Monday, June 18, 2007

Prawacana Menanggapi Seminar Holocaust di Bali (2/2)

Peta Mandat Inggris atas Palestina tahun 1920 dan benderanya.

Untuk itu, isu Palestina bukan suatu persoalan yang dibuat-buat alias direkayasa oleh Palestina, tetapi ia merupakan kasus internasional yang harus dicari jalan keluarnya. Yaitu, Israel harus minggat dari negara itu.

Tidak Semua Bangsa Israel Di Dunia Menyetujui Pembentukan Negara Israel

Salah satu persoalan lain yang kurang dipahami oleh Gus Dur adalah persoalan pembentukan negara Irael itu, sendiri yang terkait dengan konsep teologi Yudaisme. Secara ideologi, ajaran Yahudi dan mayoritas bangsa Israel di luar negeri tidak menyetujui terhadap pembentukan negara Israel itu sendiri. Menurut mereka, Zionisme telah menyalahi konsep dasar ideologi Yudaisme yang mana pada dasarnya, mereka tidak diperbolehkan untuk balik kesana kecuali bila Tuhan menghendaki hal tersebut.

Untuk itu, menurut mereka pembentukan negara Israel oleh kelompok Zionisme adalah penyimpangan akidah Taurat dan pelecehan terhadap ideologi dasar umat Yahudi. Inilah beberapa pandangan Rabbi Yahudi sendiri yang menolak terjadinya pembentukan negara Israel yang bukan berasal dari Tuhan secara langsung. Sebab sebelum masa itu, bangsa Israel dilarang untuk membentuk suatu negara apapun, karena hal itu melanggar sumpah kesetiaan kepada Tuhan dan yang akan datang nantinya bukan keselamatan Tuhan, tetapi justru bencana dari-Nya.

Para Rabbi yang menolak sebarang pembentukan Negara Israel sebelum era PD I:

  • Maimonides
  • Rabbi Yitzchok Aramah
  • The Maharal of Prague
  • Rabbi Avraham Galanti
  • Rabbi Bechaye
  • Rabbi Aryeh Leib Alter
  • Rabbi Nachman
  • Rabbi Yechezkel Halberstam
  • Rabbi Tazdok Hakohen of Lublin
  • Rabbi Yehoshua Leib Diskin
  • Rabbi Samson Raphael Hirsch
  • Rabbi Yosef Chaim Sonnenfeld
  • Rabbi Yehoshea Dzikover

Para Rabbi yang menolak sebarang pembentukan Negara Israel sebelum era PD II:

  • Rabbi David Friedman of Karlin
  • Rabbi Meir Simcha of Dvinsk
  • Rabbi Yosef Rozen
  • Rabbi Avraham Freund
  • Rabbi Elchonon Wasserman
  • Rabbi Chaim Soloveichik of Brisk
  • Rabbi Chofetz Chaim
  • Rabbi Sholem Schneersohn
  • Rabbi Shaul Brach
  • Rabbi Yissachar Dov Belze Rabbe
  • Rabbi Chaim Oizer Grodzinski
  • Rabbi Chaim Elazar Shapiro

Para Rabbi yang menolak sebarang pembentukan Negara Israel setelah PD II:

  • Satmar Grand Rebbe Joel Teitelbaum
  • Rabbi Yosef Tzvi Dushinsky
  • Rabbi Yitzchock Zev Soloveitchik
  • Rabbi Avraham Yeshayau Karelitz
  • Rabbi Yitzchok Dov Koppelman
  • Rabbi Michael Dov Weissmandl

  • Rabbi Aharon Kotler
  • Rabbi Mordechai Gifter
  • Rabbi Elya Svei
  • Rabbi Baruch Kaplan
  • Rabbi Amram Blau
  • Rabbi Avigdor Miller, zt'l
  • Rabbi Yitchok Hutner Z"L



  • Pernyataan oleh 77 Rabbi terkemuka di AS dan Kanada
  • Pernyataan 30 September 1982 oleh 13 Rabbi terkemuka di Europa dan Kanada

  • Pernyataan 2 Juni 1920 oleh 12 Rabbi Agung di Hungaria menolak Zionisme

  • Pernyataan 14 Desember, 1925 di Kaszica, Hungaria

Protes dan Demonstrasi Terhadap Zionisme Oleh Bangsa Israel Sendiri


2005 Protes atas kekerasan terhadap Yahudi di Holy Land, Montreal, Kanada
2005 10,000 Protes atas kekerasan terhadap Yahudi di Holy Land, New York City, NY
2004 Protes atas penodaan makam kuno Acco, Holy Land
2003 Ortodox Yahudi memprotes Pemilu Israel 28 Jan 2003 Yerusalem, Holy Land
2002 Protes sewaktu kunjungan Ariel Sharon kepada Presiden Bush Washington, DC
2002 Protes massa Yahudi atas Israel, 12 Februari 2002 Manhattan, NY
1980 Protest massa Yahudi atas kebrutalan polisi negara Zionis di Manhattan, NY
1980 Protes atas PM Begin, Washington, DC
1979 Protes di Madison Square Garden (dihadiri oleh Satmar Grand Rebbe Teitelbaum) New York City, NY

