Sunday, March 22, 2009

Taqdir Menurut Fauzan dan Saya

Fauzan adalah anak sulung saya yang bulan lalu genap berusia 6 tahun. Kemarin sore setelah “perang bantal guling” dengan saya, saya cukup dikejutkan dengan pertanyaannya yang menurut saya cukup berat untuk ukuran anak seusianya.

Dia bertanya: “Bi, kenapa sih kita mesti menyembah Allah?”


Saya menjawab: “Hmm..karena Allah yang menciptakan kita semua. Allah yang kasih kita semua, kita bisa sehat, bisa sekolah, bisa ngomong, bisa makan, bisa minum, bisa nafas, bisa jalan, dan semuanya itu anugerah dan izin Allah. Jadi memang pantas kalau Allah itu kita sembah.”

Fauzan tampak berfikir mendengarkan jawaban saya, tapi dengan segera dia melontarkan pertanyaan susulan yang menurut saya tidak kalah beratnya:

“Berarti kita itu mainannya Allah dong, Bi?”

“Lho, kok?”, tanya saya singkat.

“Ya kan Allah yang bikin fauzan makan, bikin fauzan ngomong sama bikin yang lain2. Terus fauzan kalau ngomong nggak sopan sama Abi, terus nakal berarti juga Allah yang bikin kan? Berarti semua itu mainannya Allah..”, jawab fauzan dengan sangat yakin akan logikanya sendiri.

Saya jawab, “Bukan gitu, sayang…Allah itu Maha Adil..”.

Belum sempat bicara lebih lanjut, fauzan memotong penjelasan saya dengan mencoba meyakinkan saya bahwa logikanya itu yang benar dan lalu mengajak meneruskan perang bantal guling yang sempat tertunda karena 2 pertanyaan berbobot tadi.

Saya pun mengiyakan ajakannya. Saya juga tidak ingin menghentikan proses berfikir fauzan terlalu cepat untuk sampai pada jawaban bagaimana konsep taqdir dan keadilan Ilahi. Untuk sementara biarkan pertanyaan-demi-pertanyaan muncul di benaknya, agar jawaban merupakan hasil dari prosesnya berfikir, bukan sekedar doktrinal.

Setelah itu saya berfikir sepertinya pemahaman seperti fauzan yang 6 tahun itu juga banyak dipegang oleh cukup banyak muslimin dunia sejak zaman dulu sampai sekarang. Pemahaman tersebut juga bahkan punya dasar dalam al-Quran Mulia. Dalam Al-Quran terdapat ayat2 yang mengatakan bahwa segala hal sudah ditentukan oleh Allah SWT, manusia –mau tidak mau—harus menjalani setiap peran dan nasib yang telah ditentukan tersebut. Karena pemahaman keterpaksaan itu maka pahaman ini dikenal dengan paham Jabariyah (berasal dari kata jabr yang berarti terpaksa).

Lawan dari pahaman Jabariyah ini yaitu pahaman yang menyatakan bahwa manusia sepenuhnya bebas untuk memilih, tidak mempercayai adanya taqdir yang membatasi setiap usaha manusia. Pahaman ini juga memiliki dasar dalam al-Quran Suci. Pahaman ini sering dikenal dengan paham Qadariyah.
Kedua pemahaman tersebut kemudian melebur ke dua firqah besar dunia. Jabariyah diadopsi oleh firqah Asy’ariyah, sementara pemahaman ala Qadariyah dianut oleh kelompok Mu’tazilah.

Saya, tidak sepenuhnya sepakat dengan kedua aliran tersebut di atas. Saya sepakat dengan pemahaman ketiga yang dianut oleh beberapa madzhab pemikiran yang tersebar. Pemahaman tersebut menyatakan bahwa manusia memang memiliki kebebasan berkehendak, apa yang terjadi adalah akibat dari serangkaian sebab yang dipilih oleh manusia secara langsung ataupun tidak langsung. Tapi semua itu ada dalam lingkaran batas-batas yang ditentukan-Nya. Manusia itu bukanlah seperti batu yang kalau digelindingkan dari atas bukit pasti akan menggelinding ke bawah karena adanya gravitasi. Manusia bukanlah seperti bulan dan matahari yang telah ditaqdirkan untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang dilakukannya (wa al-qomaru qoddarnaahu manazila hatta urjuuni al-qadim). Manusia itu diberikan hidayah dan kemampuan untuk berkehendak dan memilih jalannya masing2. Semua manusia memilikinya (wa al-ladzi qaddara fa HADAA). Allah memberi aturan2, apabila kamu begini maka akan begitu. Kalau mau selamat, ikuti jalan ini, apabila tidak kamu akan celaka. Jadi kesempurnaan sebab2 dan lantaran2 itu sebenarnya merupakan realisasi dari Taqdir Ilahi.

Usaha/ikhtiyar yang dilakukan oleh manusia tidak perlu dipertentangkan dengan kekuasaan dan kehendak Sang Khaliq, karena tidak ada usaha/ikhtiyar yang dilakukan tanpa persetujuan (izin) Allah. Toh ketika kita berikhtiyar, pada hakekatnya kita hanya berpindah dari taqdir yang satu ke taqdir yang lainnya (yang kesemuanya tidak bertentangan dengan Ilmu-Nya). Ketika misalnya kita berdiri di rel KA dan ada kereta yang mendekat kencang, disana kita punya pilihan. Kalau kita tidak menghindar, maka GUBRAKK!! Taqdirnya meninggal. Tapi kalau kita memilih menghindar, maka taqdirnya hidup. Hal ini tidak terus diartikan ketidak berdayaan ALLAH SWT, karena semuanya itu bersumber dari Iradat, ketentuan dan taqdir Ilahi juga. Sebebas-bebasnya, semua masih dalam kerangka Ilmu dan kehendal-Nya. Kita tidak tahu batasnya, batasnya adalah kemauan dan kemampuan kita dalam berusaha.


Diriwayatkan dulu Imam Ali as pernah bangun dan pindah dari bawah sebuah dinding yang mulai miring. Seseorang yang melihatnya kemudian bertanya kepada beliau: “Wahai Amirul Mukminin, apakah anda lari dari qadha Allah?”
Beliau ra menjawab: “Aku lari dari qadha Allah ke qadha-Nya SWT”. Jadi, ia lari dari sebuah ketentuan ke ketentuan-Nya yang lainnya. Jatuhnya dinding yang telah miring merupakan ketentuan Ilahi, sehingga sewajarnya tembok itu akan menjatuhi kepala seorang manusia pada saat terpenuhinya segala persyaratannya. Akan tetapi apabila manusia itu menghindar darinya, maka ia pun akan selamat dari bencana, dan ini pun merupakan ketentuan Ilahi juga.

Disebutkan juga bahwa suatu hari pernah Khalifah Umar bin Khattab (ra) dalam perjalanannya menuju Syam, sebelum memasuki daerah itu mendengar berita adanya wabah sampar. Ketika bermusyawarah dengan orang2 yang bersamanya, mereka semuanya mencegahnya untuk meneruskan perjalanan, kecuali Abu Ubaidah bin Jarrah yang waktu itu menjabat palima pasukan muslim di Syam. Ia berkata kepada Umar: “Wahai Amirul Mukminin, adakah Anda melarikan diri dari taqdir Allah?” Umar pun menjawab: “Ya, aku lari dari takdir Allah dengan taqdir-Nya dan kepada taqdir-Nya.”


