas mencatat transaksi legal. Beberapa orang diberi tanggung jawab memegang pembukuan. Beberapa orang diberi tanggung jawab membuat draft perjanjian. Semua perincian ini dicatat dalam buku sejarah seperti "Tarikh Ibn Wazih, al-Ya'qubi, at-Tanbîh wa al-Isyrâf karya Mas'udi, "Mu'jam al-Buldân" karya al-Bilâdzuri dan "at-Thabaqât" karya Ibn Sa'ad.

Metode Berdakwah
Dalam mendakwahkan Islam, metode Nabi saw lembut, tidak keras. Nabi saw terutama berupaya membangkitkan harapan, dan menghindari penggunaan ancaman. Kepada salah seorang sahabat, yang diutus Nabi saw untuk mendakwahkan Islam, Nabi saw mengatakan: "Bersikaplah yang menyenangkan, dan jangan bersikap keras. Katakan apa yang menyenangkan hati orang, dan jangan buat mereka jadi benci."

Nabi saw memiliki perhatian yang aktif terhadap dakwah Islam. Pernah Nabi saw pergi ke Thaif untuk berdakwah. Pada musim haji, Nabi saw suka menyeru berbagai suku dan menyampaikan pesan Islam kepada mereka. Nabi saw pemah mengutus Imam Ali bin Abi Thalib as dan pada kesempatan lain Mu'adz bin Jabal ke Yaman untuk berdakwah. Sebelum ke Madinah, Nabi saw mengutus Mus'ab bin Umair untuk berdakwah di Madinah. Nabi saw mengutus sejumlah sahabat ke Ediiopia. Di samping untuk meng­hindari penganiayaan kaum musyrik Mekah, mereka mendakwah­kan Islam di Ethiopia dan memuluskan jalan bagi diterimanya Islam oleh Negus, Raja Ethiopia, dan 50 persen penduduk Ethiopia. Pada tahun ke-6 Hijrah, Nabi saw mengirim surat kepada pemimpin sejumlah negara di berbagai bagian dunia dan mengenalkan kepada mereka tentang kenabiannya. Sekitar seratus surat yang ditulis Nabi untuk berbagai pemimpin, sampai sekarang masih ada.

Mendorong Pengetahuan
Nabi saw mendorong para sahabat untuk mencari ilmu. Nabi saw mewajibkan anak-anak mereka untuk belajar membaca dan menulis. Nabi saw memerintahkan sebagian sahabat untuk belajar bahasa Syiria kuno. Nabi saw sering berkata: "Setiap Muslim wajib menuntut ilmu."
Nabi saw juga mengatakan: "Di mana pun kamu mendapati satu ilmu yang berguna, ambillah. Tak masalah apakah ilmu itu ada pada orang kafir atau orang munafik."
"Tuntutlah ilmu sekalipun hams pergi ke negeri Cina."

Penekanan arti pentingnya ilmu ini menjadi sebab kenapa kaum Muslim begitu cepat tersebar ke seluruh penjuru dunia untuk menuntut ilmu dan untuk mencari karya-karya ilmiah. Kaum Muslim tidak saja menerjemahkan karya-karya ini, namun juga menelitinya. Dengan begitu mereka menjadi penghubung antara budaya-budaya kuno Yunani, Roma, Iran, Mesir serta India, dan budaya modern Eropa. Dengan berlalunya waktu, kaum Muslim sendiri menjadi pendiri salah satu peradaban dan budaya terbesar dalam sejarah manusia, yang oleh dunia dikenal sebagai peradaban dan budaya Muslim.

Karakter dan perilaku Nabi saw, seperti sabda dan agamanya, lengkap. Sejarah tak pernah menyaksikan pribadi lain selain Nabi saw yang berhasil mencapai kesempurnaan dalam semua dimensi manusia. Memang Nabi saw merupakan seorang manusia yang sempurna.

