Friday, June 15, 2007

Do You Have Time To...

Hai,

Ketika engkau bangun tidur, Aku melihatmu dan berharap kau akan mengajak bicara kepada Ku di waktu fajar, walaupun hanya dengan satu dua menit, meminta pendapat Ku, berterima kasih kepada Ku atas hal-hal baik yang terjadi padamu kemarin. Tapi ternyata kau malah sibuk menyiapkan diri dan yang akan kau kenakan untuk pergi bekerja. Aku menunggu lagi. Ketika engkau telah siap segala sesuatunya, Aku berharap akan ada barang semenit waktu bagimu untuk berkata Alhamdulillah. Tapi ternyata engkau terlalu sibuk untuk itu. Ketika saat engkau 15 menit hanya duduk di kursi tanpa melakukan suatu apapun. Aku kira engkau kemudian akan berbicang dengan Ku, tapi engkau malah mengangkat telepon dan menghubungi teman untuk mengetahui gosip terakhir.

Aku mengamatimu sewaktu engkau pergi bekerja dan Aku menunggu dengan sabar seharian. Dengan semua aktifitasmu, Aku dapat menebak engkau akan terlalu sibuk untuk berkata sesuatu kepada Ku. Aku perhatikan sebelum kau makan siang engkau berjalan berkeliling, mungkin kau merasa malu untuk berbincang dengan Ku, itulah mengapa engkau tidak meletakkan dahimu untuk sholat Dzuhur. Engkau memandang sekilas beberapa meja sebelahmu yang kosong dan mengetahui bahwa ternyata beberapa temanmu sedang berbincang dengan Ku (sholat) setelah ia makan, tapi tidak dengan engkau.

Baiklah. Masih ada waktu tersisa, dan Aku memiliki harapan bahwa engkau akan menemuiku di waktu Ashar dan Maghrib. Namun ternyata tidak juga. Engkau pulang ke rumah dengan wajah yang sepertinya kau telah melakukan banyak hal hari itu. Sampai di rumah engkau menyalakan TV. Aku tidak tahu apakah engkau memang menyukai acara di TV itu atau tidak, yang jelas banyak waktu berlalu dengan hanya duduk dan mengamati kotak kecil bernama TV itu. Tidak untuk memikirkannya, hanya menikmati pertunjukannya saja.

Aku masih menunggu dengan sabar, ketika engkau menonton TV dan makan snack kegemaranmu. Tapi lagi-lagi engkau enggan berjumpa dengan Ku di waktu Isya. Waktu tidur......Ahh...Aku kira kau sudah terlalu lelah.

Setelah itu, kau menceburkan tubuhmu ke kasur empuk kesayanganmu dan langsung tertidur pulas.

Engkau mungkin tak sadar bahwa Aku selalu ada untukmu. Aku memiliki kesabaran lebih dari yang engkau pernah duga. Aku bahkan ingin mengajarimu bagaimana bersikap sabar pula kepada sesamamu.

Aku sangat mencintaimu sehingga aku menunggumu setiap hari untuk bercengkrama, berdoa dan berterima kasih kepada Ku. Tidak mengenakkan untuk bercakap-cakap seorang diri kan.

Well, kini kau telah bangun lagi dan sekali lagi, Aku akan menunggumu dengan Cinta untukmu dengan harapan bahwa hari ini kau akan memberiku jatah waktu.

Semoga harimu menyenangkan!

Tuhanmu Yang Maha Pengasih lagi Penyayang

Ketika amar makruf dan nahi mungkar tak mengubah keadaan

Kita sering mendapati bahwa nasehat yang kita berikan kepada seseorang seperti tidak berbekas. Lalu bagaimana sikap kita sebaiknya?[1]

Pertama, ketika ada orang lain, yang bila ia melakukan amar makruf dan nahi mungkar dalam sebuah kasus yang sama ada pengaruhnya, maka minta tolong kepadanya untuk melakukan itu. Ketika Allah memerintahkan Nabi Musa as untuk memberi petunjuk kepada Firaun, ia meminta kepada Allah agar Harun as diperkenankan bersamanya. Nabi Harun memiliki kemampuan untuk menjelaskan dengan lebih baik. Allah swt berfirman:

“Dan saudaraku Harun dia lebih fasih lidahnya daripadaku, maka utuslah dia bersamaku sebagai pembantuku untuk membenarkan (perkataan) ku” (QS. Qashas: 34).