1973 Penduduk Mea She'arim memprotes peringatan ke 25th atas Pendirian negara Zionis

Melalui sedikit uraian yang ringkas ini, semoga Gus Dur bisa memahami persoalan sesungguhnya yang ingin disampaikan pada saat konferensi Holocaust di Iran yang diselenggrakan oleh Presiden Iran Ahmedinejad. Artinya, acara itu bukan ingin memojokan bangsa Israel, tetapi justru ingin menyadarkan masyarakat dunia bahwa pembentukan sebuah negara yang bernama Israel pada tahun 1948 oleh Zionisme bukanlah keinginan seluruh bangsa Israel di dunia, tetapi hanya segilintir kelompok bangsa Israel saja.

Dengan demikian, kasus penolakan Holocaust tidak selayaknya di konfrontasikan dengan Presiden Iran, Ahmadinejad seorang, tetapi ia mewakili suara-suara sumbang bangsa Israel yang mengharapkan perhatian dan keinginan mereka untuk menjalankan ajaran mereka secara damai dan tentram di dunia ini.

Di samping itu, persoalan Palestina bukan persoalan fiktif yang telah direkayasa oleh segelintir kelompok dari kalangan bangsa Palestina, tapi ia justru persoalan real dan nyata serta membutuhkan perhatian dari kita semua.

Untuk itu, kalau ingin membantu menghidupkan toleransi beragama, LIHAT-lah setiap persoalan secara arif dan bijaksana, sehingga keputusan kita sebagai sebuah bangsa yang besar dan ingin berperan di dunia tidak sekedar membeo apalagi memBUTA. Bukankah begitu Gus?

[undzurilaina]

Prawacana Menanggapi Seminar Holocaust di Bali (1/2)


Prawacana Menanggapi Seminar Holocaust di Bali:

“Ketika Yang Mewancarai Tidak Tahu Persoalan, Sama Seperti Yang Diwawancarai

oleh: M. Musadiq Marhaban (pakar Kristologi)

Inilah sikap mengecewakan yang mana ketika sebagian pemimpin bangsa kita bisanya hanya “manutan” dengan tawaran bangsa asing. Sikap Gus Dur untuk melakukan konferensi Toleransi Agama di Bali yang diselenggarakan pada Selasa (12 Juni 2007) sungguh sangat disesalkan.

Di sini persoalannya bukan pada masalah toleransi, tetapi pernyataan keliru Gus Dur yang mengatakan bahwa Presiden Iran, Ahmedinejad telah menolak keberadaan peristiwa Holocaust. Inilah Gus Dur, seorang mantan Presiden Indonesia yang terlalu tergesa-gesa untuk menerima masukan dari seorang warga AS, Colin Tail yang juga menjadi penyelenggara seminar di Bali untuk membela peristiwa Holocaust.

Pertama-tama, persoalan kebenaran peristiwa Holocaust bukanlah perselisihan pendapat yang terjadi antara Presiden Ahmedinejad dan kaum Yahudi, karena penolakan atau denial atas peristiwa Holocaust untuk pertama kalinya justru berasal dari mayoritas bangsa Israel sendiri.

Mungkin Gus Dur perhatian dengan persoalan keagamaan di Indonesia dan berupaya agar tidak muncul sikap ekstrim. Tetapi sayangnya, Gus Dur sendiri terjebak dengan sikapnya yang ekstrim untuk memaksakan kebenaran peristiwa Holocaust yang sebenarnya masih menjadi perdebatan hangat dikalangan umat Yahudi, jauh sebelum Presiden Ahmedinejad menyelenggarakan seminar Holocaust di Iran.

Sebagai seorang mantan Presiden, Gus Dur seharusnya bisa melihat persoalan ini secara proporsional dengan tidak melakukan tirani-intelektual, serta memaksakan pendapatnya bahwa bangsa Indonesia harus percaya kepada peristiwa Holocoust. Sebab, bagi orang-orang yang cermat di dalam mengamati perkembangan Yudaisme di dunia, maka mereka jelas akan menertawakan seminar non-akademis yang dilakukan Gus Dur di Bali bersama pemimpin spiritual Hindu, Sri Sri Ravi Shankar, dan Direktur the Pardes Institute of Jewish studies, Rabbi Daniel Lande.

Gus Dur seharusnya tahu bahwa tidak semua bangsa Israel membenarkan peristiwa Holocaust, bahkan buku The Holocaust Industry yang ditulis oleh seorang Yahudi, Norman G. Finkelstein jelas menunjukkan bahwa yang menolak kebenaran Holocaust bukanlah Presiden Ahmedinejad, tapi justru sebagian besar umat Yahudi sendiri.

Finkelstein mengatakan:

Since the late 1960s, there has developed a kind of Holocaust industry which has made a cult of the Nazi Holocaust. And the purpose of this industry is, in my view, ethnic aggrandisement - in particular, to deflect criticism of the State of Israel and to deflect criticism of Jews generally.” (Dari BBC News, Europe, 26 Januari, 2000 Is there a Holocaust 'Industry'?)

