Showing posts with label intermezzo. Show all posts
Showing posts with label intermezzo. Show all posts

Sunday, July 19, 2009

Bijaknya Orang Jawa

Dikisahkan suatu hari seorang Madura akan melakukan perjalanan dengan pesawat terbang. Ketika panggilan boarding telah tiba, dia pun masuk ke pesawat dan kemudian memilih tempat duduk yang dia sukai.
Tak lama berselang ada seorang penumpang lain
yang masuk pesawat dan bermaksud untuk duduk di kursi yang sedang diduduki oleh sang Madura tadi. Setelah memeriksa kembali tiketnya dan yakin bahwa dia tak salah kursi, maka penumpang itu pun bertanya kepada penumpang Madura tadi..

Penumpang: “Maaf, Pak. Kursi bapak nomor berapa? Yang Bapak sedang duduki itu nomor kursi saya..”
Madura: “Loh, Sampeyan sapa?!”
Penumpang: “Saya juga penumpang seperti Bapak..”
Madura: “Eloh, sama2 penumpang kok mau ngatur2! Saya nggak mau pindah!”

Merasa kesal, penumpang tadi mengadukan permasalahannya kepada salah seorang pramugari. Pramugari tersebut kemudian menghampiri penumpang Madura tsb..

Pramugari: “Maaf, Pak. Bisa saya lihat tiketnya?”
Madura: “Ini ni, tiket saya!”
Pramugari: “Maaf ya, Pak. Tempat duduk Bapak di sebelah sana, bukan di sini..”
Madura: “Loh, Sampeyan ini sapa?!”
Pramugari: “Saya pramugari di sini, Pak..”
Madura: “Pramugari itu apa?!”
Pramugari: “Pramugari itu yang melayani para penumpang pesawat..”
Madura: “Lha wong cuman pelayan aja kok mau ngatur2 saya! Saya ndak mau pindah!”

Pramugari yang pusing kemudian melapor kepada pilot karena merasa tak mampu meng-handle penumpang unik itu. Pilot pun kini langsung turun tangan...

Pilot: “Maaf ya, Pak. Bapak salah tempat duduk. Mestinya Bapak duduknya sebelah sana..”
Madura: “Sapa lagi sampeyan ini??!”
Pilot: “Saya pilot pesawat ini, Pak”.
Madura: “Pilot itu apa?!”
Pilot: “Yah, sederhananya yang ngemudikan pesawat..”
Madura: “Lah ini lagi, Sopir kok mau ngatur saya! Pokoknya saya mau duduk disini!!”

Penumpang, pramugari dan pilot pun dibuat bengong dengan sikap penumpang yang satu ini. Speechless, nggak tahu mau ngapain lagi.
Tapi dalam bengong tersebut, ada seorang penumpang dengan blangkon khas Jawa nya yang kebetulan dekat situ dan dari tadi menyaksikan kegagalan usaha ketiga orang sebelumnya untuk meminta penumpang madura tadi pindah dari kursinya. Penumpang Jawa itu kemudian beranjak dari kursinya mendekati penumpang madura tadi..

Jawa: “Nyuwun sewu, Pak. Bapak mau turun dimana?”
Madura: “Madura...!”
Jawa: “Oh, kalau yang turun di Madura duduknya sebelah sana, Pak”
Madura: “Oh gitu, toh? Ya udah saya takpindah kesana. Makasih ya, Mas!”

Akhirnya masalah pun teratasi dengan kebijaksanaan cara komunikasi penumpang Jawa itu.

Wednesday, February 4, 2009

Semar Loyo Dibalang Sendal

Selain lembaga pemerintahan, kebiasaan singkat menyingkat juga berlaku untuk tag line suatu daerah.

Solo Berseri, Jogja Berhati Nyaman, Temanggung Bersenyum, Cilacap Bercahaya, semuanya adalah singkatan. Juga untuk menyebut suatu kawasan, yang katanya akan menjadi suatu kawasan yang unggul dan berkembang.


Bermula dari Jabotabek, eh sekarang Jabodetabek. Muncul pula Gerbangkertosusila (Gresik, Bangkalan, Mojokerto, Surabaya , Sidoarjo, Lamongan), Barlingmascakeb (Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas, Cilacap, Kebumen), Pawonsari Bakulrejo (Pacitan Wonogiri Wonosari, Bantul, Kulon Progo, Purworejo), atau Joglosemar (Jogja Solo Semarang).

Beruntung tidak ada yang membalik urutannya menjadi Semarang Solo Yogya, disingkat menjadi Semar Loyo.

Mungkin di masa mendatang akan muncul juga Dibalang Sendal (Purwodadi, Batang, Pemalang, Semarang , Kendal), atau Kasur Bosok (Karanganyar, Sukoharjo, Boyolali, Solo, Klaten). Asal jangan Susu Mbokde (Surakarta , Sukoharjo, Mboyolali, Kartasura, Delanggu) atau Tanteku Montok (Panjatan, Tegalan, Kulwaru, Temon, Toyan, Kokap) yaitu satu daerah di Kulon Progo Yogyakarta yang rencananya mau dibikin Bandara Intl. dan Armada Laut di sekitar pantai Glagah Indah...

Anak-anak muda Jogja tidak kalah kreatifnya untuk ikut-ikutan menyingkat nama tempat.
Sebut saja Amplas untuk Ambarukmo Plaza , atau Jakal (Jalan Kaliurang), Jamal (Jalan Magelang). Kalau sampeyan sekolah di SMA 6, bisa nyombong kalau sampeyan sekolah di Depazter alias Depan Pasar Terban.

Bahkan, dari pusat kota Jogja, sangat mudah untuk mencapai Paris(Parangtritis), atau Pakistan (Pasar Kidul Stasiun alias Sarkem), bahkan Banglades (Bangjo Lapangan Denggung Sleman).

Sampeyan seorang yang enthengan, ringan tangan, suka membantu, ndak pernah menolak untuk dimintai tolong?
Berarti sampeyan layak menyandang nama Willem Ortano, alias Dijawil Gelem Ora Tau Nolak.

Atau kalau sampeyan pinter omong, jualan obat, meyakinkan orang dengan omongan sampeyan yang nggak karuan bener salahnya, maka jangan marah kalau sampeyan dipanggil
sebagai Toni Boster, alias Waton Muni Ndobose Banter.[sumber: SteWa]

Thursday, January 29, 2009

KREATIFITAS PEJABAT INDONESIA ANTI KORUPSI

Setelah proyek multimilyar dollar selesai, sang dirjen kedatangan tamu bule wakil dari HQ kantor pemenang tender. Karena sudah 7 tahun di Jakarta jadi dia bisa cakap Indonesia.

Bule: "Pak, ada hadiah dari kami untuk bapak. Saya parkir dibawah mercy S320."

Dirjen : "Anda mau menyuap saya? ini apa-apaan? tender dah kelar kok. Jangan gitu ya, bahaya tau haree genee ngasih-ngasih hadiah."


