Saturday, October 31, 2009

The Delay Country

Siang itu, saya menunggu di ruang tunggu airport balikpapan ketika mendengar pengumuman bahwa pesawat yang saya akan saya tumpangi mengalami keterlambatan (DELAY) cukup signifikan (sekitar 2 jam, seingat saya). Para calon penumpang pun jelas kecewa mendengar informasi tersebut. Maskapai plat merah yang punya cita-cita menjadi maskapai kelas dunia dengan keramahan khas Indonesia ini kemudian berusaha menghibur calon penumpangnya dengan memberi sekotak snack. Alasan keterlambatan katanya karena masalah teknis. Hmmmm....keramahan khas Indonesia?

Kemarin kebetulan saya menggunakan maskapai yang sama untuk tujuan yang lain. Kali ini saya diburu waktu untuk mengejar penguburan jenazah nenek yang meninggal di Solo. Saya ketiban sial lagi mendengar pengumuman DELAY pesawat, tapi kali ini tidak ada sekotak snack yang datang sebagai “penghibur” yang tidak berarti. Alasan keterlambatannya katanya karena pesawat yang terlambat datang dari Palembang. Hmmm...khas Indonesia?

Di perjalanan saya baca koran yang disediakan. Lembar demi lembar berita yang ada dalam koran itu sepertinya kok hampir tidak ada berita yang positif. Headline koran tentunya masih seputar berita penahanan pimpinan KPK non-aktif yang kontroversial itu. Sementara, entah kenapa, penahanan sang koruptor sendiri malah di-DELAY.
Saya teringat juga bahwa pada hampir setiap ada bencana, bantuan terhadap korban selalu ter-DELAY dengan alasan yang begitu beragam.

Saya juga teringat banyaknya program pemerintah yang DELAY karena alasan-alasan yang luar biasa kreatifnya. Hebatnya lagi, bukannya minta maaf dan mengakui kesalahan atau setidaknya memberikan “snack penghibur”, mereka seperti tidak merasa melakukan kesalahan apapun dan melontarkan sejuta pernyataan2 apologis, bahkan tak jarang memutar-balikkan esensinya.

Wah, sepertinya saya saat ini sedang berada di negeri yang penuh dengan DELAY. Oh ya, waktu saya berjalan untuk masuk ke pesawat yang DELAY tadi, saya melihat di badan pesawatnya tertulis “Visit Indonesia Year 2009”. Celetukan spontan saya waktu itu adalah “mudah2an program itu juga nggak ikut ter-DELAY”. Belakangan saya baru tahu bahwa ternyata program ini awalnya adalah program tahun 2008 (lihat gambar). Hmmm...Yes, I am in the DELAY Country.

Thursday, September 17, 2009

Muwaddaa’Ya Syahru Ramadhan

… Ya Allah, Engkau jadikan bulan Ramadhan bulan yang istimewa, yang Engkau muliakan Dia dari semua bulan. Engkau pilih ia dari semua zaman dan masa. Engkau lebihkan ia dari semua waktu (lainnya) dalam setahun, dengan al-Qur’an dan cahaya yang Engkau turunkan di dalamnya, dengan keimanan yang Engkau tingkatkan di dalamnya, dengan puasa yang Engkau wajibkan di dalamnya. Dengan bangun malam yang engkau gemarkan di dalamnya,
dengan malam Qadar -- yang lebih dari seribu bulan -- yang Engkau agungkan di dalamnya. … Maka kami berpuasa atas perintah-Mu pada waktu siangnya, kami bangun dengan bantuan-Mu pada malam harinya, mempersembahkan diri kami dengan puasa dan shalat-malamnya ….

Melalui itu, kami memperoleh pahala-Mu. Kau kaya dengan apa pun yang diinginkan dari-Mu. Kau pemurah dengan apa yang diminta dari karunia-Mu. Kau dekat dengan orang yang berusaha mendekati-Mu.

Tiba-tiba bulan ini meninggalkan kami pada akhir waktunya, pada batas jangkanya, pada akhir lintasannya. Kami ingin mengucapkan selamat tinggal padanya. … (dia) yang menyedihkan kami perpisahan dengannya, merisaukan dan mendukakan kami kepergiaannya.

Kami sampaikan salam bagimu wahai bulan Allah yang agung, wahai hari raya para kekasih-Nya. Salam bagimu wahai waktu termulia yang menyertai kami. Wahai bulan terbaik di antara semua hari dan saat. Salam bagimu bulan yang di dalamnya harapan didekatkan, amal disebarkan. Salam bagimu sahabat yang paling bernilai ketika dijumpai, dan paling menyedihkan ketika ditinggalkan. Kawan yang ditunggu, yang menyedihkan perpisahan dengannya. … Salam bagimu wahai jiran, yang bersamanya hati melembut dan dosa berkurang. Salam bagimu penolong yang membantu kami menghadapi setan, dan memudahkan bagi kami jalan-jalan kebaikan.

Salam bagimu, betapa banyak orang yang terbebas (dari dosa-dosa) di dalammu. Betapa bahagianya orang yang menjaga kesucianmu … Salam bagimu, betapa banyak dosa yang kamu hapuskan. Betapa banyak aib yang kamu tutupi. Salam bagimu, betapa panjangnya hari-harimu bagi pendosa, betapa agungnya kamu bagi orang yang beriman. Salam bagimu bulan yang tak tertandingi oleh hari-hari mana pun. Salam bagimu bulan yang di dalamnya sejahtera segalanya. Salam bagimu duhai yang pershabatannya tidak dibenci. Duhai yang pergaulan dengannya tidak tercela. (Kami panjatkan) salam (kesjahteraan) bagimu sebagaimana kau datang kepada kami membawa berkah. Dan kau bersihkan kami dari noda-noda cela.