Demikian pula, Gus Dur seharusnya tidak semata-mata membangun hubungan toleransi beragama dengan rezim Tel Aviv di Israel, tetapi bila Gus Dur memang ingin menyuarakan kebenaran dan toleransi, maka dia seharusnya membangun hubungan dan kerjasama toleransi beragama dengan semua Rabbi di dunia, termasuk dengan mereka yang anti terhadap Zionisme, dan bukan hanya dengan mereka yang mendukungnya.

Dalam sebuah artikel yang berjudul The Role Of Zionism In The Holocaust—oleh Rabbi Gedalya Liebermann, di Australiasecara jelas dinyatakan bahwa penanggung jawab terbunuhnya umat Yahudi di Eropa adalah akibat gerakan Zionisme yang dimotori oleh sebagian kecil bangsa Israel sendiri. Dia mengatakan:

All of the leading Jewish religious authorities of that era predicted great hardship to befall humanity generally and the Jewish People particularly, as a result of Zionism.” (http://www.jewsagainstzionism.com/antisemitism/holocaust/gedalyaliebermann.cfm)

Selain itu, dia juga mengatakan bahwa di era PD II, kelompok Zionis lah yang justru berkolaborasi dengan pihak Nazi dengan memberikan bantuan militer kepada mereka. Ingat, hal ini terjadi pada masa—menurut konferensi Gus Dur di Bali—terjadinya pembantaian umat Yahudi secara masal oleh pihak Nazi di Eropa:

In early January 1941 a small but important Zionist organization submitted a formal proposal to German diplomats in Beirut for a military-political alliance with wartime Germany. The offer was made by the radical underground "Fighters for the Freedom of Israel", better known as the Lehi or Stern Gang. Its leader, Avraham Stern, had recently broken with the radical nationalist "National Military Organization" (Irgun Zvai Leumi - Etzel) over the group's attitude toward Britain, which had effectively banned further Jewish settlement of Palestine. Stern regarded Britain as the main enemy of Zionism.”

(http://www.jewsagainstzionism.com/antisemitism/holocaust/gedalyaliebermann.cfm)

Soal Pendudukan Atas Palestina, Benar Atau Tidak Gus?

Salah satu persoalan lucu lainnya yang dinyatakan adalah tidak adanya pendudukan atas tanah Palestina oleh Israel. Mungkin, ini satu persoalan lainnya yang kurang dipahami oleh Gus Dur. Sebab, kasus pendudukan Palestina bukanlah isu yang dibuat oleh bangsa Palestina sendiri, tetapi persoalan ini sudah muncul sejak Deklarasi Balfour pada 2 November 1917. Deklarasi Balfour dibuat akibat kekalahan Kerajaan Ottoman setelah PD I. Sejak itu, wilayah Palestina diserahkan kepada pihak kolonial Inggris.

Pertemuan Kabinet Pemerintah Inggris pada 31 Oktober, 1917 menyatakan bahwa Inggris mendukung rencana Zionis untuk membuat sebuah “tanah air nasional” bagi warga Yahudi di tanah Palestina. Artinya, kaum Zionis memang akan menduduki wilayah Palestina dan membangun sebuah negara dan inilah yang disebut pendudukan.

Jadi , pernyataan Gus Dur yang mengatakan “Pendudukan Israel itu di mana ada pendudukan? Saya tanya. Ramallah dan lainnya tetap mereka di situ. Daerah-daerah suci tetap. Saya mau tanya pendudukan yang mana. Anda aja yang percaya, sendirian itu. Diomongin bohong-bohong kok mau aja.” (Sumber: rnw/hidayatullah.com), jelas tidak benar. Alasannya, persoalan Palestina bukan baru beberapa tahun silam, tapi persoalan ini telah muncul sejak tahun 1920 hingga 1948, saat disepakatinya Mandat Inggris atas Palestina. Artinya, tuntutan bangsa Palestina itu memang ada dasarnya, dan secara hukum internasional kasus pendudukan Palestina itu secara faktual ada, bahkan jauh sebelum Gus Dur sendiri dilahirkan.

Sebelum Israel mendeklarasikan Israel pada tahun 1948 di tanah Palestina, maka bangsa Palestina sudah diakui memiliki negara dengan batas-batas teritorial yang diakui oleh Eropa dan bangsa-bangsa lain.

-bersambung- [undzurilaina]


Friday, June 15, 2007

Do You Have Time To...

Hai,

Ketika engkau bangun tidur, Aku melihatmu dan berharap kau akan mengajak bicara kepada Ku di waktu fajar, walaupun hanya dengan satu dua menit, meminta pendapat Ku, berterima kasih kepada Ku atas hal-hal baik yang terjadi padamu kemarin. Tapi ternyata kau malah sibuk menyiapkan diri dan yang akan kau kenakan untuk pergi bekerja. Aku menunggu lagi. Ketika engkau telah siap segala sesuatunya, Aku berharap akan ada barang semenit waktu bagimu untuk berkata Alhamdulillah. Tapi ternyata engkau terlalu sibuk untuk itu. Ketika saat engkau 15 menit hanya duduk di kursi tanpa melakukan suatu apapun. Aku kira engkau kemudian akan berbicang dengan Ku, tapi engkau malah mengangkat telepon dan menghubungi teman untuk mengetahui gosip terakhir.