Bule: "Tolonglah pak diterima. Kalau gak, saya dianggap gagal membina relasi oleh kantor pusat."

Dirjen: "Ah, jangan gitu dong. Saya gak sudi!!"

Bule: "Gini aja, pak. gimana kalau bapak beli saja mobilnya..."

Dirjen: "Mana saya ada uang beli mobil mahal gitu!!

Bule menelpon kantor pusat.

Bule: "Saya ada solusi, Pak. bapak beli mobilnya dg harga Rp.10.000,-saja."

Dirjen: "Bener ya? OK, saya mau, jadi ini bukan suap. Pake kwitansi ya.."

Bule: "Tentu, Pak.."


Bule itu kemudian menyiapkan dan menyerahkan kwitansi. Sang Dirjen membayar dengan uang 50 ribuan, mereka pun bersalaman.

Bule: "Oh, maaf Pak. Ini kembaliannya Rp.40.000,-."

Dirjen: "Gak usah pakai kembalian segala. Tolong kirim saja 4 mobil lagi kerumah saya ya..."

Bule : @#$%^& !!!***

Tuesday, March 25, 2008

OPO ISLAM KUDU BENER...?

Tak seperti biasanya, warung Cak Supar yang terletak di ujung Gang Pasar Kambing kurang begitu ramai. Terlihat hanya beberapa orang yang sedang menikmati dinginnya malam itu seraya menghisap rokok dan menikmati hanggatnya kopi atau teh di warung yang buka sampai subuh itu. Tepat di hadapan Cak Supar yang tangannya sedang dengan lincah mengaduk-aduk gorengan nasi, duduk melamun si Gugun. Saat itu, ia sedang bersedih merenungi nasibnya yang banyak dibenci orang sekelilingnya. Ia pandangi asap rokok yang ia hembuskan dan kemudian terbang melayang serta lenyap ditelan gelapnya malam. Mungkin diriku akan bernasib seperti asap rokok itu, pikirnya. Memang sejak peristiwa di Dolly minggu lalu, ia cenderung menjadi seorang pendiam. Kata beberapa orang tetangganya, gayanya yang ceplas-ceplos serta "kemlinthi" itu nyaris tak kelihatan lagi.

Heei...!, lagi opo cak...? kok ngalamun thok...?, tegur Mat Nayar mengagetkan Gugun dari lamunannya. Ia pun tersenyum kecut menanggapi Mat Nayar sahabatnya semenjak sekolah di SD Negeri Benteng Miring dulu. Ono opo Gun kok sumpek...? tanya Mat Nayar lirih.


Kemudian Gugun menceritakan semua yang terjadi mulai dari peristiwa di Langgar Miftahul Jannah sampai penganiayaan terhadap dirinya di Dolly. Terus terang aku lagi prihatin karo ummat Islam jaman sa'iki, perasane awake kudhu bener lan wong liyo salah terus!. Lanjut Gugun tak bersemangat.

Lha ..yo'opo mane Gun...wong...kelakoanmu koyok ngono...?, komentar Mat Nayar dengan nada sedikit menyudutkan.

Merasa dipojokkan, Gugun pun "terbangun" dan siap ngotot seperti sediakala. Masalahne gak sesederhana iku Cak....!, tegas Gugun dengan sedikit meninggi. Ia kemudian mengisahkan panjang lebar kedunguan jama'ah Langgar Miftahul Jannah dalam menjawab pertanyaan nakalnya. Ia paparkan pula kesempitan berpikir pasukan berjubah yang mengobrak-abrik kompleks pelacuran Dolly. Setelah itu, Gugun juga mengungkapkan keprihatinannya terhadap umat Islam saat ini yang menurutnya terlampau yakin kalau dirinya mampu menangkap kebenaran sejati. Sing ngomong Islam mesti bener iku khan cuma wong Islam dewe.., kata Gugun dengan nada nyinyir mengakhiri kalimatnya.

Lho...lho....!, yo terang wae mesti bener Gun...!, lha wong aturan-aturan iku soko Qur'an sing Maha Suci ..., ko'en lali tah... wejangane Lik Hisyam jaman biyen iku...?. Di dunia ini hanya ada satu kebenaran mutlak, yaitu nash-nash Al-Qur'an. Akal manusia-lah yang harus menemukannya, ujar Mat Nayar dengan aksen Maduranya yang tak dapat disembunyikan itu. Pancen ko'en iku rodhok kekiri-kirian Gun...., bahaya lho pemikiranmu iku....!, tambah Mat Nayar prihatin.

Pada saat yang sama muncul dari kejauhan seorang pemuda bersarung, berkopiah putih dan berjalan agak tergesa-gesa. Walaupun Gugun dan Mat Nayar tak menyadari, Cak Supar melihat kedatangan pemuda keturunan Arab yang dikenal oleh penduduk Gang Pasar Kambing sebagai anak muda yang pendiam, sopan, dan alim. Konon, ia pernah sekolah di Qom kampung halaman Khomeini. Oleh karenanya, walau usianya belum genap tiga-puluh tahun, banyak orang menganggapnya sebagai tempat bertanya. Oleh karenanya ia segera memanggilnya, yek Husin...yek Husin.....mampir.....!!!, teriak Cak Supar sambil melambaikan tangannya. Mungkin maksud Cak Supar agar Husin bisa menengahi perdebatan mengenai agama yang tampaknya tak kunjung usai.

Mengatahui kehadirannya diharapkan, Husin dengan langkah yang lebih cepat segera menuju ke warung tersebut.

Asslamualaikum....!, sapa Husin Ali kepada semua orang yang duduk di warung itu.

Waalaikum salaam...!. jawab mereka serentak. Cak Supar pun segera menyambut sang langganan dengan ramah.

Husin sengaja memilih duduk di samping Gugun dan Mat Nayar yang sudah dikenalnya sejak sepuluh tahun yang lalu. Ia segera memesan sepiring nasi goreng seraya menegur kedua teman lamanya tersebut: Yok opo kabare rek...?. Rupanya Mat Nayar sedang dalam keadaan terlampau serius untuk menanggapi basa-basi tersebut. Ia ternyata lebih suka melibatkan Husin ke dalam perdebatannya dengan Gugun.

Mat Nayar langsung menjelaskan secara panjang lebar pembicaraannya dengan Gugun. Bak Da'i yang memiliki sejuta ummat, Mat Nayar secara khusus memaparkan keabsolutan kebenaran dalam Islam. Hanya orang-orang yang mampu berpikir independent dapat menangkap keabsolutan kebenaran Islam, tegas Mat Nayar dengan bahasa Indonesia yang sedikit kagok. Dalam terang dan kebeningan Quran yang pasti benar itu, lahirlah "independent minds", macam Umar dan Ali, lahirlah pula "ilmuwan-ilmuwan" pionir dalam segala bidang. Lahirlah juga peradaban unggul yang bertahan bertahan berabad-abad. Ngono...Gugun sik gak percoyo wae..., yek....!, kata Mat Nayar seraya melirikkan matanya ke Gugun.