Kedua, terkadang melakukan kewajiban amar makruf dan nahi mungkar tidak cukup sekali. Itu harus dilakukan berkali-kali dengan cara yang berbeda-beda. Sebuah kayu yang hendak dibelah dengan kampak tidak cukup dengan sekali mengayunkannya, tapi perlu berkali-kali. Al-Quran menyebutkan:

“Kami telah menjelaskan masalah ini dalam bentuk yang berbeda-beda sehingga mungkin memiliki dampak yang positif” (QS. Isra’: 41).

Ketiga, sangat mungkin bahwa cara yang kita lakukan tidak benar, sehingga tidak ada bekasnya. Karena amar makruf dan nahi mungkar memiliki prinsip-prinsip dan syarat-syarat tersendiri. Menghadapi sebuah kemungkaran harus cengan cara yang tepat pula.

Suatu waktu ada debu tanah yang menempel di pakaian kita, pada waktu lain ada debu arang yang menempel. Untuk menghilangkan debu tanah cukup dengan mengibaskan tangan ke arahnya, debu tersebut dapat lenyap. Namun, bila hal itu dilakukan terhadap debu arang, selain semakin menempel, tangan kita juga menjadi hitam karenanya. Debu arang dihilangkan dengan meniupnya sementara debu tanah dilenyapkan dengan mengibaskan tangan. Dengan demikian, setiap kemungkaran punya cara tersendiri untuk melenyapkannya. Al-quran menyebutkan:

“Dan masuklah ke rumah-rumah itu dari pintunya”, (QS. Baqarah: 189)

Allah memerintahkan bahwa setiap rumah memiliki pintunya sendiri-sendiri.

Keempat, Untuk mencegah orang lain dari perbuatan mungkar, harus dengan jalan yang halal. Nabi Luth as ketika masyarakat hendak mengganggu tamunya ia berkata: “Aku bersedia untuk memberikan anak perempuanku untuk kalian kawini dan jangan ganggu tamuku. Saya menunjukkan kepada kalian cara yang halal sehingga kalian tidak terjebak dalam perbuatan haram. Allah swt berfirman:

“Hai kaumku, inilah putri- putriku mereka lebih suci bagimu, maka bertakwalah kepada Allah dan janganlah kamu mencemarkan (nama) ku terhadap tamuku ini” (QS. Hud: 79)

[undzurilaina]



[1] Disadur dari buku “Anda bertanya, Anda menjawab”, karya: Prof. Muhsin Qiraati

Thursday, June 14, 2007

Intermezzo: Pakistani

Pada sebuah taman di kota New York, seorang bocah tiba-tiba diserang oleh seekor anjing yang buas. Melihat hal tersebut, seseorang yang lewat kemudian datang dan menyelamatkan si bocah tersebut. Ia berhasil mencederai anjing tersebut dan mengusirnya.

Seorang reporter New York Times yang menyaksikan kejadian ini langsung mengambil gambar peristiwa tersebut dengan maksud untuk memunculkannya di halaman depan korannya keesokan hari.

Kemudian reporter tersebut mendekati pahlawan penyelamat tadi dan berkata: ”Tindakan penyelamatan heroik anda tadi dapat dipublikasikan di koran besok sebagai headline- Brave New Yorker rescues boy”.

”Saya bukan orang New York”, jawab sang hero kepada reporter tadi.

”Oh, kalau begitu kami akan mengubah judul headline nya menjadi – Brave American rescues boy from savage dog”.