Aku mengamatimu sewaktu engkau pergi bekerja dan Aku menunggu dengan sabar seharian. Dengan semua aktifitasmu, Aku dapat menebak engkau akan terlalu sibuk untuk berkata sesuatu kepada Ku. Aku perhatikan sebelum kau makan siang engkau berjalan berkeliling, mungkin kau merasa malu untuk berbincang dengan Ku, itulah mengapa engkau tidak meletakkan dahimu untuk sholat Dzuhur. Engkau memandang sekilas beberapa meja sebelahmu yang kosong dan mengetahui bahwa ternyata beberapa temanmu sedang berbincang dengan Ku (sholat) setelah ia makan, tapi tidak dengan engkau.

Baiklah. Masih ada waktu tersisa, dan Aku memiliki harapan bahwa engkau akan menemuiku di waktu Ashar dan Maghrib. Namun ternyata tidak juga. Engkau pulang ke rumah dengan wajah yang sepertinya kau telah melakukan banyak hal hari itu. Sampai di rumah engkau menyalakan TV. Aku tidak tahu apakah engkau memang menyukai acara di TV itu atau tidak, yang jelas banyak waktu berlalu dengan hanya duduk dan mengamati kotak kecil bernama TV itu. Tidak untuk memikirkannya, hanya menikmati pertunjukannya saja.

Aku masih menunggu dengan sabar, ketika engkau menonton TV dan makan snack kegemaranmu. Tapi lagi-lagi engkau enggan berjumpa dengan Ku di waktu Isya. Waktu tidur......Ahh...Aku kira kau sudah terlalu lelah.

Setelah itu, kau menceburkan tubuhmu ke kasur empuk kesayanganmu dan langsung tertidur pulas.

Engkau mungkin tak sadar bahwa Aku selalu ada untukmu. Aku memiliki kesabaran lebih dari yang engkau pernah duga. Aku bahkan ingin mengajarimu bagaimana bersikap sabar pula kepada sesamamu.

Aku sangat mencintaimu sehingga aku menunggumu setiap hari untuk bercengkrama, berdoa dan berterima kasih kepada Ku. Tidak mengenakkan untuk bercakap-cakap seorang diri kan.

Well, kini kau telah bangun lagi dan sekali lagi, Aku akan menunggumu dengan Cinta untukmu dengan harapan bahwa hari ini kau akan memberiku jatah waktu.

Semoga harimu menyenangkan!

Tuhanmu Yang Maha Pengasih lagi Penyayang

Ketika amar makruf dan nahi mungkar tak mengubah keadaan

Kita sering mendapati bahwa nasehat yang kita berikan kepada seseorang seperti tidak berbekas. Lalu bagaimana sikap kita sebaiknya?[1]

Pertama, ketika ada orang lain, yang bila ia melakukan amar makruf dan nahi mungkar dalam sebuah kasus yang sama ada pengaruhnya, maka minta tolong kepadanya untuk melakukan itu. Ketika Allah memerintahkan Nabi Musa as untuk memberi petunjuk kepada Firaun, ia meminta kepada Allah agar Harun as diperkenankan bersamanya. Nabi Harun memiliki kemampuan untuk menjelaskan dengan lebih baik. Allah swt berfirman:

“Dan saudaraku Harun dia lebih fasih lidahnya daripadaku, maka utuslah dia bersamaku sebagai pembantuku untuk membenarkan (perkataan) ku” (QS. Qashas: 34).

Kedua, terkadang melakukan kewajiban amar makruf dan nahi mungkar tidak cukup sekali. Itu harus dilakukan berkali-kali dengan cara yang berbeda-beda. Sebuah kayu yang hendak dibelah dengan kampak tidak cukup dengan sekali mengayunkannya, tapi perlu berkali-kali. Al-Quran menyebutkan:

“Kami telah menjelaskan masalah ini dalam bentuk yang berbeda-beda sehingga mungkin memiliki dampak yang positif” (QS. Isra’: 41).

Ketiga, sangat mungkin bahwa cara yang kita lakukan tidak benar, sehingga tidak ada bekasnya. Karena amar makruf dan nahi mungkar memiliki prinsip-prinsip dan syarat-syarat tersendiri. Menghadapi sebuah kemungkaran harus cengan cara yang tepat pula.

Suatu waktu ada debu tanah yang menempel di pakaian kita, pada waktu lain ada debu arang yang menempel. Untuk menghilangkan debu tanah cukup dengan mengibaskan tangan ke arahnya, debu tersebut dapat lenyap. Namun, bila hal itu dilakukan terhadap debu arang, selain semakin menempel, tangan kita juga menjadi hitam karenanya. Debu arang dihilangkan dengan meniupnya sementara debu tanah dilenyapkan dengan mengibaskan tangan. Dengan demikian, setiap kemungkaran punya cara tersendiri untuk melenyapkannya. Al-quran menyebutkan:

“Dan masuklah ke rumah-rumah itu dari pintunya”, (QS. Baqarah: 189)

Allah memerintahkan bahwa setiap rumah memiliki pintunya sendiri-sendiri.

