Showing posts with label renungan. Show all posts
Showing posts with label renungan. Show all posts

Thursday, January 24, 2013

Aku Rindu Saudara-Saudaraku..

Suatu malam, menjelang waktu subuh, Rasulullah SAW bermaksud untuk wudhu untuk menunaikan shalat shubuh.
"Apakah ada air untuk wudhu?", beliau bertanya kepada para sahabatnya.

Monday, April 26, 2010

Fatimah adalah Fatimah

Setelah berpulangnya, dia memulai kehidupannya dalam sejarah. Fatimah menjadi sumber pencerahan di hadapan semua orang tertindas yang kemudian menjadi kekuatan Islam. Semua orang yang dijarah, dirampok, ditindas, dan menderita, semua orang yang haknya dirampas dan dihancurkan oleh pemaksaan dan dikelabui, memakai nama Fatimah sebagai slogan.

Ingatan terhadap Fatimah tumbuh dengan kecintaan, emosi dan indahnya keimanan dari semua laki-laki dan wanita, yang dalam perjalanan sejarah Islam, berjuang untuk kemerdekaan dan keadilan. Selama berabad-abad, mereka mendapatkan sumber kekuatan mental dibawah penguasa-penguasa tanpa ampun dan pecutan penuh darah mereka. Teriakan dan kemarahan mereka bertumbuh dan mengalir deras dari luka hati mereka.

Inilah kenapa dalam sejarah bangsa-bangsa umat Islam dan diantara masyarakat terzalimi dari komunitas Islam, Fatimah menjadi sumber inspirasi untuk kemerdekaan, keinginan yang fitrah, pencari keadilan, perlawanan terhadan penindasan, kekejaman, kejahatan dan diskriminasi.

Sangat sulit untuk membicarakan tentang kepribadian Fatimah. Fatimah adalah wanita yang ideal dalam Islam. Konsep tentang jati-diriya digambarkan oleh Rasulullah sendiri. Dia (Rasulullah) menggodoknya dan menjadikannya suci dalam kobaran api kesulitan, kemiskinan, perlawanan, pemahaman yang mendalam dan keajaiban kemanusiaan.

Dia adalah simbol kewanitaan yang multi dimensi.
Simbol seorang anak dalam menghadapi ayahnya.
Simbol seorang istri dalam menghadapi suaminya.
Simbol seorang ibu dalam menghadapi anak-anaknya.
Simbol seorang yang bertanggung-jawab, pejuang wanita dalam kehidupan masyarakatnya.

Dia sendiri adalah seorang Imam (pemimpin), pembimbing, teladan sempurna, tipe ideal dari seorang wanita dan seorang yang menjadi saksi kepada setiap wanita yang memilih untuk menjadi dirinya sendiri.

Dia memberi jawaban bagaimana menjadi wanita dengan masa kecil yang indah, perjuangan dan perlawanan konsisten di dua medan, luar dan dalam, di rumah ayahnya, di rumah suaminya, di kehidupan masyarakatnya, dalam pemikiran dan tindakannya dan dalam kehidupannya.

Saya tidak tahu harus bicara apa lagi. Saya telah menyebutkan banyak hal. Tapi masih banyak yang belum terucap.

Dalam menunjukkan aspek mengagumkan dari semangat agung Fatimah, yang membuat saya terpesona, adalah Fatimah merupakan teman perjalanan, melangkah dengan langkah yang sama, melesat bersama-sama dengan semangat agung Ali, melalui penaikkan nilai kemanusiaan menuju kesempurnaan dan tingatan-tingkatannya.

Dia tidak hanya sekedar seorang istri bagi Ali. Ali menghormatinya sebagai teman hidup, teman hidup yang merasakan penderitaan dan harapannya. Dia menjadi tempat berteduh dan mendengarkan segala rahasia-rahasianya. Dia menjadi satu-satunya sahabat dalam rasa kesepian. Inilah kenapa Ali selalu senang menatapnya dan anak-anaknya.

Setelah Fatimah, Ali punya istri lain dan punya anak dari mereka. Tapi dari saat awal, dia memisahkan anak-anak Fatimah dari anak-anaknya yang lain. Yang terakhir disebut Bani Ali (anak-anak Ali) dan yang satunya disebut Bani Fatimah (anak-anak Fatimah).

Bukankah ini aneh ! Ketika berhadapan dengan ayah mereka dan dia, Ali, anak-anak dihubungkan dengan Fatimah. Dan kita tahu bahwa Rasulullah juga melihatnya dengan pandangan lain. Dia (Rasulullah) mengandalkan Fatimah. Dari usia dini, Fatimah menerima undangan ini.

