Monday, July 16, 2007

Keadilan dan Kontrol Masyarakat

Dalam peraturan umum berlalu-lintas, seluruh mobil diharuskan berjalan di sebelah kiri jalan. Dalam keadaan demikian, mestinya seluruh pengemudi kendaraan akan saling memperhatikan satu sama lain. Ketika mereka menyaksikan seorang pengemudi melakukan pelanggaran (berjalan di kanan jalan), umumnya pengguna jalan lain akan memperingatkan dengan membunyikan klakson atau menyalakan lampu.

Kalau seorang polisi mengetahui kejadian itu, mestinya ia akan langsung menindak sang pelaku pelanggaran dan menjatuhkan denda kepadanya. Namun, jika si polisi itu tidak mengetahui kejadiannya, mestinya masyarakat akan memberikan kesaksian kepadanya. Dengan kondisi semacam itu, tentu akan sangat sedikit sekali pengemudi yang berniat melakukan pelanggaran.

Berdasarkan perumpamaan di atas kiranya keinginan agar seluruh masyarakat dalam berbagai masalah tidak sampai melanggar undang-undang dan keluar dari garis keadilan, hanya mungkin terwujud apabila secara bersama-sama, masyarakat menjalankan amar ma’ruf dan nahi munkar.

Masing-masing individu masyarakat tidak boleh menganggap remeh segenap bentuk pelanggaran dan harus segera bereaksi menentangnya (apabila pelanggaran terjadi). Melalui cara ini, masyarakat akan mempersempit ruang gerak orang-orang yang berniat melakukan pelanggaran dan memperlakukannya secara layak. Mudah-mudahan suatu hari kelak, kita akan menyaksikan revolusi kebudayaan Islam sukses meraih kemenangan dan menyebar ke pelbagai universitas di seluruh penjuru dunia.

Mudah-mudahan kita akan melihat suatu masa di mana, misalnya, seorang mahasiswa yang telah meraih gelar dokter, namun ketika membuka praktik, dirinya tidak mengetahui cara pengobatan jenis penyakit yang diderita seorang pasiennya, secara jujur mengatakan, ”Saya tidak mengetahui cara pengobatannya.”

Dan dengan penuh keikhlasan hati, ia juga akan mengembalikan biaya pengobatan yang telah diberikan, dan dengan diiringi rasa persaudaraan, menunjukkan seorang dokter spesialis di bidang pengobatan penyakit dimaksud. Pada saat itulah, kita akan menyaksikan keadilan sosial benar-benar terwujud di tengah-tengah masyarakat.[undzurilaina]

(disadur dari “Membangun Agama”, karya: Prof. Muhsin Qiraati)


Friday, July 13, 2007

Bening

Bening[1]

Banyak orang bertanya Bagaimana caranya dapat menilai secara jernih, sehingga hakikat dari suatu permasalahan dapat tertangkap dengan baik apa adanya.

Allah SWT berfirman:

“Bertakwalah kepada Allah, niscaya Ia akan mengajarkan kalian” (QS. Al-Baqarah: 282).

Bertakwalah! Allah akan menunjukkan hakikat kepada kalian. Takwa berarti menjauhkan diri dari segala macam keburukan.

Benar, orang-orang yang terkotori dengan dosa tidak dapat menyaksikan hakikat. Tidak dapat menilai segala sesuatu secara jernih apa adanya.

Seseorang yang masih dibelenggu oleh fanatik kesukuan, partai, kelompok, ras dan lain-lain tidak dapat memahami hakikat seperti apa adanya. Sama seperti seseorang yang memakai kaca mata berwarna merah, buah kecapi akan dilihat seperi tomat. Dan bila ia memakai kaca mata hijau, ia akan melihat tumpukan jerami sebagai rumput hijau.

Bila cermin diberi pigura yang bagus dan dibersihkan, ia akan dapat menunjukkan gambar apa saja dengan baik. Cermin hati juga perlu dibingkai dan dibersihkan, sehingga ia dapat mengetahui makrifat, dapat mengenal hakikat.

Hati yang dipenuhi kebencian bak wadah yang kotor. Bila dituangkan air bersih di sana, air itu akan segera menjadi kotor.

Dosa adalah debu yang menghalangi manusia untuk dapat melihat sesuatu secara apa adanya, Bening. [undzurilaina]


[1] Disadur dari buku “Anda Bertanya, Anda Menjawab”, karya Prof. Muhsin Qiraati

Wednesday, July 11, 2007

Sholat Iya, Maksiat Jalan Terus..Kok?

Mungkin kita pernah mendengar pertanyaan sinis seputar sholat. Salah satu diantaranya misalnya: ”Apabila shalat dapat menahan orang untuk tidak melakukan perbuatan buruk, mengapa sebagian orang yang melaksanakan salat masih juga berbuat keburukan? Alias sholat iya, maksiat jalan terus?”

Pertanyaan tersebut bisa dijawab secara sederhana sbb:

Pertama, benih yang kosong tidak akan pernah bisa tumbuh. Shalat tanpa menghadirkan hati, khusyuk, seperti benih yang kosong yang tidak bakal pernah tumbuh. Shalat akan membuat manusia menjauhi perbuatan buruk bila dilakukan dengan khusyuk. Tanpa kekhusyukan ucapan yang kita baca dan gerakan yang dilakukan tidak akan berarti.

Bila sekolah memberikan kemampuan kepada siswanya untuk tumbuh secara keilmuan, itu tidak berarti setiap yang belajar ke sekolah pasti berhasil. Seorang yang berhasil di sekolah karena belajar dengan giat dan apa yang dipelajari dipahami.