Keempat, Untuk mencegah orang lain dari perbuatan mungkar, harus dengan jalan yang halal. Nabi Luth as ketika masyarakat hendak mengganggu tamunya ia berkata: “Aku bersedia untuk memberikan anak perempuanku untuk kalian kawini dan jangan ganggu tamuku. Saya menunjukkan kepada kalian cara yang halal sehingga kalian tidak terjebak dalam perbuatan haram. Allah swt berfirman:

“Hai kaumku, inilah putri- putriku mereka lebih suci bagimu, maka bertakwalah kepada Allah dan janganlah kamu mencemarkan (nama) ku terhadap tamuku ini” (QS. Hud: 79)

[undzurilaina]



[1] Disadur dari buku “Anda bertanya, Anda menjawab”, karya: Prof. Muhsin Qiraati

Thursday, June 14, 2007

Intermezzo: Pakistani

Pada sebuah taman di kota New York, seorang bocah tiba-tiba diserang oleh seekor anjing yang buas. Melihat hal tersebut, seseorang yang lewat kemudian datang dan menyelamatkan si bocah tersebut. Ia berhasil mencederai anjing tersebut dan mengusirnya.

Seorang reporter New York Times yang menyaksikan kejadian ini langsung mengambil gambar peristiwa tersebut dengan maksud untuk memunculkannya di halaman depan korannya keesokan hari.

Kemudian reporter tersebut mendekati pahlawan penyelamat tadi dan berkata: ”Tindakan penyelamatan heroik anda tadi dapat dipublikasikan di koran besok sebagai headline- Brave New Yorker rescues boy”.

”Saya bukan orang New York”, jawab sang hero kepada reporter tadi.

”Oh, kalau begitu kami akan mengubah judul headline nya menjadi – Brave American rescues boy from savage dog”.

”Saya juga bukan orang Amerika juga”, jawab sang pahlawan menampik lagi.

”Lalu darimanakah sebenarnya Anda ini?”, tanya reporter.

”Saya seorang Pakistan”, jawab sang hero.

”Hmmm...kalau begitu headline koran New York Times besok akan berjudul: Moslem Fundamentalist strangles dog to death in New York park. FBI investigating possible link to al-Qaeda”. [undzurilaina]

Setan yang Kalah, Jangan Kita

Kita sama mengetahui bahwa semua manusia terlahir dalam keadaan suci (fitrah). Rasulullah SAW pernah berkata yang kira-kira artinya adalah bahwa setiap bayi itu terlahir dari perut ibunya dalam keadaan suci tanpa dosa, kedua orang tuanya lah yang akan mewarnainya dan menjadikannya yahudi, nashara atau majusi. Jadi kita semua ini terlahir dalam keadaan suci bersih.

Kemudian manusia oleh Allah diberi ”tugas” (taklif) untuk mengamalkan syariat-Nya ketika mencapai umur tertentu (berakal/baligh). Allah SWT menjelaskan pula apa dibalik setiap perintah dan larangan tersebut. Bagaimana dan apa manfaatnya kalau dilaksanakan, bagaimana dan apa konsekuensinya kalau ditinggalkan. Allah SWT mengkaruniakan pula kepada manusia akal untuk bisa menentukan jalan mana yang akan dipilihnya. Jadi manusia diberi kebebasan untuk bisa melaksanakan atau tidak melaksanakan perintah dan larangan tersebut. Allah mengharapkan kita melakukan segala sesuatu secara sadar mengenai apa manfaat dan akibat dari apa yang kita lakukan tersebut. Karena Allah dan Rasul-Nya telah menerangkan apa yang ada di balik perintah dan larangan tersebut.

”..Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya” (QS. 91:8)

Dalam melaksanakan tugas-tugas tersebut, manusia memiliki dua musuh, yaitu setan dan hawa nafsu. Keduanya berusaha mengarahkan manusia untuk melaksanakan larangan Allah dan meninggalkan apa yang diperintahkan-Nya. Sehingga kadang-kadang manusia kalah dalam menghadapi 2 musuh tersebut. Allah mengetahui akan hal itu, karena itu Allah menamakan Dzat-Nya dengan al-Ghaffar ad-dzunub (Maha Pengampun Dosa2). Supaya kita juga tidak hidup dalam keputus-asaan akibat kekalahan tersebut. Karena Allah sangat membenci orang yang putus asa.

Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir (QS.12:87)

Ibrahim berkata: "Tidak ada orang yang berputus asa dari rahmat Tuhannya, kecuali orang-orang yang sesat".(QS. 15:56)

Sehingga Allah kemudian memberi kepada kita sebuah pintu yang bernama pintu ”Taubat”. Allah telah membuka lebar-lebar pintu tersebut bagi hamba-hamba Nya yang memohon ampun kepada Nya.

