Saturday, January 2, 2010

Monster dan Anak Domba, Antara Naziisme dan Yazidisme

Reinhold Hench dan Paul Schaeffer adalah dua orang kolega Peter Drucker. Peter Drucker, seorang keturunan Yahudi yang oleh banyak kalangan digadang sebagai Bapak Penemu Manajemen Modern itu memutuskan untuk keluar dari Jerman karena prediksinya bahwa Nazi akan memenangkan Pemilu Jerman. Namun tidak dengan kedua koleganya tersebut.

Singkat cerita, malam ketika esok harinya Drucker akan berangkat, ada yang mengetuk pintu rumahnya. Jantungnya seakan berhenti berdetak, ketika melihat pasukan Nazi berdiri di depan pintu rumahnya. Ia sedikit lega ketika mengenali orang itu adalah Hensch, koleganya di surat kabar tempat dia bekerja. Hensch mendengar bahwa Drucker telah keluar dari surat kabar itu (dan juga sebagai dosen), dan mencoba berbicara dengan Drucker mengapa ia keluar dari surat kabar itu. Drucker pun menjelaskannya, karena tak punya alasan lain.

Ekspresi Hensch pun berubah dengan cepat dan meluapkan kata2 emosional. Ia mengatakan pada Drucker betapa ia sangat iri kepadanya bahwa ia tidak “sepandai” Drucker, dan berharap ia bisa keluar. Namun ia melanjutkan bahwa ia tak bisa keluar. Ia menginginkan uang, status, dan kekuasaan, serta berkata bahwa karena ia memiliki nomor keanggotaan kecil di Partai Nazi (yang artinya punya kuasa lebih), ia sekarang akan menjadi “seseorang”.
“Camkan kata2ku ini,” katanya pada Drucker, “kamu akan mendengar tentangku sekarang!!!”.

Setelah itu, Drucker tak pernah lagi mendengar berita tentang Hensch. Sampai dengan tahun 1945 ketika Nazi ditaklukkan, ada artikel pendek di The New York Times menarik perhatiannya:
“Reinhold Hensch, salah seorang penjahat perang Nazi yang paling dicari Amerika, bunuh diri ketika ditangkap pasukan Amerika di gudang bawah tanah di sebuah rumah yang tinggal puing di Frankfurt.... Hensch, dikenal sangat kejam, keji dan haus darah sehingga dijuluki ‘Monster’ (Das Ungebeuer) bahkan oleh anak buahnya sendiri.”

Paul Schaeffer adalah seorang wartawan senior terkenal yang telah melanglang buana lebih dari 50 tahun di media terkemuka dunia seperti New York Times, Times, dll. Namun dia memutuskan untuk menerima tawaran dari koran terpandang Jerman (Berliner Tageblatt). Namun Schaeffer tidak bodoh. Ia tahu lebih baik dari orang-orang lain tentang apa yang dikejar Nazi selama ini, tapi ia pikir ia bisa membuat perbedaan: “Justru karena kekejian yang terjadi inilah saya harus menerima pekerjaan itu,” ia menjelaskan.
Dia tidak menggubris peringatan orang2 disekelilingya yang khawatir bahwa ia akan dimanfaatkan oleh Nazi untuk memberikan tedeng kehormatan dan menipu dunia luar.
Dan akhirnya Nazi memanfaatkan Schaeffer persis seperti yang dikhawatirkan teman2nya. Jabatan, uang dan kehormatan pun dicurahkan kepadanya. Setiap ada berita tentang kekejian Nazi yang bocor, Schaeffer dikirim ke kedubes-kedubes dan koresponden-koresponden asing untuk meyakinkan mereka bahwa semua itu tidak benar.

Dalam “memoar”-nya (Adventures of a Bystander), Drucker mengatakan bahwa kejahatan itu sesuatu yang hebat sehingga manusia sering diperalat olehnya. Karenanya manusia tidak boleh mempertahankan ataupun menggunakan kejahatan dengan cara apapun, karena cara itu pastilah jalan kejahatan bukan jalan manusia.
Manusia akan menjadi instrumen kejahatan ketika, seperti Hensch, ia berfikir bisa mengendalikan kejahatan untuk memenuhi ambisinya.
Dan manusia juga akan menjadi instrumen kejahatan ketika, seperti Schaeffer, ia bergabung dengan kejahatan untuk mencegah terjadinya hal yang lebih buruk.

Drucker mengakhiri bagian itu dengan bertanya:
“Siapa yang lebih kejam, monster atau anak domba? Mana yang lebih buruk, dosa Hensch karena nafsunya untuk berkuasa atau kesombongan Schaeffer dan dosanya karena pongah? Mungkin dosa terbesar bukanlah kedua dosa kuno itu, dosa terbesar adalah dosa abad ke-21, yaitu dosa karena bersikap masa bodoh, dosa seorang ahli biokimia terkenal yang tak membunuh dan tak berbohong, tapi menolak memberi kesaksian ketika, mengutip kata2 di Injil, ‘Mereka Menyalibkan Tuhanku!’.”

Kisah Drucker tentang dua koleganya diatas mengingatkan saya kepada kisah seputar tragedi yang terjadi pada cucu kesayangan Nabi, al-Husayn, penghulu pemuda ahli surga. Tentu saja saya sadar bahwa saya sedang membandingkan dua hal yang berbeda dari banyak segi, seperti skala, intensitas, maupun dampak dari kekejian yang dilakukan. Tapi betapapun saya melihat ada beberapa kemiripan. Saya coba mengambil contoh beberapa stakeholder sentral yang terlibat dalam tragedi paling mengerikan sepanjang sejarah tersebut. Tapi rasanya saya tidak perlu menjelaskan mengenai sang producer dan director kekejian, Yazid bin Muawiyyah.