Sedangkan Gugun tetap dengan gayanya yang khas tak bergeming serta menyembulkan senyum sinis.

Cukup bijak si Husin Ali ini rupanya. Lek pendapatmu yo'opo Cak Gun....?, tanyanya yang sepertinya sedang berusaha menerapkan prinsip "both side coverage".

Mungkin terlampau rumit kango aku nerangno makna "independent minds" dari perspektif psikologi opo maneh filsafat. Tapi secara awam dan sederhana, menurutku "independent mind" iku cara berpikir sing "independent", yaitu merdeka, bebas, dan otonom dari segala bentuk pengaruh, intervensi serta distorsi yang menghalangi kita untuk menemukan kualitas intrinsik suatu objek. Menurutku, gak bakal ono wong iso "independent" iku. Tapi..., malangnya manusia sering dengan mudahnya menyatakan bahwa ia telah mampu berfikir secara independent dan mendasarkan pada kriteria-kriteria obyektif , oleh karenanya "objective truth" dalam jangkauannya. Logika berpikir koyok ngene iku sing nyebabno umat Islam selalu ngeroso bener dewe.....!. Wong Islam sakjane kudu belajar soko sejarah...., perselisihan, intrik, konspirasi, bahkan pertumpahan darah yang terjadi dalam sejarah Islam mulai biyen sampai sa'iki, iku kabeh gara-gara rumongso iso "independent mind". Sakjane sopo sih sing duwe legitimasi lek pikirane awak dewe iku sing paling bener....????, jelas Gugun dengan berapi-api.

Setelah mendengar penjelasan Gugun, Husin pun mencoba ikut komentar: lek pendapet pribadiku......

Belum genap empat kata terucap, Mat Nayar dengan cepat memotongnya. Sik..sik....!, lek Gusti Allah wis berfirman...yo..iku...wis mesti bener...!. Lek babi haram....yo mesti bener babi iku haram..mosok gara-gara pikiran gak independent trus dadi halaal....?, onok-onok wae...!. Suweh-suweh aku tambah curiga karo Gugun iku. Ojo-ojo awake wis kenek pengaruh ideologi-ideologi kapir...!. Omonganmu iku Gun....., podo karo propaganda sekularisme dan zionis sing memang sentimen karo wong Islam....!, kata Mat Nayar dengan emosional sambil menuding-nudingkan tangannya.

Lho...ko'en ngangep aku opo....???, jawab Gugun seraya berdiri dari tempat duduknya.

Tenang...kalem....,ojo keburu nesu...!, Husin berusaha menenangkan.

Cak Supar yang sejak tadi hanya menjadi pendengar, akhirnya ikut nimbrung: rek...tolong..lek ape tarung ojo nang warung-ku, nggarai gak payu wae...!, kata Cak Supar sedikit mengeluh.

Tampaknya upaya Husin Ali dan Cak Supar berhasil mendinginkan suasana. Wis....wis...karo konco lawas wae mosok kape gepuk-gepukan...!, tambah Husin. Yo..opo...diskusine iso diterusno opo gak...?.

Menjawab pertanyaan Husin tersebut, Gugun menimpali: Monggo wae.....Sedangkan Mat Nayar hanya diam tak menjawab.

Seraya meneguk kopi-jahe yang telah dipesannya, Husin mulai berbicara: Memang persoalannya, kemutlakan syari'ah sering menyebabkan orang menganggap bahwa kebenaran hanya satu. Artinya, harus ada satu pihak yang benar, dan yang lain mesti salah. Padahal, kebenaran ada di "lawh al-mahfuzh". Dan kebenaran itu terlalu besar untuk bisa dipahami manusia. Bukankah kemudian terbuka kemungkinan setiap orang memahami secuil kebenaran Allah...?.

Akibat tak puas, Mat Nayar pun segera protes: lho...terus...kebenaran Qu'ran iku relatif dan ngak normatif ....???. Mat Nayar terus ngedumel dengan suara yang nyaris tak terdengar.

Malam pun semakin larut. Hawa dingin dari sisa hujan sore tadi tak juga mampu menghalangi hangatnya diskusi itu. Bagai seorang begawan sedang memberikan petuah, Husin bercerita banyak tentang makna kebenaran dan kemampuan manusia untuk memperolehnya. Ia dengan fasihnya mengulas isu-isu filosofis yang memang sangat merumitkan pikiran. Tampaknya ia sangat piawai menguasai retorika ala filosof Yunani yang memang masih terus dipelihara dalam tradisi padepokan Qom.

Sesungguhnya di antara Muslimin memang tak ada perbedaan pandangan mengenai "kemutlakan" intrinsik wahyu Allah. Tapi, Al Qur'an tidak pernah berbicara sendiri. Manusialah yang membacanya, memahaminya, meresapinya, mengkonseptualisasikan ide dan nilai-nilai yang dikandungnya, menyuarakannya dan akhirnya menyusunnya secara sistematis melalui madzab-madzab yang ada. Sejujurnya, walaupun Al Qur'an secara intrinsik bersifat mutlak, persepsi manusia tentangnya tidak pernah absolut dan selalu bersifat relatif sesuai dengan dimensi ruang dan waktu, Husin berbicara terus hingga nasi gorengnya lupa terjamah hingga mendingin.

Walaupun mengangguk-angguk, Mat Nayar tampaknya belum bisa menerima semua argumentasi tersebut. Ia tetap tak mau menerima pandangan tersebut. Aku khawatir lek pemikiran koyok ngene terus dikembangno, iso-iso Syari'ah lan Aqidah dadi gak ono artine. Terus yok opo kehebatane wong Islam sing nang sejarah huebate gak karu-karuan mergo yakin marang keabsolutan Syari'ah...???.

Tapi gak iso ngono sih Cak....!!!, tukas Gugun sedikit keras. Pikaran koyok ngono iku sing njaluk menange dewe...!. Kebenaran iku dudhuk monopoli-ne Islam. Kabeh agomo utowo keyakinan termasuk Kristen, Hindu, Budho, Majusi, Sikh, Syiah, Sunni, komunis, sampe agomone wong ndayak nang alas kabeh... mengandung sak cuil kebenaran Gusti Allah Pangestu...!.

Keadaan menegang kembali. Ganasnya pendapat yang satu siap memangsa pendapat yang lain. Mat Nayar melancarkan serangan berikutnya: Alaa...omonganmu iku lak tiru-tiru Cak Nur, ko'en lali tah wong iku sampe dikafirno segala.

Wis...wis...gak oleh ngomong kafir-kafir koyok ngono Mat...!. Sela Husin untuk menghindari berlanjutnya debat kusir ini. Ngomong kafir opo gak iku, cuma Allah sing duwe hak. Menungso iku gak bakal iso ndelok segala sesuatu secara obyektif. Kita melihat dunia bukan "sebagaimana dunia adanya" melainkan "sebagaimana kita adanya" atau sebagaimana kita dikondisikan untuk melihatnya, jelas Husin sekali lagi.