Bagaimana yang dimaksud berputus-asa dalam hal ini. Salah satu contohnya, seringkali kita mendengar bisikan dalam hati: ”ah...dosa-dosaku ini nggak mungkin diampuni oleh Allah”. Nah, bisikan-bisikan seperti ini jangan pernah kita dengar. Itu bisikan setan agar kita putus asa untuk kembali ke jalan yang benar, dan terus berada dalam jalan kegelapan. Kita diperintahkan untuk terus-menerus mohon ampunan dari Allah. Allah selalu membuka pintu ampunan-Nya. Benar-benar tidak ada alasan buat kita apabila kita tidak mau memasuk pintu tersebut setelah dibuka lebar-lebar oleh-Nya.

Diriwayatkan pada zaman Nabi SAW, ada seseorang datang kepada beliau dan berkata:

Fulan: ”Ya Rasulullah, saya telah berbuat dosa kepada Allah..Bagaimana ya Rasul?”

Rasulullah SAW: ”Minta ampunlah kepada Allah”

Fulan: ”Sudah, ya Rasul. Tapi aku melakukannya lagi”

Rasulullah SAW: ”Minta ampunlah lagi kepada Allah”

Fulan: ”Sudah, ya Rasul. Tapi lagi-lagi aku melakukannya kembali”

Rasulullah SAW: ”Minta ampunlah lagi kepada Allah”

Fulan: ”Sudah, ya Rasul. Tapi lagi-lagi aku terbujuk setan untuk melakukannya lagi”

Rasulullah SAW: ”Terus Minta ampunlah kepada Allah hingga setan yang kalah, jangan kamu”.

Taubat itu berarti kembali secara sadar dari perbuatan dosa kepada ketakwaan dan berjanji untuk tidak mengulanginya kembali. Namun apabila setelah berusaha sekuat tenaga tapi tetap tergelincir, segeralah minta ampun kepada Allah. Jangan tunda-tunda lagi. Allah selalu membuka pintu taubat itu untuk hamba-hamba Nya yang minta ampun kepada-Nya. Hingga setan yang kalah, jangan kita. [undzurilaina]

Tuesday, June 12, 2007

Manusia Seperti Apa?

Minggu lalu, waktu saya lagi nunggu mobil untuk pulang ke Bandung dari Airport Cengkareng, ada kejadian yang cukup mengganggu. Tepat di depan saya duduk itu ada sebuah mobil tentara (pickup tertutup atas). Nggak lama kemudian ada beberapa orang tentara datang (sebagian berpakaian preman, namun tampak jelas dari fisik dan potongannya bahwa ia juga adalah “anggota”). Rombongan tentara tadi ternyata menggandeng ”tawanan” sepasang lelaki-perempuan dengan tangan terikat. Kemudian pasangan tadi dimasukkan ke mobil yang sudah siap di depan saya tadi. Yang laki-laki, berperawakan tinggi besar dan rambut cepak. Tampak di dekat matanya ada luka yang cukup mencolok. Tidak tahu apa yang dikatakan oleh ”tawanan” perempuan itu sehingga penjaga yang mengapitnya kemudian memukul perempuan itu dengan sekuat tenaga beberapa kali. Entah apa yang dirasakan oleh perempuan itu dipukul oleh tentara yang punya tangan sebesar betis pemain sepak bola itu.

Orang yg duduk disebelahku bertanya-tanya dengan teman disebelahnya, kenapa mereka...kenapa mereka? Yang satu bilang, mungkin calo barangkali..Ah kayaknya nggak mungkin deh dia meralat. Soalnya kalau calo mestinya bukan tentara yang menangani, dan profil kedua orang itu jauh dari seorang calo. Atau kasus narkoba ya...? Terus karena penasaran kemudian mereka bertanya ke salah seorang anggota yang ikut mengawal: ”Pak...pak, ada apa sih pak? Kenapa mereka itu?”. Anggota itu kemudian menjawab: ”Ah..nggak ada apa-apa kok...”.

Akhirnya setelah beberapa lama, mobil itu pergi membawa kedua ”tawanan” tadi yang diapit oleh beberapa pengawal yang pasti bikin sesak tempat duduk di mobil itu. Ternyata ada satu orang yang tidak ikut mobil itu, dan itu tidak disia-siakan oleh 2 orang pemuda penasaran yang ada di sebelahku tadi untuk bertanya lagi:

Penanya: ”Pak...pak, tadi 2 orang laki perempuan tadi kenapa sih pak?”.

Anggota: ”Oh, 2 orang yang tadi? Itu saya yang nangkap itu..Yang laki itu anggota Kopasus lho..”.

Penanya: ”Loh! Terus kenapa dibegituin ?”

Anggota: ”Gini mas...di kami kan nggak boleh istri 2. Nah dia itu kawin lagi, itu tadi istri mudanya. Diperingatkan, eh malah lari. Akhirnya kami cari dan barusan saya yang nangkep di Pontianak. Ah nggak bener tu orang!”

Penanya: ”(Bengong aja...)”

