Showing posts with label kisah hikmah. Show all posts
Showing posts with label kisah hikmah. Show all posts

Sunday, March 13, 2011

Membahagiakan Mukmin

Dulu ada suatu masa ketika orang yang menjadi pengikut Ahlul Bait Nabi saw, dikejar-kejar oleh penguasa di zamannya. Nama-nama mereka itu dimasukkan dalam daftar hitam. Mendaftar-hitamkan seseorang berarti merampas haknya sebagai manusia, mengambil hartanya, kehormatannya, dan nyawanya sekaligus.

Salah seorang murid Imam Musa bin Ja’far al-Kadzim as berniat menyelamatkan diri cara dengan pergi haji. Murid tersebut menyempatkan diri menemui Imam Musa dan mengadukan keadaannya. Ia juga telah mengabarkan bahwa ada salah seorang komandan militer telah menyatakan mengikuti Ahlul Bait secara diam-diam. Imam Musa menyuruh muridnya itu untuk membawa surat kepada komandan itu. Di situ tertulis:

"Dengan nama Allah yang Maha kasih Maha sayang. Ketahuilah bahwa di bawah arasy ada perlindungan yang tidak ditempati kecuali oleh orang yang memberikan bantuan kepada saudaranya, membebaskan kesulitannya, dan memasukkan ke dalam hatinya kebahagiaan. Pembawa surat ini adalah saudaramu. Wasalam."

Sepulang dari haji, si murid tadi mengunjungi komandan militer tsb dan memberikan surat Imam kepadanya. Komandan itu mencium surat itu sambil berdiri. Setelah membacanya, ia memanggil orang untuk menghadiahkan kepadaku hartanya dan pakaiannya. Dinar demi dinar, dirham demi dirham, lembar demi lembar pakaian ditumpukkan bagiku. Ia memberikan harta kepadaku yang tidak ternilai. Ia juga memanggil orang untuk menghapuskan namaku dari daftar hitam. Aku diberikan surat kebebasan dari segala macam tuntutan. Aku ucapkan selamat tinggal kepadanya dan aku pun meninggalkan dia.

Dalam hati aku berfikir, rasanya aku tak dapat membalas budi dia kecuali aku akan berhaji lagi pada tahun depan. Aku akan berdoa baginya. Aku akan menyampaikan kabar dia kepada Imam.

Pada musim haji berikutnya, aku menemui Imam Musa. Aku ceritakan perihal orang yang membantuku itu. Wajahnya tampak bersinar gembira.
Lalu Imam bertanya kepadaku: “Apakah dia membahagiakanmu?”
Aku berkata: “Benar.”
Imam berkata: “Demi Allah, ia telah membahagiakanku dan membahagiakan Amirul Mukminin. Demi Allah, ia juga telah membahagiakan kakekku Rasulullah saw. Demi Allah, ia juga telah membuat Allah SWT ridha kepadanya.“

Apa yang dikatakan oleh Imam tsb, sebenarnya adalah meneruskan pesan kakek beliau, Nabi Muhammad saw:
“Barang siapa membahagiakan seorang mukmin, ia telah membahagiakan aku. Barang siapa membahagiakan aku, ia telah membahagiakan Allah”. Dan ketika Nabi saw ditanya tentang amal yang paling utama, ia berkata: “Engkau memasukkan rasa bahagia pada hati seorang mukmin. Engkau lepaskan kesulitannya. Engkau hibur hatinya. Engkau tunaikan hutang-hutangnya.”

Allahumma sholli ala Muhammad wa aali Muhammad.[undzurilaina]

Thursday, April 15, 2010

Milik Ayahmu

Seorang Ayah tertunduk malu di hadapan Rasulullah SAW...
“Ya Rasulullah, inilah ayahku yang telah beberapa kali mencuri hartaku!”, ujar si anak melaporkan ayahnya pada Rasulullah SAW.

Rasulullah SAW melihat ke arah sang ayah, kemudian berkata, “Apakah benar demikian, wahai Ayah?”

Dengan wajah tertunduk, sang ayah menjawab, “Wahai Rasul Allah, tanyakan kepadanya, Bahwa aku hanya mengambil secukupnya untuk menafkahi aku, ibunya, dan saudara ibunya. Aku tidak mengambil sesuatu yang lebih”.

Wajah ayah itu masih tertunduk malu bercampur sedih dan kecewa.

Rasulullah SAW memandang wajah sang ayah, kemudian berkata lagi, “katakanlah apa yang ingin kau katakan pada anakmu”.

“Tidak ada, wahai kekasih Allah”, jawab Sang Ayah.

Rasulullah SAW tahu bahwa ayah tersebut ingin mengucapkan sesuatu kepada anaknya, lalu berkata lagi, “Wahai, Ayah. Katakanlah apa yang ingin engkau katakan.”

“Setiap saat Allah menunjukkan kepadaku untuk menambah keyakinanku pada mu, wahai Rasul. Engkau tahu apa yang ada dalam hatiku”, lanjut sang Ayah.

Sang Ayah pun kemudian mengucapkan sebuah syair buat anaknya:
Anakku,
Aku berikan padamu makan sejak kamu dilahirkan,
aku bimbing dirimu sejak kecil,
aku selalu memerhatikanmu sampai kulupakan diriku,
kalau suatu malam engkau sakit, aku gelisah, aku tak bisa tidur, seakan aku yang sakit sebelum engkau merasakan sakitmu.
Aku benar2 takut kalau kematian saat itu datang menghampirimu. Sebenarnya aku tahu bahwa mati itu ketentuan Allah. Karena itu aku selalu menangisi dan merintihkanmu.

Tetapi ketika engkau sudah besar.
Di masa dimana aku harapkan engkau dapat berbuat baik kepadaku. Ternyata engkau balas budiku dengan kekerasan dan kekasaran. Seakan2 kamu yang selalu memberikan kebaikan kepadaku, bukan aku.

Anakku, kalau engkau tidak lagi mau melihat dan membalas aku sebagai orang tuamu, sebagai ayahmu. Cukuplah perlakukan aku sebagaimana layaknya tetangga memperlakukan tetangganya.


Mendengar ungkapan Sang Ayah ini, Rasulullah SAW sontak bangun dan memegang leher si Anak, kemudian berkata, “Anta wa Maaluka li abiika..!”.Kamu dan hartamu milik Ayahmu!


Sunday, September 6, 2009

Makan Bersama Nabi

Setibanya Nabi dan sahabat2nya di suatu tempat dan turun dari kendaraannya, mereka berencana untuk menyembelih seekor kambing dan membuat sate untuk dimakan bersama.
Seorang sahabat berteriak: "Aku yang akan menyembelih kambing itu."

Sahabat yang lain menjawab: "Aku yang akan mengulitinya."

Sahabat yang lain lagi berkata: "Aku akan memasaknya."

Rasulullah SAW menyahut: "Aku akan mencarikan kayu2 kecil di padang pasir."

Semua sahabat segera berkata: "Ya Nabi Allah! Biarlah anda duduk. Kami akan melakukan semua pekerjaan ini dengan senang hati.”

Kemudian Nabi SAW berkata:“Aku tahu kalian akan melakukan semuanya. Tapi Allah tidak suka melihat orang yang melihat dirinya berbeda dengan orang lain, sedangkan ia berada di tengah2 mereka.”

Nabi pun pergi ke padang pasir dan memunguti kayu-kayu kecil yang kering sesuai dengan kebutuhan.

Allahhumma Sholli alaa Muhammad wa aali Muhammad.[undzurilaina]

Friday, April 10, 2009

Yang Patah Sayapnya

Suatu ketika 2 orang tokoh tasawwuf yaitu Ibrahim ibn Adham dan Syaqiq al-Balkhi bertemu. Syaqiq ini adalah mantan saudagar besar sebelum meninggalkan dagangannya untuk menjadi seorang sufi.
Suatu saat dalam sebuah pertemuan antara keduanya, Ibrahim bertanya kepada Syaqiq:
“Ya Syaqiq, Apa gerangan yang menyebabkan engkau meninggalkan daganganmu itu dan hidup seperti ini?”.

Lalu Syaqiq pun menjawab…

Dahulu saya memang pedagang besar tapi saya selalu dilanda kecemasan. Saya selalu khawatir dagangan saya akan merugi sehingga keluarga saya menjadi tak terurus dan kelaparan. Sampai suatu saat saya berada dalam sebuah gurun pasir yang gersang, jauh dari manusia, jauh dari kebun-kebun dan dari segalanya. Yang tampak hanyalah hamparan pasir gersang sejauh mata saya memandang.
Pada saat itu aku melihat ada seekor burung yang patah sayapnya sedang menggelepar-gelepar. Waktu itu saya berfikir burung ini pasti akan mati karena tidak bisa mencari makanannya dan tidak bisa apa-apa. Namun, pada saat saya berfikir itu tiba2 ada seekor burung terbang di atasnya dan kemudian menjatuhkan makanan yang ada di paruhnya tepat di depan burung yang patah sayapnya tadi.
Segera saya berfikir, kalau burung yang patah sayapnya saja dijamin rezekinya oleh Allah, masak iya Allah tidak menjamin rezeki untuk saya, kalau saya bertawakkal kepadanya?

Demikian Syaqiq menjawab pertanyaan Ibrahim ibn Adham tadi. Yang paling menarik disini adalah jawaban dari Ibrahim ibn Adham kepada Syaqiq.

Ibrahim ibn Adham kemudian berkata..
Ya Syaqiq, mengapa engkau memilih burung yang patah sayapnya tadi. Kenapa engkau tidak memilih burung yang memberinya makanan tadi. Burung yang bekerja keras mencari nafkah, kemudian mengantarkan kelebihan nafkahnya untuk menolong burung2 yang patah sayapnya.

