Thursday, January 27, 2011

Lima Rezim Arab Terancam Runtuh Menyusul Tunisia

Majalah Foreign Policy dalam laporannya (26/1) membahas kondisi lima negara Arab yang diperkirakan akan menghadapi gelombang protes massif pasca tumbangya rezim diktator Tunisia pimpinan Zine Al-Abidine Ben Ali.
Mesir, Aljazair, Libya, dan Jordania merupakan lima negara yang dinilai sangat rentan terhadap protes rakyatnya dan terancam runtuh.

Rezim Bouteflika, AlJazair

Menurut Foreign Policy, Abdul Aziz Bouteflika, telah menjabat sebagai Presiden Aljazair sejak tahun 1999 dan pada tahun 2009, ia mengubah konstitusi sehingga ia dapat mempertahankan jabatannya untuk periode ketiga. Partai-partai oposisi Aljazair memboikot pemilu tersebut.

Saat ini Bouteflika yang telah menginjak usia 73 tahun dikabarkan sudah sakit-sakitan dan saudaranya menyatakan siap untuk menggantikan posisinya.

Bouteflika mampu mengakhiri perang saudara di Aljazair yang berlangsung selama 10 tahun dan mampu meningkatkan hubungan negaranya dengan kekuatan di Afrika dan Eropa. Namun ia gagal dalam memberantas kelompok separatis yang berafiliasi dengan AlQaeda. Ia juga tidak berhasil mencegah pengeroposan lembaga-lembaga demokratis di negaranya.

Pada bulan Januari, Aljazair menyaksikan aksi demonstrasi luas sama dengan yang terjadi di Tunisia. Warga memprotes meningkatnya harga komoditi dan juga krisis pengangguran. Demo warga makin meningkat setelah pemerintah menetapkan kenaikan harga susu, gula, dan tepung. Selain itu, sudah lama rakyat Aljazair mengeluhkan ketidakadilan distribusi kekayaan negara.

Tak ayal ribuan pemuda Aljazair turun ke jalan-jalan dan bentrok dengan aparat polisi. Bahkan sebuah pos polisi dibakar massa.

Menurut Foreign Policy, meski rezim Bouteflika tidak demokratis, namun kondisinya tidak separah rezim Ben Ali di Tunisia. Oleh karena itu, kondisi saat ini masih sulit bagi kelompok oposisi untuk menggulingakan rezim berkuasa. Selain itu, serikat-serikat buruh dan kelompok-kelompok oposisi Aljazair tampak sungkan mendukung demonstrasi warga.

Rezim Mubarak, Mesir

Foreign Policy menganalisa kondisi saat ini akan menggiring Mesir menuju jurang sama yang dihadapi rezim Ben Ali di Tunisia. Sudah selama tiga dekade rezim Hosni Mubarak, berkuasa di Mesir. Karena seluruh undang-undang terkait kondisi darurat negara ini memberikan keleluasaan kepada Mubarak untuk mengotak-atik pelaksanaan pemilu secara arbitrer.

Namun saat ini, rezim Mubarak tengah tergelincir. Firaun berusia 82 tahun itu menghadapi berbagai masalah kesehatan. Di sisi lain, persaingan antara Gamal Mubarak, putra Presiden Mesir, dan Omar Sulaiman, Ketua Dinas Rahasia Mesir, juga semakin menguat.

Akan tetapi kondisi saat ini sangat tidak menguntungkan bagi rezim berkuasa. Masalah keadilan sosial, pengangguran, dan kenaikan harga komoditi, lagi-lagi menjadi pemicu gelombang unjuk rasa di Mesir. Terinspirasi dari aksi bunuh diri yang di Tunisia yang memantik revolusi, hingga kini tiga warga Mesir tewas dengan cara membakar diri.

Protes yang digelar secara nasional di Mesir yang dijuluki "Hari Kemarahan" itu telah menjadi momok bagi rezim Mubarak. Betapa tidak, meski telah dilarang dan diaman hukuman, masyarakat enggan menghentikan aksi protes dan menuntut lengsernya rezim ala-Firaun Mubarak.

Rezim Renta Ghadafi, Libya

Setelah membahas Aljazair dan Mesir, Foreign Policy menyinggung kondisi di Libya. Era pemerintahan Moammar Ghadafi dinilai telah melebihi usia kekuasaan seluruh pemerintahan di dunia saat ini. Ia berkuasa di Libya pada tahun 1969, melalui sebuah kudeta militer.

Di bawah kekuasaannya, Libya menjadi salah satu negara terbesar pelanggar hak asasi manusia dan negara paling tidak demokratis. Di negara ini tidak ada kebebasan media dan dari kelompok oposisi, yang tertinggal hanyalah nama dan kenangan belaka.

Lebih lanjut Foreign Policy menambahkan, meski untuk mendapatkan informasi detail tentang kondisi di Libya sangat sulit, namun sejumlah laporan dan rekaman video menunjukkan bahwa demonstrasi warga di ibukota cukup menjadi bukti tingginya tingkat ketidakpuasan rakyat Libya atas rezim berkuasa. Padahal sebelumnya, protes merupakan kata yang hampir tidak pernah didengar dari Libya.

Untuk mengantisipasi seperti apa yang terjadi di Tunisia, Mesir, dan Aljazair, pemerintah Libya langsung melakukan impor komoditi secara massif dan bahkan mencabut sejumlah batasan.

15 Januari lalu, Ghadafi dalam pidatonya mengecam revolusi di Tunisia. Dalam beberapa pidato, Ghadafi menyebut mantan diktator Tunisia, Zine Al Abidine Ben Ali sebagai saudara dekat.

Kemungkinan Revolusi Sudan

Sudan menjadi negara keempat yang dinilai Foreign Policy berpotensi menghadapi kebangkitan masyarakat. Presiden Sudan, Omar al-Bashir dalam dua dekade pemerintahannya, menjadi "guru besar dalam menebar perpecahan dan berkuasa". Dengan lihai al-Bashir mengadu kelompok-kelompok yang menentangnya dan dalam membasmi segala bentuk ancaman.

15 tahun pertama pemerintahan al Bashir, berlalu dengan perang saudara antara kawasan utara dan selatan negara ini. Memasuki milenium, muncul pemberontakan dari Darfur, dan al-Bashir mempersenjatai sebuah kelompok milisi untuk memerangi para separatisan Darfur.

Wilayah Sudan Selatan saat ini tengah menanti hasil referendum soal pemisahan kawasan itu dari Sudan Utara. Al-Bashir berjanji akan menerima hasi referendum.

Al-ashir yang mampu mengendalikan kondisi di wilayah selatan, tampaknya kini menghadapi kendala baru yaitu kehilangan pendukung secara bertahap. Hasan al-Turabi, ketua partai oposisi pada pidatonya dalam aksi unjuk rasa tanggal 17 Januari lalu menyampaikan pesan kepada al-Bashir dan mengatakan, "Apa yang yang terjadi di Tunisia adalah peringatan. Ini dapat terjadi di Sudan. Jika tidak, maka akan terjadi pertumpahan darah besar-besaran di Sudan."