”Saya juga bukan orang Amerika juga”, jawab sang pahlawan menampik lagi.

”Lalu darimanakah sebenarnya Anda ini?”, tanya reporter.

”Saya seorang Pakistan”, jawab sang hero.

”Hmmm...kalau begitu headline koran New York Times besok akan berjudul: Moslem Fundamentalist strangles dog to death in New York park. FBI investigating possible link to al-Qaeda”. [undzurilaina]

Setan yang Kalah, Jangan Kita

Kita sama mengetahui bahwa semua manusia terlahir dalam keadaan suci (fitrah). Rasulullah SAW pernah berkata yang kira-kira artinya adalah bahwa setiap bayi itu terlahir dari perut ibunya dalam keadaan suci tanpa dosa, kedua orang tuanya lah yang akan mewarnainya dan menjadikannya yahudi, nashara atau majusi. Jadi kita semua ini terlahir dalam keadaan suci bersih.

Kemudian manusia oleh Allah diberi ”tugas” (taklif) untuk mengamalkan syariat-Nya ketika mencapai umur tertentu (berakal/baligh). Allah SWT menjelaskan pula apa dibalik setiap perintah dan larangan tersebut. Bagaimana dan apa manfaatnya kalau dilaksanakan, bagaimana dan apa konsekuensinya kalau ditinggalkan. Allah SWT mengkaruniakan pula kepada manusia akal untuk bisa menentukan jalan mana yang akan dipilihnya. Jadi manusia diberi kebebasan untuk bisa melaksanakan atau tidak melaksanakan perintah dan larangan tersebut. Allah mengharapkan kita melakukan segala sesuatu secara sadar mengenai apa manfaat dan akibat dari apa yang kita lakukan tersebut. Karena Allah dan Rasul-Nya telah menerangkan apa yang ada di balik perintah dan larangan tersebut.

”..Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya” (QS. 91:8)

Dalam melaksanakan tugas-tugas tersebut, manusia memiliki dua musuh, yaitu setan dan hawa nafsu. Keduanya berusaha mengarahkan manusia untuk melaksanakan larangan Allah dan meninggalkan apa yang diperintahkan-Nya. Sehingga kadang-kadang manusia kalah dalam menghadapi 2 musuh tersebut. Allah mengetahui akan hal itu, karena itu Allah menamakan Dzat-Nya dengan al-Ghaffar ad-dzunub (Maha Pengampun Dosa2). Supaya kita juga tidak hidup dalam keputus-asaan akibat kekalahan tersebut. Karena Allah sangat membenci orang yang putus asa.

Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir (QS.12:87)

Ibrahim berkata: "Tidak ada orang yang berputus asa dari rahmat Tuhannya, kecuali orang-orang yang sesat".(QS. 15:56)

Sehingga Allah kemudian memberi kepada kita sebuah pintu yang bernama pintu ”Taubat”. Allah telah membuka lebar-lebar pintu tersebut bagi hamba-hamba Nya yang memohon ampun kepada Nya.

Bagaimana yang dimaksud berputus-asa dalam hal ini. Salah satu contohnya, seringkali kita mendengar bisikan dalam hati: ”ah...dosa-dosaku ini nggak mungkin diampuni oleh Allah”. Nah, bisikan-bisikan seperti ini jangan pernah kita dengar. Itu bisikan setan agar kita putus asa untuk kembali ke jalan yang benar, dan terus berada dalam jalan kegelapan. Kita diperintahkan untuk terus-menerus mohon ampunan dari Allah. Allah selalu membuka pintu ampunan-Nya. Benar-benar tidak ada alasan buat kita apabila kita tidak mau memasuk pintu tersebut setelah dibuka lebar-lebar oleh-Nya.

Diriwayatkan pada zaman Nabi SAW, ada seseorang datang kepada beliau dan berkata:

Fulan: ”Ya Rasulullah, saya telah berbuat dosa kepada Allah..Bagaimana ya Rasul?”

