Thursday, January 15, 2009

Jangan Asal Sibuk

Beberapa hari yg lalu dalam sebuah forum virtual, saya chating singkat dengan salah seorang teman kuliah dulu yang sudah lama sekali tak berjumpa. Ironisnya rumah saya dan dia sebenarnya tidak terlalu berjauhan di Bandung. Saya duluan menyapanya dengan: “hey. Apa kabar? Lama nggak ketemu padahal tangga dekat!.”
“Mantabs..namanya juga orang sibuk..sibuk cari kesibukan..”, jawab teman saya tadi singkat.


Saya mengerti bahwa teman tadi maksudnya bercanda. Tapi kata-kata teman tadi membuat saya merenung. Barangkali memang kita ini pada waktu-waktu tertentu sebenarnya tidak harus sibuk, tapi kita sendiri yang membuat-buat kesibukan tersebut. Karena kita mungkin akan bangga/puas disebut sebagai orang sibuk. “Mantabs!”, kata teman saya tadi. Karena mungkin kita akan mengira bahwa kalau kita sibuk dapat diartikan bahwa kita orang yang banyak dibutuhkan. Kalau kita sibuk berarti kita adalah orang yang menghargai waktu dengan selalu mengerjakan sesuatu. Sehingga orang sibuk sering dikorelasikan sebagai orang sukses. Hmm..benarkah?

Kita seringkali bersemangat melakukan segala sesuatu sampai2 kita tidak menyadari kenapa kita melakukannya. Kita sering tidak menyadari apakah yang kita lakukan ini memang sesuatu yang penting bagi kesuksesan kita. Ataukah kita hanya sekedar melakukan semua yang ada di hadapan kita tanpa memilah-milah mana yang penting dan lebih penting.

Kita mungkin bertanya apakah ada pengaruhnya kalau kita mendahulukan yang lebih penting di banding yang penting? Bukankah hasilnya akan sama saja karena toh pada akhirnya semua aktifitas itu tetap akan kita lakukan juga? Jadi mestinya hasil akhirnya akan sama saja, bagaimanapun urutan aktifitas yang kita lakukan.

Hmm..Mari kita bayangkan potensi kapasitas yang mungkin kita dapatkan dari hasil kegiatan-kegiatan yang kita lakukan sebagai isi dari sebuah bejana bermulut lebar. Di sekeliling bejana tersebut terdapat batu2 yang berukuran cukup besar. Kira2 berapa batu yang dapat dimuat oleh bejana tersebut? Ah..daripada mengira2, kita coba saja masukkan batu2 tersebut ke dalam bejana tersebut sambil menatanya sedemikian sehingga bejana tersebut dapat memuat sebanyak mungkin batu2 tersebut. Sampai akhirnya bejana tersebut penuh dengan batu2 tadi dan tidak dapat dimasuki lagi.

Sekarang apakah bejana tersebut berarti sudah penuh dan tidak dapat dimasuki lagi?

“Belum!”, jawabnya. Buktinya coba ambil kerikil-kerikil kecil. Apakah kerikil kecil tersebut dapat masuk ke dalam bejana tadi? Ya, kerikil tersebut dapat masuk ke dalam bejana tadi dengan cara mengisi ruang-ruang kosong dari batu yang lebih besar yang sudah dimasukkan sebelumnya. Terus masukkan kerikil tersebut
sambil sedikit menggoyang-goyangkan bejana tadi sampai ia tidak dapat lagi memuatnya.

Sekarang apakah bejana tersebut sudah penuh dan tidak dapat dimasuki lagi?

“Belum juga!”, jawabnya. Buktinya coba ambilah pasir dan masukkan ke dalam bejana tadi. Maka pasir tadi akan diterima dengan baik oleh bejana tadi dengan mengisi ruang-ruang kosong yang ditinggalkan oleh kerikil tersebut.

Setelah pasir tersebut tidak dapat dimuat lagi oleh bejana, apakah bejana tersebut sekarang sudah penuh?

“Lagi-lagi belum”, jawabnya. Coba kita masukkan air pelan-pelan ke dalam bejana yang sudah dipenuhi oleh batu, kerikil dan pasir tadi. Rupanya bejana tersebut masih dapat menampung air yang akan mengisi ruang-ruang yang ditinggalkan oleh pasir sebelumnya.

Dari ilustrasi bejana tersebut, pelajaran apa yang dapat kita peroleh?
Sekarang kita coba bayangkan apabila urutan memasukkan benda ke dalam bejananya kita ubah dari pasir atau air terlebih dahulu. Dapatkah kita kemudian memasukkan batu dan kerikil sebanyak yang kita dapat masukkan dengan urutan sebelumnya, yaitu dari yang paling besar sampai yang paling kecil?

Lihat, Betapa urutan memasukkan benda-benda mempengaruhi hasil yang akan kita dapatkan dari sebuah bejana tadi! Hasil yang akan jauh berbeda akan kita dapatkan dengan cara mendahulukan batu yang besar dibanding kerikil. Mendahulukan kerikil, dibanding pasir dan air, dan seterusnya.

Demikian juga hasil yang akan kita dapatkan dari kesibukan kita tentu akan berbeda jika kita sebelumnya telah memilah-milah dan mendefinisikan mana kegiatan yang lebih penting dan perlu didahulukan dibanding kegiatan lainnya. Prinsip ini tentu perlu diterapkan pada semua peran yang kita emban masing2, baik peran dalam pekerjaan, peran sebagai suami/istri, peran sebagai ayah/ibu/anak, peran sebagai anggota masyarakat, dsb.

Al-Quran mulia memerintahkan kita untuk selalu sibuk beraktifitas yang bermanfaat.
“Dan apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain” (QS. Al-Insyirah: 7).

Jadi kita memang harus “sibuk”. Tapi supaya hasilnya optimal, kesibukan kita perlu diatur agar mendahulukan aktifitas yang lebih penting dibanding yang penting (aktifitas yang tidak penting? Tinggalkan saja!). Kesibukan kita tersebut juga mesti kita susun agar seimbang untuk semua peran yang kita lakoni. Jadi, jangan asal SIBUK! [undzurilaina]

No comments:

Post a Comment