Sunday, July 19, 2009

Bijaknya Orang Jawa

Dikisahkan suatu hari seorang Madura akan melakukan perjalanan dengan pesawat terbang. Ketika panggilan boarding telah tiba, dia pun masuk ke pesawat dan kemudian memilih tempat duduk yang dia sukai.
Tak lama berselang ada seorang penumpang lain
yang masuk pesawat dan bermaksud untuk duduk di kursi yang sedang diduduki oleh sang Madura tadi. Setelah memeriksa kembali tiketnya dan yakin bahwa dia tak salah kursi, maka penumpang itu pun bertanya kepada penumpang Madura tadi..

Penumpang: “Maaf, Pak. Kursi bapak nomor berapa? Yang Bapak sedang duduki itu nomor kursi saya..”
Madura: “Loh, Sampeyan sapa?!”
Penumpang: “Saya juga penumpang seperti Bapak..”
Madura: “Eloh, sama2 penumpang kok mau ngatur2! Saya nggak mau pindah!”

Merasa kesal, penumpang tadi mengadukan permasalahannya kepada salah seorang pramugari. Pramugari tersebut kemudian menghampiri penumpang Madura tsb..

Pramugari: “Maaf, Pak. Bisa saya lihat tiketnya?”
Madura: “Ini ni, tiket saya!”
Pramugari: “Maaf ya, Pak. Tempat duduk Bapak di sebelah sana, bukan di sini..”
Madura: “Loh, Sampeyan ini sapa?!”
Pramugari: “Saya pramugari di sini, Pak..”
Madura: “Pramugari itu apa?!”
Pramugari: “Pramugari itu yang melayani para penumpang pesawat..”
Madura: “Lha wong cuman pelayan aja kok mau ngatur2 saya! Saya ndak mau pindah!”

Pramugari yang pusing kemudian melapor kepada pilot karena merasa tak mampu meng-handle penumpang unik itu. Pilot pun kini langsung turun tangan...

Pilot: “Maaf ya, Pak. Bapak salah tempat duduk. Mestinya Bapak duduknya sebelah sana..”
Madura: “Sapa lagi sampeyan ini??!”
Pilot: “Saya pilot pesawat ini, Pak”.
Madura: “Pilot itu apa?!”
Pilot: “Yah, sederhananya yang ngemudikan pesawat..”
Madura: “Lah ini lagi, Sopir kok mau ngatur saya! Pokoknya saya mau duduk disini!!”

Penumpang, pramugari dan pilot pun dibuat bengong dengan sikap penumpang yang satu ini. Speechless, nggak tahu mau ngapain lagi.
Tapi dalam bengong tersebut, ada seorang penumpang dengan blangkon khas Jawa nya yang kebetulan dekat situ dan dari tadi menyaksikan kegagalan usaha ketiga orang sebelumnya untuk meminta penumpang madura tadi pindah dari kursinya. Penumpang Jawa itu kemudian beranjak dari kursinya mendekati penumpang madura tadi..

Jawa: “Nyuwun sewu, Pak. Bapak mau turun dimana?”
Madura: “Madura...!”
Jawa: “Oh, kalau yang turun di Madura duduknya sebelah sana, Pak”
Madura: “Oh gitu, toh? Ya udah saya takpindah kesana. Makasih ya, Mas!”

Akhirnya masalah pun teratasi dengan kebijaksanaan cara komunikasi penumpang Jawa itu.

Friday, June 19, 2009

Bersama Kita Bisa?

Seorang Pria mengendarai mobilnya di sebuah jalan yang sepi ketika salah satu bannya meledak, hingga mobilnya menjadi tak terkendali sampai terperosok ke parit di tepi jalan. Dia berusaha keluar tapi urung setelah menyadari dirinya berada di suatu tempat yang amat sepi. Dan saat dia mulai panik, seorang petani melewati jalan itu dengan seekor keledai, Gus namanya.

Petani itu mengikatkan satu ujung tali ke mobil dan satu ujung lagi ke leher Gus. Kemudian ia melecutkan cemetinya di udara dan berteriak:
“Yaaa, Sam! Tarik, Sam, tarik!”
Keledai itu tak bergerak. Sang petani melecutkan cemetinya lagi dan berteriak lebih keras:
“Yaaa, Jake. Tarik, Jake, tarik!”
Keledai itu masih tak bergerak. Sekali lagi, petani mengibaskan cemeti dan berteriak:
“Yaaa, Pete! Tarik, Pete, tarik!”
Gus masih belum bergerak. Dan kemudian petani itu melecutkan cemetinya dan berteriak lagi:
“Yaaa, Gus! Tarik, Gus, tarik!”
Sejenak kemudian, Gus menghentakkan salah satu kaki belakangnya, lalu bergerak ke depan dengan sekuat tenaga, menarik mobil itu keluar dari selokan. Hasilnya, beberapa saat kemudian, mobil itu sudah berada di jalan raya lagi. Pengendara mobil gembira, mengucap terima kasih, tapi tak habis pikir mengapa petani itu menyebut beberapa nama sebelum memerintahkan keledainya bergerak.

Ia bertanya, “Mengapa Anda memanggil semua nama tadi, wahai Petani?”
“Gus ini buta”, kata petani itu, “dan jika dia merasa harus sendirian menarik mobil Anda, dia tidak akan berusaha melakukannya. Tapi bila dia fikir ada yang membantunyya, dia lebih kuat daripada yang dia sadari.”

Sepertinya setiap orang punya naluri “keledai buta” dalam dirinya. Tinggal bagaimana seseorang bisa memanfaatkannya itu sehingga dapat digerakkan untuk mencapai tujuan.
Dalam “Imagine”, John Lenon mengatakan: “You may say that I’m a dreamer, But I’m not the only one”. Dia mengatakan itu ketika ingin meyakinkan setiap orang yang menginginkan kedamaian bahwa ia tidak sendirian.

Klub penggemar “The Reds” (Liverpool) punya slogan yang terkenal: “You’ll Never Walk Alone”. Bahkan slogan itu terpampang jelas di pintu gerbang markas Liverpool untuk menyemangati semua pemain dan official, dan tentunya semua fans, sekaligus juga sebagai strategi untuk menarik fans-fans baru.

Jadi, “bersama kita bisa” ini memang terbukti mujarab sebagai pendongkrak semangat, moral booster.
Tapi....kalau ditanya bisa apa? Jawabnya tergantung “si petani” nya. Mau dipakai untuk menolong mengeluarkan mobil yang terperosok, atau malah memerosokkan si Gus, keledai yang buta tadi. Tapi kita kan bukan keledai buta toh? Hehehe..

Sunday, June 14, 2009

Lanjutkan?!

Zona kenyamanan atau comfort zone adalah kondisi dimana seseorang merasa aman pada sebuah setting kondisi tertentu. Seseorang yang merasa berada dalam zona kenyamanan ini pada umumnya cenderung enggan untuk melakukan perubahan. Terdapat berbagai sebab dan alasan mengapa kelompok tersebut enggan melakukan perubahan, misalnya karena takut akan risiko kegagalan, takut posisinya akan terusik kalau terjadi perubahan, dan ketakutan-ketakutan lain yang menyebabkannya enggan untuk berubah.

Tapi sebenarnya perlu nggak sih kita berubah?


