Friday, July 20, 2007

Ada Pigi…

Ini kisah nyata seorang temen yang namanya Shodiq. Keluarga shodiq adalah keluarga aseli gorontalo. Logat bicaranya pun (terutama ayahnya) masih sangat kentara dan khas gorontalo. Fyi, cara bicara orang gorontalo itu ketika mencoba berbicara bahasa Indonesia itu agak terputus-putus dengan jeda antar kata yang kadang agak lama.

Singkat cerita, waktu itu temen2 datang ke rumah Shodiq untuk mengajak Shodiq untuk main. Masuk ke rumah shodiq, terlihat sang ayah sedang duduk santai di teras rumah.

Temen2: ”Assalamu’alaikum.....”

Ayah: ”Wa alaikum salam...”

Temen2: “Bah, shodiq ada nggak?”

Ayah: ”Ada...”

Temen2: ”Oh, kalau gitu kita tunggu disini ya bah”

Ayah: ”Ada pigi...”

Temen2: ”Oh, kalau gitu nanti kita ke sini lagi aja bah”

Ayah: ”pigi mandi..”

Temen2: ”Hmm, kita tunggu aja deh..”

Ayah: ”mandi ka kolam renang...”

Temen2: ”Oh gitu, kita pamit dulu bah..”

Ayah: ”kolam renang di belakang..”

Temen2: ”Hmmm, jadi ada ya shodig nya ???”

Ayah: ”di belakang Sriwedari (nama tempat hiburan di kota Solo)”

Temen2: ”#????$%# (langsung kabur keluar tanpa pamit lagi)” [undzurilaina]


Thursday, July 19, 2007

Dagelan Abadi Bernama "Al-Qaida"


oleh: Jemala Gembala

"Kami memberi waktu dua bulan kepada orang-orang Persia, dan terutama penguasa Iran, untuk menghentikan segala bentuk bantuan bagi pemerintah Syiah Irak dan untuk tidak melakukan intervensi, baik langsung maupun tidak langsung...jika tidak, maka sebuah perang yang brutal sedang menanti anda..."

(Abu Omar al-Baghdadi, pemimpin al-Qaida di Irak) [ [1]]

Jika anda pernah membaca berita di atas, berhenti dulu membuat kesimpulan. Anda disarankan membaca berita-berita berikut ini.

Pertama, pernyataan kebencian terhadap Syiah yang dinisbatkan kepada al-Qaida, seperti di atas, bukanlah satu-satunya. Sebagai contoh, CNN pernah merilis rekaman dimana Osama bin Laden, pemimpin tertinggi al-Qaida, menyerukan kepada kaum Sunni di Irak untuk menyerang Syiah, yang disebutnya sebagai "pengkhianat", "rejeksionis", "agen AS".[ [2] ]

Kedua, Komisi 9/11 yang dibentuk Washington untuk "menyembunyikan kebenaran"—alih-alih mengungkapkannya—menyimpulkan bahwa jaringan teroris al-Qaida sejak lama telah menjalin hubungan dengan Iran. Komisi itu juga mengatakan, "Laporan intelijen menunjukkan adanya potensi sangat besar tentang kolaborasi antara al-Qaida dengan Hizbullah daripada yang pernah dibayangkan sebelumnya." Karena Hizbullah adalah kelompok yang didukung Iran, maka komisi itu menempatkan al-Qaida, Hizbullah, dan Iran dalam satu jaringan gerombolan teroris.[ [3]]

Ketiga, newsroomamerica, mengutip pernyataan para pejabat Barat yang anonim, menulis bahwa al-Qaida menggunakan Iran untuk mengorganisasi dan melancarkan operasi melawan AS dan pasukan koalisi di Irak serta di manapun. Sementara The Financial Times melaporkan bahwa operasi al-Qaida dilakukan dengan persetujuan langsung pemerintahan Islam garis keras di Iran.[ [4] ]

Keempat, Brigadir Jenderal Kevin Bergner, jurubicara "Camp Victory" di Irak, menuduh Brigade al-Quds Iran terlibat dalam mendukung milisi anti-AS di Irak. Lebih spesifik lagi Bergner menyebutkan bahwa Brigade al-Quds bertanggung jawab atas tewasnya 5 serdadu AS di Karbala, yang digambarkannya diserang dengan persenjataan canggih itu.[ [5] ]

Mari kita petakan: al-Qaida menuduh Iran mengintervensi Irak, dan menuduh Syiah sebagai kolaborator AS; Amerika menuduh Iran mendukung milisi anti-AS di Irak, dan menjadi basis perencanaan dan operasi al-Qaida.

Luar biasa, sepertinya kita harus menyanyikan lagu lawas milik Vina Panduwinata, 'Logika', "Di mana logika...?"

Namun, kita tidak tahu kebenaran dan keakuratan berita-berita itu karena kita setiap harinya terbiasa menjadi keranjang sampah berita-berita semacam itu.

Bisa jadi akan hadir dalam pikiran kita dua kemungkinan: [1] jika berita itu benar, maka al-Qaida tampaknya lebih kompeten dalam berperan sebagai biro humas Gedung Putih ketimbang "pahlawan" Islam, sebagaimana yang diyakini para pendukungnya: melontarkan ancaman kepada sesama Muslim; menyerang orang-orang tidak berdosa; dan memberi citra negatif bagi Islam dan para pejuang Muslim sejati. [2] Dan, jika berita itu tidak benar, maka hantu bernama "al-Qaida" ini benar-benar menjadi epidemi global para neokon AS untuk menggelar perangnya di seantero dunia.