Riwayat2 tersebut jelas menerangkan bagaimana makna taqdir Ilahi itu. Ada taqdir2 yang bersifat definitif (tetap) dan ada yang masih menggantung (tidak definitif). Al-Quran berbicara tentang sistem2 yang tetap ini dan menamakannya dengan Sunnatullah:
“Kamu sekali-kali tiada akan mendapati perubahan pada sunnah Allah.” (QS 33: 62).

Diantara sunnatullah yang definitif itu adalah hanya berubahnya kondisi manusia setelah manusia itu sendiri mengubahnya (lihat QS 13:11).

Contoh sunnatullah yang lain misalnya bahwa orang2 zalim yang akan memilih teman yang zalim juga.
“Dan demikianlah Kami jadikan sebagian orang-orang yang zalim itu menjadi teman bagi sebagian yang lain.” (QS 6:129).

Dan banyak lagi contoh sunnatullah yang dijelaskan oleh Allah SWT dalam al-Quran.

Kesimpulannya suatu realitas itu nasibnya mengikuti penyebabnya.
“Sesungguhnya manusia itu bergantung pada usaha dan kerjanya.” (QS. An-Najm:39).

Sehingga disebabkan karena sesuatu itu berhubungan dengan banyak sebab, maka ia pun memiliki nasib yang berbeda2 pula. Perlu diingat juga bahwa disamping faktor2 yang bersifat materiil seperti “minggir dari rel KA” pada contoh di atas, ada juga faktor penyebab lain yang non-materi seperti doa, sedekah, serta perbuatan baik yang juga akan ikut mempengaruhi nasib seseorang.

Fauzan sayang, sekarang abi lanjutkan perkataan yang kau potong kemarin ya, walaupun mungkin engkau membacanya nanti setelah engkau beranjak matang…

Jadi bukan gitu sayang, Allah itu Maha Adil. Nggak mungkin Dia membuat kita seperti mainan yang dikendalikan-Nya tapi setelah itu kita diadili-Nya karena apa yang kita lakukan. Allah itu sudah kasih tahu mana jalan mana yang baik dan mana yang sesat. Dia SWT juga telah membekali kita dengan petunjuk dan potensi untuk kebaikan dan keburukan. Tinggal kembali ke kita apakah yang kita pupuk potensi baik kita atau potensi buruknya yang kita pelihara. Kata Allah, Sungguh akan sukses orang yang memupuk potensi baiknya, dan akan merugi orang yang mengotorinya (qad aflaha man zakkaaha, wa qad khooba man dassaaha).

Mudah-mudahan kita sukses ya, Zan. Kalau belum sukses, pikirkan mungkin bukan disitu bakatmu, mungkin kurang keras usahamu, mungkin kurang konsistensimu, mugkin kurang doamu, mungkin kurang sedekahmu, dan mungkin2 yang lain, yang pasti bukan salah-Nya. Tugas kita adalah untuk menemukan dan memperbaikinya. Itulah HIDUP, Anakku sayang.[undzurilaina]


Thursday, March 19, 2009

Orang Penting

Teman itu ada DUA, kata motivator yang sedang naik daun dengan “the Golden Ways” nya. Jenis teman yang pertama adalah teman yang memperlakukan dirinya di hadapan temannya sebagai orang penting sehingga mendapatkan pengakuan dari temannya itu bahwa dia itu orang penting. Sedangkan jenis teman yang kedua adalah seseorang yang selalu memperlakukan temannya itu sebagai orang penting.

Teman jenis pertama akan bilang ke para temannya bahwa dia adalah orang penting, sembari secara tersirat/tersurat mengatakan bahwa ia lebih penting dibanding temannya itu. Dia adalah orang yang berpengalaman di sebuah bidang sambil secara tersirat/tersurat mengatakan bahwa temannya itu masih “ingusan” dibanding dia. Dan seterusnya ia menganggap dia lebih penting dari temannya dan berusaha menganggap temannya itu mengakui ke-“penting”-annya.
Sedangkan teman jenis kedua justru sebaliknya, dia berusaha memperlakukan temannya lebih penting dari dirinya. Meletakkan kepentingan temannya di atas kepentingan dirinya. Sehingga seluruh teman-temannya menganggap dia adalah orang penting setelah menemuinya.

Masih di dalam rangka bulan kelahiran Rasulullah SAW, mari kita lihat bagaimana beliau SAW memperlakukan teman-temannya. Rasulullah SAW selalu lebih dahulu mengucapkan salam ketika bertemu dengan sahabat-sahabatnya. The Greatest man ever lived itu SAW selalu memperlakukan secara personal setiap sahabat yang bertemu dengannya, menanyakan bagaimana keadaannya, bagaimana keluarganya, atau hal-hal lain yang berkaitan dengan sahabatnya tersebut sehingga sahabatnya selalu merasa sebagai orang penting. Penghulu para nabi dan rasul SAW itu tak lupa menanyakan sahabatnya ketika pada beberapa saat tidak berjumpa. Beliau SAW yang meminta cincin besi yang sudah pudar milik sahabatnya yang kurang terkenal untuk dikenakannya hingga akhir hayatnya. Dan masih banyak lagi akhlak agung junjungan alam SAW tersebut kepada para sahabat-sahabatnya (bahkan juga terhadap yang memusuhinya).

Mufassir kondang kebanggaan Indonesia, ustadz Quraish Syihab (UQS) memberikan ulasan menarik terhadap ayat: “La qad ja’akum rasuulun min anfusikum….”, yang artinya “telah datang kepadamu seorang rasul dari golonganmu/sejiwa denganmu…”. UQS mengatakan bahwa dalam ayat tersebut dikatakan bahwa Rasulullah yang datang kepada kita, bukan kita yang datang kepada beliau SAW. Itu menyiratkan bagaimana Rasulullah menganggap kita umatnya sebagai orang yang penting sehingga beliau SAW yang menghampiri bukan kita yang menghampiri beliau SAW. Kalau insan seagung Rasulullah SAW saja tidak segan menghampiri kita yang penuh dosa ini, lantas kenapa kita masih segan untuk mendahului menghampiri orang lain. Walaupun orang itu mungkin lebih muda atau lebih rendah jabatannya atau lebih2 lainnya yang membuat kita MERASA lebih dari dia. Demikian kurang lebih UQS mengulas potongan ayat “telah datang kepadamu..” di atas.
Kalau itu dikembalikan ke masing2 kita, teman yang seperti apakah kita ini? Teman yang lebih menginginkan orang lain menganggap kita penting sehingga teman kita merasa kurang penting dibanding kita? Atau sebagai teman yang menginginkan teman kita menjadi merasa penting.

Beberapa hari yang lalu waktu perjalanan ke Jakarta, saya melihat antrian panjang di pintu tol. Antrian itu disebabkan jalan tol yang ditutup sementara karena ada ORANG PENTING yang mau lewat. Benar saja selang beberapa menit, beberapa sedan mewah melintas dikawal polisi dan militer menggunakan mobil dan sepeda motor. Rupanya pak SBY mau lewat, jadi jalanan perlu dikosongkan. Sewaktu perjalanan pulang, sialnya saya bernasib serupa. Pintu masuk tol kota ditutup dengan penjagaan polisi, lalu lintas di arahkan ke jalan lain. selang beberapa menit ada deretan ORANG PENTING yang lewat. Kali ini mungkin sekelas menteri, anggota DPR atau pejabat sekelas lainnya karena saya lihat nomor platnya yang berangka cukup besar.

