Monday, February 13, 2012

YAHUDI PEMBELA PALESTINA

oleh: Abdillah Toha
(Kata Pengantar buku "Gilad Atzmon", karya Buya Syafi'i Ma'arif)

Dalam suatu kolom di sebuah media online Israel, seorang penulis mengingatkan bahaya dari orang-orang keturunan Yahudi yang kritis terhadap Israel. Orang-orang itu digambarkan sebagai membahayakan hari depan dan eksistensi Israel. Beberapa nama keturunan Yahudi disebut dalam tulisan itu.


George Steiner, seorang kritikus sastra terkenal di dunia mempertanyakan hak hidup negara Israel. Eric Hobsbawm, ahli sejarah terkemuka, mendukung gerakan Intifada kedua dan membenarkan alasan Palestina untuk merdeka. Begitu pula sejarawan Amerika keturunan Yahudi, profesor Norman Finkelstein, berkali-kali menulis dan muncul di TV membela Palestina dan bahkan mendukung secara terang-teragan gerakan Hizbullah di Lebanon.

Finkelstein yang kedua orang tuanya menjadi korban kekejian Hitler, tidak peduli dan terus berbicara terbuka bahkan setelah kelompok pro Zionis Amerika akhirnya berhasil menghasut dan meyebabkan dipecatnya beliau pada tahun 2007 dari Universitas DePaul, tempat dia mengajar.

Richard Falk, profesor bidang hukum di Princeton University, adalah orang yang pernah menuduh Israel sedang dan berencana memberikan hukuman kolektif kepada warga Palestina di Gaza layaknya Nazi. Ia menuduh banyak kejanggalan peristiwa pemboman World Trade Center 11 September 2001, dan bukan tidak mungkin Bush dan kelompoknya terlibat. Falk yang keturunan Yahudi dan penulis lebih dari 20 buku, menantang pendapat umum Amerika yang menyerang Ayatullah Khomeini dan mengatakan bahwa Khomeini adalah pemimpin revolusi damai yang tepat untuk negerinya.

Sebagai komisioner Dewan HAM PBB yang ditugaskan melakukan investigasi pelanggaran HAM Israel di Gaza ia membuat pernyataan bahwa pemboman brutal dan tidak pandang bulu Israel atas Gaza pada Desember 2008 merupakan kejahatan kemanusiaan, dan bahwa pemimpin serta komandan tentara Israel patut diseret ke pengadilan pidana internasional.

Diluar itu masih ada Noam Chomsky yang dianggap sebagai “intellectual godfather” dari pemikiran anti Israel, dramawan pemenang Nobel Harold Printer, sutradara Inggris Ken Loach dan Mike Leigh, sejarawan Ilan Pappé, akademisi suami isteri Stephen dan Hillary Rose dan masih banyak lagi. Di Paris, pengarang best seller keturunan Yahudi Stepahane Hassel dikenal luas sebagai pengarang yang kritis terhadap Israel.

Ada pula organisasi dan penerbitan yang dikelola oleh keturunan Yahudi yang anti Zionis. Majalah Tikkun dibawah kendali Michael Learner dianggap oleh penguasa Israel sebagai majalah yang sangat berbahaya bagi Israel. Begitu pula ada puluhan Yahudi yang mengelola beberapa LSM tertentu, aktif mengampanyekan boikot dan sangsi terhadap Israel.

Gilad Atzmon yang riwayatnya dipaparkan dengan sangat menarik oleh Buya Syafii Maarif di buku ini, hanyalah salah satu dari banyak keturunan Yahudi yang makin sadar bahwa eksistensi dan perilaku rezim Israel di tanah Palestina melanggar semua hukum moral, kemanusiaan, internasional dan bahkan hukum agama mereka. Inilah orang-orang pemberani dan berprinsip yang melawan arus besar penguasa, media, korporasi, politisi, intelijen, dan opini publik Barat yang dibentuk dan diintimidasi oleh lobi-lobi Israel dengan dukungan kekuatan keuangan raksasa.