Salam bagimu wahai yang tidak ditinggalkan karena (kami) kesal (padamu), tidak pula puasamu ditinggalkan (karena kami bosan).

Salam bagimu duhai yang dicari sebelum waktunya, yang ditangisi sebelum kepergiannya. Salam bagimu, betapa banyak kejelekan yang dipalingkan karenamu. Betapa banyaknya kebaikan dilimpahkan kepada kami karenamu. Salam bagimu dan bagi malam Qadar yang lebih baik dari malam seribu bulan. Salam bagimu, betapa senangnya kami kepadamu kemarin, betapa rindunya kami kepadamu besok. Salam bagimu dan bagi keutamaannya yang sekarang ditepiskan dari kami, dan bagi keberkahan yang sekarang ditanggalkan dari kami. …

Ya Allah, bagimu segala pujian, di tengah pengakuan akan keburukan (kami). Dan kesadaran akan kelalaian (kami). Bagimu, dari lubuk hati kami yang paling dalam, dari lidah kami, permohonan maaf yang paling tulus. Berilah kami, dengan segala kekurangan yang menimpa kami di bulan ini, pahala yang menyampaikan kami kepada kemuliaan yang diharapkan, dan berbagai macam kebahagiaan yang dirindukan. Pastikan bagi kami ampunan-Mu, dalam kekurangan kami dalam memenuhi hak-Mu di bulan ini. Sampaikan dengan sisa umur kami, kepada bulan Ramadhan yang akan datang.

Taqabbal, Yaa Kariim …

(Cuplikan Do’a Imam ‘Ali Zainal ‘Abidin)

Sunday, September 6, 2009

Makan Bersama Nabi

Setibanya Nabi dan sahabat2nya di suatu tempat dan turun dari kendaraannya, mereka berencana untuk menyembelih seekor kambing dan membuat sate untuk dimakan bersama.
Seorang sahabat berteriak: "Aku yang akan menyembelih kambing itu."

Sahabat yang lain menjawab: "Aku yang akan mengulitinya."

Sahabat yang lain lagi berkata: "Aku akan memasaknya."

Rasulullah SAW menyahut: "Aku akan mencarikan kayu2 kecil di padang pasir."

Semua sahabat segera berkata: "Ya Nabi Allah! Biarlah anda duduk. Kami akan melakukan semua pekerjaan ini dengan senang hati.”

Kemudian Nabi SAW berkata:“Aku tahu kalian akan melakukan semuanya. Tapi Allah tidak suka melihat orang yang melihat dirinya berbeda dengan orang lain, sedangkan ia berada di tengah2 mereka.”

Nabi pun pergi ke padang pasir dan memunguti kayu-kayu kecil yang kering sesuai dengan kebutuhan.

Allahhumma Sholli alaa Muhammad wa aali Muhammad.[undzurilaina]

Doaku terjawab sudah..

Ketika kumohon kepada Allah kekuatan, Allah memberiku kesulitan agar aku menjadi kuat.

Ketika kumohon kepada Allah kebijaksanaan, Allah memberiku masalah agar dapat kupecahkan.

Ketika kumohon kepada Allah kesejahteraan, Allah memberiku akal untuk berfikir.

Ketika kumohon kepada Allah keberanian, Allah memberiku kondisi bahaya untuk dapat kuatasi.

Ketika kumohon kepada Allah cinta, Allah memberiku orang2 bermasalah untuk kutolong.

Ketika kumohon kepada Allah bantuan, Allah memberiku kesempatan.

Aku tak pernah menerima apa yang kuminta, melainkan aku menerima segala yang kubutuhkan.

Doaku terjawab sudah.
(Imam Ali bin Abi Thalib, salamullah alaihi)

Sunday, July 19, 2009

Bijaknya Orang Jawa

Dikisahkan suatu hari seorang Madura akan melakukan perjalanan dengan pesawat terbang. Ketika panggilan boarding telah tiba, dia pun masuk ke pesawat dan kemudian memilih tempat duduk yang dia sukai.
Tak lama berselang ada seorang penumpang lain
yang masuk pesawat dan bermaksud untuk duduk di kursi yang sedang diduduki oleh sang Madura tadi. Setelah memeriksa kembali tiketnya dan yakin bahwa dia tak salah kursi, maka penumpang itu pun bertanya kepada penumpang Madura tadi..

Penumpang: “Maaf, Pak. Kursi bapak nomor berapa? Yang Bapak sedang duduki itu nomor kursi saya..”
Madura: “Loh, Sampeyan sapa?!”
Penumpang: “Saya juga penumpang seperti Bapak..”
Madura: “Eloh, sama2 penumpang kok mau ngatur2! Saya nggak mau pindah!”

Merasa kesal, penumpang tadi mengadukan permasalahannya kepada salah seorang pramugari. Pramugari tersebut kemudian menghampiri penumpang Madura tsb..

Pramugari: “Maaf, Pak. Bisa saya lihat tiketnya?”
Madura: “Ini ni, tiket saya!”
Pramugari: “Maaf ya, Pak. Tempat duduk Bapak di sebelah sana, bukan di sini..”
Madura: “Loh, Sampeyan ini sapa?!”
Pramugari: “Saya pramugari di sini, Pak..”
Madura: “Pramugari itu apa?!”
Pramugari: “Pramugari itu yang melayani para penumpang pesawat..”
Madura: “Lha wong cuman pelayan aja kok mau ngatur2 saya! Saya ndak mau pindah!”