Tugas kita adalah untuk melanjutkan dan mengikuti risalah Rasulullah SAW, bukan meninggalkan pekerjaan kita dan menghabiskan waktu untuk ibadah sendiri. Tugas kita adalah bekerja keras di tengah2 masyarakat dan mengantarkan sebagian kelebihan yang kita peroleh kepada saudara2 kita yang patah sayapnya.

Thursday, January 24, 2008

Ketika Tangan dan Kaki Bicara

Penyair Taufiq Ismail menulis sebuah artikel tentang Krismansyah Rahadi atau yang akrab dipanggil dengan Chrisye (1949-2007) di majalah sastra HORISON.

Krismansyah Rahadi (1949-2007): KETIKA MULUT, TAK LAGI BERKATA.
oleh: TAUFIQ ISMAIL

Di tahun 1997 saya bertemu Chrisye sehabis sebuah acara, dan dia berkata, "Bang, saya punya
sebuah lagu. Saya sudah coba menuliskan kata-katanya, tapi saya tidak puas… Bisakah Abang tolong tuliskan liriknya?"


Karena saya suka lagu-lagu Chrisye, saya katakan bisa. Saya tanyakan kapan mesti selesai. Dia bilang sebulan. Menilik kegiatan saya yang lain, deadline sebulan itu bolehlah. Kaset lagu itu dikirimkannya, berikut keterangan berapa baris lirik diperlukan, dan untuk setiap larik berapa jumlah ketukannya, yang akan diisi dengan suku kata. Chrisye menginginkan puisi relijius.

Kemudian saya dengarkan lagu itu. Indah sekali. Saya suka betul. Sesudah seminggu, tidak ada ide. Dua minggu begitu juga. Minggu ketiga inspirasi masih tertutup. Saya mulai gelisah. Di ujung minggu keempat tetap buntu. Saya heran. Padahal lagu itu cantik jelita. Tapi kalau ide memang macet, apa mau dikatakan.


Tampaknya saya akan telepon Chrisye keesokan harinya dan saya mau bilang, " Chris, maaf ya, macet. Sori." Saya akan kembalikan pita rekaman itu. Saya punya kebiasaan rutin baca Surah Yasin.

Malam itu, ketika sampai ayat 65 yang berbunyi, A'udzubillahi minasy syaithonirrojim.
"Alyauma nakhtimu 'alaa afwahihim, wa tukallimuna aidhihim, wa tasyhadu arjuluhum bimaa kaanu yaksibuun" saya berhenti.

Maknanya, "Pada hari ini Kami akan tutup mulut mereka, dan tangan mereka akan berkata kepada Kami, dan kaki mereka akan bersaksi tentang apa yang telah mereka lakukan."


Saya tergugah. Makna ayat tentang Hari Pengadilan Akhir ini luar biasa!

Saya hidupkan lagi pita rekaman dan saya bergegas memindahkan makna itu ke lirik-lirik lagu tersebut. Pada mulanya saya ragu apakah makna yang sangat berbobot itu akan bisa masuk pas ke dalamnya. Bismillah. Keragu-raguan teratasi dan alhamdulillah penulisan lirik itu selesai.

Lagu itu saya beri judul Ketika Tangan dan Kaki Berkata.

Keesokannya dengan lega saya berkata di telepon," Chris, alhamdulillah selesai". Chrisye sangat gembira. Saya belum beritahu padanya asal-usul inspirasi lirik tersebut.

Berikutnya hal tidak biasa terjadilah. Ketika berlatih di kamar menyanyikannya baru dua baris Chrisye menangis, menyanyi lagi, menangis lagi, berkali-kali.

Di dalam memoarnya yang dituliskan Alberthiene Endah, Chrisye, Sebuah Memoar Musikal,
2007 (halaman 308-309), bertutur Chrisye: Lirik yang dibuat Taufiq Ismail adalah satu-satunya lirik dahsyat sepanjang karier, yang menggetarkan sekujur tubuh saya. Ada kekuatan misterius yang tersimpan dalam lirik itu. Liriknya benar-benar mencekam dan menggetarkan.
Dibungkus melodi yang begitu menyayat, lagu itu bertambah susah saya nyanyikan! Di kamar, saya berkali-kali menyanyikan lagu itu. Baru dua baris, air mata saya membanjir. Saya coba lagi.
Menangis lagi. Yanti (istri Chrisye) sampai syok! Dia kaget melihat respons saya yang tidak biasa terhadap sebuah lagu. Taufiq memberi judul pada lagu itu sederhana sekali, Ketika Tangan dan Kaki Berkata.

Lirik itu begitu merasuk dan membuat saya dihadapkan pada kenyataan, betapa takberdayanya manusia ketika hari akhir tiba. Sepanjang malam saya gelisah. Saya akhirnya menelepon Taufiq dan menceritakan kesulitan saya.

"Saya mendapatkan ilham lirik itu dari Surat Yasin ayat 65..." kata Taufiq.

Ia menyarankan saya untuk tenang saat menyanyikannya. Karena sebagaimana bunyi ayatnya, orang memang sering kali tergetar membaca isinya. Walau sudah ditenangkan Yanti dan Taufiq, tetap saja saya menemukan kesulitan saat mencoba merekam di studio. Gagal, dan gagal lagi.
Berkali-kali saya menangis dan duduk dengan lemas. Gila! Seumur-umur, sepanjang sejarah karir saya, belum pernah saya merasakan hal seperti ini. Dilumpuhkan oleh lagu sendiri!

Butuh kekuatan untuk bisa menyanyikan lagu itu. Erwin Gutawa yang sudah senewen menunggu lagu terakhir yang belum direkam itu, langsung mengingatkan saya, bahwa keberangkatan ke Australia sudah tak bisa ditunda lagi. Hari terakhir menjelang ke Australia , saya lalu mengajak Yanti ke studio, menemani saya rekaman. Yanti sholat khusus untuk mendoakan saya. Dengan susah payah, akhirnya saya bisa menyanyikan lagu itu hingga selesai.

Dan tidak ada take ulang! Tidak mungkin. Karena saya sudah menangis dan tak sanggup menyanyikannya lagi. Jadi jika sekarang Anda mendengarkan lagu itu, itulah suara saya dengan getaran yang paling autentik, dan tak terulang! Jangankan menyanyikannya lagi, bila saya mendengarkan lagu itu saja, rasanya ingin berlari!

Lagu itu menjadi salah satu lagu paling penting dalam deretan lagu yang pernah saya nyanyikan. Kekuatan spiritual di dalamnya benar-benarbenar meluluhkan perasaan. Itulah pengalaman
batin saya yang paling dalam selama menyanyi.

Penuturan Chrisye dalam memoarnya itu mengejutkan saya. Penghayatannya terhadap Pengadilan Hari Akhir sedemikian sensitif dan luarbiasanya, dengan saksi tetesan air matanya. Bukan main. Saya tidak menyangka sedemikian mendalam penghayatannya terhadap makna
Pengadilan Hari Akhir di hari kiamat kelak.

Mengenai menangis, menangis ketika menyanyi, hal yang serupa terjadi dengan Iin Parlina dengan lagu Rindu Rasul. Di dalam konser atau pertunjukan, Iin biasanya cuma kuat menyanyikannya dua baris, dan pada baris ketiga Iin akan menunduk dan membelakangi penonton menahan sedu sedannya. Demikian sensitif dia pada shalawat Rasul dalam lagu
tersebut.

* * *

Setelah rekaman Ketika Tangan dan Kaki Berkata selesai, dalam peluncuran album yang saya hadiri, Chrisye meneruskan titipan honorarium dari produser untuk lagu tersebut. Saya enggan menerimanya.


Chrisye terkejut. " Kenapa Bang, kurang?"

Saya jelaskan bahwa saya tidak orisinil menuliskan lirik lagu Ketika Tangan dan Kaki Berkata itu. Saya cuma jadi tempat lewat, jadi saluran saja. Jadi saya tak berhak menerimanya. Bukankah itu dari Surah Yasin ayat 65, firman Tuhan? Saya akan bersalah menerima sesuatu yang bukan hak saya.

Kami jadi berdebat. Chrisye mengatakan bahwa dia menghargai pendirian saya, tetapi itu merepotkan administrasi. Akhirnya Chrisye menemukan jalan keluar. "Begini saja Bang, Abang tetap terima fee ini, agar administrasi rapi. Kalau Abang merasa bersalah, atau berdosa, nah, mohonlah ampun kepada Allah. Tuhan Maha Pengampun ' kan?"

Saya pikir jalan yang ditawarkan Chrisye betul juga. Kalau saya berkeras menolak, akan kelihatan kaku, dan bisa ditafsirkan berlebihan. Akhirnya solusi Chrisye saya terima. Chrisye
senang, saya pun senang.

* * *

Pada subuh hari Jum'at, 30 Maret 2007, pukul 04.08, penyanyi legendaris Chrisye wafat dalam usia 58 tahun, setelah tiga tahun lebih keluar masuk rumah sakit, termasuk berobat di Singapura. Diagnosis yang mengejutkan adalah kanker paru-paru stadium empat.


Dia meninggalkan isteri, Yanti, dan empat anak, Risty, Nissa, Pasha dan Masha, 9 album proyek, 4 album sountrack, 20 album solo dan 2 filem.


Semoga penyanyi yang lembut hati dan pengunjung masjid setia ini, tangan dan kakinya kelak akan bersaksi tentang amal salehnya serta menuntunnya memasuki Gerbang Hari Akhir yang semoga terbuka lebar baginya.