Saya tidak tahu apa yang harus saya ucapkan tentang dia. Bagaimana caranya ? Saya ingin meniru penulis Prancis yang berbicara di suatu konferensi tentang Perawan Maria. Dia bilang, "Selama 1700 tahun semua berbicara tentang Maria. Selama 1700 tahun, banyak filosof, pemikir dari seluruh bangsa dari Timur dan Barat berbicara tentang nilai dari Maria. Selama 1700 tahun banyak penyair telah mengekspresikan kreatifitas dan kemampuan mereka dalam menyanjung Maria. Selama 1700 tahun, banyak pelukis dan artis telah membuat karya gemilang dalam menampakkan Maria. Tapi keseluruhan upaya ini masih belum mampu menjelaskan keagungan Maria seperti dalam kata-kata ini, 'Maria adalah ibu dari Yesus Kristus'. "

Dan saya ingin meniru hal ini untuk Fatimah. Saya mentok (tidak bisa). Saya ingin bilang "Fatima adalah anak Khadijah yang Agung". Saya merasa ini bukan Fatimah. Saya ingin bilang "Fatimah adalah anak Muhammad". Saya merasa ini bukan Fatimah. Saya ingin bilang "Fatimah adalah istri Ali". Saya merasa ini bukan Fatima. Saya ingin bilang "Fatima adalah ibunya Hasan dan Husein". Saya merasa ini bukan Fatimah. Saya ingin bilang " Fatima adalah ibunya Zainab". Saya tetap merasa ini bukan Fatima.

Tidak, semua pernyataan itu benar tapi tidak satupun adalah Fatimah.

Fatimah adalah Fatimah.
(dikutip dari Fatima is Fatima, karya Dr Ali Syariati)

Saturday, March 22, 2008

Renungan Maulid Nabi


“Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keselamatan) bagimu, amat kasih dan penyayang terhadap orang-orang mukimin”.


Ya Rasulullah...
Ya Rasuulullaaaaah......Yaaaaa Rasuuuuuulullaaaaaaaaaaaaaah....
Assalamu ’alaika Ya Rasulullah....

Salam bagimu Ya Rasulullah, dari pecinta terpisah sejarah. Salam bagimu ya Nabi Allah, dari perindu yang terhalang waktu. Inilah kami, yang mengaku sebagai umatmu. Yang kebanggaannya adalah menisbatkan diri kepadamu. Yang dikala terhimpit memohon kepada Tuhan dengan menyebut namamu. Yang berharap istighfar kepadaNya disambung dengan maafmu.


Inilah kami ya Rasulullah, pecinta tak tahu krama, perindu tak tahu malu. Ingin kami sampaikan kepadamu beban yang menghimpit kalbu kami, derita yang memasung dada kami. Di mana-mana ya Rasul, kami saksikan umat saling cakar berebut benar. Di mana-mana Ya Rasul, sudah hilang rasa peduli, tak tersisa lagi empati, tak ada lagi harga diri.....

Ya Rasul, kami termangu tak berdaya ketika saudara kami porak poranda. Kami luluh tak bersuara, ketika saudara kami dibantai dianiaya. Kami terpaku tak bergerak, ketika kemungkaran dan kezaliman semakin banyak...

Bukankah kami ini umatmu Ya Rasulullah....tapi mengapa lidah ini tak berdecak, tangan ini tak bergerak, dan hati ini tak lagi tersentak..jantung ini tak berdetak....

Padahal dahulu, dengan derita demi derita, engkau teladankan semua itu pada kami, engkau angkat mereka yang tertindas, engkau peluk mereka yang terhempas, engkau tolong mereka yang terzalimi. Sungguh, begitu berat bagimu melihat umatmu menderita...

Engkaulah Ya Rasul, awal dari semua perjuangan, pemimpin mulia, penegak agama akhlak dan cinta. Dengan itu engkau sampaikan pesan Tuhan...

Wahai Aku, engkau dan kita semua yang mengaku ummat Muhammad..
Dengarkan dengan cermat...
Jeritan jutaan bayi yang hampir sekarat..
Desah napas mereka yang makin berat..

Lihat,
Bayi-bayi kehausan yang tubuhnya mencair seperti lilin..
Karena orang tua mereka tidak mampu membeli susu..
Dengarkan,
Langkah-langkah kaki gontai jutaan pegawai..
Yang pulang ke rumah karena terpaksa di PeHaKa

Lihat,
Mata mereka yang redup kehilangan harapan..
Yang memandang masa depan tanpa kepastian..
Dengarkan,
Jerit berulang-ulang dari para korban penyiksaan..

Lihat,
Ratusan juta rakyat Indonesia yang membanting tulang..
Dengan penghasilan yang terus menerus berkurang..
Mereka membayar mahal barang, jasa, dan pajak..
Untuk menyelamatkan harta para perampok dan pembajak..
Apakah Anda akan membiarkan..
Bayi-bayi mati, para penganggur hancur, orang-orang kelaparan, korban-korban penyiksaan dan penculikan makin banyak berjatuhan?

Bangkitlah, wahai para pengaku Umat Muhammad
Sumbangkan jiwa ragamu
Untuk mengubah dunia menjadi penuh Kasih Sayang
Sebagaimana tujuan diutusnya Nabi kita Mulia
Menjadi Rahmat bagi Sekalian Semesta

Wa maa arsalnaka illa Rahmatan lil ’alamiin...
”Dan tidak Aku utus engkau (Muhammad) kecuali untuk menjadi Rahmat bagi seluruh sekalian alam” (QS. 21:107). [undzurilaina]