Ubaidullah bin Ziyad bin Abihi, the man behind the gun, gubernur Bashrah yang menjadi project manager dalam penyerangan al-Husayn. Dia adalah anak dari Ziyad bin abihi, anak ayahnya. Disebut demikian karena ayahnya yang tidak jelas. Sebagian riwayat mengatakan bahwa Ziyad adalah anak Abu Sufyan dari Sumayyah (sebagian riwayat mengatakan Marjanah) yang dikenal sebagai wanita penghibur. Ubaidullah lahir di Bashrah. Ketika sang ayah meninggal, ia berada di Irak. Kemudian ia pergi ke Syam. Mu'awiyah mengangkatnya sebagai gubernur wilayah Khurasan pada tahun 53 H dan tinggal di sana selama dua tahun. Pada tahun 55 H, Mu'awiyah memindahkannya ke Bashrah. Yazid menetapkannya di sana pada tahun 60H. Tragedi Karbala terjadi di masa kekuasaannya dan atas perintahnya. Setelah kematian Yazid, penduduk Bashrah berbaiat kepadanya. Namun tak lama berselang , mereka melawannya. Diapun lari mencari perlindungan ke Syam, lalu kembali lagi ke Irak. Di tengah jalan, Ibrahim Asytar menghadangnya. Peperangan antara tentara keduanya pun tak dapat dielakkan lagi. Pasukan Ubaidillah kocar-kacir. Ibrahim memburunya dan membunuhnya di Khazir, satu daerah di Maushil. Setelah berhasil dibunuh, kepala ibnu Ziyad dibawa ke hadapan Mukhtar.

Umar bin Sa'ad bin Abi Waqqash Al-Zuhri Al-Madani. Dialah yang dikirim oleh Ubaidillah bin Ziyad dengan empat ribu orang tentara untuk menyerbu Dailam, dengan menjanjikannya kekuasaan atas wilayah Rey. Tapi sewaktu berita keberangkatan Al-Husain dari Mekah menuju Kufah sampai ke telinga Ibnu Ziyad, ia segera mengirimkan sepucuk surat padanya dan memerintahkannya untuk segera kembali bersama pasukannya. Umar pun kembali. Ibnu Ziyad lalu memerintahkannya untuk membantai Al-Husain. Umar menolak. Ibnu Ziyad mengancam dan mengingatkannya akan kota Rey. Akhirnya ia bersedia menerima tugas tersebut.
Di belakang hari, ketika Mukhtar bangkit melakukan pemberontakan, beliau mengutus orang untuk memburu dan membunuh Umar bin Sa'ad dan tamatlah riwayatnya.

Kedua person diatas mencoba menggunakan kejahatan untuk mencapai keinginan dan ambisinya. Seperti kata Drucker, mereka menjadi instrumen kejahatan ketika ia berfikir dapat menggunakan kejahatan untuk memenuhi ambisinya. Dan juga sejarah membuktikan, seperti juga yang terjadi pada Hensch, kehinaan lah yang akan didapatnya, alih-alih kejayaan dan kesuksesan.

Lain halnya dengan peran orang-orang diatas, yang oleh Drucker diistilahkan sebagai monster, ada juga peran lain yang sama-sama destruktifnya dengan monster, yaitu orang2 seperti Schaeffer yang –walaupun mungkin punya sedikit maksud baik di awalnya—berperan menjadi pembela-pembela kejahatan itu. Ada sebagian penulis, yang karena alasan-alasan tertentu, melakukan pengaburan terhadap sejarah ini. Dari yang bersikap tidak menyalahkan Yazid atas tragedi Karbala tersebut, sampai dengan yang sampai menulis buku khusus tentang keutamaan Yazid beserta ayahnya, Muawiyyah. Ada sebagian juga yang berusaha menutup sejarah itu dengan menonjolkan beberapa peristiwa lain (yang kurang jelas dan kuat dasarnya) yang menganjurkan bahwa hari Asyura adalah waktu yang tepat untuk bergembira, berbagi kebahagiaan.

Person-person seperti diatas ini, oleh Drucker diistilahkan dengan “anak domba”. Keyakinan para penulis itu –seperti Schaeffer—bahwa dia bisa mencegah hal yang lebih buruk (misalnya mungkin untuk menutup sejarah kelam) justru membawa hasil yang lebih mengerikan. Meskipun ada niat baik, mereka dengan segera menjadi kaki tangan kejahatan dengan kebohongan2nya. Mereka memberi kejahatan legitimasi untuk melanjutkan kekuasaan, kejahatan demi kejahatan, dan pembantaian demi pembantaian. Dengan menutup2i apa yang sebenarnya terjadi, mereka telah berperan dalam membuat dunia setidaknya bersikap netral terhadap kejahatan2 tersebut.

Wallahu a’lam, yang jelas saya setuju dengan Drucker yang menganggap bahwa anak domba sama destruktifnya dengan monster.
Mempelajari apa yang terjadi pada sejarah manusia dan menjadikannya hidup serta berinteraksi dengan kehidupan kita sekarang, menurut saya penting untuk dilakukan sehingga kita dapat mengambil hikmah-hikmah yang berharga untuk saat ini dan esok.