Amin.
#

Ketika Tangan dan Kaki Berkata
Lirik : Taufiq Ismail
Lagu : Chrisye

Akan datang hari mulut dikunci
Kata tak ada lagi
Akan tiba masa tak ada suara
Dari mulut kita

Berkata tangan kita
Tentang apa yang dilakukannya
Berkata kaki kita
Kemana saja
dia melangkahnya
Tidak tahu kita bila harinya
Tanggung jawab tiba

Rabbana
Tangan kami
Kaki kami
Mulut kami
Mata hati kami
Luruskanlah
Kukuhkanlah
Di jalan cahaya.... sempurna

Mohon karunia
Kepada kami
HambaMu yang hina (1997).
[undzurilaina]

Friday, November 16, 2007

Bung Hatta Dan Kisah Sepatu Bally

PADA tahun 1950-an, Bally adalah sebuah merek sepatu yang bermutu tinggi dan tentu tidak murah. Bung Hatta, Wakil Presiden pertama RI, berminat pada sepatu Bally. Ia kemudian menyimpan guntingan iklan yang memuat alamat penjualnya, lalu berusaha menabung agar bisa membeli sepatu idaman tersebut. Namun, uang tabungan tampaknya tidak pernah mencukupi karna selalu terambil untuk keperluan rumah tangga atau untuk membantu kerabat dan handai taulan yang datang kepadanya untuk meminta pertolongan.

Hingga akhir hayatnya, sepatu Bally idaman Bung Hatta tidak pernah terbeli karena tabungannya tak pernah mencukupi.

Yang sangat mengharukan dari cerita ini, guntingan iklan sepatu Bally itu hingga Bung Hatta wafat masih tersimpan dan menjadi saksi keinginan sederhana dari seorang Hatta. Jika ingin memanfaatkan posisinya waktu itu, sebenarnya sangatlah mudah bagi Bung Hatta untuk memperoleh sepatu Bally. Misalnya, dengan meminta tolong para duta besar atau pengusaha yang menjadi kenalan Bung Hatta.

Namun, di sinilah letak keistimewaan Bung Hatta. Ia tidak mau meminta sesuatu untuk kepentingan sendiri dari orang lain. Bung Hatta memilih jalan sukar dan lama, ternyata gagal karena ia lebih mendahulukan orang lain daripada kepentingannya sendiri," kata Adi Sasono, Ketua Pelaksana Peringatan Satu Abad Bung Hatta. Pendeknya, keteladanan Bung Hatta, apalagi di tengah carut-marut zaman ini, dengan dana bantuan presiden, dana Badan Urusan Logistik, dan lain-lain.

Bung Hatta meninggalkan teladan besar, yaitu sikap mendahulukan orang lain, sikap menahan diri dari meminta hibah, bersahaja, dan membatasi konsumsi pada kemampuan yang ada. Kalau belum mampu, harus berdisiplin dengan tidak berutang atau bergantung pada orang lain. Seandainya bangsa Indonesia dapat meneladani karakter mulia proklamator kemerdekaan ini, seandainya para pemimpin tidak maling, tidak mungkin bangsa dengan sumber alam yang melimpah ini menjadi bangsa terbelakang, melarat, dan nista karena tradisi berutang dan meminta sedekah dari orang asing.[undzurilaina]

Friday, October 26, 2007

Semangkuk Mie Ayam

Hardi, seorang pedagang kelontong yang cukup berhasil di kotanya. Namun jangan lihat keberhasilannya sekarang sebelum tahu faktor apa yang menjadi penyebab usahanya maju dan lancar.Setahun yang lalu, Hardi mengadukan nasibnya kepada guru ngajinya. Ia mengaku sudah lebih sebelas tahun mencoba berbagai usaha namun selalu kandas di tengah jalan. Usaha pertamanya sudah dimulai saat ia baru memasuki kuliah tingkat dua, sekitar tahun 1994. Saat itu, ia mendapat pembagian warisan dari orangtuanya yang belum lama meninggal dunia.


Jiwa bisnisnya memang sudah terlihat semenjak kecil, jadi wajar jika kemudian ia mendapatkan uang warisan dalam jumlah yang cukup banyak, maka yang terbersit di kepalanya adalah bisnis.Maka, beberapa bulan kemudian ia membuka sebuah warung makan. Mulanya, warung makannya berjalan normal, bahkan bisa dibilang sangat laku keras. Mungkin karena ia melakukan promosi sangat gencar, selain karena ia termasuk anak muda yang memiliki cukup banyak relasi meski pun usianya masih sangat muda. Jadi sangat mudah baginya untuk mengundang sahabat, kerabat dan relasinya untuk sekadar mencicipi warung makan miliknya.Entah kenapa, selang tiga bulan kemudian satu persatu pelanggan meninggalkannya. Tak banyak lagi yang makan di warungnya, sehingga dalam waktu tak berapa lama ia terpaksa menutup usahanya dan gulung tikar.

Ia pun berganti usaha yang lain dengan sisa modal yang ada.Usaha barunya, tak jauh berbeda dengan sebelumnya. Masih seputar makanan. Kali ini ia membuka usaha catering yang melayani makan untuk kantor-kantor di kota tinggalnya. Alhamdulillah ia dipercaya seorang rekannya yang bekerja di sebuah perusahaan untuk memasukkan catering untuk makan siang beberapa karyawan. Untuk sebuah awalan, catering untuk sekitar 20 karyawan dianggapnya bagus. “Mulanya 20, insya Allah menjadi 200, 2000 dan seterusnya…” semangat Hardi berapi-api.Alih-alih bertambah pelanggan, rupanya Allah berkehendak lain. Yang 20 pun menyetop langganan catering kepada Hardi, sementara selama satu bulan penuh itu ia belum mendapatkan pelanggan baru. Akhirnya, ia pun kembali mengalami kebangkrutan. Demikian seterusnya hingga lebih sepuluh tahun kemudian ia berganti jenis usaha selalu menemui kegagalan.Pada satu kesempatan ia mengadukan perihal kegagalan demi kegagalan usahanya kepaada guru mengajinya. Ia menceritakan secara detil semua jenis usaha yang pernah dicobanya dan bagaimana sampai akhirnya semua usahanya gagal. “Saya harus usaha apalagi guru, saya sudah kehabisan modal. Bahkan saat ini saya memiliki hutang yang tidak sedikit…” keluhnya.Guru tersebut tak lantas memberikan jawaban dengan menyebut satu bentuk usaha baru yang patut dicoba Hardi, melainkan meminta Hardi mengingat-ingat sesuatu di masa lalu. “Coba ingat, pernah punya hutang atau tidak di masa lalu? Atau pernah punya sangkutan berkenaan dengan rezeki orang lain atau tidak di masa lalu…?” tanya sang guru.Dahi Hardi mengerenyit, mencoba mengingat-ingat masa lampaunya. Rasa-rasanya ia tak pernah punya hutang kepada siapa pun, justru sebaliknya ia malah mengingat kembali daftar nama-nama yang pernah berhutang kepadanya. “Coba lebih keras mengingat, mungkin nilainya kecil, tapi boleh jadi itu yang menjadi penyumbat rezekimu…”“Astaghfirullah…. “ Hardi teringat sesuatu. Ia pun segera menyalami sang guru dan mohon pamit seraya berucap terima kasih.

Pria itu segera memacu kencang kendaraannya menuju suatu tempat. Dalam hati ia berharap cemas, “Semoga masih ada warung itu…”Tidak kurang dari tiga belas jam waktu yang ditempuh Hardi menuju Semarang, mencari satu tempat yang pernah ia singgahi hampir dua belas tahun yang lalu. Tiba di tempat yang dituju, ia tidak menemukan lagi warung mie ayam tempatnya makan dahulu. Kemudian ia mencoba bertanya kepada orang-orang di sekitar perihal tukang mie yang pernah berjualan di situ.“Ya, tukang mie itu bapak saya. Sekarang sudah tidak berjualan lagi. Sekarang bapak sedang sakit parah…” seorang anak menceritakan ciri-ciri fisik penjual mie ayam itu, dan Hardi yakin sekali itu orang yang dicarinya. Tanpa pikir panjang, ia minta diantarkan ke rumah penjual mie untuk bertemu langsung.Ketika melihat kondisi penjual mie, Hardi menitikkan air mata. Ia langsung meminta beberapa anggota keluarga membopong penjual mie itu ke mobilnya dan segera membawanya ke rumah sakit. Alhamdulillah, jika tidak segera dibawa ke rumah sakit, mungkin penjual mie itu tidak akan tertolong.

Seluruh biaya rumah sakit tercatat mencapai lima belas juta rupiah, dan semuanya ditanggung oleh Hardi.Beberapa hari kemudian, setelah kembali ke rumah, bapak penjual mie itu mengucapkan terima kasih kepada Hardi. “Bapak tidak tahu harus bagaimana mengembalikan uang biaya berobat itu kepada nak Hardi. Usaha dagang bapak sedang susah…” Hardi berkali-kali mencium tangan Pak Atmo, penjual mie itu. Matanya tak henti menitikkan air mata, ia sedang berusaha menyatakan sesuatu, namun bibirnya terasa sangat berat.Akhirnya, “… semua sudah terbayar lunas pak. Saya hanya minta bapak mengikhlaskan semangkuk mie ayam yang pernah saya makan tanpa membayar dua belas tahun silam”, Hardi terus menangis berharap keikhlasan itu didapatnya. Saat itu, sehabis makan ia langsung kabur memacu sepeda motornya dan tak membayar semangkuk mie seharga 1.500 rupiah.Pak Atmo memeluk erat tubuh Hardi dan mengusap-usap kepala pria muda itu seraya berucap, “Allah Maha Pemaaf, begitu pun semestinya kita…”.***Perlancar dulu rezeki orang lain, agar tidak menyumbat rezeki kita.Wallaahu ‘a’lam bishshowaab (Dari artikel Bayu Gawtama). [undzurilaina]

Tuesday, September 25, 2007

Agungnya Akhlak Nabi

Diriwayatkan beberapa waktu setelah Nabi SAW wafat, datanglah seorang Badui ke Madinah untuk mengetahui bagaimana akhlak Nabi SAW. Beberapa sahabat menyarankannya untuk bertanya kepada Imam Ali bin Abi Thalib. Akhirnya badui tersebutpun menemui Imam Ali dan berkata: “Ceritakan kepadaku Akhlak Muhammad”.

Imam Ali dengan linangan air mata berkata, "Ceritakan padaku keindahan dunia ini!"

