Thursday, March 13, 2008

For All US Citizens...

Why are Palestinians reacting against Israel













Israeli soldiers passing out candy to the kids.
Making sure they get to school.

Helping Ladies across the street..


Providing childcare.

Allowing them a place to rest (permanently)

Access to Healthcare.


Construction projects (demolition)

Respecting American and British pacifist resisters (such as American Rachel Corrie)


And others.

And if you are not satisfied, now, with the truth the following pictures are war crimes as defined by the UN, The Hague and the Geneva Convention.

Using images of your enemy dead or alive (violation)


Human shields (violation)
Live Burial Torture (violation)
And as a last resort, Execution (violation)

These IDF soldiers have faces... I can clearly see them...Can't you? Why are they not being prosecuted? Because it is systematic process that is driven by the government designed to force the people of Palestine into exile so Israel can claim all the land and resources.


This where my American tax dollars are going, do you know where your tax dollars are at? TAKE THE TIME TO FIND THE TRUTH. So many lives depend on it. I, like so many Americans, am Caucasian, non-Arab, and religious. I can no longer sit back with good conscience and do nothing while my government is supporting the types of terrorist actions that we have condemned Muslim Fundamentalist for. Call your Congressman and Senator, send an email to the White House and demand that our government negotiate FAIRLY with both sides and bring a fair and just solution to Palestine and Israel .


Dia adalah Saudara Saya


Laporan Mochamad Elman Dari Teheran, Iran
TEHERAN - Diawali upacara militer yang berlangsung sederhana, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono diterima di Kantor Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad kemarin pukul 07.30 waktu setempat atau sekitar pukul 11.00 WIB.

Begitu turun dari mobil di halaman kantor, sebuah gedung dua lantai, SBY langsung dirangkul dan dicium kedua pipinya oleh Ahmadinejad. "Ini pagi yang indah, pertemuan ini diridai Allah subhana wataʼala," kata SBY kemudian diterjemahkan ke bahasa Iran oleh penerjemah yang berdiri di sampingnya.



Ahmadinejad yang memakai jas lengkap -minus dasi- tampak tersenyum. Keduanya berdiri di samping foto poster SBY ukuran besar yang dipasang di depan kantor kepresidenan. SBY dan Ahmadinejad yang bertubuh ramping itu lalu menaiki tangga kantor kepresidenan untuk melakukan pembicaraan empat mata.

Sambutan terhadap SBY benar-benar hangat. Sepanjang jalan menuju kantor kepresidenan, foto poster SBY terpampang di mana-mana. Jalanan Teheran sangat minim iklan komersial. Yang banyak justru foto pemimpin spritual dan revolusi Islam Iran almarhum Ayatollah Khomeini dan pemimpin spiritual (Supreme Leader) Ali Khamenei.

Namun, khusus menyambut SBY, foto ukuran besar itu sudah menyambut delegasi Indonesia saat tiba di Bandara Internasional Mehraba, Senin (10/3).

Agenda pertemuan SBY kemarin, selain membahas masalah politik dan keamanan internasional, juga membicarakan kerja sama ekonomi kedua negara. Delegasi presiden yang dibawa dalam kunjungan ke Iran, antara lain, Ny Hj Ani Bambang Yudhoyono, Mensesneg Hatta Radjasa, Menlu Hassan Wirajuda, Menperdag Marie Elka Pangestu, Menteri Agama Maftuh Basyuni, dan Utusan Khusus Presiden untuk Timur Tengah Alwi Shihab. Dari kalangan pengusaha tampak antara lain Ketua Kadin Moh. S. Hidayat, Dirut PT Pertamina Ari Sumarno, serta Dirut PT Garuda Indonesia Emirsyah Satar.

Pada kunjungan SBY ke kantor kepresidenan kemarin, ibu negara Ani SBY tidak terlihat. Yang juga menarik, semua staf kepresidenan dan protokoler harus memakai busana longgar dan penutup kepala. Tak terkecuali Menteri Perdagangan Marie Pangestu yang tampak anggun dengan jarik batik, kebaya, kerudung merah muda.

Ahmadinejad terkesan sangat girang menyambut SBY. Boleh jadi itu terkait keputusan Indonesia mengambil sikap tidak mendukung (abstain) Resolusi 1747 Dewan Keamanan PBB yang memberi sanksi lebih berat untuk program nuklir Iran. Saat pengambilan suara di Dewan Keamanan Selasa (4/3), Indonesia menjadi lonely nation karena menjadi satu-satunya negara yang bersikap abstain. 14 negara lainnya mendukung resolusi.

Karena itu, saat dipertemukan dengan semua anggota delegasi, tak semua mendapat ciuman dari Ahmadinejad. Tapi, giliran Menlu Hassan dan Utusan Khusus Timur Tengah Alwi Shihab, keduanya dipeluk dan dihadiahi ciuman.

Perhatian terhadap kehadiran SBY sangat besar. Ini terlihat dari puluhan wartawan lokal dan internasional yang meliput. Pertemuan empat mata dan pembicaraan bilateral delegasi kedua negara berlangsung lumayan panjang, tiga jam lebih. Meski demikian, para wartawan itu terlihat dengan sabar menunggu. Ruang konferensi pers tak ada separonya Istana Merdeka, sehingga udara Teheran yang sebetulnya dingin jadi terasa gerah.

Kota Teheran sedang menyongsong musim semi. Pohon-pohon kebanyakan masih meranggas. Beberapa puncak gunung yang mengitari ibu kota Iran ini masih diselimuti salju.

Pada saat jumpa pers siangnya Ahmadinejad terang-terangan memuji sikap abstain Indonesia sebagai langkah yang bisa memengaruhi citra tentang Dewan Keamanan PBB. "Itu sikap yang adil," katanya.

Ahmadinejad yakin kehadiran Indonesia sebagai anggota tidak tetap di DK PBB bisa memengaruhi lembaga ini untuk menjaga perdamaian dunia. Sebagai negara

besar di Timur Tengah dan Asia Tenggara, mantan wali kota Teheran itu yakin Iran dan Indonesia bisa berperan dalam percaturan ekonomi serta mencari solusi bagi konflik di Palestina, Afghanistan, Iraq, dan lain-lain.

"Beliau adalah saudara saya," kata Ahmadinejad. Dia juga berjanji lebih banyak mengajak SBY membicarakan persoalan-persoalan kenegaraan bersama.

Usai jumpa pers, acara dilanjutkan jamuan santap siang. Ahmadinejad dan SBY lalu keluar dengan berjalan kaki dari kantor kepresidenan. Bak "saudara", keduanya saling menebar senyum dan lambaian tangan kepada para wartawan.

Jarak ke tempat makan siang itu sekitar 100 meter dari kantor presiden. Di luar dugaan, saat pintu gerbang kantor kepresidenan dibuka, beberapa gadis SD yang masih membawa tas sekolah mencegat SBY dan Ahmadinejad. Mereka berceloteh bareng dalam bahasa Iran. Rupanya, rombongan bocah itu ingin mengajak tamu negara Iran dan minta tanda tangan. SBY benar-benar sedang punya banyak fans di Iran. (*/kim)

Thursday, January 24, 2008

O' Muhammadku....