Al-Bashir dihimpit dua krisis besar saat ini. Pertama jika Sudan Selatan memisahkan diri, maka kondisi negaranya akan semakin sulit mengingat sebagian besar sumber minyak terletak di wilayah selatan. Kedua, di wilayah selatan pun, al-Bashir mulai kehilangan pendukung. Upayanya untuk mengurangi defisit bujet negara dilaukan dengan memotong subsidi bahan bakar dan komoditi utama. Kenaikan harga tersebut yang akhirnya menyeret para mahasiswa berdemonstrasi.

Ratu Jordania Siap-Siap Mengungsi ke Jeddah

Negara kelima yang menurut Foreign Policy diperkirakan akan menghadapi gelombang protes hingga runtuhnya pemerintahan adalah Jordania. Raja Jordania, Abdullah II, merupakan salah satu sekutu utama Amerika Serikat di kawasan dan menjadi "makelar perdamaian" antara Otorita Ramallah di Palestina dan rezim Zionis Israel. Abdullah yang merupakan jebolan Amerika Serikat itu berkuasa di Jordania pasca Perang Dunia II.

Kondisi saat ini di Jordania hampir sama dengan yang dialami di Tunisia dan Mesir. Parlemen baru Jordania hingga kini masih menghadapi krisis pengangguran yang persentasenya mencapai angka dua digit. Selain itu banyak pengamat yang meragukan kelanggengan kekuasaan Abdullah II.

Pada tanggal 16 Januari lalu, sekitar 3.000 warga berdemonstrasi di depan gedung parlemen negara ini dalam rangka memprotes kebijakan ekonomi. Mereka meneriakkan slogan "Jordania bukan hanya untuk orang-orang kaya saja", "Roti adalah garis merah kami, kalian harus memperhatikan kemarahan dan kelaparan kami."

Ratu Jordania menyampaikan pesan melalui internet yang mengimbau warga untuk menjaga ketenangan. Sikap itu direaksi keras oleh warga Jordania, bahkan di antaranya mengimbau keluarga kerajaan untuk menyiapkan rumah di Jeddah, Arab Saudi. Jeddah, adalah kota tujuan mantan diktator Tunisia, Zine al Abidine Ben Ali, setelah tersungkur dari jabatannya. (IRIB/MZ/MF)

Antara SBY dan Arnold Schwarzenenger

Ribut-ribut soal Pak SBY yang curhat tentang gaji presiden yang tidak pernah naik
mengingatkan saya pada sosok Arnold_Schwarzenegger, mantan gubernur California.
Arnold mulai menjabat sebagai gubernur pada bulan November 2003, terpilih kembali di tahun
2006 dan baru saja pensiun bulan Januari ini. Apa yang mengingatkan saya pada bintang film yang film-filmnya selalu laris manis di pasaran ini?
Sama dengan Pak SBY, soal gaji.
Bedanya, Arnold menolak digaji selama dia menjabat sebagai gubernur yang jumlahnya sebesar 175
ribu dollar per tahun.

Bukan hanya tidak digaji, dia juga harus merelakan kehilangan penghasilan dari
bermain film selama dia menjadi gubernur. Dalam wawancara dengan harian Krone
di Vienna, Austria, negara asal Terminator ini minggu lalu, Arnold menyebutkan
bahwa selama menjabat sebagai gubernur dia merugi secara finansial, minimal 200 juta dollar, baik dari gaji gubernur yang tidak pernah dia ambil apalagi dari bayaran bermain film
yang selama ini dia tidak bisa lakoni. Tetapi menurutnya, mengabdi sebagai
gubernur lebih berharga dari jumlah uang sebesar itu.

Mengapa Arnold mau tidak digaji? Mungkin karena dia sudah memiliki kekayaan yang
ditaksir sebesar 200 juta dollar ketika dia meninggalkan Hollywood
tujuh tahun lalu untuk menjadi gubernur negara bagian yang sudah bangkrut ini.
Dengan kekayaan sebesar itu, Arnold merasa yakin bisa hidup tanpa digaji dan menyerahkan gajinya kembali ke kas negara bagian untuk dipakai untuk kepentingan lain. Dia ingin benar-benar mengabdi kepada rumah barunya ini.

California mengalami krisis ekonomi di awal tahun 2000-an. Dimulai dengan jatuhnya harga saham perusahaan-perusahaan internet atau perusahaan dot.com. Setelah mengalami
kejayaan dari tahun 1995, gelembung saham pecah, California terkena imbas yang parah karena lembah silikon atau silicon valley, markas perusahaan-perusahaan ini terletak di California bagian utara. Banyak perusahaan yang bangkrut membuat banyak orang yang
menganggur, bisnis lokal mati dan pemerintah tidak mendapat pemasukan.

Krisis ini disusul dengan krisis listrik tahun 2001. Walaupun warga California harus membayar rekening listrik tiga kali lebih besar dari sebelumnya tetapi tidak ada jaminan pasokan listrik
akan stabil. Setiap hari terjadi pemadaman listrik. Gubernur Gray Davis dianggap lamban dalam menyelesaikan masalah ini. Setelah krisis listrik dapat diatasi, timbul lagi krisis baru, yaitu krisis moral di lingkungan kantor gubernur. Beberapa orang dekat gubernur terbukti menerima dana kampanye (Davis berencana maju lagi dalam pemilu 2002) dari perusahaan yang sebelumnya diberi kontrak dengan nilai yang sudah di-mark-up. Mereka dipecat, tetapi Gubernur Davis selamat, bahkan terpilih lagi menjadi gubernur.

Tetapi hal ini tidak berlangsung lama. Davis harus menghadapi defisit anggaran yang besarnya 38,2 milyar dollar, lebih besar dari gabungan jumlah defisit seluruh negara bagian lain.
Karena defisit, pajak dan tarif pelayanan umum dinaikkan berlipat-lipat membuat rakyat marah. Rakyat tidak mau lagi dipimpin oleh Davis, mereka meminta Davis dilengserkan melalui pemungutan suara yang dikenal dengan nama recall election.
Setelah melalui perjuangan yang panjang, California untuk pertama kalinya mengadakan recall election yang diadakan pada tanggal 7 Oktober 2003. Ada dua pertanyaan yang diajukan, pertama, setuju atau tidak setuju kalau Davis di-recall. Kalau setuju, masuk ke pertanyaan kedua, yaitu siapakah dari empat calon pengganti (salah satunya Arnold) yang dipilih untuk menggantikan Davis.
Hasil election, Davis di-recall oleh rakyat dan Arnold terpilih sebagai gubernur baru.

Beberapa saat setelah dilantik sebagai gubernur, 17 November 2003, Arnold
mengumumkan pembatalan beberapa kebijakan yang diambil oleh Davis yang dirasa memberatkan rakyat. Dia juga mengumumkan tekadnya untuk memotong pengeluaran negara bagian dimulai dari dirinya sendiri dengan cara tidak mau menerima gajinya sebagai gubernur. Janji yang dipegangnya teguh sampai dia pensiun bulan Januari ini.