(Dikutip dari buku "Manusia dan Alam Semesta", Bab 21 "Nabi Muhammad SAW")

Sekilas Muhammad Rasulullah SAW (3)

Ibadah

Untuk sebagian malam, terkadang separo malam, dan terkadang sepertiga atau dua pertiga malam, Nabi saw selalu melakukan ibadah. Meski siang harinya sibuk, khususnya selama Nabi saw berada di Madinah, Nabi saw tak pernah mengurangi waktu ibadahnya. Nabi saw menemukan kenikmatan penuh dalam ibadah dan berkomunikasi dengan Allah SWT. Ibadahnya merupakan ungkapan cinta dan rasa syukur, dan motivasinya bukan keinginan masuk surga, juga bukan karena takut neraka.

Suatu hari salah seorang istrinya bertanya kepada Nabi saw, bahwa kenapa Nabi saw begitu kuat dedikasinya untuk ibadah? Jawab Nabi saw: "Kepada siapa lagi aku mesti bersyukur, kalau bukan kepada Tuhanku?"

Nabi saw sangat sering berpuasa. Di samping puasa di bulan Ramadhan dan di sebagian bulan Syakban, Nabi saw selalu puasa dua hari sekali. Nabi saw selalu melewatkan sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan dengan iktikaf di masjid. Dalam iktikaf ini Nabi saw mencurahkan segenap waktunya untuk ibadah. Namun kepada umatnya Nabi saw mengatakan bahwa sudah cukup kalau berpuasa tiga hari setiap bulannya. Nabi saw suka mengatakan bahwa ibadah dikerjakan menurut kemampuan masing-masing, dan tidak boleh memaksakan diri, karena kalau dipaksakan, maka efeknya akan buruk. Nabi saw menentang kehidupan rahib, menentang sikap hidup yang tak mau terlibat dalam urusan duniawi, dan menentang sikap hidup yang menolak kehidupan berkeluarga. Beberapa sahabat Nabi saw mengutarakan niat untuk hidup seperti rahib. Nabi saw mencela mereka. Nabi saw sering mengatakan:

Tubuh, istri, anak-anak dan sahabat-sahabatmu semuanya punya hak atas dirimu, dan kamu harus memenuhi kewajibanmu."

Bila salat sendirian, salat Nabi saw lama, bahkan terkadang Nabi saw berjamjam menunaikan salat sebelum subuh. Namun bila salat berjamaah, salat Nabi saw tidak lama. Dalam hal ini Nabi saw memandang penting memperhatikan orang-orang usia lanjut dan orang-orang yang lemah jasmaninya di antara para pengikutnya.

Hidup Sederhana

Hidup sederhana merupakan salah satu prinsip hidup Nabi saw. Makanan Nabi saw sederhana. Pakaian yang dikenakannya sederhana. Nabi saw, bila mengadakan perjalanan, caranya sederhana. Nabi saw lebih sering tidur di atas tikar, duduk di tanah, dan memerah susu kambing dengan kedua tangannya sendiri. Nabi saw, bila naik binatang tunggangan, tidak memakai pelana. Kalau sedang naik binatang tunggangan, Nabi tak mau ada pengiringnya. Makanan pokok Nabi saw adalah roti dan kurrna. Nabi saw memperbaiki sepatunya sendiri dan menjahit pakaiannya sendiri dengan kedua tangannya sendiri. Kendati hidup bersahaja, Nabi saw tak pernah menganjurkan filosofi asketisisme (hidup dengan disiplin diri yang keras dan berpantang dari segala bentuk kesenangan atau kenikmatan—pen.). Nabi saw percaya bahwa uang perlu dibelanjakan untuk kepentingan masyarakat dan untuk tujuan-tujuan halal lainnya. Nabi saw biasa mengatakan: "Sungguh menyenangkan kekayaan itu, jika didapat dengan cara yang halal oleh orang yang tahu cara membelanjakannya."

Nabi saw juga mengatakan: "Kekayaan merupakan bantuan yang baik bagi ketakwaan."