Shalat pun demikian. Bila dilakukan dengan aturan-aturan yang telah ditetapkan dalam agama, ia dapat menahan seseorang dari perbuatan buruk. Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar” (QS. Ankabut: 45).

Kedua, seorang yang melakukan shalat dan masih melakukan perbuatan keji dan mungkar, akan melakukannya lebih banyak seandainya ia tidak shalat. Karena setidaknya ia harus melakukan shalatnya dengan pakaian yang suci dan halal. Pakaian dan tempat yang dihasilkan dengan jalan halal. Dengan menjaga hukum yang semacam ini, membuat seorang yang melakukan shalat terjaga dari perbuatan dosa. Sebagaimana seseorang yang memakai pakaian putih tidak akan duduk di sembarang tempat, untuk menjaga agar pakaiannya tidak kotor. [undzurilaina]

Thursday, July 5, 2007

Dengan Ujiannya Sekaligus

Seorang Jamaah haji asal Indonesia berangkat melalui sebuah travel dengan biaya yang cukup mahal yang dikenal dengan ONH Plus.

Sesampainya di airport Jeddah dia mendapat masalah...Rombongannya sudah keluar airport menuju hotel tinggal dia sendiri dengan ditemani petugas dari travel mengurus surat-surat yang membuat dia tertahan dalam airport.

Sudah tiga jam dia menunggu....

Tak lama petugas dari travel menghiburnya. "Sabar ya pak... ini ujian setiap orang selalu ada ujiannya bila pergi haji. Insya Allah haji Bapak mabrur", hibur petugas travel yang mendampingi seperti biasa setiap kesalahan yang mereka buat selalu dikaitkan dengan ujian dari Tuhan.

Selesai berurusan dengan imigrasi, Calon Haji itu pun boleh meninggalkan airport menuju Hotel tempat ia dan teman-temannya menginap.

Capai dan lelah ingin segera ia beristirahat di kamarnya. Setiba di hotel dia harus menunggu kembali selama dua jam karena penghuni sebelumnya belum chek-out.

Dan petugas travel kembali menghiburnya dengan alasan yang khas Indonesia: "Sabar ya Pak, ujian dalam ibadah haji selalu macam-macam datangnya yang tidak kita duga-duga. Insya Allah haji Bapak mabrur", hibur si petugas travel kembali.

"ADUH BAPAK TEH KUMAHA??!... KALAU BAYAR US$7000 ITU HARUSNYA DENGAN UJIAN-UJIANNYA SUDAH SAYA BAYAR !!!!!!! " jawab calon haji yang sudah pegel........

Tuesday, July 3, 2007

Sholat = “SIM” Akherat

Ada sebagian orang yang mempertanyakan bahwa Bagaimana mungkin semua amal perbuatan dikabulkan hanya dengan satu syarat, seperti shalat?

Ada baiknya untuk menjawab pertanyaan tersebut kita mengambil analogi Polisi Lalu Lintas. Coba kita perhatikan polisi lalu lintas. Yang ditanyakan oleh seorang polisi pertama kali kepada seorang pengemudi kendaraan adalah apakah ia memiliki Surat Izin Mengemudi (SIM). Bolehkah apabila kemudian sang pengemudi kemudian menunjukkan surat bukti kesehatan, paspor, surat izin mendirikan bangunan, surat berkelakuan baik dan surat-surat bukti diri lainnya?

Jawabannya, ya pada saat itu tidak ada gunanya surat-surat tersebut. Pada waktu itu polisi hanya akan menerima SIM saja. Hanya SIM yang dapat meloloskan dirinya untuk meneruskan perjalanan. Bila ia tidak memiliki bukti izin mengemudi, maka sekalipun ia memiliki segala bukti diri lainnya, ia tidak akan diperkenankan untuk melalui jalan itu.

Pada waktu kiamat juga demikian. Untuk sampai pada tujuan akhir, setiap orang diminta untuk menunjukkan surat bukti agar dapat lolos. Dan tanda bukti itu adalah SHALAT. Perbuatan lain tidak dibutuhkan pada waktu itu, karena yang diminta pertama kali adalah shalat.[undzurilaina]

(disadur dari buku: ”Anda bertanya, Anda menjawab” karya Prof. Muhsin Qiraati)

Monday, July 2, 2007

Jangan Sombong

Dalam beberapa hadits Rasulullah SAW kita membaca bahwa setiap orang yang menganggap dirinya lebih baik dari orang lain, maka ia dikategorikan sebagai orang yang sombong. Secara tak sadar, kita mungkin sering mempunyai sikap seperti ini. Kita merasa bahwa –karena apa yang kita miliki, misal: ilmu, amalan, kedudukan, status sosial, dll—kita lebih baik dari orang lain.

Sikap seperti ini sungguh berbahaya dan menjerumuskan kita sendiri. Ya, karena kita tidak tahu akhir dari nasib seseorang, maka tidak boleh tergesa-gesa menghakimi diri kita apalagi orang lain. Banyak sekali orang bejat yang akhirnya menjadi orang mukmin dan orang mukmin yang akhir hidupnya ternyata menjadi orang bejat.