Pramugari yang pusing kemudian melapor kepada pilot karena merasa tak mampu meng-handle penumpang unik itu. Pilot pun kini langsung turun tangan...

Pilot: “Maaf ya, Pak. Bapak salah tempat duduk. Mestinya Bapak duduknya sebelah sana..”
Madura: “Sapa lagi sampeyan ini??!”
Pilot: “Saya pilot pesawat ini, Pak”.
Madura: “Pilot itu apa?!”
Pilot: “Yah, sederhananya yang ngemudikan pesawat..”
Madura: “Lah ini lagi, Sopir kok mau ngatur saya! Pokoknya saya mau duduk disini!!”

Penumpang, pramugari dan pilot pun dibuat bengong dengan sikap penumpang yang satu ini. Speechless, nggak tahu mau ngapain lagi.
Tapi dalam bengong tersebut, ada seorang penumpang dengan blangkon khas Jawa nya yang kebetulan dekat situ dan dari tadi menyaksikan kegagalan usaha ketiga orang sebelumnya untuk meminta penumpang madura tadi pindah dari kursinya. Penumpang Jawa itu kemudian beranjak dari kursinya mendekati penumpang madura tadi..

Jawa: “Nyuwun sewu, Pak. Bapak mau turun dimana?”
Madura: “Madura...!”
Jawa: “Oh, kalau yang turun di Madura duduknya sebelah sana, Pak”
Madura: “Oh gitu, toh? Ya udah saya takpindah kesana. Makasih ya, Mas!”

Akhirnya masalah pun teratasi dengan kebijaksanaan cara komunikasi penumpang Jawa itu.

Friday, June 19, 2009

Bersama Kita Bisa?

Seorang Pria mengendarai mobilnya di sebuah jalan yang sepi ketika salah satu bannya meledak, hingga mobilnya menjadi tak terkendali sampai terperosok ke parit di tepi jalan. Dia berusaha keluar tapi urung setelah menyadari dirinya berada di suatu tempat yang amat sepi. Dan saat dia mulai panik, seorang petani melewati jalan itu dengan seekor keledai, Gus namanya.

Petani itu mengikatkan satu ujung tali ke mobil dan satu ujung lagi ke leher Gus. Kemudian ia melecutkan cemetinya di udara dan berteriak:
“Yaaa, Sam! Tarik, Sam, tarik!”
Keledai itu tak bergerak. Sang petani melecutkan cemetinya lagi dan berteriak lebih keras:
“Yaaa, Jake. Tarik, Jake, tarik!”
Keledai itu masih tak bergerak. Sekali lagi, petani mengibaskan cemeti dan berteriak:
“Yaaa, Pete! Tarik, Pete, tarik!”
Gus masih belum bergerak. Dan kemudian petani itu melecutkan cemetinya dan berteriak lagi:
“Yaaa, Gus! Tarik, Gus, tarik!”
Sejenak kemudian, Gus menghentakkan salah satu kaki belakangnya, lalu bergerak ke depan dengan sekuat tenaga, menarik mobil itu keluar dari selokan. Hasilnya, beberapa saat kemudian, mobil itu sudah berada di jalan raya lagi. Pengendara mobil gembira, mengucap terima kasih, tapi tak habis pikir mengapa petani itu menyebut beberapa nama sebelum memerintahkan keledainya bergerak.

Ia bertanya, “Mengapa Anda memanggil semua nama tadi, wahai Petani?”
“Gus ini buta”, kata petani itu, “dan jika dia merasa harus sendirian menarik mobil Anda, dia tidak akan berusaha melakukannya. Tapi bila dia fikir ada yang membantunyya, dia lebih kuat daripada yang dia sadari.”

Sepertinya setiap orang punya naluri “keledai buta” dalam dirinya. Tinggal bagaimana seseorang bisa memanfaatkannya itu sehingga dapat digerakkan untuk mencapai tujuan.
Dalam “Imagine”, John Lenon mengatakan: “You may say that I’m a dreamer, But I’m not the only one”. Dia mengatakan itu ketika ingin meyakinkan setiap orang yang menginginkan kedamaian bahwa ia tidak sendirian.

Klub penggemar “The Reds” (Liverpool) punya slogan yang terkenal: “You’ll Never Walk Alone”. Bahkan slogan itu terpampang jelas di pintu gerbang markas Liverpool untuk menyemangati semua pemain dan official, dan tentunya semua fans, sekaligus juga sebagai strategi untuk menarik fans-fans baru.

Jadi, “bersama kita bisa” ini memang terbukti mujarab sebagai pendongkrak semangat, moral booster.
Tapi....kalau ditanya bisa apa? Jawabnya tergantung “si petani” nya. Mau dipakai untuk menolong mengeluarkan mobil yang terperosok, atau malah memerosokkan si Gus, keledai yang buta tadi. Tapi kita kan bukan keledai buta toh? Hehehe..

Sunday, June 14, 2009

Lanjutkan?!

Zona kenyamanan atau comfort zone adalah kondisi dimana seseorang merasa aman pada sebuah setting kondisi tertentu. Seseorang yang merasa berada dalam zona kenyamanan ini pada umumnya cenderung enggan untuk melakukan perubahan. Terdapat berbagai sebab dan alasan mengapa kelompok tersebut enggan melakukan perubahan, misalnya karena takut akan risiko kegagalan, takut posisinya akan terusik kalau terjadi perubahan, dan ketakutan-ketakutan lain yang menyebabkannya enggan untuk berubah.