Badui ini menjawab, "Bagaimana mungkin aku dapat menceritakan segala keindahan dunia ini...??"

Imam Ali menjawab, "Engkau tak sanggup menceritakan keindahan dunia padahal Allah telah berfirman bahwa sungguh dunia ini kecil dan hanyalah senda gurau belaka. Lalu bagaimana aku dapat melukiskan akhlak Muhammad, sedangkan Allah telah berfirman bahwa sungguh Muhammad memiliki budi pekerti yang agung! (QS. Al-Qalam: 4)"[undzurilaina]

Thursday, August 30, 2007

Menguji Seorang Ahli

Pada saat orang ramai membicarakan perlunya menyatukan bacaan Al-Quran, maka diputuskan untuk memberi tanda baca pada akhir huruf-huruf Al-Quran. Orang yang diminta untuk memberi tanda baca tersebut, tentulah orang yang benar-benar memahami tata bahasa Arab. Di antara orang itu, adalah Abul Aswad Ad-Dualy.

Namun, ketika orang memintanya untuk memberi tanda baca pada Al-Quran, Abu al-Aswad merasa keberatan. Orang-orang pun memaksanya, namun ia menolak.

Dicarilah akal untuk membuat Abul Aswad agar bersedia memberi tanda baca dalam Al-Quran. Siasat yang dilakukan, sekaligus dapat diangap sebagai suatu ujian untuk mengukur kehebatan ilmu bahasa Abul Aswad Ad-Dualy.

Maka disuruhlah seseorang untuk menemui Abul Aswad. Ketika berpapasan dengan Abu al-Aswad, seakan tidak sengaja, ia mengungkapkan firman Allah:

“…Annallaaha barii’un minal musyrikiina wa rasuulih…*)

Ayat tersebut seharusnya berbunyi:

“…annallaaha bariiun minal musyrikiina wa rasuuluh…”(QS.9:3)

(Perhatikan, perbedaan arti yang sedemikian jauh itu hanya disebabkan perbedaan membaca wa rasuuluh menjadi wa rasuulih).

Seketika Abul Aswad menjerit, “Hai, bagaimana bisa begitu. Mahasuci Allah dari berbuat begitu. Tidak mungkin Allah berlepas diri dari Rasul-Nya.”

Dan segera setelah itu, Abul Aswad menerima tugas untuk memberi tanda baca pada Al-Quran.

-------------------------------------

*) Dengan dibaca salah seperti itu, maka arti ayat di atas adalah: “Allah berlepas diri dari kaum musyrikin dan dari Rasul-Nya”.

Tuesday, August 28, 2007

Bila Ahli Matematika Memutuskan

Dua orang sehabat melakukan perjalanan bersama. Disuatu tempat, mereka berhenti untuk makan siang. Sambil duduk, mulailah masing-masing membuka bekalnya. Orang yang pertama membawa tiga potong roti, sedang orang yang kedua membawa lima potong roti.

Ketika keduanya telah siap untuk makan, tiba-tiba datang seorang musafir yang baru datang ini pun duduk bersama mereka.

“Mari, silakan, kita sedang bersiap-siap untuk makan siang,”kita salah seorang dari dua orang tadi.

“Aduh…saya tidak membawa bekal,” jawab musafir itu.

Maka mulailah mereka bertiga menyantap roti bersama-sama. Selesai makan, musafir tadi meletakkan uang delapan dirham di hadapan dua orang tersebut seraya berkata:

“Biarkan uang ini sebagai pengganti roti yang aku makan tadi.” Belum lagi mendapat jawaban dari pemilik roti itu, si musafir telah minta diri untuk melanjutkan perjalanannya lebih dahulu.

Sepeninggal si musafir, dua orang sahabat itu pun mulai akan membagi uang yang diberikan.

“Baiklah, uang ini kita bagi saja,” kata si empunya lima roti.

“Aku setuju,”jawab sahabatnya.

“Karena aku membawa lima roti, maka aku mendapat lima dirham, sedang bagianmu adalah tiga dirham.

“Ah, mana bisa begitu. Karena dia tidak meninggalkan pesan apa-apa, maka kita bagi sama, masing-masing empat dirham.”

“Itu tidak adil. Aku membawa roti lebih banyak, maka aku mendapat bagian lebih banyak”

“Jangan begitu dong…”

Alhasil, kedua orang itu saling berbantah. Mereka tidak berhasil mencapai kesepakatan tentang pembagian tersebut. Maka, mereka bermaksud menghadap Imam Ali bin Abi Thalib r.a. untuk meminta pendapat.

Di hadapan Imam Ali, keduanya bercerita tentang masalah yang mereka hadapi. Imam Ali mendengarkannya dengan seksama. Setelah orang itu selesai berbicara, Imam Ali kemudian berkata kepada orang yang mempunyai tiga roti:

“Terima sajalah pemberian sahabatmu yang tiga dirham itu!”

“Tidak! Aku tak mau menerimanya. Aku ingin mendapat penyelesaian yang seadil-adilnya, “Jawab orang itu.

“Kalau engkau bermaksud membaginya secara benar, maka bagianmu hanya satu dirham!” kata Imam Ali lagi.

“Hah…? Bagaimana engkau ini, kiranya.

Sahabatku ini akan memberikan tiga dirham dan aku menolaknya. Tetapi kini engkau berkata bahwa hak-ku hanya satu dirham?”

“Bukankah engkau menginginkan penyelesaian yang adil dan benar?”

“Ya”

“Kalau begitu, bagianmu adalah satu dirham!”

“Bagaimana bisa begitu?” Orang itu bertanya.

Imam Ali menggeser duduknya. Sejenak kemudian ia berkata:

”Mari kita lihat. Engkau membawa tiga potong roti dan sahabatmu ini membawa lima potong roti.”

“Benar.”jawab keduanya.

“Kalian makan roti bertiga, dengan si musafir.”

”Benar”

“Adakah kalian tahu, siapa yang makan lebih banyak?”

“Tidak.”

“Kalau begitu, kita anggap bahwa setiap orang makan dalam jumlah yang sama banyak.”

“Setuju, “jawab keduanya serempak.

“Roti kalian yang delapan potong itu, masing-masingnya kita bagi menjadi tiga bagian.

Dengan demikian, kita mempunyai dua puluh empat potong roti, bukan?” tanya Imam Ali.

“Benar,”jawab keduanya.

“Masing-masing dari kalian makan sama banyak, sehingga setiap orang berarti telah makan sebanyak delapan potong, karena kalian bertiga.”

“Benar.”

“Nah…orang yang membawa lima roti, telah dipotong menjadi tiga bagian mempunyai lima belas potong roti, sedang yang membawa tiga roti berarti mempunyai sembilan potong setelah dibagi menjadi tiga bagian, bukankah begitu?”

“Benar, jawab keduanya, lagi-lagi dengan serempak.

“Si empunya lima belas potong roti makan untuk dirinya delapan roti, sehingga ia mempunyai sisa tujuh potong lagi dan itu dimakan oleh musafir yang belakangan. Sedang si empunya sembilan potong roti, maka delapan potong untuk dirinya, sedang yang satu potong di makan oleh musafir tersebut. Dengan begitu, si musafir pun tepat makan delapan potong roti sebagaimana kalian berdua, bukan?”

Kedua orang yang dari tadi menyimak keterangan Imam Ali, tampak sedang mencerna ucapan Imam Ali tersebut.

Sejenak kemudian mereka berkata: ”Benar, kami mengerti.”

“Nah, uang yang diberikan oleh di musafir adalah delapan dirham, berarti tujuh dirham untuk si empunya lima roti sebab si musafir makan tujuh potong roti miliknya, dan satu dirham untuk si empunya tiga roti, sebab si musafir hanya makan satu potong roti dari milik orang itu”

“Alhamdulillah…Allahu Akbar,” kedua orang itu berucap hampir bersamaan. Mereka sangat mengagumi cara Imam Ali menyelesaikan masalah tersebut, sekaligus mengagumi dan mengakui keluasan ilmunya.

“Demi Allah, kini aku puas dan rela. Aku tidak akan mengambil lebih dari hak-ku, yakni satu dirham,” kata orang yang mengadukan hal tersebut, yakni si empunya tiga roti.

Kedua orang yang mengadu itu pun sama-sama merasa puas. Mereka berbahagia, karena mereka berhasil mendapatkan pemecahan secara benar, dan mendapat tambahan ilmu yang sangat berharga dari Imam Ali bin Abi Thalib ra.[undzurilaina]

Monday, August 27, 2007

Sabar at First Strike


Diriwayatkan pada suatu ketika Rasulullah SAW sedang berjalan dari suatu tempat. Di tengah perjalanan beliau SAW mendengar jeritan-jeritan yang berasal dari sebuah rumah. Ketika melewati rumah tersebut, beliau SAW mendapati ternyata suara tersebut berasal dari seorang Ibu yang tak kuasa menahan sedih karena ditinggal mati anaknya.

Melihat itu, Rasulullah SAW setelah mengucap salam kemudian berkata kepada ibu itu: ”Sabar..bersabarlah, Wahai Ibu.”. Mendengar ucapan itu, si Ibu yang sedang bersedih itu tanpa melihat lagi siapa yang menasehati langsung bilang: ”Enak saja kau bilang begitu! Kau bisa bilang begitu karena yang mati bukan anakmu!”.

Mendengar jawaban ibu itu Rasul mulia SAW tidak marah. Beliau kemudian melanjutkan perjalanannya lagi. Rupanya dialog antara ibu dengan Rasulullah SAW tadi disaksikan oleh seseorang lelaki. Beberapa hari setelah itu lelaki tersebut mendatangi si Ibu tadi dan kemudian berkata: ”Apa jawabanmu terhadap seruan untuk bersabar dari seseorang yang datang waktu hari kematian anakmu yang lalu”. Si ibu yang tahu maksud pertanyaan itu menjawab: ”Aku bilang, enak aja kau bilang begitu! Kau bisa bilang begitu karena yang mati bukan anakmu!”.

