Saturday, December 19, 2009

Tak ada tukang taman, tak ada taman..

Alkisah, seorang pengusaha sukses, sebut saja Fred namanya, baru pindah ke rumah barunya. Dia punya impian untuk memiliki sebuah taman indah di rumah barunya. Oleh karena itu dia memutuskan untuk menggunakan jasa konsultan pertamanan yang juga temannya untuk merancang taman di rumah barunya itu. Temannya ini cukup terkenal sebagai konsultan pertamanan yang handal.

Sebagai pengusaha yang cukup sukses, Fred terhitung sangat sibuk sehingga praktis tidak punya waktu yang cukup untuk merawat pekarangannya. Oleh karena itu dia minta ke temannya yang konsultan pertamanan itu agar menciptakan taman yang sedemikian rupa shg hanya butuh sesedikit mungkin perawatan. Antara lain dia minta ada alat penyiram otomatis dan peralatan otomtatis lain yang memungkinkan semuanya jalan sendiri tanpa perawatan. Pendek kata, yang dia fikirkan adalah bagaimana caranya punya taman yang indah tanpa perawatan.

Setelah mendengarkan dengan seksama ocehan Fred tentang spesifikasi kebutuhan tamannya itu, Akhirnya sang konsultan itu kemudian berkomentar, “Fred, saya dapat memahami apa yang kau katakan. Tetapi ada satu hal yang perlu kau pahami sebelum kita melangkah lebih jauh: Bila tak ada tukang taman, tak ada taman!

Mungkin banyak diantara kita yang bermimpi untuk mengandalkan taman (baca: bisnis, organisasi, keluarga, hidup...) pada sesuatu yang bersifat otomatis dan instan. Kemudian berharap munculnya hasil akhir yang dahsyat.

Tetapi kehidupan tidaklah berjalan seperti itu. Kita tidak dapat begitu saja menyebar sedikit benih, lalu pergi, dan melakukan apa pun yg kita mau, kemudian berharap bahwa di kemudian hari ketika kembali, kita menemukan kebun yang indah dan tumbuh subur, siap untuk menghasilkan panen buah dan sayur2an untuk memenuhi keranjang kita. Kenyataannya tidak demikian. Kita harus menyiram, memelihara, dan menyiangi secara berkala, kalau kita berharap dapat menikmati hasil panennya.

Bagaimanapun setiap usaha akan memberi hasil. Segala sesuatu akan tumbuh. Tetapi tanah itu akan menjadi kebun yang indah atau semak belukar perbedaannya ditentukan oleh keterlibatan dan kelalaian kita sebagai tukang kebun atau tukang taman.

Catatan sederhana ini saya tulis diilhami oleh sebuah pembicaraan dengan seorang teman beberapa hari lalu, yang mengklaim bahwa buah jagung yang didapat saat ini adalah dari benih padi yang dia dulu pernah tinggalkan dengan keterlibatan seadanya dalam memeliharanya. Oleh karena itu buah jagung itu adalah miliknya, katanya.

Saya tidak mau membiasakan diri untuk bermain klaim. Saya hanya berusaha melakukan apa yang dimintakan oleh si pemilik lahan saja. Saya bukan mbok Minah yang mengambil 3 kakao untuk bibit dari lahan orang. Saya juga tidak berniat melupakan ada kontribusi teman. Menurut saya, apa yang dituai mesti sesuai dengan kontribusinya.

Tapi ala kulli hal, saya juga tidak mau ngotot untuk berebut buah itu dengan mengorbankan kotornya hati ini. Jika Anda berniat untuk bekerja sama, mari kita kerja sama dan menuai hasilnya bersama sesuai dengan kontribusi kita masing-masing. Jika anda menuntut yang lebih dari kontribusi Anda, silahkan Anda kerjakan sendiri. Jika anda memilih untuk keras, mari kita tanyakan kepada pemilik lahan.

Kalau boleh memilih dan kalau ini merupakan tindakan yang bertanggung-jawab, sebenarnya saya mungkin akan lebih memilih untuk mencari lahan lain untuk saya tanam, pelihara dan tuai hasilnya nanti. Bukankah Allah mengatakan bahwa bumi-Nya ini sangat luas, Kawan?

Haihat..Haihata min ad-dzillah! Pantang Hina!


Wednesday, December 9, 2009

Talking About Bakat

“Apa bakat Bapak?”, tanya rekan saya yang konsultan SDM kepada salah seorang pegawai bank dalam acara penjelasan assessment SDM Teknologi Informasi. Tak ada jawaban yang muncul dari pegawai tersebut, selain senyum-senyum dan tengok kanan-kiri. Lalu pertanyaan yang sama ditanyakan kepada para peserta acara tersebut lainnya. Dan tak ada jawaban dari para peserta kecuali beberapa gelintir orang yang berkata secara sporadis sambil senyum2: “Menyanyi..Olah raga..!”.

“Ada yang bisa bantu saya lagi menjawab apa bakat bapak ibu sekalian?”, lanjut teman saya itu mencoba memancing para peserta untuk berfikir apa bakat yang dimilikinya. Dan tak ada lagi jawaban yang keluar dari mulut puluhan peserta acara tersebut kecuali gemuruh suara para peserta yang saling mentertawakan teman-temannya karena sama-sama tak bisa menjawab apa bakatnya sendiri.

Ketika ditanyakan apakah definisi bakat, beragam pula jawabannya. Dan memang bakat ini didefinisikan secara beragam oleh berbagai ahli. Tapi secara umum, bakat dapat didefinisikan sebagai kemampuan potensial yang ada dalam diri seseorang untuk melakukan suatu jenis aktifitas tertentu, baik ia sudah dikembangkan ataupun belum.

Dalam hal pengembangan bakat ini ada sebuah perdebatan klasik yang menarik antara “Nature” versus “Nurture”. Perdebatan ini berkaitan dengan mana yang lebih penting antara bakat (nature) dengan penempaan/pelatihan (nurture) dalam hal pengembangan seseorang. Tentu saja keduanya penting untuk menghasilkan kemampuan kinerja pada suatu bidang/jenis aktifitas tertentu. Yang menjadi permasalahan berikutnya adalah manakah yang perlu dijadikan fokus penempaan, bagian kekuatan bakat kita atau sisi kelemahannya.

Kebanyakan orang akan menjawab bahwa kelemahanlah yang perlu menjadi fokus penempaan sehingga ia tidak lagi menjadi kelemahan lagi. Tapi tepatkah jawaban tersebut?

Salah satu lembaga yang melakukan survey untuk menemukan jawaban ini antara lain adalah Gallup, sebuah lembaga survey terkemuka dunia. Gallup melakukan survey terhadap bakat “membaca cepat” (speed reading) pada populasi tertentu yang ditentukan. Hasil survey pertama mengatakan bahwa kecepatan paling rendah adalah sekitar 90 kata per menit, dan yang tercepat adalah 350 kata per menitnya. Apa langkah terbaik yang harus dilakukan untuk meningkatkan kemampuan membaca cepat dari para peserta itu? Sebagian besar dari orang yang ditanya akan menjawab bahwa melatih peserta dengan kecepatan baca 90 kata per menit akan lebih mungkin menghasilkan signifikansi peningkatan ketimbang yang 350 kata/menit. Karena dalam bayangan kita masih ada rentang improvement yang cukup besar dari 90 kata/menit, sementara yang 350 kata/menit sepertinya sudah mendekati mentok.

Setelah dilatih metode speed reading yang baik, peserta yang semula memiliki kecepatan 90 kata/menit dapat berhasil ditingkatkan menjadi 140 kata/menit. Wah, bagus dong?!

Iya, bagus. Tapi bagaimana kalau yang dilatih speed reading adalah peserta yang sudah 350 kata/menit? Ternyata hasilnya adalah 6.000 kata/menit!! Jauh lebih menakjubkan, bukan?

Kenyataan hasil survey-survey yang sejenis ini kemudian mengarahkan kepada pengembangan pendekatan pengembangan SDM baru yang berbasis kekuatan (strenght-based approach). Kekuatan ini diidentifikasi sebagai bakat alamiah. Pendekatan ini menggantikan pendekatan yang sejak lama banyak digunakan yaitu deficit-based approach.

Paradigma Nature (lawannya nurture) meyakini bahwa bakat terbentuk sejak 60 hari sebelum manusia dilahirkan sampai dengan 14-16 tahun, dan sulit untuk berubah setelahnya. Diketahui bahwa setiap manusia dipastikan memiliki bakat atau karakter yang berbeda-beda. Oleh karena itu, daripada membuang-buang waktu dengan memberikan pelatihan yang ditujukan untuk memperbaiki kelemahan, akan lebih baik bila kita berfokus pada pengembangan KEKUATAN untuk mendapatkan hasil terbaik dan mensiasati KELEMAHAN yang ada.

Sang Maha Pencipta tidaklah menciptakan semua manusia dalam keadaan yang sama, dan tidak membekali potensi yang sama bagi semua bidang kepada setiap manusia. Untuk memutar roda-roda kehidupan, Dia menciptakan beberapa individu dengan potensi talenta yang khusus, agar setiap individu meniti sebuah jalan yang sesuai dengan talentanya dan melakukan aktifitas-aktifitas yang terpancar dari kecenderungan batin dan kekuatan fitrinya.

Seperti kata sebuah pepatah bijak: setiap rahasia memuat keindahan, beruntunglah orang yang menemukan talentanya!

Sungguh beruntunglah orang yang memupuk potensi-potensi baiknya, Qad aflaha man zakkaaha.

So, apa bakat kita? Apa bakat anak-anak kita? Oh God, guide me please.

Saturday, October 31, 2009

The Delay Country

Siang itu, saya menunggu di ruang tunggu airport balikpapan ketika mendengar pengumuman bahwa pesawat yang saya akan saya tumpangi mengalami keterlambatan (DELAY) cukup signifikan (sekitar 2 jam, seingat saya). Para calon penumpang pun jelas kecewa mendengar informasi tersebut. Maskapai plat merah yang punya cita-cita menjadi maskapai kelas dunia dengan keramahan khas Indonesia ini kemudian berusaha menghibur calon penumpangnya dengan memberi sekotak snack. Alasan keterlambatan katanya karena masalah teknis. Hmmmm....keramahan khas Indonesia?

Kemarin kebetulan saya menggunakan maskapai yang sama untuk tujuan yang lain. Kali ini saya diburu waktu untuk mengejar penguburan jenazah nenek yang meninggal di Solo. Saya ketiban sial lagi mendengar pengumuman DELAY pesawat, tapi kali ini tidak ada sekotak snack yang datang sebagai “penghibur” yang tidak berarti. Alasan keterlambatannya katanya karena pesawat yang terlambat datang dari Palembang. Hmmm...khas Indonesia?

Di perjalanan saya baca koran yang disediakan. Lembar demi lembar berita yang ada dalam koran itu sepertinya kok hampir tidak ada berita yang positif. Headline koran tentunya masih seputar berita penahanan pimpinan KPK non-aktif yang kontroversial itu. Sementara, entah kenapa, penahanan sang koruptor sendiri malah di-DELAY.
Saya teringat juga bahwa pada hampir setiap ada bencana, bantuan terhadap korban selalu ter-DELAY dengan alasan yang begitu beragam.

Saya juga teringat banyaknya program pemerintah yang DELAY karena alasan-alasan yang luar biasa kreatifnya. Hebatnya lagi, bukannya minta maaf dan mengakui kesalahan atau setidaknya memberikan “snack penghibur”, mereka seperti tidak merasa melakukan kesalahan apapun dan melontarkan sejuta pernyataan2 apologis, bahkan tak jarang memutar-balikkan esensinya.

Wah, sepertinya saya saat ini sedang berada di negeri yang penuh dengan DELAY. Oh ya, waktu saya berjalan untuk masuk ke pesawat yang DELAY tadi, saya melihat di badan pesawatnya tertulis “Visit Indonesia Year 2009”. Celetukan spontan saya waktu itu adalah “mudah2an program itu juga nggak ikut ter-DELAY”. Belakangan saya baru tahu bahwa ternyata program ini awalnya adalah program tahun 2008 (lihat gambar). Hmmm...Yes, I am in the DELAY Country.

Thursday, September 17, 2009

Muwaddaa’Ya Syahru Ramadhan

… Ya Allah, Engkau jadikan bulan Ramadhan bulan yang istimewa, yang Engkau muliakan Dia dari semua bulan. Engkau pilih ia dari semua zaman dan masa. Engkau lebihkan ia dari semua waktu (lainnya) dalam setahun, dengan al-Qur’an dan cahaya yang Engkau turunkan di dalamnya, dengan keimanan yang Engkau tingkatkan di dalamnya, dengan puasa yang Engkau wajibkan di dalamnya. Dengan bangun malam yang engkau gemarkan di dalamnya,
dengan malam Qadar -- yang lebih dari seribu bulan -- yang Engkau agungkan di dalamnya. … Maka kami berpuasa atas perintah-Mu pada waktu siangnya, kami bangun dengan bantuan-Mu pada malam harinya, mempersembahkan diri kami dengan puasa dan shalat-malamnya ….

Melalui itu, kami memperoleh pahala-Mu. Kau kaya dengan apa pun yang diinginkan dari-Mu. Kau pemurah dengan apa yang diminta dari karunia-Mu. Kau dekat dengan orang yang berusaha mendekati-Mu.

Tiba-tiba bulan ini meninggalkan kami pada akhir waktunya, pada batas jangkanya, pada akhir lintasannya. Kami ingin mengucapkan selamat tinggal padanya. … (dia) yang menyedihkan kami perpisahan dengannya, merisaukan dan mendukakan kami kepergiaannya.

Kami sampaikan salam bagimu wahai bulan Allah yang agung, wahai hari raya para kekasih-Nya. Salam bagimu wahai waktu termulia yang menyertai kami. Wahai bulan terbaik di antara semua hari dan saat. Salam bagimu bulan yang di dalamnya harapan didekatkan, amal disebarkan. Salam bagimu sahabat yang paling bernilai ketika dijumpai, dan paling menyedihkan ketika ditinggalkan. Kawan yang ditunggu, yang menyedihkan perpisahan dengannya. … Salam bagimu wahai jiran, yang bersamanya hati melembut dan dosa berkurang. Salam bagimu penolong yang membantu kami menghadapi setan, dan memudahkan bagi kami jalan-jalan kebaikan.