Imam Jafar Shadiq dalam menjelaskan hadis yang menjelaskan hal ini berkata: “Para penyihir yang dalam hidupnya menyimpang dari ajaran ilahi, setelah melihat mukjizat Nabi Musa as dalam sekejap menjadi mukmin. Bahkan semua ancaman Firaun tidak dihiraukan. Sementara setan dengan 6 ribu tahun beribadat akhirnya menyimpang. Lihat Hurr dan Zuhair pada peristiwa Karbala akhirnya mati sebagai syahid[1].

Dengan dasar ini, setiap orang yang masih belum berakhir kehidupannya, tidak boleh sombong karena ada kemungkinan ia keluar dari jalan kebenaran.

Ya Muqalliba al-Quluub, tsabbit quluubana ’ala ad-Diinik (Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkan hati-hati kami pada jalan agama-Mu).


[1] Hurr dan Zuhair semula adalah salah satu pimpinan laskar Yazid yang menyerang Imam Husain besera rombongan di Karbala. Namun kemudian mereka taubat dan berbalik ke pihak Imam Husain, ia pun ikut gugur syahid ketika membela Imam Husain.

Pedagang Sejati

Alkisah, Cak Amir adalah seorang pedagang tulen yang terkenal di kota. Dia sudah mulai berdagang sejak muda dari mulai sekedar membantu orang tuanya menjagakan toko, sampai akhirnya mempunyai toko sendiri yang cukup ramai. Saking ramainya, sehingga dia selalu buka setiap hari, tak peduli hari libur. Bahkan hari libur itulah ramai-ramainya pembeli, katanya.

Cak Amir punya 5 anak: jaelani, rohana, julaeha, rahmat dan saleh. Anak-anak cak Amir ini termasuk anak-anak yang nurut sama orang tuannya. Mereka sering secara bergiliran membantu menjaga ayahnya menjagakan toko. Dan ini sudah berjalan bertahun-tahun sehingga sudah menjadi kebiasaan tanpa diperintah lagi.

Saking semangatnya cak Amir dalam berdagang, sering kali dia tidak mempedulikan kekuatan fisiknya yang sudah mulai melemah karena dimakan usia. Sampai akhirnya ia jatuh sakit yang cukup parah, hingga dokter pun sudah menyerah untuk mengobatinya. Alias, hidupnya sudah tidak lama lagi. Cak Amir pun punya firasat bahwa rasa-rasanya ia akan segera meninggalkan dunia yang fana ini.

Karena tahu bahwa Cak Amir sudah dekat dengan ajalnya, istri cak Amir berinisiatif untuk mengumpulkan semua anaknya mengelilingi sang Ayah. Barangkali ada pesan-pesan terakhir yang ingin disampaikan sang Ayah kepada anak-anaknya.

Alhasil, semua anaknya sudah berkumpul mengeliling sang Ayah yang lunglai terbaring di atas ranjang. Kemudian dengan suara yang pelan dan berat, Cak Amir mulai bicara:

Cak Amir: Bu, apakah anak-anak sudah pada ngumpul sekarang?

Ibu: Sudah, yah.

Cak Amir: Jaelani ada?

Jaelani: Ada, yah.

Cak Amir: Rohana ada?

Rohana: Ada, ayahku sayang.

Cak Amir: Julaeha?

Julaeha: Ada, yah.

Cak Amir: Rahmat, Saleh?

Rahmat dan Saleh: Hadir, yah.

Cak Amir (terdiam sejenak....kemudian berkata): Loh, lalu yang jaga toko SIAPA??! [undzurilaina]

BAHASA AIRMATA

Oleh Dr. Alwi Syihab, Phd.

Banyak cara untuk menyampaikan pesan dan terdapat aneka ragam bahassa berkomunikasi, bahkan berdiam seribu bahasa sering lebih efektif untuk mengungkapkan sikap Siti Maryam, ibu Nabi Isa AS. yang diperintahkan Allah SWT. berdiam atau menggunakan simbol untuk menyampaikan pesan (QS 3:41 dan 9:26). Terkadang aksi mogok makan sebagai protes, Ummu Kaltsum, penyanyi tanah Mesir pernah mengalunkan suara dari gubahan Ahmad Syaugi yang menggambarkan bahwa bahasa terkadang tidak seampuh lirikan mata untuk mengekspresikan asmara. "Lumpuh ungkapan bahasa, namun tatapan mata yang menyala lebih ampuh untuk menekspresikan cintaku kepada kekasih", kata Syauqi. Diantara sekian banyak sarana komunikasi, linangan airmata atau tangis merupakan pesan yang sangat dalam.

Kita dapat bertanya pada diri kita masing-masing kapan terakhir kita menangis dan mengapa kita menangis. Mencucurkan air mata bukan semata monopoli anak kecil atau kaum wanita. Manusia-manusia agung pun mencucurkan airmata. Dalam sirah (biografi Nabi Muhammad SAW) diriwayatkan bahwa beliau mencucurkan air mata saat mencium putranya Ibrahim, ketika menghembuskan nafas yang terakhir. Melihat air mata nabi yang tak terbendung, Abdurrahman ibn Auf tercengang dan berkata, ”Engkau menangis wahai Rasul”. Nabi menjawab, ”Ini adalah rahmat Tuhan”, lalu beliau bersabda: "Airmata berlinang, hati terkoyak-koyak kesedihan, namun kami tidak akan berkata kecuali yang diredhai Allah. Wahai anakku Ibrahim, sungguh kami sedih atas perpisahan ini".

Nabi Isa as pun menangis. Menurut riwayat Perjanjian Baru (St. John), Mary dan Martha meminta kedatangan Jesus untuk mengobati saudara mereka Lazarus yang telah meninggal. Menurut St. John, perasaan Jesus sangat terganggu dan sedih sambil mencucurkan airmata.