Allah SWT telah mengatakan dalam al-Quran suci bahwa Dia tidak akan mengubah nasib suatu kaum hingga mereka sendiri berusaha untuk mengubahnya. Ada keterkaitan kuat antara usaha untuk berubah dengan hasil yang akan didapat. Berharap hasil yang lebih baik tanpa melakukan perubahan dalam cara kita untuk meraihnya adalah sebuah angan-angan kosong.

C.K. Prahalad, seorang konsultan manajemen kondang, mengatakan “if you don’t change, you die!”. Kaizen, sebuah filosofi terkenal asal Jepang yang juga menuntut untuk senantiasa melakukan perubahan ke arah yang lebih baik (continuous improvement). Rheinald Kasali, juga berteriak “Change! Tak peduli berapa jauh jalan salah yang Anda jalani, putarlah sekarang juga!”.

Tapi tentu saja tidak semua perubahan adalah positif. Perubahan yang positif adalah perubahan ke arah yang lebih baik. Sang junjungan alam, Rasulullah SAW, dalam kaitan ini pernah mengatakan bahwa “Barang siapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin, sesungguhnya dia telah beruntung. Barang siapa yang hari ini sama dengan hari kemarin, maka sesungguhnya ia telah merugi. Dan barang siapa yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin, maka sesungguhnya ia terlaknat/celaka”.

Jadi kesimpulannya, Perubahan itu perlu bahkan harus, tapi harus perubahan yang positif. Tapi di lain pihak, pada umumnya manusia cenderung resisten terhadap apapun yang baru. Oleh karena itu kemudian implementasi perubahan tersebut membutuhkan pengelolaan yang baik, atau yang sering dikenal dengan manajemen perubahan (change management).

Manajemen perubahan (Change Management) adalah sebuah istilah yang mungkin sering kita dengar, tapi sering kurang diperhatikan ketika akan mengimplementasikan suatu hal yang baru pada suatu masyarakat/komunitas/organisasi/dsb. Padahal kesuksesan penerapannya sangat bergantung kepada pemilihan strategi yang tepat dalam manajemen perubahan ini. Apa sih sebenarnya manajemen perubahan itu?

Manajemen perubahan secara definisi adalah sebuah pendekatan terstruktur untuk melakukan perubahan pada individu-individu, komunitas, organisasi ataupun masyarakat sehingga memungkinkan transisi dari kondisi sekarang menuju ke sebuah kondisi tertentu yang diinginkan. Implementasi sebuah konsep/sistem memerlukan strategi manajemen perubahan yang baik dan perencanaan yang baik pula menyangkut semua pihak yang terkait (stakeholders) sedemikian sehingga objektif dari perubahan tersebut dapat tercapai dengan sukses.

Salah satu tahapan penting dalam manajemen perubahan adalah menetapkan strategi dan langkah-langkah yang perlu dilakukan untuk menerapkan perubahan yang ditawarkan sehingga tujuan yang diinginkan dapat tercapai. Ada banyak strategi dalam manajemen perubahan, namun pada dasarnya merupakan kombinasi dari alternatif strategi berikut ini:
Pertama, pendekatan Empirical-Rational
Strategi ini akan tepat jika diasumsikan bahwa pihak-pihak yang terkait adalah orang-orang yang rasional dan akan mengikuti apa yang menurutnya paling baik.

Kedua, Normative-Reeducative
Strategi ini tepat jika diasumsikan bahwa pihak-pihak yang terkait adalah orang-orang yang sosial dan patuh terhadap norma-norma dan nilai-nilai kultural.

Ketiga, Power-Coercive
Strategi ini tepat jika diasumsikan bahwa pihak-pihak yang terkait termasuk orang-orang yang penurut dan secara umum mau melakukan apa yang diperintahkan atau dapat ”dipaksa” untuk melakukannya.

Keempat, Environmental-Adaptive
Strategi ini tepat jika diasumsikan bahwa pihak-pihak yang terkait telah merasakan kerugian dan keburukan konsep/sistem lama tapi lingkungan dimana mereka berada sudah susah diperbaiki. Mereka telah siap untuk beradaptasi dengan sistem yang baru.

Pertimbangan pemilihan strategi tersebut di atas bisa terdiri atas banyak hal, diantaranya besar kecilnya perubahan, tingkat resistensi, populasi, kerangka waktu, kualitas personal, dll. Tapi yang pasti, setiap strategi perubahan yang baik tidak pernah tunggal. Dia selalu merupakan kombinasi antara alternatif strategi-strategi yang ada.

Seorang manajer Teknologi Informasi di sebuah perusahaan besar di Indonesia pernah bercerita kepada saya, “Perusahaan ini aneh! Masak iya, ada seorang direktur merasa tersinggung karena saya mengirim laporannya via e-mail?!”. Ini adalah salah satu contoh riak kecil ketika perubahan sistem dan mekanisme tidak diikuti dengan manajemen perubahan yang baik. Lebih ironis lagi dalam kasus ini sang pemimpin sendiri yang tidak ingin berubah. Dia masih betah di comfort zone nya.

Adalah tugas seorang pemimpin untuk memimpin umat, masyarakat, atau komunitas yang dipimpinnya senantiasa untuk mau segera berubah ke arah yang lebih baik. Adalah tugasnya untuk senantiasa mendorong komunitas yang dipimpinnya untuk bersemangat melakukan perubahan ke arah yang lebih baik. Adalah tidak baik jika seorang pemimpin justru menakut-nakuti komunitas yang dipimpinnya terhadap perubahan hanya karena keinginannya untuk tetap lanjutkan posisinya sebagai pemimpin.

Perubahan ke arah yang memiliki potensi lebih baik, perlu didorong oleh semua pihak, terutama oleh para pemimpin. Bagi komunitas yang dipimpin hal ini juga dapat dijadikan kriteria untuk mengevaluasi pemimpinnya. Evaluasi terus bagaimana sikap pemimpin atau calon pemimpin terhadap perubahan ke arah yang lebih baik.

Jadi, selamat Lanjutkan (evaluasinya)!! Lebih cepat, lebih baik.

Saturday, April 25, 2009

Kontrol Masyarakat

Ketika kita berada di jalan raya, kita akan banyak menemukan rambu2 yang mengatur para pengguna jalan. Ada rambu2 yang bersifat spesifik seperti dilarang berhenti (S coret), dilarang parkir (P coret), dilarang masuk (forbidden), jalan searah, dan masih banyak lagi. Di luar rambu2 yg banyak itu, ada juga peraturan yang sifatnya umum sehingga tidak ada rambu2nya secara spesifik. Misalnya di Indonesia (pada jalan dua arah) seluruh kendaraan diharuskan berjalan di sisi sebelah kiri.


Walaupun sudah ada rambu2 tersebut baik yang bersifat spesifik maupun umum, namun dalam praktiknya seringkali pengguna jalan menaatinya ketika ada polisi yang berjaga disana. Kalau tidak ada polisi yang jaga, ya seolah-olah lenyaplah peraturan dan rambu2 itu bagi semua. “Tanya kenapa…tanya kenapa”, kata sebuah iklan rokok yang memotret hal ini sebagai kontennya.

Idealnya seluruh pengguna jalan mesti saling memperhatikan satu dengan lainnya. Ketika mereka melihat seorang pengguna melakukan pelanggaran, misalnya berjalan melawan arus, seharusnya pengguna jalan lain akan memperingatkan dengan membunyikan klakson atau menyalakan lampu.