Jika adalah rindu yang tak lepas
Adalah rinduku naik kapal Nabi Nuh
Jika adalah rinduku yang tertahan
Adalah rinduku memegang tongkat Nabi Musa

Dari seribu kerinduan
Berapakah kiranya yang dikau berikan?
Dari sepuluh kerinduan
Berilah rindu yang amat bersangatan

Jika adalah rindu yang tak lepas
Adalah rinduku terhadap Nabi Ayyub
Jika adalah rindu yang tak tertahan
Rinduku mendengar merdu Nabi Daud


Jika adalah rindu yang tak lepas
Adalah rindu bersalam Nabi Khidir
Jika adalah rindu yang bersangatan
Adalah rinduku syafaat Nabi Muhammad

Aku merindukanmu, O’ Muhammadku!!!

Sepanjang jalan kulihat wajah-wajah yang kalah
Menatap mataku yang tak berdaya
Sementara tangan-tangan perkasa
Terus mempermainkan kelemahan

Air mataku pun mengalir mengikuti panjang jalan
Mencari-cari tangan lembut wibawamu...

Dari dada-dada tipis papan
Terus kudengar suara serutan
Derita mengiris berkepanjangan
Dan kepongahan tingkah meningkah
Telingaku pun kutelengkan
Berharap sesekali mendengar
Merdu menghibur suaramu
Aku merindukanmu, O’ Muhammadku…

Ribuan tangan gurita keserakahan
Menjulur ke sana kemari
Mencari mangsa memakan kurban
Melilit bumi meretas harapan
Aku pun dengan sisa-sisa suaraku
Mencoba memanggil-manggilmu,
O’ Muhammadku, O’ Muhammadku...

Dimana-mana sesama saudara
Saling cakar berebut benar
Sambil terus berbuat kesalahan
Quran dan sabdamu hanyalah kendaraan
Masing-masing mereka yang berkepentingan
Aku pun meninggalkan mereka
Mencoba mencarimu dalam sepi rinduku...

Aku merindukanmu, O’ Muhammadku...
Sekian banyak Abu Jahal Abu Lahab
Menitis ke sekian banyak ummatmu
O’ Muhammadku, shalawat dan salam bagimu

Bagaimana melawan gelombang kebodohan
Dan kecongkakan yang telah tergayakan?
Bagaimana memerangi umat sendiri?
O’ Muhammadku
Aku merindukanmu, O’ Muhammadku
Aku sungguh merindukanmu...

Ketika Tangan dan Kaki Bicara

Penyair Taufiq Ismail menulis sebuah artikel tentang Krismansyah Rahadi atau yang akrab dipanggil dengan Chrisye (1949-2007) di majalah sastra HORISON.

Krismansyah Rahadi (1949-2007): KETIKA MULUT, TAK LAGI BERKATA.
oleh: TAUFIQ ISMAIL

Di tahun 1997 saya bertemu Chrisye sehabis sebuah acara, dan dia berkata, "Bang, saya punya
sebuah lagu. Saya sudah coba menuliskan kata-katanya, tapi saya tidak puas… Bisakah Abang tolong tuliskan liriknya?"


Karena saya suka lagu-lagu Chrisye, saya katakan bisa. Saya tanyakan kapan mesti selesai. Dia bilang sebulan. Menilik kegiatan saya yang lain, deadline sebulan itu bolehlah. Kaset lagu itu dikirimkannya, berikut keterangan berapa baris lirik diperlukan, dan untuk setiap larik berapa jumlah ketukannya, yang akan diisi dengan suku kata. Chrisye menginginkan puisi relijius.

Kemudian saya dengarkan lagu itu. Indah sekali. Saya suka betul. Sesudah seminggu, tidak ada ide. Dua minggu begitu juga. Minggu ketiga inspirasi masih tertutup. Saya mulai gelisah. Di ujung minggu keempat tetap buntu. Saya heran. Padahal lagu itu cantik jelita. Tapi kalau ide memang macet, apa mau dikatakan.


Tampaknya saya akan telepon Chrisye keesokan harinya dan saya mau bilang, " Chris, maaf ya, macet. Sori." Saya akan kembalikan pita rekaman itu. Saya punya kebiasaan rutin baca Surah Yasin.

Malam itu, ketika sampai ayat 65 yang berbunyi, A'udzubillahi minasy syaithonirrojim.
"Alyauma nakhtimu 'alaa afwahihim, wa tukallimuna aidhihim, wa tasyhadu arjuluhum bimaa kaanu yaksibuun" saya berhenti.

Maknanya, "Pada hari ini Kami akan tutup mulut mereka, dan tangan mereka akan berkata kepada Kami, dan kaki mereka akan bersaksi tentang apa yang telah mereka lakukan."


Saya tergugah. Makna ayat tentang Hari Pengadilan Akhir ini luar biasa!

Saya hidupkan lagi pita rekaman dan saya bergegas memindahkan makna itu ke lirik-lirik lagu tersebut. Pada mulanya saya ragu apakah makna yang sangat berbobot itu akan bisa masuk pas ke dalamnya. Bismillah. Keragu-raguan teratasi dan alhamdulillah penulisan lirik itu selesai.

Lagu itu saya beri judul Ketika Tangan dan Kaki Berkata.

Keesokannya dengan lega saya berkata di telepon," Chris, alhamdulillah selesai". Chrisye sangat gembira. Saya belum beritahu padanya asal-usul inspirasi lirik tersebut.

Berikutnya hal tidak biasa terjadilah. Ketika berlatih di kamar menyanyikannya baru dua baris Chrisye menangis, menyanyi lagi, menangis lagi, berkali-kali.

Di dalam memoarnya yang dituliskan Alberthiene Endah, Chrisye, Sebuah Memoar Musikal,
2007 (halaman 308-309), bertutur Chrisye: Lirik yang dibuat Taufiq Ismail adalah satu-satunya lirik dahsyat sepanjang karier, yang menggetarkan sekujur tubuh saya. Ada kekuatan misterius yang tersimpan dalam lirik itu. Liriknya benar-benar mencekam dan menggetarkan.
Dibungkus melodi yang begitu menyayat, lagu itu bertambah susah saya nyanyikan! Di kamar, saya berkali-kali menyanyikan lagu itu. Baru dua baris, air mata saya membanjir. Saya coba lagi.
Menangis lagi. Yanti (istri Chrisye) sampai syok! Dia kaget melihat respons saya yang tidak biasa terhadap sebuah lagu. Taufiq memberi judul pada lagu itu sederhana sekali, Ketika Tangan dan Kaki Berkata.

Lirik itu begitu merasuk dan membuat saya dihadapkan pada kenyataan, betapa takberdayanya manusia ketika hari akhir tiba. Sepanjang malam saya gelisah. Saya akhirnya menelepon Taufiq dan menceritakan kesulitan saya.