Mungkin pejabat atau orang yang ada disekelilingnya melakukan itu agar semua orang menghargai dia sebagai ORANG PENTING. Tapi justru buat saya, mereka itu bukan orang penting. Orang penting buat saya adalah orang yang menganggap urusan orang lain itu penting. Bukan orang yang mementingkan kepentingan dia di atas yang lain, apalagi dengan mengorbankan kepentingan orang banyak. Duh..Nggak penting banget! Sungguh KASIHAN!! [undzurilaina]

Saturday, February 7, 2009

Te’no… We’ono

Karena sesuatu hal saya jadi teringat sebuah prinsip atau motto dari seorang pengusaha sukses di kota kelahiran saya. Ingatan saya melayang jauh ke sekitar 10 tahun yang lalu, ketika saya sempat ngobrol berdua dengan beliau di rumahnya. Seingat saya waktu itu saya baru lulus kuliah dan baru mulai bekerja. Setelah ngobrol santai kesana-kemari tentang beragam topik yang saya tidak ingat, beliau menjelaskan sebuah prinsip bisnis yang selama ini dipegangnya.
Prinsipnya sangat sederhana, “Te’no, We’ono” , sebuah ungkapan bahasa Jawa yang kurang lebih artinya “Aku habiskan, Berilah lagi”.

Apa maksudnya prinsip itu?
Dia kemudian mulai bercerita riwayat kerjanya. Beragam profesi pernah digelutinya, dari mulai pelayan di warung Bakso, jualan makanan, pegawai kasar di beberapa pabrik, sampai dengan akhirnya sukses seperti sekarang. Prinsip “Te’no, We’ono” itu yang selalu dia pegang, katanya. Setiap dia mendapatkan hasil dari pekerjaannya, pertama-tama dia menghadap ke ibunya untuk bertanya apa yang ibunya inginkan. Setelah itu hasil lainnya dia banyak sedekahkan ke orang yang membutuhkan (tentunya setelah memenuhi kebutuhan pribadinya). Dia punya keyakinan apa yang dia berikan atau sedekahkan ke orang yang membutuhkan itu tidak akan hilang, dan pasti Gusti Allah akan membalasnya berlipat ganda. Jadi demikianlah setiap dia mendapatkan rezeki, dia banyak sedekahkan. Dan dalam perjalanannya keyakinan akan prinsipnya itu semakin lama semakin kuat, karena selalu terbukti. Setiap dia mengeluarkan sedekah, kembalinya berlipat ganda. Dia keluarkan lagi sedekahnya berlipat. “Sedekah tidak membuat miskin, justru sebaliknya ini adalah rahasia kesuksesan saya, selain sabar dalam usaha. Karena jangan berharap kesuksesan itu sesuatu yang instant, dia harus diraih dengan kerja keras yang terus menerus”, lanjut beliau menjelaskan prinsipnya tersebut.

Al-Quran mulia berbicara: “Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertaqwa, dan membenarkan adanya kebaikan (pahala di akhirat), maka Kami akan lancarkan jalannya menuju kemudahan. Sedangkan yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan kebaikan, maka kamia akan menyiapkan baginya jalan yang sulit.” (QS. Al-Lail: 5-10).

Ayat al-Quran tersebut diatas setidaknya menyatakan bahwa memberi (sedekah) merupakan wujud dari ketaqwaan dan keimanan kepada ganjaran dan hukuman di akhirat. Sebaliknya, kekikiran merupakan indikasi kekafiran kepada Tuhan dan pendustaan serta ketidakpercayaan kepada kehidupan akhirat. Bahkan di tempat yang lain, al-Quran jelas menyandingkan orang yang tidak mau memberi sebagai para pendusta agama.

”Tahukah kamu orang-orang yang mendustakan Agama? Mereka adalah orang yang mengusir anak yatim, serta tidak berusaha keras untuk memberi makan orang miskin”. (Qs. Al-Ma’un: 1-3).

Kemudian hal kedua yang bisa diambil adalah bahwa memberikan sebagian dari yang kita miliki itu merupakan sarana dalam mengatasi kesulitan-kesulitan kita, bukan sebaliknya seperti yang dibayangkan kebanyakan orang. Justru sebaliknya kalau kita kikir akan menyebabkan kita terlempar menuju kepada kesulitan-kesulitan.

Ada sebuah kisah lagi yang ingin saya sampaikan disini untuk membuktikan bagaimana memberi (sedekah) itu dapat mengubah takdir seseorang menuju kebaikan.

Suatu kali, ketika Rasulullah SAW sedang bersama para sahabatnya, seorang laki-laki Yahudi lewat. Tiba-tiba Rasulullah berkata : “Orang ini akan mati tak lama lagi.” Namun, sore harinya, orang yang sama lewat lagi di hadapan mereka dalam keadaan segar-bugar, sambil memanggul seonggok kayu. Sahabat pun terheran-heran : “Bagaimana mungkin orang yang sudah diramalkan mati oleh Rasul-Nya, masih bertahan hidup?” Belum habis keheranan mereka, Rasul SAW pun memanggil laki-laki itu. Kemudian beliau meminta agar onggokan kayu yang di bawanya diturunkan dan dibongkar. Dalam keterkejutan semua orang, dari dalam onggokan kayu tersebut merayap keluar seekor ular beracun. Lalu Rasul pun menyatakan :”Seharusnya engkau telah mati dipatuk ular beracun ini? Perbuatan baik apa yang telah kamu lakukan?” Maka laki-laki Yahudi itupun bercerita bahwa di tengah perjalanan ia bertemu dengan seorang miskin dan memberikan sedekah kepadanya.

Riwayat tersebut diatas menunjukkan bahwa perbuatan baik (dalam hal ini sedekah) dapat mempengaruhi nasib seseorang, siapapun dia dan apapun agamanya.

Ternyata prinsip sukses sederhana “Te’no, We’ono” ternyata memiliki basis yang sangat kuat berdasarkan nash-nash di atas. Kembali ke cerita pengusaha di awal tadi, beliau cerita juga bahwa waktu dia pergi haji dulu, selain dzikir wajib dan sunnah, beliau seringkali ber-"dzikir" dengan prinsipnya itu. “Te’no, We’ono…Te’no, We’ono…Te’no, We’ono… Bimillahi Allahu Akbar… Te’no, We’ono…”. [undzurilaina]

Wednesday, February 4, 2009

Semar Loyo Dibalang Sendal

Selain lembaga pemerintahan, kebiasaan singkat menyingkat juga berlaku untuk tag line suatu daerah.

Solo Berseri, Jogja Berhati Nyaman, Temanggung Bersenyum, Cilacap Bercahaya, semuanya adalah singkatan. Juga untuk menyebut suatu kawasan, yang katanya akan menjadi suatu kawasan yang unggul dan berkembang.


Bermula dari Jabotabek, eh sekarang Jabodetabek. Muncul pula Gerbangkertosusila (Gresik, Bangkalan, Mojokerto, Surabaya , Sidoarjo, Lamongan), Barlingmascakeb (Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas, Cilacap, Kebumen), Pawonsari Bakulrejo (Pacitan Wonogiri Wonosari, Bantul, Kulon Progo, Purworejo), atau Joglosemar (Jogja Solo Semarang).

Beruntung tidak ada yang membalik urutannya menjadi Semarang Solo Yogya, disingkat menjadi Semar Loyo.

Mungkin di masa mendatang akan muncul juga Dibalang Sendal (Purwodadi, Batang, Pemalang, Semarang , Kendal), atau Kasur Bosok (Karanganyar, Sukoharjo, Boyolali, Solo, Klaten). Asal jangan Susu Mbokde (Surakarta , Sukoharjo, Mboyolali, Kartasura, Delanggu) atau Tanteku Montok (Panjatan, Tegalan, Kulwaru, Temon, Toyan, Kokap) yaitu satu daerah di Kulon Progo Yogyakarta yang rencananya mau dibikin Bandara Intl. dan Armada Laut di sekitar pantai Glagah Indah...

