Tuesday, March 16, 2010

Mengapa Manusia Patuh?

Allamah Iqbal, seorang cendikiawan besar asal Pakistan, pernah mengatakan bahwa manusia bisa menjadi budak manusia lain karena kebodohannya. Dia memiliki dalam dirinya “ego” untuk menyanjung dirinya sendiri. Namun anehnya, mutiara sangat berharga itu malah dilemparkannya ke bahwa kaki orang2 zalim (beliau mencontohkan seperti Qubad dan Jamsyid). Setelah memiliki mentalitas budak, dia lalu menjadi sosok binatang yang lebih buruk dari seekor anjing. Sungguh, saya tak pernah melihat anjing manapun yang bersujud di hadapan anjing lainnya!

Manusia terkadang mematuhi sesuatu karena kebodohannya. Islam jelas melarang pola kepengikutan secara membabi buta seperti ini. Dulu waktu Muhammad Rasulullah SAW mendakwahkan Islam kepada para kafir Quraisy, mereka menolaknya dengan alasan bahwa nenek moyang mereka telah berbuat yang sama dengan mereka. Satu2nya alasan mereka adalah bahwa para pendahulu mereka telah berbuat yg sama dengan mereka. Maka Al-Quran pun mengecamnya:
“Dan apabila mereka melakukan perbuatan keji, mereka berkata: Kami mendapati nenek moyang kami mengerjakan yang demikian itu, dan Allah menyuruh kami mengerjakannya. Katakanlah, sesungguhnya Allah tidak menyuruh (mengerjakan) perbuatan yang keji. Mengapa kamu mengada2kan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui?” (QS: al-A’raf:28)

Itulah alasan pertama kenapa seseorang itu patuh, yaitu ikut2an tanpa alasan yang jelas (kebodohan). Dan ikut2an tanpa dasar pengetahuan seperti ini terlarang dalam Islam.

Seseorang bisa juga patuh disebabkan karena kecemasan dan ketakutan. Orang2 zalim biasa memaksa manusia untuk patuh terhadap segenap titah mereka melalui intimidasi dan ancaman.

“Firaun berkata, Sungguh jika kamu menyembah Tuhan selain aku, benar2 aku akan menjadikan kamu salah seorang yang dipenjarakan” (QS. Al-Syuara: 29)

Atau bisa juga manusia terpaksa patuh karena adanya janji2 atau imbalan tertentu yang menggiurkan. Seperti dilakukan Firaun kepada para ahli sihir kerajaannya yang akan memberikan imbalan yang menarik dengan syarat mereka mampu mempermalukan Musa as.

Cara ini (ancaman dan bujuk rayu) seringkali ampunh untuk membuat manusia mematuhi hukum. Namun cara2 seperti ini akan membuat sikap kritis dan kemandirian orang yang terkait menjadi lemah.
Memang, Islam juga menegaskan tentang siksa neraka dan pahala surga. Namun semua itu bukan dimaksudkan terjadi di dunia ini, melainkan nanti di masa depan. Ya, setelah mati. Karena itu, mereka akan memilih jalan hidup mereka dan mematuhi segenap hukum dengan penuh kerelaan. Ketakutan terhadap hukuman atau harapan terhadap ganjaran nikmat pada hari pembalasan tidak memaksa manusia utk melaksanakan perintah2 tertentu. Terbukti kita setiap saat mendengar, melihat, dan bahkan sering kali juga melakukan pelanggaran dan pengabaian terhadapnya.

Hal lain yang terkadang juga membuat seseorang patuh terhadap sesuatu adalah karena adanya tuntutan kebutuhan dan persaingan dengan manusia lain sehingga kemudian menghalalkan segala cara dan patuh kepada hawa nafsunya tersebut.

Kemudian sebab yang keempat seorang untuk patuh adalah Akal pikiran dan pengetahuan. Seorang pengguna jalan akan dengan senang hati mematuhi aturan penutupan suatu jalur tertentu jika ia mengetahu alasannya kenapa polisi menutup jalur tersebut. Tapi jika mereka tidak diberi tahu, maka dia akan dapat menyangka polisi memberlakukan aturan secara sewenang2 dan kemudian menolak untuk mengikutinya.

Islam juga menggunakan alasan yang masuk akal untuk membuat manusia mau mematuhi hukum2nya. Inilah yang seringkali dikatakan pada setiap yang diperintahkan atau dilarang oleh Islam. Puasa agar kita bertaqwa, Sholat untuk mencegah fakhsya dan munkar, Qishas untuk kehidupan, infak diumpamakan seperti menanam kebun yang buahnya berlipat, dst. Dan berbagai ayat dan riwayat lain yang menyatakan pentingnya alasan dan argumen yang masuk akal dalam mengikuti perintah2 Islam.

Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata, dan telah Kami turunkan bersama mereka Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat menegakkan keadilan. (QS. al-Hadîd: 25)

Kemudian alasan kelima yang menjadikan seseorang patuh terhadap hukum atau perintah adalah karena Cinta.
Dan di antara manusia ada orang2 yang menyembah tandingan2 selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapaun orang2 yang beriman sangat mencintai Allah. (al-Baqarah:165)

Seseorang yang cinta kepada sesuatu, dia menjadi patuh terhadapnya. Ayat diatas mengatakan bahwa orang2 beriman itu sangat mencintai Allah, yang karenanya kemudian mereka menjadi sangat patuh kepada aturan2-Nya. Kata ahli psikologi, seseorang yang cinta kepada seseorang, maka dia berusaha sekuat tenaganya untuk menjadi seperti yang dicintainya.

Katakanlah: "Jika kamu (benar2) mencintai Allah, ikutilah aku (Muhammad), niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." (QS. 3:31).

Yang menarik juga adalah ayat-Nya dalam surat as-Syuara: 23 berikut ini:
“Katakanlah (Wahai Muhammad), aku tidak minta balasan apapun atas risalah yang aku sampaikan pada kalian kecuali kecintaan kalian terhadap keluargaku”

-----
Ya, terdapat beragam cara yang dapat mendorong manusia untuk patuh terhadap suatu aturan. Dalam hal ini, dengan penuh yakin, kita dapat langsung menyatakan bahwa cara terbaik dan paling masuk akal untuk itu adalah cara keempat dan kelima, yaitu cara yang dilandasi pengetahuan, kearifan, cinta dan kasih sayang.