Namun bagaimanapun, dua kemungkinan tersebut menyajikan kepada kita satu kesimpulan: bahwa yang namanya AS dan al-Qaida (apa dan siapa pun ia) tampaknya sama-sama membenci Iran, dan Syiah pada umumnya. Jika begitu, apa yang disebut jurnalis kampiun Seymour Myron Hersh (The New Yorker, 25/02/07) sebagai "perubahan arah" (redirection) kebijakan strategis AS untuk menempatkan Iran dan Syiah sebagai "musuh nomor wahid"—di antaranya dengan mempersenjatai kelompok-kelompok anti-Syiah—benar adanya [ [6]].

Tapi nanti dulu! Al-Qaida tidak hanya meracau soal Syiah. Ayman az-Zawahiri, deputi Osama yang digadang-gadangkan sebagai 'inkarnasi' Nabi Harun itu (dan tentu saja Osama adalah Nabi Musa-nya), pernah menyebut Hamas yang Sunni itu sebagai pengkhianat Allah, karena memilih ikut dalam proses demokrasi, yang dipandang az-Zawahiri sebagai tindakan berdamai dengan Israel [ [7]].

Jadi, ini bukan soal Syiah. Ini soal para nihilis, seperti neokon di AS dan al-Qaida, yang membenci kekuatan anti-imperialisme di mana pun, siapa pun, dan kapan pun. Apa bedanya jika "pan-Amerikanisme" neokon dan "pan-Wahabisme" gaya al-Qaida sama-sama hendak menghadirkan 'peradaban' baru dengan menghancurkan peradaban lama tanpa reserve. Bukankah keduanya sama-sama imperialis-nihilistik?

Iran vs AS plus Al-Qaida di Irak

Sebagian pengamat Barat, seperti Robert Dreyfuss, kerap keliru ketika menyimpulkan bahwa Iran dan AS sama-sama 'mendukung' pemerintahan al-Maliki, yang Syiah itu, di Irak. Kesalahan yang sama terjadi ketika mereka menganggap bahwa Iran dan kaum Syiah di Irak sama-sama berkepentingan terhadap keberadaan pasukan koalisi pimpinan AS di Irak.

Sejatinya, AS, sebagaimana pernah diungkapkan mantan menlu Collin Powell, tidak menginginkan Syiah tampil ke pentas politik Irak pasca-Saddam. Mereka telah menyiapkan figur sekuler seperti Achmad Halabi, yang mereka pelihara selama ini—sebagaimana juga mereka memelihara orang-orang Iran anti-pemerintahan Islam. AS terpaksa menerima konfigurasi politik Irak seperti saat ini, di mana mayoritas Syiah berkuasa, karena tuntutan keras Ayatullah Ali Sistani, figur terpopuler di kalangan Syiah Irak, agar segera dilaksanakan pemilu yang langsung dan bebas di Irak pasca-Saddam. Dengan kata lain, AS tidak mempunyai pilihan lain kecuali menempatkan mayoritas Syiah di pusat kekuasaan melalui pemilu.[ [8]]

Maka, berbagai upaya pun dilakukan AS untuk memperlemah, bahkan mengkudeta pemerintahan al-Maliki[ [9] ], dan sekaligus menjustifikasi keberadaan lebih lama pasukannya di Irak. Upaya-upaya memicu konflik sektarian, baik melalui militernya maupun para kontraktor keamanan partikelirnya, terus dilakukan. Sebagai contoh, banyak laporan dan analisis mengindikasikan keterlibatan unsur-unsur AS dan pasukan koalisi dalam pemboman pertama dan kedua terhadap Haram Imam Hasan Asykari di Samara [ [10] ].

Pernyataan terakhir George W. Bush bahwa pasukan koalisi masih akan berada di Irak karena pemerintahan al-Maliki tidak mampu menjamin keamanan di sana adalah indikasi lain, bagaimana Gedung Putih berupaya untuk terus mendelegitimasi pemerintahan terpilih di Irak. Padahal, bukankah 'kegagalan' al-Maliki juga merupakan bukti kegagalan Bush di Irak? Pemerintahan al-Maliki sebenarnya nyaris mirip dengan pemerintahan Hamas di Palestina yang tidak mempunyai wewenang untuk mengorganisasikan keamanan wilayahnya secara independen karena keberadaan pasukan pendudukan di wilayah mereka masing-masing.

Sementara itu, Iran, dalam hal ini, mendukung pemerintahan al-Maliki sekaligus menginginkan AS segera hengkang dari Irak. Dukungan Iran terhadap al-Maliki tidak bisa secara absolut ditafsirkan sebagai dukungan terhadap kolega Syiah-nya. Iran mendukung pemerintahan Irak karena memang pemerintahan inilah yang dipilih mayoritas rakyat Irak dalam pemilu, dan karena memang demikianlah pergaulan dan hubungan internasional semestinya dilakukan.