"Saya mendapatkan ilham lirik itu dari Surat Yasin ayat 65..." kata Taufiq.

Ia menyarankan saya untuk tenang saat menyanyikannya. Karena sebagaimana bunyi ayatnya, orang memang sering kali tergetar membaca isinya. Walau sudah ditenangkan Yanti dan Taufiq, tetap saja saya menemukan kesulitan saat mencoba merekam di studio. Gagal, dan gagal lagi.
Berkali-kali saya menangis dan duduk dengan lemas. Gila! Seumur-umur, sepanjang sejarah karir saya, belum pernah saya merasakan hal seperti ini. Dilumpuhkan oleh lagu sendiri!

Butuh kekuatan untuk bisa menyanyikan lagu itu. Erwin Gutawa yang sudah senewen menunggu lagu terakhir yang belum direkam itu, langsung mengingatkan saya, bahwa keberangkatan ke Australia sudah tak bisa ditunda lagi. Hari terakhir menjelang ke Australia , saya lalu mengajak Yanti ke studio, menemani saya rekaman. Yanti sholat khusus untuk mendoakan saya. Dengan susah payah, akhirnya saya bisa menyanyikan lagu itu hingga selesai.

Dan tidak ada take ulang! Tidak mungkin. Karena saya sudah menangis dan tak sanggup menyanyikannya lagi. Jadi jika sekarang Anda mendengarkan lagu itu, itulah suara saya dengan getaran yang paling autentik, dan tak terulang! Jangankan menyanyikannya lagi, bila saya mendengarkan lagu itu saja, rasanya ingin berlari!

Lagu itu menjadi salah satu lagu paling penting dalam deretan lagu yang pernah saya nyanyikan. Kekuatan spiritual di dalamnya benar-benarbenar meluluhkan perasaan. Itulah pengalaman
batin saya yang paling dalam selama menyanyi.

Penuturan Chrisye dalam memoarnya itu mengejutkan saya. Penghayatannya terhadap Pengadilan Hari Akhir sedemikian sensitif dan luarbiasanya, dengan saksi tetesan air matanya. Bukan main. Saya tidak menyangka sedemikian mendalam penghayatannya terhadap makna
Pengadilan Hari Akhir di hari kiamat kelak.

Mengenai menangis, menangis ketika menyanyi, hal yang serupa terjadi dengan Iin Parlina dengan lagu Rindu Rasul. Di dalam konser atau pertunjukan, Iin biasanya cuma kuat menyanyikannya dua baris, dan pada baris ketiga Iin akan menunduk dan membelakangi penonton menahan sedu sedannya. Demikian sensitif dia pada shalawat Rasul dalam lagu
tersebut.

* * *

Setelah rekaman Ketika Tangan dan Kaki Berkata selesai, dalam peluncuran album yang saya hadiri, Chrisye meneruskan titipan honorarium dari produser untuk lagu tersebut. Saya enggan menerimanya.


Chrisye terkejut. " Kenapa Bang, kurang?"

Saya jelaskan bahwa saya tidak orisinil menuliskan lirik lagu Ketika Tangan dan Kaki Berkata itu. Saya cuma jadi tempat lewat, jadi saluran saja. Jadi saya tak berhak menerimanya. Bukankah itu dari Surah Yasin ayat 65, firman Tuhan? Saya akan bersalah menerima sesuatu yang bukan hak saya.

Kami jadi berdebat. Chrisye mengatakan bahwa dia menghargai pendirian saya, tetapi itu merepotkan administrasi. Akhirnya Chrisye menemukan jalan keluar. "Begini saja Bang, Abang tetap terima fee ini, agar administrasi rapi. Kalau Abang merasa bersalah, atau berdosa, nah, mohonlah ampun kepada Allah. Tuhan Maha Pengampun ' kan?"

Saya pikir jalan yang ditawarkan Chrisye betul juga. Kalau saya berkeras menolak, akan kelihatan kaku, dan bisa ditafsirkan berlebihan. Akhirnya solusi Chrisye saya terima. Chrisye
senang, saya pun senang.

* * *

Pada subuh hari Jum'at, 30 Maret 2007, pukul 04.08, penyanyi legendaris Chrisye wafat dalam usia 58 tahun, setelah tiga tahun lebih keluar masuk rumah sakit, termasuk berobat di Singapura. Diagnosis yang mengejutkan adalah kanker paru-paru stadium empat.


Dia meninggalkan isteri, Yanti, dan empat anak, Risty, Nissa, Pasha dan Masha, 9 album proyek, 4 album sountrack, 20 album solo dan 2 filem.


Semoga penyanyi yang lembut hati dan pengunjung masjid setia ini, tangan dan kakinya kelak akan bersaksi tentang amal salehnya serta menuntunnya memasuki Gerbang Hari Akhir yang semoga terbuka lebar baginya.

Amin.
#

Ketika Tangan dan Kaki Berkata
Lirik : Taufiq Ismail
Lagu : Chrisye

Akan datang hari mulut dikunci
Kata tak ada lagi
Akan tiba masa tak ada suara
Dari mulut kita

Berkata tangan kita
Tentang apa yang dilakukannya
Berkata kaki kita
Kemana saja
dia melangkahnya
Tidak tahu kita bila harinya
Tanggung jawab tiba

Rabbana
Tangan kami
Kaki kami
Mulut kami
Mata hati kami
Luruskanlah
Kukuhkanlah
Di jalan cahaya.... sempurna

Mohon karunia
Kepada kami
HambaMu yang hina (1997).
[undzurilaina]

Monday, January 21, 2008

Value, Risk, dan Hamba Allah

Sebilah pisau umumnya dibuat dengan tujuan untuk memotong daging, buah, sayur dan sejenisnya. Sebuah pensil dibuat dengan tujuan untuk menulis dan menggambar. Mobil dibuat dengan tujuan untuk membuat orang dapat melakukan perjalanan dengan cepat dan nyaman. Teknologi diterapkan di sebuah perusahaan untuk mendukung perusahaan dalam mencapai objektif dan strategi bisnisnya.

Memotong dan menulis itu adalah nilai (value) dari pisau dan pensil. Melakukan perjalanan dengan cepat dan nyaman adalah nilai (value) dari sebuah mobil. Mendukung pencapaian objektif bisnis adalah nilai (value) dari sebuah solusi Teknologi. Semakin sesuai sebuah produk dengan tujuannya maka akan semakin tinggi pula nilainya.

Kemudian kalau kita bertanya mungkinkah produk-produk tersebut tidak mencapai tujuannya, atau bahkan melenceng jauh dan bertolak belakang dengan tujuan pembuatannya? Mungkinkah sebuah pisau yang dibuat dengan tujuan untuk memotong buah dan sayur malah digunakan untuk membunuh orang? Mungkinkah sebuah pensil yang dibuat untuk menulis, malah digunakan untuk menyolok mata temannya oleh seorang anak? Mungkinkah TI yang diterapkan dengan tujuan untuk mendukung pencapaian objektif bisnis malah disalah gunakan oleh sebagian orang untuk melakukan sesuatu yang tidak berhubungan dan/atau bahkan membahayakan perusahaan seperti manipulasi data, hacking, dll?