Jadi, kita tidak dapat meng-gebyah uyah (baca: generalisir) bahwa semua orang yang patuh kepada sesuatu atau seseorang adalah manusia bodoh seperti kawanan kambing yang manut kemana dibawa oleh penggembalanya.

Dunia ini penuh dengan ragam topik permasalahan. Untuk setiap topik permasalahan itu perlu sebagian orang untuk menekuninya sehingga dapat menjadi “panutan” solusi bagi manusia selainnya. Karena tak mungkin seseorang memiliki resource yang memadai untuk menjadi ahli dalam semua topik.

“Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mukmin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.” (QS. 9:122)

Menghargai dan meninggikan derajat orang yang lebih ahli ilmu adalah hal yang sangat logis, alih2 kultus. Bahkan Allah SWT sendiri yang meninggikan derajatnya.

“...niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat” (QS. 58:11).

Namun, betapapun, tentu saja tingkatan kepatuhan kita pada ahli berbeda-beda. Hal ini –menurut saya—tergantung seberapa tinggi tingkat jaminan kebenaran dari apa yang disampaikan oleh Ahli tsb. Jaminan ini bisa bersumber vertikal (Ilahiyyah) maupun horizontal (tingkat kepakaran, integritas, akhlak, dsb). Apa yang disampaikan oleh Rasulullah SAW –misalnya—tentu pasti benar karena ada jaminan dari Sang Pencipta Segala bahwa apa yang darinya tidak lain kecuali wahyu. Jaminan keterjagaan mutlak seperti ini yang tidak dimiliki oleh semua manusia ahli. Oleh karenanya yang diperlukan adalah menjaga sikap kritis terhadap pendapat ahli. Bukan dengan sekedar PeDe tanpa cukup modal dengan kemampuan sendiri terhadap segala hal dan kemudian mengabaikan “sistem ahli”. Ini justru tidak masuk akal, menurut saya.

Semua orang bisa jadi ahli pada bidangnya masing2. Dan dengan keahliannya masing2 itu, maka setiap orang dapat menjalankan perannya masing2 untuk menjalankan roda-roda kehidupan ini. Seseorang bisa berperan sebagai pengikut pada satu bidang, dan menjadi yang diikuti pada bidang yang lain.

So, Selamat berperan. Selamat menjadi Ahli!

Labels:


Read more!

Saturday, February 20, 2010

Yang diingat dan Akhir Catatan Perjalanan

Siapa yang Anda ingat dari teman sekolah Anda dulu?”, kata seseorang di radio yang saya tak ingat namanya tapi dari logat bicaranya sangat jelas bergenre java medokensis. Umumnya teman yang diingat itu katanya adalah teman yang paling pintar, yang paling bengal, yang paling cantik/ganteng, yang paling heboh, dan yang paling-paling lainnya. Memori manusia itu lebih mudah menangkap titik-titik ekstrim dari pengalaman yang dilaluinya. Kalau yang berada di area “sedang-sedang” saja, ya mesti berjuang sedikit lebih keras supaya masih bisa terpajang di memory temannya itu atau perlu ada pemicu tertentu untuk dapat mengingatnya.

Selain titik-titik ekstrim tersebut, manusia juga sangat susah melupakan titik akhir dari pengalamannya dengan seseorang. Dia cerita punya teman yang sudah bersahabat dengan seseorang selama lebih dari 20 tahun, tapi kemudian akhirnya bertengkar karena suatu hal selama 3 hari. Kemudian ketika ditanya apa yang paling diingat dari mantan sahabatnya itu, ia menjawab 3 hari pertengkaran itulah yang paling diingatnya. Masa 20 tahun bersahabat itu menjadi seolah hilang dari memori karena 3 hari di ujung akhir pengalamannya itu.

Saya kemudian berfikir bahwa sepertinya karakteristik ingatan manusia ini yang kemudian diterapkan orang dalam berbisnis. Bagaimana membuat produk/jasa yang dijualnya senantiasa berada dalam titik ekstrim ingatan manusia, menjadi “top of mind”. Program-program pemasaran produk yang baik selalu berusaha menjaga agar produknya selalu pada puncak ingatan para target pelanggannya. Gimana ketika orang sakit flu, selalu yang teringat pertama adalah panadol/decolgen. Ingat batuk, ingat konidin. Ingat sakit kepala, ingat bodrex. Kentucky, jagonya ayam. Dan seterusnya.

Begitu juga sering kita temui setiap kita akan meninggalkan sebuah tempat, apakah itu sebuah toko, rumah makan, kereta api, pesawat, ataupun tempat2 lainnya, mereka menerapkan prosedur standard yang tujuannya memberikan pengalaman terakhir yang menyenangkan sehingga bisa berharap nyantol di memori para pelanggannya. Dengan kata-kata yang renyah dan senyum yang manis atau setidaknya berusaha dimanis2kan. Terima kasih, kami tunggu kunjungan berikutnya. Terima kasih atas kepercayaannya menggunakan jasa kami. Terima kasih, menyenangkan dapat berbisnis dengan Anda. Atau sekedar ucapan terima kasih dengan senyuman. Atau pengalaman akhir lain yang didesain tanpa ucapan untuk membuat orang untuk “repeat order”.

Berkaitan dengan hal yang kedua ini, the end of experience, tiba2 saya jadi merinding. Tiba2 terbayang di benak saya bagaimana nanti akhir pengalaman hidup saya ini. Karena tentunya itu akan sangat menentukan nasib “bisnis” saya setelah hidup ini berakhir nanti.

Kata Dr Ali Syariati, ketika seseorang mencium bau maut, ruhnya menjadi murni, dan di saat seseorang terbujur mati, maka saat itulah dia menunjukkan dirinya yang sejati.

Dapat dipastikan, hanya orang2 yang tahu bagaimana mereka seharusnya mati sajalah yang tahu bagaimana mereka seharusnya hidup. Benar, bahwa hanya orang2 yang memandang hidup bukan sekadar adanya nafas yang naik-turun sajalah yang tidak memandang kematian sebagai sekedar tidak adanya nafas.

Kita bisa melihat bagaimana orang2 suci nan agung pada saat2 akhir menjelang akhir perjalanan hidupnya.