Kalau seorang polisi mengetahui kejadian itu, mestinya ia akan langsung menindak sang pelaku pelanggaran dan menjatuhkan denda/tilang kepadanya. Namun, jika si polisi itu tidak mengetahui kejadiannya, mestinya masyarakat akan memberikan kesaksian kepadanya. Dengan kondisi yang ideal semacam itu, tentu akan sangat sedikit sekali pengemudi yang berniat melakukan pelanggaran.

Dalam pengelolaan sebuah organisasi/perusahaan, kita mengenal istilah tata kelola (governance) dan pengendalian internal (internal control). Adanya berbagai kasus pelanggaran dan penyalahgunaan aturan dan wewenang (seperti kasus Enron, dsb) membuat orang memikirkan bagaimana mekanisme tata kelola dan pengendalian internal dapat dibuat sedemikian rupa untuk mempersempit ruang gerak pelanggaran dan penyalahgunaan. Berbagai standard dan aturan pun dibuat dalam rangka untuk mewujudkan itu, baik yang bersifat umum maupun khusus (sektor tertentu, internasional maupun lokal. Misalnya ada COSO dan Sarbanes-Oxley Act yang bersifat cukup umum dan diadopsi cukup luas secara internasional. Ada juga Basel II yang khusus mengatur manajemen risiko di sektor perbankan, ada juga Peraturan Bank Indonesia (PBI) yang juga perbankan tapi khusus untuk lingkup Indonesia saja. Dan sebagainya, dan sebagainya.

Namun demikian, kita juga melihat ternyata peraturan dan standard pengendalian dan tata kelola (governance) yang bermacam-macam tersebut diatas tidak juga menjamin tidak adanya pelanggaran. Belum lama kita menyaksikan bagaimana ”hebatnya” seorang Cassano yang kepala agen asuransi AIG di Inggris itu mengakali aturan BASEL II dan berhasil membuat seluruh dunia merasakan akibatnya dengan tenggelam di lautan krisis finansial global. Dia berhasil membujuk perbankan eropa yang punya kondisi likuiditas finansial sangat baik untuk mentransfer uangnya ke perbankan amerika yang sedang kesulitan likuiditas akibat krisis subprime mortgage. Aturan manajemen risiko perbankan BASEL II yang melarang keras hal tersebut dia akal2i dengan memberikan penawaran penjaminan asuransi dengan keuntungan yang sangat menggiurkan. Alhasil semua pihak yang terkait pun sama-sama bersepakat untuk mengakali peraturan yang dibuat untuk kepentingan bersama itu demi keuntungan yang menggiurkan tersebut. Akibatnya risiko yang sebenarnya sudah dapat diprediksi itu pun terjadi, dan hampir seluruh dunia merasakan akibatnya. Terutama bagi negara-negara yang berbasis pada ekonomi kapitalisme.

Saya tidak sedang ingin membahas mengenai peraturan dan rambu2 lalu lintas atapun ekonomi kapitalisme. Yang saya ingin highlight dalam 2 kasus tersebut di atas adalah mengenai pentingnya kontrol masyarakat/komunal dimanapun dan kapanpun berada. Ketika kita menginginkan agar seluruh masyarakat (secara umum ataupun dalam sebuah komunitas/organisasi tertentu) dalam berbagai masalah bisa tertib, tidak ada pelanggaran dan keluar dari garis-garis keadilan, maka itu hanya mungkin terwujud apabila secara bersama-sama semua pihak ikut mendukungnya.

Peraturan dan standard jelas memang diperlukan, tapi tanpa itikad baik dan komitmen dari semua pihak untuk bersama-sama berjalan di jalur yang benar serta saling mengingatkan satu dengan lainnya apabila ada yang mencoba melakukan pelanggaran, maka PASTI setiap peraturan atau standard sebaik apapun akan ditemukan celah-celahnya untuk dilanggar. Dalam istilah agama sikap seperti ini sering disebut dengan istilah amar ma’ruf nahi munkar.

Setiap individu tidak boleh menganggap remeh setiap bentuk pelanggaran dan perlu segera bereaksi menentangnya, ketika pelanggaran terjadi. Dengan cara inilah, masyarakat akan mempersempit ruang gerak pihak-pihak yang berniat melakukan pelanggaran dan memperlakukannya secara layak.

Mudah-mudahan suatu hari kelak, kita akan menyaksikan masyarakat Islam yang menjadi pelopor terhadap pembentukan masyarakat yang ideal itu di seluruh penjuru dunia.

Mudah-mudahan kita akan melihat suatu masa dimana seorang dokter, yang ketika dirinya tidak mengetahui cara pengobatan penyakit yang diderita oleh seorang pasiennya, secara jujur ia mengatakan, ”Saya tidak mengetahui cara pengobatan penyakit Anda.” Dan dengan penuh keikhlasan hati, ia juga akan mengembalikan biaya pengobatan yang telah diberikan, dan dengan diiringi rasa persaudaraan, menunjukkan seorang dokter spesialis di bidang pengobatan penyakit dimaksud. Disamping dokternya sendiri, peran masyarakat juga sangat penting untuk melakukan kontrol dalam hal ini. Misalnya dari organisasi komunitas profesi dokter sendiri, para pasien, media massa, dsb.

Mudah-mudahan kita juga akan melihat suatu masa dimana setiap orang hanya mau memilih orang-orang yang memang memiliki sifat dan kapasitas yang paling baik untuk menduduki jabatan-jabatan tertentu. Suatu masa dimana setiap orang tahu hak-hak dan kewajibannya. Pada saat itulah, kita akan menyaksikan keadilan sosial benar-benar terwujud di tengah-tengah masyarakat. Semoga.

Friday, April 10, 2009

Yang Patah Sayapnya

Suatu ketika 2 orang tokoh tasawwuf yaitu Ibrahim ibn Adham dan Syaqiq al-Balkhi bertemu. Syaqiq ini adalah mantan saudagar besar sebelum meninggalkan dagangannya untuk menjadi seorang sufi.
Suatu saat dalam sebuah pertemuan antara keduanya, Ibrahim bertanya kepada Syaqiq:
“Ya Syaqiq, Apa gerangan yang menyebabkan engkau meninggalkan daganganmu itu dan hidup seperti ini?”.

Lalu Syaqiq pun menjawab…

Dahulu saya memang pedagang besar tapi saya selalu dilanda kecemasan. Saya selalu khawatir dagangan saya akan merugi sehingga keluarga saya menjadi tak terurus dan kelaparan. Sampai suatu saat saya berada dalam sebuah gurun pasir yang gersang, jauh dari manusia, jauh dari kebun-kebun dan dari segalanya. Yang tampak hanyalah hamparan pasir gersang sejauh mata saya memandang.
Pada saat itu aku melihat ada seekor burung yang patah sayapnya sedang menggelepar-gelepar. Waktu itu saya berfikir burung ini pasti akan mati karena tidak bisa mencari makanannya dan tidak bisa apa-apa. Namun, pada saat saya berfikir itu tiba2 ada seekor burung terbang di atasnya dan kemudian menjatuhkan makanan yang ada di paruhnya tepat di depan burung yang patah sayapnya tadi.
Segera saya berfikir, kalau burung yang patah sayapnya saja dijamin rezekinya oleh Allah, masak iya Allah tidak menjamin rezeki untuk saya, kalau saya bertawakkal kepadanya?