Pada saat yang sama, Iran berkepentingan dengan stabilitas kawasan. Sebab, instabilitas di sana telah banyak menimbulkan kerugian bagi Iran, terutama di wilayah perbatasan: maraknya perdagangan narkoba, penyelundupan senjata, dan aksi-aksi terorisme dari kelompok-kelompok anti-Iran. Bagi Iran, hengkanya AS beserta para pasukan swastanya dari Irak, secara damai, akan memberikan otoritas lebih kepada pemerintahan al-Maliki, atau siapa pun, untuk menghadirkan keadaan yang relatif lebih aman. Bagi Iran, preseden Vietnam yang lebih aman setelah ditinggal AS adalah sebuah pelajaran bahwa perginya AS tidak lantas berkorelasi dengan jatuhnya Irak ke dalam konflik saudara yang berdarah-darah (justru sekarang terbukti bahwa keberadaan AS justru memicu konflik sektarian yang tak pernah terjadi sebelumnya).

Karena alasan-alasan tersebut dan didukung dengan ketiadaan bukti, sebuah lembaga think tank transatlantik terkemuka, British American Security Information Council (BASIC), dalam laporannya, menyimpulkan bahwa Iran hanyalah "kambing hitam" bagi kegagalan AS di Irak[ [11]].

Dan, tampaknya tidak hanya AS yang menjadikan Iran sebagai "kambing hitam" di Irak. Al-Qaida di Irak juga punya gawe yang nyaris sama. Pernyataan kebencian terhadap Iran yang dilontarkan petinggi-petinggi al-Qaida, seperti dikutip pada awal tulisan, tidak bisa dipisahkan dari kenyataan bahwa al-Qaida tidak mendapatkan sambutan dan popularitas dari publik Irak, bahkan dari milisi-milisi Sunni sekalipun.

Karakter al-Qaida yang nihilistik, misterius, dan berperang menghadapi musuh yang sumir jelas telah membuat banyak orang Irak "jijik" mendengar nama ini. Beberapa waktu lalu, para syekh Sunni di Propinsi Anbar mendeklarasikan perang melawan al-Qaida [ [12] ]. Tak lama kemudian, teror bom pun terjadi di Anbar, yang sebagian menewaskan para syekh itu. Ditambah lagi, sebagian besar operator al-Qaida adalah orang-orang non-Irak, yang ujug-ujug datang ke Irak dan mengklaim ingin membebaskan Irak dari AS, sementara justru sebagian besar korban mereka adalah Muslim Irak sendiri[ [13] ].

Eureka! AS membutuhkan instabilitas, untuk menjustifikasi keberadaan mereka di Irak, sementara al-Qaida menyajikan berbagai menu instabilitas: kekerasan, konflik, dan perpecahan, dalam petualangan keji mereka. Bukankah kedua hal ini terlihat naif jika dipandang sebagai sebuah kebetulan belaka?

Hamas vs AS plus Al-Qaida di Palestina

Seperti ditulis sebelumnya, az-Zawahiri, pernah menyebut Hamas sebagai "pengkhianat Tuhan" karena memilih ikut dalam pemilu Palestina 2006. Selain itu, petinggi nomor dua al-Qaida itu juga menasehati Brigade al-Qassam, sayap militer Hamas, untuk kembali angkat senjata. Namun, Khaled Mishaal, Ketua Biro Politik Hamas, menegaskan bahwa Hamas tidak membutuhkan nasehat siapa pun, terutama al-Qaida, dalam menentukan jalan perjuangannya[ [14]].

Jelaslah sudah, bahwa Hamas bukan al-Qaida, dan al-Qaida tak seujung kuku pun mirip dengan Hamas.

Namun, seperti halnya gaya propaganda AS dan sekutunya terhadap Iran, beberapa waktu lalu pemimpin Fatah, Mahmoud Abbas, tiba-tiba saja menuduh Hamas melindungi al-Qaida di Jalur Gaza. Para Abbastan pun kerap meracau bahwa Gaza kini adalah sarang para teroris al-Qaida.

Keberhasilan Hamas membebaskan Alan Johsnton, reporter BBC, dari tangan kelompok franchise al-Qaida, "Jays al-Islam" (tuntutan para penculik adalah pembebasan para tahanan al-Qaida di Inggris), hanyalah salah satu bukti bahwa Hamas menentang praktik-praktik ilegal gaya kaum "jihadis-nihilis". Hamas tidak melakukan deal dengan para penculik Johnston. Sebaliknya, personil keamanan Hamas mengepung tempat dimana Johnston ditawan, membebaskannya, dan menahan beberapa pengikut Momtaz Deghmesh, pemimpin "Jays al-Islam"[ [15]].

Lalu apa yang diinginkan Abbas dengan tuduhan terhadap Hamas tersebut? Tidak terlalu sulit untuk mengatakan bahwa Abbas sedang menjalankan perannya sebagai proksi AS dan Israel guna "meng-iblis-isasi" Hamas dan Jalur Gaza lewat, sekali lagi, dagelan bernama al-Qaida. Dengan propaganda tersebut, AS berharap dunia bisa menerima jika Gaza diisolasi dari segala arah dan pasukan Zionis melumat wilayah kecil itu beserta para penghuninya. Bukankah mereka semua teroris?

Dan, al-Qaida—entah disadari atau tidak—sekali lagi punya peran sentral dalam rencana tersebut.