Sang Putra Ka’bah, Imam Ali bin Abi Thalib, secara spontan berteriak “Fuztu wa rabbi ka’bah” (demi tuhan ka’bah, sungguh aku beruntung) ketika pedang beracun Abdurrahman Ibn Muljam dipukulkan kepadanya selagi beliau sholat. Di saat2 akhir hayatnya dalam rasa sakitnya karena racun di pedang ibn Muljam itu, ia tak pernah mengeluh sedikitpun. Beliau mengumpulkan anggota keluarganya dan memberikan petuah2nya.

Dia yang berkata pada orang banyak, “Sampai kemarin saya adalah pemimpin Anda, hari ini saya menjadi sarana pelajaran bagi Anda, dan besok saya akan meninggalkan Anda. Semoga Allah mengampuni kita semua!”.

Imam meninggalkan musuh2nya hidup di dunia, namun kehidupan mereka sama dengan kehancurannya sendiri.

Kemudian bagaimana pula manusia teragung sepanjang zaman, Rasulullah SAW pada saat2 beliau menjelang akhir hayatnya. Beliau saw selalu ingat umatnya, “Ummatii...ummatiii”. Beliau saw juga terus berupaya memberikan nasehat-nasehatnya.

Diriwayatkan, pada suatu hari Ka’ab Akhbar bertanya kepada Khalifah Umar, “Apa yang dikatakan Nabi tepat menjelang wafatnya?” Khalifah Umar menunjuk kepada Ali, yang juga ada disana, seraya berkata, “Tanyakan kepadanya.”
Kemudian Ali berkata, “Sementara kepala Nabi tersandar ke bahu saya, beliau berkata, ‘Shalat, shalat!’”. Ka’ab Ahbar lalu berkata, “Ini pula cara nabi2 sebelumnya.” [Thabaqat Kubra, II, h.254, dikutip dari ar-Risalah, h.694]

Sejumlah ahli hadits mengutip kalimat terakhir yang diucapkan Nabi SAW sebelum menghembuskan nafas terakhirnya adalah, “Tidak! Dengan Sahabat Ilahi.”
Beliau saw lebih memilih menjalani kehidupan setelah dunia bersama orang2 yang disinggung dalam ayat:
Mereka itu akan bersama2 dengan orang2 yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi, para shiddiqiin, orang2 yang mati syahid, dan orang2 saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik2nya.”(QS: an-Nisa’:69).

Setelah mengucapkan kalimat tersebut, Nabi pun wafat. [A’lam al-Wara’, h.83, dikutip dari ar-Risalah, h.695].

Duhai, sungguh kesuksesan sejati jika bisa seperti beliau berdua dan orang2 yang besamanya.

Wa fuztum fauzan adziimaa..(Sungguh engkau telah menang dengan kemenangan yang besar)
Fa yaa Laitanii kuntu ma’akum, fa afuuza ma’akum fauzan adziimaa (Duhai, seandainya aku dapat bersamamu, agar aku dapat menang bersamamu dengan kemenangan yang besar)

Ya Rabb, bila hari2 kehidupan kami mulai lewat, bila batas umur kami sudah habis, dan kami sudah harus memenuhi undangan-Mu yang tak bisa ditunda2 lagi, maka isilah di akhir catatan amalan kami yang ditulis oleh malaikat pencatat dengan amalan taubat yang diterima, yang tidak lagi dipenuhi catatan dosa yang pernah kami lakukan.

Ya Allah, Janganlah Engkau membuka rahasia kami yang Engkau tutup rapat di hadapan para saksi, di suatu hari dimana seluruh catatan amal hamba-Mu sedang diperiksa.
Sesungguhnya Engkau Maha Penyayang atas mereka yang menyampaikan doa kepada-Mu. Maha Penerima jawaban atas mereka yang memanggil-Mu.

Ya Allah biha, Ya Allah biha, Ya Allah bi khusn al-Khaatimah.. [undzurilaina]


Labels: ,


Read more!

Monday, January 11, 2010

Remote Control

Mister Ayip (bukan nama sebenarnya), adalah salah seorang teman yang sempat serumah kontrakan dulu waktu masih kuliah di Bandung. Dia juga memiliki panggilan sayang yang mirip dengan nama organisasi negara2 Asia Pasific, APEX. Salah satu hal yang menjadi kegemarannya adalah memegang kendali remote hampir setiap nonton TV bareng2. Lebih lagi, ternyata hobinya itu tidak hanya dia salurkan sewaktu nonton TV di rumah saja.

Pernah suatu kali dia bersama teman saya yang lain (Mister K) sedang ngantri menunggu dilayani di sebuah apotek besar di Bandung. Di ruang tunggu Apotek itu tersedia TV yang disediakan khusus bagi para customer yang sedang antre. Melihat TV itu, dia seperti gelisah mencari sesuatu di sekeliling TV tsb. Sampai akhirnya, dia menemui pelayan Apotek dan bertanya:

“Mbak, bisa pinjam remote TV itu?”

Begitu dia mendapatkan alat kesayangannya itu, langsunglah dia beraksi berselancar diantara stasiun2 TV yang waktu itu sebenarnya tak seberapa banyak.

Melihat kelakuannya, Mister K yang dari tadi hanya mengamati itu berkomentar:
“Yip, nanti kalau ente ulang tahun, ane sumbang remote deh!”.
“Hahaha...”, keduanya pun tertawa.

“Kecintaan” para pengguna TV kepada remote ini ternyata merupakan fenomena yang umum terjadi di banyak tempat. Dan karena “kecintaan” itu juga yang menyebabkan benda kecil itu sering hilang, baik sebagian (masih menyisakan jejak2 beberapa komponennya) maupun seluruhnya. Hilang sementara ataupun selamanya. Saya sendiri sering kali kehilangan remote TV saya di rumah, seiring dengan membesarnya 2 jagoan saya.

Ada sebuah survey yang menarik berkaitan dengan kecintaan pada benda bernama Remote Control ini. Di Amerika pernah dilakukan survey yang menghasilkan antara lain:
- Lebih dari setengah (55%) dari responden mengatakan bahwa mereka kehilangan remote control mereka sampai lima kali seminggu

- Karena kehilangan remote control tersebut, 63% orang Amerika mengatakan bahwa mereka menghabiskan sampai lima menit per hari untuk mencarinya

- Tempat dimana orang Amerika paling sering menemukan kembali remote control mereka adalah di atas sofa atau di bawah mebel (38%), di dapur atau kamar mandi (20%), dan, YA, di dalam Lemari es (6%)

- Delapan belas persen kaum perempuan yang disurvey, bandingkan dengan hanya 9% kaum laki2, mengatakan bahwa jika mereka harus memilih, mereka akan memilih tidak melakukan hubungan seks daripada harus kehilangan remote control TV mereka selama satu minggu. (Komentar dari editor: GILA!).