Saat ini California dipimpin oleh gubernur baru (muka lama) yaitu Jerry Brown, yang pernah menjabat sebagai gubernur negara bagian yang sama dari tahun 1975-1983. Brown menghadapi
masalah yang sama, defisit anggaran, yang besarnya 25,4 milyar dollar.
Siapapun yang menjadi gubernur di Amerika saat ini memang harus menghadapi
masalah defisit anggaran.

Sikap Arnold yang menolak untuk menerima gaji sebagai gubernur menjadi inspirasi
gubernur atau calon gubernur lain. Meg_Whitman, lawan Brown di pemilihan lalu dalam kampanyenya menyatakan akan bekerja tanpa bayaran bila terpilih sebagai gubernur. Jon_Corzine, sewaktu menjadi gubernur New Jersey dari tahun 2006 – 2010 hanya mau digaji sebesar 1 dollar setahun. Phil_Bredesen, gubernur Tennesse periode 2003 – 2011, sama seperti Arnold, bekerja tanpa dibayar. Di tingkat walikota, Michael_Bloomberg di kota New York hanya mau digaji sebesar 1 dollar setahun.

Janet Napolitano (hlswatch.org)

Kalau kesemua nama di atas tidak mau menerima gaji karena mereka adalah
milyuner yang tidak butuh uang tambahan, ada yang menerima gaji
seperti biasa tetapi menolak kenaikan gaji. Janet_Napolitano
ketika menjadi gubernur Arizona dari tahun 2003 – 2008 menolak kenaikan gaji,
sampai sekarang gaji gubernur Arizona (yang dijabat oleh Jan Brewer) hanya
sebesar 95 ribu dollar per tahun, jauh di bawah rata-rata gaji
gubernur Amerika yang besarnya 130 ribu dollar per tahun. Sedangkan rekor gaji
gubernur terrendah dipegang oleh gubernur negara bagian Maine yang dijabat oleh Paul_LePage. Negara bagian ini terakhir menaikkan gaji gubernurnya pada tahun 1987, dari
35 ribu dollar menjadi 70 ribu dollar per tahun. Sampai sekarang, setelah 23
tahun, jumlah itu tidak bertambah.

Kembali ke soal curhat Pak SBY soal gaji yang tidak pernah naik. Tulisan ini tidak
untuk menganjurkan Pak SBY untuk tidak menerima gaji seperti yang pernah
dilakukan oleh Arnold Schwarzenneger. Juga tidak untuk meniru Michael Bloomberg
yang hanya mau digaji 1 dollar saja per tahun. Maksud dari tulisan ini adalah
memberikan gambaran kalau ada pejabat seperti gubernur Janet Napolitano yang
tidak pernah curhat soal gaji bahkan menolak ketika gajinya akan dinaikkan. Ada juga orang seperti LePage yang mau menjadi gubernur dengan gaji yang sangat kecil kalau
dibandingkan dengan gaji seluruh gubernur lain.

Napolitano pastilah sudah tahu jumlah gaji yang akan diterima sebelum dia maju dalam
pemilihan gubernur. Karena itu selama menjabat dia tidak pernah mengeluh,
bahkan membuktikan kalau dengan gaji sebesar itu dia bisa hidup nyaman jadi
tidak perlu mendapat tambahan gaji. Demikian juga LePage, pasti dia sudah tahu
berapa gaji seorang gubernur negara bagian Maine. Saya percaya LePage nantinya tidak
akan mengeluh soal gaji yang kecil itu karena kalau dia menganggap gaji
gubernur tidak akan cukup menghidupi keluarganya tentulah dia tidak akan maju
dalam pemilihan gubernur lalu.

Saya yakin Pak SBY dulu waktu maju dalam pemilu presiden sudah tahu berapa gaji dan
tunjangan seorang presiden RI. Kalau memang merasa gaji dan fasilitas yang
didapat dirasa tidak cukup sebaiknya tahun 2009 lalu tidak lagi mencalonkan
diri sebagai presiden. Tetapi tidak apalah, walaupun sudah terlanjur menjabat
di periode kedua ini, masih belum terlambat sebenarnya. Masih bisa mengundurkan
diri untuk mencari pekerjaan lain yang dapat memberikan penghasilan yang lebih
memuaskan. Sebenarnya merupakan suatu kehormatan bagi rakyat Indonesia
seandainya bisa memberikan yang terbaik bagi presiden mereka termasuk menaikkan
gaji dan tunjangan, tetapi sayang sampai saat ini rakyat masih belum mampu
melakukan itu.

Maafkan kami, Pak SBY, semoga lekas mendapat pekerjaan baru…[]
sumber:
http://politik.kompasiana.com/2011/01/22/antara-sby-dan-arnold-schwarzenneger/

Keluarga Mubarak Lari ke Inggris

Menyusul aksi protes dan kegeraman masyarakat yang semakin meluas terhadap pemerintahan Presiden Mesir Hosni Mubarak, berbagai laporan menyebutkan bahwa para anggota keluarga Mubarak memutuskan untuk segera melarikan diri.
INN mengutip keterangan International Bussiness Times (26/1) melaporkan, sejumlah laporan menyebutkan bahwa Susan Mubarak, istri Presiden Mesir, telah meninggalkan negaranya menuju London.

Berdasarkan laporan tersebut, para pegawai bandara internasional Heathrow , London, asal Mesir, langsung mengenali istri Mubarak. Pada saat yang sama, koran Times terbitan New Delhi dalam edisi terbarunya (26/1), juga menurunkan laporan bahwa Gamal Mubarak, putra Presiden Mesir, yang menurut rencana akan menggantikan jabatan ayahnya itu, telah meninggalkan Kairo menuju London.

Dalam beberapa bulan terakhir, warga Mesir menggelar aksi protes terhadap rezim Mubarak.
Pekan lalu, seorang warga Mesir nekat membakar dirinya di depan gedung parlemen negara ini dalam rangka memprotes kondisi saat ini. Aksi bakar diri itu terinspirasi dari aksi serupa di Tunisia yang akhirnya mampu menyulut revolusi yang berhasil menumbangkan rezim berkuasa di negeri itu. (IRIB/MZ/SL)

Friday, November 19, 2010

Fokus pada Kekuatan

Eksekutif yang efektif tidak pernah bertanya, “Apakah dia cocok dengan saya?”. Mereka tidak pula pernah bertanya, “Apa yang TIDAK dapat dilakukannya?”. Pertanyaan mereka selalu “Apa yang DAPAT dia lakukan dengan luar biasa baik?”. Demikian Peter Drucker mendefinisikan salah satu karakteristik eksekutif yang efektif.