Al-Qaida memainkan peran kunci dalam kepentingan strategis kaum neokon AS, sebagian besarnya, karena al-Qaida berbeda dengan Hizbullah dan Hamas [ [16] ]. Pertama, al-Qaida dilahirkan dari rahim imperialisme. Pembentukan embrio al-Qaida terjadi melalui kolaborasi antara CIA (intelijen AS) dan ISI (Intelijen Pakistan) [ [17] ], saat AS berupaya mengusir mendiang Soviet dari Afghanistan. Sedangkan Hizbullah lahir dari rahim perjuangan rakyat Lebanon mengusir Israel ketika invasi pasukan Zionis menyerang negeri itu pada 1982. Dan, Hamas pun lahir dari rahim intifada jilid II pada sekitar 1980-an. Kedua, Hizbullah dan Hamas sama-sama menghadapi musuh yang jelas, imperium Judea-Amerika, sementara al-Qaida, bak seekor banteng aduan yang gelap mata, menghantam dan menyerang siapa pun: memenggal para turis dalam rekaman video; memicu konflik sektarian; membom tempat-tempat ibadah dan membantai para peziarah. Ketiga, al-Qaida adalah hantu (atau mungkin lebih tepatnya sekumpulan pengecut) yang tak pernah nyata di hadapan umat, sementara Hamas dan Hizbullah hadir riil di tengah-tengah umat dengan serenteng aktivitas sosial-keumatan. Bagi Hamas dan Hizbullah, persatuan dan pembedayaan rakyat di negeri masing-masing adalah senjata paling ampuh dalam menghadapi imperialisme, sementara al-Qaida hanya peduli pada tiga kata: hancurkan, hancurkan, dan hancurkan.

Jika demikian, tampaknya al-Qaida layak menerima cinta dan kekaguman sejati (dan tentu saja rahasia) dari Bush dan para "bushes". "Bravo" al-Qaida!


[13] Lihat laporan Human Rights Watch edisi Oktober 2005, Volume17, No. 9 (E)

[16] Analisis lebih lengkap tentang bagaimana al-Qaida memainkan peran kunci dalam rencana "perang global" AS, silakan rujuk makalah presentasi Profesor Michel Chossudovsky pada The International Citizens Inquiry into 9/11, di Toronto, pada 25-30 Mei 2004. [http://www.globalresearch.ca/index.php?context=va&aid=6307]

Monday, July 16, 2007

Keadilan dan Kontrol Masyarakat

Dalam peraturan umum berlalu-lintas, seluruh mobil diharuskan berjalan di sebelah kiri jalan. Dalam keadaan demikian, mestinya seluruh pengemudi kendaraan akan saling memperhatikan satu sama lain. Ketika mereka menyaksikan seorang pengemudi melakukan pelanggaran (berjalan di kanan jalan), umumnya pengguna jalan lain akan memperingatkan dengan membunyikan klakson atau menyalakan lampu.

Kalau seorang polisi mengetahui kejadian itu, mestinya ia akan langsung menindak sang pelaku pelanggaran dan menjatuhkan denda kepadanya. Namun, jika si polisi itu tidak mengetahui kejadiannya, mestinya masyarakat akan memberikan kesaksian kepadanya. Dengan kondisi semacam itu, tentu akan sangat sedikit sekali pengemudi yang berniat melakukan pelanggaran.

Berdasarkan perumpamaan di atas kiranya keinginan agar seluruh masyarakat dalam berbagai masalah tidak sampai melanggar undang-undang dan keluar dari garis keadilan, hanya mungkin terwujud apabila secara bersama-sama, masyarakat menjalankan amar ma’ruf dan nahi munkar.

Masing-masing individu masyarakat tidak boleh menganggap remeh segenap bentuk pelanggaran dan harus segera bereaksi menentangnya (apabila pelanggaran terjadi). Melalui cara ini, masyarakat akan mempersempit ruang gerak orang-orang yang berniat melakukan pelanggaran dan memperlakukannya secara layak. Mudah-mudahan suatu hari kelak, kita akan menyaksikan revolusi kebudayaan Islam sukses meraih kemenangan dan menyebar ke pelbagai universitas di seluruh penjuru dunia.

Mudah-mudahan kita akan melihat suatu masa di mana, misalnya, seorang mahasiswa yang telah meraih gelar dokter, namun ketika membuka praktik, dirinya tidak mengetahui cara pengobatan jenis penyakit yang diderita seorang pasiennya, secara jujur mengatakan, ”Saya tidak mengetahui cara pengobatannya.”

Dan dengan penuh keikhlasan hati, ia juga akan mengembalikan biaya pengobatan yang telah diberikan, dan dengan diiringi rasa persaudaraan, menunjukkan seorang dokter spesialis di bidang pengobatan penyakit dimaksud. Pada saat itulah, kita akan menyaksikan keadilan sosial benar-benar terwujud di tengah-tengah masyarakat.[undzurilaina]

(disadur dari “Membangun Agama”, karya: Prof. Muhsin Qiraati)


Friday, July 13, 2007

Bening

Bening[1]

Banyak orang bertanya Bagaimana caranya dapat menilai secara jernih, sehingga hakikat dari suatu permasalahan dapat tertangkap dengan baik apa adanya.

Allah SWT berfirman:

“Bertakwalah kepada Allah, niscaya Ia akan mengajarkan kalian” (QS. Al-Baqarah: 282).

Bertakwalah! Allah akan menunjukkan hakikat kepada kalian. Takwa berarti menjauhkan diri dari segala macam keburukan.

Benar, orang-orang yang terkotori dengan dosa tidak dapat menyaksikan hakikat. Tidak dapat menilai segala sesuatu secara jernih apa adanya.