Salam bagimu, betapa banyak orang yang terbebas (dari dosa-dosa) di dalammu. Betapa bahagianya orang yang menjaga kesucianmu … Salam bagimu, betapa banyak dosa yang kamu hapuskan. Betapa banyak aib yang kamu tutupi. Salam bagimu, betapa panjangnya hari-harimu bagi pendosa, betapa agungnya kamu bagi orang yang beriman. Salam bagimu bulan yang tak tertandingi oleh hari-hari mana pun. Salam bagimu bulan yang di dalamnya sejahtera segalanya. Salam bagimu duhai yang pershabatannya tidak dibenci. Duhai yang pergaulan dengannya tidak tercela. (Kami panjatkan) salam (kesjahteraan) bagimu sebagaimana kau datang kepada kami membawa berkah. Dan kau bersihkan kami dari noda-noda cela.

Salam bagimu wahai yang tidak ditinggalkan karena (kami) kesal (padamu), tidak pula puasamu ditinggalkan (karena kami bosan).

Salam bagimu duhai yang dicari sebelum waktunya, yang ditangisi sebelum kepergiannya. Salam bagimu, betapa banyak kejelekan yang dipalingkan karenamu. Betapa banyaknya kebaikan dilimpahkan kepada kami karenamu. Salam bagimu dan bagi malam Qadar yang lebih baik dari malam seribu bulan. Salam bagimu, betapa senangnya kami kepadamu kemarin, betapa rindunya kami kepadamu besok. Salam bagimu dan bagi keutamaannya yang sekarang ditepiskan dari kami, dan bagi keberkahan yang sekarang ditanggalkan dari kami. …

Ya Allah, bagimu segala pujian, di tengah pengakuan akan keburukan (kami). Dan kesadaran akan kelalaian (kami). Bagimu, dari lubuk hati kami yang paling dalam, dari lidah kami, permohonan maaf yang paling tulus. Berilah kami, dengan segala kekurangan yang menimpa kami di bulan ini, pahala yang menyampaikan kami kepada kemuliaan yang diharapkan, dan berbagai macam kebahagiaan yang dirindukan. Pastikan bagi kami ampunan-Mu, dalam kekurangan kami dalam memenuhi hak-Mu di bulan ini. Sampaikan dengan sisa umur kami, kepada bulan Ramadhan yang akan datang.

Taqabbal, Yaa Kariim …

(Cuplikan Do’a Imam ‘Ali Zainal ‘Abidin)

Sunday, September 6, 2009

Makan Bersama Nabi

Setibanya Nabi dan sahabat2nya di suatu tempat dan turun dari kendaraannya, mereka berencana untuk menyembelih seekor kambing dan membuat sate untuk dimakan bersama.
Seorang sahabat berteriak: "Aku yang akan menyembelih kambing itu."

Sahabat yang lain menjawab: "Aku yang akan mengulitinya."

Sahabat yang lain lagi berkata: "Aku akan memasaknya."

Rasulullah SAW menyahut: "Aku akan mencarikan kayu2 kecil di padang pasir."

Semua sahabat segera berkata: "Ya Nabi Allah! Biarlah anda duduk. Kami akan melakukan semua pekerjaan ini dengan senang hati.”

Kemudian Nabi SAW berkata:“Aku tahu kalian akan melakukan semuanya. Tapi Allah tidak suka melihat orang yang melihat dirinya berbeda dengan orang lain, sedangkan ia berada di tengah2 mereka.”

Nabi pun pergi ke padang pasir dan memunguti kayu-kayu kecil yang kering sesuai dengan kebutuhan.

Allahhumma Sholli alaa Muhammad wa aali Muhammad.[undzurilaina]

Doaku terjawab sudah..

Ketika kumohon kepada Allah kekuatan, Allah memberiku kesulitan agar aku menjadi kuat.

Ketika kumohon kepada Allah kebijaksanaan, Allah memberiku masalah agar dapat kupecahkan.

Ketika kumohon kepada Allah kesejahteraan, Allah memberiku akal untuk berfikir.

Ketika kumohon kepada Allah keberanian, Allah memberiku kondisi bahaya untuk dapat kuatasi.

Ketika kumohon kepada Allah cinta, Allah memberiku orang2 bermasalah untuk kutolong.

Ketika kumohon kepada Allah bantuan, Allah memberiku kesempatan.

Aku tak pernah menerima apa yang kuminta, melainkan aku menerima segala yang kubutuhkan.

Doaku terjawab sudah.
(Imam Ali bin Abi Thalib, salamullah alaihi)

Sunday, July 19, 2009

Bijaknya Orang Jawa

Dikisahkan suatu hari seorang Madura akan melakukan perjalanan dengan pesawat terbang. Ketika panggilan boarding telah tiba, dia pun masuk ke pesawat dan kemudian memilih tempat duduk yang dia sukai.
Tak lama berselang ada seorang penumpang lain
yang masuk pesawat dan bermaksud untuk duduk di kursi yang sedang diduduki oleh sang Madura tadi. Setelah memeriksa kembali tiketnya dan yakin bahwa dia tak salah kursi, maka penumpang itu pun bertanya kepada penumpang Madura tadi..

Penumpang: “Maaf, Pak. Kursi bapak nomor berapa? Yang Bapak sedang duduki itu nomor kursi saya..”
Madura: “Loh, Sampeyan sapa?!”
Penumpang: “Saya juga penumpang seperti Bapak..”
Madura: “Eloh, sama2 penumpang kok mau ngatur2! Saya nggak mau pindah!”

Merasa kesal, penumpang tadi mengadukan permasalahannya kepada salah seorang pramugari. Pramugari tersebut kemudian menghampiri penumpang Madura tsb..

Pramugari: “Maaf, Pak. Bisa saya lihat tiketnya?”
Madura: “Ini ni, tiket saya!”
Pramugari: “Maaf ya, Pak. Tempat duduk Bapak di sebelah sana, bukan di sini..”
Madura: “Loh, Sampeyan ini sapa?!”
Pramugari: “Saya pramugari di sini, Pak..”
Madura: “Pramugari itu apa?!”
Pramugari: “Pramugari itu yang melayani para penumpang pesawat..”
Madura: “Lha wong cuman pelayan aja kok mau ngatur2 saya! Saya ndak mau pindah!”

Pramugari yang pusing kemudian melapor kepada pilot karena merasa tak mampu meng-handle penumpang unik itu. Pilot pun kini langsung turun tangan...

Pilot: “Maaf ya, Pak. Bapak salah tempat duduk. Mestinya Bapak duduknya sebelah sana..”
Madura: “Sapa lagi sampeyan ini??!”
Pilot: “Saya pilot pesawat ini, Pak”.
Madura: “Pilot itu apa?!”
Pilot: “Yah, sederhananya yang ngemudikan pesawat..”
Madura: “Lah ini lagi, Sopir kok mau ngatur saya! Pokoknya saya mau duduk disini!!”

Penumpang, pramugari dan pilot pun dibuat bengong dengan sikap penumpang yang satu ini. Speechless, nggak tahu mau ngapain lagi.
Tapi dalam bengong tersebut, ada seorang penumpang dengan blangkon khas Jawa nya yang kebetulan dekat situ dan dari tadi menyaksikan kegagalan usaha ketiga orang sebelumnya untuk meminta penumpang madura tadi pindah dari kursinya. Penumpang Jawa itu kemudian beranjak dari kursinya mendekati penumpang madura tadi..

Jawa: “Nyuwun sewu, Pak. Bapak mau turun dimana?”
Madura: “Madura...!”
Jawa: “Oh, kalau yang turun di Madura duduknya sebelah sana, Pak”
Madura: “Oh gitu, toh? Ya udah saya takpindah kesana. Makasih ya, Mas!”

Akhirnya masalah pun teratasi dengan kebijaksanaan cara komunikasi penumpang Jawa itu.

Friday, June 19, 2009

Bersama Kita Bisa?

Seorang Pria mengendarai mobilnya di sebuah jalan yang sepi ketika salah satu bannya meledak, hingga mobilnya menjadi tak terkendali sampai terperosok ke parit di tepi jalan. Dia berusaha keluar tapi urung setelah menyadari dirinya berada di suatu tempat yang amat sepi. Dan saat dia mulai panik, seorang petani melewati jalan itu dengan seekor keledai, Gus namanya.

Petani itu mengikatkan satu ujung tali ke mobil dan satu ujung lagi ke leher Gus. Kemudian ia melecutkan cemetinya di udara dan berteriak:
“Yaaa, Sam! Tarik, Sam, tarik!”
Keledai itu tak bergerak. Sang petani melecutkan cemetinya lagi dan berteriak lebih keras:
“Yaaa, Jake. Tarik, Jake, tarik!”
Keledai itu masih tak bergerak. Sekali lagi, petani mengibaskan cemeti dan berteriak:
“Yaaa, Pete! Tarik, Pete, tarik!”
Gus masih belum bergerak. Dan kemudian petani itu melecutkan cemetinya dan berteriak lagi:
“Yaaa, Gus! Tarik, Gus, tarik!”
Sejenak kemudian, Gus menghentakkan salah satu kaki belakangnya, lalu bergerak ke depan dengan sekuat tenaga, menarik mobil itu keluar dari selokan. Hasilnya, beberapa saat kemudian, mobil itu sudah berada di jalan raya lagi. Pengendara mobil gembira, mengucap terima kasih, tapi tak habis pikir mengapa petani itu menyebut beberapa nama sebelum memerintahkan keledainya bergerak.

Ia bertanya, “Mengapa Anda memanggil semua nama tadi, wahai Petani?”
“Gus ini buta”, kata petani itu, “dan jika dia merasa harus sendirian menarik mobil Anda, dia tidak akan berusaha melakukannya. Tapi bila dia fikir ada yang membantunyya, dia lebih kuat daripada yang dia sadari.”

Sepertinya setiap orang punya naluri “keledai buta” dalam dirinya. Tinggal bagaimana seseorang bisa memanfaatkannya itu sehingga dapat digerakkan untuk mencapai tujuan.
Dalam “Imagine”, John Lenon mengatakan: “You may say that I’m a dreamer, But I’m not the only one”. Dia mengatakan itu ketika ingin meyakinkan setiap orang yang menginginkan kedamaian bahwa ia tidak sendirian.

Klub penggemar “The Reds” (Liverpool) punya slogan yang terkenal: “You’ll Never Walk Alone”. Bahkan slogan itu terpampang jelas di pintu gerbang markas Liverpool untuk menyemangati semua pemain dan official, dan tentunya semua fans, sekaligus juga sebagai strategi untuk menarik fans-fans baru.

Jadi, “bersama kita bisa” ini memang terbukti mujarab sebagai pendongkrak semangat, moral booster.
Tapi....kalau ditanya bisa apa? Jawabnya tergantung “si petani” nya. Mau dipakai untuk menolong mengeluarkan mobil yang terperosok, atau malah memerosokkan si Gus, keledai yang buta tadi. Tapi kita kan bukan keledai buta toh? Hehehe..

Sunday, June 14, 2009

Lanjutkan?!

Zona kenyamanan atau comfort zone adalah kondisi dimana seseorang merasa aman pada sebuah setting kondisi tertentu. Seseorang yang merasa berada dalam zona kenyamanan ini pada umumnya cenderung enggan untuk melakukan perubahan. Terdapat berbagai sebab dan alasan mengapa kelompok tersebut enggan melakukan perubahan, misalnya karena takut akan risiko kegagalan, takut posisinya akan terusik kalau terjadi perubahan, dan ketakutan-ketakutan lain yang menyebabkannya enggan untuk berubah.

Tapi sebenarnya perlu nggak sih kita berubah?


Allah SWT telah mengatakan dalam al-Quran suci bahwa Dia tidak akan mengubah nasib suatu kaum hingga mereka sendiri berusaha untuk mengubahnya. Ada keterkaitan kuat antara usaha untuk berubah dengan hasil yang akan didapat. Berharap hasil yang lebih baik tanpa melakukan perubahan dalam cara kita untuk meraihnya adalah sebuah angan-angan kosong.

C.K. Prahalad, seorang konsultan manajemen kondang, mengatakan “if you don’t change, you die!”. Kaizen, sebuah filosofi terkenal asal Jepang yang juga menuntut untuk senantiasa melakukan perubahan ke arah yang lebih baik (continuous improvement). Rheinald Kasali, juga berteriak “Change! Tak peduli berapa jauh jalan salah yang Anda jalani, putarlah sekarang juga!”.

Tapi tentu saja tidak semua perubahan adalah positif. Perubahan yang positif adalah perubahan ke arah yang lebih baik. Sang junjungan alam, Rasulullah SAW, dalam kaitan ini pernah mengatakan bahwa “Barang siapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin, sesungguhnya dia telah beruntung. Barang siapa yang hari ini sama dengan hari kemarin, maka sesungguhnya ia telah merugi. Dan barang siapa yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin, maka sesungguhnya ia terlaknat/celaka”.

Jadi kesimpulannya, Perubahan itu perlu bahkan harus, tapi harus perubahan yang positif. Tapi di lain pihak, pada umumnya manusia cenderung resisten terhadap apapun yang baru. Oleh karena itu kemudian implementasi perubahan tersebut membutuhkan pengelolaan yang baik, atau yang sering dikenal dengan manajemen perubahan (change management).

Manajemen perubahan (Change Management) adalah sebuah istilah yang mungkin sering kita dengar, tapi sering kurang diperhatikan ketika akan mengimplementasikan suatu hal yang baru pada suatu masyarakat/komunitas/organisasi/dsb. Padahal kesuksesan penerapannya sangat bergantung kepada pemilihan strategi yang tepat dalam manajemen perubahan ini. Apa sih sebenarnya manajemen perubahan itu?