"Dan apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di muka bumi dan memperhatikan bagaimana akibat (yang diderita) oleh orang-orang yang sebelum mereka? .." (QS. ar-Rum: 9)

Jadi tergantung kita, apakah kita mau berperan menjadi “monster” atau “anak domba”? Atau akan menjadi orang2 acuh, yang menganggap kemarin adalah kemarin, tidak ada hubungannya dengan hari ini atau besok. Atau akan menjadi yang akan mengambil hikmah dan pelajaran dari setiap peristiwa, dan “menghidupkannya” untuk hari ini dan besok. Semuanya adalah pilihan peran yang terpampang di depan kita semua.
Nanti...“sejarah” hidup kita akan mencatat peran-peran kita tersebut untuk tentu saja dipertanggung-jawabkan. Bagaimana? [undzurilaina]

Saturday, December 19, 2009

Tak ada tukang taman, tak ada taman..

Alkisah, seorang pengusaha sukses, sebut saja Fred namanya, baru pindah ke rumah barunya. Dia punya impian untuk memiliki sebuah taman indah di rumah barunya. Oleh karena itu dia memutuskan untuk menggunakan jasa konsultan pertamanan yang juga temannya untuk merancang taman di rumah barunya itu. Temannya ini cukup terkenal sebagai konsultan pertamanan yang handal.

Sebagai pengusaha yang cukup sukses, Fred terhitung sangat sibuk sehingga praktis tidak punya waktu yang cukup untuk merawat pekarangannya. Oleh karena itu dia minta ke temannya yang konsultan pertamanan itu agar menciptakan taman yang sedemikian rupa shg hanya butuh sesedikit mungkin perawatan. Antara lain dia minta ada alat penyiram otomatis dan peralatan otomtatis lain yang memungkinkan semuanya jalan sendiri tanpa perawatan. Pendek kata, yang dia fikirkan adalah bagaimana caranya punya taman yang indah tanpa perawatan.

Setelah mendengarkan dengan seksama ocehan Fred tentang spesifikasi kebutuhan tamannya itu, Akhirnya sang konsultan itu kemudian berkomentar, “Fred, saya dapat memahami apa yang kau katakan. Tetapi ada satu hal yang perlu kau pahami sebelum kita melangkah lebih jauh: Bila tak ada tukang taman, tak ada taman!

Mungkin banyak diantara kita yang bermimpi untuk mengandalkan taman (baca: bisnis, organisasi, keluarga, hidup...) pada sesuatu yang bersifat otomatis dan instan. Kemudian berharap munculnya hasil akhir yang dahsyat.

Tetapi kehidupan tidaklah berjalan seperti itu. Kita tidak dapat begitu saja menyebar sedikit benih, lalu pergi, dan melakukan apa pun yg kita mau, kemudian berharap bahwa di kemudian hari ketika kembali, kita menemukan kebun yang indah dan tumbuh subur, siap untuk menghasilkan panen buah dan sayur2an untuk memenuhi keranjang kita. Kenyataannya tidak demikian. Kita harus menyiram, memelihara, dan menyiangi secara berkala, kalau kita berharap dapat menikmati hasil panennya.

Bagaimanapun setiap usaha akan memberi hasil. Segala sesuatu akan tumbuh. Tetapi tanah itu akan menjadi kebun yang indah atau semak belukar perbedaannya ditentukan oleh keterlibatan dan kelalaian kita sebagai tukang kebun atau tukang taman.

Catatan sederhana ini saya tulis diilhami oleh sebuah pembicaraan dengan seorang teman beberapa hari lalu, yang mengklaim bahwa buah jagung yang didapat saat ini adalah dari benih padi yang dia dulu pernah tinggalkan dengan keterlibatan seadanya dalam memeliharanya. Oleh karena itu buah jagung itu adalah miliknya, katanya.

Saya tidak mau membiasakan diri untuk bermain klaim. Saya hanya berusaha melakukan apa yang dimintakan oleh si pemilik lahan saja. Saya bukan mbok Minah yang mengambil 3 kakao untuk bibit dari lahan orang. Saya juga tidak berniat melupakan ada kontribusi teman. Menurut saya, apa yang dituai mesti sesuai dengan kontribusinya.

Tapi ala kulli hal, saya juga tidak mau ngotot untuk berebut buah itu dengan mengorbankan kotornya hati ini. Jika Anda berniat untuk bekerja sama, mari kita kerja sama dan menuai hasilnya bersama sesuai dengan kontribusi kita masing-masing. Jika anda menuntut yang lebih dari kontribusi Anda, silahkan Anda kerjakan sendiri. Jika anda memilih untuk keras, mari kita tanyakan kepada pemilik lahan.

Kalau boleh memilih dan kalau ini merupakan tindakan yang bertanggung-jawab, sebenarnya saya mungkin akan lebih memilih untuk mencari lahan lain untuk saya tanam, pelihara dan tuai hasilnya nanti. Bukankah Allah mengatakan bahwa bumi-Nya ini sangat luas, Kawan?

Haihat..Haihata min ad-dzillah! Pantang Hina!


Wednesday, December 9, 2009

Talking About Bakat

“Apa bakat Bapak?”, tanya rekan saya yang konsultan SDM kepada salah seorang pegawai bank dalam acara penjelasan assessment SDM Teknologi Informasi. Tak ada jawaban yang muncul dari pegawai tersebut, selain senyum-senyum dan tengok kanan-kiri. Lalu pertanyaan yang sama ditanyakan kepada para peserta acara tersebut lainnya. Dan tak ada jawaban dari para peserta kecuali beberapa gelintir orang yang berkata secara sporadis sambil senyum2: “Menyanyi..Olah raga..!”.

