Tuesday, March 19, 2013

Pertahanan 3 Lapis

sumber: Manajemen-TI

To love is to risk not being loved in return. To hope is to risk pain. To try is to risk failure, but risk must be taken because the greatest hazard in life is to risk nothing.”—Anonim

Tidak ada organisasi yang dapat mengklaim dirinya bebas dari segala risiko. Baik organisasi besar maupun kecil. Baik organisasi publik maupun privat, profit maupun non-profit, formal maupun non-formal pastilah memiliki risiko. Bahkan risiko bersifat inheren pada segala sesuatu. Dia bersanding side-by-side dengan value, layaknya dua sisi mata uang yang sama.

Perang Cyber, Amerika Serikat dan Instruksi Obama

sumber: Manajemen-TI (sebelumnya juga dimuat di detikcom)


Sejak dahulu kala, perang digunakan manusia sebagai salah satu cara untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu. Tujuan dan motif perang bermacam-macam. Sejarah membuktikan bahwa teknologi amat mempengaruhi bentuk dan metode dari perang tersebut. 

Thursday, January 24, 2013

Aku Rindu Saudara-Saudaraku..

Suatu malam, menjelang waktu subuh, Rasulullah SAW bermaksud untuk wudhu untuk menunaikan shalat shubuh.
"Apakah ada air untuk wudhu?", beliau bertanya kepada para sahabatnya.

Wednesday, January 2, 2013

Bid’ah dan Maulid Nabi SAW


Segala puji syukur kita haturkan kepada Allah SWT yang telah mengutus Rasul-Nya yang termulia (saw) yang membawa petunjuk yang dengannya dapat menyelamatkan dan memenangkan kita di dunia maupun di Akherat. Tulisan sederhana ini dibuat sama sekali bukan untuk menimbulkan polemik ataupun perdebatan yang kontraproduktif terhadap persaudaraan sesama muslim. Tulisan ini justru dibuat agar terbangun sikap saling menghargai perbedaan pendapat yang ada. Sikap menghargai yang bukan sekedar “basa-basi”, namun terbangun di atas pengetahuan atas argumentasi saudaranya yang berbeda pendapat. Tulisan ini adalah tentang merayakan peringatan hari kelahiran (maulid) insan termulia, Rasulullah SAW.

Friday, November 2, 2012

WA’TASHIMU BI HABLIL-LAHI JAMI’AN ...

 oleh: Haidar Bagir (Dosen ICAS-Paramadina) dan Muhammad Bagir (Penulis dan Penerjemah)
 (dimuat di Republika edisi Jumat/2 November 2012)

Belakangan ini, mungkin karena terdorong oleh semangat yang tinggi untuk mengamalkan Islam, dan menegakkan sunnah Rasulullah, cukup banyak di kalangan umat Islam yang begitu mudah memberikan stempel kafir, syirik, munafik, dan ahli bid'ah kepada orang-orang Muslim lain yang dianggap tidak memiliki pemahaman yang sama dengan mereka. 

Monday, June 11, 2012

Seminar Sehari Prospek Dan Problem Persatuan Islam Indonesia.

Seminar ini diselenggarakan oleh Lembaga Studi Agama dan Budaya Indonesia (LSABI), berlangsung pada Sabtu, 19 Mei 2012 dan bertempat di Hotel Bumi Wiyata Kota Depok Jawa Barat.

Dengan diikuti oleh sekitar lebih dari 250 peserta yang umumnya terdiri dari para utusn berbagai pesantren dan ormas Islam, khususnya dari Jakarta dan Jawa Barat, seminar dimulai pukul 09.00 wib.

Thursday, May 24, 2012

Selamat Datang Islam Indonesia

Beberapa hari lalu telah lahir dan mulai beroperasi sebuah website dengan misi penguatan kerukunan islam dan sinergi muslimin untuk kejayaan Islam dan Muslimin. Website tersebut dapat dikunjungi di www.islam-indonesia.com.
Berikut ini informasi tentang website "Islam Indonesia" tersebut. Selamat Datang, Ahlan wa Sahlan "Islam-Indonesia", salam Ukhuwah dan semoga sukses.