Rasulullah SAW: ”Minta ampunlah kepada Allah”

Fulan: ”Sudah, ya Rasul. Tapi aku melakukannya lagi”

Rasulullah SAW: ”Minta ampunlah lagi kepada Allah”

Fulan: ”Sudah, ya Rasul. Tapi lagi-lagi aku melakukannya kembali”

Rasulullah SAW: ”Minta ampunlah lagi kepada Allah”

Fulan: ”Sudah, ya Rasul. Tapi lagi-lagi aku terbujuk setan untuk melakukannya lagi”

Rasulullah SAW: ”Terus Minta ampunlah kepada Allah hingga setan yang kalah, jangan kamu”.

Taubat itu berarti kembali secara sadar dari perbuatan dosa kepada ketakwaan dan berjanji untuk tidak mengulanginya kembali. Namun apabila setelah berusaha sekuat tenaga tapi tetap tergelincir, segeralah minta ampun kepada Allah. Jangan tunda-tunda lagi. Allah selalu membuka pintu taubat itu untuk hamba-hamba Nya yang minta ampun kepada-Nya. Hingga setan yang kalah, jangan kita. [undzurilaina]

Tuesday, June 12, 2007

Manusia Seperti Apa?

Minggu lalu, waktu saya lagi nunggu mobil untuk pulang ke Bandung dari Airport Cengkareng, ada kejadian yang cukup mengganggu. Tepat di depan saya duduk itu ada sebuah mobil tentara (pickup tertutup atas). Nggak lama kemudian ada beberapa orang tentara datang (sebagian berpakaian preman, namun tampak jelas dari fisik dan potongannya bahwa ia juga adalah “anggota”). Rombongan tentara tadi ternyata menggandeng ”tawanan” sepasang lelaki-perempuan dengan tangan terikat. Kemudian pasangan tadi dimasukkan ke mobil yang sudah siap di depan saya tadi. Yang laki-laki, berperawakan tinggi besar dan rambut cepak. Tampak di dekat matanya ada luka yang cukup mencolok. Tidak tahu apa yang dikatakan oleh ”tawanan” perempuan itu sehingga penjaga yang mengapitnya kemudian memukul perempuan itu dengan sekuat tenaga beberapa kali. Entah apa yang dirasakan oleh perempuan itu dipukul oleh tentara yang punya tangan sebesar betis pemain sepak bola itu.

Orang yg duduk disebelahku bertanya-tanya dengan teman disebelahnya, kenapa mereka...kenapa mereka? Yang satu bilang, mungkin calo barangkali..Ah kayaknya nggak mungkin deh dia meralat. Soalnya kalau calo mestinya bukan tentara yang menangani, dan profil kedua orang itu jauh dari seorang calo. Atau kasus narkoba ya...? Terus karena penasaran kemudian mereka bertanya ke salah seorang anggota yang ikut mengawal: ”Pak...pak, ada apa sih pak? Kenapa mereka itu?”. Anggota itu kemudian menjawab: ”Ah..nggak ada apa-apa kok...”.

Akhirnya setelah beberapa lama, mobil itu pergi membawa kedua ”tawanan” tadi yang diapit oleh beberapa pengawal yang pasti bikin sesak tempat duduk di mobil itu. Ternyata ada satu orang yang tidak ikut mobil itu, dan itu tidak disia-siakan oleh 2 orang pemuda penasaran yang ada di sebelahku tadi untuk bertanya lagi:

Penanya: ”Pak...pak, tadi 2 orang laki perempuan tadi kenapa sih pak?”.

Anggota: ”Oh, 2 orang yang tadi? Itu saya yang nangkap itu..Yang laki itu anggota Kopasus lho..”.

Penanya: ”Loh! Terus kenapa dibegituin ?”

Anggota: ”Gini mas...di kami kan nggak boleh istri 2. Nah dia itu kawin lagi, itu tadi istri mudanya. Diperingatkan, eh malah lari. Akhirnya kami cari dan barusan saya yang nangkep di Pontianak. Ah nggak bener tu orang!”

