Wednesday, October 10, 2007

Tambusai dan Pasukan Putih-putih (lanjutan kontroversi Padri)

(Dari Tempo Edisi. 34/XXXVI/15 - 21 Oktober 2007 RubrikIqra)

Tambusai dan Pasukan Putih-putih


Seorang pustakawan mendapatkan data-data Belanda yang
melaporkan kekejaman Tuanku Tambusai di daerah Padang
Lawas.

Ro Bonjol… Ro Bonjol (Bonjol datang… Bonjol datang).

Basyral Hamidy Harahap, 67 tahun, peneliti sejarah
Mandailing, masih ingat cerita-cerita lisan
turun-temurun di kampungnya di Simanabun, Padang
Lawas. Kisah tentang bagaimana takutnya penduduk
ketika pasukan Padri pimpinan Tuanku Tambusai datang
menyerbu. Masyarakat Simanabun memukul kentungan
sembari berteriak, "Bonjol datang, Bonjol datang."
Lalu mereka naik perbukitan Dolok menyelamatkan diri.

Basyral Hamidy Harahap adalah turunan dari Raja Datu
Bange yang bermarga Babiat di Simanabun, Distrik
Dolok. Datu Bange adalah raja yang paling gigih
melawan Padri di kawasan Padang Lawas. Basyral
mewarisi banyak kisah lisan dari marga Babiat mengenai
perjuangan Datu Bange.

Pada 1836, kawasan Padang Lawas dianggap sebagai
daerah paling biddah oleh serdadu Padri. "Mereka
datang pakai kuda, mengenakan kostum dan serban
putih-putih,

" katanya. Dari data dokumen lokal, ia
mengetahui bagaimana Datu Bange habis-habisan
mempertahankan Padang Lawas.

Sewaktu pertama kali menyerang, Tambusai dapat dipukul
mundur. Raja Portibi, Kadhi Sulaiman, pengikut setia
Tuanku Tambusai, tewas dalam perang ini. Tambusai
balik ke Mandailing. Dan dalam perjalanannya,
pasukannya membabi-buta menangkapi anak gadis dan
perempuan dewasa di lembah timur Bukit Barisan. "Para
perempuan itu ditukar dengan mesiu," kata Basyral.

Untuk mengamankan diri, Datu Bange bersama keluarga
dan pasukan intinya mengungsi. Mereka memanjat tebing
menuju ke puncak perbukitan Dolok. Bukit itu sendiri
begitu licin, hampir tegak lurus, dan sesungguhnya
sukar didaki. Datu Bange mengetahui jalan aman untuk
ke puncak bukit. Selama setahun Datu Bange berada di
atas bukit.

Setahun kemudian, Tambusai menyerang Datu Bange lagi.
Datu Bange tetap bertahan di atas bukit. Celakanya,
adik kandung Datu Bange, Ja Sobob, berkhianat
menunjukkan jalan menuju ke puncak Dolok,
memberitahukan persembunyian abangnya. Segera Tuanku
Tambusai merangsek, menyerbu ke atas bukit. Datu Bange
lolos—ia terluka—dan bersama pasukannya lari melewati
pegunungan Bukit Barisan.

"Datu Bange meninggal dengan infeksi pada
luka-lukanya," kata Basyral. Sesungguhnya, menurut
Basyral, Datu Bange mau menyerah, tapi dengan syarat
Tuanku Tambusai membiarkan pengikut Datu Bange
selamat. Kenyataannya, pasukan Tambusai kemudian
memutilasi ratusan penduduk Padang Lawas.

Sebagai Ketua Jurusan Perpustakaan Universitas
Indonesia 1965-1967 dan pensiunan pustakawan
Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde
(KITLV), Basyral tidak menerima mentah-mentah cerita
khazanah lokal kampungnya itu. Ketika beberapa kali
mendapat kesempatan ke Belanda, ia mencari-cari
dokumen yang berkenaan dengan serbuan Padri ke Padang
Lawas. Dan ia menemukan data dari pihak Belanda yang
membenarkan semua kisah tentang pembantaian yang
dilakukan Tuanku Tambusai.

Data itu ia dapat dari catatan-catatan J.B. Neumann,
Jughuhn, Ypes, Schnitger, dan terutama T.J. Willer.
Willerlah yang banyak mencatat brutalisme gerakan
Padri di daerah Padang Lawas. Dua bukunya menjadi
referensi utama Basyral. Siapakah T.J. Willer? Dalam
Almanak van Nederlandsch Indie, Willer disebut
menjabat Ketua Komite untuk Wilayah Padang Lawas,
Tambusai, Pane, dan daerah Bila pada 1838-1843.
Jabatan berikutnya adalah Asisten Residen Mandailing
Angkola yang berkedudukan di Panyabungan pada 1843.

Laporan T.J. Willer, misalnya, sampai memetakan luas
wilayah yang menjadi kekuasaan Datu Bange. Seluruh
kawasan Simanabun dalam catatan Willer saat itu dihuni
606 rumah tangga. Dalam buku Willer itu juga
ditampilkan silsilah Marga Babiat—mulai leluhur sampai
Datu Bange—sampai generasi XII. Dari situlah Basyral
tahu bahwa dirinya termasuk generasi cicit Datu Bange.