Bukankah itu semua sangat mungkin terjadi? Hal-hal tersebut diatas biasanya disebut sebagai resiko (risk) dari produk-produk tersebut. Adalah tugas penggunanya untuk menjaga dan memelihara agar produk-produk tersebut digunakan sesuai petunjuk pembuatnya sehingga kemudian dapat mencapai tujuan pembuatan / penerapannya.


“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.٭
(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS. 3:190-191)

Dan tidaklah Kami ciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya, melainkan dengan benar. Dan sesungguhnya saat (kiamat) itu pasti akan datang, maka maafkanlah (mereka) dengan cara yang baik (QS. 15:85)

Dan tidaklah Kami ciptakan langit dan bumi dan segala yang ada di antara keduanya dengan bermain-main.(QS. 21:16)

Segala sesuatu diciptakan oleh Allah SWT tidaklah sia-sia. Allah SWT pasti memiliki tujuan. Allah menciptakan manusia, matahari, bulan, gunung-gunung, tumbuhan, binatang, batu, tanah, angin, dll masing-masing dengan tujuan penciptaannya.

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.(QS. 51:56)

Dia-lah yang menjadikan kamu khalifah-khalifah di muka bumi...(QS. 35:39)

Manusia diciptakan tidak lain untuk mengabdi kepada-Nya. Manusia ditunjuk oleh Allah sebagai khalifah di muka bumi salah satunya berkewajiban untuk menjaga dan memelihara semua ciptaan Allah yang ada di bumi agar mencapai tujuan penciptaannya. Aturan-aturan yang dibuat oleh Allah juga memiliki tujuan tertentu yang dicanangkan-Nya. Allah menjelaskan apa yang ada di setiap perintah dan larangan-Nya. Nilai dari setiap apa yang kita lakukan itu akan bergantung pada kesesuaian kita dalam mewujudkan tujuan aturan-aturan tsb. Nilai amalan yg kita lakukan akan semakin rendah ketika kita menjauh dari tujuan pembuatan aturan2 tsb.

”Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar.” (QS.29:45)

”...sembahlah Aku dan dirikanlah salat untuk mengingat Aku” (QS. 20:14)

Ayat2 di atas menjelaskan diantara tujuan (nilai) dari perintah Sholat. Tapi apakah semua orang yang melakukan sholat akan mencapai tujuan yang diinginkan oleh Allah? Mari kita perhatikan ayat berikut:

”Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk salat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan salat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.” (QS. 4:142)

Ayat di atas mengemukakan bahwa aturan Sholat yang memiliki tujuan dan nilai luhur disalah gunakan oleh orang munafik untuk tujuan-tujuan lain. Di ayat lain (surat al-Ma’un) Allah mengecam orang-orang yang melakukan sholat tapi lalai (terhadap nilai-nilai sholat).

Allah SWT juga mensyariatkan pernikahan pada manusia. Dalam perintah nikah tsb terkandung nilai-nilai yang luhur seperti salah satunya dijelaskan pada ayat berikut:

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir. (QS. 30:21)

Namun demikian apakah setiap orang yang melakukan nikah memiliki tujuan yang mulia sesuai dengan nilai-nilai luhur yang disyariatkan-Nya?

Ternyata tidak! Apa yang akan kita katakan ketika membaca berita bertajuk ”Fenomena ’Sabtu Kawin Minggu Cerai’ Pengungsi Irak”, atau fenomena ”Wisman timteng yang nikah di Puncak”, yang kemudian ditinggal balik ke negaranya setelah meninggalkan sejumlah uang, atau fenomena orang yang nikah beberapa hari kemudian cerai dengan maksud untuk mendapatkan harta ”gono-gini”, popularitas, kedudukan atau hal-hal lain?, dst, dst...

Kemudian kita dapat bertanya, Apakah pernikahan-pernikahan mereka itu sah secara hukum? Sepertinya, Iya!

Lantas kenapa jauh dari NILAI pernikahan yang dikehendaki-Nya? Menurut saya, setiap perintah itu juga mengandung ”resiko” yang harus kita kelola dengan baik. Tugas kita sebagai pengguna syariat adalah menjaga agar nilai-nilai pernikahan itu lah yang terjadi, dan resikonya minimal.

Menurut yang saya pahami, dalam menjalani kehidupan ini kita akan selalu dihadapkan pada ”nilai” (value) dan ”resiko” (risk). Tugas kita adalah menjaga dan meningkatkan value dan me-manage resiko (karena menghilangkan resiko sama sekali nyaris mustahil). Kata junjunganku SAW, manusia terbaik adalah manusia yang paling bermanfaat (memberikan value) untuk selainnya.

Saya punya keyakinan bahwa proses mengelola “value” dan “risk” ini bukanlah sebuah one-cycle process yang langsung sempurna dalam sekali putaran. Tapi ia adalah sebuah proses kontinu untuk selalu melakukan perbaikan dari waktu ke waktu (continous improvement). Semakin baik kita mengelola “value” dan “risk” ini maka akan semakin tinggi tingkat keberagamaan kita. Dan titik akhir dari proses tersebut adalah tujuan penciptaan kita semua, yaitu menjadi hamba Allah, Abdullah. [undzurilaina]

Monday, December 17, 2007

Semut & Lalat

Beberapa ekor lalat nampak terbang berpesta diatas sebuah tong sampah didepan sebuah rumah. Suatu ketika anak pemilik rumah keluar dan tidak menutup kembali pintu rumah kemudian nampak seekor lalat bergegas terbang memasuki rumah itu. Si lalat langsung menuju sebuah meja makan yang penuh dengan makanan lezat. "Saya bosan dengan sampah-sampah itu, ini saatnya menikmati makanan segar" katanya.

Setelah kenyang si lalat bergegas ingin keluar dan terbang menuju pintu saat dia masuk, namun ternyata pintu kaca itu telah terutup rapat. Si lalat hinggap sesaat di kaca pintu memandangi kawan-kawannya yang melambai-lambaikan tangannya seolah meminta agar dia bergabung kembali dengan mereka.

Si lalat pun terbang di sekitar kaca, sesekali melompat dan menerjang kaca itu, dengan tak kenal menyerah si lalat mencoba keluar dari pintu kaca. Lalat itu merayap mengelilingi kaca dari atas ke bawah dan dari kiri ke kanan bolak-balik demikian terus dan terus berulang-ulang. Hari makin petang si lalat itu nampak kelelahan dan kelaparan dan esok paginya nampak lalat itu terkulai lemas terkapar di lantai.

Tak jauh dari tempat itu nampak serombongan semut merah berjalan beriringan keluar dari sarangnya untuk mencari makan dan ketika menjumpai lalat yang tak berdaya itu, serentak mereka mengerumuni dan beramai-ramai menggigit tubuh lalat itu hingga mati. Kawanan semut itu pun beramai-ramai mengangkut bangkai lalat yang malang itu menuju sarang mereka.