Anggota: ”Ya udah mas, saya mau makan dulu..”

Penanya: ”oya pak, silahkan2”.

Si penanya, aku, dan orang-orang yang duduk di sekitar situ terdiam, nggak tau apa yang sedang di pikiran masing2. Kalau saya sih masih bingung apakah tindakan itu berlebihan nggak sih? Tindakan memukul2 si wanita tadi di depan umum, dll. Apakah itu tindakan yang beradab? Apakah itu memang hasil yang diinginkan dari pendidikan seorang KOPASUS.

Saya punya tetangga anggota TNI juga. Istrinya seorang berjilbab. Dia cerita kalau baru-baru ini saja dia boleh berjilbab. Sebelumnya mana boleh istri anggota TNI menggunakan jilbab. Lagi-lagi saya bertanya dalam hati, apa kira-kira maksud aturan tersebut. Apa sebenarnya yang diinginkan dari aturan-aturan seperti ini?

Dulu saya pernah bertemu dengan beberapa orang yang sedang mengikuti pendidikan calon bintara. Dia waktu itu cerita dengan sedih kalau dia sudah sekian bulan ini meninggalkan sholat. Lho, kenapa kataku. Wah, nggak mungkin bisa mas. Kita itu waktu latihan kan berkotor2 lumpur, dll. Waktu sholat cuma ada 5 menit, kalau telat hukumannya berat, dll sehingga tidak memungkinkan kita semua untuk melakukan sholat.

Lagi-lagi saya bertanya dalam hati, apa kira-kira maksud aturan tersebut. Apa sebenarnya yang diinginkan dari aturan-aturan seperti ini? Apakah yang sebenarnya ingin dicapai dengan pendidikan militer seperti itu?

Manusia seperti apa yang ingin dibentuk dengan pendidikan seperti itu?

Aku bingung, speechless! [undzurilaina]

Monday, June 11, 2007

Ummatku....Ummatku


Umatku…Umatku
Dia saw akan berkata
Rasulullah pada hari itu
walau kita telah menyimpang darinya dan jalannya

saudaraku, saudariku, dalam Islam
mari berjuang, bekerja, dan berdoa
jika kita mau
mengembalikan kejayaan sesuai dengan jalannya SAW


Ya Allah, Wahai Pemelihara Seluruh Sekalian Alam
Wahai Yang Maha Pengasih dan Penyayang
Ya Tuhanku

Izinkan Ummat ini untuk bangkit kembali
Izinkan kami melihat cahaya lagi
sekali lagi

Mari kita kembali bersatu lagi
menjadi bangga lagi
karena dari lubuk hati yang paling dalam, aku sangat yakin
kita dapat mengembalikan kejayaan masa lalu kita

Ummatku…ummatku
Dia SAW akan berseru
Rasulullah pada hari itu
walau kita telah menyimpang darinya dan jalannya

lihatlah dimana kita dulu
dan lihatlah dimana kita sekarang
dan beritahu aku
apakah ini yang kita inginkan?
Oh Tidak! Mari kita kembalikan kejayaan kita…

(diterjemahkan dari lirik lagu “My Ummah” karya Sami Yusuf)

Lagi-Lagi Tergesa-gesa

Melanjutkan tulisan yang lalu tentang kisah ”sang tuan yang membunuh anjing yang telah menyelamatkan nyawa anaknya” dan juga tulisan di blog ini berjudul ”Pak Amir dan Bule Prancis”...

Dari segenap contoh yang berkenaan dengan ketergesa-gesaan penilaian yang seringkali berakibat fatal tersebut, al-Quran mengajukan berbagai sanggahan yang sangat jitu. Dalam hal ini, al-Quran senantiasa memperingatkan, ”Wahai manusia, sebagian besar dari dugaan dan sangkaan yang muncul dalam dirimu sama sekali tidak berdasar. Betapa banyak hal yang menurut pandanganmu buruk dan engkau amat membencinya, pada hakikatnya merupakan kebaikan bagimu. Dan betapa banyak hal yang engkau sukai namun pada hakikatnya merupakan keburukan bagimu.”

Ketika al-Quran berulangkali berkata ”jangan kamu menyangka demikian...”, ”jangan kamu berpikir demikian..”, ”janganlah kamu berprasangka semacam itu..”, serta ungkapan-ungkapan senada lainnya, sesungguhnya tengah melontarkan sanggahan terhadap berbagai bentuk pandangan serta penilaian yang serba gegabah dan tergesa-gesa.

Kita sering kali juga melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang tak pantas kepada Allah, mengapa Allah begini dan begitu? Pada dasarnya Allah SWT menghendaki agar kita mengakui bahwa hanya sebagian kecil saja penilaian dan penentuan kita yang benar. Sebaliknya, masih banyak rahasia-rahasia serta misteri di sekitar jagat raya ini yang masih belum tersingkap dan diketahui dengan jelas. Dari sisi ini, ilmu pengetahuan serta pengalaman kita sungguh amat terbatas.