“Ada yang bisa bantu saya lagi menjawab apa bakat bapak ibu sekalian?”, lanjut teman saya itu mencoba memancing para peserta untuk berfikir apa bakat yang dimilikinya. Dan tak ada lagi jawaban yang keluar dari mulut puluhan peserta acara tersebut kecuali gemuruh suara para peserta yang saling mentertawakan teman-temannya karena sama-sama tak bisa menjawab apa bakatnya sendiri.

Ketika ditanyakan apakah definisi bakat, beragam pula jawabannya. Dan memang bakat ini didefinisikan secara beragam oleh berbagai ahli. Tapi secara umum, bakat dapat didefinisikan sebagai kemampuan potensial yang ada dalam diri seseorang untuk melakukan suatu jenis aktifitas tertentu, baik ia sudah dikembangkan ataupun belum.

Dalam hal pengembangan bakat ini ada sebuah perdebatan klasik yang menarik antara “Nature” versus “Nurture”. Perdebatan ini berkaitan dengan mana yang lebih penting antara bakat (nature) dengan penempaan/pelatihan (nurture) dalam hal pengembangan seseorang. Tentu saja keduanya penting untuk menghasilkan kemampuan kinerja pada suatu bidang/jenis aktifitas tertentu. Yang menjadi permasalahan berikutnya adalah manakah yang perlu dijadikan fokus penempaan, bagian kekuatan bakat kita atau sisi kelemahannya.

Kebanyakan orang akan menjawab bahwa kelemahanlah yang perlu menjadi fokus penempaan sehingga ia tidak lagi menjadi kelemahan lagi. Tapi tepatkah jawaban tersebut?

Salah satu lembaga yang melakukan survey untuk menemukan jawaban ini antara lain adalah Gallup, sebuah lembaga survey terkemuka dunia. Gallup melakukan survey terhadap bakat “membaca cepat” (speed reading) pada populasi tertentu yang ditentukan. Hasil survey pertama mengatakan bahwa kecepatan paling rendah adalah sekitar 90 kata per menit, dan yang tercepat adalah 350 kata per menitnya. Apa langkah terbaik yang harus dilakukan untuk meningkatkan kemampuan membaca cepat dari para peserta itu? Sebagian besar dari orang yang ditanya akan menjawab bahwa melatih peserta dengan kecepatan baca 90 kata per menit akan lebih mungkin menghasilkan signifikansi peningkatan ketimbang yang 350 kata/menit. Karena dalam bayangan kita masih ada rentang improvement yang cukup besar dari 90 kata/menit, sementara yang 350 kata/menit sepertinya sudah mendekati mentok.

Setelah dilatih metode speed reading yang baik, peserta yang semula memiliki kecepatan 90 kata/menit dapat berhasil ditingkatkan menjadi 140 kata/menit. Wah, bagus dong?!

Iya, bagus. Tapi bagaimana kalau yang dilatih speed reading adalah peserta yang sudah 350 kata/menit? Ternyata hasilnya adalah 6.000 kata/menit!! Jauh lebih menakjubkan, bukan?

Kenyataan hasil survey-survey yang sejenis ini kemudian mengarahkan kepada pengembangan pendekatan pengembangan SDM baru yang berbasis kekuatan (strenght-based approach). Kekuatan ini diidentifikasi sebagai bakat alamiah. Pendekatan ini menggantikan pendekatan yang sejak lama banyak digunakan yaitu deficit-based approach.

Paradigma Nature (lawannya nurture) meyakini bahwa bakat terbentuk sejak 60 hari sebelum manusia dilahirkan sampai dengan 14-16 tahun, dan sulit untuk berubah setelahnya. Diketahui bahwa setiap manusia dipastikan memiliki bakat atau karakter yang berbeda-beda. Oleh karena itu, daripada membuang-buang waktu dengan memberikan pelatihan yang ditujukan untuk memperbaiki kelemahan, akan lebih baik bila kita berfokus pada pengembangan KEKUATAN untuk mendapatkan hasil terbaik dan mensiasati KELEMAHAN yang ada.

Sang Maha Pencipta tidaklah menciptakan semua manusia dalam keadaan yang sama, dan tidak membekali potensi yang sama bagi semua bidang kepada setiap manusia. Untuk memutar roda-roda kehidupan, Dia menciptakan beberapa individu dengan potensi talenta yang khusus, agar setiap individu meniti sebuah jalan yang sesuai dengan talentanya dan melakukan aktifitas-aktifitas yang terpancar dari kecenderungan batin dan kekuatan fitrinya.

Seperti kata sebuah pepatah bijak: setiap rahasia memuat keindahan, beruntunglah orang yang menemukan talentanya!

Sungguh beruntunglah orang yang memupuk potensi-potensi baiknya, Qad aflaha man zakkaaha.

So, apa bakat kita? Apa bakat anak-anak kita? Oh God, guide me please.

Saturday, October 31, 2009

The Delay Country

Siang itu, saya menunggu di ruang tunggu airport balikpapan ketika mendengar pengumuman bahwa pesawat yang saya akan saya tumpangi mengalami keterlambatan (DELAY) cukup signifikan (sekitar 2 jam, seingat saya). Para calon penumpang pun jelas kecewa mendengar informasi tersebut. Maskapai plat merah yang punya cita-cita menjadi maskapai kelas dunia dengan keramahan khas Indonesia ini kemudian berusaha menghibur calon penumpangnya dengan memberi sekotak snack. Alasan keterlambatan katanya karena masalah teknis. Hmmmm....keramahan khas Indonesia?