Fokus pada kekuatan, bukan pada kelemahannya, merupakan prinsip yang sangat logis karena kita tidak bisa berharap manusia bisa hebat dalam segala bidang. Tentunya dengan mengecualikan beberapa gelintir Superman. Realitas menunjukkan bahwa seseorang hanya dapat unggul pada bidang-bidang yang sangat sedikit saja. Walaupun tentunya kita mungkin sering berjumpa dengan orang-orang yang punya banyak minat. Einstein, Da Vinci, Goethe, Napoleon, dan banyak tokoh lain yang berhasil memajang namanya di berbagai Ensiklopedia orang hebat itu hanya gilang-gemilang di bidang-bidang tertentu saja yang mereka memiliki kekuatan disana. Walaupun kalau kita baca-baca, ternyata mereka juga punya berlimpah minat di bidang-bidang yang lain. So you better don’t cross your finger on it!

Tuntutan terhadap kinerja mestinya juga bersandar pada kekuatan. Karena jika tidak itu sama saja kita sejak awal telah memberi alasan bagi seseorang untuk tidak bekerja dengan baik. Sebelum memberikan tuntutan kinerja tertentu, semestinya seorang pimpinan sudah terlebih dahulu memastikan bahwa orang yang diberi tugas tersebut memang memiliki kekuatan yang mendukung untuk melakukannya.

Setiap orang memiliki kekuatan dan kelemahan. Kita tentu tidak dapat hanya mengambil kekuatan kaki seorang sprinter, ketajaman mata seorang sniper, atau kecerdikan strategi si grand master saja. Melainkan kita juga harus menerima keseluruhan anggota badan dari mereka secara lengkap. Lengkap dengan kekuatan dan kelemahannya. Adanya organisasi seharusnya ditujukan untuk meramu dan mengorkestrasikan kekuatan-kekuatan yang dimiliki oleh para personilnya, sembari berusaha menetralisir kelemahan-kelemahannya dan menjadikannya tidak berbahaya. Organisasi dan penempatan personil yang baik dirancang sedemikian sehingga hanya kekuatan-kekuatanlah yang relevan.

Seorang programmer kelas wahid –misalnya— yang banyak menghasilkan software-software hebat sendirian, mungkin akan sangat terhambat oleh ketidak-mampuannya untuk bekerja sama dengan orang lain. Tetapi dalam sebuah organisasi, orang seperti itu yang biasanya lebih langka dapat ditempatkan–misalnya— di sebuah pos sendiri yang terlindung dari “kontak langsung” dengan orang lain. Seorang pimpinan yang baik seharusnya mengerti betul bahwa tugasnya lah untuk membuat programmer hebat tadi dapat membuat software-software terbaik untuk organisasinya dan tidak berangan-angan tentang kemampuannya untuk bekerja-sama dengan orang-orang lain. Dia tidak akan menunjuk programmer tadi sebagai manajer. Karena disisi lainnya ada personil-personil yang memiiliki kekuatan dalam –misalnya—komunikasi dan leadership yang dibutuhkan oleh seorang manajer. Intinya, organisasi semestinya dapat membuat kekuatannya efektif dan kelemahannya menjadi tidak relevan.

Oleh karena itu apa yang bisa dilakukan oleh programmer tadi – dan “orang-orang kuat” lainya dalam organisasi— itulah yang penting bagi sebuah organisasi. Apa yang tidak dapat dia lakukan adalah sebuah keterbatasan dan tidak lebih dari itu. Bahkan umumnya jika kita mencari orang yang “paling sedikit kekurangannya”, maka biasanya yang kita akan dapatkan adalah orang yang biasa-biasa saja. Setuju? [undzurilaina/www.ivitc.com]

Wednesday, November 3, 2010

Demi Waktu

Demi Waktu; Sesungguhnya manusia benar-benar di dalam kerugian.

Sebagian mufassir berpendapat bahwa jika sesuatu itu dijadikan sebagai obyek sumpah oleh Allah, maka pastilah sesuatu itu adalah sesuatu yang agung nan dahsyat nilainya. Dalam ayat yang dikutip di atas, Allah bersumpah dengan waktu. Sehingga dengan demikian berarti waktu adalah sesuatu yang besar nilainya dan perlu dengan sungguh-sungguh diperhatikan, kalau tidak maka pastilah manusia akan berada di dalam kerugian.

Batas pencapaian maksimal dari sebuah pekerjaan ditentukan oleh sumber daya (resources) yang paling terbatas. Untuk melakukan suatu pekerjaan kita bisa butuh orang yang mengerjakan, butuh biaya untuk mendanainya, mungkin juga butuh material2 tertentu, dan tentunya membutuhkan waktu untuk mengerjakannya. Diantara sumber daya tersebut, WAKTU adalah sumber daya yang paling terbatas.

Loh?! Memangnya mendapatkan orang itu mudah? Terus, uang? Kata orang tidak ada uang tidak ada bisnis. Malah ada pepatah barat yang menyejajarkan uang dengan waktu, time is money. Nah loh?!

Ya, memang tidak dapat dipungkiri faktor manusia adalah sumber daya penting yang seringkali langka dan susah dicari. Uang itu gizi, kurang uang maka hasilnya (kalau berhasil) juga jadi kurang gizi. Ya, memang semua sumber daya itu seringkali tidak mudah didapatkan. Tapi bukan berarti tidak dapat diusahakan. Orang bisa dicari dan uang masih bisa diusahakan. Tapi tidak dengan WAKTU.

WAKTU bersifat tetap, saklek, tidak elastis, tidak bisa ditambah atau dikurangi. Orang sibuk dan pengangguran sama2 punya modal waktu 24 jam sehari. Presiden Bank Dunia atau Donald Trumph –misalnya—tidak bisa memiliki privilege untuk membeli waktu tambahan. Pak Surip yang pekerjaannya ambil sampah hanya di pagi hari juga punya waktu 24 jam sehari, tidak ada discount. Tidak ada injury time. Pada waktu tidak berlaku hukum supply and demand. Waktu terus melaju, tidak bisa disimpan untuk digunakan lagi nanti. Waktu kemarin telah sirna untuk selamanya dan tak akan pernah kembali. Waktu itu ibarat pedang. Jika kita tidak memotongnya, maka dia yang akan memotongmu.

Segala sesuatu butuh waktu. Semua pekerjaan berlangsung di dalam waktu dan menyita waktu. Namun, kebanyakan orang (termasuk saya) seringkali tidak mempersoalkan sumber daya yang unik, tak tergantikan dan penting ini. Orang juga mudah kehilangan kepekaan terhadap waktu.

Ada sebuah eksperimen psikologi yang menarik. Bahwa orang yang tersekap dalam ruangan tanpa bisa melihat terang gelapnya hari di luar akan dengan segera kehilangan kepekaannya terhadap waktu. Dalam gelap gulita sekalipun, kebanyakan orang masih dapat mempertahankan kepekaan ruang. Namun sekalipun dengan lampu tetap benderang, beberapa jam di dalam ruangan tertutup membuat kebanyakan orang tak mampu memperkirakan berapa banyak waktu yang telah berlalu. Mereka hanya bisa merasakan bahwa waktu yang sudah dilewatkan dalam ruangan itu terlalu lama atau terlalu sebentar. Oleh karenanya, jika hanya bersandar pada ingatan, kita tidak tahu seberapa banyak waktu yang sudah dilalui.