Lelaki tersebut kemudian berkata: ”Astaghfirullah! Sangat tidak sopan jawabanmu terhadap Rasul Allah!”. Bagaikan disambar geledek, bukan kepalang terkejutnya si Ibu tadi ketika mengetahui bahwa orang yang dia hardik itu adalah Rasulullah SAW. Seketika itu juga si Ibu datang ke rumah Rasulullah SAW untuk meminta maaf.

Sesampainya di rumah Rasulullah SAW, ia dipersilahkan masuk. Kemudian Rasulullah SAW berkata: ”Apa maksud kedatanganmu kemari, wahai Ibu?”. Ibu itu menjawab: ”Aku bermaksud meminta maaf kepadamu atas ucapanku kepadamu tempo hari yang tidak sopan. Benar sekali nasehatmu ya Rasul, bahwa sebaiknya aku bersabar. Dan kini aku telah mengikuti anjuranmu untuk bersabar. Sekarang aku sabar, wahai Rasul Allah”.

Rasul mulia kemudian menjawab: ”Sabar itu adalah pada pukulan pertama.”

Yang dimaksud Rasulullah SAW dengan perkataan tersebut adalah bahwa kita dianjurkan untuk bersabar pada saat kita pertama menerima sebuah cobaan. Itulah kondisi-kondisi kritikal yang sangat memerlukan kesabaran tersebut. Setelah lewat masanya, sabar hanya berguna sebagai pelajaran untuk masa berikutnya. Akibat buruk karena ketidaksabaran kita telah terjadi dan tidak dapat kita putar ulang. Begitulah sabar yang dimaksudkan oleh Islam, sabar at first strike. [undzurilaina]

Monday, August 20, 2007

Duh, Betapa Sering Aku Bohong

Karena tak mampu bayar gaji sopir, anak-anak masih kecil-kecil, sekolah mereka jauh dari tempat tinggal, terpaksa aku sendiri yang jadi tukang antar jemput.

Siang itu, karena kesibukan kantor aku terlambat menjemput mereka. Di sepanjang perjalanan, yang ada hanyalah kegelisahan.

Betapa kuatirnya aku, sekolah sudah sepi, anakku –Fatimah—tak tampak. Sedangkan anakku yang lain –Hanifah dan Ali—menunggu di luar pagar sekolah ditemani penjaga sekolah.Usahaku mencari informasi lewat penjaga sekolah NIHIL.

What must I do?! Akhirnya kuputuskan untuk mengontak beberapa temannya yang tinggal dekat sekolah. Sedikit mengobati kekuatiranku, ada dua anak yang memang belum pulang, namun orang tuanya pun tak tahu kemana mereka pergi?

Kurang lebih setengah jam keadaan mencekam tersebut meliputiku, tiba-tiba Fatimah dan rombongan kawan-kawannya muncul. Aku mencoba menahan emosi marahku dengan menyalahkan diriku sendiri: Mengapa menjemput terlambat? Namun sebagai bentuk kepedulian tetap aku tanya:

"Fatimah dari mana?"

"Dari besuk kawan yang sakit, Bi", dengan nada pucat.

"Bagus, tapi lain kali ngomong dulu sama abi!", aku menatapnya dengan kagum atas rasa kesetia-kawanannya.

"Habis, Bu guru nyuruh”. ”Perginya juga sama Bu guru", salah satu kawannya menimpali yang diamini kawannya yang lain.

" Yaa sudah", sambil memimpinnya memasuki mobil, dimana Hanifah dan Ali telah menunggu.

Di dalam mobil, di sepanjang jalan menuju rumah, aku mencoba mencairkan suasana dengan guyonan saling 'ejek'. Hanifah dan Ali terlibat.Tak seperti biasanya Fatimah diam seribu bahasa, walau kupancing.

Yang mengagetkanku, sesampainya di rumah, persis memasuki ruang tamu, Fatimah memelukku dengan diiringi tangisan terisak, dan dengan nada terputus-putus menahan emosi rasa 'bersalah' ia berkata:

"Bi, maafkan Fatimah Bi. Fatimah tadi bohong sama Abi. Fatimah tidak besuk sama Bu guru, Bu guru tidak ikut", Air matanya membasahi bajuku.

Aku pun tak kuat menahan tangis, sambil mengenang puluhan kebohongan yang pernah ku sampaikan padanya. [undzurilaina]

(diambil dengan penyuntingan seperlunya dari kisah nyata seorang teman di Palembang ketika berdialog dengan anaknya)

Apa Tuhan nggak Capek?

Hidup di kota kecil, Palembang, ada enaknya. Walau uang cekak, kesempatan kumpul keluarga –mungkin—lebih banyak dari yang dinikmati saudara-saudaraku yang hidup di kota metropolis seperti Jakarta. Berangkat harus pagi-pagi sekali, dan pulang pun malam sekali.

Tradisi sholat Maghrib dan Isya' jama'ah sekeluarga, dilanjutkan dengan membaca wiridnya Habib Abubakr Sakran seperti yang ditradisikan ayahku alhamdulillah dapat kupelihara.

Selepas sholat maghrib, suatu hari, aku mencoba menerjemahkan doa kemenangan dari kumpulan wirid itu. Belum habis terjemahannya kubaca, Hanifah (anak keduaku yang waktu itu berumur 7 tahun), nyeletuk:

"Bi, apa Tuhan nggak capek dengar doa kita?"

Hampir saja, karena kesal menahan rasa kantuk, aku menjawab: "Hus, diam Hanifa!".

Untung pikiran jernihku masih tersisa. Maka meluncurlah jawaban dari mulutku:

"Ya enggak, Hanifa. Tuhan itu kan baik sekali sama kita. Dia selalu sabar mendengarkan doa-doa kita, permintaan-permintaan kita kepadanya."


"Tapi, kan lama-lama Tuhan capek juga kalau harus mendengarkan doa kita terus-menerus!" protes anakku.

"Tidak, Hanifa. Tuhan itu tidak seperti kita. Tuhan nggak pernah capek dan nggak pernah ngantuk seperti kita. Tuhan juga nggak pernah tidur ..."

"Wah, hebat ya Tuhan itu, Bi!" sahutnya dengan mata berbinar-binar.

"Memang, Tuhan itu hebat. Tidak mengantuk, tidak tidur, selalu mendengarkan permintaan kita, dan selalu sibuk memberikan apa-apa yang kita minta. Asal kita juga menjalankan perintah-perintahnya."

"Apa bisa, Bi, Tuhan memberikan semua permintaan kita?" tanyanya lagi.

"Ya bisa. Tuhan bisa berbuat apa saja. Asal permintaan kita itu baik. Kalau tidak baik buat kita, Tuhan tidak akan memberikan. 'Kan Tuhan sayang sama kita"

"Wah, kalau begitu, Hanifa mau minta juga sama Tuhan. Hanifa mau minta Tuhan memberi Hanifa mainan rumah-rumahan yang pernah Hanifa tunjukkan sama Abi waktu kita ke toko itu", Pandangan matanya makin berbinar-binar.

"Iya, tapi Hanifah mesti jadi anak yang baik dulu. Jangan lupa shalat, jangan berbohong, senang membantu Umi, dan juga senang belajar. Biar Tuhan senang sama Hanifa.", kataku sambil agak ragu mengenai kebenaran kalimat-kalimat yang kupakai.

"Iya, Bi. Habis baca doa ini Hanifa mau belajar, terus mau bantu Umi merapikan rumah. Boleh ya, Mi?

Dalam hati, aku mengingatkan diriku, agar suatu saat tak lupa mampir ke toko itu, untuk melaksanakan keinginan Allah mengabulkan doa anakku.[undzurilaina]

(diambil dengan penyuntingan seperlunya dari kisah nyata seorang teman di Palembang ketika berdialog dengan anaknya)

Siapa sih yang bikin Matahari?

Siang itu, hari Ahad ...Februari ...., matahari tepat di atas kepala. Teriknya tak tertahankan. Selesai belanja bulanan ala kadarnya kami sekeluarga naik angkot pulang ke rumah. Di dalam sempitnya angkot dan di bawah kap mobil yang hampir menempel di kepala kami, kami terasa masuk dalam oven.

Segera saja, seluruh tubuh bermandikan keringat. Untuk sekedar mengusir kegelisahan isteri dan anak-anakku, aku coba bercanda. Namun rasa gerah tampaknya membuat mereka malas bereaksi. Malah anak tertuaku , Fatimah -- yang waktu itu berumur 8 tahun -- dengan nada protes bertanya ketus:

"Bi, siapa sih yang membuat matahari?"

Aku sempat terhenyak sebentar, lalu mencoba menjawab :

”Tuhan, Fatimah.Tuhanlah yang membuat matahari."

"Kenapa Tuhan membuat matahari? 'Kan sekarang kita jadi kepanasan”, kata Fatimah masih protes.

"Habis, kalau Tuhan nggak membuat matahari, nanti gelap terus, dong? 'Kan matahari itu seperti lampu", jawabku lagi.

Fatimah terdiam, seperti sedang memikirkan jawabanku. Aku pun melanjutkan :

"Kalau sore, matahari 'kan tenggelam. Jadinya gelap semua. Nah, kalau nggak ada matahari, setiap waktu dunia kita gelap."

"Wah, iya, ya? Kalau gelap terus, kapan Fatimah bisa main, ya? Fatimah harus di rumah terus jadinya," katanya sambil terus berfikir.

Belum lagi aku merasa "terselamatkan", anakku ini sudah nerocos lagi.

"Tapi, kenapa Tuhan mesti membuat matahari yang panas sekali?"

Lagi-lagi pertanyaannya membuatku harus berfikir.

"Lampu 'kan memang panas. Coba Fatimah perhatikan, kalau malam hari 'kan lampu-lampu di rumah kita nyalakan. Nah, lampu yang nyala mesti panas. Kalau nggak panas nggak bisa nyala".