Lho Yek..., sampiyan kok dadi ngono...?, tanya Mat Nayar kepada Husin karena keheranan...

Tapi Husin hanya tersenyum kecil.

Sebaliknya emosi Gugun semakin memuncak walau ia masih mampu mengendalikannya. Aku males ngomong karo wong sing pikirane cupeet....!, ejek Gugun dengan suara agak menjerit dan terus ngacir pergi tak tertarik lagi untuk terus berdiskusi. Dalam hati yang penuh kedongkolan ia bergumam: mendingan kulalap habis epik Arus Balik-nya Pramoedya Ananta, daripada berbicara hanya melelahkan mulut seperti ini.

Masih penasaran karena tak ditanggapi, Mat Nayar terus bertanya. Yek...,opo alasan sampiyan mbelo arek PKI iku...?, arek iku calon Salman Rushdie soko Suroboyo...!.

Husin tetap tak bergeming. Ia pikir tak guna lagi meladeni orang yang sedang kalap memuja kebenarannya dirinya sendiri.

Merasa tidak diacuhkan, Mat Nayar segera beranjak meninggalkan warung seraya bergumam lirih..mandharo kualat ketubruk montor sopo wae sing ono keraguan nang keimanane...

Belum selesai terkejut melihat semua temannya lenyap dari "perhelatan", Husin dikagetkan oleh pertengkaran mulut antara Cak Supar dengan salah seorang pengunjung warung.

Dari gaya serta aksen bicaranya tampak lelaki itu berasal dari daerah Jawa Barat. Sang lelaki mempermasalahkan mengapa teh yang ia pesan diberi gula, padahal ia tak pernah memintanya. Tak kalah ngototnya, Cak Supar tetap bersikeras bahwa selama hidupnya di Jawa Timur menjual air teh itu selalu dalam keadaan manis, kalau menghendaki "tawar" harus ditegaskan sejak awal kepada penjual. Mereka pun terus beradu mulut, dan tak satu pun siap mengalah karena sama-sama merasa benar.

Tapi tak mengapa bagi Husin. Semua pengalamannya malam ini membuatnya semakin bijak. Ia pun semakin yakin bahwa betapa tidak pernah "independent"-nya manusia dalam berpikir. Latar belakang kehidupan, agama, budaya, pendidikan, taraf ekonomi, struktur sosial-politik dan sebagainya selalu mewarnai benak pikiran setiap manusia. Selagi menghabiskan nasi-gorengnya yang tinggal sesuap dan tak memperdulikan pertengkaran Cak Supar dengan lelaki Sunda itu, ia pun bertanya pada nuraninya..., is independent minds an illusion...?. Wallahu a'lam bi Sawwab....!

Den Haag, 9 Desember 2000
AKJ

Sapi dan ideologi


Anda mempunyai dua ekor sapi. Dan apa yang akan terjadi dengan Anda sangat
tergantung dari ideologi yang berlaku.

Feodalisme: Anda punya dua ekor sapi dan penguasa akan mengambil sebagian
susunya.

Sosialisme: Pemerintah akan mengambil sapi Anda, meletakkannya di kandang
bersama-sama dengan sapi-sapi milik orang lain. Anda diharuskan memelihara
sapi tersebut dan pemerintah akan memberi Anda susu sesuai kebutuhan.

Fasisme: Anda punya dua ekor sapi. Pemerintah membayar Anda untuk
memeliharanya, kemudian menjual susunya kepada Anda.


Komunisme: Anda punya dua ekor sapi. Semua tetangga ikut memeliharanya dan
susu yang dihasilkan dibagi rata.

Diktatorian: Anda punya dua ekor sapi. Pemerintah mengambil keduanya dan
membunuh Anda.

Militerianisme: Pemerintah mengambil kedua sapi Anda dan memanggil Anda
untuk mengikuti wajib militer.

Demokrasi: Pemerintah menjanjikan akan memberi dua ekor sapi jika Anda
memilih kembali partainya. Ketika pemilu selesai, presiden terpilih dituduh
terlibat 'sapi politik' dan media massa menyebutnya sapigate.

Kapitalisme: Anda punya dua ekor sapi. Anda jual seekor dan hasilnya
dibelikan sapi jantan.

Environmentalisme: Anda mempunyai dua ekor sapi. Pemerintah melarang Anda
mengambil susunya ataupun membunuh mereka.

Feminisme: Anda mempunyai dua ekor sapi. Mereka menikah dan mengadopsianak
sapi.

Soehartoisme : Anda mempunyai dua ekor sapi, disita negara dengan alasan
demi pembangunan dan pertumbuhan ekonomi yang pesat

Golkarisme : Anda mempunyai dua ekor sapi, dicat kuning semuanya oleh
pemerintah...

Harmokoisme : Anda mempunyai dua ekor sapi, tiap saat harus ikut penataran
untuk dibujuk jadi kader golkar...

AA Baramuliisme : Anda mempunyai dua ekor sapi terhormat, dan tidak pernah
mengaku doyan rumput.

Wirantoisme : Anda mempunyai dua ekor sapi, dan selalu siap menjaga anda
setiap saat.

Bennymoerdhaniisme : Anda mempunyai dua ekor sapi, terampil membuat
kerusuhan dan keributan !

Prabowoisme : Anda mempunyai dua ekor sapi, gemar menculik kambing.

Tututisme : Anda mempunyai dua ekor sapi, barang siapa yang melihat
dikenakan biaya.

Sigitisme : Anda mempunyai dua ekor sapi, hasil menang judi kemarin.

Tommysoehartoisme : Anda mempunyai dua ekor sapi, ditukar dengan ayam,
dijanjikan 2 ekor banteng suatu saat.

BUMNisme : Anda mempunyai dua ekor sapi, tiap hari diperah susunya, enggak
pernah dikasih makan.

Dwi Fungsi TNIsme : Anda mempunyai dua ekor sapi, dimanfaatkan oleh
pemerintah untuk berbisnis dan menjaga kemanan.

Cendananisme : Anda mempunyai dua ekor sapi, harus disita karena tidak
pernah terbukti sapi itu milik anda, karena tidak ada surat buktinya.

Konglomeratisme : Anda mempunyai dua ekor sapi, besok-besok telahmelahirkan
kuda, kambing , kodok, ikan, gurita dan sebagainya.

Korupsisme : Anda mempunyai dua ekor sapi, menurut catatan, seharusnya anda
hanya punya dua kodok saja!.

Kolusisme : Anda mempunyai dua ekor sapi, bersamanya anda dapat mendapatkan
2 banteng, 2 macan, 2 singa, 2 kuda.

Nepotisme : Anda mempunyai dua ekor sapi, teman-teman si sapi ternyata jadi
milik anda juga semuanya!.

Materialisme : Anda mempunyai dua ekor sapi dan tidak pernah menolak dibawa
ke PI mall dan Plaza senayan.

Kanibalisme : Anda mempunyai dua ekor sapi, enggak pernah mau makan rumput,
kecuali daging sapi !