Sampai2 berdasarkan survey tersebut, sebuah produsen TV kemudian membuat TV dengan fitur unggulan “Remote Locator”. Jika pengguna TV kehilangan remotenya, tersedia tombol di TV tsb untuk me-"missed-call" sang remote selama 30 detik.

Demikian, ternyata teman saya mister Ayip itu punya banyak teman di Amerika sana. Tapi saya nggak tahu, apakah dia juga pernah menemukan remote nya di Lemari Es, atau mungkin lebih memilih nyuekin istrinya ketimbang kehilangan remote. Heheh...[undzurilaina]

Labels:


Read more!

Saturday, January 2, 2010

Monster dan Anak Domba, Antara Naziisme dan Yazidisme

Reinhold Hench dan Paul Schaeffer adalah dua orang kolega Peter Drucker. Peter Drucker, seorang keturunan Yahudi yang oleh banyak kalangan digadang sebagai Bapak Penemu Manajemen Modern itu memutuskan untuk keluar dari Jerman karena prediksinya bahwa Nazi akan memenangkan Pemilu Jerman. Namun tidak dengan kedua koleganya tersebut.

Singkat cerita, malam ketika esok harinya Drucker akan berangkat, ada yang mengetuk pintu rumahnya. Jantungnya seakan berhenti berdetak, ketika melihat pasukan Nazi berdiri di depan pintu rumahnya. Ia sedikit lega ketika mengenali orang itu adalah Hensch, koleganya di surat kabar tempat dia bekerja. Hensch mendengar bahwa Drucker telah keluar dari surat kabar itu (dan juga sebagai dosen), dan mencoba berbicara dengan Drucker mengapa ia keluar dari surat kabar itu. Drucker pun menjelaskannya, karena tak punya alasan lain.

Ekspresi Hensch pun berubah dengan cepat dan meluapkan kata2 emosional. Ia mengatakan pada Drucker betapa ia sangat iri kepadanya bahwa ia tidak “sepandai” Drucker, dan berharap ia bisa keluar. Namun ia melanjutkan bahwa ia tak bisa keluar. Ia menginginkan uang, status, dan kekuasaan, serta berkata bahwa karena ia memiliki nomor keanggotaan kecil di Partai Nazi (yang artinya punya kuasa lebih), ia sekarang akan menjadi “seseorang”.
“Camkan kata2ku ini,” katanya pada Drucker, “kamu akan mendengar tentangku sekarang!!!”.

Setelah itu, Drucker tak pernah lagi mendengar berita tentang Hensch. Sampai dengan tahun 1945 ketika Nazi ditaklukkan, ada artikel pendek di The New York Times menarik perhatiannya:
“Reinhold Hensch, salah seorang penjahat perang Nazi yang paling dicari Amerika, bunuh diri ketika ditangkap pasukan Amerika di gudang bawah tanah di sebuah rumah yang tinggal puing di Frankfurt.... Hensch, dikenal sangat kejam, keji dan haus darah sehingga dijuluki ‘Monster’ (Das Ungebeuer) bahkan oleh anak buahnya sendiri.”

Paul Schaeffer adalah seorang wartawan senior terkenal yang telah melanglang buana lebih dari 50 tahun di media terkemuka dunia seperti New York Times, Times, dll. Namun dia memutuskan untuk menerima tawaran dari koran terpandang Jerman (Berliner Tageblatt). Namun Schaeffer tidak bodoh. Ia tahu lebih baik dari orang-orang lain tentang apa yang dikejar Nazi selama ini, tapi ia pikir ia bisa membuat perbedaan: “Justru karena kekejian yang terjadi inilah saya harus menerima pekerjaan itu,” ia menjelaskan.
Dia tidak menggubris peringatan orang2 disekelilingya yang khawatir bahwa ia akan dimanfaatkan oleh Nazi untuk memberikan tedeng kehormatan dan menipu dunia luar.
Dan akhirnya Nazi memanfaatkan Schaeffer persis seperti yang dikhawatirkan teman2nya. Jabatan, uang dan kehormatan pun dicurahkan kepadanya. Setiap ada berita tentang kekejian Nazi yang bocor, Schaeffer dikirim ke kedubes-kedubes dan koresponden-koresponden asing untuk meyakinkan mereka bahwa semua itu tidak benar.

Dalam “memoar”-nya (Adventures of a Bystander), Drucker mengatakan bahwa kejahatan itu sesuatu yang hebat sehingga manusia sering diperalat olehnya. Karenanya manusia tidak boleh mempertahankan ataupun menggunakan kejahatan dengan cara apapun, karena cara itu pastilah jalan kejahatan bukan jalan manusia.
Manusia akan menjadi instrumen kejahatan ketika, seperti Hensch, ia berfikir bisa mengendalikan kejahatan untuk memenuhi ambisinya.
Dan manusia juga akan menjadi instrumen kejahatan ketika, seperti Schaeffer, ia bergabung dengan kejahatan untuk mencegah terjadinya hal yang lebih buruk.

Drucker mengakhiri bagian itu dengan bertanya:
“Siapa yang lebih kejam, monster atau anak domba? Mana yang lebih buruk, dosa Hensch karena nafsunya untuk berkuasa atau kesombongan Schaeffer dan dosanya karena pongah? Mungkin dosa terbesar bukanlah kedua dosa kuno itu, dosa terbesar adalah dosa abad ke-21, yaitu dosa karena bersikap masa bodoh, dosa seorang ahli biokimia terkenal yang tak membunuh dan tak berbohong, tapi menolak memberi kesaksian ketika, mengutip kata2 di Injil, ‘Mereka Menyalibkan Tuhanku!’.”

Kisah Drucker tentang dua koleganya diatas mengingatkan saya kepada kisah seputar tragedi yang terjadi pada cucu kesayangan Nabi, al-Husayn, penghulu pemuda ahli surga. Tentu saja saya sadar bahwa saya sedang membandingkan dua hal yang berbeda dari banyak segi, seperti skala, intensitas, maupun dampak dari kekejian yang dilakukan. Tapi betapapun saya melihat ada beberapa kemiripan. Saya coba mengambil contoh beberapa stakeholder sentral yang terlibat dalam tragedi paling mengerikan sepanjang sejarah tersebut. Tapi rasanya saya tidak perlu menjelaskan mengenai sang producer dan director kekejian, Yazid bin Muawiyyah.