Anak-anak muda Jogja tidak kalah kreatifnya untuk ikut-ikutan menyingkat nama tempat.
Sebut saja Amplas untuk Ambarukmo Plaza , atau Jakal (Jalan Kaliurang), Jamal (Jalan Magelang). Kalau sampeyan sekolah di SMA 6, bisa nyombong kalau sampeyan sekolah di Depazter alias Depan Pasar Terban.

Bahkan, dari pusat kota Jogja, sangat mudah untuk mencapai Paris(Parangtritis), atau Pakistan (Pasar Kidul Stasiun alias Sarkem), bahkan Banglades (Bangjo Lapangan Denggung Sleman).

Sampeyan seorang yang enthengan, ringan tangan, suka membantu, ndak pernah menolak untuk dimintai tolong?
Berarti sampeyan layak menyandang nama Willem Ortano, alias Dijawil Gelem Ora Tau Nolak.

Atau kalau sampeyan pinter omong, jualan obat, meyakinkan orang dengan omongan sampeyan yang nggak karuan bener salahnya, maka jangan marah kalau sampeyan dipanggil
sebagai Toni Boster, alias Waton Muni Ndobose Banter.[sumber: SteWa]

Tuesday, February 3, 2009

Pengkhianatan Arab Saudi; Dari Pulau Tiran Hingga ke Perang Gaza

oleh: Saleh Lapadi

Uni Emirat Arab tanpa memiliki bukti kuat sampai saat ini masih mengklaim tiga pulau Abu Musa, Tunb Kecil dan Tunb Besar sebagai miliknya. Uni Emirat Arab memanfaatkan isu Arab dan propaganda internasional untuk tetap mengusik ketiga pulau ini. Namun ironisnya Arab Saudi tidak pernah mempermasalahkan dua pulaunya; Tiran dan Sanafir yang sampai saat ini diduduki oleh Rezim Zionis Israel. Apa rahasia dibalik bungkamnya Arab Saudi menyaksikan dua pulaunya diduduki Israel? Tulisan ini mencoba membongkar transaksi besar antara Arab Saudi dan Israel.


Urgensi Pulau Tiran dan Sanafir
Pelabuhan Elat yang terletak di Teluk Aqaba sangat strategis bagi Rezim Zionis Israel karena sebagian besar aktivitas ekspor dan impor rezim Zionis melalui pelabuhan ini. Pelabuhan Elat menjadi penghubung Israel dengan pesisir timur dan selatan Afrika dan negara-negara selatan dan barat daya Asia. Pelabuhan ini dihubungkan dengan pelabuhan Asqalan pesisir timur Laut Mediterania lewat jalur pipa minyak dan jalur darat. Dengan memiliki pelabuhan ini, Israel sudah tidak lagi membutuhkan Terusan Suez dan kenyataan ini menunjukkan strategisnya pelabuhan Elat bagi rezim ini.

Namun apakah satu-satunya jalur hubungan Israel dengan laut melalui Selat Tiran?

Selat Tiran adalah pulau yang menghubungkan Teluk Aqabah dengan Laut Merah. Mulut Selat Aqabah adalah pulau Tiran dan Sanafir. Mantan Duta Besar Rezim Zionis Israel di Amerika Ishaq Rabin mengatakan, “Kawasan ini, pulau Tiran dan Sanafir sangat strategis. Pertikaian tiga orang bersenjata saja mampu menutup selat ini.” Begitu strategisnya selat ini sehingga banyak pengamat menilai salah satu pemicu perang Arab-Israel tahun 1967 adalah sikap Mesir menutup selat ini bagi armada laut Israel.

Kronologi Sejarah Urgensi Pulau Tiran dan Sanafir
Mesir pada tahun 1949 menutup Terusan Suez untuk kapal-kapal Rezim Zionis Israel. Sikap Mesir ini secara otomatis mengangkat posisi Pelabuhan Elat menjadi sangat strategis bagi Israel. Karena dengan ditutupnya Terusan Suez tanpa memiliki pelabuhan ini bagi Israel berarti kapal-kapal dagang rezim ini setelah melakukan transaksi untuk kembali harus memutari Afrika Selatan terlebih dahulu.

Pada tanggal 13 September 1955, Mesir mengeluarkan peraturan bagi setiap kapal-kapal yang ingin melewati Teluk Aqabah harus mendapat izin negaranya. Sebaliknya, Israel melihat kendala dalam upayanya untuk mengakses laut bebas. Saat Gamal Abdel Nasser, Presiden Mesir menasionalisasikan Terusan Suez, negara-negara Perancis, Inggris dan Rezim Zionis Israel menyerang Mesir. Hasil dari perang ini adalah terealisasinya keinginan Rezim Zionis Israel dengan dibukanya kembali Selat Tiran dan ditempatkannya pasukan internasional di Teluk Aqabah dan Gurun Sina.

Pulau Sanafir untuk pertama kalinya diduduki Rezim Zionis Israel dalam perang tahun 1956 selama 10 bulan. Sebelum perang tahun 1967 Mesir menyewa pulau ini dari Arab Saudi dengan tujuan menutup Selat Tiran bagi armada kapal Israel. Namun setelah perang pulau ini menjadi jajahan Israel.

Sebelum terjadi perang, Mesir menuntut penarikan pasukan penjaga perdamaian PBB dari garis gencatan senjata dengan Israel. Pasukan perdamaian PBB pada tanggal 23 Mei 1967 menarik pasukannya dari sana. Mesir tetap menutup Selat Tiran bagi armada kapal Rezim Zionis Israel. Pendudukan ilegal Pelabuhan Elat di kawasan Umm Al-Rashrash oleh Rezim Zionis Israel setelah gencatan senjata tahun 1949, Luas Teluk Aqabah lebih banyak dimiliki oleh Mesir dan keyakinan negara ini bahwa Selat Tiran bukan kawasan bebas menjadi alasan Mesir untuk menutup selat ini.

Langkah yang dilakukan Mesir menunjukkan negara ini telah siap untuk melakukan perang paling menentukan dengan Rezim Zionis Israel. Namun Rezim Zionis Israel mendahului Mesir dengan lampu hijau yang diberikan Amerika, pagi hari tanggal 5 Juni 1967 membombardir 9 bandar udara Mesir selama 3 jam dan setiap kalinya selama 10 menit. Pasukan darat rezim ini siang hari itu juga menyerang perbatasan Mesir dan kemudian merangsek maju mendekati terusan Suez. Sore hari kedua perang (6 Juni), Panglima Tertinggi Militer Mesir Abdul Hakim Amir memerintahkan pasukannya segera mundur dari Gurun Sina. Menyusul perintah ini, Mesir pada tanggal 7 Juni menerima dihentikannya perang dan menginformasikannya kepada Sekjen PBB, sementara militer Israel pada tanggal 8 Juni tengah berusaha untuk menduduki Gurun Sina secara keseluruhan.