Dapat dimengerti bila Israel sangat khawatir terhadap makin banyaknya warga keturunan Yahudi yang kritis. Kekhawatiran ini seakan-akan membutikan apa yang diutarakan oleh Henry Ford dalam bukunya “ The International Jew”. Disitu Ford antara lain mengatakan bahwa “ terdapat perasaan yang berurat akar dalam diri non-Yahudi bahwa Yahudi adalah ‘bangsa terpilih’ dan berbahaya jika mereka dilawan...”. Ford melanjutkan “Ketakutan terhadap Yahudi elemen yang sangat riil, sama riilnya dengan ketakutan Yahudi terhadap Yahudi sendiri”

Karena pengaruh lobi-lobi Israel sangat kuat di Amerika dalam menetukan siapa yang akan menjadi presiden atau anggota Kongres Amerika, banyak politisi Amerika berebut simpati Israel, kadang-kadang sangat berlebihan. Calon presiden partai Republik Amerika Mitt Romney mengatakan dalam kampanye pendahuluan bahwa negara pertama yang akan dikunjunginya jika terpilih adalah Israel. Ada lagi calon lain Newt Gingrich yang sempat menyatakan bahwa bangsa Palestina itu sebenarnya tidak pernah ada dalam sejarah.

Dalam suatu perjumpaan saya dengan anggota Kongres Amerika beberapa tahun yang lalu, anggota itu dengan berbisik mengatakan kepada saya bahwa mengeritik Israel adalah tabu dalam kehidupan politik Amerika. Bila tidak ingin terjungkal dari kursinya, setiap politisi harus mendukung Israel tanpa reservasi.

Namun demikian, saat ini, walau perlahan, sudah tampak gejala-gejala perubahan sikap di Amerika dan negara Barat lainnya. Kelompok peserta kapal kemanusiaan Flotilla yang berlayar ke Gaza beberapa kali melawan hadangan Israel berisi banyak tokoh-tokoh intelektual dan aktivis Barat. Baru saja ada berita bahwa kelompok Occupy Wall Street merencanakan akan menduduki kantor pusat AIPAC, sebuah oraganisasi lobi Israel yang sangat ditakuti politisi.

Buku terkenal “The Israel Lobby And U.S. Foreign Policy” yang ditulis oleh dua profesor kenamaan Amerika dari University of Chicago dan Harvard University, Mearshsheimer dan Walt, sempat mengguncang kalangan akademisi dan publik disana karena buku itu menyodorkan bukti-bukti bahwa dukungan membabi buta Amerika kepada Israel selama ini telah merugikan kepentingan nasional Amerika.

Makin lama orang makin sadar bahwa Israel adalah negara yang dipaksakan oleh Barat di Timur Tengah dan bahwa eksitensi Israel dan perilakunya selama ini merupakan ancaman utama terhadap perdamaian dunia.

Identitas Yahudi
Siapakah Yahudi itu sebenarnya? Apakah ada bangsa yang disebut sebagai bangsa Yahudi? Banyak sekali tulisan dan penelitian yang mencoba menjawab pertanyaan itu. Bagi banyak orang Yahudi, berdasarkan hukum fiqih mereka (halakha), siapapun yang dilahirkan dari rahim seorang ibu Yahudi maka dia adalah Yahudi, apapun agama dan budayanya.

Pihak lain mengatakan bahwa Yahudi itu sebenarnya bukanlah bangsa tetapi agama. Jadi, seperti di Malaysia dimana siapa saja, tidak pandang rasnya, bila beragama Islam dianggap Bumi Putera (Melayu), maka siapa saja yang menganut agama Yahudi dianggap sebagai Yahudi.

Ada tiga jenis identitas Yahudi. Pertama Yahudi sebagai agama seperti diuraikan diatas. Belum lama ini kelompok Yahudi Ortodoks yang menentang eksistensi Israel karena dianggap bertentangan dengan buku suci mereka, mendatangi Ron Paul, calon presiden Partai Republik Amerika, dan memintanya untuk tidak mendukung Israel karena katanya Yahudi adalah agama dan bukan kebangsaan. (“Judaism is a religion and it should never be transformed into nationalism”).