Kemarin kebetulan saya menggunakan maskapai yang sama untuk tujuan yang lain. Kali ini saya diburu waktu untuk mengejar penguburan jenazah nenek yang meninggal di Solo. Saya ketiban sial lagi mendengar pengumuman DELAY pesawat, tapi kali ini tidak ada sekotak snack yang datang sebagai “penghibur” yang tidak berarti. Alasan keterlambatannya katanya karena pesawat yang terlambat datang dari Palembang. Hmmm...khas Indonesia?

Di perjalanan saya baca koran yang disediakan. Lembar demi lembar berita yang ada dalam koran itu sepertinya kok hampir tidak ada berita yang positif. Headline koran tentunya masih seputar berita penahanan pimpinan KPK non-aktif yang kontroversial itu. Sementara, entah kenapa, penahanan sang koruptor sendiri malah di-DELAY.
Saya teringat juga bahwa pada hampir setiap ada bencana, bantuan terhadap korban selalu ter-DELAY dengan alasan yang begitu beragam.

Saya juga teringat banyaknya program pemerintah yang DELAY karena alasan-alasan yang luar biasa kreatifnya. Hebatnya lagi, bukannya minta maaf dan mengakui kesalahan atau setidaknya memberikan “snack penghibur”, mereka seperti tidak merasa melakukan kesalahan apapun dan melontarkan sejuta pernyataan2 apologis, bahkan tak jarang memutar-balikkan esensinya.

Wah, sepertinya saya saat ini sedang berada di negeri yang penuh dengan DELAY. Oh ya, waktu saya berjalan untuk masuk ke pesawat yang DELAY tadi, saya melihat di badan pesawatnya tertulis “Visit Indonesia Year 2009”. Celetukan spontan saya waktu itu adalah “mudah2an program itu juga nggak ikut ter-DELAY”. Belakangan saya baru tahu bahwa ternyata program ini awalnya adalah program tahun 2008 (lihat gambar). Hmmm...Yes, I am in the DELAY Country.

Thursday, September 17, 2009

Muwaddaa’Ya Syahru Ramadhan

… Ya Allah, Engkau jadikan bulan Ramadhan bulan yang istimewa, yang Engkau muliakan Dia dari semua bulan. Engkau pilih ia dari semua zaman dan masa. Engkau lebihkan ia dari semua waktu (lainnya) dalam setahun, dengan al-Qur’an dan cahaya yang Engkau turunkan di dalamnya, dengan keimanan yang Engkau tingkatkan di dalamnya, dengan puasa yang Engkau wajibkan di dalamnya. Dengan bangun malam yang engkau gemarkan di dalamnya,
dengan malam Qadar -- yang lebih dari seribu bulan -- yang Engkau agungkan di dalamnya. … Maka kami berpuasa atas perintah-Mu pada waktu siangnya, kami bangun dengan bantuan-Mu pada malam harinya, mempersembahkan diri kami dengan puasa dan shalat-malamnya ….

Melalui itu, kami memperoleh pahala-Mu. Kau kaya dengan apa pun yang diinginkan dari-Mu. Kau pemurah dengan apa yang diminta dari karunia-Mu. Kau dekat dengan orang yang berusaha mendekati-Mu.

Tiba-tiba bulan ini meninggalkan kami pada akhir waktunya, pada batas jangkanya, pada akhir lintasannya. Kami ingin mengucapkan selamat tinggal padanya. … (dia) yang menyedihkan kami perpisahan dengannya, merisaukan dan mendukakan kami kepergiaannya.

Kami sampaikan salam bagimu wahai bulan Allah yang agung, wahai hari raya para kekasih-Nya. Salam bagimu wahai waktu termulia yang menyertai kami. Wahai bulan terbaik di antara semua hari dan saat. Salam bagimu bulan yang di dalamnya harapan didekatkan, amal disebarkan. Salam bagimu sahabat yang paling bernilai ketika dijumpai, dan paling menyedihkan ketika ditinggalkan. Kawan yang ditunggu, yang menyedihkan perpisahan dengannya. … Salam bagimu wahai jiran, yang bersamanya hati melembut dan dosa berkurang. Salam bagimu penolong yang membantu kami menghadapi setan, dan memudahkan bagi kami jalan-jalan kebaikan.

Salam bagimu, betapa banyak orang yang terbebas (dari dosa-dosa) di dalammu. Betapa bahagianya orang yang menjaga kesucianmu … Salam bagimu, betapa banyak dosa yang kamu hapuskan. Betapa banyak aib yang kamu tutupi. Salam bagimu, betapa panjangnya hari-harimu bagi pendosa, betapa agungnya kamu bagi orang yang beriman. Salam bagimu bulan yang tak tertandingi oleh hari-hari mana pun. Salam bagimu bulan yang di dalamnya sejahtera segalanya. Salam bagimu duhai yang pershabatannya tidak dibenci. Duhai yang pergaulan dengannya tidak tercela. (Kami panjatkan) salam (kesjahteraan) bagimu sebagaimana kau datang kepada kami membawa berkah. Dan kau bersihkan kami dari noda-noda cela.

Salam bagimu wahai yang tidak ditinggalkan karena (kami) kesal (padamu), tidak pula puasamu ditinggalkan (karena kami bosan).