”Iya, ya, Bi? Tapi Fatimah nggak berani pegang lampu yang nyala. Soalnya panas!"

"Iya, jangan!" Aku melanjutkan: "Sama seperti lampu di rumah kita, kalau matahari nggak panas, nanti nggak bisa nyala, dong. Atau, kalau nyala, nyalanya nggak terang. Makin panas, nyalanya matahari juga makin terang. Kalau lagi mendung, memang mataharinya nggak panas. Tapi 'kan nyalanya juga nggak terang?"

"Iya, ya, Bi. Kalau gitu kita mesti terima kasih sama Tuhan. Kalau Tuhan nggak bikin matahari yang panas, kita semua jadi susah, ya? Fatimah juga nggak bisa main-main sama temen-temen sepulang sekolaah. Sedih, deh, Fatimah."

Mendengar jawaban anakku, terasa segala ketidaknyamanan rasa panas dan gerah, serta keringat yang bercucuran itu seperti sirna seketika. [undzurilaina]

(diambil dengan penyuntingan seperlunya dari kisah nyata dialog seorang teman di Palembang dengan anaknya)

Thursday, August 16, 2007

Cinta dan Gravitasi

Pagi tadi aku bertanya kepada istriku tercinta:

”Tahukah engkau apa yang menarikku padamu, mengikat kita semua, menciptakan stabilitas pada dunia, tak pernah menjijikkan, dan menerangi bintang-bintang di langit?”

”Cinta!”, seru istriku.

”Gravitasi,”, kataku.

”Oh, kalau begitu mari berharap Gravitasi dapat memberikan kepadamu sekotak cokelat hari ini”, jawab istriku lagi.

Melihat sedikit kekecewaan padanya, aku kemudian menjelaskan, ”Cinta itu hanya bersifat personal, gravitasi bersifat objektif dan universal.”

”Cinta itu membuat kita terbang dan berarti, bahagia dan penuh warna, memberi harapan dan manusiawi, dan cinta itu untuk hati. Gravitasi itu impersonal dan matematis, eksak dan tak pernah menyimpang, real, dan Gravitasi itu untuk akal pikiran.”, kata istriku

”Engkau telah meringkas perbedaan antara sains dan agama lebih ringkas dibanding semua penulis yang pernah aku baca”, kataku.

Kami saling berpelukan berulang-ulang, untuk kebahagiaan kami atas cinta kami sebagaimana juga atas gravitasi ketika ia tidak pernah terkonsentrasi secara ekstrim seperti reaksi nuklir yang menerangkan inti bintang, menjaga planet tetap dalam orbit dan kehidupan di dalam planet, dan membuat semuanya menjadi mungkin.


Ada sebuah kekuatan yang membuat buah apel jatuh,
Menjaga planet-planet tetap dalam orbit di atas sana,


Kekuatan yang lain membuat kami saling berpelukan,
Menghadirkan kegembiraan dan kedamaian: kami menyebutnya itu Cinta.[undzurilaina]

(
Diterjemahkan dari cerita yang ditulis oleh V. V. Raman, fisikawan India yang aktif menulis tentang sains dan agama)

Friday, August 10, 2007

Kisah Ibu yang Mengingkari Anaknya

Dikisahkan pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab, terdengar teriakan seorang anak muda di kota Madinah. Ia berkata: “Adakah orang yang paling adil di sini? Orang yang dapat memutuskan perkaraku dengan ibuku”.

Umar bin Khatthab menghampirinya dan berkata: “Wahai pemuda! Mengapa engkau ingin mengajukan perkara melawan ibumu?

Ia menjawab: “Sebelumnya aku berada di dalam tubuh ibuku selama sembilan bulan. Ia juga yang menyusui aku selama dua tahun. Ketika aku mulai beranjak dewasa; dapat membedakan kebaikan dari keburukan dan mana yang benar dan salah, ia mencampakkan aku. Ia mengaku tidak mengenal diriku”.

Umar kemudian bertanya kepada wanita itu: “Wahai wanita! Benarkah apa yang diucapkan oleh pemuda ini?”

Wanita itu menjawab: “Demi Zat yang bertirai cahaya. Tidak ada mata yang dapat melihat-Nya. Demi kebenaran yang dibawa oleh Muhammad saw! Aku tidak punya anak dan aku tidak mengenalnya. Aku tidak tahu dia dari kabilah mana. Ia hanya seorang pemuda yang ingin merusak kehormatanku di tengah-tengah keluarga dan familiku. Aku seorang wanita Quraish. Aku belum pernah kawin”.

Umar bertanya kepadanya: “Apakah engkau memiliki saksi?”

Ia menjawab: “Iya, mereka ini adalah saudara-saudaraku”. Datang sekitar empat puluh orang dari keluarganya yang siap untuk bersumpah. Di hadapan umar mereka kemudian bersumpah bahwa si pemuda hanya berniat untuk merusak kehormatan wanita ini. Wanita ini dari keturunan Quraish dan belum menikah sekalipun.

Umar bin Khatthab memerintahkan pengawalnya untuk membawa si pemuda ke penjara. Dan selama ia dipenjara para saksi yang telah bersumpah tadi harus diperiksa lebih lanjut. Bila kesaksian mereka benar, maka si pemuda harus dihukum sebagai orang yang telah melakukan kebohongan yang mencemarkan nama baik orang lain.

Ketika mereka bergerak membawa si pemuda, mereka berpapasan dengan Imam Ali bin Abi Thalib. Si pemuda langsung berteriak lantang memohon kepada Imam Ali:

“Wahai anak paman Rasulullah! Aku seorang pemuda yang teraniaya”. Ia kemudian mengulangi ucapan yang telah disampaikan di hadapan Umar. Kemudian ia melanjutkan: “Umar memerintahkan pengawal agar menjebloskan aku ke penjara”.

Imam Ali menjawab: “Balikkan ia ke Umar!”

Ketika si pemuda dibawa ke hadapan Umar, Khalifah Umar kemudian bertanya kepada mereka: “Aku memerintahkan kalian untuk menjebloskannya ke penjara, mengapa sekarang kalian membawanya kembali ke hadapanku?”

Mereka menjawab: “Ali bin Abi Thalib yang memerintahkan kepada kami untuk membawanya ke hadapanmu. Mengapa kami mengikuti perintahnya? Karena engkau pernah berkata bahwa ikuti apa saja yang diperintahkan oleh Ali dan jangan menentangnya”.

Ketika mereka masih bercakap-cakap, Imam Ali datang menghampiri mereka.

Ia berkata: “Hadapkan ibu si pemuda ini!”

Mereka lantas menghadirkan kembali ibu si pemuda.

Imam Ali berkata: “Wahai pemuda! Sampaikan apa yang hendak engkau ucapkan!”

Si pemuda mengulangi apa yang telah disampaikannya sebelumnya.

Imam Ali kemudian berkata kepada Umar: “Apakah engkau memberi aku izin untuk mengadili mereka?”

Umar menjawab: “Subhanallah, mengapa tidak. Aku pernah mendengar dari Rasulullah saw bahwa “Yang paling alim dan mengetahui di antara kalian adalah Ali bin Abi Thalib”.

Imam Ali kemudian berpaling kepada wanita dan bertanya: “Apakah mereka ini adalah saksi-saksimu?”

Wanita itu menjawab: “Iya, mereka adalah saudara-saudaraku”.

Imam Ali bertanya kepada saudara-saudaranya: “Apakah kalian menerima aku menghukumi urusan kalian antara kalian dan wanita ini?”

Mereka serempak menjawab: “Iya, wahai anak paman Rasulullah. Engkau menjadi wakil yang menghukumi antara kami dan saudari kami”.

Imam Ali kemudian berkata: “Aku bersaksi di hadapan Allah dan aku bersaksi di hadapan orang-orang yang hadir saat ini. Aku telah menikahkan pemuda ini dengan wanita ini dengan mas kawin sebesar empat ratus dirham dari uangku sendiri. Wahai Qanbar (pelayan Imam Ali), Ambilkan uangku!” Qanbar membawa uang Imam Ali dan meletakkannya di tangan si pemuda.

Imam Ali melanjutkan: “Ambillah uang itu wahai pemuda! Berikan uang ini kepada wanita itu. Jangan engkau menghadapku kecuali telah mandi junub”.

Si pemuda bangkit dan memberikan uang mas kawinnya kepada wanita itu. Kemudian ia mengajak wanita itu untuk meninggalkan tempat tersebut. Ia berkata: “Wanita ini telah menjadi keluargaku”.

Si wanita tiba-tiba berteriak: “Neraka, neraka, wahai anak paman Muhammad! Apakah engkau ingin aku mengawini anakku sendiri? Pemuda ini adalah anak dari suamiku. Saudara-saudaraku memaksaku untuk kawin dengan seseorang. Setelah aku melahirkan anakku dan setelah ia menjadi dewasa, mereka mengancamku agar mengusirnya dan tidak mengakuinya sebagai anak. Demi Allah! dia adalah anak dan jantung hatiku”.

Ibu itu kemudian menarik tangan anaknya dan pergi dari tempat itu.

Setelah peristiwa itu Imam Ali hanya berucap: ”Allahu Akbar! Shadaqa Khalilii Muhammad”, yang artinya: Allah Maha Besar! Sungguh benar kekasihku Muhammad SAW”. Beliau sering mengucapkan perkataan seperti ini setelah memecahkan sebuah masalah. Perkataan yang menyiratkan bahwa sebenarnya beliau telah diberi tahu mengenai berbagai hal oleh Rasulullah SAW semasa hidupnya, yaitu sebagai pintu kota ilmu Rasulullah SAW. [undzurilaina]

Monday, July 30, 2007

“Konsisten” Sejati

Alkisah, ada 2 orang pejalan yang sedang mengarungi padang pasir yang begitu luas. Kedua lelaki tersebut dari kejauhan mengami sebuah benda berwarna hitam yang bergerak-gerak di ujung pandangannya. Dan mulailah mereka berdua berdebat...