Sewaktu menulis catatan ini, tiba-tiba meluncur pertanyaan di kepala saya, kemana perginya waktu-waktu saya? Kemana? Kemana? Fa aina tadzhabuun?
Duh..Benar, saya sudah lupa sebagian besar perginya waktu-waktu saya. Aktifitas-aktifitas yang saya ingat ternyata jika dihitung hanya menyedot sebagian kecil dari waktu-waktu saya. Sisanya tersebar menjadi fragmen-fragmen tak penting yang jika dikumpulkan saya yakin akan berada di peringkat teratas penyedot waktu-waktu saya.

Duh Gusti..aku bahkan tidak kenal waktuku sendiri.
Kalau aku tak ingat waktuku,
bagaimana mungkin aku ingat “Bala Syahidna” terhadap “alastu bi rabbikum”?
Kalau aku tak kenal waktuku,
bagaimana mungkin aku dapat mengenal diriku?
Kalau aku tak kenal diriku,
bagaimana mungkin aku mengenal Engkau?
Oh..Maha Benar Qaul-Mu, sungguh aku benar-benar dalam kerugian.
Oh..Pemeliharaku, bimbinglah aku dalam menjalani waktuku.
Oh..Sandaranku, jangan biarkan aku sendiri walau sesaatpun.

La ilaaha illa Anta, subhanaKa, inni kuntu mina adz-dzalimiin.

Monday, September 27, 2010

The Grand Design of Hawking

Why is there something rather than nothing?
Why do we exist?
Why this particular set of laws and not some other?


Manusia adalah spesies yang selalu penasaran. Begitulah Hawking mengawali buku teranyarnya ini dengan mengajak pembacanya untuk berfikir mengenai misteri keberadaan kehidupan. Bahwa manusia perlu memahami alam semesta (universe) sampai tingkatan yang paling dalam. Bahwa kita perlu mengetahui tidak hanya BAGAIMANA perilaku alam semesta, tapi juga pertanyaan2 “MENGAPA”. Mengapa sesuatu itu ada. Mengapa kita ada. Mengapa yang berlaku adalah hukum-hukum tertentu bukan hukum lainnya. Pada bagian awal bukunya ini, Hawking menyampaikan hipotesisnya bahwa penciptaan alam semesta ini tidak membutuhkan intervensi dari sesuatu yang supernatural atau Tuhan. Namun, alam semesta ini tercipta secara natural melalui hukum fisika. Ini merupakan prediksi dari sains.

Lalu kalau memang benar Alam semesta ini tercipta, diatur dan dikelola oleh hukum-hukum, maka kemudian timbul pertanyaan:
1. Apakah asal mula dari hukum-hukum tersebut?
2. Apakah ada pengecualian-pengecualian dalam hukum tersebut (misal: keajaiban-keajaiban)?
3. Apakah hukum-hukum tersebut tunggal/unik atau bisa banyak?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut dijawab secara beragam oleh para ilmuwan, filosof, sampai dengan teolog. Jawaban yang umum diberikan untuk pertanyaan pertama (antara lain oleh Kepler, Galileo, Descartes, dan Newton) adalah bahwa hukum-hukum tersebut merupakan hasil karya Tuhan. Namun demikian, hal ini bisa diartikan bahwa Tuhan tak lain adalah perwujudan dari hukum-hukum alam. Menurut Hawking, jika kita melibatkan Tuhan sebagai jawaban pertanyaan pertama, maka akan muncul masalah pada pertanyaan kedua: Apakah ada keajaiban atau pengecualian-pengecualian terhadap hukum-hukum tsb?

Beragam pendapat pun bermunculan untuk menjawab pertanyaan kedua ini. Plato dan Aristoteles berpendapat bahwa tidak akan ada pengecualian pada hukum-hukum ini. Sedangkan jika kita menengok ke kitab suci, maka kita akan mengetahui bahwa Tuhan tidak hanya menciptakan hukum-hukum tapi juga dapat dirayu oleh para pendoa untuk membuat pengecualian-pengecualian. Hampir semua pemikir Kristen –lanjutnya—meyakini bahwa Tuhan pasti dapat menghentikan hukum-hukum tersebut untuk menciptakan keajaiban. Bahkan sekaliber Newton juga mempercayai adanya beberapa jenis keajaiban tertentu, seperti bahwa Tuhan harus mengintervensi dan melakukan reset terhadap orbit planet-planet, karena kalau tidak planet-planet akan jatuh ke matahari atau terlempar keluar dari tata surya. Pendapat Newton ini kemudian ditentang oleh Laplace bahwa sistem tata surya ini dapat melakukan reset sendiri, tanpa intervensi Tuhan sehingga bisa tetap ada hingga saat ini.

Laplace merupakan tokoh yang umum dikenal sebagai pengusung pertama postulat determinisme sains, bahwa jika diberikan kondisi alam semesta pada suatu waktu tertentu, maka sepaket lengkap hukum-hukum yang akan mengatur sepenuhnya masa lalu dan masa depannya. Hal ini menepis kemungkinan adanya keajaiban atau peran aktif dari Tuhan. Determinisme sains yang diformulasikan oleh Laplace inilah jawaban saintis modern terhadap pertanyaan kedua. Prinisip ini merupakan basis dari semua hukum sains modern, dan merupakan prinsip penting yang digunakan dalam buku Hawking ini. Bahwa hukum sains tidak lagi dapat disebut sebagai sebuah hukum sains jika hanya berlaku ketika suatu yang Supernatural memutuskan untuk tidak mengintervensi.

Kembali ke pertanyaan-pertanyaan “MENGAPA” yang ada di pembuka tulisan ini, sebagian orang akan mengklaim bahwa jawaban dari pertanyaan tersebut adalah karena adanya Tuhan yang memutuskan untuk menciptakan alam semesta seperti ini. Namun jika kita menjawab demikian, maka pertanyaan yang muncul berikutnya adalah “Siapa yang menciptakan Tuhan”. Jawaban yang dapat diterima umumnya adalah bahwa beberapa entitas ada tanpa membutuhkan pencipta, dan entitas itulah yang disebut Tuhan (first-cause argument). Kami mengklaim, lanjut Hawking, bahwa menurut kami adalah mungkin untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut murni di dalam lingkup sains, dan tanpa melibatkan sesuatu yang Supernatural atau Tuhan.

Alam semesta dan kehidupan ini bersifat deterministik, sekali Anda men-setup konfigurasi atau kondisi awal, maka selanjutnya hukum-hukumlah yang akan menentukan apa yang akan terjadi di masa depan. That’s all there is to it: Given any initial condition, these laws generate generation after generation.

Jika total energi alam semesta ini harus selalu NOL, sementara di sisi lain dibutuhkan energi pada setiap penciptaan sebuah obyek, maka bagaimana alam semesta secara keseluruhan dapat diciptakan dari ketiadaan? Itulah mengapa ada hukum seperti Gravitasi. Sebab gravitasi bersifat atraktif, dan energi gravitasi bernilai negatif. Energi negatif ini dapat menyeimbangkan energi positif yang dibutuhkan untuk menciptakan sesuatu. Walaupun sebenarnya tidak sesederhana ini.

