Monday, September 17, 2007

Tamu Orang Miskin

Hari itu hari Jumat, ketika Nabi SAW meninggalkan Quba menuju Yatsrib (Madinah). Beliau memasuki kota dengan mengendarai unta-nya. Sementara itu, orang2 Muhajirin, Anshar dan bahkan orang2 Yahudi, laki2 dan perempuan, besar dan kecil, mengikuti di belakang unta beliau. Sayup2 terdengar senandung2 menyambut kedatangan tamu agung yg mereka tunggu2 itu dari suara mereka yg merdu. Semua mata tertuju pada orang asing yang mengendarai unta, yang telah meninggalkan kaumnya menuju Madinah. Semua orang berpikir tentang berbagai hal. Dalam hati mereka berkecamuk berbagai perasaan.

Sang pendatang menuju ke keramaian kota. Tiba-tiba laki-laki itu melepaskan tali kekang untanya, dan membiarkannya berjalan ke mana ia suka. Sungguh suatu tindakan yang sangat besar artinya. Sebab, kini kendali unta itu berada di tangan Dzat Yang Gaib yang menjaganya menuju masa depannya.

Penunggang unta itu melewati beberapa kawasan orang2 kaya di Madinah. Setiap melewati kawasan-kawasan tersebut, beliau selalu disongsong oleh tokoh masyarakat tersebut sambil memegang kendali unta dan berkata: ”Ya Rasulullah, tinggallah bersama kami dengan sega hidangan dan kenikmatan yang kami sediakan”.

Sang penunggang unta menjawab, ”Biarkan saja unta ini berjalan semau dia, sebab ada yang menyuruhnya.”

Unta tersebut terus berjalan dan setiap melewati rumah orang kaya, pemilik rumah pun menyongsongnya seraya memegang kendali unta dan berkata: ”Ya Rasulullah, tinggallah bersama kami. Kami telah sediakan hidangan dan kenikmatan2 lainnya.”

Sang penunggang unta pun menjawab dengan jawaban yg sama seperti sebelumnya. Begitu seterusnya unta tersebut terus berjalan. Sampai ketika unta tersebut melewati rumah paman-paman Rasulullah dari garis ibu, seperti sebelumya mereka menahan kendali unta dan berkata: ”Ya Rasulullah, tinggallah bersama paman-paman Tuan di sini. Kami telah menyediakan hidangan untuk Tuan.”

Dan untuk kesekian kalinya, sang penunggang unta menjawab: ”Biarkan saja dia berjalan mengikuti kehendaknya, karena ada yang menyuruhnya.”

Unta tersebut terus berjalan. Tak seorang pun mengetahui dengan pasti ke mana unta tersebut akan menghentikan langkahnya. Ajakan orang-orang kaya dengan hidangan lezat dan layanan kenikmatan lainnya tak menggiurkannya. Ia juga menolak ajakan dari kerabatnya. Ia tidak ingin mengikatkan dirinya pada suatu keluarga atau lapisan masyarakat tertentu.

Unta itu telah melewati rumah keluarga-keluarga kaya di Madinah, tanpa penunggangnya bersedia memenuhi undangan yg mereka ajukan dengan segala usaha itu. Dia bahkan menolaknya dengan tegas. Dengan demikian, jelas laki-laki ini adalah tamu orang-orang miskin.

Perasaan semua orang sudah demikian menggelora, tapi unta itu tetap melanjutkan langkahnya. Semakin jelas bahwa langkah-langkah unta itu mendekati kelompok rumah orang-orang miskin. Maka bersorak-sorailah orang-orang miskin itu, laki-laki dan perempuan, anak-anak dan orang-orang tua, dengan penuh kebanggaan, padahal sebelumnya mereka tidak punya harapan sedikitpun. Kerumunan orang yg berjejal-jejal di kiri-kanan, terus mengikuti unta dengan penunggangnya yang wajahnya memancarkan pemikiran yg mendalam dalam keteguhan. Kerumunan itu begitu menyemut, seakan-akan unta itu sebuah perahu yg dikelilingi oleh ombak yg naik-turun.

Kemudian anak-anak kecil, para pemuda dan kaum wanita yg jiwanya dibakar oleh keimanan dan semangat revolusioner itu, menyenandungkan lagu utk menyambut laki-laki yang tampak berwibawa di atas untanya itu, seakan-akan dia adalah pendatang dari dunia lain.

Thala’a al-badru ‘alaina (Bulan Purnama telah menyingsing di atas kita)

min tsaniyyati al-wada’i (Dari sela-sela Bukit Wada’)
Wajaba al-syukru ‘alaina (
Wajiblah kita bersyukur)

.....dst

Air mata mengalir di pipi semua orang sehingga mengaburkan penglihatan mereka. Bayang-bayang Sang Penunggang unta itu timbul tenggelam di depan mata mereka. Sesekali dia tampak jelas, dan tiba-tiba lenyap kembali. Begitulah seterusnya.

Tiba-tiba kerumunan orang-orang miskin yang semula berada di barisan paling belakang itu tersibak. Gelombang manusia berhenti mengalir, dan kaki-kaki mereka terasa gemetar. Semua orang bertanya-tanya, ”Apa yg sedang terjadi itu?” Ternyata unta itu telah berhenti berjalan. Tapi dimana ia sekarang? Itu dia. Ia berhenti di sebidang kebun yang ditumbuhi beberapa pohon kurma. Di situlah rupanya akhir perjalanan sang unta.

Abu Ayyub, laki-laki tua yang rumahnya bersebelahan dengan kebun itu, menghambur dari rumahnya menemui Nabi, dan mengambil bawaan beliau ke dalam rumahnya. Nabi bertanya kepadanya, ”Milik siapa kebun ini?”

”Milik Sahl dan Suhail, dua anak yatim Rafi’ bin Umar, yang kini saya asuh. Saya meminta kepada mereka berdua agar kebun ini mereka jual,” jawab Muadz bin Afra’.

Nabi pun kemudian memerintahkan membangun masjid di tempat itu. Beliau ikut pula mengerjakannya, bukan hanya sekedar memberi komando atau memilih pekerjaan yang ringan-ringan. Beliau menggali tanah, mengangkutnya ke tempat lain dan mengaduknya. Beliau ikut bekerja sebagaimana layaknya orang lain. Dan itulah kerja awal Nabi, menjadikan masjid sebagai batu sendi pembentukan sistem yang ingin beliau realisasikan. Disitu pula beliau akan tinggal.

Itu secuil teladan akhlak Rasulullah SAW. Sang ”Tamu” bagi orang-orang miskin. Sang pemimpin yang pekerja keras. Allahumma Sholli ’alaa Muhammad wa ’aalii Muhammad.[undzurilaina]

(sumber utama: ”Rasulullah SAW, Sejak Hijrah hingga Wafat.”, karya Dr. Ali Syariati)

No comments:

Post a Comment