Ketetapan Hati dan Sabar

Tekad atau kemauan keras Nabi saw sungguh luar biasa. Tekad ini mempengaruhi para sahabatnya juga. Periode kenabiannya benar-benar merupakan pelajaran tentang kemauan keras dan kesabaran. Dalam masa hidupnya, beberapa kali kondisi sedemikian rupa sehingga kelihatannya tak ada lagi harapan, namun tak pernah ada kata gagal dalam benaknya. Keyakinannya bahwa dirinya pada akhirnya akan sukses, tak pernah goyah sekejap pun.

Kepemimpinan, Administrasi dan Konsultasi

Sekalipun para sahabat Nabi saw menjalankan setiap perintah Nabi saw tanpa ragu, dan berulang-ulang mengatakan percaya penuh kepada Nabi saw dan bahkan mau terjun ke sungai atau ke dalam kobaran api jika saja Nabi saw memerintahkannya, namun Nabi saw tak pernah menggunakan cara-cara diktator. Mengenai masalah-masalah yang belum ada ketentuan khususnya dari Allah SWT, Nabi saw berkonsultasi dengan sahabat-sahabatnya dan menghargai pandangan mereka, dan dengan demikian membantu mereka mengembangkan pribadi mereka. Ketika Perang Badar, Nabi saw menyerahkan persoalan mengambil aksi militer untuk menghadapi musuh, memilih lahan untuk mendirikan tenda, dan mengenai perlakuan terhadap tawanan, kepada nasihat sahabat-sahabatnya. Ketika Perang Uhud, Nabi saw berkonsultasi soal perlu tidaknya tentara Muslim bertempur dari dalam kota Madinah ataukah tentara Muslim perlu keluar dari kota. Nabi saw juga berkonsultasi dengan para sahabatnya ketika Perang Ahzab dan Tabuk.

Kebaikan hati dan toleransi Nabi saw, keinginannya untuk mengupayakan ampunan bagi dosa-dosa umatnya, sahabat-sahabat­nya dan konsultasi dengan mereka yang dipandangnya penting, merupakan faktor-faktor utama yang memberikan sumbangsih bagi pengaruhnya yang luar biasa di kalangan para sahabatnya. Fakta ini ditunjukkan oleh Al-Qur'an. Al-Qur'an memfirmankan:

Maka disebabkan rahmat dari Allah lah kamu berlaku lemah lembut kepada mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan din dari sekelitingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampunan bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya. (QS. Âli 'Imrân: 159)

(dikutip dari buku "Manusia dan Alam Semesta", bab 21 "Nabi Muhammad SAW")

Sekilas Muhammad Rasulullah SAW (2)

Sikap Terhadap Keluarga
Muhammad saw baik hati sikapnya terhadap keluarganya. Terhadap istri-istrinya, Muhammad saw tak pernah kasar sikapnya. Orang-orang Mekah pada umumnya merasa aneh dengan perilaku baik seperti itu. Nabi saw mentoleransi perkataan sebagian istrinya yang terasa menyakitkan hati, meskipun perkataan semacam itu tidak disukai sebagian istrinya yang lain. Nabi dengan penuh empati mengajak para pengikutnya untuk bersikap baik hati terhadap istri-istri mereka, karena, seperti sering kali diucapkannya, lelaki dan perempuan itu keduanya sama-sama memiliki sifat baik dan sifat buruk. Suami tidak boleh cuma gara-gara kebiasaan istri­nya yang tak menyenangkan lalu menceraikannya. Jika suami tak menyukai beberapa sifat istrinya, istri tentu memiliki sifat-sifat lain yang menyenangkannya. Dengan demikian urusannya jadi seimbang. Nabi Suci saw sangat menyayangi anak-anak dan cucu-cucunya. Nabi saw memperlihatkan rasa cinta dan kelembutan hatinya kepada mereka. Nabi saw mencintai mereka, memangku mereka, mendudukkan mereka di atas kedua bahunya dan menciumi mereka. Semua ini bertentangan dengan adat dan kebiasaan masyarakat Arab pada masa itu.
Nabi saw juga memperlihatkan rasa cinta dan kasih sayang kepada anak-anak kaum Muslim. Nabi saw memangku mereka dan mengusap-usap kepala mereka. Para ibu sering kali membawa anak-anak mereka kepada Nabi saw untuk mendapatkan berkahnya. Bahkan pernah ada kejadian anak mengencingi pakaian Nabi saw. Dan para ibu pun jadi marah serta merasa malu. Sebagian ibu mencoba menghentikan anak main air. Namun Nabi Suci Saw. meminta ibu-ibu itu untuk tidak mengganggu anak tersebut. Nabi saw mengatakan bahwa anak itu akan membersihkan pakaiannya kalau pakaian itu kotor.