Energi negatif gravitasi dari bumi, misalnya, bernilai kurang dari sepermilyar dari energi positif dari partikel materi penyusun bumi. Suatu obyek seperti sebuah bintang akan memiliki lebih banyak energi negatif grafitasi, dan semakin kecil ia (semakin dekat jarak antar unsur-unsurnya), semakin besar energi gravitasi negatifnya. Tapi sebelum ia menjadi lebih besar dari energi positifnya, bintang tersebut akan musnah ke dalam sebuah lubang hitam (black hole), dan lubang hitam tersebut memiliki energi positif. Inilah sebabnya mengapa ruang hampa itu stabil.

Obyek-obyek seperti bintang-bintang ataupun lubang hitam tidak dapat tiba-tiba muncul dari ketiadaan. Tapi tidak demikian halnya dengan alam semesta secara keseluruhan. Alam semesta secara keseluruhan dapat muncul tiba-tiba dari ketiadaan. Karena Gravitasi membentuk ruang dan waktu, dan ia memungkinkan ruang-waktu menjadi stabil secara lokal namun tidak stabil secara global. Pada skala alam semesta secara keseluruhan, energi positif dari materi dapat diseimbangkan dengan energi negatif gravitasinya, dan dengan demikian tidak ada penghalang bagi terciptanya keseluruhan alam semesta.

Oleh karena adanya hukum seperti gravitasi inilah, menurut Hawking alam semesta dapat menciptakan dirinya sendiri dari ketiadaan. Penciptaan yang spontan ini adalah alasan adanya sesuatu dibanding ketiadaan, mengapa alam semesta ada, mengapa kita ada. Tidak perlu untuk melibatkan Tuhan untuk menciptakan dan mengatur alam semesta ini.

Dalam buku ini, Hawking juga menjelaskan bahwa hukum ini harus memiliki apa yang disebut dengan supersimetri antar kekuatan-kekuatan alam dan sesuatu dimana mereka beraksi. Dan Hawking mengklaim teori yang yang dirumuskannya ini (M-Theory) adalah teori gravitasi yang paling supersimetri. Dan oleh karenanya, M-Theory ini merupakan satu-satunya kandidat dari sebuah paket lengkap teori dari alam semesta ini. Jika teori ini finite –dan ini masih harus dibuktikan—maka ia akan menjadi model dari sebuah alam semesta yang menciptakan dirinya sendiri. Dan kita –kata Hawking—harus menjadi bagian dari alam semesta ini, karena tidak ada model yang konsisten selainnya.

Itu menurut Hawking. Bagaimana menurut Anda? [undzurilaina]

Saturday, August 21, 2010

Performance vs Position

A Priest dies and is awaiting his turn in line at the Heaven's Gates.
Ahead of him is a guy, fashionably dressed, in dark sun glasses, a loud shirt, leather jacket and jeans..

God asks him: Please tell me who are you, so that I may know whether to admit you into the kingdom of Heaven or not?

The guy replies: I am Pandi, Auto driver from Chennai!

God consults his ledger, smiles and says to Pandi: Please take this silken robe and gold scarf and enter the Kingdom of Heaven.

Now it is the priest's turn.
He stands erect and speaks out in a booming voice: I am Pope's Assistant so so, Head Priest of the so so Church for the last 40 years.

God consults his ledger and says to the Priest: Please take this cotton robe and enter the Kingdom of Heaven.

“Just a minute,” says the agonized Priest. “How is it that a foul mouthed, rush driving Auto Driver is given a Silken robe and a Golden scarf; and me, a Priest, who's spent his whole life preaching your Name and goodness has to make do with a Cotton robe?!”

“Results my friend, results,” shrugs God..
“While you preached, people SLEPT; but when he drove his Auto, people really PRAYED”

It's PERFORMANCE and not POSITION that ultimately counts.

Saturday, August 7, 2010

Lautan Framework Sistem Manajemen Kinerja

Dogbert: “You’ve got to implement a six sigma program or else you’re doomed”

Dilbert’s boss: “Aren’t you the same consultant who sold us the worthless TQM program a few years ago?”

Dogbert: “I assure you that this program has a totally, totally different name”

Dilbert’s boss: “When can we start?”

Percakapan Dogbert dan boss nya Dilbert di atas mungkin mewakili kebingungan banyak kalangan dari mulai pemilik bisnis, manajemen, sampai dengan staf. Mereka tahu bahwa Sistem Manajemen Kinerja itu penting dan diperlukan buat organisasinya. Tapi mereka bingung begitu banyak framework yang ditawarkan, begitu banyak yang populer dengan masing-masing menonjolkan kekuatan dan kisah suksesnya. Konsultan ataupun marketing yang sama dapat menawarkan framework yang berbeda-beda kepada klien yang sama. Pertanyaan mana yang lebih baik, mana yang lebih cocok, apa bedanya yang satu dengan yang lainnya, seringkali tidak mendapatkan jawaban yang memadai apalagi memuaskan.

Sebenarnya bagaimana sih?

Kesuksesan sebuah organisasi dalam mencapai visi yang dicita-citakan sangat dipengaruhi oleh strategi bisnis yang ditetapkan. Penetapan visi dan strategi organisai yang tepat dan jelas tak dapat dipungkiri merupakan sebuah kunci sukses sebuah organisasi. Namun demikian memiliki strategi yang tepat dan jelas saja tidaklah cukup. Kemampuan organisasi untuk mengeksekusi strategi tersebut adalah hal yang justru lebih penting dibanding strategi itu sendiri. Sistem yang didesain untuk mengelola eksekusi strategi organisasi, yang mengelola transformasi dari rencana menjadi hasil, disebut juga Sistem Manajemen Kinerja. Mengenai pengertian kinerja bisa dirujuk ke tulisan saya sebelumnya di sini.

Mengingat pentingnya Sistem Manajemen Kinerja ini, maka banyak kerangka kerja (framework) dengan berbagai pendekatan coba didesain untuk membantu organisasi dalam mengelola pengeksekusian strateginya secara optimal. Beragam pendekatan digunakan untuk mendesain kerangka kerja tersebut, yang kurang lebih dapat dikelompokkan ke dalam kategori sebagai berikut:
1. Pendekatan yang dominan berorientasi finansial
2. Pendekatan yang dominan berorientasi proses
3. Pendekatan yang multi-perspektif dengan fokus utama pada keselarasan strategis

Pendekatan yang pertama merupakan pendekatan klasik yang banyak digunakan oleh organisasi dulu, yang intinya bahwa baik/buruknya kinerja sebuah organisasi itu ukurannya adalah kinerja finansialnya. Jika sebuah perusahaan untung besar, maka perusahaan tersebut disebut perusahaan berkinerja bagus. Walaupun mungkin saja pada tahun berikutnya, perusahaan tersebut ambruk.