Pertama-tama kita harus sadari bahwa menangis adalah kenyataan biologis, ia berfungsi sebagai sistem pembersih kornea mata. Oleh karenanya jika air mata mengendap dibalik mata, alat penglihatan akan terganggu. Binatang pun menangis, tapi mungkin hanya manusia yang mengaitkan airmata dengan responsi emosial. Ahli-ahli ilmu Jiwa mendeteksi bahwa mereka yang sering menangis, terutama anak-anak kecil, lebih sempurna keinginannya ketimbang yang jarang menangis. Manusia adalah makhluk yang peka dan acap menangis, ia menangisi jika disakiti, ketika ia takut, ia sedih ingin dikasihani, bahkan apabila bahagia.

Masih dalam lingkup menangis, manusia terkadang mengeluarkan airmata buaya jika hendak mengelabuhi atau menipu. Oleh karenanya kita perlu memahami bahasa airmata. Bahasa ini terkadang lebih jelas dari bahasa kata-kata, ia memiliki aturan tertentu yang menghubungkan pemikiran dan emosi melalui sarana yang sangat canggih. Menangis bersumber spiritual manusia. Namun sayangnya manusia pada umumnya menggunakan standar ganda dalam menghadapi budaya tangis. Hanya kaum Hawa yang dinilai wajar menangis, bahkan dalam kebudayaan tertentu wanita akan diberi tempat layak apabila ia mengucurkan airmata pada situasi tertentu. Sebaliknya anak lelaki atau pria, rasa hormat akan diberikan ketika mereka dapat menahan airmata. Bahkan atribut ketegaran sering diberikan kepada seorang wanita, dikala ia menahan linangan airmata.

Kalau saja kita dapat memahami bahasa tangis, pandangan sepihak atau standar ganda yang selama ini membentuk persepsi kita akan lambat laun kita tanggalkan. Salah satu cara untuk mengoreksi kekeliruan tersebut adalah upaya untuk membedakan tipe-tipe tangis yang sangat bervariasi.

Variasi Tangis

Airmata dapat melaju karena faktor fisiologis. Mata terkena debu, aroma bawang atau gas yang mengandung bahan kimia. Airmata juga dapat keluar saat tingkat hormon tidak seimbang. Adapula airmata yang didorong oleh kenangan yang mengesankan, yang indah atau yang buruk. Kita hidupkan kenangan-kenangan tersebut melalui linangan airmata. Lain lagi airmata yang memberikan rasa lega, yang berfungsi sebagai terapi untuk mengatasi rasa cemas yang berkepanjangan. Kita pun menangis akibat tangisan orang banyak, misalnya tangisan saat tangisan saat perkawinan, wisuda atau memasuki masa purnabhakti. Airmata ini pertanda keakraban hubungan.

Airmata juga melambangkan ekspresi rasa kehilangan, terutama bila yang hilang sangat berarti bagi seseorang. Jangankan manusia, meninggalnya anjing kesayangan mantan Presiden Amerika, George Bush, sangat membesar pada hati keluarga Bush, demikian menurut berita CNN. Kematian tanpa cucuran airmata dianggap anomali. Dalam kebudayaan Yunani, Cina dan Timur Tengah, wanita bayaran untuk meratapi jenazah masih berlaku sampai sekarang. Pada saat-saat perpisahan, airmata mengekspresikan rasa penghargaan dan mengundang refleksi, depresi, frustasi dan putus-asa juga membangkitkan laju airmata yang deras. Airmata yang keluar saat itu sebagai akibat ketidakberdayaan, sangat menyayat hati. Ketika itu kita benci melihat tetesan airmata.

Dilain pihak, kita sering menangis karena tidak dapat membendung kebahagiaan. Ungkapan kata sangat terbatas untuk menampung rasa bahagia yang begitu dahsyat. Kelahiran anak pertama, keberhasilan yang didambakan. Airmata simpati akibat kesedihan yang ditimpa orang lain sering juga kita alami. Bahkan terkadang kita sengaja mengeluarkan uang untuk mengundang air mata tersebut melalui pertunjukan film. Imaginasi kita dapat membangkitkan rasa haru yang disusul dengan tangisan tersedu-sedu. Ada pula tangisan yang bersifat manipulatif dengan cara mengundang simpati orang lain, menunjukkan penyesalan guna meringankan vonis/hukuman. Yang paling pandai menggunakan tangisan ini adalah anak-anak dan mungkin juga wanita, demikian Joseph Kottle dalam bukunya The Language of Tears.

Agama dan Tangis

Air mata yang tercurah akibat penyesalan atau dosa, ketakutan akan siksaan Tuhan atau kekhawatiran akan nasib di hati kemudian, disamping kebahagiaan atas penemuan dan kehampiran kepada Tuhan, kesemuannya mendapat tempat terpuji dalam perbendaharaan bahasa kitab suci. Dalam literatur tasawuf, sebelum kata "Sufi" (yang menunjuk kepada kelompok yang menekankan aspek spritual dalam kehidupannya), populer digunakan, kelompok ini diberi atribut Al-Bakkauun yang berarti "Penangis atau yang suka menangis". Kelompok ini yang dipelopori oleh Al-Hasan Al-Bashri, tiap kali merenungkan ayat-ayat Al-Quran mereka menangis tersedu-sedut. Ketika surga disebut, mereka mengucurkan airmata sambil berharap dapat memasukinya, dan ketika siksaan neraka digambarkan mereka pun menangis karena takut terjerumus kepadanya.