Manajemen perubahan secara definisi adalah sebuah pendekatan terstruktur untuk melakukan perubahan pada individu-individu, komunitas, organisasi ataupun masyarakat sehingga memungkinkan transisi dari kondisi sekarang menuju ke sebuah kondisi tertentu yang diinginkan. Implementasi sebuah konsep/sistem memerlukan strategi manajemen perubahan yang baik dan perencanaan yang baik pula menyangkut semua pihak yang terkait (stakeholders) sedemikian sehingga objektif dari perubahan tersebut dapat tercapai dengan sukses.

Salah satu tahapan penting dalam manajemen perubahan adalah menetapkan strategi dan langkah-langkah yang perlu dilakukan untuk menerapkan perubahan yang ditawarkan sehingga tujuan yang diinginkan dapat tercapai. Ada banyak strategi dalam manajemen perubahan, namun pada dasarnya merupakan kombinasi dari alternatif strategi berikut ini:
Pertama, pendekatan Empirical-Rational
Strategi ini akan tepat jika diasumsikan bahwa pihak-pihak yang terkait adalah orang-orang yang rasional dan akan mengikuti apa yang menurutnya paling baik.

Kedua, Normative-Reeducative
Strategi ini tepat jika diasumsikan bahwa pihak-pihak yang terkait adalah orang-orang yang sosial dan patuh terhadap norma-norma dan nilai-nilai kultural.

Ketiga, Power-Coercive
Strategi ini tepat jika diasumsikan bahwa pihak-pihak yang terkait termasuk orang-orang yang penurut dan secara umum mau melakukan apa yang diperintahkan atau dapat ”dipaksa” untuk melakukannya.

Keempat, Environmental-Adaptive
Strategi ini tepat jika diasumsikan bahwa pihak-pihak yang terkait telah merasakan kerugian dan keburukan konsep/sistem lama tapi lingkungan dimana mereka berada sudah susah diperbaiki. Mereka telah siap untuk beradaptasi dengan sistem yang baru.

Pertimbangan pemilihan strategi tersebut di atas bisa terdiri atas banyak hal, diantaranya besar kecilnya perubahan, tingkat resistensi, populasi, kerangka waktu, kualitas personal, dll. Tapi yang pasti, setiap strategi perubahan yang baik tidak pernah tunggal. Dia selalu merupakan kombinasi antara alternatif strategi-strategi yang ada.

Seorang manajer Teknologi Informasi di sebuah perusahaan besar di Indonesia pernah bercerita kepada saya, “Perusahaan ini aneh! Masak iya, ada seorang direktur merasa tersinggung karena saya mengirim laporannya via e-mail?!”. Ini adalah salah satu contoh riak kecil ketika perubahan sistem dan mekanisme tidak diikuti dengan manajemen perubahan yang baik. Lebih ironis lagi dalam kasus ini sang pemimpin sendiri yang tidak ingin berubah. Dia masih betah di comfort zone nya.

Adalah tugas seorang pemimpin untuk memimpin umat, masyarakat, atau komunitas yang dipimpinnya senantiasa untuk mau segera berubah ke arah yang lebih baik. Adalah tugasnya untuk senantiasa mendorong komunitas yang dipimpinnya untuk bersemangat melakukan perubahan ke arah yang lebih baik. Adalah tidak baik jika seorang pemimpin justru menakut-nakuti komunitas yang dipimpinnya terhadap perubahan hanya karena keinginannya untuk tetap lanjutkan posisinya sebagai pemimpin.

Perubahan ke arah yang memiliki potensi lebih baik, perlu didorong oleh semua pihak, terutama oleh para pemimpin. Bagi komunitas yang dipimpin hal ini juga dapat dijadikan kriteria untuk mengevaluasi pemimpinnya. Evaluasi terus bagaimana sikap pemimpin atau calon pemimpin terhadap perubahan ke arah yang lebih baik.

Jadi, selamat Lanjutkan (evaluasinya)!! Lebih cepat, lebih baik.

Saturday, April 25, 2009

Kontrol Masyarakat

Ketika kita berada di jalan raya, kita akan banyak menemukan rambu2 yang mengatur para pengguna jalan. Ada rambu2 yang bersifat spesifik seperti dilarang berhenti (S coret), dilarang parkir (P coret), dilarang masuk (forbidden), jalan searah, dan masih banyak lagi. Di luar rambu2 yg banyak itu, ada juga peraturan yang sifatnya umum sehingga tidak ada rambu2nya secara spesifik. Misalnya di Indonesia (pada jalan dua arah) seluruh kendaraan diharuskan berjalan di sisi sebelah kiri.


Walaupun sudah ada rambu2 tersebut baik yang bersifat spesifik maupun umum, namun dalam praktiknya seringkali pengguna jalan menaatinya ketika ada polisi yang berjaga disana. Kalau tidak ada polisi yang jaga, ya seolah-olah lenyaplah peraturan dan rambu2 itu bagi semua. “Tanya kenapa…tanya kenapa”, kata sebuah iklan rokok yang memotret hal ini sebagai kontennya.

Idealnya seluruh pengguna jalan mesti saling memperhatikan satu dengan lainnya. Ketika mereka melihat seorang pengguna melakukan pelanggaran, misalnya berjalan melawan arus, seharusnya pengguna jalan lain akan memperingatkan dengan membunyikan klakson atau menyalakan lampu.

Kalau seorang polisi mengetahui kejadian itu, mestinya ia akan langsung menindak sang pelaku pelanggaran dan menjatuhkan denda/tilang kepadanya. Namun, jika si polisi itu tidak mengetahui kejadiannya, mestinya masyarakat akan memberikan kesaksian kepadanya. Dengan kondisi yang ideal semacam itu, tentu akan sangat sedikit sekali pengemudi yang berniat melakukan pelanggaran.

Dalam pengelolaan sebuah organisasi/perusahaan, kita mengenal istilah tata kelola (governance) dan pengendalian internal (internal control). Adanya berbagai kasus pelanggaran dan penyalahgunaan aturan dan wewenang (seperti kasus Enron, dsb) membuat orang memikirkan bagaimana mekanisme tata kelola dan pengendalian internal dapat dibuat sedemikian rupa untuk mempersempit ruang gerak pelanggaran dan penyalahgunaan. Berbagai standard dan aturan pun dibuat dalam rangka untuk mewujudkan itu, baik yang bersifat umum maupun khusus (sektor tertentu, internasional maupun lokal. Misalnya ada COSO dan Sarbanes-Oxley Act yang bersifat cukup umum dan diadopsi cukup luas secara internasional. Ada juga Basel II yang khusus mengatur manajemen risiko di sektor perbankan, ada juga Peraturan Bank Indonesia (PBI) yang juga perbankan tapi khusus untuk lingkup Indonesia saja. Dan sebagainya, dan sebagainya.

Namun demikian, kita juga melihat ternyata peraturan dan standard pengendalian dan tata kelola (governance) yang bermacam-macam tersebut diatas tidak juga menjamin tidak adanya pelanggaran. Belum lama kita menyaksikan bagaimana ”hebatnya” seorang Cassano yang kepala agen asuransi AIG di Inggris itu mengakali aturan BASEL II dan berhasil membuat seluruh dunia merasakan akibatnya dengan tenggelam di lautan krisis finansial global. Dia berhasil membujuk perbankan eropa yang punya kondisi likuiditas finansial sangat baik untuk mentransfer uangnya ke perbankan amerika yang sedang kesulitan likuiditas akibat krisis subprime mortgage. Aturan manajemen risiko perbankan BASEL II yang melarang keras hal tersebut dia akal2i dengan memberikan penawaran penjaminan asuransi dengan keuntungan yang sangat menggiurkan. Alhasil semua pihak yang terkait pun sama-sama bersepakat untuk mengakali peraturan yang dibuat untuk kepentingan bersama itu demi keuntungan yang menggiurkan tersebut. Akibatnya risiko yang sebenarnya sudah dapat diprediksi itu pun terjadi, dan hampir seluruh dunia merasakan akibatnya. Terutama bagi negara-negara yang berbasis pada ekonomi kapitalisme.

Saya tidak sedang ingin membahas mengenai peraturan dan rambu2 lalu lintas atapun ekonomi kapitalisme. Yang saya ingin highlight dalam 2 kasus tersebut di atas adalah mengenai pentingnya kontrol masyarakat/komunal dimanapun dan kapanpun berada. Ketika kita menginginkan agar seluruh masyarakat (secara umum ataupun dalam sebuah komunitas/organisasi tertentu) dalam berbagai masalah bisa tertib, tidak ada pelanggaran dan keluar dari garis-garis keadilan, maka itu hanya mungkin terwujud apabila secara bersama-sama semua pihak ikut mendukungnya.

Peraturan dan standard jelas memang diperlukan, tapi tanpa itikad baik dan komitmen dari semua pihak untuk bersama-sama berjalan di jalur yang benar serta saling mengingatkan satu dengan lainnya apabila ada yang mencoba melakukan pelanggaran, maka PASTI setiap peraturan atau standard sebaik apapun akan ditemukan celah-celahnya untuk dilanggar. Dalam istilah agama sikap seperti ini sering disebut dengan istilah amar ma’ruf nahi munkar.

Setiap individu tidak boleh menganggap remeh setiap bentuk pelanggaran dan perlu segera bereaksi menentangnya, ketika pelanggaran terjadi. Dengan cara inilah, masyarakat akan mempersempit ruang gerak pihak-pihak yang berniat melakukan pelanggaran dan memperlakukannya secara layak.

Mudah-mudahan suatu hari kelak, kita akan menyaksikan masyarakat Islam yang menjadi pelopor terhadap pembentukan masyarakat yang ideal itu di seluruh penjuru dunia.

Mudah-mudahan kita akan melihat suatu masa dimana seorang dokter, yang ketika dirinya tidak mengetahui cara pengobatan penyakit yang diderita oleh seorang pasiennya, secara jujur ia mengatakan, ”Saya tidak mengetahui cara pengobatan penyakit Anda.” Dan dengan penuh keikhlasan hati, ia juga akan mengembalikan biaya pengobatan yang telah diberikan, dan dengan diiringi rasa persaudaraan, menunjukkan seorang dokter spesialis di bidang pengobatan penyakit dimaksud. Disamping dokternya sendiri, peran masyarakat juga sangat penting untuk melakukan kontrol dalam hal ini. Misalnya dari organisasi komunitas profesi dokter sendiri, para pasien, media massa, dsb.

Mudah-mudahan kita juga akan melihat suatu masa dimana setiap orang hanya mau memilih orang-orang yang memang memiliki sifat dan kapasitas yang paling baik untuk menduduki jabatan-jabatan tertentu. Suatu masa dimana setiap orang tahu hak-hak dan kewajibannya. Pada saat itulah, kita akan menyaksikan keadilan sosial benar-benar terwujud di tengah-tengah masyarakat. Semoga.

Friday, April 10, 2009

Yang Patah Sayapnya

Suatu ketika 2 orang tokoh tasawwuf yaitu Ibrahim ibn Adham dan Syaqiq al-Balkhi bertemu. Syaqiq ini adalah mantan saudagar besar sebelum meninggalkan dagangannya untuk menjadi seorang sufi.
Suatu saat dalam sebuah pertemuan antara keduanya, Ibrahim bertanya kepada Syaqiq:
“Ya Syaqiq, Apa gerangan yang menyebabkan engkau meninggalkan daganganmu itu dan hidup seperti ini?”.

Lalu Syaqiq pun menjawab…

Dahulu saya memang pedagang besar tapi saya selalu dilanda kecemasan. Saya selalu khawatir dagangan saya akan merugi sehingga keluarga saya menjadi tak terurus dan kelaparan. Sampai suatu saat saya berada dalam sebuah gurun pasir yang gersang, jauh dari manusia, jauh dari kebun-kebun dan dari segalanya. Yang tampak hanyalah hamparan pasir gersang sejauh mata saya memandang.
Pada saat itu aku melihat ada seekor burung yang patah sayapnya sedang menggelepar-gelepar. Waktu itu saya berfikir burung ini pasti akan mati karena tidak bisa mencari makanannya dan tidak bisa apa-apa. Namun, pada saat saya berfikir itu tiba2 ada seekor burung terbang di atasnya dan kemudian menjatuhkan makanan yang ada di paruhnya tepat di depan burung yang patah sayapnya tadi.
Segera saya berfikir, kalau burung yang patah sayapnya saja dijamin rezekinya oleh Allah, masak iya Allah tidak menjamin rezeki untuk saya, kalau saya bertawakkal kepadanya?

Demikian Syaqiq menjawab pertanyaan Ibrahim ibn Adham tadi. Yang paling menarik disini adalah jawaban dari Ibrahim ibn Adham kepada Syaqiq.

Ibrahim ibn Adham kemudian berkata..
Ya Syaqiq, mengapa engkau memilih burung yang patah sayapnya tadi. Kenapa engkau tidak memilih burung yang memberinya makanan tadi. Burung yang bekerja keras mencari nafkah, kemudian mengantarkan kelebihan nafkahnya untuk menolong burung2 yang patah sayapnya.

Tugas kita adalah untuk melanjutkan dan mengikuti risalah Rasulullah SAW, bukan meninggalkan pekerjaan kita dan menghabiskan waktu untuk ibadah sendiri. Tugas kita adalah bekerja keras di tengah2 masyarakat dan mengantarkan sebagian kelebihan yang kita peroleh kepada saudara2 kita yang patah sayapnya.

Saturday, April 4, 2009

Duhai..Ibu dan Ayahku

Dalam karyanya “Risalatul Huquq“ (pandangan Islam tentang HAM), Imam Ali Zainal Abidin as-Sajjad ra menjelaskan hak-hak dari beragam pihak. Ketika sampai pada hak Ibu, beliau as mengatakan:
“Kemudian, hak ibumu adalah hendaknya engkau mengetahui bahwa dialah yang telah mengandungmu, sementara tidak seorang pun akan bersedia mengandung orang lain seperti itu.