Salah satu contoh, kendati telah melewati hidup selama bertahun-tahun, dulu banyak orang yang beranggapan bahwa keberadaan hutan sama sekali tidak bermanfaat. Namun, dengan berlalunya waktu, baru diketahui manfaat dari keberadaan hutan yang sangat besar sekali bagi kehidupan.

Bukankah selama bertahun-tahun, dulu banyak orang yang mengatakan bahwa amandel tidak ada manfaatnya. Malah ada yang mengatakan sangat berbahaya bagi kesehatan seseorang. Namun ternyata belakangan diketahui bahwa setiap harinya, amandel tersebut memproduksi sel-sel darah putih yang berfungsi sebagai pasukan pelindung tubuh dari serangan berbagai jenis mikroba.

Selama bertahun-tahun pula, banyak orang yakin bahwa usus buntu (appendix) tidak ada manfaatnya bagi tubuh seseorang. Sekarang, mereka justru mengatakan bahwa usus kecil ini memiliki peranan yang cukup penting dalam melawan penyakit kanker.

Apabila dalam membaca suatu buku ataupun pendapat seseorang, seringkali kita menjumpai beberapa bagian yang tidak diketahui maknanya dengan jelas, bahkan terdengar mengejutkan kita karena sangat berbeda dengan pendapat yang kita yakini. Alangkah baiknya apabila kita tidak terburu-buru memaknainya sebelum menelaahnya secara layak. Jangan pula buru-buru memunculkan dalam benak kita, prasangka negatif terhadap sang penulis/pemilik pendapat tersebut.

Semakin lama, mestinya kita semakin sadar untuk tidak tergesa-gesa menilai segala sesuatu. Terlalu banyak hal yang kita tidak memiliki pengetahuan tentangnya. Terlalu banyak aspek yang mesti kita perhatikan untuk menilai sesuatu. Masihkah kita akan tergesa-gesa. Ya Allah, karuniakanlah kepada kami kearifan yang membuat kami tidak tergesa-gesa dalam menilai segala sesuatu. [undzurilaina]

Tergesa-gesa

Alkisah, pernah hidup seseorang yang memelihara seekor anjing dalam rumahnya. Pada suatu hari, demi suatu keperluan yang mendesak, ia pergi keluar rumah dan meninggalkan bayinya yang mansih menyusui bersama anjingnya itu. Dalam perkiraannya, ia bakal cepat kembali ke rumah. Namun, tatkala pulang ke rumah, dirinya disambut sang anjing dengan mulut yang berlumuran darah. Ia langsung beranggapan, jangan-jangan anjing ini telah menerkam dan membunuh si bayi.

Dengan rasa marah, ia lantas mengangkat senapannya dan menembak anjing tersebut. Setelah itu, ia bergegas masuk ke dalam rumah. Namun, kejadian yang sesungguhnya ternyata amat jauh berbeda. Ia menjumpai anaknya yang masih bayi itu tidak mengalami cedera apa pun.

Kejadian sebenarnya begini. Sewaktu pergi, ia meninggalkan pintu rumahnya yang berlokasi di pinggiran kota itu dalam keadaan terbuka. Tak urung, seekor serigala pun datang dan dengan mudah masuk ke dalamnya.

Kemudian dengan leluasa pula ia bisa memasuki kamar tidur si bayi mungil itu dan berusaha menyerangnya. Adapun anjing yang bertugas melindungi bayi tersebut berusaha mati-matian melindungi si bayi dan mengusir serigala tersebut keluar dari rumah. Dengan menggunakan kuku serta taringnya yang tajam, anjing itu menyerang balik sang serigala. Dalam perkelahian itu, sang serigala akhirnya menderita luka-luka yang mengeluarkan darah, untuk kemudian lari terbirit-birit keluar dari rumah. Namun sayang, akibat penilaian sang pemilik rumah yang tergesa-gesa itu, alih-alih ungkapan terima kasih yang diterimanya, anjing yang telah berjuang sekuat tenaga menyelamatkan si bayi tersebut malah harus meregang nyawa dan mati dibunuh tuannya sendiri!

Sang pemilik rumah segera saja menyesali perbuatannya itu dan menghampiri tubuh anjingnya yang telah terkapar. Ia berharap bisa menyelamatkannya dari kematian. Namun nasi telah menjadi bubur, anjing tersebut telah mati dengan meninggalkan rasa sesal yang begitu getir.

Orang tersebut kemudian berkata, ”Aku menatap bola mata anjingku yang ketika itu sedang dalam keadaan terbuka dan hatiku mendengar suara jeritannya yang parau, ”Wahai manusia, betapa engkau amat tergesa-gesa! Mengapa engkau memberikan penilaian secara gegabah? Mengapa engkau tidak terlebih dahulu masuk ke dalam rumah? Engkau membunuhku tanpa disertai alasan yang jelas.”

Setelah melakukan tindakan yang amat disesalinya itu, sang pemilik rumah menulis sebuah artikel yang bertajuk ”Wahai Manusia, Betapa Cepatnya Engkau Menilai”.

Memang kita sering terlalu tergesa-gesa memberi penilaian. [undzurilaina]