Pengalaman spiritual seseorang khususnya di tempat-tempat suci membangkitkan rasa syahdu, khusyuk sehingga airmata laju tak terbendung. Umat Yahudi bahkan memiliki Wailing Wall (Dinding Ratap), dimana mereka meratap sambil memohon ampunan. Demikian halnya umat Kristen ketike melawat ke Jerusalem, sambil mengenang kehidupan serta perjalanan spiritual Yesus, airmata yang membasahi pipi terlihat dimana-mana. Tidak ubahnya dengan umat Islam yang berdiri di Multazam (sisi kanan Hajar Aswad di Ka'bah), dimana mereka meratap sambil mengenang kehidupan serta perjalanan spiritual Jesus, airmata yang membasahi pipi terlihat dimana-mana. Tidak ubahnya dengan umat Islam yang dibarengi cucuran airmata dan tangisan merupakan hal biasa.

Belum lagi saat beraudiensi di makam Rasulullah di Madinah sambil mengucapkan salam dan penghargaan kepada Beliau, suara tangis terdengar walau dari kejauhan. Hal yang sama dapat dijumpai dihadapan maqam Imam Husein di Karbala atau Cairo, pengunjung bertangisan mengenang perjuangan beliau meletakkan keadilan walau harus mengorbankan jiwanya.

Sungguh, bahasa airmata secara jelas menyampaikan pesannya, "Ya Tuhan, aku datang memohon ampunan dan mengharapkan rahmat. Ya Tuhan, berilah aku kekuatan untuk mengikuti jejak RasulMu".

Dalam Al-Qur'an kita jumpai kata-kata menangis, atau cucuran airmata disebut beberapa kali. Terkadang menggambarkan kesedihan atas kematian (44:29), atau kekhawatiran atas ancaman Tuhan (53:60). Terekam pula airmata saudara-saudara Nabi Yusuf AS. saat mengelabuhi ayahnya, Nabi Ya'qub AS. (12:16). Tangis sedu lagi khusyu' sebagai manifestasi iman dan kehampiran kepada Allah SWT (17:107 dan 19:58). Disamping itu Al-Qur'an menggambarkan betapa sebagian umat Kristen mengucurkan airmata saat mendengarkan apa yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Curahan airmata dibarengi dengan kesaksian terhadap kebenaran wahyu ilahi (5:83). Tergambar pula tangisan suatu kelompok yang bersedih hati karena harus tertinggal dari suatu peperangan dijalan Allah (9:92).

Mari kita merenung bersama, apa yang menjadikan airmata kita melaju. Apakah hanya terbatas ketika sedih karena kehilangan, depresi karena frustasi, atau ketidakberdayaan karena jalan buntu? Masih tertinggalkah tetesan airmata saat mendengar peringatan Tuhan, atau mengenang perjuangan rasul-rasul Nya? Semoga demikian.

Penulis adalah Professor pada Hartford Seminary, Connecticut, USA

Friday, June 29, 2007

Kisah Seorang Sipir

Suatu sore, ditahun 1525. Penjara tempat tahanan orang-orang di situ serasa hening mencengkam. Jendral Adolf Roberto, pemimpin penjara yang terkenal bengis, tengah memeriksa setiap kamar tahanan.


Setiap sipir penjara membungkukkan badannya rendah-rendah ketika 'algojo penjara' itu berlalu di hadapan mereka. Karena kalau tidak, sepatu 'jenggel' milik tuan Roberto yang fanatik Kristen itu akan mendarat di wajah mereka.

Roberto marah besar ketika dari sebuah kamar tahanan terdengar seseorang mengumandangkan suara-suara yang amat ia benci. "Hai...hentikan suara jelekmu! Hentikan...!" Teriak Roberto sekeras-kerasnya sembari membelalakan mata. Namun, apa yang terjadi? Laki-laki di kamar tahanan tadi tetap saja bersenandung dengan khusyu'nya. Roberto bertambah berang.

'Algojo penjara' itu menghampiri kamar tahanan yang luasnya tak lebih sekadar cukup untuk satu orang. Dengan congkak ia menyemburkan ludahnya ke wajah renta sang tahanan yang keriput hanya tinggal tulang. Tak puas sampai di situ, ia lalu menyulut
wajah dan seluruh badan orang tua renta itu dengan rokoknya yang menyala.

Sungguh ajaib... Tak terdengar secuil pun keluh kesakitan. Bibir yang pucat kering milik sang tahanan amat gengsi untuk meneriakkan kata, "Rabbi, wa ana 'abduka..." (Pemeliharaku, dan aku adalah hamba Mu).
Tahanan lain yang menyaksikan kebiadaban itu serentak bertakbir sambil berkata, "Bersabarlah wahai ustadz...Insya Allah tempatmu di Syurga."

Melihat kegigihan orang tua yang dipanggil ustadz oleh sesama tahanan, 'algojo penjara' itu bertambah memuncak amarahnya. Ia memerintahkan pegawai penjara untuk membuka sel, dan ditariknya tubuh orang tua itu keras-keras hingga terjerembab di lantai.

"Hai orang tua busuk! Bukankah engkau tahu, aku tidak suka bahasa jelekmu itu?!
Aku tidak suka apa-apa yang berhubung dengan agamamu! Ketahuilah orang tua dungu, bumi Spanyol ini kini telah berada dalam kekuasaan bapak kami, Tuhan Yesus.
Anda telah membuat aku benci dan geram dengan 'suara-suara' yang seharusnya tak pernah terdengar lagi di sini. Sebagai balasannya engkau akan kubunuh. Kecuali, kalau engkau mau minta maaf dan masuk agama kami."