Tentang "Islam Indonesia" (http://islam-indonesia.com/tentang-kami)

Friday, April 27, 2012

Mengapa Tajul Menjadi Tersangka?


Muhammad Ja’far, Pengasuh http://www.TIMUR-TENGAH.COM
SUMBER : KORAN TEMPO, 24 April 2012

Ustad Tajul Muluk, pemimpin sebuah pesantren Syiah di Sampang, Madura, ditetap kan sebagai tersangka dan mulai menjalani persidangan. Tajul dituduh melanggar Pasal 156a jo Pasal 3356 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana tentang penodaan agama dan perbuatan tidak menyenangkan. Keputusan ini sangat membingungkan, mengingat sebenarnya Tajul justru korban sebuah tindakan anarkistis. Saat itu, 29 Desember 2011, pesantren milik Tajul dibakar oleh sekelompok orang. Namun proses hukum justru menghasilkan sebuah kesimpulan yang sebaliknya: menetapkan Tajul sebagai tersangka.

Thursday, March 1, 2012

GERAKAN SALAFI MODERN DI INDONESIA

Sebuah Upaya Membedah Akar Pertumbuhan dan Ide-ide Substansialnya
Oleh :Muhammad Ikhsan*

Pengantar
Indonesia nampaknya memang akan selalu menjadi lahan subur lahir dan tumbuhnya berbagai gerakan Islam dengan berbagai ragamnya; baik yang “hanya sekedar” perpanjangan tangan dari gerakan yang sebelumnya telah ada, ataupun yang dapat dikategorikan sebagai gerakan yang benar-benar baru. Dan sejarah pergerakan Islam Indonesia benar-benar telah menjadi saksi mata terhadap kenyataan itu selama beberapa kurun waktu lamanya. Dan kini, di era modern ini, mata sejarah semakin “dimanjakan” oleh kenyataan itu dengan tumbuhnya aneka gerakan Islam modern yang masing-masing menyimpan keunikannya tersendiri. Jagat pergerakan Islam Indonesia modern tidak hanya diramaikan oleh organisasi semacam Muhammadiyah dan NU, tapi disana ada pemain-pemain baru yang juga secara perlahan –namun pasti- mulai menanamkan pengaruhnya. Mulai dari yang mengandalkan perjuangan politis hingga yang lebih memilih jalur gerakan sosial-kemasyarakatan.

Sengketa Atribut "Salaf"

oleh: Dr. Muhsin Labib.

Ada apa dengan sebutan 'Salafi'? Sebesar apa pengaruh dan manfaatnya? Apakah ‘salaf’ tidak lebih dari sekedar alat justifikasi yang menjamin imunitas dari kritik dan tuduhan ‘sempalan’? Apakah ‘salaf’ itu seperti ‘merek dagang’ sehingga ia harus diperlakukan sebagai copyright lembaga atau kelompok tertentu? Ataukah ‘salaf’ dapat dianggap sebagai ‘nama barang’ sehingga setiap orang yang merasa melestarikan tradisi orang-orang terdahulu berhak untuk menyandangnya? Perlukah ada semacam lembaga ‘penertiban nama aliran’ di tengah umat Islam yang memiliki hak mutlak untuk memberikan dan mencabut atribut keagamaan agar tidak terjadi kesimpangsiuran, sengketa dan perang atribut yang sia-sia? Lebih jauh lagi, Apakah atribut ‘salaf’ dan semacamnya itu bermakna, tidak ambigu dan tidak berbau truth claim (hegemoni teologis)? Apa batasan ilmiah ‘salaf’ dan definisi logis ‘saleh’? Bukankah ruang untuk berbeda pendapat dan penafsiran untuk setiap atribut itu selalu terbuka?