Ubaidullah bin Ziyad bin Abihi, the man behind the gun, gubernur Bashrah yang menjadi project manager dalam penyerangan al-Husayn. Dia adalah anak dari Ziyad bin abihi, anak ayahnya. Disebut demikian karena ayahnya yang tidak jelas. Sebagian riwayat mengatakan bahwa Ziyad adalah anak Abu Sufyan dari Sumayyah (sebagian riwayat mengatakan Marjanah) yang dikenal sebagai wanita penghibur. Ubaidullah lahir di Bashrah. Ketika sang ayah meninggal, ia berada di Irak. Kemudian ia pergi ke Syam. Mu'awiyah mengangkatnya sebagai gubernur wilayah Khurasan pada tahun 53 H dan tinggal di sana selama dua tahun. Pada tahun 55 H, Mu'awiyah memindahkannya ke Bashrah. Yazid menetapkannya di sana pada tahun 60H. Tragedi Karbala terjadi di masa kekuasaannya dan atas perintahnya. Setelah kematian Yazid, penduduk Bashrah berbaiat kepadanya. Namun tak lama berselang , mereka melawannya. Diapun lari mencari perlindungan ke Syam, lalu kembali lagi ke Irak. Di tengah jalan, Ibrahim Asytar menghadangnya. Peperangan antara tentara keduanya pun tak dapat dielakkan lagi. Pasukan Ubaidillah kocar-kacir. Ibrahim memburunya dan membunuhnya di Khazir, satu daerah di Maushil. Setelah berhasil dibunuh, kepala ibnu Ziyad dibawa ke hadapan Mukhtar.

Umar bin Sa'ad bin Abi Waqqash Al-Zuhri Al-Madani. Dialah yang dikirim oleh Ubaidillah bin Ziyad dengan empat ribu orang tentara untuk menyerbu Dailam, dengan menjanjikannya kekuasaan atas wilayah Rey. Tapi sewaktu berita keberangkatan Al-Husain dari Mekah menuju Kufah sampai ke telinga Ibnu Ziyad, ia segera mengirimkan sepucuk surat padanya dan memerintahkannya untuk segera kembali bersama pasukannya. Umar pun kembali. Ibnu Ziyad lalu memerintahkannya untuk membantai Al-Husain. Umar menolak. Ibnu Ziyad mengancam dan mengingatkannya akan kota Rey. Akhirnya ia bersedia menerima tugas tersebut.
Di belakang hari, ketika Mukhtar bangkit melakukan pemberontakan, beliau mengutus orang untuk memburu dan membunuh Umar bin Sa'ad dan tamatlah riwayatnya.

Kedua person diatas mencoba menggunakan kejahatan untuk mencapai keinginan dan ambisinya. Seperti kata Drucker, mereka menjadi instrumen kejahatan ketika ia berfikir dapat menggunakan kejahatan untuk memenuhi ambisinya. Dan juga sejarah membuktikan, seperti juga yang terjadi pada Hensch, kehinaan lah yang akan didapatnya, alih-alih kejayaan dan kesuksesan.

Lain halnya dengan peran orang-orang diatas, yang oleh Drucker diistilahkan sebagai monster, ada juga peran lain yang sama-sama destruktifnya dengan monster, yaitu orang2 seperti Schaeffer yang –walaupun mungkin punya sedikit maksud baik di awalnya—berperan menjadi pembela-pembela kejahatan itu. Ada sebagian penulis, yang karena alasan-alasan tertentu, melakukan pengaburan terhadap sejarah ini. Dari yang bersikap tidak menyalahkan Yazid atas tragedi Karbala tersebut, sampai dengan yang sampai menulis buku khusus tentang keutamaan Yazid beserta ayahnya, Muawiyyah. Ada sebagian juga yang berusaha menutup sejarah itu dengan menonjolkan beberapa peristiwa lain (yang kurang jelas dan kuat dasarnya) yang menganjurkan bahwa hari Asyura adalah waktu yang tepat untuk bergembira, berbagi kebahagiaan.

Person-person seperti diatas ini, oleh Drucker diistilahkan dengan “anak domba”. Keyakinan para penulis itu –seperti Schaeffer—bahwa dia bisa mencegah hal yang lebih buruk (misalnya mungkin untuk menutup sejarah kelam) justru membawa hasil yang lebih mengerikan. Meskipun ada niat baik, mereka dengan segera menjadi kaki tangan kejahatan dengan kebohongan2nya. Mereka memberi kejahatan legitimasi untuk melanjutkan kekuasaan, kejahatan demi kejahatan, dan pembantaian demi pembantaian. Dengan menutup2i apa yang sebenarnya terjadi, mereka telah berperan dalam membuat dunia setidaknya bersikap netral terhadap kejahatan2 tersebut.

Wallahu a’lam, yang jelas saya setuju dengan Drucker yang menganggap bahwa anak domba sama destruktifnya dengan monster.
Mempelajari apa yang terjadi pada sejarah manusia dan menjadikannya hidup serta berinteraksi dengan kehidupan kita sekarang, menurut saya penting untuk dilakukan sehingga kita dapat mengambil hikmah-hikmah yang berharga untuk saat ini dan esok.

"Dan apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di muka bumi dan memperhatikan bagaimana akibat (yang diderita) oleh orang-orang yang sebelum mereka? .." (QS. ar-Rum: 9)

Jadi tergantung kita, apakah kita mau berperan menjadi “monster” atau “anak domba”? Atau akan menjadi orang2 acuh, yang menganggap kemarin adalah kemarin, tidak ada hubungannya dengan hari ini atau besok. Atau akan menjadi yang akan mengambil hikmah dan pelajaran dari setiap peristiwa, dan “menghidupkannya” untuk hari ini dan besok. Semuanya adalah pilihan peran yang terpampang di depan kita semua.
Nanti...“sejarah” hidup kita akan mencatat peran-peran kita tersebut untuk tentu saja dipertanggung-jawabkan. Bagaimana? [undzurilaina]

Labels: ,


Read more!

Saturday, December 19, 2009

Tak ada tukang taman, tak ada taman..