Seseorang yang masih dibelenggu oleh fanatik kesukuan, partai, kelompok, ras dan lain-lain tidak dapat memahami hakikat seperti apa adanya. Sama seperti seseorang yang memakai kaca mata berwarna merah, buah kecapi akan dilihat seperi tomat. Dan bila ia memakai kaca mata hijau, ia akan melihat tumpukan jerami sebagai rumput hijau.

Bila cermin diberi pigura yang bagus dan dibersihkan, ia akan dapat menunjukkan gambar apa saja dengan baik. Cermin hati juga perlu dibingkai dan dibersihkan, sehingga ia dapat mengetahui makrifat, dapat mengenal hakikat.

Hati yang dipenuhi kebencian bak wadah yang kotor. Bila dituangkan air bersih di sana, air itu akan segera menjadi kotor.

Dosa adalah debu yang menghalangi manusia untuk dapat melihat sesuatu secara apa adanya, Bening. [undzurilaina]


[1] Disadur dari buku “Anda Bertanya, Anda Menjawab”, karya Prof. Muhsin Qiraati

Wednesday, July 11, 2007

Sholat Iya, Maksiat Jalan Terus..Kok?

Mungkin kita pernah mendengar pertanyaan sinis seputar sholat. Salah satu diantaranya misalnya: ”Apabila shalat dapat menahan orang untuk tidak melakukan perbuatan buruk, mengapa sebagian orang yang melaksanakan salat masih juga berbuat keburukan? Alias sholat iya, maksiat jalan terus?”

Pertanyaan tersebut bisa dijawab secara sederhana sbb:

Pertama, benih yang kosong tidak akan pernah bisa tumbuh. Shalat tanpa menghadirkan hati, khusyuk, seperti benih yang kosong yang tidak bakal pernah tumbuh. Shalat akan membuat manusia menjauhi perbuatan buruk bila dilakukan dengan khusyuk. Tanpa kekhusyukan ucapan yang kita baca dan gerakan yang dilakukan tidak akan berarti.

Bila sekolah memberikan kemampuan kepada siswanya untuk tumbuh secara keilmuan, itu tidak berarti setiap yang belajar ke sekolah pasti berhasil. Seorang yang berhasil di sekolah karena belajar dengan giat dan apa yang dipelajari dipahami.

Shalat pun demikian. Bila dilakukan dengan aturan-aturan yang telah ditetapkan dalam agama, ia dapat menahan seseorang dari perbuatan buruk. Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar” (QS. Ankabut: 45).

Kedua, seorang yang melakukan shalat dan masih melakukan perbuatan keji dan mungkar, akan melakukannya lebih banyak seandainya ia tidak shalat. Karena setidaknya ia harus melakukan shalatnya dengan pakaian yang suci dan halal. Pakaian dan tempat yang dihasilkan dengan jalan halal. Dengan menjaga hukum yang semacam ini, membuat seorang yang melakukan shalat terjaga dari perbuatan dosa. Sebagaimana seseorang yang memakai pakaian putih tidak akan duduk di sembarang tempat, untuk menjaga agar pakaiannya tidak kotor. [undzurilaina]

Thursday, July 5, 2007

Dengan Ujiannya Sekaligus

Seorang Jamaah haji asal Indonesia berangkat melalui sebuah travel dengan biaya yang cukup mahal yang dikenal dengan ONH Plus.

Sesampainya di airport Jeddah dia mendapat masalah...Rombongannya sudah keluar airport menuju hotel tinggal dia sendiri dengan ditemani petugas dari travel mengurus surat-surat yang membuat dia tertahan dalam airport.

Sudah tiga jam dia menunggu....

Tak lama petugas dari travel menghiburnya. "Sabar ya pak... ini ujian setiap orang selalu ada ujiannya bila pergi haji. Insya Allah haji Bapak mabrur", hibur petugas travel yang mendampingi seperti biasa setiap kesalahan yang mereka buat selalu dikaitkan dengan ujian dari Tuhan.

Selesai berurusan dengan imigrasi, Calon Haji itu pun boleh meninggalkan airport menuju Hotel tempat ia dan teman-temannya menginap.

Capai dan lelah ingin segera ia beristirahat di kamarnya. Setiba di hotel dia harus menunggu kembali selama dua jam karena penghuni sebelumnya belum chek-out.

Dan petugas travel kembali menghiburnya dengan alasan yang khas Indonesia: "Sabar ya Pak, ujian dalam ibadah haji selalu macam-macam datangnya yang tidak kita duga-duga. Insya Allah haji Bapak mabrur", hibur si petugas travel kembali.

"ADUH BAPAK TEH KUMAHA??!... KALAU BAYAR US$7000 ITU HARUSNYA DENGAN UJIAN-UJIANNYA SUDAH SAYA BAYAR !!!!!!! " jawab calon haji yang sudah pegel........

Tuesday, July 3, 2007

Sholat = “SIM” Akherat

Ada sebagian orang yang mempertanyakan bahwa Bagaimana mungkin semua amal perbuatan dikabulkan hanya dengan satu syarat, seperti shalat?

Ada baiknya untuk menjawab pertanyaan tersebut kita mengambil analogi Polisi Lalu Lintas. Coba kita perhatikan polisi lalu lintas. Yang ditanyakan oleh seorang polisi pertama kali kepada seorang pengemudi kendaraan adalah apakah ia memiliki Surat Izin Mengemudi (SIM). Bolehkah apabila kemudian sang pengemudi kemudian menunjukkan surat bukti kesehatan, paspor, surat izin mendirikan bangunan, surat berkelakuan baik dan surat-surat bukti diri lainnya?