Reformasisme: Anda mengira mempunyai dua ekor sapi, ternyata cuma
ekornyasaja !!

Narkobaisme : Anda mempunyai dua ekor sapi, ditukar dengan 1
gramshabu-shabu

Munafikisme : Anda mempunyai dua ekor sapi, ternyata anda juga
seekorsapi!!!.

Provokatisme : Anda mempunyai dua ekor sapi, bisa menghasut anda untuk
berbuat aneh-aneh

Amerikanisme : Anda mempunyai dua ekor sapi, sangsi untuk sapi yang satu
sangat berbeda dengan yang lainnya!

Romantisisme : Anda mempunyai dua ekor sapi, tiba-tiba minta dinikahkan hari
itu juga ! [undzurilaina]

Tuesday, November 6, 2007

Roger Cohen: From Paris with love

By Roger Cohen
Sunday, November 4, 2007

NEW YORK: French President Nicolas Sarkozy arrives in Washington on Tuesday for a visit billed as sealing "the renewal of ties between France and the United States following the crisis of 2003." Here's how the post-Iraq Franco-American lovefest may unfold at the White House.

BUSH: Yo, Sarko!

SARKOZY: Bonjour, George!

BUSH: I was thinking - it happens - you're now my best friend in Europe. Berlusconi's toast. Where's Blair? As for the ex-Commie Pole, I never could remember his name. I may have to learn French!

SARKOZY: Up to a point, Mr. President.

BUSH (laughing): Yeah, amigo, maybe I'll leave that to Giuliani. What's French for prostate cancer? Well, this is déjà vu all over again! As I said up in Kennebunkport, we've had our good disagreements on Iraq but I never allowed disagreements to not find other ways to work together - or not.

SARKOZY (puzzled): Your philosophy is too clever!

BUSH: Next you'll call me a Ph.D.-type!

SARKOZY: No, no! The important thing is we are family. Iraq is ancient history. Between old allies there can be no divorce.

BUSH (startled): Divorce?

SARKOZY: When husband and wife split.

BUSH: You know, I don't hold it against her, the way she trashed my Maine burgers and corn, but . . .

SARKOZY (interrupting): Speaking of history, I'm going to decorate six of your World War II veterans with the Legion d'Honneur.

BUSH: That's just outstanding, Sarko. Look, you and me are levelers who level with people. I'll be blunt. There's still this opinion that the French are ungrateful wimps who have the opinion they won the war when, in my opinion and our opinion and almost everybody's opinion, we won it for them. So dishing out those legions is good.

SARKOZY: Merci, George. I'm determined to change the image of France here. You know, more than 200,000 new businesses were started last year.

BUSH: No surprise there, Sarko. I've learned since taking office that the French for "entrepreneur" is "entrepreneur." And, since you took office, I've learned the French for "weekend" is not "long weekend." And that's been a revelation!

SARKOZY: The French want to work and make money. The American way! That's why I just gave myself a $200,000 raise. Before, politicians were afraid, but my theory is we're just as greedy as Anglo-Saxons!

BUSH: You still earn about $150,000 less than me, and $17 million less than Charles Prince and Stan O'Neal. So it's the right move. But the way you jumped on the global-warming bandwagon with that pinhead pseudo-prophet, Al Gore! My folks tell me you're going to stop building roads!

SARKOZY: Oui, oui, we levy an eco-tax on pollutant cars, and cut taxes on environmentally friendly products, and double the size of our high-speed train network. Europeans go nuts over this stuff. Ask Angie Merkel!

BUSH (breaking into song): Angie, Annnn-gie, ain't it good to be alive?

SARKO (concerned): Mr. President, are you . . .

BUSH (interrupting): Never could figure the euros. No More roads! Try that in Texas! And you guys oppose the death penalty. We say it's letting 'em off lightly.

SARKOZY: One must look forward. What's new, Mr. President?

BUSH: Well, let's see, what do you make of our Middle East peace conference?

SARKOZY: Not much. You spend six years doing nothing and then you call a big meeting. Bizarre. Still, as we say in France, it's better to appear to do something with nothing than to appear to do nothing with something.

BUSH: Huh? Don't go left-bank on me, Sarko. My view is simple: anything to please Blair! I miss that guy. Brown reminds me it's not difficult to tell the difference between a sour Scotchman and a ray of sunlight.

SARKOZY: No comment, Mr. President.

BUSH: Iran tops our agenda. If they get a nuke they could proliferate. They could become perpetuators of attacks on freedom's march and the homeland's ballgames. And Democrats wouldn't recognize Hitler if they sat down to breakfast with him.

SARKOZY: Up to a point, George. As I've said, the choice could be between the Iranian bomb and the bombing of Iran. Tough diplomacy is how to avoid that. You want three wars in Islamic states?

BUSH: It's mucho, but Dick's still hungry!

SARKOZY: Anyway, no daylight between us, that's my motto!

BUSH: Paris by night between us, that's mine! One decider to another!

SARKOZY: I address Congress tomorrow. What should I say?

BUSH: That they're a bunch of UN-hugging, French-speaking, garlic-eating, cheese-loving losers!

SARKOZY: Pardon? What?

BUSH: Sorry, Sarko. I get terrible flashbacks. God Bless la France!

SARKOZY: Et Vive l'Amerique!

http://www.iht.com/articles/2007/11/04/opinion/edcohen.php

Wednesday, October 10, 2007

Reaksi Dunia Bila Titanic Tenggelam Saat Ini

Presiden Bush – Amerika Serikat: "Sebuah kapal yang sedang berlayar menuju kepada kebebasan telah diserang oleh teroris. Kita tidak akan duduk diam. Kita akan memberi pelajaran kepada mereka! Bin Laden, anda dapat berlari tapi anda tak akan dapat sembunyi! Kami akan menemukanmu dan menghancurkan jaringan AL Qaedamu!"


PM Tony Blair – Inggris: "Saya telah berbicara dengan Presiden Bush, dan kami berdua telah sepakat bahwa tenggelamnya kapal Titanic adalah bukti-bukti tak terbantahkan bahwa pengikut pengikut Saddam Hussein ada dibelakang serangan itu. Irak, nyata-nyata telah menjadi ancaman bagi dunia dan kita harus menyelesaikannya. "


PM John Howard – Australia: "Kami mendapatkan bukti bahwa di dalam kapal tersebut terdapat penumpang bernama Ahmad dan Abu Umar. Ini menunjukkan bahwa JI bertanggungjawab atas tenggelamnya kapal itu. Kami meminta Pemerintah Indonesia bertindak lebih tegas kepada aktivis-aktivis JI, atau kami sendiri yang akan menindak mereka!"


PM Ehud Olmert - Israel: "Ini merupakan pekerjaan Hamas! Telah cukup bukti bahwa tenggelamnya Titanic bukanlah kecelakaan, namun merupakan serangan bunuh diri Hamas. Kami akan memblokade Palestina!, menahan mereka!, membuang mereka!
membunuh mereka!, membuat mereka kelaparan, menghancurkan rumah-rumah mereka dan kamp-kamp pengungsi mereka!"