Ada sejumlah capaian penting bagi Rezim Zionis Israel setelah berkahirnya perang ke-3 tahun 1967 antara Arab dan Israel. Hasil-hasil itu sebagaimana berikut:

1. Rezim Zionis Israel tetap menguasai dan menduduki daerah-daerah seperti Tepi Barat Sungai Jordan, Jalur Gaza, Gurun Sina milik Mesir, Dataran Tinggi Golan milik Suriah dan pulau Tiran dan Sanafir milik Arab Saudi.
2. Sekitar 330 ribu warga Palestina menjadi pengungsi.
3. Rezim Zionis Israel menguasai sumber air Sungai Jordan dan Selat Tiran dan Teluk Aqabah terbuka bagi armada kapal rezim ini.
4. Rezim Zionis Israel berhasil menciptakan garis pertahanan baru yang strategis untuk menghadapi serangan asing.
5. Sejumlah daerah telah diduduki Rezim Zionis Israel. Setelah ini tujuan Arab hanya berusaha untuk mengembalikan tanah-tanah yang telah diduduki baik tahun 1948 atau 1967.
6. Kekuatan militer Mesir, Yordania dan Suriah telah hancur.
7. Ketidakmampuan para pemimpin Arab, ketidakkompakan dan ketidakseriusan mereka untuk membebaskan Palestina semakin tampak jelas.
8. Perlawanan Palestina muncul dan dari hari ke hari semakin menguat. Menyusul ketidakmampuan dunia Arab, bangsa Palestina menemukan jati dirinya dan berusaha dengan melakukan berbagai inovasi untuk membebaskan tanah airnya.

Perang tahun 1967 bukan akhir dari perseteruan Arab-Israel. Karena pada tahun 1973 perang kembali terjadi yang menjadi pendahuluan terjadinya Perjanjian memalukan Kamp David yang ditandatangani oleh Presiden Mesir Anwar Sadat dan Perdana Menteri Rezim Zionis Israel Menachem Begin pada tanggal 17 September 1978. Dalam perundingan itu tidak disebutkan mengenai pulau-pulau milik Arab Saudi dan kawasan Umm Ar-Rashrash milik Mesir sebelum perang 1967 yang diduduki Rezim Zionis Israel.

Pengkhiatan Arab Saudi atas Cita-Cita Palestina dan Umat Islam
Mencermati kronologi pendudukan pulau Tiran dan Sanafir milik Arab Saudi oleh Rezim Zionis Israel dan bungkam pemerintah Arab Saudi atas kenyataan ini menimbulkan berbagai pertanyaan. Apakah mungkin ada kesepakatan rahasia antara pemerintah Arab Saudi dan Rezim Zionis Israel?

Perlu diketahui bahwa satu tahun setengah sebelum terjadinya perang Gaza, Arab Saudi menyakan akan membangun jembatan yang menghubungkan kedua negara ini dari Ra’s Al-Sheikh Hamid, Arab Saudi hingga Sharm Al-Sheikh, Mesir. Pernyataan ini kontan direaksi keras oleh Rezim Zionis Israel. Kerasnya pernyataan Israel ini dapat ditelusuri dalam tulisan yang dimuat dalam Situs Debka bahwa pembangunan jembatan itu dapat memicu perang besar di Timur Tengah. Alasan perang tahun 1967 antara Arab dan Israel dibesar-besarkan agar para pejabat Arab Saudi segera menarik kembali keputusannya itu.

Jembatan dengan panjang 50 kilometer itu diperkirakan akan menghabiskan biaya sebesar 3 miliar dolar dan direncanakan akan selesai selama tiga tahun. Hampir dua tahun dari pengumuman rencana dan peletakan batu pertama dilakukan, namun sampai kini tidak ada informasi baru mengenai kemajuan proyek ini.

Agresi brutal militer Rezim Zionis Israel dan bungkamnya Arab Saudi menyaksikan kebiadaban rezim ini membuat opini umum dunia bertanya-tanya. Apakah bungkamnya para pejabat Arab Saudi di saat militer Israel melakukan kebiadabannya bagian dari kesepakatan rahasia Arab Saudi dan Israel dalam masalah proyek jembatan dari pulau Tiran? Terlebih lagi setelah sejumlah pakar menyebut-nyebut adanya sumber minyak di pulau Tiran dan Sanafir. Waktu jugalah yang akan menjawab apa sebenarnya di balik kemungkinan kesepakatan rahasia antara pengkhianat dan munafik umat Islam dengan Rezim Zionis Israel.

Namun jangan lupa akan pernyataan Rahbar atau Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran Ayatullah Al-Udzma Sayyid Ali Khamenei dalam suratnya kepada Perdana Menteri Palestina yang sah Ismail Haniyah. Beliau mengatakan, “Para pengkhianat Arab juga harus tahu bahwa nasib mereka tidak akan lebih baik dari orang-orang Yahudi dalam perang Ahzab”, sambil menyebut ayat ke-26 surat Al-Ahzab yang berbunyi, “Dan dia menurunkan orang-orang Ahli Kitab (Bani Quraizhah) yang membantu golongan-golongan yang bersekutu dari benteng-benteng mereka, dan dia memasukkan rasa takut ke dalam hati mereka. Sebagian mereka kamu bunuh dan sebahagian yang lain kamu tawan.”

Ahmadinejad: Boikot Produk Israel!

Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad menyerukan pemboikotan barang-barang Israel, memperingatkan tentang kemungkinan negara Yahudi itu akan melancarkan serangan baru terhadap rakyat Palestina, kata laman kepresidenan Iran, Senin.


“Peradilan para pemimpin rejim Zionis itu harus terus diupayakan dan barang-barang Zionis itu harus diboikot,” kata Ahmadinejad dalam satu pertemuan dengan ketua gerakan Hamas , Khaled Meshaal yang dikutip situs internet itu dan dilaporkan AFP.

Hamas dan Israel sama-sama mengumumkan gencatan 18 Januari, yang mengakhiri perang 22 hari di Gaza yang menewaskan lebih dari 1.330 warga Palestina dan 13 orang Israel.

“Zionis yang kalah tidak akan berhenti menyerang bahkan dalam situasi ini dan mereka kemungkinan akan menyerang kembali,” kata Ahmadinejad .

Israel memberlakukan satu blokade atas Gaza sejak Hamas menguasai Jalur Gaza pertengahan tahun 2007 dalam pertempuran di jalan-jalan dengan faksi Fatah, saingannya.

Meshaal bertemu dengan pemimpin tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, Minggu dalam kunjungan pertamanya ke Republik Islam itu sejak perang Gaza. Iran adalah pendukung kuat Hamas dan tidak mengakui Israel.(antara)

Saturday, January 31, 2009

Presiden Israel Diteriaki "Pembunuh" oleh PM Turki

DAVOS, JUMAT — Perdana Menteri Turki Tayyip Erdogan beranjak meninggalkan Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss, Kamis (29/1), setelah menyebut Presiden Israel Shimon Peres sebagai "pembunuh." Sebutan itu dikumandangkan oleh Tayyip Erdogan sebagai bentuk keprihatinan terhadap sikap Shimon Peres yang mendukung operasi militer Israel di Gaza.


Peserta debat yang bertopik Gaza, seperti penasihat Presiden Barack Obama, Valerie Jarret, tersontak
melihat Erdogan dan Shimon Peres terlibat debat sengit dengan nada tinggi dan penuh emosi. Dalam debat yang memanas itu, Peres tetap membela posisi Israel dalam serangan militer selama 23 hari terhadap militan Hamas.

Peres menerangkan, operasi militer Israel diberlakukan sebagai respons atas serangan roket Hamas selama 8 tahun yang diarahkan ke wilayah teritorial Israel. Saat menyampaikan pandangannya itu, Peres kerap kali melepas pandangannya ke Erdogan yang mengkritik pemblokadean Israel atas wilayah Gaza.

Erdogan menyebut pemblokadean itu sebagai penjara "terbuka" yang terisolasi dari belahan dunia lain. Erdogan menyampaikan keprihatinannya terhadap operasi militer Israel yang menewaskan sekitar 1.300 warga Palestina, lebih dari separuh di antaranya adalah warga sipil.