Penanya: ”(Bengong aja...)”

Anggota: ”Ya udah mas, saya mau makan dulu..”

Penanya: ”oya pak, silahkan2”.

Si penanya, aku, dan orang-orang yang duduk di sekitar situ terdiam, nggak tau apa yang sedang di pikiran masing2. Kalau saya sih masih bingung apakah tindakan itu berlebihan nggak sih? Tindakan memukul2 si wanita tadi di depan umum, dll. Apakah itu tindakan yang beradab? Apakah itu memang hasil yang diinginkan dari pendidikan seorang KOPASUS.

Saya punya tetangga anggota TNI juga. Istrinya seorang berjilbab. Dia cerita kalau baru-baru ini saja dia boleh berjilbab. Sebelumnya mana boleh istri anggota TNI menggunakan jilbab. Lagi-lagi saya bertanya dalam hati, apa kira-kira maksud aturan tersebut. Apa sebenarnya yang diinginkan dari aturan-aturan seperti ini?

Dulu saya pernah bertemu dengan beberapa orang yang sedang mengikuti pendidikan calon bintara. Dia waktu itu cerita dengan sedih kalau dia sudah sekian bulan ini meninggalkan sholat. Lho, kenapa kataku. Wah, nggak mungkin bisa mas. Kita itu waktu latihan kan berkotor2 lumpur, dll. Waktu sholat cuma ada 5 menit, kalau telat hukumannya berat, dll sehingga tidak memungkinkan kita semua untuk melakukan sholat.

Lagi-lagi saya bertanya dalam hati, apa kira-kira maksud aturan tersebut. Apa sebenarnya yang diinginkan dari aturan-aturan seperti ini? Apakah yang sebenarnya ingin dicapai dengan pendidikan militer seperti itu?

Manusia seperti apa yang ingin dibentuk dengan pendidikan seperti itu?

Aku bingung, speechless! [undzurilaina]

Monday, June 11, 2007

Ummatku....Ummatku


Umatku…Umatku
Dia saw akan berkata
Rasulullah pada hari itu
walau kita telah menyimpang darinya dan jalannya

saudaraku, saudariku, dalam Islam
mari berjuang, bekerja, dan berdoa
jika kita mau
mengembalikan kejayaan sesuai dengan jalannya SAW


Ya Allah, Wahai Pemelihara Seluruh Sekalian Alam
Wahai Yang Maha Pengasih dan Penyayang
Ya Tuhanku

Izinkan Ummat ini untuk bangkit kembali
Izinkan kami melihat cahaya lagi
sekali lagi

Mari kita kembali bersatu lagi
menjadi bangga lagi
karena dari lubuk hati yang paling dalam, aku sangat yakin
kita dapat mengembalikan kejayaan masa lalu kita

Ummatku…ummatku
Dia SAW akan berseru
Rasulullah pada hari itu
walau kita telah menyimpang darinya dan jalannya

lihatlah dimana kita dulu
dan lihatlah dimana kita sekarang
dan beritahu aku
apakah ini yang kita inginkan?
Oh Tidak! Mari kita kembalikan kejayaan kita…

(diterjemahkan dari lirik lagu “My Ummah” karya Sami Yusuf)

Lagi-Lagi Tergesa-gesa

Melanjutkan tulisan yang lalu tentang kisah ”sang tuan yang membunuh anjing yang telah menyelamatkan nyawa anaknya” dan juga tulisan di blog ini berjudul ”Pak Amir dan Bule Prancis”...

Dari segenap contoh yang berkenaan dengan ketergesa-gesaan penilaian yang seringkali berakibat fatal tersebut, al-Quran mengajukan berbagai sanggahan yang sangat jitu. Dalam hal ini, al-Quran senantiasa memperingatkan, ”Wahai manusia, sebagian besar dari dugaan dan sangkaan yang muncul dalam dirimu sama sekali tidak berdasar. Betapa banyak hal yang menurut pandanganmu buruk dan engkau amat membencinya, pada hakikatnya merupakan kebaikan bagimu. Dan betapa banyak hal yang engkau sukai namun pada hakikatnya merupakan keburukan bagimu.”