Jawabannya, ya pada saat itu tidak ada gunanya surat-surat tersebut. Pada waktu itu polisi hanya akan menerima SIM saja. Hanya SIM yang dapat meloloskan dirinya untuk meneruskan perjalanan. Bila ia tidak memiliki bukti izin mengemudi, maka sekalipun ia memiliki segala bukti diri lainnya, ia tidak akan diperkenankan untuk melalui jalan itu.

Pada waktu kiamat juga demikian. Untuk sampai pada tujuan akhir, setiap orang diminta untuk menunjukkan surat bukti agar dapat lolos. Dan tanda bukti itu adalah SHALAT. Perbuatan lain tidak dibutuhkan pada waktu itu, karena yang diminta pertama kali adalah shalat.[undzurilaina]

(disadur dari buku: ”Anda bertanya, Anda menjawab” karya Prof. Muhsin Qiraati)

Monday, July 2, 2007

Jangan Sombong

Dalam beberapa hadits Rasulullah SAW kita membaca bahwa setiap orang yang menganggap dirinya lebih baik dari orang lain, maka ia dikategorikan sebagai orang yang sombong. Secara tak sadar, kita mungkin sering mempunyai sikap seperti ini. Kita merasa bahwa –karena apa yang kita miliki, misal: ilmu, amalan, kedudukan, status sosial, dll—kita lebih baik dari orang lain.

Sikap seperti ini sungguh berbahaya dan menjerumuskan kita sendiri. Ya, karena kita tidak tahu akhir dari nasib seseorang, maka tidak boleh tergesa-gesa menghakimi diri kita apalagi orang lain. Banyak sekali orang bejat yang akhirnya menjadi orang mukmin dan orang mukmin yang akhir hidupnya ternyata menjadi orang bejat.

Imam Jafar Shadiq dalam menjelaskan hadis yang menjelaskan hal ini berkata: “Para penyihir yang dalam hidupnya menyimpang dari ajaran ilahi, setelah melihat mukjizat Nabi Musa as dalam sekejap menjadi mukmin. Bahkan semua ancaman Firaun tidak dihiraukan. Sementara setan dengan 6 ribu tahun beribadat akhirnya menyimpang. Lihat Hurr dan Zuhair pada peristiwa Karbala akhirnya mati sebagai syahid[1].

Dengan dasar ini, setiap orang yang masih belum berakhir kehidupannya, tidak boleh sombong karena ada kemungkinan ia keluar dari jalan kebenaran.

Ya Muqalliba al-Quluub, tsabbit quluubana ’ala ad-Diinik (Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkan hati-hati kami pada jalan agama-Mu).


[1] Hurr dan Zuhair semula adalah salah satu pimpinan laskar Yazid yang menyerang Imam Husain besera rombongan di Karbala. Namun kemudian mereka taubat dan berbalik ke pihak Imam Husain, ia pun ikut gugur syahid ketika membela Imam Husain.

Pedagang Sejati

Alkisah, Cak Amir adalah seorang pedagang tulen yang terkenal di kota. Dia sudah mulai berdagang sejak muda dari mulai sekedar membantu orang tuanya menjagakan toko, sampai akhirnya mempunyai toko sendiri yang cukup ramai. Saking ramainya, sehingga dia selalu buka setiap hari, tak peduli hari libur. Bahkan hari libur itulah ramai-ramainya pembeli, katanya.

Cak Amir punya 5 anak: jaelani, rohana, julaeha, rahmat dan saleh. Anak-anak cak Amir ini termasuk anak-anak yang nurut sama orang tuannya. Mereka sering secara bergiliran membantu menjaga ayahnya menjagakan toko. Dan ini sudah berjalan bertahun-tahun sehingga sudah menjadi kebiasaan tanpa diperintah lagi.

Saking semangatnya cak Amir dalam berdagang, sering kali dia tidak mempedulikan kekuatan fisiknya yang sudah mulai melemah karena dimakan usia. Sampai akhirnya ia jatuh sakit yang cukup parah, hingga dokter pun sudah menyerah untuk mengobatinya. Alias, hidupnya sudah tidak lama lagi. Cak Amir pun punya firasat bahwa rasa-rasanya ia akan segera meninggalkan dunia yang fana ini.

Karena tahu bahwa Cak Amir sudah dekat dengan ajalnya, istri cak Amir berinisiatif untuk mengumpulkan semua anaknya mengelilingi sang Ayah. Barangkali ada pesan-pesan terakhir yang ingin disampaikan sang Ayah kepada anak-anaknya.

Alhasil, semua anaknya sudah berkumpul mengeliling sang Ayah yang lunglai terbaring di atas ranjang. Kemudian dengan suara yang pelan dan berat, Cak Amir mulai bicara:

Cak Amir: Bu, apakah anak-anak sudah pada ngumpul sekarang?

Ibu: Sudah, yah.

Cak Amir: Jaelani ada?

Jaelani: Ada, yah.

Cak Amir: Rohana ada?

Rohana: Ada, ayahku sayang.

Cak Amir: Julaeha?

Julaeha: Ada, yah.

Cak Amir: Rahmat, Saleh?

Rahmat dan Saleh: Hadir, yah.