"Kenapa Hamas menembakkan roket? Tak ada pemblokadean terhadap Hamas sebelumnya," kata Peres dengan nada suara penuh emosional. "Kenapa mereka (Hamas) memerangi kami, apa yang mereka inginkan? Tak pernah ada kelaparan sebelumnya di Gaza."

Debat ini melibatkan Israel dan Turki sebagai pusat perhatian mengingat peran penting Turki sebagai moderator perdamaian Israel dengan Suriah. Erdogan menyampaikan kekecewaannya dengan mengenang upayanya mengadakan pendekatan perdamaian dengan Perdana Menteri Israel Ehud Olmert sebelum Israel melancarkan operasi militer di Gaza.

"Saya sedih mengetahui peserta forum bertepuk tangan terhadap ucapanmu (Peres)," kata Erdogan. "Kamu pembunuh. Dan saya berpendapat tindakan itu sangat keliru." Emosi Erdogan memuncak saat seorang moderator panel memotong pernyataannya untuk menanggapi pembelaan Peres terhadap operasi militer Israel melawan Hamas.

Luapan kemarahan ini berlangsung menyusul diadakan debat selama 1 jam di forum yang dihadiri oleh sejumlah pemimpin dunia di Davos. Erdogan berupaya memojokkan Peres lewat sanggahannya saat debat akan berakhir dengan meminta moderator yang adalah kolumnis Washington Post, David Ignatius, memperkenankan menambah waktu baginya untuk berbicara.

"Saya masih ingat dengan anak-anak yang tewas di pantai-pantai," tegas Erdogan. Saat Erdogan diperintahkan menghentikan komentarnya, Erdogan dengan sikap gusar meninggalkan forum yang dihadiri panelis Sekjen PBB Ban Ki-moon dan Sekretaris Liga Arab Amr Moussa.

"Anda mengetahui betul pembantaian terhadap warga Palestina," ujar Erdogan secara lantang kepada Peres. "Saya masih ingat 2 mantan perdana menteri di negaramu yang pernah mengaku senang saat tank-tank Israel berhasil menjejakkan kehadiran di tanah Palestina," tambahnya.

Saat moderator berupaya memotong pernyataan Erdogan dengan menjelaskan waktunya telah memasuki jam makan malam, Erdogan menyelanya dengan mengatakan: "Jangan interupsi saya. Kamu tidak mengizinkan saya untuk berbicara. Saya tidak akan ke Davos lagi," tegasnya.

Erdogan menekankan alasannya meninggalkan forum di Davos bukan karena perselisihannya dengan Peres. Erdogan menjelaskan tidak diberikan cukup waktu untuk menanggapi pernyataan Shimon Peres. Erdogan mengeluh karena Peres diberikan waktu 25 menit untuk menyampaikan komentar, sementara dirinya hanya diberi waktu 12 menit.

Friday, January 30, 2009

Semangat Muqawwamah dan Merdeka atau Mati

Seorang ustadz lulusan perguruan tinggi Syiria pernah bercerita dalam sebuah forum mengenai pengalamannya dulu sewaktu beliau sekolah. Ada sebuah pengalaman menarik yang ingin saya ceritakan disini tentang hubungan Palestina dengan Indonesia. Pada suatu saat sang ustadz bersama teman-temannya berniat untuk melakukan perjalanan ke Palestina. Dalam perjalanan menuju kesana, rombongan bertemu dengan beberapa pemuda Palestina, dan kemudian mereka pun mulai berkenalan. Ketika sampai pada ustadz tadi, pemuda palestina tersebut menunjukkan ekspresi yang begitu gembira ketika mengetahui bahwa ustadz tersebut berasal dari Indonesia.

Ahlan wa sahlan! kami bangsa Palestina sejak lama memiliki kedekatan dengan Bangsa Indonesia”, begitu kira2 sapaan orang palestina tadi kepada sang ustadz Indonesia itu. Merasa penasaran, sang ustadz pun bertanya apa pasalnya kok bisa bangsa Indonesia dekat dengan bangsa Palestina.

“Kami bangsa Palestina kini merupakan bangsa yang terjajah. Sudah sekitar 60 tahun ini kami berjuang dalam penjajahan Israel yang semakin ekspansif. Bangsa Palestina terus berjuang melawan penjajahan dengan semangat perlawanan (muqawwamah). Kami akan terus berjuang sampai kami mendapatkan hak kemerdekaan kami hingga titik darah penghabisan. Dalam hal ini di sekolah-sekolah, guru-guru kami seringkali memberikan contoh perjuangan bangsa indonesia dalam merebut kemerdekaan dengan semangat yang terkenal dengan Merdeka atau Mati. Bangsa Indonesia tidak kenal menyerah walaupun harus berjuang selama 350 tahun lamanya. Itulah salah satu sebab kedekatan kami dengan bangsa Indonesia, yaitu karena menginspirasikan semangat untuk merebut kemerdekaan. Jadi kalau misalnya kami belum berhasil merebut kemerdekaan saat ini, maka insya Allah anak-anak kami bisa mendapatkannya. Kalaulah anak-anak kami belum bisa, maka insya Allah cucu-cucu kami nanti yang bisa merebutnya. Dan seterusnya. .”, demikian kira-kira penjelasan pemuda palestina itu menjawab penasaran sang ustadz.

Bangsa Palestina saat ini merupakan satu-satunya bangsa di dunia yang masih dalam penjajahan, kalau kita tidak menganggap apa dilakukan oleh AS terhadap Iraq dan Afghanistan sebagai penjajahan. Sebagai bangsa yang dalam mukadimah undang2 dasarnya menyatakan dengan tegas bahwa penjajahan harus dihapuskan dari muka bumi ini, kita sudah seharusnya mendukung Palestina dalam merebut kemerdekaannya. Apalagi kalau kita melihat dalam sejarah bahwa Palestina merupakan negara pertama bersama Mesir yang memberikan pengakuan atas kemerdekaan bangsa kita ini.

Sering saya baca pengamat, pejabat, penulis sampai dengan yang melabelkan dirinya dengan cendikiawan muslim masih ragu-ragu untuk membela bangsa Palestina. Mereka berkata bahwa bangsa Palestina yang melakukan perlawanan (seperti Hamas) merupakan penyebab terjadinya perang yang berkelanjutan. “Sudahlah, hentikan saja perlawanan, Israel itu menyerang karena diserang oleh kelompok-kelompok ekstrimis berjiwa teroris”, demikian kira2 kata para orang yang katanya pintar itu. Apakah mereka tidak menyadari bahwa apa yang kita semua dapatkan saat ini yaitu kemerdekaan bangsa ini merupakan hasil perjuangan yang tak kenal menyerah dari para pejuang yang dulu juga sering dibilang ekstrimis oleh para penjajah?! Apakah kemerdekaan dapat dicapai apabila para pejuang dulu mendengarkan nasihat2 “bijak” dari orang-orang “pintar” seperti mereka itu di zamannya?

Sungguh aneh!! Kalau memang tidak bisa membantu, sudahlah mendingan diam saja!

Tapi sekarang ini saya kira dunia sudah banyak mengetahui siapa sesungguhnya Israel, Amerika dan siapa sesungguhnya Palestina. Kemenangan adalah keberhasilan pencapaian tujuan. Ketika tujuan tercapai, maka dapat dikatakan dia menang. Dan jika tidak tercapai artinya kalah. Dalam serangan Gaza yang dimulai 27 desember yang lalu, Israel bertujuan untuk menumpas Hamas dan menghancurkan jalur-jalur pasokan untuk rakyat Gaza. Apa yang dihasilkan dari perang Furqan 22 hari itu? Apakah tercapai tujuan Israel untuk menghancurkan Hamas? Justru sebaliknya, Hamas dikabarkan semakin kuat dan mendapat dukungan yang semakin luas. Dukungan dari segala penjuru dunia mengalir untuk Palestina dan mengutuk Israel. Sesuatu yang sebelumnya sangat susah didapatkan oleh Palestina dari dunia.