Yahudi sebagai ras atau etnis juga dibela oleh banyak pihak berdasarkan argumen historis dan hukum agama yang mereka yakini seperti diuraikan diatas. . Terakhir, Yahudi sebagai sebuah budaya dilihat dari bahasa, makanan khas mereka, adat dan kebiasaan sehari-hari yang membedakan mereka dari etnis lain.

Yahudi sangat beragam. Setelah terusirnya mereka dari tanah asalnya ribuan tahun yang lalu, bangsa Yahudi mengembara kemana-mana dan awalnya banyak berpindah dan bermukim di negeri-negeri di di Timur Tengah dan Afrika Utara. Karena itu, bahasa merekapun juga sangat beragam sampai mereka mendirikan Israel dan menggunakan bahasa Hebrew sebagai bahasa nasional.

Yahudi juga membagi ras mereka kedalam beberapa kelompok atas dasar tempat tinggal asal mereka. Paling sedikit ada tiga kelompok, yakni Yahudi Ashkenazim (Germanic) yang berasal dari Jerman dan sekitarnya, Yahudi Sephardim (Hispanics) yang berasal dan bercampur dengan darah Spanyol, serta Yahudi Mizrahim (Asiatics) yang berasal dari Timur dan Asia. Kelompok yang belakang ini dan kelompok Yahudi hitam asal Afrika dikabarkan diperlakukan secara diskriminatif karena warna kulit mereka oleh penduduk Israel yang didominasi oleh Yahudi asal Eropa.

Secara politis, dan ini merupakan topik utama dalam buku ini, Yahudi terbelah menjadi Yahudi Zionis pendukung negara Israel dan Yahudi non Zionis yang kritis, tercerahkan, dan menolak Zionisme. Walaupun kelompok Yahudi pendukung Israel masih merupakan mayoritas di dunia, kelompok yang kritis dan menentang Zionisme makin hari makin meningkat. Kelompok yang belakang ini melihat jauh kedepan dan sadar bahwa tingkah laku rezim Zionis saat ini dalam jangka panjang akan merugikan dan menghancurkan diri orang Yahudi sendiri.

Tidaklah salah bila atas pertanyaan Buya Syafii, Atzmon dengan optimis menjawab bahwa nantinya akan makin banyak para penentang Israel baik dari luar maupun lingkungan dalam Yahudi.

Isarel, Yahudi, dan Islam
Dari perspektif kita, sebagai orang beragama, termasuk mayoritas bangsa Indonesia yang beragama Islam, kita harus pandai-pandai menarik garis antara Israel beserta Yahudi Zionis di satu pihak dan bangsa Yahudi sebagai ras umumnya dilain pihak. Mengecam atau mengutuk Israel tidak boleh disambung dengan mengutuk Yahudi sebagai ras. Disampaing Islam tidak membenarkan diskriminasi ras, mengutuk Yahudi berarti kita menyamaratakan semua Yahudi di dunia. Padahal, seperti kita lihat diatas, banyak dan makin banyak bangsa Yahudi yang kritis dan menolak Zionisme.

Sebagian pengamat dan politisi Barat seperti politisi ekstrim kanan Belanda Geert Wilders menuduh Qur’an sebagai sumber kebencian Islam terhadap Yahudi. Dia menunjukkan ayat-ayat al-Qur’an tertentu yang mengecam Yahudi. Pemahaman demikian ini juga terdapat dikalangan sebagian Muslim bahwa bagaimanapun Yahudi adalah ras yang terkutuk.

Pemahaman demikian jelas keliru. Bila seorang Muslim menganut pemahaman demikian, maka sebenarnya dia bukanlan Muslim sejati karena salah satu inti ajaran Islam adalah mengakui pluralitas manusia seperti ditunjukkan dalam beberapa ayat Qur’an. Islam tidak memaksakan agamanya kepada orang lain dan toleran terhadap penganut agama lain. Islam dan Alqur’an mengakui penganut agama Yahudi sebagai ahlul kitab yang diakui sebagai agama yang sah.