Demikian Syaqiq menjawab pertanyaan Ibrahim ibn Adham tadi. Yang paling menarik disini adalah jawaban dari Ibrahim ibn Adham kepada Syaqiq.

Ibrahim ibn Adham kemudian berkata..
Ya Syaqiq, mengapa engkau memilih burung yang patah sayapnya tadi. Kenapa engkau tidak memilih burung yang memberinya makanan tadi. Burung yang bekerja keras mencari nafkah, kemudian mengantarkan kelebihan nafkahnya untuk menolong burung2 yang patah sayapnya.

Tugas kita adalah untuk melanjutkan dan mengikuti risalah Rasulullah SAW, bukan meninggalkan pekerjaan kita dan menghabiskan waktu untuk ibadah sendiri. Tugas kita adalah bekerja keras di tengah2 masyarakat dan mengantarkan sebagian kelebihan yang kita peroleh kepada saudara2 kita yang patah sayapnya.

Saturday, April 4, 2009

Duhai..Ibu dan Ayahku

Dalam karyanya “Risalatul Huquq“ (pandangan Islam tentang HAM), Imam Ali Zainal Abidin as-Sajjad ra menjelaskan hak-hak dari beragam pihak. Ketika sampai pada hak Ibu, beliau as mengatakan:
“Kemudian, hak ibumu adalah hendaknya engkau mengetahui bahwa dialah yang telah mengandungmu, sementara tidak seorang pun akan bersedia mengandung orang lain seperti itu.

Dia memberimu makan dari buah hatinya, sedang tidak seorang pun bersedia memberi makan orang lain seperti itu. Dia menjaga keselamatanmu dengan pendengarannya, penglihatannya, tangannya, kakinya, rambutnya, kulitnya, dan seluruh organ tubuh lainnya. Dia sangat berbahagia melakukannya. Dia senang dan riang, tabah menanggung segala beban yang mengganggunya; rasa sakit, dan kerisauannya hingga saat dia, oleh kekuasaan takdir, dibebaskan dari dirimu yang membebaninya lalu mengeluarkanmu ke alam dunia. Dia tetap rela menjadikanmu kenyang ketika dia sendiri lapar; memberimu pakaian ketika dia telanjang; memberimu minuman ketika dia haus; menaungimu dalam keteduhan ketika dia kepanasan; membahagiakanmu ketika dia menderita serta menidurkanmu ketika ia berjaga.
Perutnya menjadi wadah penyimpanan bagimu, pangkuannya tempat yang aman untuk merangkummu, susuannya disediakannya untuk minumanmu dan dirinya sendiri bagai perisa penjaga keselamatanmu. Dia menahan panas dan dinginnya dunia bagimu demi memeliharamu. Maka, patutlah engkau berterima kasih padanya untuk semua itu. Engkau tak akan mampu menunjukkan rasa terima kasihmu kepadanya, kecuali jika dengan pertolongan Allah dan taufik-Nya.”

Pikiranku jadi melayang ketika aku menyaksikan bagaimana ibuku mengandung adikku dulu. Dimana karenanya urat-urat di kakinya membengkak. Dimana karenanya ia harus merangkak untuk menuju ke kamar mandi. Dimana karenanya mual dan muntah adalah rutinitasnya sehari-hari. Dimana karenanya tidur nyenyak adalah sebuah kemewahan yang jarang ia dapatkan setiap malamnya. Dan banyak lagi kesusahan yang ia tanggung dengan sepenuh ridha selama lebih sembilan bulan untuk kemudian ia mempertaruhkan hidupnya untuk melahirkan buah hatinya ke dunia yang fana ini, untuk ia peluk dan sayangi sepanjang hidupnya. Aku membayangkan seperti itulah kiranya sewaktu ibuku mengandung aku dulu. Ya Allah, curahkanlah rahmat-Mu sebesar2nya untuknya. Karena bagaimana pun aku takkan mampu untuk berterima kasih kepadanya.

Aku ingat betapa aku tidak henti2nya membuatnya berkorban demi kesenanganku. Aku ingat waktu aku baru masuk SMP dulu. Ketika aku pulang sekolah, ibuku bertanya: “Kenapa, Mar? Kok keliatannya sumpek gitu? Gimana tadi di sekolahan?”. Aku cerita bahwa tadi ada pelajaran mengetik, tapi karena aku sama sekali belum pernah megang mesin tik, maka jadinya aku termasuk yang ketinggalan di kelas. Setelah cerita itu, tanpa merasa apapun, kemudian aku beraktifitas yang lain karena memang bagiku tidak terlalu penting. Tapi rupanya tidak demikian halnya dengan ibuku, setelah mendengar ceritaku tadi. Tanpa sepengetahuanku, rupanya ia mencari tahu dimana ia bisa beli mesin ketik dan berapa harganya. Dua hari setelah itu, aku dikejutkan ketika ibuku datang dan turun dari becak yang ditumpanginya dengan membawa sebuah mesin tik baru merk “brother”. Kontan saja aku sangat gembira dengannya. Tapi aku kemudian berfikir ini pasti mahal harganya. Aku pun tanya kepadanya, “Makasih ya, Mah. Ini pasti mahal ya, Mah? Berapa harganya, Mah?..”. Ia pun tidak menjawab pertanyaanku, ia hanya berkata semoga aku senang dan tidak ketinggalan pelajaran ngetik di sekolah. Belakangan aku baru tahu bahwa harga mesin tik itu dulu (sekitar tahun ’87-an) adalah 75 ribu, dan ibuku dapat membelinya setelah menjual sebuah gelang emas miliknya. Ya Allah, Rahmatilah Ibuku dengan seluas-luas rahmat-Mu, ya Rabb. Sangat berat baginya melihat sekecil apapun keresahanku. Mampukah aku merasakan hal yang sama terhadapnya?

Kemudian ingatanku melayang lagi ketika aku akan kuliah di Bandung dulu. Aku ingat betul kondisi ekonomi keluarga waktu itu yang amat berat untuk menanggung biaya2 yang aku perlukan. Aku bersyukur ada beberapa orang dari saudaraku yang bersedia mendukungku dalam sebagian pembiayaan yang kuperlukan. Ibuku bukanlah orang yang mudah untuk meminta bantuan kepada orang lain, walaupun kepada saudara sendiri. Belakangan aku baru tahu kalau ibuku dulu pernah tak mampu mengeluarkan sepatah katapun kepada saudaranya lewat telepon. Hanya isak tangis yang dapat didengar oleh saudaranya dari ujung telpon sebelah sana. Pekerjaan yang sangat berat itu, ia mau lakukan demi aku, anaknya yang tak tahu diri ini.

Aku juga ingat bagaimana jerih payah ayahku dalam mencari nafkah dan memberi pendidikan terbaik buat semua anak2nya. Ia yang sering tak dapat menahan rasa kantuknya untuk tetap menjaga toko kelontong yang menjadi tumpuan penghasilan keluarga semenjak kebangkrutan pabriknya dulu. Ia yang mau beranjak dari kantuknya untuk melayani pembeli permen senilai 100 perak 3 buah. Kemuliaan anak2nya adalah beban yang dengan sepenuh ridha ia tanggung. Kebanggaannya adalah ketika melihat anaknya bangga. Kebahagiaannya adalah ketika melihat anaknya bahagia. Kesedihannya adalah ketika melihat anaknya sedih atau salah jalan.