Ketika al-Quran berulangkali berkata ”jangan kamu menyangka demikian...”, ”jangan kamu berpikir demikian..”, ”janganlah kamu berprasangka semacam itu..”, serta ungkapan-ungkapan senada lainnya, sesungguhnya tengah melontarkan sanggahan terhadap berbagai bentuk pandangan serta penilaian yang serba gegabah dan tergesa-gesa.

Kita sering kali juga melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang tak pantas kepada Allah, mengapa Allah begini dan begitu? Pada dasarnya Allah SWT menghendaki agar kita mengakui bahwa hanya sebagian kecil saja penilaian dan penentuan kita yang benar. Sebaliknya, masih banyak rahasia-rahasia serta misteri di sekitar jagat raya ini yang masih belum tersingkap dan diketahui dengan jelas. Dari sisi ini, ilmu pengetahuan serta pengalaman kita sungguh amat terbatas.

Salah satu contoh, kendati telah melewati hidup selama bertahun-tahun, dulu banyak orang yang beranggapan bahwa keberadaan hutan sama sekali tidak bermanfaat. Namun, dengan berlalunya waktu, baru diketahui manfaat dari keberadaan hutan yang sangat besar sekali bagi kehidupan.

Bukankah selama bertahun-tahun, dulu banyak orang yang mengatakan bahwa amandel tidak ada manfaatnya. Malah ada yang mengatakan sangat berbahaya bagi kesehatan seseorang. Namun ternyata belakangan diketahui bahwa setiap harinya, amandel tersebut memproduksi sel-sel darah putih yang berfungsi sebagai pasukan pelindung tubuh dari serangan berbagai jenis mikroba.

Selama bertahun-tahun pula, banyak orang yakin bahwa usus buntu (appendix) tidak ada manfaatnya bagi tubuh seseorang. Sekarang, mereka justru mengatakan bahwa usus kecil ini memiliki peranan yang cukup penting dalam melawan penyakit kanker.

Apabila dalam membaca suatu buku ataupun pendapat seseorang, seringkali kita menjumpai beberapa bagian yang tidak diketahui maknanya dengan jelas, bahkan terdengar mengejutkan kita karena sangat berbeda dengan pendapat yang kita yakini. Alangkah baiknya apabila kita tidak terburu-buru memaknainya sebelum menelaahnya secara layak. Jangan pula buru-buru memunculkan dalam benak kita, prasangka negatif terhadap sang penulis/pemilik pendapat tersebut.

Semakin lama, mestinya kita semakin sadar untuk tidak tergesa-gesa menilai segala sesuatu. Terlalu banyak hal yang kita tidak memiliki pengetahuan tentangnya. Terlalu banyak aspek yang mesti kita perhatikan untuk menilai sesuatu. Masihkah kita akan tergesa-gesa. Ya Allah, karuniakanlah kepada kami kearifan yang membuat kami tidak tergesa-gesa dalam menilai segala sesuatu. [undzurilaina]

Tergesa-gesa

Alkisah, pernah hidup seseorang yang memelihara seekor anjing dalam rumahnya. Pada suatu hari, demi suatu keperluan yang mendesak, ia pergi keluar rumah dan meninggalkan bayinya yang mansih menyusui bersama anjingnya itu. Dalam perkiraannya, ia bakal cepat kembali ke rumah. Namun, tatkala pulang ke rumah, dirinya disambut sang anjing dengan mulut yang berlumuran darah. Ia langsung beranggapan, jangan-jangan anjing ini telah menerkam dan membunuh si bayi.