Para ahli tafsir sepakat bahwa kritik dan kecaman Alqur’an terhadap Yahudi ditujukan kepada kelompok Yahudi tertentu, pada waktu tertentu dan tempat tertentu dalam sejarah. Mereka yang dikecam adalah yang diangap telah berdosa, mengganggu, dan meninggalkan kebenaran yang dibawa oleh nabi-nabi utusan Allah pada zamannya serta tidak bersyukur atas karunia yang diberi Allah. Qur’an tidak pernah mengutuk ras Yahudi secara umum, apalagi agama Yahudi.

Sejarah juga menunjukkan berkali-kali bahwa ketika orang-orang Yahudi dikejar-kejar oleh musuhnya, mereka lari ke negeri berpenduduk Muslim untuk perlindungan. Piagam Madinah memberikan perlindungan dan kebebasan bagi penduduk Yahudi di Madinah untuk menjalankan ibadah sesuai keyakinannya. Di Andalusia, kaum Muslim, Yahudi, dan Kristen hidup berdampingan selama berabad-abad, di bawah naungan kekuasaan Islam. Tidak ada pemaksaan kepada kaum Yahudi dan Kristen untuk masuk ke dalam agama Islam. Dalam sejarah modern pada Perang Dunia Kedua, Muslim Albania mengambil risiko besar dengan melindungi kaum Yahudi dari kejaran Nazi.

Bagaimana mungkin kita mengutuk Yahudi sebagai ras bila kita tahu bahwa banyak Yahudi yang memeluk Islam seperti Maryam Jameelah (Margaret Marcus), Yusuf Khattab (Joseph Cohen) dan lainnya. Di Israel sendiri tiap tahun ada sejumlah orang Yahudi yang berpindah agama dari Yahudi menjadi Islam, baik karena perkawinan atau karena keyakinan.

Agama Yahudi juga menunjukkan lebih banyak persamaan dengan Islam dibanding dengan agama lain, utamanya dalam keyakinan monotheismenya. Seperti juga Islam, penganut agama Yahudi dilarang mengkonsumsi daging babi, bagi yang pria diharuskan sirkumsisi (sunat), dan ada sebuah video yang menunjukkan cara beribadah mereka yang mirip dengan cara sholat orang Islam.

Masa Depan Israel
Karena “rasa bersalah” Barat atas perlakuan mereka terhadap bangsa Yahudi di Eropa, terutama pada Perang Dunia kedua dengan holocaustnya, Barat memberikan “kompensasi” kepada Yahudi Eropa dengan menyediakan tempat bagi sebuah negara Yahudi. Tempat itu bukannya di Eropa dimana mereka diperlakukan buruk, tetapi dicangkokkan di tanah Palestina nun jauh dengan mengusir penduduk aslinya.

Bertahun-tahun kemudian terjadi konflik berdarah dan selama itu Israel selalu unggul. Belakangan situasi berubah mulai dengan perang Sinai melawan serdadunya Anwar Sadat di tahun 1973 yang menghasilkan kesepakatan Camp David dengan kembalinya Gurun Sinai ke Mesir. Kemudian dua kali Israel terusir dari Lebanon pada tahun 2000 dan tahun 2006 oleh tentara Hizbullah. Sejak itu Israel sudah tidak lagi dianggap sebagai kekuatan yang tak terkalahkan. Paling dia akan mengandalkan pemboman jarak jauh dari udara seperti yang dilakukannya secara brutal terhadap Gaza di penghujung tahun 2008.

Dengan perkembangan baru gerakan rakyat untuk demokratisasi di Timur Tengah sejak awal tahun 2011, hampir dipastikan sikap resmi negara-negara Arab akan berubah menjadi lebih independen dan cenderung tidak menguntungkan Israel. Tanda-tanda kelompok pemenang dalam pemilu di Tunisia dan Mesir menunjuk kepada kelompok yang bersikap keras terhadap Israel.