Dia memberimu makan dari buah hatinya, sedang tidak seorang pun bersedia memberi makan orang lain seperti itu. Dia menjaga keselamatanmu dengan pendengarannya, penglihatannya, tangannya, kakinya, rambutnya, kulitnya, dan seluruh organ tubuh lainnya. Dia sangat berbahagia melakukannya. Dia senang dan riang, tabah menanggung segala beban yang mengganggunya; rasa sakit, dan kerisauannya hingga saat dia, oleh kekuasaan takdir, dibebaskan dari dirimu yang membebaninya lalu mengeluarkanmu ke alam dunia. Dia tetap rela menjadikanmu kenyang ketika dia sendiri lapar; memberimu pakaian ketika dia telanjang; memberimu minuman ketika dia haus; menaungimu dalam keteduhan ketika dia kepanasan; membahagiakanmu ketika dia menderita serta menidurkanmu ketika ia berjaga.
Perutnya menjadi wadah penyimpanan bagimu, pangkuannya tempat yang aman untuk merangkummu, susuannya disediakannya untuk minumanmu dan dirinya sendiri bagai perisa penjaga keselamatanmu. Dia menahan panas dan dinginnya dunia bagimu demi memeliharamu. Maka, patutlah engkau berterima kasih padanya untuk semua itu. Engkau tak akan mampu menunjukkan rasa terima kasihmu kepadanya, kecuali jika dengan pertolongan Allah dan taufik-Nya.”

Pikiranku jadi melayang ketika aku menyaksikan bagaimana ibuku mengandung adikku dulu. Dimana karenanya urat-urat di kakinya membengkak. Dimana karenanya ia harus merangkak untuk menuju ke kamar mandi. Dimana karenanya mual dan muntah adalah rutinitasnya sehari-hari. Dimana karenanya tidur nyenyak adalah sebuah kemewahan yang jarang ia dapatkan setiap malamnya. Dan banyak lagi kesusahan yang ia tanggung dengan sepenuh ridha selama lebih sembilan bulan untuk kemudian ia mempertaruhkan hidupnya untuk melahirkan buah hatinya ke dunia yang fana ini, untuk ia peluk dan sayangi sepanjang hidupnya. Aku membayangkan seperti itulah kiranya sewaktu ibuku mengandung aku dulu. Ya Allah, curahkanlah rahmat-Mu sebesar2nya untuknya. Karena bagaimana pun aku takkan mampu untuk berterima kasih kepadanya.

Aku ingat betapa aku tidak henti2nya membuatnya berkorban demi kesenanganku. Aku ingat waktu aku baru masuk SMP dulu. Ketika aku pulang sekolah, ibuku bertanya: “Kenapa, Mar? Kok keliatannya sumpek gitu? Gimana tadi di sekolahan?”. Aku cerita bahwa tadi ada pelajaran mengetik, tapi karena aku sama sekali belum pernah megang mesin tik, maka jadinya aku termasuk yang ketinggalan di kelas. Setelah cerita itu, tanpa merasa apapun, kemudian aku beraktifitas yang lain karena memang bagiku tidak terlalu penting. Tapi rupanya tidak demikian halnya dengan ibuku, setelah mendengar ceritaku tadi. Tanpa sepengetahuanku, rupanya ia mencari tahu dimana ia bisa beli mesin ketik dan berapa harganya. Dua hari setelah itu, aku dikejutkan ketika ibuku datang dan turun dari becak yang ditumpanginya dengan membawa sebuah mesin tik baru merk “brother”. Kontan saja aku sangat gembira dengannya. Tapi aku kemudian berfikir ini pasti mahal harganya. Aku pun tanya kepadanya, “Makasih ya, Mah. Ini pasti mahal ya, Mah? Berapa harganya, Mah?..”. Ia pun tidak menjawab pertanyaanku, ia hanya berkata semoga aku senang dan tidak ketinggalan pelajaran ngetik di sekolah. Belakangan aku baru tahu bahwa harga mesin tik itu dulu (sekitar tahun ’87-an) adalah 75 ribu, dan ibuku dapat membelinya setelah menjual sebuah gelang emas miliknya. Ya Allah, Rahmatilah Ibuku dengan seluas-luas rahmat-Mu, ya Rabb. Sangat berat baginya melihat sekecil apapun keresahanku. Mampukah aku merasakan hal yang sama terhadapnya?

Kemudian ingatanku melayang lagi ketika aku akan kuliah di Bandung dulu. Aku ingat betul kondisi ekonomi keluarga waktu itu yang amat berat untuk menanggung biaya2 yang aku perlukan. Aku bersyukur ada beberapa orang dari saudaraku yang bersedia mendukungku dalam sebagian pembiayaan yang kuperlukan. Ibuku bukanlah orang yang mudah untuk meminta bantuan kepada orang lain, walaupun kepada saudara sendiri. Belakangan aku baru tahu kalau ibuku dulu pernah tak mampu mengeluarkan sepatah katapun kepada saudaranya lewat telepon. Hanya isak tangis yang dapat didengar oleh saudaranya dari ujung telpon sebelah sana. Pekerjaan yang sangat berat itu, ia mau lakukan demi aku, anaknya yang tak tahu diri ini.

Aku juga ingat bagaimana jerih payah ayahku dalam mencari nafkah dan memberi pendidikan terbaik buat semua anak2nya. Ia yang sering tak dapat menahan rasa kantuknya untuk tetap menjaga toko kelontong yang menjadi tumpuan penghasilan keluarga semenjak kebangkrutan pabriknya dulu. Ia yang mau beranjak dari kantuknya untuk melayani pembeli permen senilai 100 perak 3 buah. Kemuliaan anak2nya adalah beban yang dengan sepenuh ridha ia tanggung. Kebanggaannya adalah ketika melihat anaknya bangga. Kebahagiaannya adalah ketika melihat anaknya bahagia. Kesedihannya adalah ketika melihat anaknya sedih atau salah jalan.

Duh..sungguh tak kuasa aku melanjutkan tulisanku ini. Tak mampu aku mengingat dan menuliskan semua jasa dan pengorbanan kedua orang tuaku dari aku di kandungannya sampai kini dan nanti.
Karena itu, Ya Ilaahi, Ya Maulaya, Ya Rabbii…
Aku bermohon kepada-Mu, dengan rahmat-Mu yang meliputi segala sesuatu
Ya Allah, demi kemuliaan Nabi-Mu dan keluarganya, muliakan pula kedua orang tua ku, Ya Rabb.
Ya Allah, demi keistimewaan Nabi-Mu dan keluarganya, istimewakan pula kedua orang tuaku, Ya Sayyidi.
Ya Allah, berilah aku petunjuk untuk mengetahui apa yang mesti aku lakukan kepada kedua orang tuaku,
Berilah aku kemampuan untuk mengetahui semua kewajiban itu secara sempurna, Ya Maulaya.
Ya Allah, buatlah aku berbakti kepada keduanya sebagaimana kebajikan seorang ibu yang pengasih,
Jadikan ketaatanku dan kebaktianku kepada kedua orang tuaku sebagai rasa kasih yang lebih menyenangkan hati daripada tidurnya orang2 yang mengantuk;
dan lebih terasa segar di dada daripada segarnya minuman orang2 yang haus;
sehingga aku bisa mendahulukan keinginan mereka daripada keinginanku sendiri,
dan mengutamakan keridhaannya daripada keridhaanku sendiri.

Ya Allah, rendahkanlah suaraku di hadapan mereka,
Hiasilah ucapanku dengan kata manis kepadanya,
Lembutkanlah setiap tingkah dan kelakuanku kepadanya,
Isilah hatiku dengan rasa kasih kepadanya,
Biarlah aku tetap menyertainya dan tetap merindukannya.

Ya Allah, balaslah kebaikan mereka atas pendidikan yang diberikan padaku,
Dan berilah ganjaran penghargaan kepada mereka karena telah memuliakanku,
Serta peliharalah mereka sebagaimana mereka dulu memeliharaku di waktu kecil.

Ya Allah, apa pun yang menimpa mereka, apakah itu berupa kesalahan yang aku perbuat, tingkah laku yang tidak menyenangkan mereka atau kelalaian yang aku perbuat,
Jadikanlah itu semua sebagai penebus dosa2 mereka, pengangkat derajat mereka, penambah kebaikan mereka, Wahai yang Maha Kuasa merubah segala kesalahan menjadi kebaikan yang berlipat ganda.

Ya Allah, apapun kesalahan yang mereka perbuat, aku mengharap Engkau mengampuni kesalahan mereka.
Bagaimana tidak, ya Ilahi. Panjangnya masa mereka mengurusku?
Bagaimana pula beratnya kelelahan mereka dulu dalam menjaga dan memeliharaku?
Bagaimana pula pengorbanan mereka dulu dalam melapangkan hidupku?
Sungguh besar jasa mereka dalam mengurus kepentinganku, aku tak mampu membalas kebaikan mereka hanya dengan melaksanakan semua kewajibanku kepada mereka, dan aku tidak mampu memenuhi semua kewajiban berbakti kepada mereka.

Jadikanlah aku menjadi penutup lubang keperihan yang keduanya rasakan saat ini,
Jadikanlah orang yang saat ini terus melubangi perasaan, pandangan dan pendengarannya untuk segera bersadar, Ya Rabbi, Ya Raja’I wa ya Mu’tamadii.
Untuk segera menyadari apa akibat yang telah ia lakukan bagi kedua orang tuanya.
Dan untuk itu, Ya Rabbi. Tunjukkanlah kepadaku, apa yang dapat aku lakukan untuk membantunya. Agar mereka dapat senantiasa tentram dalam masa tuanya.
Ya Allah, janganlah Engkau membuatku lupa mengingat kedua orang tuaku,
di setiap akhir shalatku,
di setiap saat di malam hariku,
di setiap waktu di siang hariku.

Dan terakhir, Ya Rabb.
Bila ampunan-Mu Engkau dahulukan kepada mereka, maka berikanlah mereka kesempatan memberi syafaat kepadaku,
Dan jika ampunan-Mu Engkau dahulukan kepadaku, maka berilah aku kesempatan untuk memberi syafaat kepada mereka,
Sehingga kami bisa berkumpul dengan kasih sayang-Mu,
di negeri kemuliaan-Mu,
dan di tempat Maghfirah-Mu.

Limpahkanlah sebaik sholawat dan salam kepada junjunganku dan Rasul-Mu beserta keluarganya,
Sesungguhnya Engkau Pemilik karunia yang Agung dan Pemilik keberkahan yang tak pernah henti, Engkaulah Maha Pengasih dari semua yang mengasihi.[undzurilaina]

Sunday, March 22, 2009

Taqdir Menurut Fauzan dan Saya

Fauzan adalah anak sulung saya yang bulan lalu genap berusia 6 tahun. Kemarin sore setelah “perang bantal guling” dengan saya, saya cukup dikejutkan dengan pertanyaannya yang menurut saya cukup berat untuk ukuran anak seusianya.

Dia bertanya: “Bi, kenapa sih kita mesti menyembah Allah?”


Saya menjawab: “Hmm..karena Allah yang menciptakan kita semua. Allah yang kasih kita semua, kita bisa sehat, bisa sekolah, bisa ngomong, bisa makan, bisa minum, bisa nafas, bisa jalan, dan semuanya itu anugerah dan izin Allah. Jadi memang pantas kalau Allah itu kita sembah.”

Fauzan tampak berfikir mendengarkan jawaban saya, tapi dengan segera dia melontarkan pertanyaan susulan yang menurut saya tidak kalah beratnya:

“Berarti kita itu mainannya Allah dong, Bi?”

“Lho, kok?”, tanya saya singkat.

“Ya kan Allah yang bikin fauzan makan, bikin fauzan ngomong sama bikin yang lain2. Terus fauzan kalau ngomong nggak sopan sama Abi, terus nakal berarti juga Allah yang bikin kan? Berarti semua itu mainannya Allah..”, jawab fauzan dengan sangat yakin akan logikanya sendiri.

Saya jawab, “Bukan gitu, sayang…Allah itu Maha Adil..”.

Belum sempat bicara lebih lanjut, fauzan memotong penjelasan saya dengan mencoba meyakinkan saya bahwa logikanya itu yang benar dan lalu mengajak meneruskan perang bantal guling yang sempat tertunda karena 2 pertanyaan berbobot tadi.

Saya pun mengiyakan ajakannya. Saya juga tidak ingin menghentikan proses berfikir fauzan terlalu cepat untuk sampai pada jawaban bagaimana konsep taqdir dan keadilan Ilahi. Untuk sementara biarkan pertanyaan-demi-pertanyaan muncul di benaknya, agar jawaban merupakan hasil dari prosesnya berfikir, bukan sekedar doktrinal.

Setelah itu saya berfikir sepertinya pemahaman seperti fauzan yang 6 tahun itu juga banyak dipegang oleh cukup banyak muslimin dunia sejak zaman dulu sampai sekarang. Pemahaman tersebut juga bahkan punya dasar dalam al-Quran Mulia. Dalam Al-Quran terdapat ayat2 yang mengatakan bahwa segala hal sudah ditentukan oleh Allah SWT, manusia –mau tidak mau—harus menjalani setiap peran dan nasib yang telah ditentukan tersebut. Karena pemahaman keterpaksaan itu maka pahaman ini dikenal dengan paham Jabariyah (berasal dari kata jabr yang berarti terpaksa).

Lawan dari pahaman Jabariyah ini yaitu pahaman yang menyatakan bahwa manusia sepenuhnya bebas untuk memilih, tidak mempercayai adanya taqdir yang membatasi setiap usaha manusia. Pahaman ini juga memiliki dasar dalam al-Quran Suci. Pahaman ini sering dikenal dengan paham Qadariyah.
Kedua pemahaman tersebut kemudian melebur ke dua firqah besar dunia. Jabariyah diadopsi oleh firqah Asy’ariyah, sementara pemahaman ala Qadariyah dianut oleh kelompok Mu’tazilah.