Salam bagimu duhai yang dicari sebelum waktunya, yang ditangisi sebelum kepergiannya. Salam bagimu, betapa banyak kejelekan yang dipalingkan karenamu. Betapa banyaknya kebaikan dilimpahkan kepada kami karenamu. Salam bagimu dan bagi malam Qadar yang lebih baik dari malam seribu bulan. Salam bagimu, betapa senangnya kami kepadamu kemarin, betapa rindunya kami kepadamu besok. Salam bagimu dan bagi keutamaannya yang sekarang ditepiskan dari kami, dan bagi keberkahan yang sekarang ditanggalkan dari kami. …

Ya Allah, bagimu segala pujian, di tengah pengakuan akan keburukan (kami). Dan kesadaran akan kelalaian (kami). Bagimu, dari lubuk hati kami yang paling dalam, dari lidah kami, permohonan maaf yang paling tulus. Berilah kami, dengan segala kekurangan yang menimpa kami di bulan ini, pahala yang menyampaikan kami kepada kemuliaan yang diharapkan, dan berbagai macam kebahagiaan yang dirindukan. Pastikan bagi kami ampunan-Mu, dalam kekurangan kami dalam memenuhi hak-Mu di bulan ini. Sampaikan dengan sisa umur kami, kepada bulan Ramadhan yang akan datang.

Taqabbal, Yaa Kariim …

(Cuplikan Do’a Imam ‘Ali Zainal ‘Abidin)

Sunday, September 6, 2009

Makan Bersama Nabi

Setibanya Nabi dan sahabat2nya di suatu tempat dan turun dari kendaraannya, mereka berencana untuk menyembelih seekor kambing dan membuat sate untuk dimakan bersama.
Seorang sahabat berteriak: "Aku yang akan menyembelih kambing itu."

Sahabat yang lain menjawab: "Aku yang akan mengulitinya."

Sahabat yang lain lagi berkata: "Aku akan memasaknya."

Rasulullah SAW menyahut: "Aku akan mencarikan kayu2 kecil di padang pasir."

Semua sahabat segera berkata: "Ya Nabi Allah! Biarlah anda duduk. Kami akan melakukan semua pekerjaan ini dengan senang hati.”

Kemudian Nabi SAW berkata:“Aku tahu kalian akan melakukan semuanya. Tapi Allah tidak suka melihat orang yang melihat dirinya berbeda dengan orang lain, sedangkan ia berada di tengah2 mereka.”

Nabi pun pergi ke padang pasir dan memunguti kayu-kayu kecil yang kering sesuai dengan kebutuhan.

Allahhumma Sholli alaa Muhammad wa aali Muhammad.[undzurilaina]

Doaku terjawab sudah..

Ketika kumohon kepada Allah kekuatan, Allah memberiku kesulitan agar aku menjadi kuat.

Ketika kumohon kepada Allah kebijaksanaan, Allah memberiku masalah agar dapat kupecahkan.

Ketika kumohon kepada Allah kesejahteraan, Allah memberiku akal untuk berfikir.

Ketika kumohon kepada Allah keberanian, Allah memberiku kondisi bahaya untuk dapat kuatasi.

Ketika kumohon kepada Allah cinta, Allah memberiku orang2 bermasalah untuk kutolong.

Ketika kumohon kepada Allah bantuan, Allah memberiku kesempatan.

Aku tak pernah menerima apa yang kuminta, melainkan aku menerima segala yang kubutuhkan.

Doaku terjawab sudah.
(Imam Ali bin Abi Thalib, salamullah alaihi)

Sunday, July 19, 2009

Bijaknya Orang Jawa

Dikisahkan suatu hari seorang Madura akan melakukan perjalanan dengan pesawat terbang. Ketika panggilan boarding telah tiba, dia pun masuk ke pesawat dan kemudian memilih tempat duduk yang dia sukai.
Tak lama berselang ada seorang penumpang lain
yang masuk pesawat dan bermaksud untuk duduk di kursi yang sedang diduduki oleh sang Madura tadi. Setelah memeriksa kembali tiketnya dan yakin bahwa dia tak salah kursi, maka penumpang itu pun bertanya kepada penumpang Madura tadi..

Penumpang: “Maaf, Pak. Kursi bapak nomor berapa? Yang Bapak sedang duduki itu nomor kursi saya..”
Madura: “Loh, Sampeyan sapa?!”
Penumpang: “Saya juga penumpang seperti Bapak..”
Madura: “Eloh, sama2 penumpang kok mau ngatur2! Saya nggak mau pindah!”

Merasa kesal, penumpang tadi mengadukan permasalahannya kepada salah seorang pramugari. Pramugari tersebut kemudian menghampiri penumpang Madura tsb..

Pramugari: “Maaf, Pak. Bisa saya lihat tiketnya?”
Madura: “Ini ni, tiket saya!”
Pramugari: “Maaf ya, Pak. Tempat duduk Bapak di sebelah sana, bukan di sini..”
Madura: “Loh, Sampeyan ini sapa?!”
Pramugari: “Saya pramugari di sini, Pak..”
Madura: “Pramugari itu apa?!”
Pramugari: “Pramugari itu yang melayani para penumpang pesawat..”
Madura: “Lha wong cuman pelayan aja kok mau ngatur2 saya! Saya ndak mau pindah!”

Pramugari yang pusing kemudian melapor kepada pilot karena merasa tak mampu meng-handle penumpang unik itu. Pilot pun kini langsung turun tangan...

Pilot: “Maaf ya, Pak. Bapak salah tempat duduk. Mestinya Bapak duduknya sebelah sana..”
Madura: “Sapa lagi sampeyan ini??!”
Pilot: “Saya pilot pesawat ini, Pak”.
Madura: “Pilot itu apa?!”
Pilot: “Yah, sederhananya yang ngemudikan pesawat..”
Madura: “Lah ini lagi, Sopir kok mau ngatur saya! Pokoknya saya mau duduk disini!!”