Perkembangan media alternatif di internet juga telah membantu tersebarnya berita-berita kekejaman dan ketidak-adilan rezim Israel. Perlahan tapi pasti masyarakat di Barat mulai sadar akan kesalahan pemerintah mereka dalam berpihak secara membabi buta kepada Israel. Krisis ekonomi Amerika yang antara lain disebabkan oleh petualangan militernya di Irak dan Afghanistan dan runtuhnya kepercayaan kepada mata uang Euro sebagai akibat dari krisis fiskal di Eurozone, semua ini membuat Amerika dan Eropa cenderung lebih memusatkan perhatiannya ke perbaikan ekonomi dalam negeri daripada terus terusik oleh manuver-manuver Israel di Timur Tengah.

Dalam sebuah wawancara dengan majalah Counterpunch tahun 2008, Ilan Pappé, menjawab pertanyaan apakah dia percaya bahwa nafsu berperang Israel pada saatnya nanti akan berarti kehancuran Israel, dia menjawab “ Benar, saya berpendapat agresifitas Israel bukan hanya berakibat dimusuhinya Israel oehh negara-negara berpenduduk Islam tetapi juga oleh negeri-negeri lain. Keseimbangan militer yang saat ini berada ditangan Israel akan berubah setiap saat, terutama ketika Amerika menarik dukungannya”.

Amerika akan menarik dukungannya kepada Israel, menurut Pappé, ketika kebijakan luar negerinya di Timur Tengah gagal karena jatuhnya sekutu utama mereka disana, atau karena perubahan drastis politik luar negeri Eropa terhadap Israel. Didalam negeri, sikap Amerika akan berubah bila terjadi krisis ekonomi besar dan bila koalisi kekuatan masyarakat madani disana berhasil membuat dampak politis yang signifikan.

Noam Chomsky menambahkan “saya pernah menulis beberapa puluh tahun yang lalu bahwa mereka yang menyebut dirinya sebagai ‘pendukung Israel’ sebenarnya adalah pendukung dari keruntuhan moral dan kehancuran Israel pada saatnya nanti”.

Gilad Aztmon, seperti digambarkan oleh Buya Syafii dalam buku ini, tidak percaya kepada penyelesaian setengah-setengah konflik Israel-Palestina. Satu-satunya jalan keluar yang akan menjamin perdamaian jangka panjang adalah solusi satu negara dimana kedua bangsa bermukim dibawah persamaan hukum dan suatu pemerintahan yang berdasarkan kedaulatan rakyat. Bukan dua negara. Apalagi dua negara dengan konsep yang diinginkan oleh Barat dimana Palestina hanya akan menjadi negara “Bantustan” yang perbatasannya terpisah oleh kawasan Israel ditengah-tengah dan tiap kali warganya akan berkunjung ke kawasan lain didalam negerinya harus melewati pos jaga Israel.

Seperti juga Pappe dan Chomsky yang keturunan Yahudi, Atzmon dan juga banyak Yahudi non Zionis lainnya yakin bahwa sikap dan perilaku Israel saat ini jika dibiarkan terus justru akan membawa kehancuran kepada Israel dan berbahaya bagi kehidupan bangsa Yahudi. Lebih gawat lagi, Israel yang memiliki senjata pemusnah masal bisa memicu perang dunia ketiga dengan konsekwensi yang tak terbayangkan.

Kita tahu persis bahwa menunggu sampai mayoritas warga Israel sadar akan kekeliruan cara berpikirnya akan sangat berisiko. Tekanan dari semua penjuru, termasuk warga Yahudi yang berpikiran jernih dan bermoral diperlukan untuk menyadarkan Israel beserta ideologi Zionismenya. Pilihannya jelas. Berubah arah untuk menciptakan perdamaian dunia yang langgeng atau membawa Israel dan mungkin umat manusia ke penghancuran diri. Buku tentang Gilad Atzmon ini akan bisa lebih menjelaskannya dengan lebih baik. Selamat membaca.

Jakarta,
Januari 2012