Alkisah, seorang pengusaha sukses, sebut saja Fred namanya, baru pindah ke rumah barunya. Dia punya impian untuk memiliki sebuah taman indah di rumah barunya. Oleh karena itu dia memutuskan untuk menggunakan jasa konsultan pertamanan yang juga temannya untuk merancang taman di rumah barunya itu. Temannya ini cukup terkenal sebagai konsultan pertamanan yang handal.

Sebagai pengusaha yang cukup sukses, Fred terhitung sangat sibuk sehingga praktis tidak punya waktu yang cukup untuk merawat pekarangannya. Oleh karena itu dia minta ke temannya yang konsultan pertamanan itu agar menciptakan taman yang sedemikian rupa shg hanya butuh sesedikit mungkin perawatan. Antara lain dia minta ada alat penyiram otomatis dan peralatan otomtatis lain yang memungkinkan semuanya jalan sendiri tanpa perawatan. Pendek kata, yang dia fikirkan adalah bagaimana caranya punya taman yang indah tanpa perawatan.

Setelah mendengarkan dengan seksama ocehan Fred tentang spesifikasi kebutuhan tamannya itu, Akhirnya sang konsultan itu kemudian berkomentar, “Fred, saya dapat memahami apa yang kau katakan. Tetapi ada satu hal yang perlu kau pahami sebelum kita melangkah lebih jauh: Bila tak ada tukang taman, tak ada taman!

Mungkin banyak diantara kita yang bermimpi untuk mengandalkan taman (baca: bisnis, organisasi, keluarga, hidup...) pada sesuatu yang bersifat otomatis dan instan. Kemudian berharap munculnya hasil akhir yang dahsyat.

Tetapi kehidupan tidaklah berjalan seperti itu. Kita tidak dapat begitu saja menyebar sedikit benih, lalu pergi, dan melakukan apa pun yg kita mau, kemudian berharap bahwa di kemudian hari ketika kembali, kita menemukan kebun yang indah dan tumbuh subur, siap untuk menghasilkan panen buah dan sayur2an untuk memenuhi keranjang kita. Kenyataannya tidak demikian. Kita harus menyiram, memelihara, dan menyiangi secara berkala, kalau kita berharap dapat menikmati hasil panennya.

Bagaimanapun setiap usaha akan memberi hasil. Segala sesuatu akan tumbuh. Tetapi tanah itu akan menjadi kebun yang indah atau semak belukar perbedaannya ditentukan oleh keterlibatan dan kelalaian kita sebagai tukang kebun atau tukang taman.

Catatan sederhana ini saya tulis diilhami oleh sebuah pembicaraan dengan seorang teman beberapa hari lalu, yang mengklaim bahwa buah jagung yang didapat saat ini adalah dari benih padi yang dia dulu pernah tinggalkan dengan keterlibatan seadanya dalam memeliharanya. Oleh karena itu buah jagung itu adalah miliknya, katanya.

Saya tidak mau membiasakan diri untuk bermain klaim. Saya hanya berusaha melakukan apa yang dimintakan oleh si pemilik lahan saja. Saya bukan mbok Minah yang mengambil 3 kakao untuk bibit dari lahan orang. Saya juga tidak berniat melupakan ada kontribusi teman. Menurut saya, apa yang dituai mesti sesuai dengan kontribusinya.

Tapi ala kulli hal, saya juga tidak mau ngotot untuk berebut buah itu dengan mengorbankan kotornya hati ini. Jika Anda berniat untuk bekerja sama, mari kita kerja sama dan menuai hasilnya bersama sesuai dengan kontribusi kita masing-masing. Jika anda menuntut yang lebih dari kontribusi Anda, silahkan Anda kerjakan sendiri. Jika anda memilih untuk keras, mari kita tanyakan kepada pemilik lahan.

Kalau boleh memilih dan kalau ini merupakan tindakan yang bertanggung-jawab, sebenarnya saya mungkin akan lebih memilih untuk mencari lahan lain untuk saya tanam, pelihara dan tuai hasilnya nanti. Bukankah Allah mengatakan bahwa bumi-Nya ini sangat luas, Kawan?

Haihat..Haihata min ad-dzillah! Pantang Hina!


Labels: ,


Read more!

Wednesday, December 9, 2009

Talking About Bakat

“Apa bakat Bapak?”, tanya rekan saya yang konsultan SDM kepada salah seorang pegawai bank dalam acara penjelasan assessment SDM Teknologi Informasi. Tak ada jawaban yang muncul dari pegawai tersebut, selain senyum-senyum dan tengok kanan-kiri. Lalu pertanyaan yang sama ditanyakan kepada para peserta acara tersebut lainnya. Dan tak ada jawaban dari para peserta kecuali beberapa gelintir orang yang berkata secara sporadis sambil senyum2: “Menyanyi..Olah raga..!”.

“Ada yang bisa bantu saya lagi menjawab apa bakat bapak ibu sekalian?”, lanjut teman saya itu mencoba memancing para peserta untuk berfikir apa bakat yang dimilikinya. Dan tak ada lagi jawaban yang keluar dari mulut puluhan peserta acara tersebut kecuali gemuruh suara para peserta yang saling mentertawakan teman-temannya karena sama-sama tak bisa menjawab apa bakatnya sendiri.

Ketika ditanyakan apakah definisi bakat, beragam pula jawabannya. Dan memang bakat ini didefinisikan secara beragam oleh berbagai ahli. Tapi secara umum, bakat dapat didefinisikan sebagai kemampuan potensial yang ada dalam diri seseorang untuk melakukan suatu jenis aktifitas tertentu, baik ia sudah dikembangkan ataupun belum.

Dalam hal pengembangan bakat ini ada sebuah perdebatan klasik yang menarik antara “Nature” versus “Nurture”. Perdebatan ini berkaitan dengan mana yang lebih penting antara bakat (nature) dengan penempaan/pelatihan (nurture) dalam hal pengembangan seseorang. Tentu saja keduanya penting untuk menghasilkan kemampuan kinerja pada suatu bidang/jenis aktifitas tertentu. Yang menjadi permasalahan berikutnya adalah manakah yang perlu dijadikan fokus penempaan, bagian kekuatan bakat kita atau sisi kelemahannya.

Kebanyakan orang akan menjawab bahwa kelemahanlah yang perlu menjadi fokus penempaan sehingga ia tidak lagi menjadi kelemahan lagi. Tapi tepatkah jawaban tersebut?