Tapi sebenarnya perlu nggak sih kita berubah?


Allah SWT telah mengatakan dalam al-Quran suci bahwa Dia tidak akan mengubah nasib suatu kaum hingga mereka sendiri berusaha untuk mengubahnya. Ada keterkaitan kuat antara usaha untuk berubah dengan hasil yang akan didapat. Berharap hasil yang lebih baik tanpa melakukan perubahan dalam cara kita untuk meraihnya adalah sebuah angan-angan kosong.

C.K. Prahalad, seorang konsultan manajemen kondang, mengatakan “if you don’t change, you die!”. Kaizen, sebuah filosofi terkenal asal Jepang yang juga menuntut untuk senantiasa melakukan perubahan ke arah yang lebih baik (continuous improvement). Rheinald Kasali, juga berteriak “Change! Tak peduli berapa jauh jalan salah yang Anda jalani, putarlah sekarang juga!”.

Tapi tentu saja tidak semua perubahan adalah positif. Perubahan yang positif adalah perubahan ke arah yang lebih baik. Sang junjungan alam, Rasulullah SAW, dalam kaitan ini pernah mengatakan bahwa “Barang siapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin, sesungguhnya dia telah beruntung. Barang siapa yang hari ini sama dengan hari kemarin, maka sesungguhnya ia telah merugi. Dan barang siapa yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin, maka sesungguhnya ia terlaknat/celaka”.

Jadi kesimpulannya, Perubahan itu perlu bahkan harus, tapi harus perubahan yang positif. Tapi di lain pihak, pada umumnya manusia cenderung resisten terhadap apapun yang baru. Oleh karena itu kemudian implementasi perubahan tersebut membutuhkan pengelolaan yang baik, atau yang sering dikenal dengan manajemen perubahan (change management).

Manajemen perubahan (Change Management) adalah sebuah istilah yang mungkin sering kita dengar, tapi sering kurang diperhatikan ketika akan mengimplementasikan suatu hal yang baru pada suatu masyarakat/komunitas/organisasi/dsb. Padahal kesuksesan penerapannya sangat bergantung kepada pemilihan strategi yang tepat dalam manajemen perubahan ini. Apa sih sebenarnya manajemen perubahan itu?

Manajemen perubahan secara definisi adalah sebuah pendekatan terstruktur untuk melakukan perubahan pada individu-individu, komunitas, organisasi ataupun masyarakat sehingga memungkinkan transisi dari kondisi sekarang menuju ke sebuah kondisi tertentu yang diinginkan. Implementasi sebuah konsep/sistem memerlukan strategi manajemen perubahan yang baik dan perencanaan yang baik pula menyangkut semua pihak yang terkait (stakeholders) sedemikian sehingga objektif dari perubahan tersebut dapat tercapai dengan sukses.

Salah satu tahapan penting dalam manajemen perubahan adalah menetapkan strategi dan langkah-langkah yang perlu dilakukan untuk menerapkan perubahan yang ditawarkan sehingga tujuan yang diinginkan dapat tercapai. Ada banyak strategi dalam manajemen perubahan, namun pada dasarnya merupakan kombinasi dari alternatif strategi berikut ini:
Pertama, pendekatan Empirical-Rational
Strategi ini akan tepat jika diasumsikan bahwa pihak-pihak yang terkait adalah orang-orang yang rasional dan akan mengikuti apa yang menurutnya paling baik.

Kedua, Normative-Reeducative
Strategi ini tepat jika diasumsikan bahwa pihak-pihak yang terkait adalah orang-orang yang sosial dan patuh terhadap norma-norma dan nilai-nilai kultural.

Ketiga, Power-Coercive
Strategi ini tepat jika diasumsikan bahwa pihak-pihak yang terkait termasuk orang-orang yang penurut dan secara umum mau melakukan apa yang diperintahkan atau dapat ”dipaksa” untuk melakukannya.

Keempat, Environmental-Adaptive
Strategi ini tepat jika diasumsikan bahwa pihak-pihak yang terkait telah merasakan kerugian dan keburukan konsep/sistem lama tapi lingkungan dimana mereka berada sudah susah diperbaiki. Mereka telah siap untuk beradaptasi dengan sistem yang baru.

Pertimbangan pemilihan strategi tersebut di atas bisa terdiri atas banyak hal, diantaranya besar kecilnya perubahan, tingkat resistensi, populasi, kerangka waktu, kualitas personal, dll. Tapi yang pasti, setiap strategi perubahan yang baik tidak pernah tunggal. Dia selalu merupakan kombinasi antara alternatif strategi-strategi yang ada.

Seorang manajer Teknologi Informasi di sebuah perusahaan besar di Indonesia pernah bercerita kepada saya, “Perusahaan ini aneh! Masak iya, ada seorang direktur merasa tersinggung karena saya mengirim laporannya via e-mail?!”. Ini adalah salah satu contoh riak kecil ketika perubahan sistem dan mekanisme tidak diikuti dengan manajemen perubahan yang baik. Lebih ironis lagi dalam kasus ini sang pemimpin sendiri yang tidak ingin berubah. Dia masih betah di comfort zone nya.