Semangat Muqawwamah dan “Merdeka atau Mati”, keduanya adalah semangat perlawanan dan perjuangan menuntuk kemerdekaan, semangat untuk menuntut keadilan atas kezaliman. Lebih dari 1300 tahun yang lalu, cucu Rasulullah SAW yang bernama al-Husain, berteriak lantang “Haihaat mina ad-dzillah!”, Pantang Hina terhadap imperium zalim Yazid. Waktu itu kalau dilihat secara materi, memang kelihatannya pihak al-Husain lah yang kalah karena dibantai dengan sangat sadis oleh pasukan Yazid bin Muawiyyah. Tapi karena peristiwa itulah, semua orang menjadi sadar siapakah sebenarnya Yazid sang penguasa zalim yang mengatas namakan dirinya amir al-mukminin. Untuk itu –menurut saya—selayaknya
kita berikrar dalam diri untuk berdamai terhadap pihak yang berdamai terhadap keadilan, dan berperang terhadap pihak yang bermusuhan terhadap keadilan. Ana silmun li man salamahum, wa harbun li man harabahum. [undzurilaina]

Thursday, January 29, 2009

KREATIFITAS PEJABAT INDONESIA ANTI KORUPSI

Setelah proyek multimilyar dollar selesai, sang dirjen kedatangan tamu bule wakil dari HQ kantor pemenang tender. Karena sudah 7 tahun di Jakarta jadi dia bisa cakap Indonesia.

Bule: "Pak, ada hadiah dari kami untuk bapak. Saya parkir dibawah mercy S320."

Dirjen : "Anda mau menyuap saya? ini apa-apaan? tender dah kelar kok. Jangan gitu ya, bahaya tau haree genee ngasih-ngasih hadiah."


Bule: "Tolonglah pak diterima. Kalau gak, saya dianggap gagal membina relasi oleh kantor pusat."

Dirjen: "Ah, jangan gitu dong. Saya gak sudi!!"

Bule: "Gini aja, pak. gimana kalau bapak beli saja mobilnya..."

Dirjen: "Mana saya ada uang beli mobil mahal gitu!!

Bule menelpon kantor pusat.

Bule: "Saya ada solusi, Pak. bapak beli mobilnya dg harga Rp.10.000,-saja."

Dirjen: "Bener ya? OK, saya mau, jadi ini bukan suap. Pake kwitansi ya.."

Bule: "Tentu, Pak.."


Bule itu kemudian menyiapkan dan menyerahkan kwitansi. Sang Dirjen membayar dengan uang 50 ribuan, mereka pun bersalaman.

Bule: "Oh, maaf Pak. Ini kembaliannya Rp.40.000,-."

Dirjen: "Gak usah pakai kembalian segala. Tolong kirim saja 4 mobil lagi kerumah saya ya..."

Bule : @#$%^& !!!***

Nasgitel, Rokok dan Usul Fiqih

Siang itu seperti biasa mas Bejo mampir ke wedangan Pak Min Senthung untuk istirahat sebentar sebelum melanjutkan lagi tugasnya melayani para customernya menggunakan becak kesayangannya yang sekarang diparkir persis di depan warung wedangan Pak Min.

Ketika masuk ke wedangan itu, mas Bejo melihat sudah ada beberapa orang yang memang pelanggan loyal wedangan Pak Min. Disitu diantaranya ada pakde Basuki yang lulusan sekolah agama, ada mas Ahmad yang lulusan pesantren kyai marbun, dan ada juga mas Andi yang sarjana komunikasi.


“Nasgithel, Pak!”, kata mas Bejo ke Pak Min mulai pesanan favoritnya yaitu teh nasgitel alias teh panas legi tur kenthel (panas, manis, kental). Tak berapa lama, nasgitel pun sudah terhidang di hadapan mas Bejo yang sudah mulai menyantap beberapa bakwan dan gorengan yang memang muantap dan khas wedangan Pak Min.

Seperti biasa setelah makan gorengan dan wedang nasgitel nya itu, mas Bejo mengeluarkan sebungkus rokok kretek dari sakunya, dan “jress..sssshh..krtkkrtk..”, mas Bejo menyalakan dan mulai menghisap rokok kreteknya itu. Bau rokok kretek murahan itu pun langsung memenuhi wedangan Pak Min.

Bau rokok mas Bejo yang menyengat itu menyadarkan pakde Basuki dan mas Ahmad yang waktu itu lagi asyik ngobrol.
“Loh…sampeyan kok ijik ngrokok, Jo?!”, tanya pakde Basuki kepada mas Bejo dengan nada agak tinggi.
“Lha kenopo to pakde? Lak biasa wae to aku ben mrene lak yo ngrokok..?!”, jawab mas Bejo heran dengan pertanyaan pakde Basuki.

“Joo..Bejo..! Lha sampeyan opo ra weruh nek MUI ki wingi wis mengharamkan rokok…?! Lha nek ngerti haram terus tetep dilakoni yo dosa kowe, Jo!”, kata pakde Basuki.
“Lha nyuwun pangapunten, pakde. Kulo mboten ngertos kulo, lha wong kulo lak dinan2e lak nang ndalan dadi pilot, dadi mboten weruh. Emange knopo to pakde kok diharamne?”, jawab mas Bejo.

“Dadi ngene ceritane, Jo”, pakde Basuki memulai penjelasannya. Dalam menentukan hukum fiqih kuwi, para ulama nduwe metode utowo cara2 untuk menyimpulkan sesuatu itu haram, dianjurkan (sunnah), mubah, makruh utowo haram. Ilmu sing mempelajari kuwi jenenge ilmu “Ushul Fiqih”.

“Opo to kuwi kok nganggo usul2 barang, Pakde?”, tanya mas Bejo menyela.
“Sik to! menengo sik, Jo!”, kata pakde Basuki meminta mas Bejo mendengarkan dulu penjelasannya.

Dalam ilmu ushul fiqih kuwi ono macem2 kaidah sing digunakne karo para Ulama untuk menyimpulkan sebuah hukum. Sebagian ulama menganggap bahwa tidak semua urusan itu ada aturannya dalam al-Quran dan hadits kanjeng Nabi Muhammad SAW. Koyo masalah rokok iki sing menurut mereka gak ono aturane mergo jarene mulai ono setelah Colombus ketemu wong indian nang Amerika kono. Karena itu para ulama mengembangkan kaidah2 untuk memutuskan hukum seperti kaidah misale analogi utowo qiyas, menutup jalan2 atau sadd dhara’I, membuka jalan2 atau fathu dhara’I, pertimbangan kemaslahatan umat utowo maslahah mursalah, lan sak teruse.

“Opo meneeh kuwi?!”, mas Bejo tambah bingung.
“Sek to, menengo sek to. Ora crigis wae! Meh dilanjutne ora?!”, pakde Basuki mulai jengkel karena disela lagi oleh mas Bejo.
“Nggih…nggih.. Monggo diterusaken, Pakde”, kata mas Bejo meminta pakde meneruskan penjelasannya.

“Lha para Ulama sing mengharamkan rokok iki, pada umumnya menggunakan prinsip sadd dhara’I atau menutup jalan2 yang dapat menyebabkan kemudharatan pada individu maupun masyarakat. Nah karena kabew wong (termasuk pak dokter sing sok udud) mengatakan bahwa rokok itu berbahaya bagi kesehatan, maka jalan menuju kebahayaan/kemudharatan kuwi kudu ditutup. Dadi kesimpulane rokok kuwi Haram hukume”, kata pakde Basuki mengakhir penjelasannya tentang kenapa rokok haram.