Salah satu lembaga yang melakukan survey untuk menemukan jawaban ini antara lain adalah Gallup, sebuah lembaga survey terkemuka dunia. Gallup melakukan survey terhadap bakat “membaca cepat” (speed reading) pada populasi tertentu yang ditentukan. Hasil survey pertama mengatakan bahwa kecepatan paling rendah adalah sekitar 90 kata per menit, dan yang tercepat adalah 350 kata per menitnya. Apa langkah terbaik yang harus dilakukan untuk meningkatkan kemampuan membaca cepat dari para peserta itu? Sebagian besar dari orang yang ditanya akan menjawab bahwa melatih peserta dengan kecepatan baca 90 kata per menit akan lebih mungkin menghasilkan signifikansi peningkatan ketimbang yang 350 kata/menit. Karena dalam bayangan kita masih ada rentang improvement yang cukup besar dari 90 kata/menit, sementara yang 350 kata/menit sepertinya sudah mendekati mentok.

Setelah dilatih metode speed reading yang baik, peserta yang semula memiliki kecepatan 90 kata/menit dapat berhasil ditingkatkan menjadi 140 kata/menit. Wah, bagus dong?!

Iya, bagus. Tapi bagaimana kalau yang dilatih speed reading adalah peserta yang sudah 350 kata/menit? Ternyata hasilnya adalah 6.000 kata/menit!! Jauh lebih menakjubkan, bukan?

Kenyataan hasil survey-survey yang sejenis ini kemudian mengarahkan kepada pengembangan pendekatan pengembangan SDM baru yang berbasis kekuatan (strenght-based approach). Kekuatan ini diidentifikasi sebagai bakat alamiah. Pendekatan ini menggantikan pendekatan yang sejak lama banyak digunakan yaitu deficit-based approach.

Paradigma Nature (lawannya nurture) meyakini bahwa bakat terbentuk sejak 60 hari sebelum manusia dilahirkan sampai dengan 14-16 tahun, dan sulit untuk berubah setelahnya. Diketahui bahwa setiap manusia dipastikan memiliki bakat atau karakter yang berbeda-beda. Oleh karena itu, daripada membuang-buang waktu dengan memberikan pelatihan yang ditujukan untuk memperbaiki kelemahan, akan lebih baik bila kita berfokus pada pengembangan KEKUATAN untuk mendapatkan hasil terbaik dan mensiasati KELEMAHAN yang ada.

Sang Maha Pencipta tidaklah menciptakan semua manusia dalam keadaan yang sama, dan tidak membekali potensi yang sama bagi semua bidang kepada setiap manusia. Untuk memutar roda-roda kehidupan, Dia menciptakan beberapa individu dengan potensi talenta yang khusus, agar setiap individu meniti sebuah jalan yang sesuai dengan talentanya dan melakukan aktifitas-aktifitas yang terpancar dari kecenderungan batin dan kekuatan fitrinya.

Seperti kata sebuah pepatah bijak: setiap rahasia memuat keindahan, beruntunglah orang yang menemukan talentanya!

Sungguh beruntunglah orang yang memupuk potensi-potensi baiknya, Qad aflaha man zakkaaha.

So, apa bakat kita? Apa bakat anak-anak kita? Oh God, guide me please.

Labels:


Read more!

Saturday, October 31, 2009

The Delay Country

Siang itu, saya menunggu di ruang tunggu airport balikpapan ketika mendengar pengumuman bahwa pesawat yang saya akan saya tumpangi mengalami keterlambatan (DELAY) cukup signifikan (sekitar 2 jam, seingat saya). Para calon penumpang pun jelas kecewa mendengar informasi tersebut. Maskapai plat merah yang punya cita-cita menjadi maskapai kelas dunia dengan keramahan khas Indonesia ini kemudian berusaha menghibur calon penumpangnya dengan memberi sekotak snack. Alasan keterlambatan katanya karena masalah teknis. Hmmmm....keramahan khas Indonesia?

Kemarin kebetulan saya menggunakan maskapai yang sama untuk tujuan yang lain. Kali ini saya diburu waktu untuk mengejar penguburan jenazah nenek yang meninggal di Solo. Saya ketiban sial lagi mendengar pengumuman DELAY pesawat, tapi kali ini tidak ada sekotak snack yang datang sebagai “penghibur” yang tidak berarti. Alasan keterlambatannya katanya karena pesawat yang terlambat datang dari Palembang. Hmmm...khas Indonesia?

Di perjalanan saya baca koran yang disediakan. Lembar demi lembar berita yang ada dalam koran itu sepertinya kok hampir tidak ada berita yang positif. Headline koran tentunya masih seputar berita penahanan pimpinan KPK non-aktif yang kontroversial itu. Sementara, entah kenapa, penahanan sang koruptor sendiri malah di-DELAY.
Saya teringat juga bahwa pada hampir setiap ada bencana, bantuan terhadap korban selalu ter-DELAY dengan alasan yang begitu beragam.

Saya juga teringat banyaknya program pemerintah yang DELAY karena alasan-alasan yang luar biasa kreatifnya. Hebatnya lagi, bukannya minta maaf dan mengakui kesalahan atau setidaknya memberikan “snack penghibur”, mereka seperti tidak merasa melakukan kesalahan apapun dan melontarkan sejuta pernyataan2 apologis, bahkan tak jarang memutar-balikkan esensinya.

Wah, sepertinya saya saat ini sedang berada di negeri yang penuh dengan DELAY. Oh ya, waktu saya berjalan untuk masuk ke pesawat yang DELAY tadi, saya melihat di badan pesawatnya tertulis “Visit Indonesia Year 2009”. Celetukan spontan saya waktu itu adalah “mudah2an program itu juga nggak ikut ter-DELAY”. Belakangan saya baru tahu bahwa ternyata program ini awalnya adalah program tahun 2008 (lihat gambar). Hmmm...Yes, I am in the DELAY Country.

Labels:


Read more!