Sikap Terhadap Sahaya
Nabi saw luar biasa baik hati sikapnya terhadap kaum sahaya. Nabi saw suka mengatakan kepada orang bahwa sahaya adalah saudara. Nabi saw mengatakan: "Beri mereka makanan sepeiti yang kamu makan, pakaian seperti yang kamu pakai. Jangan paksa mereka mengerjakan sesuatu yang terlalu sulit bagi mereka. Beri mereka pekerjaan mereka, dan bantulah mereka dalam melaksanakan pekerjaan. Jangan panggil mereka dengan sebutan budak, karena semua manusia adalah hamba Allah. Allahlah Tuan sejati bagi semua manusia. Panggillah sahaya lelaki dan sahaya perempuanmu dengan panggilan anak muda."
Islam memberikan kepada kaum sahaya semua kemudahan yang dapat diberikan, kemudahan yang melahirkan kemerdekaan penuh mereka. Nabi Suci saw menggambarkan perdagangan sahaya sebagai seburuk-buruk pekerjaan. Nabi saw mengatakan bahwa orang yang memperdagangkan manusia adalah seburuk-buruk orang di mata Allah SWT.

Bersih, Rapi dan Memakai Wewangian
Nabi saw sangat menyukai kebersihan, kerapian dan wewangian. Nabi saw mendorong sahabat dan pengikutnya untuk menjaga kebersihan tubuh dan rumah mereka dan untuk memakai we­wangian. Nabi saw khususnya mengajak mereka untuk mandi dan memakai wewangian pada hari-hari Jumat agar tak ada bau badan yang tak sedap yang dapat mengganggu jamaah salat Jumat.

Perilaku Sosial
Dalam kehidupan di tengah masyarakat, Nabi saw selalu baik hati, riang dan sopan terhadap semua orang. Nabi saw selalu yang lebih duluan memberikan salam, sekalipun kepada anak-anak dan para sahaya. Nabi saw tak pernah meregangkan kakinya di hadapan orang, dan tak pernah berbaring di hadapan orang. Kalau tengah bersama Nabi saw, semua orang duduk mengelilingi Nabi saw. Tak ada yang punya tempat khusus. Nabi saw selalu memperhatikan sahabat-sahabatnya. Kalau Nabi saw tak melihat siapa pun di antara sahabat-sahabatnya itu selama dua atau tiga hari, Nabi saw menanyakannya. Jika ternyata sahabat itu sakit, Nabi saw menjenguknya. Dan jika sahabat itu mendapat kesulitan, Nabi saw berupaya memecahkan problemnya. Dalam majelis, Nabi saw tak pernah bicara atau memberi perhatian hanya kepada seseorang, namun Nabi saw bicara dan memberikan perhatian kepada semuanya. Nabi saw tak suka kalau Nabi saw tinggal duduk saja lalu orang melayaninya. Nabi saw sendiri ikut dalam semua yang harus dikerjakan. Nabi saw suka mengatakan bahwa Allah SWT tak suka melihat seorang hamba yang merasa unggul sendiri.