Cak Amir (terdiam sejenak....kemudian berkata): Loh, lalu yang jaga toko SIAPA??! [undzurilaina]

BAHASA AIRMATA

Oleh Dr. Alwi Syihab, Phd.

Banyak cara untuk menyampaikan pesan dan terdapat aneka ragam bahassa berkomunikasi, bahkan berdiam seribu bahasa sering lebih efektif untuk mengungkapkan sikap Siti Maryam, ibu Nabi Isa AS. yang diperintahkan Allah SWT. berdiam atau menggunakan simbol untuk menyampaikan pesan (QS 3:41 dan 9:26). Terkadang aksi mogok makan sebagai protes, Ummu Kaltsum, penyanyi tanah Mesir pernah mengalunkan suara dari gubahan Ahmad Syaugi yang menggambarkan bahwa bahasa terkadang tidak seampuh lirikan mata untuk mengekspresikan asmara. "Lumpuh ungkapan bahasa, namun tatapan mata yang menyala lebih ampuh untuk menekspresikan cintaku kepada kekasih", kata Syauqi. Diantara sekian banyak sarana komunikasi, linangan airmata atau tangis merupakan pesan yang sangat dalam.

Kita dapat bertanya pada diri kita masing-masing kapan terakhir kita menangis dan mengapa kita menangis. Mencucurkan air mata bukan semata monopoli anak kecil atau kaum wanita. Manusia-manusia agung pun mencucurkan airmata. Dalam sirah (biografi Nabi Muhammad SAW) diriwayatkan bahwa beliau mencucurkan air mata saat mencium putranya Ibrahim, ketika menghembuskan nafas yang terakhir. Melihat air mata nabi yang tak terbendung, Abdurrahman ibn Auf tercengang dan berkata, ”Engkau menangis wahai Rasul”. Nabi menjawab, ”Ini adalah rahmat Tuhan”, lalu beliau bersabda: "Airmata berlinang, hati terkoyak-koyak kesedihan, namun kami tidak akan berkata kecuali yang diredhai Allah. Wahai anakku Ibrahim, sungguh kami sedih atas perpisahan ini".

Nabi Isa as pun menangis. Menurut riwayat Perjanjian Baru (St. John), Mary dan Martha meminta kedatangan Jesus untuk mengobati saudara mereka Lazarus yang telah meninggal. Menurut St. John, perasaan Jesus sangat terganggu dan sedih sambil mencucurkan airmata.

Pertama-tama kita harus sadari bahwa menangis adalah kenyataan biologis, ia berfungsi sebagai sistem pembersih kornea mata. Oleh karenanya jika air mata mengendap dibalik mata, alat penglihatan akan terganggu. Binatang pun menangis, tapi mungkin hanya manusia yang mengaitkan airmata dengan responsi emosial. Ahli-ahli ilmu Jiwa mendeteksi bahwa mereka yang sering menangis, terutama anak-anak kecil, lebih sempurna keinginannya ketimbang yang jarang menangis. Manusia adalah makhluk yang peka dan acap menangis, ia menangisi jika disakiti, ketika ia takut, ia sedih ingin dikasihani, bahkan apabila bahagia.

Masih dalam lingkup menangis, manusia terkadang mengeluarkan airmata buaya jika hendak mengelabuhi atau menipu. Oleh karenanya kita perlu memahami bahasa airmata. Bahasa ini terkadang lebih jelas dari bahasa kata-kata, ia memiliki aturan tertentu yang menghubungkan pemikiran dan emosi melalui sarana yang sangat canggih. Menangis bersumber spiritual manusia. Namun sayangnya manusia pada umumnya menggunakan standar ganda dalam menghadapi budaya tangis. Hanya kaum Hawa yang dinilai wajar menangis, bahkan dalam kebudayaan tertentu wanita akan diberi tempat layak apabila ia mengucurkan airmata pada situasi tertentu. Sebaliknya anak lelaki atau pria, rasa hormat akan diberikan ketika mereka dapat menahan airmata. Bahkan atribut ketegaran sering diberikan kepada seorang wanita, dikala ia menahan linangan airmata.

Kalau saja kita dapat memahami bahasa tangis, pandangan sepihak atau standar ganda yang selama ini membentuk persepsi kita akan lambat laun kita tanggalkan. Salah satu cara untuk mengoreksi kekeliruan tersebut adalah upaya untuk membedakan tipe-tipe tangis yang sangat bervariasi.

Variasi Tangis

Airmata dapat melaju karena faktor fisiologis. Mata terkena debu, aroma bawang atau gas yang mengandung bahan kimia. Airmata juga dapat keluar saat tingkat hormon tidak seimbang. Adapula airmata yang didorong oleh kenangan yang mengesankan, yang indah atau yang buruk. Kita hidupkan kenangan-kenangan tersebut melalui linangan airmata. Lain lagi airmata yang memberikan rasa lega, yang berfungsi sebagai terapi untuk mengatasi rasa cemas yang berkepanjangan. Kita pun menangis akibat tangisan orang banyak, misalnya tangisan saat tangisan saat perkawinan, wisuda atau memasuki masa purnabhakti. Airmata ini pertanda keakraban hubungan.