Penumpang, pramugari dan pilot pun dibuat bengong dengan sikap penumpang yang satu ini. Speechless, nggak tahu mau ngapain lagi.
Tapi dalam bengong tersebut, ada seorang penumpang dengan blangkon khas Jawa nya yang kebetulan dekat situ dan dari tadi menyaksikan kegagalan usaha ketiga orang sebelumnya untuk meminta penumpang madura tadi pindah dari kursinya. Penumpang Jawa itu kemudian beranjak dari kursinya mendekati penumpang madura tadi..

Jawa: “Nyuwun sewu, Pak. Bapak mau turun dimana?”
Madura: “Madura...!”
Jawa: “Oh, kalau yang turun di Madura duduknya sebelah sana, Pak”
Madura: “Oh gitu, toh? Ya udah saya takpindah kesana. Makasih ya, Mas!”

Akhirnya masalah pun teratasi dengan kebijaksanaan cara komunikasi penumpang Jawa itu.

Friday, June 19, 2009

Bersama Kita Bisa?

Seorang Pria mengendarai mobilnya di sebuah jalan yang sepi ketika salah satu bannya meledak, hingga mobilnya menjadi tak terkendali sampai terperosok ke parit di tepi jalan. Dia berusaha keluar tapi urung setelah menyadari dirinya berada di suatu tempat yang amat sepi. Dan saat dia mulai panik, seorang petani melewati jalan itu dengan seekor keledai, Gus namanya.

Petani itu mengikatkan satu ujung tali ke mobil dan satu ujung lagi ke leher Gus. Kemudian ia melecutkan cemetinya di udara dan berteriak:
“Yaaa, Sam! Tarik, Sam, tarik!”
Keledai itu tak bergerak. Sang petani melecutkan cemetinya lagi dan berteriak lebih keras:
“Yaaa, Jake. Tarik, Jake, tarik!”
Keledai itu masih tak bergerak. Sekali lagi, petani mengibaskan cemeti dan berteriak:
“Yaaa, Pete! Tarik, Pete, tarik!”
Gus masih belum bergerak. Dan kemudian petani itu melecutkan cemetinya dan berteriak lagi:
“Yaaa, Gus! Tarik, Gus, tarik!”
Sejenak kemudian, Gus menghentakkan salah satu kaki belakangnya, lalu bergerak ke depan dengan sekuat tenaga, menarik mobil itu keluar dari selokan. Hasilnya, beberapa saat kemudian, mobil itu sudah berada di jalan raya lagi. Pengendara mobil gembira, mengucap terima kasih, tapi tak habis pikir mengapa petani itu menyebut beberapa nama sebelum memerintahkan keledainya bergerak.

Ia bertanya, “Mengapa Anda memanggil semua nama tadi, wahai Petani?”
“Gus ini buta”, kata petani itu, “dan jika dia merasa harus sendirian menarik mobil Anda, dia tidak akan berusaha melakukannya. Tapi bila dia fikir ada yang membantunyya, dia lebih kuat daripada yang dia sadari.”

Sepertinya setiap orang punya naluri “keledai buta” dalam dirinya. Tinggal bagaimana seseorang bisa memanfaatkannya itu sehingga dapat digerakkan untuk mencapai tujuan.
Dalam “Imagine”, John Lenon mengatakan: “You may say that I’m a dreamer, But I’m not the only one”. Dia mengatakan itu ketika ingin meyakinkan setiap orang yang menginginkan kedamaian bahwa ia tidak sendirian.

Klub penggemar “The Reds” (Liverpool) punya slogan yang terkenal: “You’ll Never Walk Alone”. Bahkan slogan itu terpampang jelas di pintu gerbang markas Liverpool untuk menyemangati semua pemain dan official, dan tentunya semua fans, sekaligus juga sebagai strategi untuk menarik fans-fans baru.

Jadi, “bersama kita bisa” ini memang terbukti mujarab sebagai pendongkrak semangat, moral booster.
Tapi....kalau ditanya bisa apa? Jawabnya tergantung “si petani” nya. Mau dipakai untuk menolong mengeluarkan mobil yang terperosok, atau malah memerosokkan si Gus, keledai yang buta tadi. Tapi kita kan bukan keledai buta toh? Hehehe..

Sunday, June 14, 2009

Lanjutkan?!

Zona kenyamanan atau comfort zone adalah kondisi dimana seseorang merasa aman pada sebuah setting kondisi tertentu. Seseorang yang merasa berada dalam zona kenyamanan ini pada umumnya cenderung enggan untuk melakukan perubahan. Terdapat berbagai sebab dan alasan mengapa kelompok tersebut enggan melakukan perubahan, misalnya karena takut akan risiko kegagalan, takut posisinya akan terusik kalau terjadi perubahan, dan ketakutan-ketakutan lain yang menyebabkannya enggan untuk berubah.

Tapi sebenarnya perlu nggak sih kita berubah?


Allah SWT telah mengatakan dalam al-Quran suci bahwa Dia tidak akan mengubah nasib suatu kaum hingga mereka sendiri berusaha untuk mengubahnya. Ada keterkaitan kuat antara usaha untuk berubah dengan hasil yang akan didapat. Berharap hasil yang lebih baik tanpa melakukan perubahan dalam cara kita untuk meraihnya adalah sebuah angan-angan kosong.