Lembut Namun Tegas
Dalam masalah pribadi, Nabi saw lembut, simpatik dan toleran. Pada banyak peristiwa sejarah, toleransi Nabi saw merupakan salah satu alasan kenapa Nabi saw sukses. Namun dalam masalah prinsip ketika mengenai masalah kepentingan masyarakat atau hukum, Nabi saw tegas dan tak pernah memperlihatkan sikap toleran. Ketika peristiwa penaklukan atas Mekah dan kemenangan Nabi saw atas kaum Quraisy, Nabi saw mengabaikan kesalahan-kesalahan yang pernah mereka lakukan terhadap diri Nabi selama dua puluh tiga tahun. Nabi saw justru menyatakan amnesti umum. Nabi saw menerima permintaan maaf pembunuh paman tercintanya, Hamzah. Namun Nabi saw menjatuhkan hukuman kepada seorang wanita Bani Makhzum yang mencuri. Padahal wanita ini dari keluarga yang sangat terhormat, yang memandang penerapan hukuman atas dirinya sebagai penghinaan besar bagi keluarga tersebut. Keluarga ini tak henti-hentinya meminta Nabi saw untuk memaafkannya. Beberapa sahabat terkenal Nabi saw juga memintakan pengampunan baginya. Namun Nabi saw dengan marah me­ngatakan bahwa tidaklah mungkin karena untuk kepentingan seseorang lalu hukum Allah tidak diterapkan. Pada sore hari itu juga Nabi saw menyampaikan khotbah:
"Bangsa-bangsa dan umat-umat terdahulu mengalami kemunduran dan lalu punah akibat mereka bersikap diskriminatif dalam pelaksanaan hukum Allah. Kalau orang berpengaruh berbuat kejahatan, dia dibiarkan begitu saja. Namun jika orang lemah dan tak penting berbuat kejahatan, dia dihukum. Aku bersumpah demi Allah yang di tangan-Nya jiwaku bahwa aku akan tegas dalam melaksanakan keadilan sekalipun yang berbuat salah itu salah seorang keluargaku."

(Dikutip dari buku "Manusia dan Alam Semesta", Bab 21 "Nabi Muhammad SAW")

Sekilas Muhammad Rasulullah SAW (1)

Nabi Muhammad bin Abdullah saw adalah nabi terakhir. Lahir pada tahun 570 M di Mekah. Diutus menjadi nabi ketika berusia empat puluh tahun. Selama tiga belas tahun Nabi saw berdakwah Islam di Mekah. Di Mekah Nabi saw mengalami banyak sekali kesulitan. Selama periode Mekah ini Nabi saw mendidik beberapa orang pilihan. Kemudian Nabi saw hijrah ke Madinah. Di Madinah Nabi saw mendirikan sentranya. Selama sepuluh tahun Nabi saw terang-terangan berdakwah Islam di Madinah. Nabi saw melakukan sejumlah perang yang berhasil menundukkan kaum Arab yang arogan. Pada akhir periode ini seluruh jazirah Arab memeluk Islam. Al-Qur'an Suci diwahyukan kepadanya secara bertahap dalam waktu dua puluh tiga tahun. Kaum Muslim memperlihatkan dedikasi yang luar biasa dan takzim kepada Al-Qur'an dan kepada pribadi Nabi Muhammad saw. Nabi saw wafat pada tahun 11 H pada tahun ke-23 misi kenabiannya dalam usia enam puluh tiga tahun. Nabi saw meninggalkan suatu masyarakat yang belum lama lahir, suatu masyarakat yang penuh dengan semangat spiritual, suatu masyarakat yang mempercayai suatu ideologi yang konstruktif dan yang menyadari tanggung jawabnya di dunia.

Ada dua hal yang memberi masyarakat yang baru lahir ini semangat antusiasme dan persatuan: Pertama, Al-Qur'an yang menyemangati kaum Muslim, yang senantiasa dibaca oleh kaum Muslim. Kedua, pribadi mulia dan berpengaruh Nabi saw yang sangat memesona kaum Muslim. Kini kami bahas secara ringkas pribadi Nabi Suci saw.