Mendengar "khutbah" itu orang tua itu mendongakkan kepala, menatap Roberto dengan tatapan tajam dan dingin. Ia lalu berucap, "Sungguh...aku sangat merindukan kematian, agar aku segera dapat menjumpai kekasihku yang amat kucintai, Allah. Bila kini aku berada di puncak kebahagiaan karena akan segera menemuiNya, patutkah aku berlutut kepadamu, hai manusia busuk? Jika aku turuti kemauanmu, tentu aku termasuk manusia yang amat bodoh."

Baru saja kata-kata itu terhenti, sepatu lars Roberto sudah mendarat di wajahnya. Laki-laki itu terhuyung. Kemudian jatuh terkapar di lantai penjara dengan wajah bersimbah darah. Ketika itulah dari saku baju penjaranya yang telah lusuh, meluncur sebuah 'buku kecil'. Adolf Roberto bermaksud memungutnya. Namun,tangan sang Ustadz telah terlebih dahulu mengambil dan menggenggamnya erat-erat. "Berikan buku itu, hai laki-laki dungu!" bentak Roberto. "Haram bagi tanganmu yang kafir dan berlumuran dosa untuk menyentuh barang suci ini!" ucap sang ustadz dengan tatapan menghina pada Roberto. Tak ada jalan lain, akhirnya Roberto, mengambil jalan paksa untuk mendapatkan buku itu.

Sepatu lars berbobot dua kilogram itu ia gunakan untuk menginjak jari-jari tangan sang ustadz yang telah lemah. Suara gemeretak tulang yang patah terdengar menggetarkan hati. Namun tidak demikian bagi Roberto. Laki-laki bengis itu malah merasa bangga mendengar gemeretak tulang yang terputus. Bahkan 'algojo penjara'itu merasa lebih puas lagi ketika melihat tetesan darah mengalir dari jari-jari musuhnya yang telah hancur.

Setelah tangan renta itu tak berdaya, Roberto memungut buku kecil yang membuatnya penasaran. Perlahan Roberto membuka sampul buku yang telah lusuh. Mendadak algojo itu termenung. "Ah...sepertinya aku pernah mengenal buku ini. Tapi kapan? Ya, aku pernah mengenal buku ini." suara hati Roberto bertanya-tanya.

Perlahan Roberto membuka lembaran pertama itu. Pemuda berumur tiga puluh tahun itu bertambah terkejut tatkala melihat tulisan-tulisan "aneh" dalam buku itu. Rasanya ia pernah mengenal tulisan seperti itu dahulu. Namun, sekarang tak pernah dilihatnya di bumi Spanyol. Akhirnya, Roberto duduk disamping sang ustadz yang telah melepas
nafas-nafas terakhirnya. Wajah bengis sang algojo kini diliputi tanda tanya yang dalam. Mata Roberto rapat terpejam. Ia berusaha keras mengingat peristiwa yang dialaminya sewaktu masih kanak-kanak.

Perlahan, sketsa masa lalu itu tergambar kembali dalam ingatan Roberto. Pemuda itu teringat ketika suatu sore di masa kanak-kanaknya terjadi kericuhan besar di negeri tempat kelahirannya ini.

******************************************************

Sore itu ia melihat peristiwa yang mengerikan di lapangan Inkuisisi (lapangan tempat pembantaian kaum muslimin di Andalusia). Di tempat itu tengah berlangsung pesta darah dan nyawa. Beribu-ribu jiwa tak berdosa berjatuhan di bumi Andalusia. Di hujung kiri lapangan, beberapa puluh wanita berhijab (jilbab)digantung pada tiang-tiang besi yang terpancang tinggi. Tubuh mereka bergelantungan tertiup angin sore yang kencang, membuat pakaian muslimah yang dikenakan berkibar-kibar di udara. Sementara, ditengah lapangan ratusan pemuda Islam dibakar hidup-hidup pada tiang-tiang salib, hanya karena tidak mau memasuki agama yang dibawa oleh para rahib.

Seorang bocah laki-laki mungil tampan, berumur tujuh tahunan, malam itu masih berdiri tegak di lapangan Inkuisisi yang telah senyap. Korban-korban kebiadaban itu telah syahid semua. Bocah mungil itu mencucurkan air matanya menatap sang ibu yang terkulai lemah ditiang gantungan. Perlahan-lahan bocah itu mendekati tubuh sang ummi yang sudah tak bernyawa, sembari menggayuti ibunya. Sang bocah berkata dengan suara parau, "Ummi, ummi, mari kita pulang. Hari telah malam, bukankah ummi telah berjanji malam ini akan mengajariku lagi tentang alif, ba, ta, tsa....? Ummi, cepat pulang ke rumah ummi..." Bocah kecil itu akhirnya menangis keras, ketika sang ummi tak jua menjawab ucapannya. Ia semakin bingung dan takut, tak tahu harus berbuat apa. Untuk pulang ke rumah pun ia tak tahu arah.

Akhirnya bocah itu berteriak memanggil bapaknya " Abi...Abi...Abi...". Namun, ia segera terhenti berteriak memanggil sang bapak ketika teringat kemarin sore bapaknya diseret dari rumah oleh beberapa orang berseragam.