Oleh karena pendekatan pertama tersebut –walaupun penting—tapi sering miss-leading, antara lain karena kurangnya perhatian pendekatan tersebut terhadap proses yang terjadi dalam pengelolaan organisasi, maka kemudian muncullah framework2 baru yang berorientasi kepada kesempurnaan proses, sebutlah misalnya framework Total Quality Management (TQM) atau Six-Sigma. Para pengusung framework dengan pendekatan ini memiliki premis bahwa jika proses yang berlaku dalam pengelolaan organisasi itu dapat dijaga kualitas dan kinerjanya, maka pada gilirannya kinerja seluruh organisasi akan dapat pula menjadi baik. Walaupun mungkin dalam perjalanannya menuju penyempurnaan proses tersebut, dari perspektif finansial organisasi tersebut tidak bagus.

Dalam perjalanannya pendekatan yang berorientasi pada proses ini juga menuai kritik. Hal ini karena fakta yang didapat bahwa keitka sebuah organisasi terlalu perhatian pada hal detail (proses), seringkali akan kehilangan konteksnya dalam organisasi. Kemudian muncullah framework-framework dengan pendekatan yang ketiga yaitu selain yang berfokus kepada keselarasan strategis organisasi, framework ini juga melengkapi perspektifnya menjadi lebih komprehensif, tidak hanya melihat dari perspektif finansial atau proses saja. Sebutlah framework-framework dalam kelompok ini seperti Balanced Scorecard, Performance Prism, dan sebagainya.

Jadi kalau dilihat dari sejarah perkembangannya, sepertinya framework demi framework tercipta untuk menyempurnakan pendekatan yang digunakan framework-framework sebelumnya. Tapi apakah itu berarti, framework yang datang kemudian itu pasti lebih baik dibandingkan framework yang mendahuluinya?

Menurut saya, Tidak. Menurut saya, masing-masing framework tersebut memiliki kekuatan dan kelemahannya masing-masing. Menurut saya kata kuncinya adalah harmonisasi.
Saya selalu tertarik dengan ide-ide harmonisasi. Sehingga saya mencoba melakukan analisis framework-framework yang ada tersebut untuk coba diharmonisasikan menjadi sebuah framework baru yang komplementer, yang saling melengkapi. Cara ini menurut saya juga dapat menjawab kebingungan sementara kalangan mengenai lautan framework Sistem Manajemen Kinerja yang tersedia di pasaran.

Namun, bagaimana caranya dan bagaimana pula hasilnya? Insya Allah saya akan lanjutkan dalam tulisan-tulisan berikutnya. Semoga bermanfaat.[Umar A/www.ivitc.com]

Tuesday, August 3, 2010

Iklan Menyeramkan

Nafsu makan saya dan istri mendadak hilang ketika melihat sebuah iklan di TV kemarin. Iklan yang –kalau tidak salah—dipersembahkan oleh PMI (karena ada pak JK, ketuanya, muncul disana), IDI (ada ketuanya pula muncul disitu), dan sebuah produk obat anti masuk angin untuk orang “pintar”.
Tentu bukan karena melihat orang2 itu kami kehilangan nafsu makan. Tapi karena melihat beberapa scene “menyeramkan” yang ditampilkan disana. Seperti scene yang menampilkan orang yang terkena kanker mata, muntah darahnya pengidap TBC, bayi hydrocephalus, dsb. Semula saya nggak tahu, sebenarnya ini iklan apa sih. Sampai akhirnya iklan itu ditutup oleh Lula Kamal yang menyampaikan anjuran untuk berobat ke dokter bila sakit. Ohh..?!

Saya lalu bertanya, apa iklan seperti ini efektif dalam menyampaikan pesan kepada para pemirsanya? Apakah iklan seperti ini juga cukup efektif untuk mempengaruhi para penontonnya untuk melakukan tindakan berobat ke dokter.

Malcolm Galdwell dalam bukunya mengungkapkan adanya sebuah penelitian tentang pengaruh “menakut-nakuti” yang dilakukan dilakukan terhadap para mahasiswa senior dari Yale University. Kepada para mahasiswa tersebut dibagikan brosur yang berisi anjuran untuk melakukan vaksinasi anti-tetanus. Hanya saja mereka dibagi dalam beberapa kelompok yang masing-masingnya akan menerima paket brosur yang berbeda dengan kelompok lainnya. Sebagian mahasiswa diberi paket brosur yang “sangat menyeramkan” yang memuat istilah dan gambar-gambar yang dramatis, lengkap dengan foto2 berwarna anak yang kejang tetanus, korban tetanus yang terpaksa pakai kateter untuk buang air kecil, yang dilubangi tenggorokannya, yang dipasang selang di hidungnya, dsb. Sementara kelompok mahasiswa yang lain menerima brosur versi “soft” dimana ia menerangkan risiko2 tetanus secara lebih tersamar dan bahkan tanpa gambar2.

Howard Levanthal, sang pakar psikologi yang melakukan penelitian ini, ingin mengetahui seberapa jauh sebenarnya dampak dari brosur2 tersebut terhadap perilaku mahasiswa tersebut terhadap tetanus, dan –yang lebih penting—terhadap kesediaan mereka untuk divaksinasi.

Seperti diduga, memang benar bahwa kelompok mahasiswa yang mendapatkan brosur “menyeramkan” lebih memilki pemahaman dan kesadaran tentang bahayanya tetanus dibandingkan dengan kelompok mahasiswa lainnya. Namun fakta itu menjadi tidak bermakna ketika ia tidak memiliki relevansi dengan kesadaran dari kelompok tersebut untuk pergi melakukan vaksinasi.

Ternyata penelitian tersebut menunjukkan bahwa proporsi jumlah mahasiswa yang melakukan vaksinasi dari kelompok brosur “menyeramkan” dan brosur “soft” sama saja. Artinya tanpa ditakut2i dengan gambar2 yang dramatis itu sebenarnya para mahasiswa sudah tahu dan sadar mengenai bahaya tetanus, dan apa yang harus mereka perbuat. Jadi dampak dari cara komunikasi menakut2i tersebut hanya berbeda sampai dengan tingkatan pemahaman (atau ngeh kata orang jawa). Tapi pada tingkatan amal real nya ia tidak memiliki relevansi alias sama saja dengan yang diberitahu dengan cara “soft”.
Itu salah satu kesimpulan Levanthal dalam penelitiannya kali ini.

Saya kemudian ingat, waktu kecil dulu saya sering membaca buku2 cerita yang menceritakan neraka dengan berbagai kisah menyeramkannya. Ada orang yang diseterika punggungnya, ada yang dipotong lidahnya, ada yang disuruh memakan –maaf— darah/nanah, ada yang ditusuk duburnya, dan hal-hal mengerikan lainnya lengkap dengan gambar visualisasi dan efek2 menyeramkan lainnya. Begitu juga guru2 di TK dan SD saya dulu juga menegaskan informasi yang sama secara verbal.