Duh..sungguh tak kuasa aku melanjutkan tulisanku ini. Tak mampu aku mengingat dan menuliskan semua jasa dan pengorbanan kedua orang tuaku dari aku di kandungannya sampai kini dan nanti.
Karena itu, Ya Ilaahi, Ya Maulaya, Ya Rabbii…
Aku bermohon kepada-Mu, dengan rahmat-Mu yang meliputi segala sesuatu
Ya Allah, demi kemuliaan Nabi-Mu dan keluarganya, muliakan pula kedua orang tua ku, Ya Rabb.
Ya Allah, demi keistimewaan Nabi-Mu dan keluarganya, istimewakan pula kedua orang tuaku, Ya Sayyidi.
Ya Allah, berilah aku petunjuk untuk mengetahui apa yang mesti aku lakukan kepada kedua orang tuaku,
Berilah aku kemampuan untuk mengetahui semua kewajiban itu secara sempurna, Ya Maulaya.
Ya Allah, buatlah aku berbakti kepada keduanya sebagaimana kebajikan seorang ibu yang pengasih,
Jadikan ketaatanku dan kebaktianku kepada kedua orang tuaku sebagai rasa kasih yang lebih menyenangkan hati daripada tidurnya orang2 yang mengantuk;
dan lebih terasa segar di dada daripada segarnya minuman orang2 yang haus;
sehingga aku bisa mendahulukan keinginan mereka daripada keinginanku sendiri,
dan mengutamakan keridhaannya daripada keridhaanku sendiri.

Ya Allah, rendahkanlah suaraku di hadapan mereka,
Hiasilah ucapanku dengan kata manis kepadanya,
Lembutkanlah setiap tingkah dan kelakuanku kepadanya,
Isilah hatiku dengan rasa kasih kepadanya,
Biarlah aku tetap menyertainya dan tetap merindukannya.

Ya Allah, balaslah kebaikan mereka atas pendidikan yang diberikan padaku,
Dan berilah ganjaran penghargaan kepada mereka karena telah memuliakanku,
Serta peliharalah mereka sebagaimana mereka dulu memeliharaku di waktu kecil.

Ya Allah, apa pun yang menimpa mereka, apakah itu berupa kesalahan yang aku perbuat, tingkah laku yang tidak menyenangkan mereka atau kelalaian yang aku perbuat,
Jadikanlah itu semua sebagai penebus dosa2 mereka, pengangkat derajat mereka, penambah kebaikan mereka, Wahai yang Maha Kuasa merubah segala kesalahan menjadi kebaikan yang berlipat ganda.

Ya Allah, apapun kesalahan yang mereka perbuat, aku mengharap Engkau mengampuni kesalahan mereka.
Bagaimana tidak, ya Ilahi. Panjangnya masa mereka mengurusku?
Bagaimana pula beratnya kelelahan mereka dulu dalam menjaga dan memeliharaku?
Bagaimana pula pengorbanan mereka dulu dalam melapangkan hidupku?
Sungguh besar jasa mereka dalam mengurus kepentinganku, aku tak mampu membalas kebaikan mereka hanya dengan melaksanakan semua kewajibanku kepada mereka, dan aku tidak mampu memenuhi semua kewajiban berbakti kepada mereka.

Jadikanlah aku menjadi penutup lubang keperihan yang keduanya rasakan saat ini,
Jadikanlah orang yang saat ini terus melubangi perasaan, pandangan dan pendengarannya untuk segera bersadar, Ya Rabbi, Ya Raja’I wa ya Mu’tamadii.
Untuk segera menyadari apa akibat yang telah ia lakukan bagi kedua orang tuanya.
Dan untuk itu, Ya Rabbi. Tunjukkanlah kepadaku, apa yang dapat aku lakukan untuk membantunya. Agar mereka dapat senantiasa tentram dalam masa tuanya.
Ya Allah, janganlah Engkau membuatku lupa mengingat kedua orang tuaku,
di setiap akhir shalatku,
di setiap saat di malam hariku,
di setiap waktu di siang hariku.

Dan terakhir, Ya Rabb.
Bila ampunan-Mu Engkau dahulukan kepada mereka, maka berikanlah mereka kesempatan memberi syafaat kepadaku,
Dan jika ampunan-Mu Engkau dahulukan kepadaku, maka berilah aku kesempatan untuk memberi syafaat kepada mereka,
Sehingga kami bisa berkumpul dengan kasih sayang-Mu,
di negeri kemuliaan-Mu,
dan di tempat Maghfirah-Mu.

Limpahkanlah sebaik sholawat dan salam kepada junjunganku dan Rasul-Mu beserta keluarganya,
Sesungguhnya Engkau Pemilik karunia yang Agung dan Pemilik keberkahan yang tak pernah henti, Engkaulah Maha Pengasih dari semua yang mengasihi.[undzurilaina]

Sunday, March 22, 2009

Taqdir Menurut Fauzan dan Saya

Fauzan adalah anak sulung saya yang bulan lalu genap berusia 6 tahun. Kemarin sore setelah “perang bantal guling” dengan saya, saya cukup dikejutkan dengan pertanyaannya yang menurut saya cukup berat untuk ukuran anak seusianya.

Dia bertanya: “Bi, kenapa sih kita mesti menyembah Allah?”


Saya menjawab: “Hmm..karena Allah yang menciptakan kita semua. Allah yang kasih kita semua, kita bisa sehat, bisa sekolah, bisa ngomong, bisa makan, bisa minum, bisa nafas, bisa jalan, dan semuanya itu anugerah dan izin Allah. Jadi memang pantas kalau Allah itu kita sembah.”

Fauzan tampak berfikir mendengarkan jawaban saya, tapi dengan segera dia melontarkan pertanyaan susulan yang menurut saya tidak kalah beratnya:

“Berarti kita itu mainannya Allah dong, Bi?”

“Lho, kok?”, tanya saya singkat.

“Ya kan Allah yang bikin fauzan makan, bikin fauzan ngomong sama bikin yang lain2. Terus fauzan kalau ngomong nggak sopan sama Abi, terus nakal berarti juga Allah yang bikin kan? Berarti semua itu mainannya Allah..”, jawab fauzan dengan sangat yakin akan logikanya sendiri.

Saya jawab, “Bukan gitu, sayang…Allah itu Maha Adil..”.

Belum sempat bicara lebih lanjut, fauzan memotong penjelasan saya dengan mencoba meyakinkan saya bahwa logikanya itu yang benar dan lalu mengajak meneruskan perang bantal guling yang sempat tertunda karena 2 pertanyaan berbobot tadi.

Saya pun mengiyakan ajakannya. Saya juga tidak ingin menghentikan proses berfikir fauzan terlalu cepat untuk sampai pada jawaban bagaimana konsep taqdir dan keadilan Ilahi. Untuk sementara biarkan pertanyaan-demi-pertanyaan muncul di benaknya, agar jawaban merupakan hasil dari prosesnya berfikir, bukan sekedar doktrinal.