Adalah tugas seorang pemimpin untuk memimpin umat, masyarakat, atau komunitas yang dipimpinnya senantiasa untuk mau segera berubah ke arah yang lebih baik. Adalah tugasnya untuk senantiasa mendorong komunitas yang dipimpinnya untuk bersemangat melakukan perubahan ke arah yang lebih baik. Adalah tidak baik jika seorang pemimpin justru menakut-nakuti komunitas yang dipimpinnya terhadap perubahan hanya karena keinginannya untuk tetap lanjutkan posisinya sebagai pemimpin.

Perubahan ke arah yang memiliki potensi lebih baik, perlu didorong oleh semua pihak, terutama oleh para pemimpin. Bagi komunitas yang dipimpin hal ini juga dapat dijadikan kriteria untuk mengevaluasi pemimpinnya. Evaluasi terus bagaimana sikap pemimpin atau calon pemimpin terhadap perubahan ke arah yang lebih baik.

Jadi, selamat Lanjutkan (evaluasinya)!! Lebih cepat, lebih baik.

Saturday, April 25, 2009

Kontrol Masyarakat

Ketika kita berada di jalan raya, kita akan banyak menemukan rambu2 yang mengatur para pengguna jalan. Ada rambu2 yang bersifat spesifik seperti dilarang berhenti (S coret), dilarang parkir (P coret), dilarang masuk (forbidden), jalan searah, dan masih banyak lagi. Di luar rambu2 yg banyak itu, ada juga peraturan yang sifatnya umum sehingga tidak ada rambu2nya secara spesifik. Misalnya di Indonesia (pada jalan dua arah) seluruh kendaraan diharuskan berjalan di sisi sebelah kiri.


Walaupun sudah ada rambu2 tersebut baik yang bersifat spesifik maupun umum, namun dalam praktiknya seringkali pengguna jalan menaatinya ketika ada polisi yang berjaga disana. Kalau tidak ada polisi yang jaga, ya seolah-olah lenyaplah peraturan dan rambu2 itu bagi semua. “Tanya kenapa…tanya kenapa”, kata sebuah iklan rokok yang memotret hal ini sebagai kontennya.

Idealnya seluruh pengguna jalan mesti saling memperhatikan satu dengan lainnya. Ketika mereka melihat seorang pengguna melakukan pelanggaran, misalnya berjalan melawan arus, seharusnya pengguna jalan lain akan memperingatkan dengan membunyikan klakson atau menyalakan lampu.

Kalau seorang polisi mengetahui kejadian itu, mestinya ia akan langsung menindak sang pelaku pelanggaran dan menjatuhkan denda/tilang kepadanya. Namun, jika si polisi itu tidak mengetahui kejadiannya, mestinya masyarakat akan memberikan kesaksian kepadanya. Dengan kondisi yang ideal semacam itu, tentu akan sangat sedikit sekali pengemudi yang berniat melakukan pelanggaran.

Dalam pengelolaan sebuah organisasi/perusahaan, kita mengenal istilah tata kelola (governance) dan pengendalian internal (internal control). Adanya berbagai kasus pelanggaran dan penyalahgunaan aturan dan wewenang (seperti kasus Enron, dsb) membuat orang memikirkan bagaimana mekanisme tata kelola dan pengendalian internal dapat dibuat sedemikian rupa untuk mempersempit ruang gerak pelanggaran dan penyalahgunaan. Berbagai standard dan aturan pun dibuat dalam rangka untuk mewujudkan itu, baik yang bersifat umum maupun khusus (sektor tertentu, internasional maupun lokal. Misalnya ada COSO dan Sarbanes-Oxley Act yang bersifat cukup umum dan diadopsi cukup luas secara internasional. Ada juga Basel II yang khusus mengatur manajemen risiko di sektor perbankan, ada juga Peraturan Bank Indonesia (PBI) yang juga perbankan tapi khusus untuk lingkup Indonesia saja. Dan sebagainya, dan sebagainya.

Namun demikian, kita juga melihat ternyata peraturan dan standard pengendalian dan tata kelola (governance) yang bermacam-macam tersebut diatas tidak juga menjamin tidak adanya pelanggaran. Belum lama kita menyaksikan bagaimana ”hebatnya” seorang Cassano yang kepala agen asuransi AIG di Inggris itu mengakali aturan BASEL II dan berhasil membuat seluruh dunia merasakan akibatnya dengan tenggelam di lautan krisis finansial global. Dia berhasil membujuk perbankan eropa yang punya kondisi likuiditas finansial sangat baik untuk mentransfer uangnya ke perbankan amerika yang sedang kesulitan likuiditas akibat krisis subprime mortgage. Aturan manajemen risiko perbankan BASEL II yang melarang keras hal tersebut dia akal2i dengan memberikan penawaran penjaminan asuransi dengan keuntungan yang sangat menggiurkan. Alhasil semua pihak yang terkait pun sama-sama bersepakat untuk mengakali peraturan yang dibuat untuk kepentingan bersama itu demi keuntungan yang menggiurkan tersebut. Akibatnya risiko yang sebenarnya sudah dapat diprediksi itu pun terjadi, dan hampir seluruh dunia merasakan akibatnya. Terutama bagi negara-negara yang berbasis pada ekonomi kapitalisme.

Saya tidak sedang ingin membahas mengenai peraturan dan rambu2 lalu lintas atapun ekonomi kapitalisme. Yang saya ingin highlight dalam 2 kasus tersebut di atas adalah mengenai pentingnya kontrol masyarakat/komunal dimanapun dan kapanpun berada. Ketika kita menginginkan agar seluruh masyarakat (secara umum ataupun dalam sebuah komunitas/organisasi tertentu) dalam berbagai masalah bisa tertib, tidak ada pelanggaran dan keluar dari garis-garis keadilan, maka itu hanya mungkin terwujud apabila secara bersama-sama semua pihak ikut mendukungnya.