A: ”Hai, Lihatlah kawan, itu burung sahara sedang mengintai kita!”.

Dengan cepat sang teman membantah:

B: ”Bagaimana mungkin itu burung?! Jelas sekali itu adalah kambing, saya melihat dengan jelas kibasan ekornya!”.

A: ”Yaa ampuun kamu itu ya, itu adalah kibasan sayapnya, mataku ini mata sahara...Aku pastikan itu adalah burung elang atau burung nasar pemakan bangkai”

B: ”Kamu itu sok tahu!...begini aja, bagaimana kalau kita dekati saja benda itu...sehingga jelas siapa yang benar di antara kita!

Ajakan itu segera disambut...

A: ”Okkeee, bagus, setuju!”

Berjalanlah keduanya mendekati benda itu...

Sampai pada kedekatan tertentu, benda itu melesat terbang ke angkasa.....

A: ”Naaaah, apa kubilang...dari tadi aku udah bilang ituuuu buruung...Eh kok nggak percaya! Sekarang kamu lihat sendiri kan...dia terbang!”

Langsung saja dijawab oleh temannya dengan suara keras:

B: ”Itu kambing terbang!!!”

Karena dua laki-laki itu masih ingat teman, maka perdebatan itu berhenti sampai disitu dan mereka pulang bersama-sama.

Kisah ini ditujukan kepada orang yang memegang teguh terhadap prinsipnya: ”Pokoknya saya mesti benar”, ”Lha wong saya kok salah...” Begitulah kira-kira sikap orang yang ”Konsisten” Sejati. [undzurilaina]

Tuesday, July 24, 2007

Profesor dan Pelaut

Alkisah, ada seorang profesor kenamaan sedang meneliti sebuah objek penelitian terbaru. Dalam upayanya mencari inspirasi bagi penelitiannya tersebut dia pergi ke sebuah pantai. Dia memandang lautan yang begitu luas, dia tertarik untuk mencicipi berperahu di atas lautan luas tersebut. Akhirnya dia menemui salah satu pelaut yang memang kerjaannya menyewakan perahu bagi orang-orang seperti profesor tersebut.

Akhirnya, setelah bersepakat mengenai harga jasa pakai perahu tersebut, sang profesor pun naik ke atas perahu itu. Sambil menunggu si pelaut menyiapkan kapalnya dan untuk mengakrabkan diri, sang profesor bertanya kepada si pelaut:

Profesor: ”Sudah berapa lama bapak bekerja seperti ini?”

Pelaut: ”Wah...udah lama sekali pak, dari kecil saya sudah ikut bantu ayah saya bekerja seperti ini”

Profesor: ”Loh, berarti bapak nggak sekolah?”

Pelaut: ”Wah, ya nggak pak..

Profesor: “Berarti bapak ini sudah menyia-nyiakan SEPARUH dari usia bapak, karena Bapak tidak menuntut ilmu”

Pelaut: ”(sambil pasrah) iya kali pak...”

Tak terasa, perahu sudah siap dan mulai berjalan menjauhi pantai. Sang profesor pun mulai menikmati angin laut dan percikan air laut yang asin. Sampai akhirnya pantai pun sudah hampir tak terlihat lagi. Wow, sang profesor kemudian mulai bercerita ke si pelaut yang mengemudikan kapal sambil menghubung-hubungkan pemandangan yang sedang dilihatnya tsb dengan ilmu pengetahuan yang dia miliki. Sang profesor waktu itu seperti mendemonstrasikan kepintarannya kepada si pelaut yang hanya bisa manggut-manggut. Lagi, sang profesor mengatakan pada si pelaut bahwa ia telah membuang SEPARUH nyawanya akibat ia tidak sekolah.

Ketika sedang asyik berdemonstrasi kepintaran tsb, tiba-tiba ombak membesar dan angin laut seperti tidak lagi bersahabat. Dan perahu kecil yang dinaiki si profesor pun mulai terombang-ambing mengikuti angin dan ombak yang tak menentu. Si pelaut kemudian bertanya kepada sang Profesor:

Pelaut: ”Pak, bapak bisa berenang kan?”

Profesor: ”Wah, saya nggak bisa mas!! (dengan wajah yang sangat panik)”

Pelaut: ”Waduh, kalau gitu berarti bapak sudah membuang SELURUH umur Bapak!!” [undzurilaina]

Friday, June 29, 2007

Kisah Seorang Sipir

Suatu sore, ditahun 1525. Penjara tempat tahanan orang-orang di situ serasa hening mencengkam. Jendral Adolf Roberto, pemimpin penjara yang terkenal bengis, tengah memeriksa setiap kamar tahanan.


Setiap sipir penjara membungkukkan badannya rendah-rendah ketika 'algojo penjara' itu berlalu di hadapan mereka. Karena kalau tidak, sepatu 'jenggel' milik tuan Roberto yang fanatik Kristen itu akan mendarat di wajah mereka.

Roberto marah besar ketika dari sebuah kamar tahanan terdengar seseorang mengumandangkan suara-suara yang amat ia benci. "Hai...hentikan suara jelekmu! Hentikan...!" Teriak Roberto sekeras-kerasnya sembari membelalakan mata. Namun, apa yang terjadi? Laki-laki di kamar tahanan tadi tetap saja bersenandung dengan khusyu'nya. Roberto bertambah berang.

'Algojo penjara' itu menghampiri kamar tahanan yang luasnya tak lebih sekadar cukup untuk satu orang. Dengan congkak ia menyemburkan ludahnya ke wajah renta sang tahanan yang keriput hanya tinggal tulang. Tak puas sampai di situ, ia lalu menyulut
wajah dan seluruh badan orang tua renta itu dengan rokoknya yang menyala.

Sungguh ajaib... Tak terdengar secuil pun keluh kesakitan. Bibir yang pucat kering milik sang tahanan amat gengsi untuk meneriakkan kata, "Rabbi, wa ana 'abduka..." (Pemeliharaku, dan aku adalah hamba Mu).
Tahanan lain yang menyaksikan kebiadaban itu serentak bertakbir sambil berkata, "Bersabarlah wahai ustadz...Insya Allah tempatmu di Syurga."

Melihat kegigihan orang tua yang dipanggil ustadz oleh sesama tahanan, 'algojo penjara' itu bertambah memuncak amarahnya. Ia memerintahkan pegawai penjara untuk membuka sel, dan ditariknya tubuh orang tua itu keras-keras hingga terjerembab di lantai.

"Hai orang tua busuk! Bukankah engkau tahu, aku tidak suka bahasa jelekmu itu?!
Aku tidak suka apa-apa yang berhubung dengan agamamu! Ketahuilah orang tua dungu, bumi Spanyol ini kini telah berada dalam kekuasaan bapak kami, Tuhan Yesus.
Anda telah membuat aku benci dan geram dengan 'suara-suara' yang seharusnya tak pernah terdengar lagi di sini. Sebagai balasannya engkau akan kubunuh. Kecuali, kalau engkau mau minta maaf dan masuk agama kami."

Mendengar "khutbah" itu orang tua itu mendongakkan kepala, menatap Roberto dengan tatapan tajam dan dingin. Ia lalu berucap, "Sungguh...aku sangat merindukan kematian, agar aku segera dapat menjumpai kekasihku yang amat kucintai, Allah. Bila kini aku berada di puncak kebahagiaan karena akan segera menemuiNya, patutkah aku berlutut kepadamu, hai manusia busuk? Jika aku turuti kemauanmu, tentu aku termasuk manusia yang amat bodoh."

Baru saja kata-kata itu terhenti, sepatu lars Roberto sudah mendarat di wajahnya. Laki-laki itu terhuyung. Kemudian jatuh terkapar di lantai penjara dengan wajah bersimbah darah. Ketika itulah dari saku baju penjaranya yang telah lusuh, meluncur sebuah 'buku kecil'. Adolf Roberto bermaksud memungutnya. Namun,tangan sang Ustadz telah terlebih dahulu mengambil dan menggenggamnya erat-erat. "Berikan buku itu, hai laki-laki dungu!" bentak Roberto. "Haram bagi tanganmu yang kafir dan berlumuran dosa untuk menyentuh barang suci ini!" ucap sang ustadz dengan tatapan menghina pada Roberto. Tak ada jalan lain, akhirnya Roberto, mengambil jalan paksa untuk mendapatkan buku itu.

Sepatu lars berbobot dua kilogram itu ia gunakan untuk menginjak jari-jari tangan sang ustadz yang telah lemah. Suara gemeretak tulang yang patah terdengar menggetarkan hati. Namun tidak demikian bagi Roberto. Laki-laki bengis itu malah merasa bangga mendengar gemeretak tulang yang terputus. Bahkan 'algojo penjara'itu merasa lebih puas lagi ketika melihat tetesan darah mengalir dari jari-jari musuhnya yang telah hancur.

Setelah tangan renta itu tak berdaya, Roberto memungut buku kecil yang membuatnya penasaran. Perlahan Roberto membuka sampul buku yang telah lusuh. Mendadak algojo itu termenung. "Ah...sepertinya aku pernah mengenal buku ini. Tapi kapan? Ya, aku pernah mengenal buku ini." suara hati Roberto bertanya-tanya.

Perlahan Roberto membuka lembaran pertama itu. Pemuda berumur tiga puluh tahun itu bertambah terkejut tatkala melihat tulisan-tulisan "aneh" dalam buku itu. Rasanya ia pernah mengenal tulisan seperti itu dahulu. Namun, sekarang tak pernah dilihatnya di bumi Spanyol. Akhirnya, Roberto duduk disamping sang ustadz yang telah melepas
nafas-nafas terakhirnya. Wajah bengis sang algojo kini diliputi tanda tanya yang dalam. Mata Roberto rapat terpejam. Ia berusaha keras mengingat peristiwa yang dialaminya sewaktu masih kanak-kanak.