PM Vajpayee – India: "Telah ditemukan paspor Pakistan dalam sisa-sisa Titanic. Jelas bahwa Pakistan harus membayar aksi teror tersebut dan kita telah mengirimkan lebih banyak lagi tentara ke perbatasan."


PM Surayud Chulanont – Thailand: "Kapal itu sebelumnya milik keluarga Thaksin Shinawatra yang kemudian dijual ke perusahaan Singapore. Kita akan mengambil kembali kapal itu untuk rakyat Thailand."


Presiden Castro – Cuba: "Titanic adalah lambang kapitalisme. Tenggelamnya Titanic memperlihatkan kepada dunia bahwa kapitalisme mulai hancur dan tenggelam. Cuba akan terus setia kepada cita-cita sosialisme dan akan berjaya bersamanya!"


Anggota DPR - Indonesia: "Titanic? Apaan sih itu? Oh Ya, Titanic.. kita sedang mengajukan RUU tentang Pemberantasan Titanic. Untuk itu kami akan mengadakan studi banding ke Hawaii. Mohon masyarakat dapat memahami pentingnya RUU ini sehingga pembahasannya memerlukan konsentrasi yang tinggi. Untuk itu kami akan membahasnya di Bali. Agar kami dapat bekerja lebih baik, kami akan membawa serta istri-istri, anak, cucu, mertua, keponakan, mantu dll-dll. Tentu dengan biaya negara. Harap maklum, gaji kami sebagai anggota DPR hanya 30 juta. Kami meminta pemerintah untuk menaikkan tunjangan rapat 400% atau kami akan mengajukan interpelasi masalah Titanic."

Yang sebenarnya terjadi: Juru Radio Titanic: "SOS..SOS.. Mohon bantuan … kapal kami menabrak gunung es …".[undzurilaina]

Friday, September 14, 2007

Pulpen Luar Angkasa

Pada saat NASA mulai mengirimkan astronot ke luar angkasa, mereka menemukan bahwa pulpen mereka tidak bisa berfungsi di gravitasi nol, karena tinta pulpen tersebut tidak dapat mengalir ke mata pena.

Untuk memecahkan masalah tersebut, mereka menghabiskan waktu satu dekade dan 12 juta dolar. Mereka mengembangkan sebuah pulpen yang dapat berfungsi pada keadaan-keadaan seperti gravitasi nol, terbalik, dalam air, dalam berbagai permukaan termasuk kristal dan dalam derajat temperatur mulai dari di bawah titik beku sampai lebih dari 300 derajat Celcius.

Dan apakah yang dilakukan para orang Rusia? Mereka menggunakan pensil![undzurilaina]

Thursday, September 13, 2007

The Simplest First...

Ada cerita menarik tentang kasus kotak sabun yang kosong, yang terjadi di salah satu perusahaan kosmetik yang terbesar di Jepang. Perusahaan tersebut menerima keluhan dari pelanggan yang mengatakan bahwa ia telah membeli kotak sabun (terbuat dari bahan kertas) kosong. Dengan segerapimpinan perusahaan menceritakan masalah tersebut ke bagian pengepakan yang bertugas untuk memindahkan semua kotak sabun yang telah dipak ke departemen pengiriman. Karena suatu alasan, ada satu kotak sabun yang terluput dan mencapai bagian pengepakan dalam keadaan kosong.

Tim manajemen meminta para teknisi untuk memecahkan masalah tersebut. Dengan segera, para teknisi bekerja keras untuk membuat sebuah mesin sinar X dengan monitor resolusi tinggi yang dioperasikan oleh dua orang untuk melihat semua kotak sabun yang melewati sinar tersebut dan memastikan bahwa kotak tersebut tidak kosong. Tak diragukan lagi, mereka bekerja keras dan cepat tetapi biaya yang dikeluarkan pun tidak sedikit.

Tetapi saat ada seorang karyawan di sebuah perusahaan kecil dihadapkan pada permasalahan yang sama, ia tidak berpikir tentang hal-hal yang rumit, tetapi ia muncul dengan solusi yang berbeda. Ia membeli sebuah kipas angin listrik untuk industri yang memiliki tenaga cukup besar dan mengarahkannya ke garis pengepakan. Ia menyalakan kipas angin tersebut, dan setiap ada kotak sabun yang melewati kipas angin tersebut, kipas tersebut meniup kotak sabun yang kosong keluar dari jalur pengepakan, karena kotak sabun terbuat dari bahan kertas yang ringan.[undzurilaina]

Friday, August 24, 2007

ULAR

Seekor anak ular yang sedang berjalan di samping induknya bertanya,

"Bu, benarkah kita berbisa?"


"Oh tentu saja anakku, kita memang berbisa", jawab sang induk.


Si anak ular terdiam sesaat, kemudian bertanya lagi:"Bu, maaf, tapi benarkah kita berbisa?"

"Iya sayang, kita adalah ular berbisa!" jawab ibu ular agak jengkel.

Tampaknya si anak tetap gelisah, sambil merapatkan tubuhnya ke induknya, ia pun mengajukan pertanyaan yang sama:"Bu, tolong jawablah, apakah kita ini berbisa?"


"Anakku, kita adalah jenis ular yang sangat berbisa. Bila kita menggigit seekor kuda dewasa, pasti dalam waktu tak sampai sepuluh menit ia akan mati.”


Nah ibu gantian mau tanya: ”mengapa engkau menanyakan itu sampai berulang-ulang?"


"Bu, aku baru saja menggigit bibirku sendiri", jawab anak ular dengan sedih.[undzurilaina]

ONTA

Seekor onta kecil bertanya kepada induknya, "Ibu, kenapa sih telapak kakiku besar dan hanya terdiri dari tiga jari?"


Si induk menjawab, "Kita kan onta, kaki seperti itu bagus untuk melewati gurun agar kaki tidak tenggelam dalam pasir."


"Lalu kenapa bulu mataku panjang?" tanya anak onta lagi.


"Jika kita berjalan di gurun, pasir-pasir kan selalu beterbangan. Bulu mata yang panjang akan melindungi matamu dari kemasukan pasir," jawab induknya.

"Di punggungku ada punuk. Itu untuk apa?" tanya anak onta.


"Itu untuk menyimpan air. Jadi kalau kita berjalan melintasi gurun yang susah air, kita bisa bertahan walaupun tidak minum berhari-hari," jawab induknya.

Setelah sekian lama terdiam, si anak onta berkata,

"Jadi kita punya telapak kaki lebar, bulu mata panjang dan punuk di punggung adalah untuk hidup di gurun?"


"Benar sayang," jawab induknya.

"Lalu kenapa kita ada di Ragunan?" [undzurilaina]

Thursday, August 16, 2007

Si Ayam dan Si Ucok

Pada suatu hari ada seorang pedagang kaya yang ingin mengadakan hajatan untuk putranya. Untuk keperluan itu ia datang ke seorang bandar ayam dan memesan 100 ekor ayam.