Saya, tidak sepenuhnya sepakat dengan kedua aliran tersebut di atas. Saya sepakat dengan pemahaman ketiga yang dianut oleh beberapa madzhab pemikiran yang tersebar. Pemahaman tersebut menyatakan bahwa manusia memang memiliki kebebasan berkehendak, apa yang terjadi adalah akibat dari serangkaian sebab yang dipilih oleh manusia secara langsung ataupun tidak langsung. Tapi semua itu ada dalam lingkaran batas-batas yang ditentukan-Nya. Manusia itu bukanlah seperti batu yang kalau digelindingkan dari atas bukit pasti akan menggelinding ke bawah karena adanya gravitasi. Manusia bukanlah seperti bulan dan matahari yang telah ditaqdirkan untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang dilakukannya (wa al-qomaru qoddarnaahu manazila hatta urjuuni al-qadim). Manusia itu diberikan hidayah dan kemampuan untuk berkehendak dan memilih jalannya masing2. Semua manusia memilikinya (wa al-ladzi qaddara fa HADAA). Allah memberi aturan2, apabila kamu begini maka akan begitu. Kalau mau selamat, ikuti jalan ini, apabila tidak kamu akan celaka. Jadi kesempurnaan sebab2 dan lantaran2 itu sebenarnya merupakan realisasi dari Taqdir Ilahi.

Usaha/ikhtiyar yang dilakukan oleh manusia tidak perlu dipertentangkan dengan kekuasaan dan kehendak Sang Khaliq, karena tidak ada usaha/ikhtiyar yang dilakukan tanpa persetujuan (izin) Allah. Toh ketika kita berikhtiyar, pada hakekatnya kita hanya berpindah dari taqdir yang satu ke taqdir yang lainnya (yang kesemuanya tidak bertentangan dengan Ilmu-Nya). Ketika misalnya kita berdiri di rel KA dan ada kereta yang mendekat kencang, disana kita punya pilihan. Kalau kita tidak menghindar, maka GUBRAKK!! Taqdirnya meninggal. Tapi kalau kita memilih menghindar, maka taqdirnya hidup. Hal ini tidak terus diartikan ketidak berdayaan ALLAH SWT, karena semuanya itu bersumber dari Iradat, ketentuan dan taqdir Ilahi juga. Sebebas-bebasnya, semua masih dalam kerangka Ilmu dan kehendal-Nya. Kita tidak tahu batasnya, batasnya adalah kemauan dan kemampuan kita dalam berusaha.


Diriwayatkan dulu Imam Ali as pernah bangun dan pindah dari bawah sebuah dinding yang mulai miring. Seseorang yang melihatnya kemudian bertanya kepada beliau: “Wahai Amirul Mukminin, apakah anda lari dari qadha Allah?”
Beliau ra menjawab: “Aku lari dari qadha Allah ke qadha-Nya SWT”. Jadi, ia lari dari sebuah ketentuan ke ketentuan-Nya yang lainnya. Jatuhnya dinding yang telah miring merupakan ketentuan Ilahi, sehingga sewajarnya tembok itu akan menjatuhi kepala seorang manusia pada saat terpenuhinya segala persyaratannya. Akan tetapi apabila manusia itu menghindar darinya, maka ia pun akan selamat dari bencana, dan ini pun merupakan ketentuan Ilahi juga.

Disebutkan juga bahwa suatu hari pernah Khalifah Umar bin Khattab (ra) dalam perjalanannya menuju Syam, sebelum memasuki daerah itu mendengar berita adanya wabah sampar. Ketika bermusyawarah dengan orang2 yang bersamanya, mereka semuanya mencegahnya untuk meneruskan perjalanan, kecuali Abu Ubaidah bin Jarrah yang waktu itu menjabat palima pasukan muslim di Syam. Ia berkata kepada Umar: “Wahai Amirul Mukminin, adakah Anda melarikan diri dari taqdir Allah?” Umar pun menjawab: “Ya, aku lari dari takdir Allah dengan taqdir-Nya dan kepada taqdir-Nya.”


Riwayat2 tersebut jelas menerangkan bagaimana makna taqdir Ilahi itu. Ada taqdir2 yang bersifat definitif (tetap) dan ada yang masih menggantung (tidak definitif). Al-Quran berbicara tentang sistem2 yang tetap ini dan menamakannya dengan Sunnatullah:
“Kamu sekali-kali tiada akan mendapati perubahan pada sunnah Allah.” (QS 33: 62).

Diantara sunnatullah yang definitif itu adalah hanya berubahnya kondisi manusia setelah manusia itu sendiri mengubahnya (lihat QS 13:11).

Contoh sunnatullah yang lain misalnya bahwa orang2 zalim yang akan memilih teman yang zalim juga.
“Dan demikianlah Kami jadikan sebagian orang-orang yang zalim itu menjadi teman bagi sebagian yang lain.” (QS 6:129).

Dan banyak lagi contoh sunnatullah yang dijelaskan oleh Allah SWT dalam al-Quran.

Kesimpulannya suatu realitas itu nasibnya mengikuti penyebabnya.
“Sesungguhnya manusia itu bergantung pada usaha dan kerjanya.” (QS. An-Najm:39).

Sehingga disebabkan karena sesuatu itu berhubungan dengan banyak sebab, maka ia pun memiliki nasib yang berbeda2 pula. Perlu diingat juga bahwa disamping faktor2 yang bersifat materiil seperti “minggir dari rel KA” pada contoh di atas, ada juga faktor penyebab lain yang non-materi seperti doa, sedekah, serta perbuatan baik yang juga akan ikut mempengaruhi nasib seseorang.

Fauzan sayang, sekarang abi lanjutkan perkataan yang kau potong kemarin ya, walaupun mungkin engkau membacanya nanti setelah engkau beranjak matang…

Jadi bukan gitu sayang, Allah itu Maha Adil. Nggak mungkin Dia membuat kita seperti mainan yang dikendalikan-Nya tapi setelah itu kita diadili-Nya karena apa yang kita lakukan. Allah itu sudah kasih tahu mana jalan mana yang baik dan mana yang sesat. Dia SWT juga telah membekali kita dengan petunjuk dan potensi untuk kebaikan dan keburukan. Tinggal kembali ke kita apakah yang kita pupuk potensi baik kita atau potensi buruknya yang kita pelihara. Kata Allah, Sungguh akan sukses orang yang memupuk potensi baiknya, dan akan merugi orang yang mengotorinya (qad aflaha man zakkaaha, wa qad khooba man dassaaha).

Mudah-mudahan kita sukses ya, Zan. Kalau belum sukses, pikirkan mungkin bukan disitu bakatmu, mungkin kurang keras usahamu, mungkin kurang konsistensimu, mugkin kurang doamu, mungkin kurang sedekahmu, dan mungkin2 yang lain, yang pasti bukan salah-Nya. Tugas kita adalah untuk menemukan dan memperbaikinya. Itulah HIDUP, Anakku sayang.[undzurilaina]


Thursday, March 19, 2009

Orang Penting

Teman itu ada DUA, kata motivator yang sedang naik daun dengan “the Golden Ways” nya. Jenis teman yang pertama adalah teman yang memperlakukan dirinya di hadapan temannya sebagai orang penting sehingga mendapatkan pengakuan dari temannya itu bahwa dia itu orang penting. Sedangkan jenis teman yang kedua adalah seseorang yang selalu memperlakukan temannya itu sebagai orang penting.

Teman jenis pertama akan bilang ke para temannya bahwa dia adalah orang penting, sembari secara tersirat/tersurat mengatakan bahwa ia lebih penting dibanding temannya itu. Dia adalah orang yang berpengalaman di sebuah bidang sambil secara tersirat/tersurat mengatakan bahwa temannya itu masih “ingusan” dibanding dia. Dan seterusnya ia menganggap dia lebih penting dari temannya dan berusaha menganggap temannya itu mengakui ke-“penting”-annya.
Sedangkan teman jenis kedua justru sebaliknya, dia berusaha memperlakukan temannya lebih penting dari dirinya. Meletakkan kepentingan temannya di atas kepentingan dirinya. Sehingga seluruh teman-temannya menganggap dia adalah orang penting setelah menemuinya.

Masih di dalam rangka bulan kelahiran Rasulullah SAW, mari kita lihat bagaimana beliau SAW memperlakukan teman-temannya. Rasulullah SAW selalu lebih dahulu mengucapkan salam ketika bertemu dengan sahabat-sahabatnya. The Greatest man ever lived itu SAW selalu memperlakukan secara personal setiap sahabat yang bertemu dengannya, menanyakan bagaimana keadaannya, bagaimana keluarganya, atau hal-hal lain yang berkaitan dengan sahabatnya tersebut sehingga sahabatnya selalu merasa sebagai orang penting. Penghulu para nabi dan rasul SAW itu tak lupa menanyakan sahabatnya ketika pada beberapa saat tidak berjumpa. Beliau SAW yang meminta cincin besi yang sudah pudar milik sahabatnya yang kurang terkenal untuk dikenakannya hingga akhir hayatnya. Dan masih banyak lagi akhlak agung junjungan alam SAW tersebut kepada para sahabat-sahabatnya (bahkan juga terhadap yang memusuhinya).

Mufassir kondang kebanggaan Indonesia, ustadz Quraish Syihab (UQS) memberikan ulasan menarik terhadap ayat: “La qad ja’akum rasuulun min anfusikum….”, yang artinya “telah datang kepadamu seorang rasul dari golonganmu/sejiwa denganmu…”. UQS mengatakan bahwa dalam ayat tersebut dikatakan bahwa Rasulullah yang datang kepada kita, bukan kita yang datang kepada beliau SAW. Itu menyiratkan bagaimana Rasulullah menganggap kita umatnya sebagai orang yang penting sehingga beliau SAW yang menghampiri bukan kita yang menghampiri beliau SAW. Kalau insan seagung Rasulullah SAW saja tidak segan menghampiri kita yang penuh dosa ini, lantas kenapa kita masih segan untuk mendahului menghampiri orang lain. Walaupun orang itu mungkin lebih muda atau lebih rendah jabatannya atau lebih2 lainnya yang membuat kita MERASA lebih dari dia. Demikian kurang lebih UQS mengulas potongan ayat “telah datang kepadamu..” di atas.
Kalau itu dikembalikan ke masing2 kita, teman yang seperti apakah kita ini? Teman yang lebih menginginkan orang lain menganggap kita penting sehingga teman kita merasa kurang penting dibanding kita? Atau sebagai teman yang menginginkan teman kita menjadi merasa penting.

Beberapa hari yang lalu waktu perjalanan ke Jakarta, saya melihat antrian panjang di pintu tol. Antrian itu disebabkan jalan tol yang ditutup sementara karena ada ORANG PENTING yang mau lewat. Benar saja selang beberapa menit, beberapa sedan mewah melintas dikawal polisi dan militer menggunakan mobil dan sepeda motor. Rupanya pak SBY mau lewat, jadi jalanan perlu dikosongkan. Sewaktu perjalanan pulang, sialnya saya bernasib serupa. Pintu masuk tol kota ditutup dengan penjagaan polisi, lalu lintas di arahkan ke jalan lain. selang beberapa menit ada deretan ORANG PENTING yang lewat. Kali ini mungkin sekelas menteri, anggota DPR atau pejabat sekelas lainnya karena saya lihat nomor platnya yang berangka cukup besar.

Mungkin pejabat atau orang yang ada disekelilingnya melakukan itu agar semua orang menghargai dia sebagai ORANG PENTING. Tapi justru buat saya, mereka itu bukan orang penting. Orang penting buat saya adalah orang yang menganggap urusan orang lain itu penting. Bukan orang yang mementingkan kepentingan dia di atas yang lain, apalagi dengan mengorbankan kepentingan orang banyak. Duh..Nggak penting banget! Sungguh KASIHAN!! [undzurilaina]

Saturday, February 7, 2009

Te’no… We’ono

Karena sesuatu hal saya jadi teringat sebuah prinsip atau motto dari seorang pengusaha sukses di kota kelahiran saya. Ingatan saya melayang jauh ke sekitar 10 tahun yang lalu, ketika saya sempat ngobrol berdua dengan beliau di rumahnya. Seingat saya waktu itu saya baru lulus kuliah dan baru mulai bekerja. Setelah ngobrol santai kesana-kemari tentang beragam topik yang saya tidak ingat, beliau menjelaskan sebuah prinsip bisnis yang selama ini dipegangnya.
Prinsipnya sangat sederhana, “Te’no, We’ono” , sebuah ungkapan bahasa Jawa yang kurang lebih artinya “Aku habiskan, Berilah lagi”.

Apa maksudnya prinsip itu?
Dia kemudian mulai bercerita riwayat kerjanya. Beragam profesi pernah digelutinya, dari mulai pelayan di warung Bakso, jualan makanan, pegawai kasar di beberapa pabrik, sampai dengan akhirnya sukses seperti sekarang. Prinsip “Te’no, We’ono” itu yang selalu dia pegang, katanya. Setiap dia mendapatkan hasil dari pekerjaannya, pertama-tama dia menghadap ke ibunya untuk bertanya apa yang ibunya inginkan. Setelah itu hasil lainnya dia banyak sedekahkan ke orang yang membutuhkan (tentunya setelah memenuhi kebutuhan pribadinya). Dia punya keyakinan apa yang dia berikan atau sedekahkan ke orang yang membutuhkan itu tidak akan hilang, dan pasti Gusti Allah akan membalasnya berlipat ganda. Jadi demikianlah setiap dia mendapatkan rezeki, dia banyak sedekahkan. Dan dalam perjalanannya keyakinan akan prinsipnya itu semakin lama semakin kuat, karena selalu terbukti. Setiap dia mengeluarkan sedekah, kembalinya berlipat ganda. Dia keluarkan lagi sedekahnya berlipat. “Sedekah tidak membuat miskin, justru sebaliknya ini adalah rahasia kesuksesan saya, selain sabar dalam usaha. Karena jangan berharap kesuksesan itu sesuatu yang instant, dia harus diraih dengan kerja keras yang terus menerus”, lanjut beliau menjelaskan prinsipnya tersebut.

Al-Quran mulia berbicara: “Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertaqwa, dan membenarkan adanya kebaikan (pahala di akhirat), maka Kami akan lancarkan jalannya menuju kemudahan. Sedangkan yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan kebaikan, maka kamia akan menyiapkan baginya jalan yang sulit.” (QS. Al-Lail: 5-10).