Dalam perjalanan seekor semut kecil bertanya kepada rekannya yang lebih tua "Ada apa dengan lalat ini Pak?, mengapa dia sekarat?".

"Oh.. itu sering terjadi, ada saja lalat yang mati sia-sia seperti ini, sebenarnya mereka ini telah berusaha, dia sungguh-sungguh telah berjuang keras berusaha keluar dari pintu kaca itu namun ketika tak juga menemukan jalan keluar, dia frustasi dan kelelahan hingga akhirnya jatuh sekarat dan menjadi menu makan malam kita" Semut kecil itu nampak
manggut-manggut, namun masih penasaran dan bertanya lagi "Aku masih tidak mengerti, bukannya lalat itu sudah berusaha keras? Kenapa tidak berhasil?".

Masih sambil berjalan dan memangggul bangkai lalat, semut tua itu menjawab "Lalat itu tak kenal menyerah dan telah mencoba berulang kali, hanya saja dia melakukannya dengan cara-cara yang sama".

Semut tua itu memerintahkan rekan-rekannya berhenti sejenak seraya melanjutkan perkataannya namun kali ini dengan mimik dan nada lebih serius: "Ingat anak muda, jika kamu melakukan sesuatu dengan cara yang sama namun mengharapkan hasil yang berbeda, maka nasib kamu akan seperti lalat ini".

"Para pemenang tidak melakukan hal-hal yang berbeda, mereka hanya melakukannya dengan cara yang berbeda" [undzurilaina]

“Jalan Tikus” yang Banyak menuju “Jalan Tol” yang Satu

Dalam sebuah diskusi, saya teringat salah satu ceramah tafsir ust Quraish Syihab ketika membahas surat al-Fatihah. Ada penjelasan yang menarik ketika beliau menjelaskan kata "shirat al-mustaqim". Seperti biasa, beliau membedah kata-per-kata dan bagaimana al-Quran menggunakan kata tersebut dan yang semakna dengannya.

Beliau mengatakan, al-Quran menggunakan beberapa kata yg bermakna "jalan". Diantaranya adalah kata "shirath" dan "sabil". Ada beberapa perbedaan antara kedua kata tsb, antara lain beliau menyebutkan:
- Kata "shirat" selalu digunakan sebagai singular (tunggal). Jadi "shirat" itu selalu cuma ada satu. Sedangkan kata "sabil" bisa tunggal bisa jamak (yaitu: ”subuul”).
- Kata "shirat" selalu berkonotasi atau disandingkan dengan hal-hal yang positif (misal: shirat al-mustaqim, shirat Allah, shirat al-ladziina an'amta alaihim, dst). Sedangkan kata "sabil" bisa positif bisa negatif (misal: subuul as-Salam=jalan-jalan kedamaian, sabil at-Thaguut=jalan penguasa zalim, dst).

Kemudian beliau melanjutkan lagi, bahwa "shirat" itu dari akar katanya bermakna sesuatu yang lebar. Akar katanya dari kerongkongan, yang dimana pasti yang lewat kerongkongan adalah sesuatu yang lebih kecil. Jadi "shirat" itu adalah sesuatu yang lebar, dapat diibaratkan seperti jalan tol, lanjutnya.
Sedangkan ”sabil” diibaratkan seperti jalan-jalan lorong yg kecil. Setiap orang bisa melalui banyak jalan lorong-lorong untuk sampai kepada jalan tol yang satu tadi. Orang bisa memilih jalan lorong-lorong kecil itu asal bercirikan kedamaian (subuul as-salam).

Oleh karena itu, kita selalu berdoa ihdina as-shirat al-mustaqim , bimbing kami ke "jalan tol" yang satu itu, agar kami tidak mungkin lagi tersesat kecuali sampai di pintu keluar tol. Kalau jalan-jalan yang kecil, kami masih mungkin tersesat, dst. Beliau juga menjelaskan perbedaan makna antara "ihdina shirat al-mustaqiim" dengan kalau ditambahkan kata "ila" (ke) antara "ihdina" dengan "shirat", seperti digunakan dalam ayat al-quran yang lain. Kalau tanpa kata "ila" seperti dalam surat al-Fatihah itu yang dimaksud adalah meminta bimbingan (taufiq), bukan sekedar minta petunjuk, tapi minta dibimbing/diarahkan/diantarkan ke shirat al-mustaqiim tersebut.

Jadi intinya, orang bisa menempuh jalan-jalan tikus (baca: pendapat/madzhab) yang jumlahnya mungkin banyak asal bercirikan kedamaian. Sambil kita terus berdoa minta bimbingan (taufiq) Allah menuju jalan tol yang satu (shirat al-mustaqiim). Begitu menurut beliau secara sederhananya. Semoga kita terus mendapatkan bimbingan-Nya dengan tidak mengklaim sebagai pemilik tunggal "jalan tol" yang sangat lebar itu, padahal jelas dinyatakan bahwa banyak jalan untuk menuju ke sana. Amien. [undzurilaina]

MISS FALASI

Oleh: Muhsen Labib

Semua ayam makan kotoran
Semua manusia makan ayam
Semua manusia makan kotoran

Itulah falasi. Meski terdengar indah dan modis, ia bukankah nama seorang selebritis. Falasi berasal dari fallacia atau falaccy dalam bahasa Yunani dan Latin yang berarti ‘sesat pikir’. Falasi didefinisikan secara akademis sebagai kerancuan pikir yang diakibatkan oleh ketidakdisiplinan pelaku nalar dalam menyusun data dan konsep, secara sengaja maupun tidak sengaja. Ia juga bisa diterjemahkan dalam bahasa sederhana dengan ‘ngawur’.


Begitu banyak manusia yang terjebak dalam lumpur falasi, sehingga diperlukan sebuah aturan baku yang dapat memandunya agar tdak terperosok dalam sesat pikir yang berakibat buruk terhadap pandangan dunianya. Seseorang yang berpikir tapi tidak mengikuti aturannya, terlihat seperti berpikir benar dan bahkan bias mempengaruhi orang lain yang juga tidak mengikuti aturan berpikir yang benar. Karena itu, al-Qur’an sering kali mencela bahwa ‘sebagian besar manusia tidak berakal’, tidak berpikir’, dan sejenisnya.

Para logikawan menyebutkan tiga kategori falasi yang sering dilakukan manusia;

Pertama, falasi formal (kengawuran bentuk), yaitu kerancuan yang terjadi karena melanggar ketentuan-ketentuan yang berlaku dalam penalaran yang benar. Ia dapat diidentifikasi dalam kasus dan kondisi sebagai berikut: 1. Apabila dalam sebuah deduksi terdapat empat terma, maka deduksi tersebut tidak valid. 2. Apabila terma premis tidak berdistribusi, namun konklusi berdistribusi. 3. Apabila terma tengah tidak terdistribusi, padahal untuk memperoleh konklusi yang benar terma sekurang-kurangnya satu kali terdistribusi. 4. Apabila konklusi dihasilkan dari dua premis negatif, padahal dari dua premis negatif tidak dapat ditarik konklusi yang benar.