Pedagang kaya : "Saya ingin memesan 100 ekor ayam untukbesok, ini alamat saya (seraya memberikan kartu namanya)."

Bandar ayam : "Baik tuan, akan saya suruh anak buah saya untuk mengantarkan ke rumah tuan."

Sepulangnya si pedagang kaya, bandar ayam tersebut langsung memanggil seorang anak buahnya yang bernama Ucok dan memberikan instruksi...

Bandar ayam : "Ucok, tolong antarkan 100 ekor ayam ini besok ke alamat ini (sambil memberikan kartu nama si pedagang kaya)."

Ucok : "Nganterin ayam-ayam? Beres Tuan !"

Besoknya dengan mengendarai sepeda motor si Ucok pergi mengantarkan 100 ekor ayam tersebut. 50 ekor diletakkan di sebelah kanan dan sisanya 50 ekor lagi diletakkan di sebelah kiri.

Akan tetapi malangnya, di tengah perjalanan dia terjatuh dari sepeda motornya..., ayam-ayam yang dia bawa langsung lepas dan pada lari berhamburan. Orang-orang ramai berdatangan untuk mengetahui keadaan si Ucok.

Tetapi anehnya, si Ucok malah tertawa terbahak-bahak.

Seseorang diantara orang-orang yang datang bertanya, mungkin ia merasa khawatir karena melihat si Ucok yang tertawa-tawa...

Orang yg datang : "Mas, mas nggak apa-apa kan... Kepalanya enggak sakit kan?"

Ucok : "Ha... ha... ha... !"

Orang yang datang : "Mas, kenapa mas ?"

Ucok : "Ha... ha...ha..., dasar ayam-ayam goblok, mau kemana elu pada?!" (sambil menunjuk ke arah ayam-ayam yang berlari)....

"Alamatnya kan ada di gue... Hua.. ha.. ha.. ha....." [undzurilaina]

Monday, July 23, 2007

Kisah Tragis

Ada seorang teman saya, suatu hari terpanggil untuk memakai jilbab. Karena hatinya sudah tetap, dia pergi ke toko muslim untuk membeli jilbab. Setelah membeli beberapa pakaian muslim lengkap bersama jilbab dengan berbagai model maklum teman saya itu stylish sekali), dia pun pulang ke rumah dengan hati suka cita.

Sesampainya di rumah, dengan bangga dia mengenakan jilbabnya. Ketika dia ke luar dari kamarnya, bapak dan ibunya langsung menjerit. Mereka murka bukan main dan meminta agar anaknya segera melepaskan jilbabnya. Anak itu tentu merasa terpukul sekali…bayangkan :

Ayah ibunya sendiri menentangnya untuk mengenakan jilbab.


Si anak mencoba berpegang teguh pada keputusannya akan tetapi ayah ibunya mengancam akan memutuskan hubungan orang-tua dan anak bila ia berkeras.

Dia tidak akan diakui sebagai anak selamanya bila tetap mau menggunakan jilbab. Anak itu menggerung-gerung sejadi-jadinya. Dia merasa menjadi anak yang malang sekali nasibnya.


Tidak berputus asa, dia meminta guru tempatnya bersekolah untuk berbicara dengan orang tuanya. Apa lacur sang guru pun menolak.


Dia mencoba lagi berbicara dengan ustad dekat rumahnya untuk membujuk orang tuanya agar diizinkan memakai jilbab… hasilnya ? Nol besar ! Sang ustad juga menolak mentah-mentah.


Belum pernah rasanya anak ini dirundung duka seperti itu. Dia merasa betul2 sendirian di dunia ini. Tak ada seorang pun yang mau mendukung keputusannya untuk memakai jilbab. Akhirnya dia memutuskan untuk menggunakan truf terakhir.


Dia berkata pada orang tuanya,”Ayah dan ibu yang saya cintai. Saya tetap akan memakai jilbab ini. Kalau tidak diizinkan juga saya akan bunuh diri.”


Sejenak suasana menjadi hening. Ketegangan dalam keluarga itu mencapai puncaknya. Akhirnya sambil menghela napas panjang, si ayah berkata dengan lirih:


“Bambang! Anakku, Yen wong wedok sak karepe ngono nggawe jilbab. Elingo yen Kowe iku lanang le ………… .. lha’ kok arepe nganggo jilbab?????? ???

Friday, July 20, 2007

Ada Pigi…

Ini kisah nyata seorang temen yang namanya Shodiq. Keluarga shodiq adalah keluarga aseli gorontalo. Logat bicaranya pun (terutama ayahnya) masih sangat kentara dan khas gorontalo. Fyi, cara bicara orang gorontalo itu ketika mencoba berbicara bahasa Indonesia itu agak terputus-putus dengan jeda antar kata yang kadang agak lama.

Singkat cerita, waktu itu temen2 datang ke rumah Shodiq untuk mengajak Shodiq untuk main. Masuk ke rumah shodiq, terlihat sang ayah sedang duduk santai di teras rumah.

Temen2: ”Assalamu’alaikum.....”

Ayah: ”Wa alaikum salam...”

Temen2: “Bah, shodiq ada nggak?”

Ayah: ”Ada...”

Temen2: ”Oh, kalau gitu kita tunggu disini ya bah”

Ayah: ”Ada pigi...”

Temen2: ”Oh, kalau gitu nanti kita ke sini lagi aja bah”

Ayah: ”pigi mandi..”

Temen2: ”Hmm, kita tunggu aja deh..”

Ayah: ”mandi ka kolam renang...”

Temen2: ”Oh gitu, kita pamit dulu bah..”

Ayah: ”kolam renang di belakang..”

Temen2: ”Hmmm, jadi ada ya shodig nya ???”

Ayah: ”di belakang Sriwedari (nama tempat hiburan di kota Solo)”

Temen2: ”#????$%# (langsung kabur keluar tanpa pamit lagi)” [undzurilaina]


Thursday, July 5, 2007

Dengan Ujiannya Sekaligus

Seorang Jamaah haji asal Indonesia berangkat melalui sebuah travel dengan biaya yang cukup mahal yang dikenal dengan ONH Plus.

Sesampainya di airport Jeddah dia mendapat masalah...Rombongannya sudah keluar airport menuju hotel tinggal dia sendiri dengan ditemani petugas dari travel mengurus surat-surat yang membuat dia tertahan dalam airport.

Sudah tiga jam dia menunggu....

Tak lama petugas dari travel menghiburnya. "Sabar ya pak... ini ujian setiap orang selalu ada ujiannya bila pergi haji. Insya Allah haji Bapak mabrur", hibur petugas travel yang mendampingi seperti biasa setiap kesalahan yang mereka buat selalu dikaitkan dengan ujian dari Tuhan.

Selesai berurusan dengan imigrasi, Calon Haji itu pun boleh meninggalkan airport menuju Hotel tempat ia dan teman-temannya menginap.