Dengan rasa marah, ia lantas mengangkat senapannya dan menembak anjing tersebut. Setelah itu, ia bergegas masuk ke dalam rumah. Namun, kejadian yang sesungguhnya ternyata amat jauh berbeda. Ia menjumpai anaknya yang masih bayi itu tidak mengalami cedera apa pun.

Kejadian sebenarnya begini. Sewaktu pergi, ia meninggalkan pintu rumahnya yang berlokasi di pinggiran kota itu dalam keadaan terbuka. Tak urung, seekor serigala pun datang dan dengan mudah masuk ke dalamnya.

Kemudian dengan leluasa pula ia bisa memasuki kamar tidur si bayi mungil itu dan berusaha menyerangnya. Adapun anjing yang bertugas melindungi bayi tersebut berusaha mati-matian melindungi si bayi dan mengusir serigala tersebut keluar dari rumah. Dengan menggunakan kuku serta taringnya yang tajam, anjing itu menyerang balik sang serigala. Dalam perkelahian itu, sang serigala akhirnya menderita luka-luka yang mengeluarkan darah, untuk kemudian lari terbirit-birit keluar dari rumah. Namun sayang, akibat penilaian sang pemilik rumah yang tergesa-gesa itu, alih-alih ungkapan terima kasih yang diterimanya, anjing yang telah berjuang sekuat tenaga menyelamatkan si bayi tersebut malah harus meregang nyawa dan mati dibunuh tuannya sendiri!

Sang pemilik rumah segera saja menyesali perbuatannya itu dan menghampiri tubuh anjingnya yang telah terkapar. Ia berharap bisa menyelamatkannya dari kematian. Namun nasi telah menjadi bubur, anjing tersebut telah mati dengan meninggalkan rasa sesal yang begitu getir.

Orang tersebut kemudian berkata, ”Aku menatap bola mata anjingku yang ketika itu sedang dalam keadaan terbuka dan hatiku mendengar suara jeritannya yang parau, ”Wahai manusia, betapa engkau amat tergesa-gesa! Mengapa engkau memberikan penilaian secara gegabah? Mengapa engkau tidak terlebih dahulu masuk ke dalam rumah? Engkau membunuhku tanpa disertai alasan yang jelas.”

Setelah melakukan tindakan yang amat disesalinya itu, sang pemilik rumah menulis sebuah artikel yang bertajuk ”Wahai Manusia, Betapa Cepatnya Engkau Menilai”.

Memang kita sering terlalu tergesa-gesa memberi penilaian. [undzurilaina]

Wednesday, May 30, 2007

Jeritan Anak Palestina

Ayah..! kata mereka kau penjahat

Padahal sebenarnya engkau bukan penjahat,

Ayah..! mengapa merka jauhkan aku darimu

Mereka menangkapmu tanpa memberi kesempatan

untuk menciumku meski hanya sekali

atau mengusap air mata Ibu

Ibu..!! Aku melihat air mata di kelopak matamu setiap pagi,

Apakah Palestina tidak berhak diberi pengorbanan..?

Setiap hari aku bertanya kepada matahari

Ibu, apakah ayah akan kembali pada suatu hari?

Ataukah dia akan pergi selamanya sampai hari Qiyamat

Atau dia akan mengusap air mata Ibu yang terus menetes setiap hari...??

Wahai Ayah, dimanakah engkau...??

Oooh....bayi-bayi yang dijajah,

Kini telah datang hari raya baru setelah hari raya tahun lalu

Dan bayi baru pun terlahir sesudah bayi yang itu

Dan para syuhada berguguran setelah gugurnya Syahid yang lalu

Sedang ayah masih disembunyikan di sebalik jeruji besi,

Dalam sel mengerikan yang tidak layak dihuni manusia

Mana hari kemenangan dan kehancuran penjara-penjara besi itu...??

Majulah kalian.....

Majulah kalian.....

Majulah kalian.....