Kedua, falasi material (kengawuran isi), yaitu kerancuan karena kekeliruan dalam menyusun isi atau materi penalaran, bukan pada bahasa atau tampilan (forma)-nya. Falasi material terjadi dalam kondisi-kondisi sebagai berikut; 1. Apabila argumentasi yang diajukan tidak tetuju persoalan yang sesungguhnya, tetapi terarah kepada pribadi yang menjadi lawan bicara. Ini disebut dengan argumen terhadap lawan bicara (agumentum ad hominem). 2. Apabila argumentasi diajukan untuk memojokkan atau mempermalukan lawan bicara. Perhatikan contoh berikut ini: “Jika anda memang seorang pembela kebenaran, maka anda pasti membenarkan pandangan saya”. “Hanya orang berakallah yang menerima pendapat kami.” Ini disebut dengan argumentum ad verecundiam. 3. Apabila argumentasi yang diajukan berdasarkan kewibawaan atau pengaruh besar seseorang, bukan berdasarkan penalaran.
Perhatikan contoh berikut ini: “Saya yakin apa yang dikatakannya, karena ia pemimpin partai besar”. Ini disebut dengan argumentum auctoritatis. 4. Apabila argumen yag diajukan berupa ancaman dan desakan lawan bicara agar menerima suatu konklusi tertentu, dengan alasan bahwa jika menolak, akan berdampak negatif terhadap dirinya. Ini disebut dengan argumentum ad misericordiam. 5. Apabila argumentasi yang diajukan demi memperoleh rasa iba dan kasihan dari lawan bicara agar diampuni. Ini disebut dengan argumentum ad populum. 6. Apabila argumentasi diajukan untuk meprovokasi dan membangkitkan emosi massa atau sekelompok orang, dengan alasan bahwa pemikiran yang melatarbelakangi program adalah demi kepentingan rakyat atau kelompok itu sendiri, agar pemkirannya diterima. Ini dikenal dengan argumentum ad misericordiam. 7. Apabila kita memastikan bahwa sesuatu itu tidak ada karena kita tidak mengetahui apa pun juga mengenai sesuatu itu atau karena belum menemukannya, maka itulah sesat pikir. Ini disebut dengan argumentum ad ignorantiam.

Ketiga, falasi diksional, yaitu kerancuan yang terjadi karena kekeliruan dan kesalahan bahasa (baik disengaja maupun tidak). Falasi diksional terjadi dalam kondisi-kondisi sebagai berikut: 1. Apabila menggunakan terma bermakna ganda (ekuivokal). 2. Apabila menggunakan terma metaforis (kata yang tidak digunakan untuk arti asalnya), seperti kata atau gelar “ujung tombak” yang diberikan kepada pemain sepakbola yang berposisi sebagai penyerang. 3. Apabila menggunakan kata yang bermakna ganda karena aksen dan mimik, seperti kata “apel” yang bila diujarkan dengan vokal tertentu berarti buah, dan bila diucapkan dengan vokal tertentu lainnya berarti “pertemuan”. 4. Apabila menggunakan kata amfibolik (yang mengundang penafsiran beragam), seperti “Ali mencintai isterinya, demikian pula saya”. Kalimat itu bisa ditafsirkan dengan dua cara: Pertama, “Ali mencintai isterinya, saya juga mencintai isterinya”. Kedua, Ali mencintai isterinya. Saya juga mencintai isteri saya”.

Sesat-pikir biasanya menimbulkan kesalahan logis. Kesalahan logis yang terpenting adalah sebagai berikut:
1. Generalisasi, yaitu pemberlakuan secara umum suatu atau beberapa hal atas semua hal tanpa bukti yang cukup, seperti pernyataan “semua orang batak bertabiat keras”, “semua orang yang bertubuh pendek licik”.


2. Penggunaan slogan atau semboyan yang memuat sikap emosional yang tidak objektif, seperti “pokoknya, siapapun yang menentang kebijaksanaan Presiden adalah pelaku makar!”

3. Apabila menolak suatu ide hanya karena tidak dimengerti, seperti pernyataan orang yang tidak mengerti tentang antariksa “mencapai bulan adalah mustahil” atau dengan cara bertanya, “mana mungkin manusia mencapai bulan’!!.


Ada dua pelaku falasi, yaitu pelaku yang sengaja ber-falasi (sofisme), dan pelaku yang tidak sadar berfalasi (paralogisme). Umumnya yang sengaja berfalasi adalah orang menyimpan tendensi pribadi dan lainnya. Sedangkan yang berpikir ngawur tanpa menyadarinya adalah orang yang tidak menyadari kekurangan dirinya atau kurang bertanggung-jawab terhadap setiap pendapat yang dikemukakannya.


Falasi sangat efektif dan manjur untuk melakukan sejumlah aksi amoral, seperti mengubah opini publik, memutar balik fakta, pembodohan publik, provokasi sektarian, pembunuhan karakter, memecah belah, menghindari jerat hukum, dan meraih kekuasaan dengan janji palsu.
“Semua aliran dan golongan yang tidak sesuai dengan al-Qur’an dan Sunnah adalah sesat” adalah contoh paling sempurna sebuah falasi, karena pengujar menganggap siapa saja yang tidak sama dalam menafsirkan teks ‘al-Qur’an dan teks Sunnah dengan model penafsirannya atau golongannya sama dengan tidak mengikuti al-Qur’an dan Sunnah.


Ternyata isi ‘Miss Falasi’ tak seindah namanya. (Copyright majalah ADIL)

“Islam Jawa”? May be YES, May be NO

Beberapa waktu yang lalu ada sebuah diskusi yang sebenarnya cukup menarik terjadi di sebuah milis dengan subject ”Islam Jawa”. Hanya saja sayangnya diskusi tersebut berakhir secara prematur sebelum jelas duduk perkaranya. Salah seorang peserta diskusi mengajukan konsep “Islam Jawa” sebagai sebuah konsep matang penerapan Islam yang telah menemukan bentuknya di tanah Jawa. Sebelum menerima atau menolak konsep “Islam Jawa” tsb menurut saya selayaknya istilah tersebut didefinisikan dengan jelas terlebih dahulu. Sehingga setiap orang memiliki acuan yang jelas untuk mendedahnya dan mendiskusikannya lebih jauh dan kemudian menerima, menolaknya atau menerima/menolak dengan catatan.

Sepengetahuan saya, masyarakat (sosial) sebenarnya adalah kumpulan individu. Masyarakat adalah sekelompok manusia yang terjalin erat karena sistem tertentu, tradisi tertentu, konvensi dan hukum tertentu yang sama dan hidup bersama.