Capai dan lelah ingin segera ia beristirahat di kamarnya. Setiba di hotel dia harus menunggu kembali selama dua jam karena penghuni sebelumnya belum chek-out.

Dan petugas travel kembali menghiburnya dengan alasan yang khas Indonesia: "Sabar ya Pak, ujian dalam ibadah haji selalu macam-macam datangnya yang tidak kita duga-duga. Insya Allah haji Bapak mabrur", hibur si petugas travel kembali.

"ADUH BAPAK TEH KUMAHA??!... KALAU BAYAR US$7000 ITU HARUSNYA DENGAN UJIAN-UJIANNYA SUDAH SAYA BAYAR !!!!!!! " jawab calon haji yang sudah pegel........

Monday, July 2, 2007

Pedagang Sejati

Alkisah, Cak Amir adalah seorang pedagang tulen yang terkenal di kota. Dia sudah mulai berdagang sejak muda dari mulai sekedar membantu orang tuanya menjagakan toko, sampai akhirnya mempunyai toko sendiri yang cukup ramai. Saking ramainya, sehingga dia selalu buka setiap hari, tak peduli hari libur. Bahkan hari libur itulah ramai-ramainya pembeli, katanya.

Cak Amir punya 5 anak: jaelani, rohana, julaeha, rahmat dan saleh. Anak-anak cak Amir ini termasuk anak-anak yang nurut sama orang tuannya. Mereka sering secara bergiliran membantu menjaga ayahnya menjagakan toko. Dan ini sudah berjalan bertahun-tahun sehingga sudah menjadi kebiasaan tanpa diperintah lagi.

Saking semangatnya cak Amir dalam berdagang, sering kali dia tidak mempedulikan kekuatan fisiknya yang sudah mulai melemah karena dimakan usia. Sampai akhirnya ia jatuh sakit yang cukup parah, hingga dokter pun sudah menyerah untuk mengobatinya. Alias, hidupnya sudah tidak lama lagi. Cak Amir pun punya firasat bahwa rasa-rasanya ia akan segera meninggalkan dunia yang fana ini.

Karena tahu bahwa Cak Amir sudah dekat dengan ajalnya, istri cak Amir berinisiatif untuk mengumpulkan semua anaknya mengelilingi sang Ayah. Barangkali ada pesan-pesan terakhir yang ingin disampaikan sang Ayah kepada anak-anaknya.

Alhasil, semua anaknya sudah berkumpul mengeliling sang Ayah yang lunglai terbaring di atas ranjang. Kemudian dengan suara yang pelan dan berat, Cak Amir mulai bicara:

Cak Amir: Bu, apakah anak-anak sudah pada ngumpul sekarang?

Ibu: Sudah, yah.

Cak Amir: Jaelani ada?

Jaelani: Ada, yah.

Cak Amir: Rohana ada?

Rohana: Ada, ayahku sayang.

Cak Amir: Julaeha?

Julaeha: Ada, yah.

Cak Amir: Rahmat, Saleh?

Rahmat dan Saleh: Hadir, yah.

Cak Amir (terdiam sejenak....kemudian berkata): Loh, lalu yang jaga toko SIAPA??! [undzurilaina]

Thursday, June 28, 2007

Kupotongkan Seekor Kambing

Alkisah, Dalam sebuah perjalanan, seorang badui[1] berpapasan dengan iring-iringan jenazah.

"Aku akan ikut menyalatkan jenazah ini agar kelak kalau aku meninggal orang tak akan segan-segan menyalatkan aku," katanya dalam hati.

Masuklah ia ke mesjid bersama para pelayat untuk menyalatkan orang yang sama sekali tidak dikenalnya. Selesai salat, badui itu melanjutkan perjalanannya.

Pada malam harinya imam masjid mimpi bertemu mayat yang belum lama ia salatkan.

"Bagaimana keadaanmu," tanya sang imam.

"Alhamdulillah, Allah mengampuni dosa-dosaku berkat doa si badui itu."

Keesokan harinya, sang imam mencari si badui. Setelah bertemu, ia bertanya, "Apa yang kau ucapkan ketika salat jenazah kemarin, sebab aku mimpi bahwa almarhum telah diampuni dosa-dosanya berkat doamu."

"Aku tidak berdoa apa-apa, kata si Badui. "Aku hanya berkata, ‘Ya Allah sekarang dia adalah tamu-Mu, kalau ia tamuku, akan kupotongkan seekor kambing."


[1] (Badui sering di asosiasikan dengan orang yang pengetahuannya pas-pasan, hidup sangat sederhana, polos, dan jujur. Apa yang ada di hatinya, itu pula yang tampak pada raut mukanya dan terdengar lewat suaranya)

Tuesday, June 26, 2007

Sapi Betina dan Gajah

Seorang Badui yang tidak banyak mengerti Al-Qur’an shalat subuh di masjid dan kebetulan saat itu si imam sedang membaca surat Al-Baqarah.


Badui itu tergesa-gesa karena punya banyak keperluan, ia jengkel karena panjang dan lamanya berdiri sehingga isi surat itu tidak begitu dimengerti.

Besoknya si badui itu masih ingin shalat subuh di masjid tersebut, tapi kali ini si imam membaca surat Al-Fiil.

Seketika itu si badui menghentikan shalatnya, dan pergi seraya berkata, “Kemarin kamu membaca surat Al-Baqarah dan kamu selesai dari padanya hingga hampir terbit matahari. Hari ini kamu membaca Al-Fiil dimana gajah lebih besar daripada sapi, saya rasa bacaanmu akan selesai pada waktu dhuhur”. [undzurilaina]

Thursday, June 14, 2007

Intermezzo: Pakistani

Pada sebuah taman di kota New York, seorang bocah tiba-tiba diserang oleh seekor anjing yang buas. Melihat hal tersebut, seseorang yang lewat kemudian datang dan menyelamatkan si bocah tersebut. Ia berhasil mencederai anjing tersebut dan mengusirnya.

Seorang reporter New York Times yang menyaksikan kejadian ini langsung mengambil gambar peristiwa tersebut dengan maksud untuk memunculkannya di halaman depan korannya keesokan hari.

Kemudian reporter tersebut mendekati pahlawan penyelamat tadi dan berkata: ”Tindakan penyelamatan heroik anda tadi dapat dipublikasikan di koran besok sebagai headline- Brave New Yorker rescues boy”.

”Saya bukan orang New York”, jawab sang hero kepada reporter tadi.

”Oh, kalau begitu kami akan mengubah judul headline nya menjadi – Brave American rescues boy from savage dog”.

”Saya juga bukan orang Amerika juga”, jawab sang pahlawan menampik lagi.

”Lalu darimanakah sebenarnya Anda ini?”, tanya reporter.

”Saya seorang Pakistan”, jawab sang hero.

”Hmmm...kalau begitu headline koran New York Times besok akan berjudul: Moslem Fundamentalist strangles dog to death in New York park. FBI investigating possible link to al-Qaeda”. [undzurilaina]