Peraturan dan standard jelas memang diperlukan, tapi tanpa itikad baik dan komitmen dari semua pihak untuk bersama-sama berjalan di jalur yang benar serta saling mengingatkan satu dengan lainnya apabila ada yang mencoba melakukan pelanggaran, maka PASTI setiap peraturan atau standard sebaik apapun akan ditemukan celah-celahnya untuk dilanggar. Dalam istilah agama sikap seperti ini sering disebut dengan istilah amar ma’ruf nahi munkar.

Setiap individu tidak boleh menganggap remeh setiap bentuk pelanggaran dan perlu segera bereaksi menentangnya, ketika pelanggaran terjadi. Dengan cara inilah, masyarakat akan mempersempit ruang gerak pihak-pihak yang berniat melakukan pelanggaran dan memperlakukannya secara layak.

Mudah-mudahan suatu hari kelak, kita akan menyaksikan masyarakat Islam yang menjadi pelopor terhadap pembentukan masyarakat yang ideal itu di seluruh penjuru dunia.

Mudah-mudahan kita akan melihat suatu masa dimana seorang dokter, yang ketika dirinya tidak mengetahui cara pengobatan penyakit yang diderita oleh seorang pasiennya, secara jujur ia mengatakan, ”Saya tidak mengetahui cara pengobatan penyakit Anda.” Dan dengan penuh keikhlasan hati, ia juga akan mengembalikan biaya pengobatan yang telah diberikan, dan dengan diiringi rasa persaudaraan, menunjukkan seorang dokter spesialis di bidang pengobatan penyakit dimaksud. Disamping dokternya sendiri, peran masyarakat juga sangat penting untuk melakukan kontrol dalam hal ini. Misalnya dari organisasi komunitas profesi dokter sendiri, para pasien, media massa, dsb.

Mudah-mudahan kita juga akan melihat suatu masa dimana setiap orang hanya mau memilih orang-orang yang memang memiliki sifat dan kapasitas yang paling baik untuk menduduki jabatan-jabatan tertentu. Suatu masa dimana setiap orang tahu hak-hak dan kewajibannya. Pada saat itulah, kita akan menyaksikan keadilan sosial benar-benar terwujud di tengah-tengah masyarakat. Semoga.

Friday, April 10, 2009

Yang Patah Sayapnya

Suatu ketika 2 orang tokoh tasawwuf yaitu Ibrahim ibn Adham dan Syaqiq al-Balkhi bertemu. Syaqiq ini adalah mantan saudagar besar sebelum meninggalkan dagangannya untuk menjadi seorang sufi.
Suatu saat dalam sebuah pertemuan antara keduanya, Ibrahim bertanya kepada Syaqiq:
“Ya Syaqiq, Apa gerangan yang menyebabkan engkau meninggalkan daganganmu itu dan hidup seperti ini?”.

Lalu Syaqiq pun menjawab…

Dahulu saya memang pedagang besar tapi saya selalu dilanda kecemasan. Saya selalu khawatir dagangan saya akan merugi sehingga keluarga saya menjadi tak terurus dan kelaparan. Sampai suatu saat saya berada dalam sebuah gurun pasir yang gersang, jauh dari manusia, jauh dari kebun-kebun dan dari segalanya. Yang tampak hanyalah hamparan pasir gersang sejauh mata saya memandang.
Pada saat itu aku melihat ada seekor burung yang patah sayapnya sedang menggelepar-gelepar. Waktu itu saya berfikir burung ini pasti akan mati karena tidak bisa mencari makanannya dan tidak bisa apa-apa. Namun, pada saat saya berfikir itu tiba2 ada seekor burung terbang di atasnya dan kemudian menjatuhkan makanan yang ada di paruhnya tepat di depan burung yang patah sayapnya tadi.
Segera saya berfikir, kalau burung yang patah sayapnya saja dijamin rezekinya oleh Allah, masak iya Allah tidak menjamin rezeki untuk saya, kalau saya bertawakkal kepadanya?

Demikian Syaqiq menjawab pertanyaan Ibrahim ibn Adham tadi. Yang paling menarik disini adalah jawaban dari Ibrahim ibn Adham kepada Syaqiq.

Ibrahim ibn Adham kemudian berkata..
Ya Syaqiq, mengapa engkau memilih burung yang patah sayapnya tadi. Kenapa engkau tidak memilih burung yang memberinya makanan tadi. Burung yang bekerja keras mencari nafkah, kemudian mengantarkan kelebihan nafkahnya untuk menolong burung2 yang patah sayapnya.

Tugas kita adalah untuk melanjutkan dan mengikuti risalah Rasulullah SAW, bukan meninggalkan pekerjaan kita dan menghabiskan waktu untuk ibadah sendiri. Tugas kita adalah bekerja keras di tengah2 masyarakat dan mengantarkan sebagian kelebihan yang kita peroleh kepada saudara2 kita yang patah sayapnya.

Saturday, April 4, 2009

Duhai..Ibu dan Ayahku

Dalam karyanya “Risalatul Huquq“ (pandangan Islam tentang HAM), Imam Ali Zainal Abidin as-Sajjad ra menjelaskan hak-hak dari beragam pihak. Ketika sampai pada hak Ibu, beliau as mengatakan:
“Kemudian, hak ibumu adalah hendaknya engkau mengetahui bahwa dialah yang telah mengandungmu, sementara tidak seorang pun akan bersedia mengandung orang lain seperti itu.