Willer, sebagaimana dikutip Basyral, menuliskan
demikian: "…. Padri yang dipimpin oleh Tambusai
membakar kampung demi kampung…. Mereka memaksakan
ajaran Islam (Wahabi) di mana-mana. Jika penduduk
tidak serta-merta mau masuk Islam akan segera
dibunuh…."

Sebagaimana Tuanku Imam Bonjol, Tuanku Tambusai di
zaman Orde Baru diangkat sebagai pahlawan negara.
"Mengapa ia dianggap pahlawan?" tanya Basyral. Menurut
Basyral, dia sama sekali tidak punya dendam dengan
tragedi yang menimpa pendahulunya itu. Tapi sebuah
revisi sejarah harus digelar.

Berdasarkan catatan panitia yang mengusulkan gelar
pahlawan nasional untuk Tuanku Tambusai, Datu Bange
dianggap sebagai perampok yang sering membuat
kekacauan. Tuanku Tambusai ingin mengakhiri perlawanan
kelompok parbegu yang dipimpin Datu Bange, sehingga
serangan pun dilakukan sampai dua kali.

"Itu sama sekali tak benar. Datu Bange merupakan raja
paling karismatik di Padang Lawas. Sebelum kaum Padri
masuk pun, warganya telah memeluk Islam," ungkap
Basyral kesal. Masyarakat daerah Padang Lawas sebelum
kedatangan Tuanku Tambusai, menurut dia, sudah sekian
lama memeluk mazhab Syafii yang egaliter.

Di wilayah Padang Lawas memang banyak peninggalan
candi Hindu—Bhairawa. Sebagaimana halnya penganut
Islam di pedalaman, warga Simanabun masih
mempertahankan tradisi kultural. Tradisi ziarah kubur,
misalnya, waktu itu masih sehari-hari dilakoni
penduduk. Mereka memasang lampu, lalu membuat
cungkup-cungkup di kuburan. "Mereka masih berdoa
kepada Tuhan di kuburan."

Tapi gejala itu, menurut Basyral, ada di bagian mama
pun di Sumatera. Bahkan, dalam catatan Basyral, di
wilayah pesisir seperti pantai Natal, tradisi mistik
pun masih kuat. Dokumen perjanjian Bagindo Martia
Lelo, Raja Natal, dengan Moschel, penguasa VOC,
bertarikh 7 Maret 1760, misalnya, menyebutkan bahwa ia
bersumpah atas Al-Quran dan asap pedupaan.

Islam demikianlah, menurut gerakan Tuanku Tambusai,
yang menyeleweng dan perlu dimurnikan akidahnya.
"Upacara pemakaman yang menggunakan berbagai usungan
jenazah di Padang Lawas adalah salah satu hal yang
dibenci Tambusai," kata Basyral. Pasukan Putih-putih
Padri lalu melakukan pembersihan total.
"Cungkup-cungkup makam dipapras sedemikian. Juga
manusianya disembelih," kata Basyral—berdasarkan data
milik pemerintah Belanda yang dibacanya.

Seno Joko Suyono, Sita Planasari Aquadini

4 comments:

  1. asslaamu'alaykum
    alhamdulillah, akkhirnya saya temukan blog yang memuat tuanku tambusai, memang sampai sekarang pun kaum wahhabi masih ada (salafi yamani) di yogya jakarta, bandung, kajan mereka keras tegas, tapi perlu kita ingat berita yang dibawa Belanda harus kita teliti, bagaimanapun ada politik deivide et impera, memang perseteruan kaum thareqat dan pader(salafi) amatlah keras, toh di Indonesia juga tidak murni mazhab syafi'i lebih banyak syafi'iyyahnya

    www.fadlyriza.com

    ReplyDelete
  2. wa alaikum salam, bang Fadly.
    Setuju, Bang. Setiap informasi yang masuk kepada kita harus dianalisis terlebih dulu. Jangan asal percaya atau jangan asal tolak. Setelah itu baru kita menentukan sikap yg paling bijaksana. Jangan sampai sikap kita nanti alih2 bermanfaat malah berpengaruh buruk terhadap agama dan umat.

    Terima kasih.

    Wassalam.

    ReplyDelete
  3. Kalau merunut ceritera bapak, uwa dan unyang saya (keturunan raja gadumbang, anak raja martia lelo, abang dari sutan mangkutur) kekejaman perang saudara tsb adalah benar adanya.. sehingga anak keturunan raja gadumbang tsb dipaksa melarikan dan menyelamatkan diri sampai pesisir (labuhan bilik). Bukan hanya adat.. harta dan anak turunan tercerai berai! Padahal sebelum kaum paderi membumi hanguskan.. raja tsb adalah muslim (perjanjian dg inggris dgn quran). Kaum paderi hendak menegakkan syariat (yg satu) dgn melanggar syariat lainnya (membunuh dg kejam)

    ReplyDelete