Ayat al-Quran tersebut diatas setidaknya menyatakan bahwa memberi (sedekah) merupakan wujud dari ketaqwaan dan keimanan kepada ganjaran dan hukuman di akhirat. Sebaliknya, kekikiran merupakan indikasi kekafiran kepada Tuhan dan pendustaan serta ketidakpercayaan kepada kehidupan akhirat. Bahkan di tempat yang lain, al-Quran jelas menyandingkan orang yang tidak mau memberi sebagai para pendusta agama.

”Tahukah kamu orang-orang yang mendustakan Agama? Mereka adalah orang yang mengusir anak yatim, serta tidak berusaha keras untuk memberi makan orang miskin”. (Qs. Al-Ma’un: 1-3).

Kemudian hal kedua yang bisa diambil adalah bahwa memberikan sebagian dari yang kita miliki itu merupakan sarana dalam mengatasi kesulitan-kesulitan kita, bukan sebaliknya seperti yang dibayangkan kebanyakan orang. Justru sebaliknya kalau kita kikir akan menyebabkan kita terlempar menuju kepada kesulitan-kesulitan.

Ada sebuah kisah lagi yang ingin saya sampaikan disini untuk membuktikan bagaimana memberi (sedekah) itu dapat mengubah takdir seseorang menuju kebaikan.

Suatu kali, ketika Rasulullah SAW sedang bersama para sahabatnya, seorang laki-laki Yahudi lewat. Tiba-tiba Rasulullah berkata : “Orang ini akan mati tak lama lagi.” Namun, sore harinya, orang yang sama lewat lagi di hadapan mereka dalam keadaan segar-bugar, sambil memanggul seonggok kayu. Sahabat pun terheran-heran : “Bagaimana mungkin orang yang sudah diramalkan mati oleh Rasul-Nya, masih bertahan hidup?” Belum habis keheranan mereka, Rasul SAW pun memanggil laki-laki itu. Kemudian beliau meminta agar onggokan kayu yang di bawanya diturunkan dan dibongkar. Dalam keterkejutan semua orang, dari dalam onggokan kayu tersebut merayap keluar seekor ular beracun. Lalu Rasul pun menyatakan :”Seharusnya engkau telah mati dipatuk ular beracun ini? Perbuatan baik apa yang telah kamu lakukan?” Maka laki-laki Yahudi itupun bercerita bahwa di tengah perjalanan ia bertemu dengan seorang miskin dan memberikan sedekah kepadanya.

Riwayat tersebut diatas menunjukkan bahwa perbuatan baik (dalam hal ini sedekah) dapat mempengaruhi nasib seseorang, siapapun dia dan apapun agamanya.

Ternyata prinsip sukses sederhana “Te’no, We’ono” ternyata memiliki basis yang sangat kuat berdasarkan nash-nash di atas. Kembali ke cerita pengusaha di awal tadi, beliau cerita juga bahwa waktu dia pergi haji dulu, selain dzikir wajib dan sunnah, beliau seringkali ber-"dzikir" dengan prinsipnya itu. “Te’no, We’ono…Te’no, We’ono…Te’no, We’ono… Bimillahi Allahu Akbar… Te’no, We’ono…”. [undzurilaina]

Wednesday, February 4, 2009

Semar Loyo Dibalang Sendal

Selain lembaga pemerintahan, kebiasaan singkat menyingkat juga berlaku untuk tag line suatu daerah.

Solo Berseri, Jogja Berhati Nyaman, Temanggung Bersenyum, Cilacap Bercahaya, semuanya adalah singkatan. Juga untuk menyebut suatu kawasan, yang katanya akan menjadi suatu kawasan yang unggul dan berkembang.


Bermula dari Jabotabek, eh sekarang Jabodetabek. Muncul pula Gerbangkertosusila (Gresik, Bangkalan, Mojokerto, Surabaya , Sidoarjo, Lamongan), Barlingmascakeb (Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas, Cilacap, Kebumen), Pawonsari Bakulrejo (Pacitan Wonogiri Wonosari, Bantul, Kulon Progo, Purworejo), atau Joglosemar (Jogja Solo Semarang).

Beruntung tidak ada yang membalik urutannya menjadi Semarang Solo Yogya, disingkat menjadi Semar Loyo.

Mungkin di masa mendatang akan muncul juga Dibalang Sendal (Purwodadi, Batang, Pemalang, Semarang , Kendal), atau Kasur Bosok (Karanganyar, Sukoharjo, Boyolali, Solo, Klaten). Asal jangan Susu Mbokde (Surakarta , Sukoharjo, Mboyolali, Kartasura, Delanggu) atau Tanteku Montok (Panjatan, Tegalan, Kulwaru, Temon, Toyan, Kokap) yaitu satu daerah di Kulon Progo Yogyakarta yang rencananya mau dibikin Bandara Intl. dan Armada Laut di sekitar pantai Glagah Indah...

Anak-anak muda Jogja tidak kalah kreatifnya untuk ikut-ikutan menyingkat nama tempat.
Sebut saja Amplas untuk Ambarukmo Plaza , atau Jakal (Jalan Kaliurang), Jamal (Jalan Magelang). Kalau sampeyan sekolah di SMA 6, bisa nyombong kalau sampeyan sekolah di Depazter alias Depan Pasar Terban.

Bahkan, dari pusat kota Jogja, sangat mudah untuk mencapai Paris(Parangtritis), atau Pakistan (Pasar Kidul Stasiun alias Sarkem), bahkan Banglades (Bangjo Lapangan Denggung Sleman).

Sampeyan seorang yang enthengan, ringan tangan, suka membantu, ndak pernah menolak untuk dimintai tolong?
Berarti sampeyan layak menyandang nama Willem Ortano, alias Dijawil Gelem Ora Tau Nolak.

Atau kalau sampeyan pinter omong, jualan obat, meyakinkan orang dengan omongan sampeyan yang nggak karuan bener salahnya, maka jangan marah kalau sampeyan dipanggil
sebagai Toni Boster, alias Waton Muni Ndobose Banter.[sumber: SteWa]

Tuesday, February 3, 2009

Pengkhianatan Arab Saudi; Dari Pulau Tiran Hingga ke Perang Gaza

oleh: Saleh Lapadi

Uni Emirat Arab tanpa memiliki bukti kuat sampai saat ini masih mengklaim tiga pulau Abu Musa, Tunb Kecil dan Tunb Besar sebagai miliknya. Uni Emirat Arab memanfaatkan isu Arab dan propaganda internasional untuk tetap mengusik ketiga pulau ini. Namun ironisnya Arab Saudi tidak pernah mempermasalahkan dua pulaunya; Tiran dan Sanafir yang sampai saat ini diduduki oleh Rezim Zionis Israel. Apa rahasia dibalik bungkamnya Arab Saudi menyaksikan dua pulaunya diduduki Israel? Tulisan ini mencoba membongkar transaksi besar antara Arab Saudi dan Israel.


Urgensi Pulau Tiran dan Sanafir
Pelabuhan Elat yang terletak di Teluk Aqaba sangat strategis bagi Rezim Zionis Israel karena sebagian besar aktivitas ekspor dan impor rezim Zionis melalui pelabuhan ini. Pelabuhan Elat menjadi penghubung Israel dengan pesisir timur dan selatan Afrika dan negara-negara selatan dan barat daya Asia. Pelabuhan ini dihubungkan dengan pelabuhan Asqalan pesisir timur Laut Mediterania lewat jalur pipa minyak dan jalur darat. Dengan memiliki pelabuhan ini, Israel sudah tidak lagi membutuhkan Terusan Suez dan kenyataan ini menunjukkan strategisnya pelabuhan Elat bagi rezim ini.

Namun apakah satu-satunya jalur hubungan Israel dengan laut melalui Selat Tiran?

Selat Tiran adalah pulau yang menghubungkan Teluk Aqabah dengan Laut Merah. Mulut Selat Aqabah adalah pulau Tiran dan Sanafir. Mantan Duta Besar Rezim Zionis Israel di Amerika Ishaq Rabin mengatakan, “Kawasan ini, pulau Tiran dan Sanafir sangat strategis. Pertikaian tiga orang bersenjata saja mampu menutup selat ini.” Begitu strategisnya selat ini sehingga banyak pengamat menilai salah satu pemicu perang Arab-Israel tahun 1967 adalah sikap Mesir menutup selat ini bagi armada laut Israel.

Kronologi Sejarah Urgensi Pulau Tiran dan Sanafir
Mesir pada tahun 1949 menutup Terusan Suez untuk kapal-kapal Rezim Zionis Israel. Sikap Mesir ini secara otomatis mengangkat posisi Pelabuhan Elat menjadi sangat strategis bagi Israel. Karena dengan ditutupnya Terusan Suez tanpa memiliki pelabuhan ini bagi Israel berarti kapal-kapal dagang rezim ini setelah melakukan transaksi untuk kembali harus memutari Afrika Selatan terlebih dahulu.

Pada tanggal 13 September 1955, Mesir mengeluarkan peraturan bagi setiap kapal-kapal yang ingin melewati Teluk Aqabah harus mendapat izin negaranya. Sebaliknya, Israel melihat kendala dalam upayanya untuk mengakses laut bebas. Saat Gamal Abdel Nasser, Presiden Mesir menasionalisasikan Terusan Suez, negara-negara Perancis, Inggris dan Rezim Zionis Israel menyerang Mesir. Hasil dari perang ini adalah terealisasinya keinginan Rezim Zionis Israel dengan dibukanya kembali Selat Tiran dan ditempatkannya pasukan internasional di Teluk Aqabah dan Gurun Sina.

Pulau Sanafir untuk pertama kalinya diduduki Rezim Zionis Israel dalam perang tahun 1956 selama 10 bulan. Sebelum perang tahun 1967 Mesir menyewa pulau ini dari Arab Saudi dengan tujuan menutup Selat Tiran bagi armada kapal Israel. Namun setelah perang pulau ini menjadi jajahan Israel.

Sebelum terjadi perang, Mesir menuntut penarikan pasukan penjaga perdamaian PBB dari garis gencatan senjata dengan Israel. Pasukan perdamaian PBB pada tanggal 23 Mei 1967 menarik pasukannya dari sana. Mesir tetap menutup Selat Tiran bagi armada kapal Rezim Zionis Israel. Pendudukan ilegal Pelabuhan Elat di kawasan Umm Al-Rashrash oleh Rezim Zionis Israel setelah gencatan senjata tahun 1949, Luas Teluk Aqabah lebih banyak dimiliki oleh Mesir dan keyakinan negara ini bahwa Selat Tiran bukan kawasan bebas menjadi alasan Mesir untuk menutup selat ini.

Langkah yang dilakukan Mesir menunjukkan negara ini telah siap untuk melakukan perang paling menentukan dengan Rezim Zionis Israel. Namun Rezim Zionis Israel mendahului Mesir dengan lampu hijau yang diberikan Amerika, pagi hari tanggal 5 Juni 1967 membombardir 9 bandar udara Mesir selama 3 jam dan setiap kalinya selama 10 menit. Pasukan darat rezim ini siang hari itu juga menyerang perbatasan Mesir dan kemudian merangsek maju mendekati terusan Suez. Sore hari kedua perang (6 Juni), Panglima Tertinggi Militer Mesir Abdul Hakim Amir memerintahkan pasukannya segera mundur dari Gurun Sina. Menyusul perintah ini, Mesir pada tanggal 7 Juni menerima dihentikannya perang dan menginformasikannya kepada Sekjen PBB, sementara militer Israel pada tanggal 8 Juni tengah berusaha untuk menduduki Gurun Sina secara keseluruhan.

Ada sejumlah capaian penting bagi Rezim Zionis Israel setelah berkahirnya perang ke-3 tahun 1967 antara Arab dan Israel. Hasil-hasil itu sebagaimana berikut:

1. Rezim Zionis Israel tetap menguasai dan menduduki daerah-daerah seperti Tepi Barat Sungai Jordan, Jalur Gaza, Gurun Sina milik Mesir, Dataran Tinggi Golan milik Suriah dan pulau Tiran dan Sanafir milik Arab Saudi.
2. Sekitar 330 ribu warga Palestina menjadi pengungsi.
3. Rezim Zionis Israel menguasai sumber air Sungai Jordan dan Selat Tiran dan Teluk Aqabah terbuka bagi armada kapal rezim ini.
4. Rezim Zionis Israel berhasil menciptakan garis pertahanan baru yang strategis untuk menghadapi serangan asing.
5. Sejumlah daerah telah diduduki Rezim Zionis Israel. Setelah ini tujuan Arab hanya berusaha untuk mengembalikan tanah-tanah yang telah diduduki baik tahun 1948 atau 1967.
6. Kekuatan militer Mesir, Yordania dan Suriah telah hancur.
7. Ketidakmampuan para pemimpin Arab, ketidakkompakan dan ketidakseriusan mereka untuk membebaskan Palestina semakin tampak jelas.
8. Perlawanan Palestina muncul dan dari hari ke hari semakin menguat. Menyusul ketidakmampuan dunia Arab, bangsa Palestina menemukan jati dirinya dan berusaha dengan melakukan berbagai inovasi untuk membebaskan tanah airnya.

Perang tahun 1967 bukan akhir dari perseteruan Arab-Israel. Karena pada tahun 1973 perang kembali terjadi yang menjadi pendahuluan terjadinya Perjanjian memalukan Kamp David yang ditandatangani oleh Presiden Mesir Anwar Sadat dan Perdana Menteri Rezim Zionis Israel Menachem Begin pada tanggal 17 September 1978. Dalam perundingan itu tidak disebutkan mengenai pulau-pulau milik Arab Saudi dan kawasan Umm Ar-Rashrash milik Mesir sebelum perang 1967 yang diduduki Rezim Zionis Israel.

Pengkhiatan Arab Saudi atas Cita-Cita Palestina dan Umat Islam
Mencermati kronologi pendudukan pulau Tiran dan Sanafir milik Arab Saudi oleh Rezim Zionis Israel dan bungkam pemerintah Arab Saudi atas kenyataan ini menimbulkan berbagai pertanyaan. Apakah mungkin ada kesepakatan rahasia antara pemerintah Arab Saudi dan Rezim Zionis Israel?