Dia memberimu makan dari buah hatinya, sedang tidak seorang pun bersedia memberi makan orang lain seperti itu. Dia menjaga keselamatanmu dengan pendengarannya, penglihatannya, tangannya, kakinya, rambutnya, kulitnya, dan seluruh organ tubuh lainnya. Dia sangat berbahagia melakukannya. Dia senang dan riang, tabah menanggung segala beban yang mengganggunya; rasa sakit, dan kerisauannya hingga saat dia, oleh kekuasaan takdir, dibebaskan dari dirimu yang membebaninya lalu mengeluarkanmu ke alam dunia. Dia tetap rela menjadikanmu kenyang ketika dia sendiri lapar; memberimu pakaian ketika dia telanjang; memberimu minuman ketika dia haus; menaungimu dalam keteduhan ketika dia kepanasan; membahagiakanmu ketika dia menderita serta menidurkanmu ketika ia berjaga.
Perutnya menjadi wadah penyimpanan bagimu, pangkuannya tempat yang aman untuk merangkummu, susuannya disediakannya untuk minumanmu dan dirinya sendiri bagai perisa penjaga keselamatanmu. Dia menahan panas dan dinginnya dunia bagimu demi memeliharamu. Maka, patutlah engkau berterima kasih padanya untuk semua itu. Engkau tak akan mampu menunjukkan rasa terima kasihmu kepadanya, kecuali jika dengan pertolongan Allah dan taufik-Nya.”

Pikiranku jadi melayang ketika aku menyaksikan bagaimana ibuku mengandung adikku dulu. Dimana karenanya urat-urat di kakinya membengkak. Dimana karenanya ia harus merangkak untuk menuju ke kamar mandi. Dimana karenanya mual dan muntah adalah rutinitasnya sehari-hari. Dimana karenanya tidur nyenyak adalah sebuah kemewahan yang jarang ia dapatkan setiap malamnya. Dan banyak lagi kesusahan yang ia tanggung dengan sepenuh ridha selama lebih sembilan bulan untuk kemudian ia mempertaruhkan hidupnya untuk melahirkan buah hatinya ke dunia yang fana ini, untuk ia peluk dan sayangi sepanjang hidupnya. Aku membayangkan seperti itulah kiranya sewaktu ibuku mengandung aku dulu. Ya Allah, curahkanlah rahmat-Mu sebesar2nya untuknya. Karena bagaimana pun aku takkan mampu untuk berterima kasih kepadanya.

Aku ingat betapa aku tidak henti2nya membuatnya berkorban demi kesenanganku. Aku ingat waktu aku baru masuk SMP dulu. Ketika aku pulang sekolah, ibuku bertanya: “Kenapa, Mar? Kok keliatannya sumpek gitu? Gimana tadi di sekolahan?”. Aku cerita bahwa tadi ada pelajaran mengetik, tapi karena aku sama sekali belum pernah megang mesin tik, maka jadinya aku termasuk yang ketinggalan di kelas. Setelah cerita itu, tanpa merasa apapun, kemudian aku beraktifitas yang lain karena memang bagiku tidak terlalu penting. Tapi rupanya tidak demikian halnya dengan ibuku, setelah mendengar ceritaku tadi. Tanpa sepengetahuanku, rupanya ia mencari tahu dimana ia bisa beli mesin ketik dan berapa harganya. Dua hari setelah itu, aku dikejutkan ketika ibuku datang dan turun dari becak yang ditumpanginya dengan membawa sebuah mesin tik baru merk “brother”. Kontan saja aku sangat gembira dengannya. Tapi aku kemudian berfikir ini pasti mahal harganya. Aku pun tanya kepadanya, “Makasih ya, Mah. Ini pasti mahal ya, Mah? Berapa harganya, Mah?..”. Ia pun tidak menjawab pertanyaanku, ia hanya berkata semoga aku senang dan tidak ketinggalan pelajaran ngetik di sekolah. Belakangan aku baru tahu bahwa harga mesin tik itu dulu (sekitar tahun ’87-an) adalah 75 ribu, dan ibuku dapat membelinya setelah menjual sebuah gelang emas miliknya. Ya Allah, Rahmatilah Ibuku dengan seluas-luas rahmat-Mu, ya Rabb. Sangat berat baginya melihat sekecil apapun keresahanku. Mampukah aku merasakan hal yang sama terhadapnya?

Kemudian ingatanku melayang lagi ketika aku akan kuliah di Bandung dulu. Aku ingat betul kondisi ekonomi keluarga waktu itu yang amat berat untuk menanggung biaya2 yang aku perlukan. Aku bersyukur ada beberapa orang dari saudaraku yang bersedia mendukungku dalam sebagian pembiayaan yang kuperlukan. Ibuku bukanlah orang yang mudah untuk meminta bantuan kepada orang lain, walaupun kepada saudara sendiri. Belakangan aku baru tahu kalau ibuku dulu pernah tak mampu mengeluarkan sepatah katapun kepada saudaranya lewat telepon. Hanya isak tangis yang dapat didengar oleh saudaranya dari ujung telpon sebelah sana. Pekerjaan yang sangat berat itu, ia mau lakukan demi aku, anaknya yang tak tahu diri ini.