Setelah itu saya berfikir sepertinya pemahaman seperti fauzan yang 6 tahun itu juga banyak dipegang oleh cukup banyak muslimin dunia sejak zaman dulu sampai sekarang. Pemahaman tersebut juga bahkan punya dasar dalam al-Quran Mulia. Dalam Al-Quran terdapat ayat2 yang mengatakan bahwa segala hal sudah ditentukan oleh Allah SWT, manusia –mau tidak mau—harus menjalani setiap peran dan nasib yang telah ditentukan tersebut. Karena pemahaman keterpaksaan itu maka pahaman ini dikenal dengan paham Jabariyah (berasal dari kata jabr yang berarti terpaksa).

Lawan dari pahaman Jabariyah ini yaitu pahaman yang menyatakan bahwa manusia sepenuhnya bebas untuk memilih, tidak mempercayai adanya taqdir yang membatasi setiap usaha manusia. Pahaman ini juga memiliki dasar dalam al-Quran Suci. Pahaman ini sering dikenal dengan paham Qadariyah.
Kedua pemahaman tersebut kemudian melebur ke dua firqah besar dunia. Jabariyah diadopsi oleh firqah Asy’ariyah, sementara pemahaman ala Qadariyah dianut oleh kelompok Mu’tazilah.

Saya, tidak sepenuhnya sepakat dengan kedua aliran tersebut di atas. Saya sepakat dengan pemahaman ketiga yang dianut oleh beberapa madzhab pemikiran yang tersebar. Pemahaman tersebut menyatakan bahwa manusia memang memiliki kebebasan berkehendak, apa yang terjadi adalah akibat dari serangkaian sebab yang dipilih oleh manusia secara langsung ataupun tidak langsung. Tapi semua itu ada dalam lingkaran batas-batas yang ditentukan-Nya. Manusia itu bukanlah seperti batu yang kalau digelindingkan dari atas bukit pasti akan menggelinding ke bawah karena adanya gravitasi. Manusia bukanlah seperti bulan dan matahari yang telah ditaqdirkan untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang dilakukannya (wa al-qomaru qoddarnaahu manazila hatta urjuuni al-qadim). Manusia itu diberikan hidayah dan kemampuan untuk berkehendak dan memilih jalannya masing2. Semua manusia memilikinya (wa al-ladzi qaddara fa HADAA). Allah memberi aturan2, apabila kamu begini maka akan begitu. Kalau mau selamat, ikuti jalan ini, apabila tidak kamu akan celaka. Jadi kesempurnaan sebab2 dan lantaran2 itu sebenarnya merupakan realisasi dari Taqdir Ilahi.

Usaha/ikhtiyar yang dilakukan oleh manusia tidak perlu dipertentangkan dengan kekuasaan dan kehendak Sang Khaliq, karena tidak ada usaha/ikhtiyar yang dilakukan tanpa persetujuan (izin) Allah. Toh ketika kita berikhtiyar, pada hakekatnya kita hanya berpindah dari taqdir yang satu ke taqdir yang lainnya (yang kesemuanya tidak bertentangan dengan Ilmu-Nya). Ketika misalnya kita berdiri di rel KA dan ada kereta yang mendekat kencang, disana kita punya pilihan. Kalau kita tidak menghindar, maka GUBRAKK!! Taqdirnya meninggal. Tapi kalau kita memilih menghindar, maka taqdirnya hidup. Hal ini tidak terus diartikan ketidak berdayaan ALLAH SWT, karena semuanya itu bersumber dari Iradat, ketentuan dan taqdir Ilahi juga. Sebebas-bebasnya, semua masih dalam kerangka Ilmu dan kehendal-Nya. Kita tidak tahu batasnya, batasnya adalah kemauan dan kemampuan kita dalam berusaha.


Diriwayatkan dulu Imam Ali as pernah bangun dan pindah dari bawah sebuah dinding yang mulai miring. Seseorang yang melihatnya kemudian bertanya kepada beliau: “Wahai Amirul Mukminin, apakah anda lari dari qadha Allah?”
Beliau ra menjawab: “Aku lari dari qadha Allah ke qadha-Nya SWT”. Jadi, ia lari dari sebuah ketentuan ke ketentuan-Nya yang lainnya. Jatuhnya dinding yang telah miring merupakan ketentuan Ilahi, sehingga sewajarnya tembok itu akan menjatuhi kepala seorang manusia pada saat terpenuhinya segala persyaratannya. Akan tetapi apabila manusia itu menghindar darinya, maka ia pun akan selamat dari bencana, dan ini pun merupakan ketentuan Ilahi juga.

Disebutkan juga bahwa suatu hari pernah Khalifah Umar bin Khattab (ra) dalam perjalanannya menuju Syam, sebelum memasuki daerah itu mendengar berita adanya wabah sampar. Ketika bermusyawarah dengan orang2 yang bersamanya, mereka semuanya mencegahnya untuk meneruskan perjalanan, kecuali Abu Ubaidah bin Jarrah yang waktu itu menjabat palima pasukan muslim di Syam. Ia berkata kepada Umar: “Wahai Amirul Mukminin, adakah Anda melarikan diri dari taqdir Allah?” Umar pun menjawab: “Ya, aku lari dari takdir Allah dengan taqdir-Nya dan kepada taqdir-Nya.”


Riwayat2 tersebut jelas menerangkan bagaimana makna taqdir Ilahi itu. Ada taqdir2 yang bersifat definitif (tetap) dan ada yang masih menggantung (tidak definitif). Al-Quran berbicara tentang sistem2 yang tetap ini dan menamakannya dengan Sunnatullah:
“Kamu sekali-kali tiada akan mendapati perubahan pada sunnah Allah.” (QS 33: 62).

Diantara sunnatullah yang definitif itu adalah hanya berubahnya kondisi manusia setelah manusia itu sendiri mengubahnya (lihat QS 13:11).

Contoh sunnatullah yang lain misalnya bahwa orang2 zalim yang akan memilih teman yang zalim juga.
“Dan demikianlah Kami jadikan sebagian orang-orang yang zalim itu menjadi teman bagi sebagian yang lain.” (QS 6:129).

Dan banyak lagi contoh sunnatullah yang dijelaskan oleh Allah SWT dalam al-Quran.

Kesimpulannya suatu realitas itu nasibnya mengikuti penyebabnya.
“Sesungguhnya manusia itu bergantung pada usaha dan kerjanya.” (QS. An-Najm:39).

Sehingga disebabkan karena sesuatu itu berhubungan dengan banyak sebab, maka ia pun memiliki nasib yang berbeda2 pula. Perlu diingat juga bahwa disamping faktor2 yang bersifat materiil seperti “minggir dari rel KA” pada contoh di atas, ada juga faktor penyebab lain yang non-materi seperti doa, sedekah, serta perbuatan baik yang juga akan ikut mempengaruhi nasib seseorang.

Fauzan sayang, sekarang abi lanjutkan perkataan yang kau potong kemarin ya, walaupun mungkin engkau membacanya nanti setelah engkau beranjak matang…

Jadi bukan gitu sayang, Allah itu Maha Adil. Nggak mungkin Dia membuat kita seperti mainan yang dikendalikan-Nya tapi setelah itu kita diadili-Nya karena apa yang kita lakukan. Allah itu sudah kasih tahu mana jalan mana yang baik dan mana yang sesat. Dia SWT juga telah membekali kita dengan petunjuk dan potensi untuk kebaikan dan keburukan. Tinggal kembali ke kita apakah yang kita pupuk potensi baik kita atau potensi buruknya yang kita pelihara. Kata Allah, Sungguh akan sukses orang yang memupuk potensi baiknya, dan akan merugi orang yang mengotorinya (qad aflaha man zakkaaha, wa qad khooba man dassaaha).