Perlu diketahui bahwa satu tahun setengah sebelum terjadinya perang Gaza, Arab Saudi menyakan akan membangun jembatan yang menghubungkan kedua negara ini dari Ra’s Al-Sheikh Hamid, Arab Saudi hingga Sharm Al-Sheikh, Mesir. Pernyataan ini kontan direaksi keras oleh Rezim Zionis Israel. Kerasnya pernyataan Israel ini dapat ditelusuri dalam tulisan yang dimuat dalam Situs Debka bahwa pembangunan jembatan itu dapat memicu perang besar di Timur Tengah. Alasan perang tahun 1967 antara Arab dan Israel dibesar-besarkan agar para pejabat Arab Saudi segera menarik kembali keputusannya itu.

Jembatan dengan panjang 50 kilometer itu diperkirakan akan menghabiskan biaya sebesar 3 miliar dolar dan direncanakan akan selesai selama tiga tahun. Hampir dua tahun dari pengumuman rencana dan peletakan batu pertama dilakukan, namun sampai kini tidak ada informasi baru mengenai kemajuan proyek ini.

Agresi brutal militer Rezim Zionis Israel dan bungkamnya Arab Saudi menyaksikan kebiadaban rezim ini membuat opini umum dunia bertanya-tanya. Apakah bungkamnya para pejabat Arab Saudi di saat militer Israel melakukan kebiadabannya bagian dari kesepakatan rahasia Arab Saudi dan Israel dalam masalah proyek jembatan dari pulau Tiran? Terlebih lagi setelah sejumlah pakar menyebut-nyebut adanya sumber minyak di pulau Tiran dan Sanafir. Waktu jugalah yang akan menjawab apa sebenarnya di balik kemungkinan kesepakatan rahasia antara pengkhianat dan munafik umat Islam dengan Rezim Zionis Israel.

Namun jangan lupa akan pernyataan Rahbar atau Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran Ayatullah Al-Udzma Sayyid Ali Khamenei dalam suratnya kepada Perdana Menteri Palestina yang sah Ismail Haniyah. Beliau mengatakan, “Para pengkhianat Arab juga harus tahu bahwa nasib mereka tidak akan lebih baik dari orang-orang Yahudi dalam perang Ahzab”, sambil menyebut ayat ke-26 surat Al-Ahzab yang berbunyi, “Dan dia menurunkan orang-orang Ahli Kitab (Bani Quraizhah) yang membantu golongan-golongan yang bersekutu dari benteng-benteng mereka, dan dia memasukkan rasa takut ke dalam hati mereka. Sebagian mereka kamu bunuh dan sebahagian yang lain kamu tawan.”

Ahmadinejad: Boikot Produk Israel!

Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad menyerukan pemboikotan barang-barang Israel, memperingatkan tentang kemungkinan negara Yahudi itu akan melancarkan serangan baru terhadap rakyat Palestina, kata laman kepresidenan Iran, Senin.


“Peradilan para pemimpin rejim Zionis itu harus terus diupayakan dan barang-barang Zionis itu harus diboikot,” kata Ahmadinejad dalam satu pertemuan dengan ketua gerakan Hamas , Khaled Meshaal yang dikutip situs internet itu dan dilaporkan AFP.

Hamas dan Israel sama-sama mengumumkan gencatan 18 Januari, yang mengakhiri perang 22 hari di Gaza yang menewaskan lebih dari 1.330 warga Palestina dan 13 orang Israel.

“Zionis yang kalah tidak akan berhenti menyerang bahkan dalam situasi ini dan mereka kemungkinan akan menyerang kembali,” kata Ahmadinejad .

Israel memberlakukan satu blokade atas Gaza sejak Hamas menguasai Jalur Gaza pertengahan tahun 2007 dalam pertempuran di jalan-jalan dengan faksi Fatah, saingannya.

Meshaal bertemu dengan pemimpin tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, Minggu dalam kunjungan pertamanya ke Republik Islam itu sejak perang Gaza. Iran adalah pendukung kuat Hamas dan tidak mengakui Israel.(antara)

Saturday, January 31, 2009

Presiden Israel Diteriaki "Pembunuh" oleh PM Turki

DAVOS, JUMAT — Perdana Menteri Turki Tayyip Erdogan beranjak meninggalkan Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss, Kamis (29/1), setelah menyebut Presiden Israel Shimon Peres sebagai "pembunuh." Sebutan itu dikumandangkan oleh Tayyip Erdogan sebagai bentuk keprihatinan terhadap sikap Shimon Peres yang mendukung operasi militer Israel di Gaza.


Peserta debat yang bertopik Gaza, seperti penasihat Presiden Barack Obama, Valerie Jarret, tersontak
melihat Erdogan dan Shimon Peres terlibat debat sengit dengan nada tinggi dan penuh emosi. Dalam debat yang memanas itu, Peres tetap membela posisi Israel dalam serangan militer selama 23 hari terhadap militan Hamas.

Peres menerangkan, operasi militer Israel diberlakukan sebagai respons atas serangan roket Hamas selama 8 tahun yang diarahkan ke wilayah teritorial Israel. Saat menyampaikan pandangannya itu, Peres kerap kali melepas pandangannya ke Erdogan yang mengkritik pemblokadean Israel atas wilayah Gaza.

Erdogan menyebut pemblokadean itu sebagai penjara "terbuka" yang terisolasi dari belahan dunia lain. Erdogan menyampaikan keprihatinannya terhadap operasi militer Israel yang menewaskan sekitar 1.300 warga Palestina, lebih dari separuh di antaranya adalah warga sipil.

"Kenapa Hamas menembakkan roket? Tak ada pemblokadean terhadap Hamas sebelumnya," kata Peres dengan nada suara penuh emosional. "Kenapa mereka (Hamas) memerangi kami, apa yang mereka inginkan? Tak pernah ada kelaparan sebelumnya di Gaza."

Debat ini melibatkan Israel dan Turki sebagai pusat perhatian mengingat peran penting Turki sebagai moderator perdamaian Israel dengan Suriah. Erdogan menyampaikan kekecewaannya dengan mengenang upayanya mengadakan pendekatan perdamaian dengan Perdana Menteri Israel Ehud Olmert sebelum Israel melancarkan operasi militer di Gaza.

"Saya sedih mengetahui peserta forum bertepuk tangan terhadap ucapanmu (Peres)," kata Erdogan. "Kamu pembunuh. Dan saya berpendapat tindakan itu sangat keliru." Emosi Erdogan memuncak saat seorang moderator panel memotong pernyataannya untuk menanggapi pembelaan Peres terhadap operasi militer Israel melawan Hamas.

Luapan kemarahan ini berlangsung menyusul diadakan debat selama 1 jam di forum yang dihadiri oleh sejumlah pemimpin dunia di Davos. Erdogan berupaya memojokkan Peres lewat sanggahannya saat debat akan berakhir dengan meminta moderator yang adalah kolumnis Washington Post, David Ignatius, memperkenankan menambah waktu baginya untuk berbicara.

"Saya masih ingat dengan anak-anak yang tewas di pantai-pantai," tegas Erdogan. Saat Erdogan diperintahkan menghentikan komentarnya, Erdogan dengan sikap gusar meninggalkan forum yang dihadiri panelis Sekjen PBB Ban Ki-moon dan Sekretaris Liga Arab Amr Moussa.

"Anda mengetahui betul pembantaian terhadap warga Palestina," ujar Erdogan secara lantang kepada Peres. "Saya masih ingat 2 mantan perdana menteri di negaramu yang pernah mengaku senang saat tank-tank Israel berhasil menjejakkan kehadiran di tanah Palestina," tambahnya.

Saat moderator berupaya memotong pernyataan Erdogan dengan menjelaskan waktunya telah memasuki jam makan malam, Erdogan menyelanya dengan mengatakan: "Jangan interupsi saya. Kamu tidak mengizinkan saya untuk berbicara. Saya tidak akan ke Davos lagi," tegasnya.

Erdogan menekankan alasannya meninggalkan forum di Davos bukan karena perselisihannya dengan Peres. Erdogan menjelaskan tidak diberikan cukup waktu untuk menanggapi pernyataan Shimon Peres. Erdogan mengeluh karena Peres diberikan waktu 25 menit untuk menyampaikan komentar, sementara dirinya hanya diberi waktu 12 menit.

Friday, January 30, 2009

Semangat Muqawwamah dan Merdeka atau Mati

Seorang ustadz lulusan perguruan tinggi Syiria pernah bercerita dalam sebuah forum mengenai pengalamannya dulu sewaktu beliau sekolah. Ada sebuah pengalaman menarik yang ingin saya ceritakan disini tentang hubungan Palestina dengan Indonesia. Pada suatu saat sang ustadz bersama teman-temannya berniat untuk melakukan perjalanan ke Palestina. Dalam perjalanan menuju kesana, rombongan bertemu dengan beberapa pemuda Palestina, dan kemudian mereka pun mulai berkenalan. Ketika sampai pada ustadz tadi, pemuda palestina tersebut menunjukkan ekspresi yang begitu gembira ketika mengetahui bahwa ustadz tersebut berasal dari Indonesia.

Ahlan wa sahlan! kami bangsa Palestina sejak lama memiliki kedekatan dengan Bangsa Indonesia”, begitu kira2 sapaan orang palestina tadi kepada sang ustadz Indonesia itu. Merasa penasaran, sang ustadz pun bertanya apa pasalnya kok bisa bangsa Indonesia dekat dengan bangsa Palestina.

“Kami bangsa Palestina kini merupakan bangsa yang terjajah. Sudah sekitar 60 tahun ini kami berjuang dalam penjajahan Israel yang semakin ekspansif. Bangsa Palestina terus berjuang melawan penjajahan dengan semangat perlawanan (muqawwamah). Kami akan terus berjuang sampai kami mendapatkan hak kemerdekaan kami hingga titik darah penghabisan. Dalam hal ini di sekolah-sekolah, guru-guru kami seringkali memberikan contoh perjuangan bangsa indonesia dalam merebut kemerdekaan dengan semangat yang terkenal dengan Merdeka atau Mati. Bangsa Indonesia tidak kenal menyerah walaupun harus berjuang selama 350 tahun lamanya. Itulah salah satu sebab kedekatan kami dengan bangsa Indonesia, yaitu karena menginspirasikan semangat untuk merebut kemerdekaan. Jadi kalau misalnya kami belum berhasil merebut kemerdekaan saat ini, maka insya Allah anak-anak kami bisa mendapatkannya. Kalaulah anak-anak kami belum bisa, maka insya Allah cucu-cucu kami nanti yang bisa merebutnya. Dan seterusnya. .”, demikian kira-kira penjelasan pemuda palestina itu menjawab penasaran sang ustadz.

Bangsa Palestina saat ini merupakan satu-satunya bangsa di dunia yang masih dalam penjajahan, kalau kita tidak menganggap apa dilakukan oleh AS terhadap Iraq dan Afghanistan sebagai penjajahan. Sebagai bangsa yang dalam mukadimah undang2 dasarnya menyatakan dengan tegas bahwa penjajahan harus dihapuskan dari muka bumi ini, kita sudah seharusnya mendukung Palestina dalam merebut kemerdekaannya. Apalagi kalau kita melihat dalam sejarah bahwa Palestina merupakan negara pertama bersama Mesir yang memberikan pengakuan atas kemerdekaan bangsa kita ini.

Sering saya baca pengamat, pejabat, penulis sampai dengan yang melabelkan dirinya dengan cendikiawan muslim masih ragu-ragu untuk membela bangsa Palestina. Mereka berkata bahwa bangsa Palestina yang melakukan perlawanan (seperti Hamas) merupakan penyebab terjadinya perang yang berkelanjutan. “Sudahlah, hentikan saja perlawanan, Israel itu menyerang karena diserang oleh kelompok-kelompok ekstrimis berjiwa teroris”, demikian kira2 kata para orang yang katanya pintar itu. Apakah mereka tidak menyadari bahwa apa yang kita semua dapatkan saat ini yaitu kemerdekaan bangsa ini merupakan hasil perjuangan yang tak kenal menyerah dari para pejuang yang dulu juga sering dibilang ekstrimis oleh para penjajah?! Apakah kemerdekaan dapat dicapai apabila para pejuang dulu mendengarkan nasihat2 “bijak” dari orang-orang “pintar” seperti mereka itu di zamannya?

Sungguh aneh!! Kalau memang tidak bisa membantu, sudahlah mendingan diam saja!

Tapi sekarang ini saya kira dunia sudah banyak mengetahui siapa sesungguhnya Israel, Amerika dan siapa sesungguhnya Palestina. Kemenangan adalah keberhasilan pencapaian tujuan. Ketika tujuan tercapai, maka dapat dikatakan dia menang. Dan jika tidak tercapai artinya kalah. Dalam serangan Gaza yang dimulai 27 desember yang lalu, Israel bertujuan untuk menumpas Hamas dan menghancurkan jalur-jalur pasokan untuk rakyat Gaza. Apa yang dihasilkan dari perang Furqan 22 hari itu? Apakah tercapai tujuan Israel untuk menghancurkan Hamas? Justru sebaliknya, Hamas dikabarkan semakin kuat dan mendapat dukungan yang semakin luas. Dukungan dari segala penjuru dunia mengalir untuk Palestina dan mengutuk Israel. Sesuatu yang sebelumnya sangat susah didapatkan oleh Palestina dari dunia.