Airmata juga melambangkan ekspresi rasa kehilangan, terutama bila yang hilang sangat berarti bagi seseorang. Jangankan manusia, meninggalnya anjing kesayangan mantan Presiden Amerika, George Bush, sangat membesar pada hati keluarga Bush, demikian menurut berita CNN. Kematian tanpa cucuran airmata dianggap anomali. Dalam kebudayaan Yunani, Cina dan Timur Tengah, wanita bayaran untuk meratapi jenazah masih berlaku sampai sekarang. Pada saat-saat perpisahan, airmata mengekspresikan rasa penghargaan dan mengundang refleksi, depresi, frustasi dan putus-asa juga membangkitkan laju airmata yang deras. Airmata yang keluar saat itu sebagai akibat ketidakberdayaan, sangat menyayat hati. Ketika itu kita benci melihat tetesan airmata.

Dilain pihak, kita sering menangis karena tidak dapat membendung kebahagiaan. Ungkapan kata sangat terbatas untuk menampung rasa bahagia yang begitu dahsyat. Kelahiran anak pertama, keberhasilan yang didambakan. Airmata simpati akibat kesedihan yang ditimpa orang lain sering juga kita alami. Bahkan terkadang kita sengaja mengeluarkan uang untuk mengundang air mata tersebut melalui pertunjukan film. Imaginasi kita dapat membangkitkan rasa haru yang disusul dengan tangisan tersedu-sedu. Ada pula tangisan yang bersifat manipulatif dengan cara mengundang simpati orang lain, menunjukkan penyesalan guna meringankan vonis/hukuman. Yang paling pandai menggunakan tangisan ini adalah anak-anak dan mungkin juga wanita, demikian Joseph Kottle dalam bukunya The Language of Tears.

Agama dan Tangis

Air mata yang tercurah akibat penyesalan atau dosa, ketakutan akan siksaan Tuhan atau kekhawatiran akan nasib di hati kemudian, disamping kebahagiaan atas penemuan dan kehampiran kepada Tuhan, kesemuannya mendapat tempat terpuji dalam perbendaharaan bahasa kitab suci. Dalam literatur tasawuf, sebelum kata "Sufi" (yang menunjuk kepada kelompok yang menekankan aspek spritual dalam kehidupannya), populer digunakan, kelompok ini diberi atribut Al-Bakkauun yang berarti "Penangis atau yang suka menangis". Kelompok ini yang dipelopori oleh Al-Hasan Al-Bashri, tiap kali merenungkan ayat-ayat Al-Quran mereka menangis tersedu-sedut. Ketika surga disebut, mereka mengucurkan airmata sambil berharap dapat memasukinya, dan ketika siksaan neraka digambarkan mereka pun menangis karena takut terjerumus kepadanya.

Pengalaman spiritual seseorang khususnya di tempat-tempat suci membangkitkan rasa syahdu, khusyuk sehingga airmata laju tak terbendung. Umat Yahudi bahkan memiliki Wailing Wall (Dinding Ratap), dimana mereka meratap sambil memohon ampunan. Demikian halnya umat Kristen ketike melawat ke Jerusalem, sambil mengenang kehidupan serta perjalanan spiritual Yesus, airmata yang membasahi pipi terlihat dimana-mana. Tidak ubahnya dengan umat Islam yang berdiri di Multazam (sisi kanan Hajar Aswad di Ka'bah), dimana mereka meratap sambil mengenang kehidupan serta perjalanan spiritual Jesus, airmata yang membasahi pipi terlihat dimana-mana. Tidak ubahnya dengan umat Islam yang dibarengi cucuran airmata dan tangisan merupakan hal biasa.

Belum lagi saat beraudiensi di makam Rasulullah di Madinah sambil mengucapkan salam dan penghargaan kepada Beliau, suara tangis terdengar walau dari kejauhan. Hal yang sama dapat dijumpai dihadapan maqam Imam Husein di Karbala atau Cairo, pengunjung bertangisan mengenang perjuangan beliau meletakkan keadilan walau harus mengorbankan jiwanya.

Sungguh, bahasa airmata secara jelas menyampaikan pesannya, "Ya Tuhan, aku datang memohon ampunan dan mengharapkan rahmat. Ya Tuhan, berilah aku kekuatan untuk mengikuti jejak RasulMu".

Dalam Al-Qur'an kita jumpai kata-kata menangis, atau cucuran airmata disebut beberapa kali. Terkadang menggambarkan kesedihan atas kematian (44:29), atau kekhawatiran atas ancaman Tuhan (53:60). Terekam pula airmata saudara-saudara Nabi Yusuf AS. saat mengelabuhi ayahnya, Nabi Ya'qub AS. (12:16). Tangis sedu lagi khusyu' sebagai manifestasi iman dan kehampiran kepada Allah SWT (17:107 dan 19:58). Disamping itu Al-Qur'an menggambarkan betapa sebagian umat Kristen mengucurkan airmata saat mendengarkan apa yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Curahan airmata dibarengi dengan kesaksian terhadap kebenaran wahyu ilahi (5:83). Tergambar pula tangisan suatu kelompok yang bersedih hati karena harus tertinggal dari suatu peperangan dijalan Allah (9:92).

Mari kita merenung bersama, apa yang menjadikan airmata kita melaju. Apakah hanya terbatas ketika sedih karena kehilangan, depresi karena frustasi, atau ketidakberdayaan karena jalan buntu? Masih tertinggalkah tetesan airmata saat mendengar peringatan Tuhan, atau mengenang perjuangan rasul-rasul Nya? Semoga demikian.

Penulis adalah Professor pada Hartford Seminary, Connecticut, USA