“sek..sek to, pakde! Ampun kesusu”, kata mas Ahmad menyela kesimpulan pakde Basuki yang menurutnya terlalu terburu-buru. Mas Ahmad sendiri merokok, karena kyainya dulu juga perokok berat. Menurut sing takpelajari seko kyai-ku ndisik, kesimpulane bedo karo kesimpulan sampeyan niku.
“Lha kyai sampeyan ndisik ngerti ushul fiqih opo ra?!”, tanya pakde Basuki ke mas Ahmad.
“Kyaiku ndisik yo ngerti ushul fiqih, ora mung njenengan thok sing ngerti. Kyaiku ndisik yo nggunake kaidah2 sing njenengan omong mau”, jawab mas Ahmad agak marah kyainya dipertanyakan keilmuannya.
“Lha terus piye ceritane lek ngono?”, kata pakde Basuki menantang mas Ahmad untuk menjelaskan bagaimana penjelasannya kok bisa kesimpulannya berbeda dengan kesimpulannya.
“Ngene, pakde. Koyo sing njenengan omong mau, nang ushul fiqih ki ono prinsip fathu dhara’I atau membuka jalan2 yang dapat menimbulkan kebaikan. Contone, rabi atau menikah kuwi lak apik, dadi segala hal-hal yang dapat membuka jalan menuju pernikahan yang baik, misale koyo biro jodoh sing apik, kuwi hukume yo dadi baik. Setuju nggak, Pakde?”, tanya mas Ahmad meminta persetujuan pakde basuki.

“Yoh..he’e, terus piye bab rokok mau?”, jawab pakde Basuki.
“Sik..sabar sithi to, Pakde! Saiki aku meh takon menurut njenengan nek bermasyarakat utowo bersilaturahim kuwi apik opo elek?”
“Yo apik no, piye to kowe ki kok mbulet wae penjelasane. Bab rokok ki piye?”, jawab pakde Basuki yang sudah nggak sabar menunggu jawaban dari mas Ahmad kenapa rokok bisa halal menurut mas Ahmad.
“Wis, njenengan ki kok nggak sabaran tenan to, Pakde! Lha merokok kuwi telah terbukti bisa memperlancar jalannya kita bermasyarakat dan bersilaturahim. Nek ngobrol karo ngrokok lak obrolan iso dadi nyantai lan akrab ngono to. Nha dadi rokok kuwi hukume yo dadi baik alias halal, malah iso2 cenderung sunnah! Itu karena dia bisa membuka jalan menuju silaturahim dan bermasyarakat yang baik”, jawab mas Ahmad dengan yakin mengakhiri penjelasannya tentang rokok.

Pakde Basuki terdiam bingung, kok bisa prinsip yang sama menghasilkan kesimpulan yang berbeda. Yang satu bilang haram dengan alasan menutup kemudharatan, yang satu bilang halal dengan alasan membuka jalan kebaikan.
Mas Bejo tidak bisa menahan senyumnya karena lega ada yang membelanya untuk tetap menjadi ahli hisab rokok.

Mas Andi yang dari tadi diam mulai angkat bicara.
“Ehhmm2…aku boleh ikut ngomong nggak ini?”, mas Andi minta izin untuk berpendapat.
“Oh…monggo wae. Disini semua orang bebas berpendapat”, kata mas Ahmad menjawab.

“Nyuwun sewu, mas Ahmad. Tapi pendapat sampeyan itu menurutku lemah!”, kata mas Andi.
“Lha kok bisa?!”, tanya mas Ahmad dengan nada agak tinggi. Sementara Pakde Basuki memperoleh secercah harapan untuk mencari pembelaan terhadap pendapat awalnya bahwa rokok itu haram.
“Gini, mas Ahmad. Karena sampeyan bilang tadi bahwa rokok itu baik karena dapat membuka jalan ke bermasyarakat dan bersilaturahim yang baik, maka mestinya kesimpulan hukumnya adalah bahwa merokok itu boleh kalau dihisapnya secara bersama2 sambil bersilaturahim. Jadi kalau merokoknya sendirian di jamban, habis makan, temen minum kopi, dan sejenisnya maka hukumnya menjadi haram menggunakan prinsip yang dibilang pakde Basuki?!”, kata mas Andi.

Kali ini semua jamaah wedangan pak Min menjadi bingung.
“Bingung ya?!”, tanya mas Andi.

Mas Andi pun meneruskan penjelasannya mengenai tata-cara ulama dalam menyimpulkan hukum.
Ada lagi kelompok ulama lain yang meyakini bahwa tidak ada segala sesuatu di muka bumi ini yang nggak ada aturannya dalam nash (Quran dan hadits), baik yang bersifat umum/khusus, mutlak/bersyarat, tersurat/tersirat, dsb. Dalam surat al-Anam, Allah SWT berfirman yang artinya Tiadalah kami lupakan sesuatupun dalam kitab ini (al-Quran).

Karena itu dalam hal rokok ini para ulama mencoba mencari nash yang mengisyaratkan ke arah itu. Kemudian misalnya ditemukan ayat yang mengatakan bahwa menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk. Nah, tugas para ulama atau mujtahid lah yang menentukan apakah rokok itu termasuk sesuatu yang baik atau buruk. Dan terkadang kesimpulan yang dihasilkan bisa bergantung pada kondisi-kondisi tertentu, bergantung pertimbangan mujtahid. Adapun jika para ulama tidak berhasi melakukan penyimpulan hukum maka berlakulah kaidah-kaidah penerapan seperti al-bara’ah (terserah, semuanya boleh), ihtiyath (prinsip kehati-hatian), dsb.

Alhasil, terlepas dari soal rokok ini, ilmu fiqih ini memang kompleks. Kalau kita tahu kompleksitas ilmu fiqih ini semestinya kita tidak gampang2 menghakimi suatu pendapat benar atau salah. Memang seharusnya urusan seperti ini diserahkan kepada ahlinya”, kata mas Andi mengakhiri penjelasannya.

Semua jamaah majelis wedangan Pak Min pun terdiam. Sebagian mengangguk-angguk, sebagian lagi Cuma diam terpana mendengar penjelasan mas Andi yang sarjana komunikasi itu tapi bisa lebih bijak dari seorang yang memang mempelajari agama secara khusus. Mungkin karena terlalu yakin dengan kebenaran gurunya masing-masing sehingga dia menganggap bahwa kebenaran hanyalah miliknya, yang lainnya salah.

Pak Min yang dari tadi cuman ndengerin perdebatan seputar permasalahan hukum fiqih ini mulai nggak sabar untuk berkomentar. “Mangkane awake dewe kabeh ki lak wong awam to masalah iki. Lha takon masalah ngene kok nang wong awam. Wong tuwa ku ndisik tau pesen nang aku. Intine sebagai awam, awake dewe ki mesti memahami Quran lan hadits ki seko para ahline. Lha nek takon hukum nang wong awam ki podo karo mbek wong edan!”, kata Pak Min.

Kata2 Pak Min itu membuat para jamaah wedangan Pak Min saling menatap satu dengan lainnya, lalu serentak berteriak: “wooo…lha dadi wong edyan kabeeh iki!! Hahahahaha…”. Semua jamaah menyadari bahwa tidak seharusnya kita terburu2 menghakimi pendapat lain sebagai salah atau sesat, kecuali kalau mau dibilang sebagai "orang gila" seperti kata Pak Min tadi. [undzurilaina]