Masa Kanak-kanak
Muhammad saw masih berada dalam rahim ibundanya, ketika ayahandanya, yang kembali dari perjalanan bisnis ke Syiria, meninggal di Madinah. Kemudian Abdul Muthalib, kakeknya, mengambil alih pengasuhannya. Sejak kanak-kanak, tanda-tanda bahwa kelak dia akan menjadi nabi sudah terlihat jelas dari keistimewaan dan perilakunya. Abdul Muthalib secara intuitif mendeteksi bahwa cucunya memiliki masa depan yang luar biasa cemerlang.
Muhammad saw baru berusia delapan tahun ketika kakeknya juga meninggal. Dan sesuai dengan wasiat kakeknya, pengasuhan Muhammad saw diberikan kepada paman Muhammad saw yang bernama Abu Thalib as. Abu Thalib as juga terkejut ketika tahu bahwa perilaku anak ini beda dengan perilaku anak-anak lainnya. Tak seperti anak-anak sekitamya, Muhammad saw tak pemah tamak dengan makanan. Dan tak seperti adat yang berlaku pada masa itu, Muhammad saw selalu menyisir rapi rambutnya, dan wajah serta tubuh Muhammad saw selalu bersih.

Suatu hari Abu Thalib ingin Muhammad saw berganti pakaian di hadapan Abu Thalib sebelum pergi tidur. Si kecil Muhammad saw tak menyukai keinginan seperti itu. Namun karena tak dapat mentah-mentah menolak keinginan pamannya, si kecil Muhammad saw meminta pamannya untuk memalingkan mukanya ketika Muhammad saw melepaskan pakaiannya. Tentu saja Abu Thalib kaget, karena orang dewasa Arab sekalipun pada masa itu tak menolak bila diminta telanjang bulat di hadapan orang lain. Kata Abu Thalib: "Aku tak pernah mendengar dia berbohong, juga tak pernah aku melihat dia melakukan sesuatu yang tak senonoh. Kalau perlu saja Muhammad tertawa. Dia juga tak ingin ikut dalam permainan anak-anak. Dia lebih suka sendirian, dan selalu sopan, rendah hati dan bersahaja."

Tak Suka Nganggur dan Malas-malasan
Beliau saw tak suka nganggur dan bermalas-malasan. Beliau saw senantiasa mengucapkan: "Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kemalasan, ketidakberdayaan dan sesuatu yang tak ada nilainya." Beliau saw selalu menyuruh kaum Muslim untuk bekerja keras dan kreatif. Beliau saw selalu mengatakan bahwa kemuliaan itu memiliki tujuh bagian, dan bagian terbaiknya adalah mencari nafkah dengan halal.

Jujur
Nabi saw, sebelum diutus menjadi rasul, mengadakan perjalanan ke Syiria untuk kepentingan Khadijah as. Dan Khadijah as ini di kemudian hari menjadi istrinya. Perjalanan ini, lebih dari sebelumnya, memperjelas kejujuran dan efisiensinya. Kejujuran dan keandalannya jadi begitu terkenal, sampai-sampai dia mendapat julukan tepercaya (al-Amin). Orang mempercayakan penjagaari harta mereka yang berhafga kepada Muhammad saw. Bahkan setelah diutus menjadi rasul, meskipun memusuhinya, kaum Quraisy tetap saja menyerahkan penjagaan harta berharga mereka kepadanya karena merasa yakin akan aman di tangannya. Itulah sebabnya ketika hijrah ke Madinah, Muhammad saw meninggalkan Imam Ali bin Abi Thalib as untuk beberapa hari demi mengembali-kan titipan kepada para pemiliknya.

Menentang Kezaliman
Pada masa pra-Islam, ada perjanjian yang dibuat oleh para korban kekejaman dan kezaliman dengan tujuan untuk melakukan upaya bersama guna melindungi kaum tertindas terhadap para tiran yang zalim. Perjanjian ini dikenal dengan nama "Hilful Fudhûl". Perjanjian ini dibuat di rumah Abdullah bin Jad'in di Mekah oleh tokoh-tokoh penting tertentu pada masa itu. Kemudian, selama masa kenabiannya, Muhammad saw sering menyebut perjanjian ini. Beliau mengatakan masih mau ikut dalam perjanjian serupa, dan tak mungkin melanggar isi perjanjian.

(dikutip dari buku "Manusia dan Alam Semesta", Bab 21 "Nabi Muhammad SAW")