"Hai...siapa kamu?!" teriak segerombolan orang yang tiba-tiba mendekati sang bocah. "Saya Ahmad Izzah, sedang menunggu Ummi..." jawab sang bocah memohon belas kasih. "Hah...siapa namamu bocah, coba ulangi!" bentak salah seorang dari mereka.
"Saya Ahmad Izzah..." sang bocah kembali menjawab dengan agak grogi. Tiba-tiba plak! sebuah tamparan mendarat dipipi sang bocah. "Hai bocah...! Wajahmu bagus tapi namamu jelek. Aku benci namamu. Sekarang kuganti namamu dengan nama yang bagus.


Namamu sekarang 'Adolf Roberto' ..Awas! Jangan kau sebut lagi namamu yang jelek itu. Kalau kau sebut lagi nama lamamu itu, nanti akan kubunuh!" ancam laki-laki itu.
Sang bocah meringis ketakutan, sembari tetap meneteskan air mata. Anak laki-laki mungil itu hanya menurut ketika gerombolan itu membawanya keluar lapangan Inkuisisi. Akhirnya bocah tampan itu hidup bersama mereka.
*******************************************************

Roberto sedar dari renungannya yang panjang. Pemuda itu melompat ke arah sang tahanan. Secepat kilat dirobeknya baju penjara yang melekat pada tubuh sang ustadz. Ia mencari-cari sesuatu di pusar laki-laki itu. Ketika ia menemukan sebuah 'tanda hitam' ia berteriak histeris, "Abi...Abi...Abi..." Ia pun menangis keras, tak ubahnya seperti Ahmad Izzah dulu.

Fikirannya terus bergelut dengan masa lalunya. Ia masih ingat betul, bahwa buku kecil yang ada di dalam menggamannya adalah Kitab Suci milik bapanya, yang dulu sering dibawa dan dibaca ayahnya ketika hendak menidurkannya.

Ia jua ingat betul ayahnya mempunyai'tanda hitam' pada bahagian pusar. Pemuda beringas itu terus meraung dan memeluk erat tubuh renta nan lemah. Tampak sekali ada penyesalan yang amat dalam atas ulahnya selama ini. Lidahnya yang sudah berpuluh-puluh tahun alpa akan Islam, saat itu dengan spontan menyebut, "Abi.. aku masih ingat alif, ba, ta, tsa..." Hanya sebatas kata itu yang masih terekam dalam benaknya.

Sang ustadz segera membuka mata ketika merasakan ada tetesan hangat yang membasahi wajahnya. Dengan tatapan samar dia masih dapat melihat seseorang yang tadi menyiksanya habis-habisan kini tengah memeluknya.

"Tunjuki aku pada jalan yang telah engkau tempuhi Abi, tunjukkan aku pada jalan itu..." Terdengar suara Roberto memelas. Sang ustadz tengah mengatur nafas untuk berkata-kata, ia lalu memejamkan matanya. Air matanya pun turut berlinang. Betapa tidak, jika sekian puluh tahun kemudian, ternyata ia masih sempat berjumpa dengan buah hatinya, di tempat ini. Sungguh tak masuk akal. Ini semata-mata bukti kebesaran Allah.

Sang Abi dengan susah payah masih bisa berucap." Anakku, pergilah engkau ke Mesir. Disana banyak saudaramu. Katakan saja bahwa engkau kenal dengan Syaikh Abdullah Fattah Ismail Al-Andalusy. Belajarlah engkau di negeri itu."

Setelah selesai berpesan sang ustadz menghembuskan nafas terakhir dengan berbekal kalimat indah "Asyahadu an la Illaaha ilallah,wa asyhadu anna Muhammad Rasullullah.." Beliau pergi menemui Rabbnya dengan tersenyum, setelah sekian lama berjuang dibumi yang fana ini.

Kini Ahmad Izzah telah menjadi seorang alim di Mesir. Seluruh hidupnya dibaktikan untuk agamanya, 'Islam', sebagai ganti kekafiran yang di masa muda sempat disandangnya. Banyak pemuda Islam dari berbagai penjuru berguru dengannya... " Al-Ustadz Ahmad Izzah Al-Andalusy.

Benarlah firman Allah...

"Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah, tetaplah atas fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrahnya itu. Tidak ada perubahan atas fitrah Allah. Itulah agama yang lurus,tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui." (QS 30:30)

[undzurilaina]

Antara yang Fardhu dengan yang Sunnah

Antara yang Fardhu dengan yang Sunnah[1]

Di antara gejala meremehkan berbagai perbuatan yang termasuk fardhu kifayah, sementara lebih menekankan ibadah yang hukumnya sunnah, adalah seperti ditunjukkan oleh seorang teman yang berkeinginan melakukan haji sunnah (mungkin untuk ketiga kalinya), ketika saya bertanya kepadanya: “Berapa biaya haji-mu ini?! Hampir seribu junaih (mata uang Mesir, semacam pound sterling)?!”

“Ya, mungkin lebih,” jawabnya.

Lalu saya berkata kepadanya: “Saya ingin menunjukkan kepada Anda sebuah amalan yang lebih afdhal. Si Fulan baru saja menyelesaikan kuliahnya di Fakultas Farmasi. Ia seorang pemuda miskin, sangat membutuhkan bantuan, seperti juga halnya masyarakat Muslim pada umumnya dalam keadaan miskin, dan sangat membutuhkan lebih banyak apotik2 yg bisa menolong mereka. Berikan uang yang sedianya akan Anda gunakan untuk haji, kepada pemuda lulusan Farmasi itu (sebagai modal-kerja dalam suatu perseroan) agar ia membuka sebuah apotik yang akan sangat berguna bagi masa depannya sendiri dan juga sangat bermanfaat bagi umat. Saya yakin, Allah swt akan memberimu pahala lebih besar daripada pahala hajimu ini!!!”