Perlahan, sketsa masa lalu itu tergambar kembali dalam ingatan Roberto. Pemuda itu teringat ketika suatu sore di masa kanak-kanaknya terjadi kericuhan besar di negeri tempat kelahirannya ini.

******************************************************

Sore itu ia melihat peristiwa yang mengerikan di lapangan Inkuisisi (lapangan tempat pembantaian kaum muslimin di Andalusia). Di tempat itu tengah berlangsung pesta darah dan nyawa. Beribu-ribu jiwa tak berdosa berjatuhan di bumi Andalusia. Di hujung kiri lapangan, beberapa puluh wanita berhijab (jilbab)digantung pada tiang-tiang besi yang terpancang tinggi. Tubuh mereka bergelantungan tertiup angin sore yang kencang, membuat pakaian muslimah yang dikenakan berkibar-kibar di udara. Sementara, ditengah lapangan ratusan pemuda Islam dibakar hidup-hidup pada tiang-tiang salib, hanya karena tidak mau memasuki agama yang dibawa oleh para rahib.

Seorang bocah laki-laki mungil tampan, berumur tujuh tahunan, malam itu masih berdiri tegak di lapangan Inkuisisi yang telah senyap. Korban-korban kebiadaban itu telah syahid semua. Bocah mungil itu mencucurkan air matanya menatap sang ibu yang terkulai lemah ditiang gantungan. Perlahan-lahan bocah itu mendekati tubuh sang ummi yang sudah tak bernyawa, sembari menggayuti ibunya. Sang bocah berkata dengan suara parau, "Ummi, ummi, mari kita pulang. Hari telah malam, bukankah ummi telah berjanji malam ini akan mengajariku lagi tentang alif, ba, ta, tsa....? Ummi, cepat pulang ke rumah ummi..." Bocah kecil itu akhirnya menangis keras, ketika sang ummi tak jua menjawab ucapannya. Ia semakin bingung dan takut, tak tahu harus berbuat apa. Untuk pulang ke rumah pun ia tak tahu arah.

Akhirnya bocah itu berteriak memanggil bapaknya " Abi...Abi...Abi...". Namun, ia segera terhenti berteriak memanggil sang bapak ketika teringat kemarin sore bapaknya diseret dari rumah oleh beberapa orang berseragam.

"Hai...siapa kamu?!" teriak segerombolan orang yang tiba-tiba mendekati sang bocah. "Saya Ahmad Izzah, sedang menunggu Ummi..." jawab sang bocah memohon belas kasih. "Hah...siapa namamu bocah, coba ulangi!" bentak salah seorang dari mereka.
"Saya Ahmad Izzah..." sang bocah kembali menjawab dengan agak grogi. Tiba-tiba plak! sebuah tamparan mendarat dipipi sang bocah. "Hai bocah...! Wajahmu bagus tapi namamu jelek. Aku benci namamu. Sekarang kuganti namamu dengan nama yang bagus.


Namamu sekarang 'Adolf Roberto' ..Awas! Jangan kau sebut lagi namamu yang jelek itu. Kalau kau sebut lagi nama lamamu itu, nanti akan kubunuh!" ancam laki-laki itu.
Sang bocah meringis ketakutan, sembari tetap meneteskan air mata. Anak laki-laki mungil itu hanya menurut ketika gerombolan itu membawanya keluar lapangan Inkuisisi. Akhirnya bocah tampan itu hidup bersama mereka.
*******************************************************

Roberto sedar dari renungannya yang panjang. Pemuda itu melompat ke arah sang tahanan. Secepat kilat dirobeknya baju penjara yang melekat pada tubuh sang ustadz. Ia mencari-cari sesuatu di pusar laki-laki itu. Ketika ia menemukan sebuah 'tanda hitam' ia berteriak histeris, "Abi...Abi...Abi..." Ia pun menangis keras, tak ubahnya seperti Ahmad Izzah dulu.

Fikirannya terus bergelut dengan masa lalunya. Ia masih ingat betul, bahwa buku kecil yang ada di dalam menggamannya adalah Kitab Suci milik bapanya, yang dulu sering dibawa dan dibaca ayahnya ketika hendak menidurkannya.

Ia jua ingat betul ayahnya mempunyai'tanda hitam' pada bahagian pusar. Pemuda beringas itu terus meraung dan memeluk erat tubuh renta nan lemah. Tampak sekali ada penyesalan yang amat dalam atas ulahnya selama ini. Lidahnya yang sudah berpuluh-puluh tahun alpa akan Islam, saat itu dengan spontan menyebut, "Abi.. aku masih ingat alif, ba, ta, tsa..." Hanya sebatas kata itu yang masih terekam dalam benaknya.

Sang ustadz segera membuka mata ketika merasakan ada tetesan hangat yang membasahi wajahnya. Dengan tatapan samar dia masih dapat melihat seseorang yang tadi menyiksanya habis-habisan kini tengah memeluknya.

"Tunjuki aku pada jalan yang telah engkau tempuhi Abi, tunjukkan aku pada jalan itu..." Terdengar suara Roberto memelas. Sang ustadz tengah mengatur nafas untuk berkata-kata, ia lalu memejamkan matanya. Air matanya pun turut berlinang. Betapa tidak, jika sekian puluh tahun kemudian, ternyata ia masih sempat berjumpa dengan buah hatinya, di tempat ini. Sungguh tak masuk akal. Ini semata-mata bukti kebesaran Allah.

Sang Abi dengan susah payah masih bisa berucap." Anakku, pergilah engkau ke Mesir. Disana banyak saudaramu. Katakan saja bahwa engkau kenal dengan Syaikh Abdullah Fattah Ismail Al-Andalusy. Belajarlah engkau di negeri itu."

Setelah selesai berpesan sang ustadz menghembuskan nafas terakhir dengan berbekal kalimat indah "Asyahadu an la Illaaha ilallah,wa asyhadu anna Muhammad Rasullullah.." Beliau pergi menemui Rabbnya dengan tersenyum, setelah sekian lama berjuang dibumi yang fana ini.

Kini Ahmad Izzah telah menjadi seorang alim di Mesir. Seluruh hidupnya dibaktikan untuk agamanya, 'Islam', sebagai ganti kekafiran yang di masa muda sempat disandangnya. Banyak pemuda Islam dari berbagai penjuru berguru dengannya... " Al-Ustadz Ahmad Izzah Al-Andalusy.

Benarlah firman Allah...

"Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah, tetaplah atas fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrahnya itu. Tidak ada perubahan atas fitrah Allah. Itulah agama yang lurus,tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui." (QS 30:30)

[undzurilaina]

Monday, May 7, 2007

CINTA dan WAKTU

Tersebutlah, di suatu pulau kecil, tinggallah berbagai macam benda-benda abstrak. Ada Cinta, Kesedihan, Kekayaan, Kegembiraan dan sebagainya. Mereka hidup berdampingan dengan baik. Namun suatu ketika, datang badai menghempas dan air laut tiba-tiba naik dan akan menenggelamkan pulau itu. Semua penghuni pulau cepat-cepat berusaha menyelamatkan diri.

Cinta sangat kebingungan sebab ia tidak dapat berenang dan tak mempunyai perahu. Ia berdiri di tepi pantai mencoba mencari pertolongan. Sementara itu air makin naik membasahi kaki Cinta.

Tak lama Cinta melihat Kekayaan sedang mengayuh perahu. "Kekayaan! Kekayaan! Tolong aku!" teriak Cinta.

"Aduh! Maaf, Cinta!" kata Kekayaan, "perahuku telah penuh dengan harta bendaku. Aku tak dapat membawamu serta, nanti perahu ini tenggelam. Lagipula tak ada tempat lagi bagimu di perahuku ini."

Lalu Kakayaan cepat-cepat mengayuh perahunya pergi. Cinta sedih sekali, namun kemudian dilihatnya Kegembiraan lewat dengan perahunya. "Kegembiraan! Tolong aku!", teriak Cinta. Namun Kegembiraan terlalu gembira karena ia menemukan perahu sehingga ia tak mendengar teriakan Cinta.

Air makin tinggi membasahi Cinta sampai ke pinggang. Ia kian panik. Tak lama lewatlah Kecantikan. "Kecantikan! Bawalah aku bersamamu!", teriak Cinta.

"Wah, Cinta, kamu basah dan kotor. Aku tak bisa membawamu ikut. Nanti kamu mengotori perahuku yang indah ini," sahut Kecantikan.

Cinta sedih sekali mendengarnya. Ia mulai menangis terisak-isak. Saat itu lewatlah Kesedihan. "Oh, Kesedihan, bawalah aku bersamamu," kata Cinta.

"Maaf, Cinta. Aku sedang sedih dan aku ingin sendirian saja..." kata Kesedihan sambil terus mengayuh perahunya.

Cinta putus asa. Ia merasakan air makin naik dan akan menenggelamkannya. Pada saat kritis itulah tiba-tiba terdengar suara, "Cinta! Mari cepat naik ke perahuku!"

Cinta menoleh ke arah suara itu dan melihat seorang tua dengan perahunya. Cepat-cepat Cinta naik ke perahu itu, tepat sebelum air menenggelamkannya. Di pulau terdekat, orang tua itu menurunkan Cinta dan segera pergi lagi. Pada saat itu barulah Cinta sadar bahwa ia sama sekali tidak mengetahui siapa orang tua yang menyelamatkannya itu. Cinta segera menanyakannya kepada seorang penduduk tua di pulau itu, siapa sebenarnya lelaki tua tadi.

"Oh, orang tua tadi? Dia adalah Waktu." kata orang itu.

"Tapi, mengapa ia menyelamatkanku? Aku tak mengenalnya. Bahkan teman-teman yang mengenalku pun enggan menolongku" tanya Cinta heran.

"Sebab," kata orang itu, "hanya Waktu-lah yang tahu berapa nilai sesungguhnya dari Cinta itu ..."