Tapi saya tidak melihat cara yang sama pada metode pendidikan yang diterapkan pada sekolah anak2 saya, setidaknya hingga saat ini. Setahu saya, metode pendidikan sekarang berusaha sebisa mungkin menghindari cara menakut-nakuti anak didik dalam menjelaskan sesuatu atau memberikan persuasi anak untuk melakukan sesuatu.

Dorothy Law, seorang ahli psikologi komunikasi, mengatakan bahwa anak belajar dari kehidupan di lingkungannya. Katanya ketika anak dibesarkan dengan cemoohan, ia akan belajar rendah diri. Ketika anak dibesarkan dengan pujian, dia akan belajar menghargai. Jika anak dibesarkan dengan celaan, dia akan belajar memaki. Jika anak dibesarkan dengan ancaman, maka dia akan belajar mengancam. Jika anak dibesarkan dengan cinta dan kasih sayang, maka ia akan belajar untuk menemukan dan mencintai.

Mungkin ini yang dijadikan dasar oleh pendidikan modern untuk lebih banyak menggunakan pendekatan Cinta-Nya ketimbang menakut2i dengan Murka dan Ancaman Siksa-Nya? Bahwa Allah SWT itu memiliki kasih sayang yang meliputi segala sesuatu. Bahwa dari Allah hanyalah kebaikan dan karunia. Bahwa –seperti yang dilantunkan oleh Imam Ali bin Abi Thalib (salam atasnya) dalam salah satu doanya—kalau bukan karena keputusan dan sumpah-Nya untuk menyiksa orang yang ingkar, tentu Dia akan menjadikan api seluruhnya sejuk dan damai, dan tidak akan ada lagi disitu tempat tinggal dan menetap bagi siapapun.

Tapi memang menerapkan metode seperti ini tidaklah mudah. Terutama bagi orang tua (termasuk saya tentunya) dan guru2 masa kini (gurunya manusia menurut istilah Pak Munif Chatib) yang merupakan produk lama pendidikan yang banyak berjejal konten2 menyeramkan.

Jadi kepada PMI, IDI dan obat untuk orang “pintar”, ternyata --menurut penelitian-- cara yang Anda gunakan untuk iklan berobat ke dokter dengan cara menakut2i itu tidak efektif jika ditujukan untuk mempengaruhi orang (apalagi orang “pintar”) untuk berobat ke dokter bila sakit. Kecuali kalau memang iklan itu ditujukan untuk mengurangi nafsu makan pemirsanya. Hmm..

Tuesday, July 27, 2010

Seputar Gelengan dan Anggukan

Anggukan dan gelengan merupakan sebuah gerakan kepala ke atas-bawah dan ke kanan-kiri. Pada umumnya gerakan tersebut merupakan ekspresi persetujuan dan penolakan terhadap sesuatu. Jika kita ditanya, kapan Anda akan menganggukkan kepala? Maka jawabannya adalah ketika kita setuju terhadap sesuatu yang disampaikan oleh lawan bicara kita. Dan akan menjawab ketika kita menolak terhadap sesuatu yang disampaikan oleh lawan bicara kita, jika kita ditanya kapan Anda akan menggelengkan kepala?

Setuju? (please dua pertanyaan diatas jangan dijawab dengan ketika kita senam pagi..hehe)

Tapi tahukah kita bahwa gerakan kita (anggukan/gelengan, senyuman manis/kecut, dll) itu dapat berpengaruh kepada pendapat kita mengenai apa yang kita dengarkan atau kita lihat dari sumber/penyampai informasi?

Ada sebuah penelitian menarik mengenai hal ini pernah dilakukan oleh sebuah perusahaan pembuat headphone berteknologi canggih. Penelitian dengan tajuk studi riset pasar ini dilakukan terhadap segmen mahasiswa yang diberi pengarahan bahwa tujuan riset ini adalah untuk menguji kinerja headphone ini ketika pemakai sedang bergerak seperti menari atau sekedar menggoyang-goyangkan kepalanya.

Semua mahasiswa tadi kemudian mendengarkan lagu-lagu dari Linda Rondstant dan The Eagles, namun setelah itu lagu-lagu tersebut digantikan oleh sebuah ulasan mengenai kenaikan biaya SPP kuliah mereka. Sepertiga diantara mereka diminta mengangguk-anggukan kepalanya ketika mendengarkan ulasan tersebut. Sepertiga lagi diminta menggeleng-gelengkan kepalanya, dan sepertiga sisanya diminta tidak menggerakkan kepalanya.

Setelah selesai, para mahasiswa tadi disodori semacam kuesioner pendek yang menanyakan tentang mutu lagu dan pengaruh gelengan/anggukan kepala terhadapnya. Dan yang paling menarik adalah pertanyaan terakhir dari kuesioner tersebut, yaitu: “Menurut Anda berapakah biaya SPP yang paling tepat untuk mahasiswa S1?”.
Kelompok mahasiswa yang tidak menggerakkan kepalanya, tidak begitu peduli dengan ulasan berita soal SPP. Menurut mereka, seharusnya SPP itu yaa kurang lebih seperti SPP yang sekarang ini.

Sementara kelompok mahasiswa yang diminta menggelengkan kepalanya selama mendengarkan ulasan, mereka menolak keras rencana kenaikan SPP yang disampaikan tersebut. Bahkan mereka minta penurunan biaya SPP tersebut, padahal sebenarnya mereka hanya diminta untuk menguji kualitas headset saja.

Sementara itu kelompok mahasiswa yang diminta mengangguk-anggukan kepalanya, berpendapat bahwa ulasan tersebut sangat persuasif dan logis. Mereka setuju dengan rencana kenaikan SPP walaupun tidak setinggi rencana yang disampaikan pada ulasan tersebut. Artinya mereka setuju terhadap kebijakan yang akan membuat kantong mereka (atau orang tua mereka) dikuras.

Penelitian diatas merupakan salah satu dari sekian penelitian yang menyimpulkan bahwa gerak tubuh dan ekspresi seseorang akan berpengaruh terhadap pendapat lawan bicara/lihatnya. Dalam kasus ini anggukan dan gelengan berpengaruh terhadap persetujuan/penolakan seseorang.

Saya ingat adanya penelitian diatas karena dalam beberapa waktu terakhir ini kebetulan beberapa teman saya sedang sering berurusan dengan beberapa konsultan expatriate asal India. Dimana di India berlaku konvensi yang berkebalikan soal anggukan dan gelengan kepala ini. Menggelengkan kepala di India itu justru merupakan isyarat persetujuan. Dan itu ternyata cukup membuat “benturan peradaban” yang cukup menghambat komunikasi dari beberapa personil lokal yang belum memahaminya di awal.

Salah seorang klien yang punya karakter lugas dan bergenre “suroboyoan” sempat emosi dibuatnya. Dia kesal karena apa yang dia sampaikan selalu ditanggapi dengan gelengan kepala, maka kemudian habislah stok kesabarannya.
Dengan suroboyan english nya dia bilang: “What do you mean with geleng-geleng (sambil memeragakan)?! Sampeyan tuh must understand!!!"

See?! Betapa dahsyatnya pengaruh hanya sekedar anggukan/gelengan kepala.[undzurilaina]