Dalam salah satu ayatnya, al-Quran mengatakan:
"Demikianlah Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaannya." (QS. al-An'âm: 108)

Ayat tersebut menunjukkan bahwa setiap umat/masyarakat/bangsa memiliki pandangan yang khas, cara pikir yang khas dan standard yang khas pula. Setiap bangsa rnemiliki cara yang khas dalam melihat dan memahami sesuatu. Penilaian setiap bangsa didasarkan pada standard-standard khas-nya tersebut. Setiap bangsa rnemiliki seleranya sendiri. Perbuatan yang tampak baik bagi satu bangsa, mungkin tampak tidak baik bagi bangsa yang lain. Lingkungan sosial suatu bangsalah yang menentukan selera individu bangsa tersebut. Kebenaran konsep "Jawa" atau ”Batak” atau ”Arab” atau ”Badui”, dst itu tidak sepenuhnya universal, hanya betul sepenuhnya menurut standardnya Jawa. Ada sebagian yang bisa diterima secara universal (sesuai dengan fitrah manusia) dan ada yang hanya berlaku secara lokal di masyarakat yang bersangkutan saja. Sedangkan Islam adalah agama yang universal, untuk semua masyarakat, semua bangsa, semua ummat dan semua zaman.

Apalagi kalau kemudian kita melihat lebih dalam lagi, maka kita akan menemukan bahwa dalam sebuah masyarakat itu sendiri majemuk, tidak sepenuhnya homogen. Setiap individu yang menjadi bagian dari suatu masyarakat bisa setuju atau tidak setuju terhadap karakter khas dari masyarakatnya. Imam Ali bin Abi Thalib as pernah bilang: "Sesungguhnya yg membentuk sebuah masyarakat adalah tidak setuju dan setuju (sukhtu wa ridha)". Jadi setiap individu bisa menolak untuk mengikuti apa yang sudah jadi karakter atau standard yang berlaku di masyarakatnya, apabila menurutnya itu tidak baik (tidak sesuai fitrahnya). Bukankah dulu Nabi SAW memilih untuk tidak setuju thd konsep dan tradisi yang berlaku di Makkah. Ketika seseorang merasa tidak berdaya untuk menolak apa yang berlaku pada masyarakatnya, al-Quran berkata:

"Bukankah bumi Allah luas sehingga kamu dapat ke mana saja." (QS. an-Nisâ': 97)

Jadi bukan diminta untuk meleburkan prinsip-prinsip Islam yang luhur dengan budaya daerah/masyarakat tertentu. Islam itu bersifat universal, cocok untuk masyarakat manapun.

Hanya saja –ini perlu digaris-bawahi dan dicetak tebal—ketika disampaikan, diperlukan cara yang tepat (masih dalam koridor prinsip-prinsip islam baik yang bersifat umum ataupun khusus) dan disesuaikan dengan masyarakat yang akan menerima atau melaksanakannya. Mungkin diperlukan beberapa pentahapan sampai akhirnya fully comply dengan ajaran Islam sepenuhnya.

Ketika pertama kali membaca subject "Islam Jawa", saya punya dugaan bahwa yang dimaksud lebih banyak sebagai strategi dakwah Islam kepada orang "Jawa dulu", bukan sebuah "sekte/madzhab" baru. Saya mengatakan "jawa dulu", karena saat Islam mau masuk ke jawa dulu, pengaruh Hindu, Budha, Animisme, dinamisme masih sangat-sangat besar dan kuat melekat di masyarakat. Terbukti dengan adanya mega-mega proyek seperti Borobudur, Prambanan, Mendut, dan puluhan candi-candi besar nan megah lainnya. Jadi mutlak perlu cara yang tepat jitu untuk bisa mendakwahkan sesuatu yg baru kepada masyarakat seperti itu. Strategi yang berbeda dengan strategi dakwah di daerah lain seperti Padang/Aceh/Arab, misalnya. Sehingga akibat dari itu, dalam prosesnya muncullah ke-khas-an "Islam Jawa", "Islam Padang", "Islam Lombok", "Islam Banjar", dll yang walaupun dalam penampakannya pernak-perniknya bisa beragam tapi isinya diusahakan tidak bertentangan dng "Islam genuine". Kalau tidak menggunakan cara begitu, mana mungkin Islam bisa masuk ke Jawa yang sudah begitu mendarah daging keyakinannya terhadap ajaran-ajaran polytheism menjadi monotheism.

Banyak contoh-contoh unik dari strategi Islamisasi Jawa, yang memperlihatkan kecerdasan para wali songo waktu itu. Di Jawa, ada tradisi ruwahan yang masih lekat hingga kini setiap bulan syaban, yaitu tradisi ziarah ke makam orang tua, sedekahan, dll. Komponen-komponen inti yang dijadikan sedekahan itu juga dimasuki pesan-pesan tertentu, seperti kue apem (yg berasal dari kata afuwwun=setiap mau masuk puasa itu mesti bermaaf-maaf-an), kue ketan (yang berasal dari kata khoto'an=kesalahan, bersuci dari kesalahan-kesalahan yang telah lalu), dll. Terus contoh lain ada upacara seserahan di pantai selatan untuk nyi roro kidul, yang kental dengan kesyirikan, kemudian pelan-pelan dimasuki ajaran-ajaran tauhid. Sehingga ketika kirab itu yang diucapkan adalah "La ilaha illa LLah...La ilaha illa LLah...La ilaha illa LLah". Secara halus dan tak sadar mereka telah berikrar monoteism (Tidak ada Tuhan Selain Allah). Dan banyak hal-hal unik lain yang digunakan sebagai strategi dakwah Islam di tanah Jawa. Ada "ning nong ning gung", ada "sekaten/syahadatain", ada wayang, dll. Dan ternyata itu terus bergeser seiring dengan perkembangan pemahaman dan intelektual dari orang-orang Jawa. Kalau sekarang kita lihat acara-acara di kraton-kraton jawa itu sering diisi dengan tadarusan al-Quran, dll. Acara-acara yang nyleneh-nyleneh mulai dikikis karena perkembangan intelektual orang-orang Jawa. Belum lagi kalau kita lihat kultur islam di daerah-daerah lain, ada tradisi meugang di Aceh. Di Banjar, lombok mungkin lain lagi, dst. Itu dari sisi kultur geografis. Belum lagi kalau kita bicara dari sisi zamannya, sepertinya juga mesti mengikuti zamannya.

Salah satu contoh yang sangat menarik adaha bahwa thawaf sudah dilakukan orang di zaman jahiliyyah. Islam tidak menggantinya, tapi menyesuaikannya. Thawaf pada zaman jahiliyyah beragam caranya, ada yang menyembah berhala, ada yang thawaf sambil telanjang, dsb. Islam datang membersihkan hal-hal yang tidak sesuai dengan prinsip-prinsip Islam, tapi tidak membuangnya.

Dalam al-Quran sering kita temukan ketika mensyariatkan sesuatu kemudian mengatakan "seperti dilakukan oleh orang-orang sebelum kamu". Jadi sepertinya al-Quran mengajarkan bahwa dalam berdakwah itu mesti juga mempertimbangkan kultur/kearifan lokal dan kearifan zamannya dengan tetap memperhatikan koridor prinsip-prinsip Islam baik yang umum ataupun yang khusus. Belakangan prinsip-prinsip seperti ini dirumuskan oleh banyak ahli sebagai konsep strategi Manajemen Perubahan. Ternyata Islam sudah mengatakannya jauh-jauh hari sebelumnya.