Mudah-mudahan kita sukses ya, Zan. Kalau belum sukses, pikirkan mungkin bukan disitu bakatmu, mungkin kurang keras usahamu, mungkin kurang konsistensimu, mugkin kurang doamu, mungkin kurang sedekahmu, dan mungkin2 yang lain, yang pasti bukan salah-Nya. Tugas kita adalah untuk menemukan dan memperbaikinya. Itulah HIDUP, Anakku sayang.[undzurilaina]


Thursday, March 19, 2009

Orang Penting

Teman itu ada DUA, kata motivator yang sedang naik daun dengan “the Golden Ways” nya. Jenis teman yang pertama adalah teman yang memperlakukan dirinya di hadapan temannya sebagai orang penting sehingga mendapatkan pengakuan dari temannya itu bahwa dia itu orang penting. Sedangkan jenis teman yang kedua adalah seseorang yang selalu memperlakukan temannya itu sebagai orang penting.

Teman jenis pertama akan bilang ke para temannya bahwa dia adalah orang penting, sembari secara tersirat/tersurat mengatakan bahwa ia lebih penting dibanding temannya itu. Dia adalah orang yang berpengalaman di sebuah bidang sambil secara tersirat/tersurat mengatakan bahwa temannya itu masih “ingusan” dibanding dia. Dan seterusnya ia menganggap dia lebih penting dari temannya dan berusaha menganggap temannya itu mengakui ke-“penting”-annya.
Sedangkan teman jenis kedua justru sebaliknya, dia berusaha memperlakukan temannya lebih penting dari dirinya. Meletakkan kepentingan temannya di atas kepentingan dirinya. Sehingga seluruh teman-temannya menganggap dia adalah orang penting setelah menemuinya.

Masih di dalam rangka bulan kelahiran Rasulullah SAW, mari kita lihat bagaimana beliau SAW memperlakukan teman-temannya. Rasulullah SAW selalu lebih dahulu mengucapkan salam ketika bertemu dengan sahabat-sahabatnya. The Greatest man ever lived itu SAW selalu memperlakukan secara personal setiap sahabat yang bertemu dengannya, menanyakan bagaimana keadaannya, bagaimana keluarganya, atau hal-hal lain yang berkaitan dengan sahabatnya tersebut sehingga sahabatnya selalu merasa sebagai orang penting. Penghulu para nabi dan rasul SAW itu tak lupa menanyakan sahabatnya ketika pada beberapa saat tidak berjumpa. Beliau SAW yang meminta cincin besi yang sudah pudar milik sahabatnya yang kurang terkenal untuk dikenakannya hingga akhir hayatnya. Dan masih banyak lagi akhlak agung junjungan alam SAW tersebut kepada para sahabat-sahabatnya (bahkan juga terhadap yang memusuhinya).

Mufassir kondang kebanggaan Indonesia, ustadz Quraish Syihab (UQS) memberikan ulasan menarik terhadap ayat: “La qad ja’akum rasuulun min anfusikum….”, yang artinya “telah datang kepadamu seorang rasul dari golonganmu/sejiwa denganmu…”. UQS mengatakan bahwa dalam ayat tersebut dikatakan bahwa Rasulullah yang datang kepada kita, bukan kita yang datang kepada beliau SAW. Itu menyiratkan bagaimana Rasulullah menganggap kita umatnya sebagai orang yang penting sehingga beliau SAW yang menghampiri bukan kita yang menghampiri beliau SAW. Kalau insan seagung Rasulullah SAW saja tidak segan menghampiri kita yang penuh dosa ini, lantas kenapa kita masih segan untuk mendahului menghampiri orang lain. Walaupun orang itu mungkin lebih muda atau lebih rendah jabatannya atau lebih2 lainnya yang membuat kita MERASA lebih dari dia. Demikian kurang lebih UQS mengulas potongan ayat “telah datang kepadamu..” di atas.
Kalau itu dikembalikan ke masing2 kita, teman yang seperti apakah kita ini? Teman yang lebih menginginkan orang lain menganggap kita penting sehingga teman kita merasa kurang penting dibanding kita? Atau sebagai teman yang menginginkan teman kita menjadi merasa penting.

Beberapa hari yang lalu waktu perjalanan ke Jakarta, saya melihat antrian panjang di pintu tol. Antrian itu disebabkan jalan tol yang ditutup sementara karena ada ORANG PENTING yang mau lewat. Benar saja selang beberapa menit, beberapa sedan mewah melintas dikawal polisi dan militer menggunakan mobil dan sepeda motor. Rupanya pak SBY mau lewat, jadi jalanan perlu dikosongkan. Sewaktu perjalanan pulang, sialnya saya bernasib serupa. Pintu masuk tol kota ditutup dengan penjagaan polisi, lalu lintas di arahkan ke jalan lain. selang beberapa menit ada deretan ORANG PENTING yang lewat. Kali ini mungkin sekelas menteri, anggota DPR atau pejabat sekelas lainnya karena saya lihat nomor platnya yang berangka cukup besar.

Mungkin pejabat atau orang yang ada disekelilingnya melakukan itu agar semua orang menghargai dia sebagai ORANG PENTING. Tapi justru buat saya, mereka itu bukan orang penting. Orang penting buat saya adalah orang yang menganggap urusan orang lain itu penting. Bukan orang yang mementingkan kepentingan dia di atas yang lain, apalagi dengan mengorbankan kepentingan orang banyak. Duh..Nggak penting banget! Sungguh KASIHAN!! [undzurilaina]

Saturday, February 7, 2009

Te’no… We’ono

Karena sesuatu hal saya jadi teringat sebuah prinsip atau motto dari seorang pengusaha sukses di kota kelahiran saya. Ingatan saya melayang jauh ke sekitar 10 tahun yang lalu, ketika saya sempat ngobrol berdua dengan beliau di rumahnya. Seingat saya waktu itu saya baru lulus kuliah dan baru mulai bekerja. Setelah ngobrol santai kesana-kemari tentang beragam topik yang saya tidak ingat, beliau menjelaskan sebuah prinsip bisnis yang selama ini dipegangnya.
Prinsipnya sangat sederhana, “Te’no, We’ono” , sebuah ungkapan bahasa Jawa yang kurang lebih artinya “Aku habiskan, Berilah lagi”.