Temanku itu berteriak keheranan: “Omongan apa ini?”

“Jika Anda mengikuti saranku,” kataku lagi, “Anda telah menegakkan sebuah faridhah (yakni perbuatan fardhu) dan sekaligus menutup sebuah celah kelemahan masyarakat, di samping ikut serta dalam jihad yang amat sangat besar manfaatnya …, sebagai ganti ibadah sunnah yang akan Anda kerjakan!”

Masih dalam keheranannya, temanku itu berkata lagi: “Aku harus meninggalkan haji, demi membantu seseorang membuka sebuah apotik? Apa-apaan ini?!”

“Benar,” kataku lagi. “Mayoritas umat Muslim masa sekarang tidak menyadari betapa terpuruknya mereka dalam kenistaan dan keterbelakangan yang mereka sedang alami sekarang maupun yang akan mereka hadapi di masa mendatang. Dan karenanya, mereka melaksanakan agama mereka laksana seekor unta buta yang menabrak sana sini tanpa mengetahui hasil dan akibat apa yang akan dihadapinya!!!”

Sejumlah amat besar kaum Muslim masa kini tidak (atau belum) menyadari betapa

besarnya tragedi yang sedang menimpa umat mereka. Tidak juga seberapa besar keterbelakangan amat mengerikan yang mengancam masa kini dan masa depannya. Dan oleh karenanya, mereka terus-menerus menggapai-gapai dalam kegelapan yang tak ada akhirnya.

Dalam beberapa buku karangan saya pernah saya kutip pernyataan sebagian para fuqaha, bahwasanya Allah swt takkan menerima suatu ibadah yang sunnah sebelum telah dilaksanakannya yang fardhu. Fardhu di sini, mencakup fardhu `ain maupun fardhu kifayah.

Oleh sebab itu, jika pelaksanaan sesuatu yang bersifat sunnah dapat menghalangi pelaksanaan yang fardhu, maka tak ada tempat bagi yang sunnah. Contohnya:

Jika puasa sunnah (atau mungkin juga bertahajjud semalam suntuk—pent.) mengakibatkan seorang guru kelelahan (di siang hari) sehingga tidak mampu melaksanakan kewajibannya mengoreksi hasil kerja murid2nya dengan cukup teliti, maka tak seyogianya ia berpuasa sunnah. Demikian pula jika hal itu membuat seorang dokter kurang teliti dalam memeriksa seorang pasien, atau dalam mendiagnosis jenis penyakitnya, atau dalam menulis resep obat yang tepat untuknya ..!

Bukankah Allah swt telah memaafkan (atau memberikan keringanan) bagi mayoritas kaum beriman dari “kewajiban” bertahajjud di malam hari atau memperpanjangkan bacaan ayat2 Al-Qur’an di dalamnya, sepanjang mereka sudah dilelahkan oleh jihad fi sabilillah, atau oleh perjalanan berniaga guna mencari rizki dari kota yang ini ke kota yang itu?! (Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwasanya kamu (wahai Nabi) berdiri (bershalat) kurang dari dua pertiga malam, atau seperdua malam atau sepertiganya, demikian pula segolongan dari orang-orang yang bersama kamu. Dan Allah menetapkan ukuran malam dan siang. Allah mengetahui bahwa kamu sekali-kali tidak dapat menentukan batas-batas waktu-waktu itu. Maka Allah memberi keringanan kepadamu, karena itu bacalah apa yang mudah bagimu dari Al-Qur’an. Dia mengetahui (pula) bahwa akan ada di antara kamu orang2 yang sakit dan orang2 yang berjalan di muka bumi mencari sebagian karunia Allah; dan orang2 lain lagi yang berperang di jalan Allah. Maka bacalah sekadar apa yang mudah bagimu dari Al-Qur’an …. (QS Al-Muzzammil: 20).

Pada hakikatnya, semua jenis ibadah, baik yang fardhu `ain atau kifayah, adalah sarana pensucian diri individual (tazkiyat an-nafs), juga demi penguatan keimanan masyarakat. Dan seorang Muslim yang bijak akan memilih melaksanakan jenis ibadahnya sesuai

yang lebih cocok bagi dirinya sendiri, tanpa berupaya melarikan diri dari kewajiban yang dibebankan kepadanya.

Seorang hartawan misalnya, ibadahnya yang paling utama adalah dengan menginfakkan hartanya dalam amal kebajikan dan memberikan bantuan kepada yang memerlukan. Tidak cocok baginya berpuasa sunnah atau bertahajjud di malam hari sebagai pelarian dari kewajibannya berinfak fi sabilillah. Demikian pula seorang ulama yang luas ilmunya, ibadahnya yang utama ialah memberi nasihat untuk semua orang; yang khusus maupun yang awam. Tidak cocok baginya terus-menerus ber-i`tikaf , atau berdiam diri dan mengelak dari keharusan ber-amr ma`ruf dan nahi munkar, terutama saat merajalelanya demoralisasi dan kekacauan! [undzurilaina]


[1] Diterjemahkan oleh ustadz Muhammad Baqir dari buku Musykilat fi al-Thariq al-Hayah al-Islamiyyah karya Syaikh Muhammad al-Ghazali