Jadi bagaimana dengan ”Islam Jawa”? Menurut saya, bergantung pada definisinya. Kalau didefinisikan sebagai peleburan (sinkretisme) Islam dengan budaya tanpa kecuali, maka saya akan bilang “NO”. Tapi kalau yang dimaksud adalah bahwa segala sesuatu dalam penerapannya harus mempertimbangkan kearifan lokal dan zamannya, maka saya akan bilang “YES”, memang seharusnya lah begitu. So, Islam Jawa? It’s may. May be YES, may be NO...[undzurilaina]

Thursday, December 6, 2007

Panggung Pertunjukan Annapolis


Oleh Abdillah Toha

Konferensi besar perdamaian Palestina dirancang dan diselenggarakan Amerika Serikat di Annapolis, AS, pada 27 November 2007. Hasilnya? Gagal total. Tidak lebih dari pertunjukan belaka.

Konferensi itu dihadiri hampir 52 negara dan organisasi internasional, termasuk Indonesia. Annapolis adalah sebuah kota kecil dengan penduduk kurang dari 500 ribu di Negara Bagian Maryland, dekat Washington DC.

Konferensi Annapolis tidak menghasilkan apa pun yang konkret untuk perdamaian di sana. Banyak pihak yang telah meramalkan hal itu. Sebelum berangkat, PM Israel Olmert menyatakan jangan berharap terlalu banyak dari Annapolis dan di sana nanti tidak akan ada keputusan yang bersifat spesifik. Bahkan, mungkin tidak akan ada pernyataan bersama Palestina-Israel.

Berbagai upaya melalui beberapa kali pertemuan Olmert-Abbas sebelum konferensi selalu gagal mewujudkan pernyataan bersama yang akan dijadikan referensi bagi pertemuan besar itu.

Pihak Israel menyatakan, perundingan Annapolis hanya akan "menghasilkan proses dalam rangka mewujudkan negara Palestina merdeka dengan lintas batas sementara". Entah kapan "proses perdamaian" itu akan berujung pada kesepakatan yang membawa perdamaian. Sebab, sejak era Kssinger sampai sekarang, ketika Amerika melibatkan diri dalam perundingan, selalu hanya menghasilkan "proses perdamaian", bukan perdamaian itu sendiri.

Itu semua sekarang terbukti. Annapolis hanya menghasilkan "janji" untuk melanjutkan dan menyelesaikan perundingan paling lambat sampai akhir tahun depan.

Bagaimana mungkin perundingan Annapolis mampu menghasilkan perdamaian bila tuntutan utama dan sah Palestina untuk merundingkan topik penting selalu ditolak Israel. Bahkan, sebelum pertemuan dimulai.

Israel selalu menolak berunding tentang Jerusalem Timur sebagai bagian Palestina, tidak mau merundingkan pengembalian jutaan pengungsi warga Palestina yang terusir ke luar negeri, menolak menghentikan pembangunan permukiman di daerah pendudukan. Mereka juga tidak bersedia membongkar dan menghentikan pembangunan tembok yang memisahkan warga Palestina dari keluarganya, tanah pertaniannya, dan tempat bekerjanya.

Warga Palestina saat ini seakan hidup di atas "pulau-pulau" di darat, kebebasan bergeraknya dibatasi dengan tembok pemisah, lahan yang diduduki Israel, serta pos-pos pemeriksaan yang tersebar di banyak tempat. Tanah yang awalnya milik Palestina kini diambil Israel. Pada awalnya 20 persen, kini Israel menguasai 88 persen dan sisanya, 12 persen, dibiarkan untuk warga Palestina dalam bentuk terpisah-pisah.

Panggung Politik Washington

Berbagai perundingan perdamaian sebelumnya gagal. Terakhir adalah kuartet Timur Tengah yang terdiri atas Amerika, Uni Eropa, Rusia, dan PBB. Kemungkinan tercapainya kesepakatan di Annapolis lebih diperparah oleh kenyataan bahwa kepemimpinan kedua pihak yang berunding, Olmert dan Abbas, sangat lemah. Olmert menjadi sangat lemah secara politis setelah kegagalannya mengalahkan Hizbullah dalam serangan ke Lebanon pada Juli tahun lalu.

Abbas menghadapi perpecahan, baik di tubuh faksi Fatah sendiri maupun perselisihan berdarah antara faksi Fatah dan faksi Hamas. Abbas dianggap tidak mampu mengendalikan pemerintahannya, terutama di Tepi Gaza yang saat ini sepenuhnya di bawah kendali Hamas, betapa pun Hamas terus-menerus ditekan dengan diisolisasikan dan sumber-sumber pendapatannya ditutup.

Kenyataan bahwa Hamas tidak diajak sebagai peserta konferensi itu telah menunjukkan betapa hasil konferensi, bila pun ada, akan sulit diimplementasikan.

Amerika, sebagai pemrakarsa dan penyelenggara, serta hampir seluruh peserta sadar akan semua kenyataan di atas.

Apa Motivasi AS?

Jadi, apa sebenarnya motivasi Amerika merancang pertemuan besar di Annapolis itu? Bagi Amerika dan Israel, kenyataan bahwa konferensi tersebut diselenggarakan sudah merupakan "sukses" tersendiri. Panggung politik Annapolis, sesuai perkiraan, paling banter menghasilkan "kesepakatan" bahwa Israel dan Palestina akan mengambil langkah-langkah lebih lanjut dalam perundingan mendatang. Itu ternyata benar terjadi dalam kesimpulan yang disampaikan dalam konferensi pers yang sangat buru-buru, bahkan tanpa teks yang diketik. Sementara itu, Israel akan terus menghukum dengan bom dan peluru kendali terhadap pejuang Palestina yang membangkang dan mengirim roket ke Israel.

Bush yang oleh banyak pihak, termasuk mantan Presiden Carter, dijuluki sebagai presiden terburuk dalam sejarah Amerika yang gagal total dalam politik luar negerinya sehingga sentimen anti-Amerika meluas di banyak negara, ingin menciptakan prestasi terakhir guna memperbaiki citranya sebelum akhir masa jabatannya yang tinggal setahun dengan mengumpulkan 50 negara dalam sebuah pertunjukan politik besar.

Kemungkinan lain adalah Amerika tadinya bermaksud menggunakan forum besar itu untuk mencari dukungan internasional bagi kebijakannya di Iraq yang di dalam negerinya sendiri mendapat kecaman keras dan rencananya dalam menghadapi "pembangkangan" Iran dalam soal nuklir. Agenda itu juga tidak dilanjutkan karena konferensi hanya dihadiri wakil-wakil negara pada tingkat menteri luar negeri, bukan kepala pemerintahan.


Abdillah Toha, anggota Komisi I DPR