Aku juga ingat bagaimana jerih payah ayahku dalam mencari nafkah dan memberi pendidikan terbaik buat semua anak2nya. Ia yang sering tak dapat menahan rasa kantuknya untuk tetap menjaga toko kelontong yang menjadi tumpuan penghasilan keluarga semenjak kebangkrutan pabriknya dulu. Ia yang mau beranjak dari kantuknya untuk melayani pembeli permen senilai 100 perak 3 buah. Kemuliaan anak2nya adalah beban yang dengan sepenuh ridha ia tanggung. Kebanggaannya adalah ketika melihat anaknya bangga. Kebahagiaannya adalah ketika melihat anaknya bahagia. Kesedihannya adalah ketika melihat anaknya sedih atau salah jalan.

Duh..sungguh tak kuasa aku melanjutkan tulisanku ini. Tak mampu aku mengingat dan menuliskan semua jasa dan pengorbanan kedua orang tuaku dari aku di kandungannya sampai kini dan nanti.
Karena itu, Ya Ilaahi, Ya Maulaya, Ya Rabbii…
Aku bermohon kepada-Mu, dengan rahmat-Mu yang meliputi segala sesuatu
Ya Allah, demi kemuliaan Nabi-Mu dan keluarganya, muliakan pula kedua orang tua ku, Ya Rabb.
Ya Allah, demi keistimewaan Nabi-Mu dan keluarganya, istimewakan pula kedua orang tuaku, Ya Sayyidi.
Ya Allah, berilah aku petunjuk untuk mengetahui apa yang mesti aku lakukan kepada kedua orang tuaku,
Berilah aku kemampuan untuk mengetahui semua kewajiban itu secara sempurna, Ya Maulaya.
Ya Allah, buatlah aku berbakti kepada keduanya sebagaimana kebajikan seorang ibu yang pengasih,
Jadikan ketaatanku dan kebaktianku kepada kedua orang tuaku sebagai rasa kasih yang lebih menyenangkan hati daripada tidurnya orang2 yang mengantuk;
dan lebih terasa segar di dada daripada segarnya minuman orang2 yang haus;
sehingga aku bisa mendahulukan keinginan mereka daripada keinginanku sendiri,
dan mengutamakan keridhaannya daripada keridhaanku sendiri.

Ya Allah, rendahkanlah suaraku di hadapan mereka,
Hiasilah ucapanku dengan kata manis kepadanya,
Lembutkanlah setiap tingkah dan kelakuanku kepadanya,
Isilah hatiku dengan rasa kasih kepadanya,
Biarlah aku tetap menyertainya dan tetap merindukannya.

Ya Allah, balaslah kebaikan mereka atas pendidikan yang diberikan padaku,
Dan berilah ganjaran penghargaan kepada mereka karena telah memuliakanku,
Serta peliharalah mereka sebagaimana mereka dulu memeliharaku di waktu kecil.

Ya Allah, apa pun yang menimpa mereka, apakah itu berupa kesalahan yang aku perbuat, tingkah laku yang tidak menyenangkan mereka atau kelalaian yang aku perbuat,
Jadikanlah itu semua sebagai penebus dosa2 mereka, pengangkat derajat mereka, penambah kebaikan mereka, Wahai yang Maha Kuasa merubah segala kesalahan menjadi kebaikan yang berlipat ganda.

Ya Allah, apapun kesalahan yang mereka perbuat, aku mengharap Engkau mengampuni kesalahan mereka.
Bagaimana tidak, ya Ilahi. Panjangnya masa mereka mengurusku?
Bagaimana pula beratnya kelelahan mereka dulu dalam menjaga dan memeliharaku?
Bagaimana pula pengorbanan mereka dulu dalam melapangkan hidupku?
Sungguh besar jasa mereka dalam mengurus kepentinganku, aku tak mampu membalas kebaikan mereka hanya dengan melaksanakan semua kewajibanku kepada mereka, dan aku tidak mampu memenuhi semua kewajiban berbakti kepada mereka.

Jadikanlah aku menjadi penutup lubang keperihan yang keduanya rasakan saat ini,
Jadikanlah orang yang saat ini terus melubangi perasaan, pandangan dan pendengarannya untuk segera bersadar, Ya Rabbi, Ya Raja’I wa ya Mu’tamadii.
Untuk segera menyadari apa akibat yang telah ia lakukan bagi kedua orang tuanya.
Dan untuk itu, Ya Rabbi. Tunjukkanlah kepadaku, apa yang dapat aku lakukan untuk membantunya. Agar mereka dapat senantiasa tentram dalam masa tuanya.
Ya Allah, janganlah Engkau membuatku lupa mengingat kedua orang tuaku,
di setiap akhir shalatku,
di setiap saat di malam hariku,
di setiap waktu di siang hariku.

Dan terakhir, Ya Rabb.
Bila ampunan-Mu Engkau dahulukan kepada mereka, maka berikanlah mereka kesempatan memberi syafaat kepadaku,
Dan jika ampunan-Mu Engkau dahulukan kepadaku, maka berilah aku kesempatan untuk memberi syafaat kepada mereka,
Sehingga kami bisa berkumpul dengan kasih sayang-Mu,
di negeri kemuliaan-Mu,
dan di tempat Maghfirah-Mu.

Limpahkanlah sebaik sholawat dan salam kepada junjunganku dan Rasul-Mu beserta keluarganya,
Sesungguhnya Engkau Pemilik karunia yang Agung dan Pemilik keberkahan yang tak pernah henti, Engkaulah Maha Pengasih dari semua yang mengasihi.[undzurilaina]