C.K. Prahalad, seorang konsultan manajemen kondang, mengatakan “if you don’t change, you die!”. Kaizen, sebuah filosofi terkenal asal Jepang yang juga menuntut untuk senantiasa melakukan perubahan ke arah yang lebih baik (continuous improvement). Rheinald Kasali, juga berteriak “Change! Tak peduli berapa jauh jalan salah yang Anda jalani, putarlah sekarang juga!”.

Tapi tentu saja tidak semua perubahan adalah positif. Perubahan yang positif adalah perubahan ke arah yang lebih baik. Sang junjungan alam, Rasulullah SAW, dalam kaitan ini pernah mengatakan bahwa “Barang siapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin, sesungguhnya dia telah beruntung. Barang siapa yang hari ini sama dengan hari kemarin, maka sesungguhnya ia telah merugi. Dan barang siapa yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin, maka sesungguhnya ia terlaknat/celaka”.

Jadi kesimpulannya, Perubahan itu perlu bahkan harus, tapi harus perubahan yang positif. Tapi di lain pihak, pada umumnya manusia cenderung resisten terhadap apapun yang baru. Oleh karena itu kemudian implementasi perubahan tersebut membutuhkan pengelolaan yang baik, atau yang sering dikenal dengan manajemen perubahan (change management).

Manajemen perubahan (Change Management) adalah sebuah istilah yang mungkin sering kita dengar, tapi sering kurang diperhatikan ketika akan mengimplementasikan suatu hal yang baru pada suatu masyarakat/komunitas/organisasi/dsb. Padahal kesuksesan penerapannya sangat bergantung kepada pemilihan strategi yang tepat dalam manajemen perubahan ini. Apa sih sebenarnya manajemen perubahan itu?

Manajemen perubahan secara definisi adalah sebuah pendekatan terstruktur untuk melakukan perubahan pada individu-individu, komunitas, organisasi ataupun masyarakat sehingga memungkinkan transisi dari kondisi sekarang menuju ke sebuah kondisi tertentu yang diinginkan. Implementasi sebuah konsep/sistem memerlukan strategi manajemen perubahan yang baik dan perencanaan yang baik pula menyangkut semua pihak yang terkait (stakeholders) sedemikian sehingga objektif dari perubahan tersebut dapat tercapai dengan sukses.

Salah satu tahapan penting dalam manajemen perubahan adalah menetapkan strategi dan langkah-langkah yang perlu dilakukan untuk menerapkan perubahan yang ditawarkan sehingga tujuan yang diinginkan dapat tercapai. Ada banyak strategi dalam manajemen perubahan, namun pada dasarnya merupakan kombinasi dari alternatif strategi berikut ini:
Pertama, pendekatan Empirical-Rational
Strategi ini akan tepat jika diasumsikan bahwa pihak-pihak yang terkait adalah orang-orang yang rasional dan akan mengikuti apa yang menurutnya paling baik.

Kedua, Normative-Reeducative
Strategi ini tepat jika diasumsikan bahwa pihak-pihak yang terkait adalah orang-orang yang sosial dan patuh terhadap norma-norma dan nilai-nilai kultural.

Ketiga, Power-Coercive
Strategi ini tepat jika diasumsikan bahwa pihak-pihak yang terkait termasuk orang-orang yang penurut dan secara umum mau melakukan apa yang diperintahkan atau dapat ”dipaksa” untuk melakukannya.

Keempat, Environmental-Adaptive
Strategi ini tepat jika diasumsikan bahwa pihak-pihak yang terkait telah merasakan kerugian dan keburukan konsep/sistem lama tapi lingkungan dimana mereka berada sudah susah diperbaiki. Mereka telah siap untuk beradaptasi dengan sistem yang baru.

Pertimbangan pemilihan strategi tersebut di atas bisa terdiri atas banyak hal, diantaranya besar kecilnya perubahan, tingkat resistensi, populasi, kerangka waktu, kualitas personal, dll. Tapi yang pasti, setiap strategi perubahan yang baik tidak pernah tunggal. Dia selalu merupakan kombinasi antara alternatif strategi-strategi yang ada.

Seorang manajer Teknologi Informasi di sebuah perusahaan besar di Indonesia pernah bercerita kepada saya, “Perusahaan ini aneh! Masak iya, ada seorang direktur merasa tersinggung karena saya mengirim laporannya via e-mail?!”. Ini adalah salah satu contoh riak kecil ketika perubahan sistem dan mekanisme tidak diikuti dengan manajemen perubahan yang baik. Lebih ironis lagi dalam kasus ini sang pemimpin sendiri yang tidak ingin berubah. Dia masih betah di comfort zone nya.

Adalah tugas seorang pemimpin untuk memimpin umat, masyarakat, atau komunitas yang dipimpinnya senantiasa untuk mau segera berubah ke arah yang lebih baik. Adalah tugasnya untuk senantiasa mendorong komunitas yang dipimpinnya untuk bersemangat melakukan perubahan ke arah yang lebih baik. Adalah tidak baik jika seorang pemimpin justru menakut-nakuti komunitas yang dipimpinnya terhadap perubahan hanya karena keinginannya untuk tetap lanjutkan posisinya sebagai pemimpin.

Perubahan ke arah yang memiliki potensi lebih baik, perlu didorong oleh semua pihak, terutama oleh para pemimpin. Bagi komunitas yang dipimpin hal ini juga dapat dijadikan kriteria untuk mengevaluasi pemimpinnya. Evaluasi terus bagaimana sikap pemimpin atau calon pemimpin terhadap perubahan ke arah yang lebih baik.

Jadi, selamat Lanjutkan (evaluasinya)!! Lebih cepat, lebih baik.