Thursday, September 17, 2009

Muwaddaa’Ya Syahru Ramadhan

… Ya Allah, Engkau jadikan bulan Ramadhan bulan yang istimewa, yang Engkau muliakan Dia dari semua bulan. Engkau pilih ia dari semua zaman dan masa. Engkau lebihkan ia dari semua waktu (lainnya) dalam setahun, dengan al-Qur’an dan cahaya yang Engkau turunkan di dalamnya, dengan keimanan yang Engkau tingkatkan di dalamnya, dengan puasa yang Engkau wajibkan di dalamnya. Dengan bangun malam yang engkau gemarkan di dalamnya,
dengan malam Qadar -- yang lebih dari seribu bulan -- yang Engkau agungkan di dalamnya. … Maka kami berpuasa atas perintah-Mu pada waktu siangnya, kami bangun dengan bantuan-Mu pada malam harinya, mempersembahkan diri kami dengan puasa dan shalat-malamnya ….

Melalui itu, kami memperoleh pahala-Mu. Kau kaya dengan apa pun yang diinginkan dari-Mu. Kau pemurah dengan apa yang diminta dari karunia-Mu. Kau dekat dengan orang yang berusaha mendekati-Mu.

Tiba-tiba bulan ini meninggalkan kami pada akhir waktunya, pada batas jangkanya, pada akhir lintasannya. Kami ingin mengucapkan selamat tinggal padanya. … (dia) yang menyedihkan kami perpisahan dengannya, merisaukan dan mendukakan kami kepergiaannya.

Kami sampaikan salam bagimu wahai bulan Allah yang agung, wahai hari raya para kekasih-Nya. Salam bagimu wahai waktu termulia yang menyertai kami. Wahai bulan terbaik di antara semua hari dan saat. Salam bagimu bulan yang di dalamnya harapan didekatkan, amal disebarkan. Salam bagimu sahabat yang paling bernilai ketika dijumpai, dan paling menyedihkan ketika ditinggalkan. Kawan yang ditunggu, yang menyedihkan perpisahan dengannya. … Salam bagimu wahai jiran, yang bersamanya hati melembut dan dosa berkurang. Salam bagimu penolong yang membantu kami menghadapi setan, dan memudahkan bagi kami jalan-jalan kebaikan.

Salam bagimu, betapa banyak orang yang terbebas (dari dosa-dosa) di dalammu. Betapa bahagianya orang yang menjaga kesucianmu … Salam bagimu, betapa banyak dosa yang kamu hapuskan. Betapa banyak aib yang kamu tutupi. Salam bagimu, betapa panjangnya hari-harimu bagi pendosa, betapa agungnya kamu bagi orang yang beriman. Salam bagimu bulan yang tak tertandingi oleh hari-hari mana pun. Salam bagimu bulan yang di dalamnya sejahtera segalanya. Salam bagimu duhai yang pershabatannya tidak dibenci. Duhai yang pergaulan dengannya tidak tercela. (Kami panjatkan) salam (kesjahteraan) bagimu sebagaimana kau datang kepada kami membawa berkah. Dan kau bersihkan kami dari noda-noda cela.

Salam bagimu wahai yang tidak ditinggalkan karena (kami) kesal (padamu), tidak pula puasamu ditinggalkan (karena kami bosan).

Salam bagimu duhai yang dicari sebelum waktunya, yang ditangisi sebelum kepergiannya. Salam bagimu, betapa banyak kejelekan yang dipalingkan karenamu. Betapa banyaknya kebaikan dilimpahkan kepada kami karenamu. Salam bagimu dan bagi malam Qadar yang lebih baik dari malam seribu bulan. Salam bagimu, betapa senangnya kami kepadamu kemarin, betapa rindunya kami kepadamu besok. Salam bagimu dan bagi keutamaannya yang sekarang ditepiskan dari kami, dan bagi keberkahan yang sekarang ditanggalkan dari kami. …

Ya Allah, bagimu segala pujian, di tengah pengakuan akan keburukan (kami). Dan kesadaran akan kelalaian (kami). Bagimu, dari lubuk hati kami yang paling dalam, dari lidah kami, permohonan maaf yang paling tulus. Berilah kami, dengan segala kekurangan yang menimpa kami di bulan ini, pahala yang menyampaikan kami kepada kemuliaan yang diharapkan, dan berbagai macam kebahagiaan yang dirindukan. Pastikan bagi kami ampunan-Mu, dalam kekurangan kami dalam memenuhi hak-Mu di bulan ini. Sampaikan dengan sisa umur kami, kepada bulan Ramadhan yang akan datang.

Taqabbal, Yaa Kariim …

(Cuplikan Do’a Imam ‘Ali Zainal ‘Abidin)

Labels:


Read more!

Sunday, September 6, 2009

Makan Bersama Nabi

Setibanya Nabi dan sahabat2nya di suatu tempat dan turun dari kendaraannya, mereka berencana untuk menyembelih seekor kambing dan membuat sate untuk dimakan bersama.
Seorang sahabat berteriak: "Aku yang akan menyembelih kambing itu."

Sahabat yang lain menjawab: "Aku yang akan mengulitinya."

Sahabat yang lain lagi berkata: "Aku akan memasaknya."

Rasulullah SAW menyahut: "Aku akan mencarikan kayu2 kecil di padang pasir."

Semua sahabat segera berkata: "Ya Nabi Allah! Biarlah anda duduk. Kami akan melakukan semua pekerjaan ini dengan senang hati.”

Kemudian Nabi SAW berkata:“Aku tahu kalian akan melakukan semuanya. Tapi Allah tidak suka melihat orang yang melihat dirinya berbeda dengan orang lain, sedangkan ia berada di tengah2 mereka.”

Nabi pun pergi ke padang pasir dan memunguti kayu-kayu kecil yang kering sesuai dengan kebutuhan.

Allahhumma Sholli alaa Muhammad wa aali Muhammad.[undzurilaina]

Labels:


Read more!

Doaku terjawab sudah..

Ketika kumohon kepada Allah kekuatan, Allah memberiku kesulitan agar aku menjadi kuat.

Ketika kumohon kepada Allah kebijaksanaan, Allah memberiku masalah agar dapat kupecahkan.

Ketika kumohon kepada Allah kesejahteraan, Allah memberiku akal untuk berfikir.

Ketika kumohon kepada Allah keberanian, Allah memberiku kondisi bahaya untuk dapat kuatasi.

Ketika kumohon kepada Allah cinta, Allah memberiku orang2 bermasalah untuk kutolong.

Ketika kumohon kepada Allah bantuan, Allah memberiku kesempatan.

Aku tak pernah menerima apa yang kuminta, melainkan aku menerima segala yang kubutuhkan.

Doaku terjawab sudah.
(Imam Ali bin Abi Thalib, salamullah alaihi)

Labels: ,


Read more!