Apa maksudnya prinsip itu?
Dia kemudian mulai bercerita riwayat kerjanya. Beragam profesi pernah digelutinya, dari mulai pelayan di warung Bakso, jualan makanan, pegawai kasar di beberapa pabrik, sampai dengan akhirnya sukses seperti sekarang. Prinsip “Te’no, We’ono” itu yang selalu dia pegang, katanya. Setiap dia mendapatkan hasil dari pekerjaannya, pertama-tama dia menghadap ke ibunya untuk bertanya apa yang ibunya inginkan. Setelah itu hasil lainnya dia banyak sedekahkan ke orang yang membutuhkan (tentunya setelah memenuhi kebutuhan pribadinya). Dia punya keyakinan apa yang dia berikan atau sedekahkan ke orang yang membutuhkan itu tidak akan hilang, dan pasti Gusti Allah akan membalasnya berlipat ganda. Jadi demikianlah setiap dia mendapatkan rezeki, dia banyak sedekahkan. Dan dalam perjalanannya keyakinan akan prinsipnya itu semakin lama semakin kuat, karena selalu terbukti. Setiap dia mengeluarkan sedekah, kembalinya berlipat ganda. Dia keluarkan lagi sedekahnya berlipat. “Sedekah tidak membuat miskin, justru sebaliknya ini adalah rahasia kesuksesan saya, selain sabar dalam usaha. Karena jangan berharap kesuksesan itu sesuatu yang instant, dia harus diraih dengan kerja keras yang terus menerus”, lanjut beliau menjelaskan prinsipnya tersebut.

Al-Quran mulia berbicara: “Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertaqwa, dan membenarkan adanya kebaikan (pahala di akhirat), maka Kami akan lancarkan jalannya menuju kemudahan. Sedangkan yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan kebaikan, maka kamia akan menyiapkan baginya jalan yang sulit.” (QS. Al-Lail: 5-10).

Ayat al-Quran tersebut diatas setidaknya menyatakan bahwa memberi (sedekah) merupakan wujud dari ketaqwaan dan keimanan kepada ganjaran dan hukuman di akhirat. Sebaliknya, kekikiran merupakan indikasi kekafiran kepada Tuhan dan pendustaan serta ketidakpercayaan kepada kehidupan akhirat. Bahkan di tempat yang lain, al-Quran jelas menyandingkan orang yang tidak mau memberi sebagai para pendusta agama.

”Tahukah kamu orang-orang yang mendustakan Agama? Mereka adalah orang yang mengusir anak yatim, serta tidak berusaha keras untuk memberi makan orang miskin”. (Qs. Al-Ma’un: 1-3).

Kemudian hal kedua yang bisa diambil adalah bahwa memberikan sebagian dari yang kita miliki itu merupakan sarana dalam mengatasi kesulitan-kesulitan kita, bukan sebaliknya seperti yang dibayangkan kebanyakan orang. Justru sebaliknya kalau kita kikir akan menyebabkan kita terlempar menuju kepada kesulitan-kesulitan.

Ada sebuah kisah lagi yang ingin saya sampaikan disini untuk membuktikan bagaimana memberi (sedekah) itu dapat mengubah takdir seseorang menuju kebaikan.

Suatu kali, ketika Rasulullah SAW sedang bersama para sahabatnya, seorang laki-laki Yahudi lewat. Tiba-tiba Rasulullah berkata : “Orang ini akan mati tak lama lagi.” Namun, sore harinya, orang yang sama lewat lagi di hadapan mereka dalam keadaan segar-bugar, sambil memanggul seonggok kayu. Sahabat pun terheran-heran : “Bagaimana mungkin orang yang sudah diramalkan mati oleh Rasul-Nya, masih bertahan hidup?” Belum habis keheranan mereka, Rasul SAW pun memanggil laki-laki itu. Kemudian beliau meminta agar onggokan kayu yang di bawanya diturunkan dan dibongkar. Dalam keterkejutan semua orang, dari dalam onggokan kayu tersebut merayap keluar seekor ular beracun. Lalu Rasul pun menyatakan :”Seharusnya engkau telah mati dipatuk ular beracun ini? Perbuatan baik apa yang telah kamu lakukan?” Maka laki-laki Yahudi itupun bercerita bahwa di tengah perjalanan ia bertemu dengan seorang miskin dan memberikan sedekah kepadanya.

Riwayat tersebut diatas menunjukkan bahwa perbuatan baik (dalam hal ini sedekah) dapat mempengaruhi nasib seseorang, siapapun dia dan apapun agamanya.

Ternyata prinsip sukses sederhana “Te’no, We’ono” ternyata memiliki basis yang sangat kuat berdasarkan nash-nash di atas. Kembali ke cerita pengusaha di awal tadi, beliau cerita juga bahwa waktu dia pergi haji dulu, selain dzikir wajib dan sunnah, beliau seringkali ber-"dzikir" dengan prinsipnya itu. “Te’no, We’ono…Te’no, We’ono…Te’no, We’ono… Bimillahi Allahu Akbar… Te’no, We’ono…”. [undzurilaina]

Wednesday, February 4, 2009

Semar Loyo Dibalang Sendal

Selain lembaga pemerintahan, kebiasaan singkat menyingkat juga berlaku untuk tag line suatu daerah.

Solo Berseri, Jogja Berhati Nyaman, Temanggung Bersenyum, Cilacap Bercahaya, semuanya adalah singkatan. Juga untuk menyebut suatu kawasan, yang katanya akan menjadi suatu kawasan yang unggul dan berkembang.


Bermula dari Jabotabek, eh sekarang Jabodetabek. Muncul pula Gerbangkertosusila (Gresik, Bangkalan, Mojokerto, Surabaya , Sidoarjo, Lamongan), Barlingmascakeb (Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas, Cilacap, Kebumen), Pawonsari Bakulrejo (Pacitan Wonogiri Wonosari, Bantul, Kulon Progo, Purworejo), atau Joglosemar (Jogja Solo Semarang).

Beruntung tidak ada yang membalik urutannya menjadi Semarang Solo Yogya, disingkat menjadi Semar Loyo.

Mungkin di masa mendatang akan muncul juga Dibalang Sendal (Purwodadi, Batang, Pemalang, Semarang , Kendal), atau Kasur Bosok (Karanganyar, Sukoharjo, Boyolali, Solo, Klaten). Asal jangan Susu Mbokde (Surakarta , Sukoharjo, Mboyolali, Kartasura, Delanggu) atau Tanteku Montok (Panjatan, Tegalan, Kulwaru, Temon, Toyan, Kokap) yaitu satu daerah di Kulon Progo Yogyakarta yang rencananya mau dibikin Bandara Intl. dan Armada Laut di sekitar pantai Glagah Indah...

Anak-anak muda Jogja tidak kalah kreatifnya untuk ikut-ikutan menyingkat nama tempat.
Sebut saja Amplas untuk Ambarukmo Plaza , atau Jakal (Jalan Kaliurang), Jamal (Jalan Magelang). Kalau sampeyan sekolah di SMA 6, bisa nyombong kalau sampeyan sekolah di Depazter alias Depan Pasar Terban.

Bahkan, dari pusat kota Jogja, sangat mudah untuk mencapai Paris(Parangtritis), atau Pakistan (Pasar Kidul Stasiun alias Sarkem), bahkan Banglades (Bangjo Lapangan Denggung Sleman).

Sampeyan seorang yang enthengan, ringan tangan, suka membantu, ndak pernah menolak untuk dimintai tolong?
Berarti sampeyan layak menyandang nama Willem Ortano, alias Dijawil Gelem Ora Tau Nolak.

Atau kalau sampeyan pinter omong, jualan obat, meyakinkan orang dengan omongan sampeyan yang nggak karuan bener salahnya, maka jangan marah kalau sampeyan dipanggil
sebagai Toni Boster, alias Waton Muni Ndobose Banter.[sumber: SteWa]