Aku ingin Ayah pulang

------------


Hari-hari ini rakyat Palestina diserang dengan tanpa peri kemanusiaan di tanah air mereka sendiri. Rezim Zionis Israel secara terang-terangan mengeluarkan pengumuman untuk melakukan aksi teror terhadap para pemimpin Palestina terutama HAMAS.


Namun, apa salah anak-anak dan wanita? Bi ayyi dzanbin qutilat !!



Hidup IS Perjuangan

Siapakah orangnya di dunia ini yang tidak pernah susah? Siapakah orangnya di dunia ini yang tidak pernah menemui masalah? Siapakah di dunia ini orangnya yang tidak pernah merasakan kegelisahan? Jawabannya pasti tidak ada. Cobalah masuk ke setiap rumah orang, pasti kita akan mendapatinya mereka sering mendapatkan masalah. Apakah itu karena anaknya, istrinya, suaminya, orang tuanya, hartanya, kebutuhan yang tidak terpenuhi, kesehatannya, ketuaannya, dll. Selalu saja setiap orang dalam hidupnya menemui masalah demi masalah, keresahan demi keresahan.

Sesungguhnya, Kami menciptakan manusia untuk mengatasi kesukaran (QS.Al-Balad: 4).

Inilah makna dari keadaan manusia, ia berada dalam kabad, ”kesukaran, penderitaan, kerja keras dan cobaan”. Kabad juga dapat diartikan sebagai ”hati (liver)”, dimana tugas hati adalah terus-menerus menderita untuk membersihkan darah. Kewajibannya adalah bekerja keras tanpa henti.

Keadaan manusia adalah keadaan yang kacau dan bingung, dan untuk mengatasinya ia harus terus menerus berjuang. Tidak ada jalan lain untuk menghilangkannya selain ia harus berjuang. Melarikan diri dari masalah itu tak akan dapat menghilangkan masalah, bahkan akan menimbulkan masalah baru di atas masalah yang sudah ada.

Maka berusahalah (dengan bersemangat) untuk mendaki jalan naik yang curam (aqabah). (QS. Al-Balad: 11)

Kita ingin hidup kita senang dan bahagia, happy ending? Maka, ayo bersemangatlah kita untuk mendaki aqabah (jalan menaik yang curam). Kita akan menikmatinya setelah kita berhasil sampai di puncaknya.

Dan apakah jalan naik yang curam (aqabah) itu? (QS. Al-Balad: 12)

Jalan yang mendaki tersebut dijelaskan pada ayat-ayat selanjutnya, yang intinya kira-kira adalah kita mesti membebaskan belenggu kesulitan-kesulitan yang dihadapi orang lain, membantu disaat orang lain sedang kesusahan, menolong orang yatim, orang miskin dan berkekurangan. Kemudian setelah itu surat tersebut menjelaskan pula bahwa kita mesti saling nasehat menasehati untuk selalu bersabar, bahwa hidup ini memang naik dan turun, ada pasang dan surutnya, maka kita diminta untuk saling menasehati untuk senantiasa bersabar dalam hidup. Disamping itu juga diperlukan untuk saling menasehati untuk saling mengasihi sesama. Saling menasehati untuk mempunyai empati terhadap orang lain yang sedang berkesusahan.

Itulah jalan yang mendaki itu. Bersiaplah kita untuk mendakinya dengan penuh semangat.

Mereka itu, apabila mereka beriman, adalah orang-orang yang di akherat kelak beruntung menerima kitabnya dengan tangan kanan (ashaab al-maimanah), yang berarti bahwa mereka ditetapkan masuk surga.

Jadi hidup ini memang harus selalu berjuang, Kawanku. Kalau sebuah atom saja tidak bisa dilihat kalau ia tidak berada dalam keadaan bergerak secara tidak beraturan, maka bagaimana mungkin makhluk yang paling menakjubkan dan kompleks ini (kita, manusia) berharap untuk selalu dalam kondisi yang statis tanpa dinamika? Berada dalam kondisi statis mutlak itu tak ubahnya laksana sebuah batu, mati. [undzurilaina]