Semangat Muqawwamah dan “Merdeka atau Mati”, keduanya adalah semangat perlawanan dan perjuangan menuntuk kemerdekaan, semangat untuk menuntut keadilan atas kezaliman. Lebih dari 1300 tahun yang lalu, cucu Rasulullah SAW yang bernama al-Husain, berteriak lantang “Haihaat mina ad-dzillah!”, Pantang Hina terhadap imperium zalim Yazid. Waktu itu kalau dilihat secara materi, memang kelihatannya pihak al-Husain lah yang kalah karena dibantai dengan sangat sadis oleh pasukan Yazid bin Muawiyyah. Tapi karena peristiwa itulah, semua orang menjadi sadar siapakah sebenarnya Yazid sang penguasa zalim yang mengatas namakan dirinya amir al-mukminin. Untuk itu –menurut saya—selayaknya
kita berikrar dalam diri untuk berdamai terhadap pihak yang berdamai terhadap keadilan, dan berperang terhadap pihak yang bermusuhan terhadap keadilan. Ana silmun li man salamahum, wa harbun li man harabahum. [undzurilaina]

Thursday, January 29, 2009

KREATIFITAS PEJABAT INDONESIA ANTI KORUPSI

Setelah proyek multimilyar dollar selesai, sang dirjen kedatangan tamu bule wakil dari HQ kantor pemenang tender. Karena sudah 7 tahun di Jakarta jadi dia bisa cakap Indonesia.

Bule: "Pak, ada hadiah dari kami untuk bapak. Saya parkir dibawah mercy S320."

Dirjen : "Anda mau menyuap saya? ini apa-apaan? tender dah kelar kok. Jangan gitu ya, bahaya tau haree genee ngasih-ngasih hadiah."


Bule: "Tolonglah pak diterima. Kalau gak, saya dianggap gagal membina relasi oleh kantor pusat."

Dirjen: "Ah, jangan gitu dong. Saya gak sudi!!"

Bule: "Gini aja, pak. gimana kalau bapak beli saja mobilnya..."

Dirjen: "Mana saya ada uang beli mobil mahal gitu!!

Bule menelpon kantor pusat.

Bule: "Saya ada solusi, Pak. bapak beli mobilnya dg harga Rp.10.000,-saja."

Dirjen: "Bener ya? OK, saya mau, jadi ini bukan suap. Pake kwitansi ya.."

Bule: "Tentu, Pak.."


Bule itu kemudian menyiapkan dan menyerahkan kwitansi. Sang Dirjen membayar dengan uang 50 ribuan, mereka pun bersalaman.

Bule: "Oh, maaf Pak. Ini kembaliannya Rp.40.000,-."

Dirjen: "Gak usah pakai kembalian segala. Tolong kirim saja 4 mobil lagi kerumah saya ya..."

Bule : @#$%^& !!!***

Nasgitel, Rokok dan Usul Fiqih

Siang itu seperti biasa mas Bejo mampir ke wedangan Pak Min Senthung untuk istirahat sebentar sebelum melanjutkan lagi tugasnya melayani para customernya menggunakan becak kesayangannya yang sekarang diparkir persis di depan warung wedangan Pak Min.

Ketika masuk ke wedangan itu, mas Bejo melihat sudah ada beberapa orang yang memang pelanggan loyal wedangan Pak Min. Disitu diantaranya ada pakde Basuki yang lulusan sekolah agama, ada mas Ahmad yang lulusan pesantren kyai marbun, dan ada juga mas Andi yang sarjana komunikasi.


“Nasgithel, Pak!”, kata mas Bejo ke Pak Min mulai pesanan favoritnya yaitu teh nasgitel alias teh panas legi tur kenthel (panas, manis, kental). Tak berapa lama, nasgitel pun sudah terhidang di hadapan mas Bejo yang sudah mulai menyantap beberapa bakwan dan gorengan yang memang muantap dan khas wedangan Pak Min.

Seperti biasa setelah makan gorengan dan wedang nasgitel nya itu, mas Bejo mengeluarkan sebungkus rokok kretek dari sakunya, dan “jress..sssshh..krtkkrtk..”, mas Bejo menyalakan dan mulai menghisap rokok kreteknya itu. Bau rokok kretek murahan itu pun langsung memenuhi wedangan Pak Min.

Bau rokok mas Bejo yang menyengat itu menyadarkan pakde Basuki dan mas Ahmad yang waktu itu lagi asyik ngobrol.
“Loh…sampeyan kok ijik ngrokok, Jo?!”, tanya pakde Basuki kepada mas Bejo dengan nada agak tinggi.
“Lha kenopo to pakde? Lak biasa wae to aku ben mrene lak yo ngrokok..?!”, jawab mas Bejo heran dengan pertanyaan pakde Basuki.

“Joo..Bejo..! Lha sampeyan opo ra weruh nek MUI ki wingi wis mengharamkan rokok…?! Lha nek ngerti haram terus tetep dilakoni yo dosa kowe, Jo!”, kata pakde Basuki.
“Lha nyuwun pangapunten, pakde. Kulo mboten ngertos kulo, lha wong kulo lak dinan2e lak nang ndalan dadi pilot, dadi mboten weruh. Emange knopo to pakde kok diharamne?”, jawab mas Bejo.

“Dadi ngene ceritane, Jo”, pakde Basuki memulai penjelasannya. Dalam menentukan hukum fiqih kuwi, para ulama nduwe metode utowo cara2 untuk menyimpulkan sesuatu itu haram, dianjurkan (sunnah), mubah, makruh utowo haram. Ilmu sing mempelajari kuwi jenenge ilmu “Ushul Fiqih”.

“Opo to kuwi kok nganggo usul2 barang, Pakde?”, tanya mas Bejo menyela.
“Sik to! menengo sik, Jo!”, kata pakde Basuki meminta mas Bejo mendengarkan dulu penjelasannya.

Dalam ilmu ushul fiqih kuwi ono macem2 kaidah sing digunakne karo para Ulama untuk menyimpulkan sebuah hukum. Sebagian ulama menganggap bahwa tidak semua urusan itu ada aturannya dalam al-Quran dan hadits kanjeng Nabi Muhammad SAW. Koyo masalah rokok iki sing menurut mereka gak ono aturane mergo jarene mulai ono setelah Colombus ketemu wong indian nang Amerika kono. Karena itu para ulama mengembangkan kaidah2 untuk memutuskan hukum seperti kaidah misale analogi utowo qiyas, menutup jalan2 atau sadd dhara’I, membuka jalan2 atau fathu dhara’I, pertimbangan kemaslahatan umat utowo maslahah mursalah, lan sak teruse.

“Opo meneeh kuwi?!”, mas Bejo tambah bingung.
“Sek to, menengo sek to. Ora crigis wae! Meh dilanjutne ora?!”, pakde Basuki mulai jengkel karena disela lagi oleh mas Bejo.
“Nggih…nggih.. Monggo diterusaken, Pakde”, kata mas Bejo meminta pakde meneruskan penjelasannya.

“Lha para Ulama sing mengharamkan rokok iki, pada umumnya menggunakan prinsip sadd dhara’I atau menutup jalan2 yang dapat menyebabkan kemudharatan pada individu maupun masyarakat. Nah karena kabew wong (termasuk pak dokter sing sok udud) mengatakan bahwa rokok itu berbahaya bagi kesehatan, maka jalan menuju kebahayaan/kemudharatan kuwi kudu ditutup. Dadi kesimpulane rokok kuwi Haram hukume”, kata pakde Basuki mengakhir penjelasannya tentang kenapa rokok haram.

“sek..sek to, pakde! Ampun kesusu”, kata mas Ahmad menyela kesimpulan pakde Basuki yang menurutnya terlalu terburu-buru. Mas Ahmad sendiri merokok, karena kyainya dulu juga perokok berat. Menurut sing takpelajari seko kyai-ku ndisik, kesimpulane bedo karo kesimpulan sampeyan niku.
“Lha kyai sampeyan ndisik ngerti ushul fiqih opo ra?!”, tanya pakde Basuki ke mas Ahmad.
“Kyaiku ndisik yo ngerti ushul fiqih, ora mung njenengan thok sing ngerti. Kyaiku ndisik yo nggunake kaidah2 sing njenengan omong mau”, jawab mas Ahmad agak marah kyainya dipertanyakan keilmuannya.
“Lha terus piye ceritane lek ngono?”, kata pakde Basuki menantang mas Ahmad untuk menjelaskan bagaimana penjelasannya kok bisa kesimpulannya berbeda dengan kesimpulannya.
“Ngene, pakde. Koyo sing njenengan omong mau, nang ushul fiqih ki ono prinsip fathu dhara’I atau membuka jalan2 yang dapat menimbulkan kebaikan. Contone, rabi atau menikah kuwi lak apik, dadi segala hal-hal yang dapat membuka jalan menuju pernikahan yang baik, misale koyo biro jodoh sing apik, kuwi hukume yo dadi baik. Setuju nggak, Pakde?”, tanya mas Ahmad meminta persetujuan pakde basuki.

“Yoh..he’e, terus piye bab rokok mau?”, jawab pakde Basuki.
“Sik..sabar sithi to, Pakde! Saiki aku meh takon menurut njenengan nek bermasyarakat utowo bersilaturahim kuwi apik opo elek?”
“Yo apik no, piye to kowe ki kok mbulet wae penjelasane. Bab rokok ki piye?”, jawab pakde Basuki yang sudah nggak sabar menunggu jawaban dari mas Ahmad kenapa rokok bisa halal menurut mas Ahmad.
“Wis, njenengan ki kok nggak sabaran tenan to, Pakde! Lha merokok kuwi telah terbukti bisa memperlancar jalannya kita bermasyarakat dan bersilaturahim. Nek ngobrol karo ngrokok lak obrolan iso dadi nyantai lan akrab ngono to. Nha dadi rokok kuwi hukume yo dadi baik alias halal, malah iso2 cenderung sunnah! Itu karena dia bisa membuka jalan menuju silaturahim dan bermasyarakat yang baik”, jawab mas Ahmad dengan yakin mengakhiri penjelasannya tentang rokok.

Pakde Basuki terdiam bingung, kok bisa prinsip yang sama menghasilkan kesimpulan yang berbeda. Yang satu bilang haram dengan alasan menutup kemudharatan, yang satu bilang halal dengan alasan membuka jalan kebaikan.
Mas Bejo tidak bisa menahan senyumnya karena lega ada yang membelanya untuk tetap menjadi ahli hisab rokok.

Mas Andi yang dari tadi diam mulai angkat bicara.
“Ehhmm2…aku boleh ikut ngomong nggak ini?”, mas Andi minta izin untuk berpendapat.
“Oh…monggo wae. Disini semua orang bebas berpendapat”, kata mas Ahmad menjawab.

“Nyuwun sewu, mas Ahmad. Tapi pendapat sampeyan itu menurutku lemah!”, kata mas Andi.
“Lha kok bisa?!”, tanya mas Ahmad dengan nada agak tinggi. Sementara Pakde Basuki memperoleh secercah harapan untuk mencari pembelaan terhadap pendapat awalnya bahwa rokok itu haram.
“Gini, mas Ahmad. Karena sampeyan bilang tadi bahwa rokok itu baik karena dapat membuka jalan ke bermasyarakat dan bersilaturahim yang baik, maka mestinya kesimpulan hukumnya adalah bahwa merokok itu boleh kalau dihisapnya secara bersama2 sambil bersilaturahim. Jadi kalau merokoknya sendirian di jamban, habis makan, temen minum kopi, dan sejenisnya maka hukumnya menjadi haram menggunakan prinsip yang dibilang pakde Basuki?!”, kata mas Andi.

Kali ini semua jamaah wedangan pak Min menjadi bingung.
“Bingung ya?!”, tanya mas Andi.

Mas Andi pun meneruskan penjelasannya mengenai tata-cara ulama dalam menyimpulkan hukum.
Ada lagi kelompok ulama lain yang meyakini bahwa tidak ada segala sesuatu di muka bumi ini yang nggak ada aturannya dalam nash (Quran dan hadits), baik yang bersifat umum/khusus, mutlak/bersyarat, tersurat/tersirat, dsb. Dalam surat al-Anam, Allah SWT berfirman yang artinya Tiadalah kami lupakan sesuatupun dalam kitab ini (al-Quran).

Karena itu dalam hal rokok ini para ulama mencoba mencari nash yang mengisyaratkan ke arah itu. Kemudian misalnya ditemukan ayat yang mengatakan bahwa menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk. Nah, tugas para ulama atau mujtahid lah yang menentukan apakah rokok itu termasuk sesuatu yang baik atau buruk. Dan terkadang kesimpulan yang dihasilkan bisa bergantung pada kondisi-kondisi tertentu, bergantung pertimbangan mujtahid. Adapun jika para ulama tidak berhasi melakukan penyimpulan hukum maka berlakulah kaidah-kaidah penerapan seperti al-bara’ah (terserah, semuanya boleh), ihtiyath (prinsip kehati-hatian), dsb.

Alhasil, terlepas dari soal rokok ini, ilmu fiqih ini memang kompleks. Kalau kita tahu kompleksitas ilmu fiqih ini semestinya kita tidak gampang2 menghakimi suatu pendapat benar atau salah. Memang seharusnya urusan seperti ini diserahkan kepada ahlinya”, kata mas Andi mengakhiri penjelasannya.

Semua jamaah majelis wedangan Pak Min pun terdiam. Sebagian mengangguk-angguk, sebagian lagi Cuma diam terpana mendengar penjelasan mas Andi yang sarjana komunikasi itu tapi bisa lebih bijak dari seorang yang memang mempelajari agama secara khusus. Mungkin karena terlalu yakin dengan kebenaran gurunya masing-masing sehingga dia menganggap bahwa kebenaran hanyalah miliknya, yang lainnya salah.

Pak Min yang dari tadi cuman ndengerin perdebatan seputar permasalahan hukum fiqih ini mulai nggak sabar untuk berkomentar. “Mangkane awake dewe kabeh ki lak wong awam to masalah iki. Lha takon masalah ngene kok nang wong awam. Wong tuwa ku ndisik tau pesen nang aku. Intine sebagai awam, awake dewe ki mesti memahami Quran lan hadits ki seko para ahline. Lha nek takon hukum nang wong awam ki podo karo mbek wong edan!”, kata Pak Min.

Kata2 Pak Min itu membuat para jamaah wedangan Pak Min saling menatap satu dengan lainnya, lalu serentak berteriak: “wooo…lha dadi wong edyan kabeeh iki!! Hahahahaha…”. Semua jamaah menyadari bahwa tidak seharusnya kita terburu2 menghakimi pendapat lain sebagai salah atau sesat, kecuali kalau mau dibilang sebagai "orang gila" seperti kata Pak Min tadi. [undzurilaina]